A Distance

004.jpg

A Distance by truwita

Kwon Runa | Oh Sehun | Nam Joohyuk
Genres School-life, Sad-Romance, lil bit comedy
Length Vignette | Rating G
Before Story  The Way | Foreigner

Hatiku sangat sakit
Kau berharga dan tak tergantikan
Ini bukan tentang kenangan kita,
Tapi itu cintaku.

Kyuhyun – The Day We Felt The Distance

 

 

“TA-RAAA! Selama ulang tahun, Runa!”

Untuk beberapa saat, Runa bergeming. Menatap satu persatu sahabat yang kini sedang berdiri mengelilinginya. “Ka-kalian…” Runa kehilangan kata-kata secara mendadak. Runa baru ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dengan kata lain, Runa sendiri lupa. Entah karena kegiatan sekolah yang semakin menggila, atau karena ada sesuatu yang hilang di tahun ini. Ah ya, tentu saja keduaya. Runa tak bisa menyangkal alasan yang kedua.

Runa menunduk sejenak. Sekedar untuk menyembunyikan linagan air matanya yang mendesak keluar. Jemarinya saling bertaut, kenapa dadanya terasa sesak?

“Ya! Kwon Runa! Kenapa responmu seperti itu?” Seungwan mendekat dan menyentuh bahu Runa.

“Bukan apa-apa,” jawab Runa lalu memeluk Seungwan erat-erat. “Terima Kasih, kalian masih mengingat ulang tahunku. Uh, aku benar-benar terharu.”

“Tsk, jangan bilang kalau kau tidak ingat hari ini ulang tahunmu!” kali ini Sera yang membuka suara.

“Maklumi saja, Baby. Runa kan pelupa akut.” Taehyung melingkarkan tangan kanannya di sekitar pundak Sera yang otomatis mendapat pelototan maut. “Kau mau mati, hah? Lepaskan tanganmu dan berhenti memanggilku ‘Baby’, menjijikan!”

Runa tertawa di tengah isakan. Fakta bahwa ia masih memiliki sahabat yang peduli dan tak pernah meninggalkannya, benar-benar menyelamatkan gadis itu.

“Kau takkan bisa lolos setelah mengataiku pelupa akut, alien!”

“Yah!”

Kemudian suasana haru tadi seketika berubah. Gelak tawa keluar dari mulut keempat siswa SMA itu.

“RUNAAAAA, HAPPY BIRTHDAY!” seseorang berteriak lalu memeluk leher Runa dari belakang. Gadis itu terbatuk-batuk dan melepaskan pelukan dengan susah payah.

“Hoseok, kau bisa membunuhnya!”

“Yah, Jung Sera. Berhenti berteriak pada kakakmu!”

Runa hanya terdiam membeku. Antara canggung dan kikuk.
Bukan. Bukan karena pertengkaran saudara kembar yang selalu berlangsung setiap kali mereka bersua, melainkan kepada sosok jangkung yang kini tengah menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum kaku.

“H-Hai.”

“Oh, Nam Joohyuk!” Seruan Seungwan menghentikan aksi adu mulut si kembar sekaligus fokus setiap orang yang hadir di sana. Joohyuk semakin canggung dibuatnya. Apalagi tak ada seorangpun yang berbicara, hanya memerhatikan lelaki itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Merasa tak bisa mentolerir ketidak nyamanannya, Joohyuk berdehem dan melirik Hoseok. Memberi pria itu kode untuk membantunya.

“Ah ya, Runa. Tadi Joohyuk mencarimu, katanya ingin mengembalikan sesuatu. Jadi aku ajak saja kemari.”

Seungwan dan Sera reflek saling menatap. Sebuah senyum terbit di wajah keduanya.

“Oh, aku baru ingat guru Yoon memintaku datang sehabis pelajaran. Aku pergi dulu yaa! Ingat, traktirnya kutunggu loh!” Seungwan mengedipkan sebelah mata, menyerahkan kue ulang tahun yang lilinnya masih dibiarkan menyala pada Sera, lalu melenggang pergi.

“Runa, tiup lilinnya dulu!”

“Ah ya.”

