[Chanyeol Birthday Project] Best Luck — Honeybutter26

d04d50343ec76d7cfa9611b6aa04317e

 

Best Luck

Presented by Honeybutter26

Chanyeol x Dasom [OC]

Fluff, Romance, Comedy

PG

https://honeybutter26.wordpress.com/

Summary:

Chan Yeol akan menulisi otaknya dengan tinta hitam tebal agar ia selalu mengingat  saat bahagia di hari ulang tahunnya yang ke-23.

 

“Akhirnya Chan Yeol kita mempunyai pacar juga.”

 

***

 

Bagi Chan Yeol yang seorang mahasiswa tingkat atas dari fakultas teknik arsitektur serta seorang pekerja paruh waktu dengan jam penuh, hari libur menjadi surga yang tak terelakkan lagi keindahannya. Hari libur adalah saat dimana ia bisa merilekskan diri juga pikirannya dari semua hal yang membebaninya selama seminggu penuh.

Agenda rutin Chan Yeol setiap hari liburnya adalah bangun kesiangan dengan santainya demi kesuksesan program tidur tampannya yang begitu berharga. Lalu membersihkan diri dan memesan satu paket jumbo ayam goreng untuk menu sarapan kesiangannya.

 

Namun agaknya itu semua tak akan didapatkannya hari ini. Karena, hell yeah, sebentuk makhluk kecil yang memiliki darah iblis itu kini tengah menarik-narik tangannya dan mencoba membangunkannya dari acara tidur tampannya.

 

“Demi Tuhan, Byun Baek Hyun! Ini masih pukul lima, Baek Hyun! Pukul lima!” Chan Yeol memekik kesal. Kembali menarik selimutnya hingga menutupi kepala. Namun sepertinya Baek Hyun tidak peduli dengan pekikan itu. Si mungil—yang kata Chan Yeol iblis— itu justru ganti menarik selimut putih yang membungkus tubuh Chan Yeol layaknya kepompong.

 

“Oh, come on, Chan Yeol. Wake up! Wake up!” Kini Baek Hyun mulai menaiki ranjang Chan Yeol dan melompat-lompat seperti kelinci disana.

 

“Byun Baek Hyun, apa maumu? Ini masih pukul lima pagi, dan ini hari liburku, Byun Baek!” Chan Yeol memekik kesal lagi. Baek Hyun berkedip beberapa kali.

 

“Ayo kita jogging!” What the—Byun Baek Hyun membangunkannya dipagi yang super buta ini —bagi Chan Yeol— hanya untuk mengajaknya berjogging. Oh, yang benar saja.

 

“Apa kau kerasukan? Atau kau sudah mulai gila?” Tanya Chan Yeol dengan wajah mengantuknya yang sangat kentara. Sementara itu Baek Hyun berdecak kesal. Bagaimana mungkin temannya ini mengatainya gila dan kerasukan?

 

“Tutup mulutmu, Park! Cepat bangun dan temani aku jogging pagi ini.”

 

“Tidak mau!” Chan Yeol merebahkan lagi dirinya pada kasur empuk nan nyaman miliknya. Mengabaikan Baek Hyun yang mulai memberengut padanya.

 

“Hey, Chan Yeol. Kalau kau tidak bangun aku akan membakar tugas akhir rancangan arsitekturmu itu!” Ancam Baek Hyun.

 

“Lakukan saja, dan kau akan kubakar bersama seluruh poster Kim Tae Yeon milikmu!” Betapa Chan Yeol sangat ahli dalam membalikkan kata-kata.

 

“Ayolah, Chan Yeol. Kumohon temani aku.”

 

Salah satu yang tidak disukai Chan Yeol dalam hidupnya adalah rengekan Baek Hyun. Itu membuat kupingnya berdengung dan kepalanya jadi pusing.

 

“Chan Yeol. Come on, Chan Yeol. Please,” Rengeknya lagi.

 

“Kumohon,  Chan Yeol,” Lagi.

 

“Sekali ini saja. Ini menyangkut hidup dan matiku,” Dan Lagi.

 

“Kau hidup ataupun mati aku tidak peduli,” Timpal Chan Yeol bengis.

 

“Kau benar-benar tega padaku. Kau bukan Chan Yeolku. Apa yang kau lakukan pada Park Chan Yeol kami?” Tahap yang paling tak disukai Chan Yeol setelah rengekan Baek Hyun tak membuahkan hasil, yaitu si iblis mungil itu mulai merengek lebih menyedihkan lagi.

 

“Oh shit, baiklah,” Desisnya kesal. Ia hanya tak mau kepalanya bertambah pusing karena mendengar suara cempreng Baek Hyun. Pria yang lebih mungil darinya itu menariknya hingga terbangun. Matanya penuh binar bahagia sekarang. Semoga Chan Yeol tak akan menyesali keputusannya nati.

