94 (Chapter 14) – ECCEDENVY

image

Vy‘s Story

EXO’s Kai and Sehun | Red velvet’s Seulgi and Wendy | F(x)’s Sulli and Krystal | OC’s Sharon and Michelle (Latte)

School life[Work life] | Romance | Hurt

“Berhentilah Kalian!!” -Kai

“Pilihlah satu! Kau hanya akan menyakiti mereka!” -Sehun

“Itu keputusanmu Jong!” -Seulgi

“Memang apa peduliku soal mereka?” -Wendy

“Sudah kubilang jangan memaksakan kehendak!” -Sulli

“Aku tidak akan mengusik lagi…” -Krystal

“Masalah sudah rumit! Dan kau mau bergabung di dalamnya?” -Sharon

“Setidaknya aku sudah tau perasaanmu!” -Michelle

Chapter 14

“Kau bilang itu tadi Jin oppa?” Sharon berbalik menatap Jongin.

“Iya… Kenapa?” Jongin tampak bingung.

“Buat apa dia menelponmu?!” Sharon terlihat gugup.

“Mengajakku untuk ke pembukaan cabang cafénya yang baru.” Jongin masih bingung.

“Tidak. Baguslah…” Sharon gelisah. Dan Jongin dapat melihat itu.

Drrt Drrrt

“Yeo-yeoboseyo?”

“Kau tidak datang? Jongin bilang dia tidak datang. Jangan bilang kau juga!” Terdengar suara Jin di seberang.

“Aku sepertinya tidak bisa. Maaf…”

“Lalu mau diapakan uang ini? Jongin tidak datang!”

“Berikan saat bertemu dengannya. Kututup!” Sharon dengan cepat memutus panggilan itu. Tidak peduli pada Jin yang memakinya di sana.

“Aku akan pergi.” Sharon memakai high heelsnya. Ia berjalan keluar terseok seok.

“Sharon…”

Hening.

“Kajima….”

Semua mata tertuju pada Sehun. Lelaki itu mengigau. Bahkan ia menangis. Sharon berhenti. Tidak tau harus melakukan apa. Seulgi dengan cepat menekan tombol darurat. Tak berapa lama seorang suster datang dengan dokter. Dokter itu memeriksa keadaan Sehun.

“Keadaannya sudah stabil. Dia mungkin akan sadar beberapa saat lagi. Mengejutkan dia bisa stabil dalam waktu secepat ini. Setelah dia sadar kau bisa memanggilku lagi.” Dokter itu kemudian keluar kamar Sehun.

“Baguslah…” Jongin menghela nafas lega.

“Aku akan pergi…” Sharon berbalik dan berjalan keluar.

“Sharon…”

“Kau tidak dengar? Dia memanggilmu.”

“Sehun!”

“Dia sadar!”

“Hah….” Sharon menghela nafas lelah. Ia tidak bisa melakukan ini.

“Panggil dokter!” Perintah Jongin. Ia melambaikan tangannya di depan wajah Sehun. Seulgi berlari keluar bersama Soojung.

“Aku tetap pergi.” Sharon melangkahkan kakinya keluar ruangan itu. Michelle menoleh. Dengan cepat ia mencekal tangan sahabatnya.

“Sekali ini saja… Kau harus mendengarkanku!” Michelle menatap tajam Sharon. Sahabatnya itu hanya menutup matanya. Tidak menanggapi.

“Dokter di sini!” Seulgi dan Soojung kembali dengan seorang dokter. Wendy mengikuti di belakang dokter itu.

Hening

“Sehun-ssi? Kau mendengarku?” Dokter itu bertanya. Sehun mengangguk.

“Kau ingat orang orang yang ada di sini?” Sehun mengernyit.

“A-aku ingat…. Jongin, siapa gadis itu?” Sehun menunjuk Sharon. Yang ditunjuk menegang. Tapi dengan cepat menyembunyikannya.

“Bagus, aku pergi!” Sharon menghempas tangan Michelle. Ia dengan cepat keluar kamar. Semua di ruangan itu terdiam.

“Hah… Kita perlu bicara.” Wendy menghela nafasnya sebentar.

“Baiklah!” Jongin keluar.

.

“Apa yang terjadi dengannya?” Jongin bertanya cepat.