Lilinpun padam disertai tepukan tangan. Diam-diam Sera melirik Taehyung. Memberi kode untuk segera pergi. Tapi memang dasar Taehyung yang kurang peka atau memang idiot stadium akhir, ia hanya mangap-mangap ketika mendapat kode dari Sera. Membuat si gadis kesal bukan main.

Sera menyerahkan kue ulang tahun pada Joohyuk, lalu menarik daun telinga Taehyung untuk ikut pergi bersamanya. Oh, tentu saja Sera membawa serta Hoseok setelah memukul lengan lelaki itu sewaktu mengendap untuk mencomot kue di tangan Joohyuk.

“Runa, kurasa kami harus pergi juga. Sampai jumpa nanti malam!” Sera bergegas pergi dengan menyeret kedua pria di kanan dan kiri tangannya tanpa menunggu persetujuan Runa.

“Yah, Jung Sera. Kenapa kau juga ikut meninggalkanku? Taehyung! Hoseok!”

“Kami harus memberi makan semut liar! Semoga harimu menyenangkaaaan!” Sera berteriak dan menendang tulang kering Hoseok ketika lelaki itu hendak membuka mulut.

Semut liar?

Runa pikir tingkat konsleting yang terjadi pada otak sahabatnya yang satu itu sudah naik level. Jika begitu adanya, Runa bisa memaklumi. Lagi pula siapa yang tidak akan mengalami konsleting otak jika keseharianmu direcoki oleh lelaki model Taehyung dan Hoseok? Membayangkannya saja sudah menyebabkan vertigo.

“Teman-temanmu unik, ya?”

“Hah?”

Hampir saja Runa lupa kalau saat ini dia tidak sendiri. Ada sosok pria tampan yang berdiri tepat di sampingnya. “Ah, mereka memang unik dan aneh.”

“Bagaimana denganmu?”

“Aku?” Runa menunjuk dirinya sendiri. “Tentu saja berbeda. setidaknya sedikit lebih waras,” Runa tertawa di akhir kalimat. Hal yang membuat Joohyuk sedikit takjub.

“Ngomong-ngomong, selamat ulang tahun.”

***

Sedikitpun, Runa tak pernah membayangkan akan pergi ke festival musim dingin bersama seorang pria yang baru dikenalnya tak lebih dari empat puluh delapan jam. Jika bukan karena ekor matanya menangkap sosok Sehun yang tengah berjalan dengan Aerin, sudah dipastikan penolakan adalah jawabannya.

Hey, tentu saja itu bukan satu-satunya alasan. Joohyuk bilang dia tak tahu kalau hari ini hari ulang tahunnya, dan sebagai hadiah ia akan mengantar Runa ke tempat yang ia inginkan. Selama itu masih berada dalam batas Negara.

Di sinilah mereka. Berjalan beriringan. Tak ada satupun yang berani memulai obrolan. Perjalanannya diisi dengan keheningan akibat kecanggungan. Runa sedikit menyesal karenanya. Apa lagi banyak sekali gadis-gadis cantik yang menyapa Joohyuk di sepanjang perjalanan. Runa merasa seperti kotoran hidung yang tersembunyi, tak dianggap.

Akan tetapi, hal itu tak berlaku lagi setelah keduanya memasuki gerbang tempat festival berlangsung. Tiba-tiba saja Joohyuk menyentuh telapak tangan Runa ragu-ragu sebelum akhirnya digenggam erat. Runa terkejut dan refleks melepaskan tautan jemarinya. Namun, Joohyuk lebih sigap untuk menahan. Runa menoleh dan disuguhi pemandangan menakjubkan dari sebuah senyum disertai binar mata yang penuh permhonan. “Maaf, sebentar saja.”

Sesaat, Runa tertegun. Sebelumnya ia tak pernah memerhatikan setiap kali ada lelaki yang tersenyum padanya. Selain Sehun, tentu saja. Kata lainnya, Runa tak pernah merasa tertegun dengan senyum lelaki manapun selain Sehun. Mungkin ini hanya sebatas kebetulan karena hati dan pikirannya sedang kacau balau. Runa tak mau ambil pusing, karena masalahnya sekarang adalah… matanya tak mau berkedip! Shit!