 

***

 

Nyantanya ‘semoga’ yang dipanjatkannya saat bangun tidur tadi tidak dikabulkan oleh Tuhan. Kalau seperti ini jadinya, Chan Yeol benar-benar menyesal hingga ke sum-sum tulangnya. Byun —iblis— Baek Hyun itu bukan mengajaknya jogging melainkan menjadikannya setan penunggu sepasang kekasih yang sedang berpacaran.

 

“Hey, Byun Baek Hyun! Jika kau tak berniat untuk jogging aku akan pulang.”

 

“Sebentar, Chan Yeol. Kita akan berlari sebentar lagi.” Ujarnya dengan senyum lebar yang tak menampilkan dosa disana. Setelah berkata seperti itu Baek Hyun kembali bermesraan lagi dengan pacarnya, Yoo Seul Mi. Oh, betapa ia sangat ingin menggelamkan Baek Hyun ke samudra Atlantik sekarang.

 

***

 

“Chan Yeol, I’m so sorry, okay? Forgive me, please,” Baek Hyun masih terus mengekori Chan Yeol yang berjalan cepat memasuki rumah mereka.

 

“Tidak ada maaf untukmu, Baek!” Ketus Chan Yeol.

 

“Oh, ayolah, Chan Yeol. Kenapa begitu saja marah? Kau tahu aku terlalu malu untuk menemui Seul Mi sendiri,” Baek Hyun mencicit diakhir kalimatnya.

 

“Maka lain kali jangan pernah mengajakku untuk hal tidak penting seperti ini lagi!”

 

 

Kemudian yang Baekhyun dapat adalah sebuah suara gebrakan hasil dari Chan Yeol yang membanting pintu kamarnya dengan keras setelah menyelesaikan ucapannya yang penuh dengan tekanan itu.

 

“PARK CHAN YEOL! AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBAKAR TUGAS RANCANGAN ARSITEKTURMU!”

 

***

 

“Dasar naga menyebalkan! Apa dia tidak melihat jika ini jadwal liburku?” Chan Yeol terus menggerutu dalam perjalanannya menuju halte bus. Tiba-tiba saja saat ia baru memejamkan mata sekitar satu jam untuk melanjutkan tidur tampannya yang sempat terganggu karena ulah Baek Hyun, Kris—bos tempat ia bekerja sekaligus teman kuliahnya—menelponnya dan menyuruhnya agar cepat datang ke café.

 

Chan Yeol tentu kesal bukan main mengingat sudah ada dua orang yang menggangu liburan tampannya hari ini. Dan kekesalan Chan Yeol bertambah berjuta-juta lipat kali ketika sesampainya ia di halte, bus yang akan dinaikinya sudah berjalan sebelum ia sempat sampai disana.

 

“Hey, bus sialan! Berhenti aku mau naik!” Sia-sia saja Chan Yeol berteriak bagai orang kesurupan menyuruh besi bergerak itu berhenti.  Chan Yeol mengusak rambutnya kasar. Ia berteriak sekali lagi dan membuat para pejalan kaki di sekitarnya memperhatikannya yang sudah selayaknya orang gila itu.

 

Dengan penampilan berantakan, rambut tidak disisir, muka yang kusut, bagaimana mungkin mereka masih melihat Chan Yeol sebagai orang waras? Belum lagi Chan Yeol yang sedari tadi menggerutu dan memaki apapun di sekitarnya dengan tidak jelas.

 

Ponsel di dalam saku jaket Chan Yeol bergetar. Tangannya menyusup ke dalamnya dan mengeluarkan benda tipis berbentuk persegi panjang tersebut.

 

From : Kris The Dragon

‘Hey, Park. Kau tentu ingat tentang peraturan pekerja harus datang sebelum bos datang, bukan? Sepuluh menit lagi aku sampai di sana dan kuharap aku tak kehilangan salah satu pegawaiku hari ini.’

 

Chan Yeol menarik nafasnya dalam-dalam dan menahannya lama. Beberapa simpangan imajiner mulai muncul dikeningnya.  Ada apa dengan hari ini? Kenapa semuanya begitu menyebalkan?

 

“Kris naga sialan!”

 

***

 

 

Nafas Chan Yeol terengah-engah sesampainya ia di cafe. Bagaimana tidak, jika kau berlari dengan jarak dua kilometer dan harus sampai ditempat dalam waktu kurang dari sepuluh menit? Chan Yeol rasa ia akan terpilih jadi atlit lari tercepat untuk olimpiade lari internasional nanti.

 

“Chan Yeol, kenapa kemari?” Jong Dae yang sedang mengepel lantai pun berhenti dan bertanya pada Chan Yeol. Mata sipitnya tak hentinya memandang heran pada penampilan Chan Yeol. Keringat dimana-mana dan rambut serta mukanya sangat kusut.