“Sepertinya ia mengalami trauma. Dan itu berpengaruh pada ingatannya. Aku tidak tau apa yang membuatnya melupakan Sharon. Tapi satu yang pasti, Sehun berusaha melupakan Sharon.” Wendy menjelaskan.

“Iya… Kita perlu menterapi Pasien Oh Sehun. Dengan begitu beberapa ingatannya bisa kembali.” Dokter itu mengangguk setuju pada pendapat Wendy.

“Lakukan yang terbaik dulu padanya. Aku harus mencari Sharon!” Jongin mengangguk. Kemudian berlari menuju parkiran untuk mencari Sharon.

.

.

.

“Kemana Jongin?” Tanya Seulgi ketika Wendy masuk.

“Ia mencari Sharon.”

“Ah, begitu… Sehun, kau benar benar tidak mengingat siapa tadi?” Tanya Seulgi. Sehun menggeleng. Ia mengernyit. Berusaha mengingat. Tapi hanya pening yang menghampiri kepalanya.

“Jangan dipaksakan!” Nasihat Wendy.

.

.

.

“Sharon tunggu!!” Jongin mencekal tangan Sharon.

“Apalagi?” Sharon bertanya sewot.

“Kau tidak boleh seperti ini! Kau tidak taukah betapa berartinya kau bagi Sehun?” Jongin sedikit memelas.

“Tidak! Menjauh dariku!” Gadis itu menghempas tangan Jongin.

“Kau tidak mengerti! Kau harus menyelesaikan masalahmu dengan Sehun! Tidak seperti ini! Kau kekanak kanakkan kau tau!” Jongin berkata cepat.

“Kalau begitu kau diam saja! Ini masalahku dengan Sehun! Masalahku dengannya sudah rumit! Dan kau mau ikut bergabung di dalamnya?” Sharon menjeda, dia tertawa remeh. Walau dalam hatinya ia merutuk.

“Aku sudah terlalu banyak masalah! Dan aku sudah muak dengan itu semua! Dan berhentilah ikut campur masalahku! Kau hanya menambah masalah itu!” Sharon berlari pergi. Satu tujuannya sekarang.

Jongin tercengang. Sharon berubah…

.

.

.

“Oh! Kau datang?” Jin menyambut gadis itu semangat.

“Kalau bukan berkat anak miskin aneh itu, aku tidak akan mendapat banyak uang darimu..” Jin tersenyum. Tapi gadis itu berdecih.

“Berhenti menyebutnya miskin dan aneh atau semua uang yang pernah kuberikan akan kutarik kembali!” Sharon, gadis tadi berkata tajam. Ia tidak suka keluarganya satu satunya dihina sekejam itu.

“Baiklah maafkan aku… Kau mau minum apa? Latte lagi?” Jin bertanya sumringah. Ia senang saat Sharon datang dan memesan lattenya.

“Tidak! Berikan aku kopi!” Sharon berucap pelan.

“Baiklah, tapi ada apa lagi kau memesan kopi? Biasanya kau hanya mau latte.” Jin bertanya sembari meracik kopinya.

“Hanya ingin saja. Jangan tambahkan apapun didalamnya. Cukup kopi saja.” Sharon menambahkan.

“Tapi kopinya akan sangat pahit. Kau tidak mau menambahkan creamer?” Alis Jin terangkat bingung.

“Tidak. Cukup kopi.”

“Baik.” Jin kembali ke pekerjaannya. Sharon menghela nafas lelah.

“Bagaimana pesta itu tadi?” Sharon membuka pembicaraan kembali.

“Lumayan ramai. Aku sempat kewalahan sebenarnya. Tapi itu menyenangkan. Tapi, bukankah kau bilang tidak ingin datang?” Jin bertanya. Ia menyeduh kopinya.

“Aku berubah pikiran.” Jawab Sharon singkat.

“Uang ini harus aku apakan? Kau saja yang memberikannya ke Jongin! Aku lelah berpura pura baik padanya. Dia cukup menyebalkan menurutku.” Jin mencibir.

“Berhenti menghina keluargaku!” Bentak Sharon. Ia muak dengan semua ocehan Jin.

“Baik baik! Tapi tetap! Kau saja yang berikan! Keluarga macam apa yang tidak bisa memberikan uangnya sendiri.” Jin menyindir. Sharon mendengus kesal.

“Kalau begitu kembalikan semua uang yang kuberikan!” Sharon balik mengancam.