“Ah, ternyata itu benar kau, Hyukie-ya.”

Suara seorang gadis mengintrupsi sekaligus menyelamatkan Runa dari masalahnya. Runa menghembuskan nafas dari mulut sambil menyentuh dada. Matanya berkedip-kedip, merasa sesuatu yang tak beres sedang terjadi dengan tubuhnya.

Tanpa sadar Joohyuk menggengam jemari Runa terlalu erat. Membuat si empunya sedikit meringgis dan mau tak mau menoleh pada gadis antah berantah di depannya.

“H-hai, Alexa,” sapa Joohyuk canggung. Satu tangannya yang terbebas terankat menyentuh tengkuk.

“Tak kusangka bisa bertemu denganmu di sini, bisa kita bicara lebih lama? Banyak hal yang ingin kusampaikan.”

Joohyuk berdehem, lalu menoleh pada Runa yang balas menoleh dengan wajah polos yang mungkin terlihat bodoh sampai membuat Joohyuk merasa geli sendiri dan terkekeh. Sebelum menjawab, Joohyuk menghembuskan napas, melepaskan tautan jemari mereka lalu menarik bahu Runa untuk mendekat dengan tubuhnya. “Maaf, tapi saat ini aku sedang bersama pacarku. Mungkin lain kali saja.”

“Ayo, sayang.”

Heh?

Joohyuk merangkul Runa lalu kembali melangkah melewati gadis bernama Alexa tanpa sedikitpun menoleh lagi padanya.

***

“Yak!” Runa menendang tulang kering Joohyuk sesaat setelah kesadarannya kembali. Membuat ragkulan Joohyuk otomatis terlepas.

“Arrgh! Itu menyakitkan, Kwon Runa.”

Runa memijat pelipisnya. “Kau pikir apa kau katakana tadi?”

“Aku? Yang mana?”

“Jangan pura-pura bodoh!”

“Hey, wajahmu memerah Runa. Apa kau kedinginan?”

Oh sial!

Runa menutup wajah dengan telapak tangan. Membalik posisi tubuh hingga membelakangi Joohyuk. “Aku baik-baik saja!”

“Benarkah?”

Runa mengangguk. “Aku mau pulang.”

“Eh? Kita baru sampai.”

“Pokoknya, aku mau pulang!”

Joohyuk meghela napas. “Baiklah, setidaknya kita bisa memainkan sesuatu sebelum pulang, atau membeli sesuatu yang kau inginkan untuk hadiah ulang tahunmu.”

Runa terdiam. Ini seperti de javu. Runa pernah mendengar kalimat itu sebelumnya. Hanya saja waktu dan orang yang mengatakannya berbeda. Dadanya sesak, matanya juga terasa pedih. Sebisa mungkin Runa mengatur napas dan menengadahkan wajah menahan air mata yang sudah merebak.

“Runa?”

“Ah, aku ingin membeli gula-gula.”

Runa berjalan gontai menuju salah satu stan yang menjual berbagai macam manisan. Pikirannya melayang pada kenangan beberapa tahun silam. Tepatnya saat ia duduk di kelas dua SMP. Di hari yang sama, di hari ulang tahunnya. Hari dimana Runa mendeklarasikan bahwa festival musim dingin adalah tempat favoritnya. Tempat dimana kenangan akan cinta pertamanya bermula.

***

“Terima kasih sudah mengantar,” Runa membungkuk singkat sesaat setelah berada di depan gedung apartemennya.

“Sama-sama,” Joohyuk tersenyum.

“Oh ya, hampir lupa,” Joohyuk melangkah maju sambil merogoh sesuatu dari saku seragamnya. “Ini tersangkut bajuku, mungkin terjatuh waktu itu. Waktu aku menggendongmu.”

((Blushh))

Rona merah menjalar seketika di wajah Runa. Ketika sebuah memori berputar di otaknya.

“Runa, kau baik-baik saja?” Joohyuk melambaikan tangan di depan wajahnya.