 

“Kalau belum mandi kenapa kemari? Bukankah kau libur hari ini?”

 

Chan Yeol menegakkan tubuhnya. Nafasnya mulai berhembus dengan tertatur sekarang. “Jangan banyak bicara. Dimana bos?” Tanyanya ketus. Chan Yeol melihat Jong Dae yang mengerutkan keningnya kemudian mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Firasatnya mulai buruk sekarang.

 

“Bos tidak datang hari ini. Bukankah jadwal libur bos sama denganmu?” ujar Jong Dae kalem lalu kembali lagi pada pekerjaannya mengepel lantai.

 

Uap imajiner mulai keluar dari pori-pori kulit Chan Yeol. Mungkinkah bosnya itu hanya mengerjai dirinya? Jika begitu, terkutuklah naga sialan bernama Kris Wu itu.

 

***

 

Sudah satu setengah jam Chan Yeol menunggu bosnya didalam café. Ini sudah gelas lemon  tea ketiga  yang diminumnya  sembari menunggu kedatangan bos diktatornya itu.

 

“Sebenarnya dimana naga itu berada?”

 

Sura lonceng yang dipasang di pintu masuk berbunyi. Chan Yeol mengalihkan pandangannya dan disana terlihat sosok jangkung dengan rambut dirty blondenya tengah berjalan kearahnya. Kris tersenyum tanpa dosa pada Chan Yeol.

 

“Jalanan macet, Chan Yeol. I’m sorry, okay.” Ucapnya dengan cengiran yang masih betah menghias wajahnya.

 

“Terserah padamu,” Ketus Chan Yeol.

 

“Baiklah, ikut denganku.” Kris berjalan lebih dulu ke ruang kerjanya dan Chan Yeol mengikuti di belakang.

 

“Ada apa?” Tanya Chan Yeol setelah sampai didalam ruang kerja bosnya. Ruangan itu terlihat cukup luas karena hanya terisi perabotan minimalis serta dinding yang didominasi oleh warna putih.

 

“Aku butuh bantuanmu,” Alis Chan Yeol bertaut.

 

“Bantuan?” ulangnya.

 

“Ehm begini—” Kris terlihat gusar, tangannya menggaruk tengkuknya gelisah. Chan Yeol mempunyai firasat buruk untuk ini.

 

“—Ehm, bagaimana mengatakannya, ya? Well, aku ingin memberikan Purple hadiah untuk anniversary kami yang kedua. Aku butuh bantuanmu untuk memberiku ide.”

 

Chan Yeol diam.

 

Masih diam.

 

Tetap diam.

 

“KRIS WU! KENAPA KAU TIDAK MATI SAJA? KAU MENYURUHKU DATANG KEMARI HANYA UNTUK MENGURUSI PERCINTAANMU? DEMI TUHAN, KRIS! KAU BISA MEMBICARAKAN INI DENGANKU MELALUI TELEPON!” Chan Yeol memekik kesetanan. Ternyata firasatnya benar. Ini bahkan lebih buruk dari yang dilakukan Byun—iblis—Baek Hyun padanya tadi pagi. Kris tersentak kaget, namun demi image cool boy yang melekat pada dirinya ia pun kembali memasang wajah tenangnya.

 

“Ehem,” Kris mendehem. “KENAPA KAU BERTERIAK PADAKU, HUH? AKU BOSMU DAN AKU BERHAK MENYURUHMU MELAKUKAN HAL SEMAUKU!” Pekik Kris membabi buta yang sangat out of character. Chan Yeol terlonjak kebelakang, Kris jadi makin mirip naga jika sedang marah.

 

“B-baiklah, Tuan Wu. S-so what can I help you?” Kris tersenyum mendengar kalimat Chan Yeol. Dasar naga berkepribadian ganda! Batin Chan Yeol. Mereka kemudian mulai mendiskusikan hadiah apa yang akan diberikan Kris pada kekasihnya, Purple.

 

***

 

Chan Yeol melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah pukul tiga sore. Kalau dihitung hampir tiga jam dia membantu Kris dan urusan percintaan si jangkung itu. Chan Yeol mendesah. Ia sudah kehilangan lebih dari separuh liburannya untuk hal-hal yang tidak penting.

 

Baru saja Chan Yeol hampir dapat memejamkan matanya, ponsel disaku jaketnya kembali bergetar untuk ketiga kalinya. Chan Yeol mengumpat dan menarik ponsel itu dengan kasar.

 

Jong In’s Calling

 

“Halo—”

 

“AAAA Chan Yeol-hyeong, tolong aku! Min Seok-hyeong ingin membunuhku!” Telinga Chan Yeol berdenging karena teriakan diseberang sana. Alisnya terangkat tinggi-tinggi mendengar Jong In berkata Min Seok akan membunuhnya.