“Baiklah baiklah!! Aku selalu kalah padamu! Berhenti mengancamku bocah!” Jin kesal. Ia sedikit membanting cangkir kopi itu. Tapi bantingannya berakibat fatal. Seperempat dari kopi itu terciprat keluar dan mengenai paha Sharon. Gadis itu memekik keras. Ia seketika berdiri.

“Maafkan aku!” Jin berteriak kencang. Untung saja pembukaan café tadi sudah ditutup. Jadi ia tidak masalah berteriak.

“Biar kuberikan obat!” Jin berlari kebelakang dan mengambil obat. Tapi Sharon lebih memilih pulang. Berjalan keluar. Kakinya sedikit terpincang akibat cipratan kopi tadi. Kulit pahanya memerah.

“Dasar bodoh!” Maki Sharon.

.

.

.

“Mana Sharon?” Seulgi bertanya saat Jongin kembali seorang diri.

“Dia entah kemana…” Jongin berkata pelan.

“Kau tidak mengejarnya?” Tanya Soojung. Jongin hanya menggeleng pelan. Ia masih memikirkan soal Sharon tadi. Ada yang berbeda. Ada yang disembunyikan oleh gadis itu.

“Sharon, aku rasa… Dia menyembunyikan sesuatu…” Jongin bergumam. Semua hanya memasang wajah bingung.

‘Aku harap Jongin tidak tau apapun!’ Batin Michelle. Dia mungkin yang hanya tau tentang Jongin adalah saudara Sharon satu satunya.

“Lebih baik kalian pulang lebih dahulu! Aku yang akan mengontrol keadaan Sehun.” Wendy tersenyum sembari menatap semua penghuni bangsal itu.

“Baiklah, masih ada yang harus kulakukan.” Jongin menatap jail Seulgi. Seulgi memerah. Jongin benar benar!

“Aku harus menyelesaikan tugasku dulu. Masih ada beberapa penyelidikkan.” Michelle keluar lebih dulu.

“Baiklah. Aku juga akan pulang. Aku sekali lagi, ingin minta maaf. Kita bisa jadi teman bukan?” Tanya Soojung. Michelle hanya menyilangkan tangannya dan mengangkat alisnya ragu. Tapi Seulgi menyenggolnya.

“Baiklah…” Michelle akhirnya mengalah.

“Aku tidak tau lagi harus apa. Aku hanya ingin bilang. Sabar Sehun.” Jongin mengusap pundak sahabatnya. Sehun hanya menatap Jongin bingung.

“Baiklah! Kita pulang! Beristirahatlah Sehun.” Jongin keluar menggandeng Seulgi. Wajah gadis itu hanya memerah malu.

“Aku rasa aku harus pergi sekarang.” Soojung hanya tersenyum pelan dan pamit.

“Wendy, bisakah kau tinggalkan diriku dengan Sehun sebentar saja?” Tanya Michelle. Wendy mengangguk dan keluar.

“Sehun…” Wajah Michelle berubah datar.

“Yah, aku tau… Aku tidak bermaksud. Hanya ingin dia tau bagaimana perasaanku!” Sehun berkata cepat.

“Kau tapi tidak perlu melakukan itu kau tau?” Michelle sedikit meninggikan suaranya.

“Menurutku harus. Lagipula biarkan saja. Dia sudah tidak menyukaiku lagi.” Sehun hanya berdecih pelan.

“Dia mencintaimu bodoh!” Michelle menoyor kepala Sehun.

“Aku tidak percaya. Diam dan jangan mengangguku. Kau pulang saja sana!” Sehun mengibaskan tangannya mengusir Michelle.

Ceklek…

Mereka berdua melotot.

Bersambung….

Yah, akhirnya selesai chap ini. Kim harus menyatukan Seron dulu sebelum muncul lebih banyak lovey dovey antara Kaiseul. Sabar readers. Makanya doa supaya Seron buruan balikkan. Biar Kaiseul makin banyak momentnya. Dan ff ini cepet selesai. Ok guys. Segitu aja. Hope you like it! See you in next chap! Salam EXO L~

7 tanggapan untuk “94 (Chapter 14) – ECCEDENVY”

  1. Hantu kah yg dateng? Sampe melotot gitu.. keke.. ceritanya makin seruu!! Kasihan sama sharon beban yg ditanggungnya berat.. semangat sharonn!! Kekeke ditunggu banget next chapnya kekeke ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s