 

“Hey, jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” Alih-alih mendapat penjelasan, Chan Yeol kembali dihadiahi beberapa pekikan lain. Chan Yeol menebak itu pasti Se Hun dan Tao.

 

“Mati saja kau! Mati kau!” Samar-samar Chan Yeol juga bisa mendengar Kyung Soo menyumpah serapah dan suara gedebuk dari seberang sana. Chan Yeol tahu apa yang terjadi, jadi ia hanya memutar bola matanya malas.

 

“CHAN YEOL-HYEONG, CEPAT TOLONG KAMI! AAAA MIN SEOK-HYEONG, AMPUN! AMPUN!”

 

Sambungan terputus, Chanyeol mengdengus.

 

“Sial! Kenapa mereka harus mengacau lagi?” Chan Yeol mengumpat, memasukkan ponselnya dengan kasar kedalam saku jaketnya. Pria itu berdiri kemudian berjalan kebagian depan bus. Memencet tombol untuk menyuruh supir menghentikan lajunya.

 

Bus berhenti dan Chan Yeol pun turun usai membayar tarif. Beruntung dari sekian banyak kesialan yang menimpanya seharian ini, setidaknya Chan Yeol mendapat satu keburuntungan karena taksi yang diberhentikannya masih kosong. Chan Yeol masuk, memberitahukan supir kemana tujuannya.

 

Chan Yeol sudah sampai didepan rumah Min Seok. Usai membayar tagihan argo Chan Yeol segera melangkahkan kakinya memasuki kediaman Min Seok. Tak perlu basa-basi mengetuk pintu bagi Chan Yeol, karena ia memang sudah terbiasa keluar masuk rumah Min Seok.

 

“Astaga, ada apa ini?” Chan Yeol memekik. Keadaan rumah Min Seok benar-benar kacau. Bungkus snack bertebaran dimana-mana. Bantal sofa tergeletak tidak pada tempatnya. Dan lima manusia yang tadi menelponnya kini tengah dengan asiknya bermain kartu di ruangan tengah.

 

“Ah, Chan Yeol kau datang. Kemarilah. Bergabung dengan kami,” Min Seok menggerakkan tangannya menyuruh Chan Yeol untuk duduk bergabung bersama mereka.

 

Chan Yeol diam selama beberapa saat. Tak ada yang tahu apa yang ada dalam pikiran Chan Yeol sekarang. Tapi dilihat dari gerak-geriknya sepertinya Chan Yeol akan meledak sebentar lagi.

 

“Kalian memanggilku kesini hanya untuk bermain kartu?” Kyung Soo mengangguk tanpa melepaskan fokusnya dari kartu-kartu yang ada ditangannya.

 

“Lalu kenapa kalian berteriak tadi?”

 

“Itu karena Jong In berbuat curang tadi,” Giliran Min Seok yang menjawab.

 

“Aku tidak curang, Hyeong. Tadi itu aku hanya tidak sengaja melihatnya,” Protes Jong In. Kedua tangan Chan Yeol mengepal. Emosinya yang semula ada di ubun-ubun sekarang sudah keluar dari kepalanya.

 

ARE YOU CRAZY? KALIAN MEMANGGILKU KEMARI HANYA UNTUK HAL GILA MACAM INI? DEMI TUHAN, SEBENARNYA ADA APA DENGAN HARI INI?”

 

***

 

Chan Yeol lagi-lagi hanya bisa menghela napasnya. Matanya terasa berat. Tubuhnya juga sudah lelah. Ia tak sanggup lagi rasanya untuk berjalan. Ini hari yang berat setelah hari-hari bimbingan skripsi yang tak menghasilkan tanda tangan acc dari dosen pembimbingnya.

 

Min Seok mengusirnya karena dianggap tidak sopan berteriak pada orang yang lebih tua darinya sekaligus sang tuan rumah. Oh hell, yang benar saja. Dan tak berhenti sampai disitu kesialannya. Chan Yeol terpaksa berjalan kaki karena tak ada satu pun kendaraan yang lewat disepanjang jalan.

 

Rumah Min Seok sangat jauh jaraknya dari rumahnya, dan Chan Yeol sudah tak sanggup lagi menggerakkan kakinya untuk berjalan. Kakinya ia tarik paksa dan membuatnya berjalan dengan terseok-seok.

 

“Oh Tuhan, ampuni dosa hambamu ini. Dan berikanlah balasan setimpal pada orang-orang yang telah membuat hamba seperti ini,” Gumam Chan Yeol dengan matanya yang sudah separuh tertutup.

 

Mata bulatnya berkedip beberapa kali. Kakinya menginjak suatu benda yang keras namun rapuh jika terinjak. Suara retakkan dari bawah tubuhnya membuat Chan Yeol berpikir keras apa yang baru saja diinjaknya. Takut-takut itu suara tulangnya sendiri.

 

GUK

 

“Oh astaga apalagi sekarang?” Ratap Chan Yeol dalam hati. Dengan perlahan Chan Yeol melirik kebawah. Kakinya menginjak sebuah tulang. Kemudian melirik kebelakang. Seekor bulldog hitam tengah menatap penuh amarah padanya.

 

“Sial!”

 

Dan kemudian Chan Yeol pun berlari dengan sangat kencang. Sangat jauh hingga dia lelah namun anjing itu tetap mengejarnya. Sampai akhirnya Chan Yeol berakhir diatas sebuah pohon.

 

Chan Yeol menutup matanya erat-erat. Ia bukannya takut ketinggian, hanya saja cabang pohon yang didudukinya mulai berbunyi retak dengan samar-samar. Jatuh itu sakit dan lebih sakit lagi saat jatuh kau diterkam anjing hidup-hidup.

 

“Oh Tuhan! Pergi kau anjing sialan! Pergi!”

 

GUK GUK GUK

 

“Oh, astaga!”

 

Chan Yeol ada disana selama sekitar setengah jam. Masih dengan bulldog hitam yang menggongggong dibawahnya. Demi Tuhan, Chan Yeol sudah tidak sanggup lagi.

 

Sayup-sayup dari kejauhan Chan Yeol dapat mendengar suara seorang wanita yang memanggil sebuah nama. Suaranya lembut dan begitu familiar ditelinganya.

 

“Alex, kau dimana, sayang? Alex.”

 

“T-to-toloong,” Chan Yeol mencoba berteriak dengan suaranya yang parau.

 

“Ah, Alex. Kau disini? Apa yang kau lakukan disini, sayang?” Wanita itu mengelus-elus leher bulldog hitam itu dan membuat anjing itu melenguh manja atas perlakuan tuannya.

 

“T-tolong.”

 

Wanita itu mendongak. Dan mata bulatnya semakin membulat melihat sosok Chan Yeol diatas pohon sana dengan keadaan yang begitu mengenaskan.

 

“Senior, apa yang kau lakukan di atas sana?”

 

“Da Som, apakah itu anjingmu?” Alis Da Som berkerut namun tak lama wanita itu membuka mulutnya dan mengelurakan sebuah suara.

 

“Apa dia mengganggumu? Aku minta maaf kalau begitu.”

 

“Aku maafkan. Tapi bisakah kau menjauhkan anjingmu itu? Aku ingin turun.”

 

“Turunlah saja. Aku akan memegang Alex agar tak menyerangmu.”

 

“B-baiklah.”

 

Chan Yeol pun turun secara perlahan. Namun baru setengah langkah anjing itu kembali menggonggong padanya dan membuat Chan Yeol kembali naik keatas.

 

“Alex, jangan begitu!”

 

“Da Som, apa kau sudah menemukan Alex?” Seorang pria bertubuh sama tingginya dengan Chan Yeol berjalan menuju Da Som. Tubuh tinggi tegapnya dibalut celana training dan kaos oblong warna hitam serta sepatu kets dengan merk luar negeri.

 

“Ah, Jae Hyun-Oppa.”

 

“Disini kau rupanya, huh?” Pria yang dipanggil Jae Hyun itu mengelus kepala anjing itu kemudian mengambil alih tali yang mengitari leher anjingnya dari Da Som. Chan Yeol menatap cemburu pada interaksi dua orang beda jenis kelamin itu.

 

Pria itu tersenyum pada Da Som dengan posisi wajah yang sangat dekat. Dan Chan Yeol merutuk sebesar-besarnya saat melihat sepuhan merah menjalari gadis yang sudah disukainya sejak dua tahun lalu itu.

 

“Ayo, Ibu mertua sudah menuggu kita berdua,” ucapnya sembari mengusak puncak kepala Da Som. Dan Da Som makin memerah. Oh, terkutuklah manusia kelebihan kalsium dan protein itu.

 

Lalu dua orang itu pergi bersama anjing mereka. Melupakan eksistensi Chan Yeol yang baru saja turun dari tempatnya. Wajahnya jadi makin lusuh bukan hanya karena lelah tapi juga karena patah hati.

 

Sakit sekali.

 

Rasanya seperti diremat-remat. Membuat Chan Yeol mual dan ingin muntah. Oh sungguh, ini namanya sudah jatuh tertimpa tangga kemudian ia terserang reumatik pada tulang punggungnya.

 

Chan Yeol berjalan dengan langkah yang makin lunglai. Matanya memanas, Chan Yeol rasanya ingin menangis saja. Namun ia malu juga karena banyak anak kecil yang menatap aneh padanya. Bahkan ada yang dengan lantangnya mengatainya cengeng tadi.

 

***

 

Chan Yeol sampai dirumahnya pukul sepuluh malam. Badannya sakit semua. Sakit lahir batin lebih tepatnya.

 

Ia melangkah kedalam rumahnya yang gelap gulita dengan setengah nyawa. Masa bodoh dengan penerangan. Lagipula dia tak akan mati hanya karena tak mau menyalakan lampu rumahnya.

 

“Hiks Ibu, aku patah hati. Hiks hiks.”

 

Dan Chan Yeol pun pada akhirnya menyerah saja. Patahan dihatinya terlalu lebar. Apalagi tiap megingat kalimat pria itu  pada gadis pujaannya tadi. Membuat tangis Chan Yeol jadi makin kencang. Mirip bayi gajah yang merengek pada induknya.

 

Diusapnya beberapa kali air mata serta ingus yang membasahi wajahnya. Chan Yeol tidak boleh begini. Hidup harus terus berjalan, dan selama sumpah didepan altar belum terucap Chan Yeol akan terus berusaha. Bahkan kalau sudah terucap pun Chan Yeol akan tetap berusaha. Berusaha membuat Da Som jadi janda, jadi Chan Yeol bisa menggoda gadis itu untuk jatuh kepadanya. Ingat kalau dia lebih menggoda daripada si Jae Hyun itu.

 

Dan Chan Yeol pun bangkit dari tempatnya. Lalu melangkah menuju kamarnya. Ia butuh mandi karena hidungnya mencium bau tidak sedap yang ternyata  berasal dari ketiaknya yang berbulu lebat itu.

 

“SELAMAT ULANG TAHUN, PARK CHAN YEOL!”

 

Suara-suara gaduh itu timbul sesaat setelah Chan Yeol membuka pintu kamarnya. Matanya mengerjab beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.

 

Disini sudah berkumpul teman-temannya. Ada Baek Hyun dan pacarnya Yoo Seul Mi; Se Hun yang pastinya dengan pacar yang juga merangkap sebagai adiknya yaitu Park Ha Ni; ada Jong Dae; Min Seok; Kyung Soo; Jong In beserta pacarnya yaitu Park Soo Jin yang juga sepupunya omong-omong.

 

Dan disudut sana, ada bosnya yang begitu menyebalkan namun sialnya juga tampan, Kris beserta pacarnya yang cantiknya sangat luar bisa—Chan Yeol sempat menyukainya dulu—yang tak lain adalah Purple. Wanita itu tengah tersenyum padanya dan membuat lutut Chan Yeol melemas, asal kalian tahu saja.

 

Namun dari itu semua yang membuat mulut Chan Yeol terbuka hingga tak mau tertutup adalah sosok menawan pujaannya, Kim Da Som. Wanita itu tengah berjalan dengan anggun kearahnya. Ditangannya ada kue dengan lilin yang menyala diatasnya.

 

Matanya memicing saat melihat ada dua larva diatas kue itu. Ini pasti pekerjaan Se Hun. Siapa lagi memangnya kalau bukan si maknae kurang ajar itu.

 

“Selamat ulang tahun, Chan Yeol.”

 

Suara itu mengalun dengan begitu lembut ditelinga Chan Yeol. Aduh Chan Yeol jadi ingi meleleh. Apalagi Da Som sedang tersenyum dengan manisnya.

 

“Ayo tiup lilinnya.”

 

Suara Da Som dan riuh-riuh disekitarnya akhirnya menyadarkan Chan Yeol dari keterpukauannya. Pria itu menggeleng sejenak lalu memajukan tubuh, menutup matanya untuk memanjatkan doa dan meniup lilin-lilin itu setelahnya.

 

Semuanya bersorak. Namun Chan Yeol tak peduli. Ia masih terpesona dengan senyum Da Som yang begitu menawan itu. Namun sayang, Da Som sudah jadi milik orang. Chan Yeol baru saja mengingatnya dan itu membuatnya kembali muram.

 

“Chanyeol, kau baik?”

 

“Ah, iya. Jangan khawatir,” Jawab Chan Yeol lesu.

 

“Eum, Chanyeol. Tentang surat yang kau letakkan dilokerku waktu itu—,” Da Som menjeda kalimatnya. Wanita itu nampak malu-malu untuk melanjutkannya. Sedangkan Chan Yeol justru berjengit bingung.

 

“—Aku rasa aku bisa menjalaninya denganmu,” Da Som menunduk tampak salah tingkah dan Chan Yeol masih tetap pada posisi bingungnya.

 

“—Aku mau jadi pacarmu.”

 

Chan Yeol masih diam. Agak sulit baginya untuk mencerna untaian kata yang disuarakan oleh Da Som padanya. Pacar? Hell, kapan dia menyatakan cinta pada pujaannya itu? Lagipula dia baru saja dibuat patah hati oleh wanita itu.

 

“Akhirnya Chan Yeol kita mempunyai pacar juga,” Suara Baek Hyun menyahut dan membangunkan Chan Yeol dari mode termenungnya.

 

“Da Som.”

 

CHUP

 

Terlalu banyak kejutan dihari ini membuat Chan Yeol tidak bisa menampilkan ekspresi selain mulut terbuka lebar-lebar juga mata yang berkedip-kedip. Rasanya seperti  terbang di awan sesaat setelah Da Som mengecup pipinya.

 

Aduh, Chan Yeol rasa setelah ini jantungnya akan meledak. Ia senang bukan main. Dan tanpa pikir lagi segera saja ia mengambrukkan dirinya memeluk Da Som, kekasih barunya. Masa bodoh dengan apa yang terjadi hari ini. Masa bodoh dengan sorakan teman-temannya itu. Masa bodoh dengan bau badannya yang belum mandi seharian. Masa bodoh juga dengan siapa yang memberi Da Som surat pernyataan cinta itu.

 

Chan Yeol akan menulisi otaknya dengan tinta hitam tebal agar ia selalu mengingat  saat bahagia di hari ulang tahunnya yang ke-23. Memang telat beberapa hari untuk dirayakan, tapi sekali lagi ia bersikap masa bodoh. Yang penting Da Som sudah jadi miliknya sekarang. Masa bodoh juga dengan Jae Hyun atau siapalah itu. Tunggu!

 

Chan Yeol melepas pelukannya cepat.  Menatap Da Som lekat-lekat. “Lalu siapa pria bernama Jae Hyun tadi?” tanyanya.

 

“Ah, Jae Hyun-Oppa?” Chan Yeol mengangguk. Jangan sampai Jae Hyun itu benar-benar calon suami Da Som.

 

“Dia calon suami Yoo Jung-Eonni.”

 

Dan entah kenapa rasanya oksigen benar-benar banyak didunia ini hingga Chan Yeol bisa menghela napasnya dengan penuh kelegaan.

 

Epilog

 

“Kau lihat tampang Chan Yeol tadi? Dia jadi makin terlihat bodoh,” ujar Baek hyun diiringi tawanya yang begitu keras. Mereka sedang dalam perjalanan pulang sekarang.

 

“Aku tak menyangka bos punya otak sekeji ini untuk mengerjai si Dobi itu,” Jong Dae menimpali. Lalu semuanya kembali tertawa kecuali Kris. Pria yang dipanggil bos oleh Jong Dae itu hanya mendengus malas.

 

“Sekali-kali membuat si Dobi itu marah-marah menyenangkan juga,” Sambung Min Seok.

 

“Tapi tentang surat pernyataan cinta Chan Yeol pada Da Som itu, kurasa bukan Chan Yeol yang menulisnya. Kalian lihat tampang bodohnya itu seperti tak tahu apapun,” Kyung Soo menatap semuanya dengan pandangan bertanya. Mereka terlihat tengah berpikir.

 

“Oh, surat itu? Itu ulah Lu Han dan Tao. Sebenarnya bukan mereka yang menulis tapi mereka berdua memaksa Yi Xing dan Joon Myeon. Aku sudah tidak tahan dengan sikap pengecut si Dobi itu.”

 

Semuanya mengalihkan mata pada sosok Ha Ni. Adik dari Park Chan Yeol itu tetap saja memasang wajah datarnya. Mengabaikan tatapan terkejut dari semua orang.

 

“Kupingku sudah panas karena rengekannya. Da Som begini Da Som begitu. Da Som dekat dengan pria ini dan itu.”

 

“Tapi kenapa harus Lu Han dan Tao?” Tanya Se Hun.

 

“Tidak tahu, tiba-tiba pikiranku berlari pada mereka berdua. Fakultas mereka paling dekat dengan Fakultas Desain Fashion. Jadi kupikir mereka bisa membantuku.”

 

“Tapi, omong-omong dimana mereka berempat? Apa mereka tidak tahu kalau kita akan merayakan ulang tahun Chan Yeol hari ini?” Tanya Jong In.

 

“Lu Han sedang mencari jati dirinya yang hilang karena skripsinya yang katanya melukai kepribadiannya itu. Tao bilang dia harus menemui dosennya, kurasa dia ingin meloby Pak Tua Jang itu lagi,” Jelas Min Seok.

 

“Yi Xing sedang pulang ke China, dan Joon Myeon kurasa dia lebih suka buku akuntansi daripada muka bodoh Chan Yeol.”

 

Dan semuanya tertawa bersama.

 

FIN

 

Ini ff tahun lalu kalo bahasanya masih amberegeul mohon dimaklumi, saya lagi labil sekali waktu itu..

25 tanggapan untuk “[Chanyeol Birthday Project] Best Luck — Honeybutter26”

  1. Sian amat Chanyeol terlunta2 nasibnya huhuhuAHAHAHAHA
    I know that feel mas nyol, hiks!

    kenapa pas ada tulisan Kris the Dragon, Kris lagi naik naga ind****ar langsung terbesit dipikiranku :”
    mending bang Kris naik naga ajadeh biar gak kena macet
    eh tapi ceritanya jadi gak jalan ding wkwk

    demi apa, aku terharu baca endingnyaaaa
    dan makin ngakak pas tahu kalo yg nulis surat bukan Chanyeol :’v

  2. yaallah.. abanghs eykee meranaa amaat.. kesiaan.. klo aku jadi ceyee beuh ambeuk ambeukan 7 hari 7 malem daaa. bedot semuaa ihh temennnyaaa.. hahhaahah.. sabar sabar… habede abang park!!

  3. KAKFARAH KENAPA ADA CHANBAEK MOMENT AKU KAN JADI NGAKAK SENDIRI AZTAGAH MANA DI AWAL AWAL AKU KAN NGAKAK KYAAA CHANBAEK KYAAAA XD XD
    sumpah deh puas banget liat chanyeol dikerjain abis abisan di sini. gilak haha mana chan udah sampe nangis nangis begitu ampun deh nelangsa banget kamu mas, sini tak peluk/gak
    buat dasom, aku malah ngebayangin dasomnya sistar wkwk miyane kaka wkwk
    ih chan sih gak nyatain perasaan dari lama, mana dia enak banget lagi, gak pakek nyatain eee tau tau si cewe bilang ‘aku mau’ *guling-guling
    okeeee kaka segitu aja aku ngerusuhnya kkkk doain tes semesteranku lancar yak xD

    1. karena mereka selalu menggodaku kemana mana nid.. hahaha baekhyun nyebelin banget ya..?? ya sekali kali si dobi emang harus dikasih yang beginian.. biar gak gangguin yang lain lagi terutama kyungsoo.. hahaha aku emang pake dia sih.. habisnya mamah park kan sukanya sama dasom.. eaaa
      tau si chan mah tukang php nid.. mau enaknya doang gak mau susahnya.. pantes kalo diginiin hahaha.. sukses buat uas kamu ya.. semoga pengawasnya pas waktu itu lagi ngantuk jadi cuma tidur aja.. kalo gak suguhin video sehun sama jongsek nari BDC biar sibuk fangirlingan.. :v

    2. iyaaa baek nyebelin banget banget banget tapi bikin kusuka sama kapel chanbaek kyaaaaa xD
      yesssh beneran! sama dasom wkwk jadi bayangannya pasangan unyu unyu gimana geto
      eaaak tukang php eaaak baper eaaak/plak
      hahaha iya kakaaaa… kalok pengawasnya fangirlingan bisa bisa gak jadi pasa tes bhaks xD

    3. kibar bendera chanbaek.. tapi aku lagi suka hunbaek.. duhh baek kalo udah nyandar di bahu sehun itu imuuutttt banget.. kaya adeknya sehun..
      iya.. dasom kan anaknya kalem gitu.. cocok sama bang cahyo.. matanya sama sama bulet juga.. duhh mama park makasih udah jadiin dasom jadi calon mantu idaman..
      fangirlingan bareng… :v

    4. chanbaek yeah xD xD hahaha aku juga kak, hunbaek, chanhun kyaaaa xD yang ada hun-hunnya gitu/plak
      haha iya kak umang unyu unyu gitu etapi baek suka grepe2 gitu deh ama bang hun kkkkk
      aku suka dasom, imut gitu haha mungkin kekalemannya dia bisa bungkam mulut si chan…mungkin/plak

    5. iyaaaaa omegat.. dedek kangen hunhan sama krishun.. uwaaaaa apalagi kalo liat fotonya hunhan yang captipnnya Lu itu… duhh dedek jadi baper kan pagi pagi…
      iyaa.. dia kan jandanya teyon.. jadi suka godain brondong sekseh macam sehun gitu..
      iya amin.. duhh aku ngarep banget mereka real.. padahal yang ngefans mas cahyo malah mbak soyou.. tapi mamah park malah sukanya sama dasom.. aaakkk

    6. sehun kesepian, pairingnya ngilang semua
      baek ngeri ih nyabenya :v
      wakaka mba soyou sedikit tersingkirkan berkat mamah park, besok tak kondangan kak :v

    7. kasihan sehun.. malah sekarang dipairingin sama paus duhhh kenapa gak sama aku jaa?? ato sama miranda??
      kondangan bareng nid.. nanti kita nyumbang lagu give it to me sama tach ma badehh hahaha

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s