“Eh?” Runa mengerjap. Kondisi wajahnya kini semakin memerah seperti udang rebus. “Aku baik-baik saja!” Runa berseru setengah membentak. Ia bahkan sampai hadap kanan untuk menyembunyikan wajah.

Joohyuk sempat heran dibuatnya, namun lelaki itu tak mau ambil pusing. Joohyuk lekas melangkah lebih dekat. Membuat jarak di mana Runa dapat menghirup aroma tubuhnya dengan sangat jelas.

Sebelah tangan Runa terangkat, menyentuh dada kirinya yang mendadak bergemuruh tanpa aba-aba. Tak sampai situ, tengkuk Runa juga meremang, saat hembusan napas Joohyuk menerpa helaian rambutnya.

“Selesai.”

“Apa yang—”

Runa kembali menghadap Joohyuk dan menyentuh telinga bagian bawahnya.

“Kau tak menyadari antingmu hilang, ya?”

Runa tersenyum kikuk, “Terima kasih.”

“Hei, aku bosan mendengar ucapan terima kasih darimu.”

“Eh?”

“Kau harus membayarnya,” Joohyuk terseyum jenaka. “Untuk kebaikanku.”

Belum sempat membalas, Joohyuk meletakan telunjuk di permukaan bibir Runa lalu menggelengkan kepala sebagai isyarat. Meraih lengan kanan Runa dan memasangkan sebuah gelang berbahan kulit di sana.

“Sekali lagi, selamat ulang tahun. Maaf, aku tak menyiapkan hadiah yang lebih bagus.” Joohyuk menyentuh tengkuknya, hal yang selalu ia lakukan ketiga gugup. “Em… ini sebenarnya gelang pasangan. Kudapat sebagai hadiah dari salah satu game di festival tadi. Awalnya aku ingin mendapatkan sebuah boneka untukmu, tapi aku hanya bisa mendapatkan itu.” Joohyuk tertawa garing di akhir kalimatnya, sedangkan Runa hanya terdiam, tak mampu berkata-kata. Pikirannya malah kembali pada kenangan tak berguna dalam hidupnya. Tanpa bisa dikontrol, setetes air mata jatuh.

“R-runa, kenapa?”

“Kalau kau tidak menyukainya, kau bisa menyimpan, tidak. Kau bisa membuangnya. Aku tak apa.”

Joohyuk cemas sekaligus bingung melihat Runa mengangis tanpa suara di hadapannya.

“Runa, katakan sesuatu. Aku membuatmu merasa buruk? Aku minta maaf, aku benar-benar tidak bermaksud.”

“Tidak,” Runa menggeleng, menyentuh bahu Joohyuk dengan kedua tangannya lalu tersenyum. “Aku hanya… aku hanya terlalu bahagia hari ini, terima kasih. Aku benar-benar berterima kasih padamu.”

“Dan… ini gelang yang cantik. Aku benar-benar menyukainya. Hadiah ini adalah hadiah impianku, asal kau tahu.”

“Terima kasih, Nam Joohyuk.”

Joohyuk benar-benar dibuat kebingungan dengan setiap kata yang Runa ucapkan. Dari air mata yang menggenang di pelupuk matanya, entah kenapa Joohyuk tak yakin itu adalah air mata kebahagian. Ia juga merasa ada yang mengganjal saat gadis itu mengucapkan namanya.

“Terima kasih sudah mewujudkan hadiah impianku.”

“Jangan dipikirkan.” Joohyuk menyentuh bahu Runa. Selama beberapa saat, mereka bertatapan. Sesuatu tak kasat mata benar-benar mengusik hati Joohyuk. “Masuk dan istirahatlah.”

Sebelum benar-benar pulang, Joohyuk mengusap lembut pucuk kepala Runa. Menjalarkan kehangatan pada setiap sel yang ada di tubuh si gadis secara singkat. “Aku pulang, selamat malam.”

***

“Aku pulang!” Runa berseru sesaat setelah memasuki apartemen tempatnya tinggal. Gelap adalah hal yang pertama kali menyambutnya. Runa berjalan menuju ruang kamar dengan sisa tenaga yang ada. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan. Hari ini memang hari ulang tahunnya, tapi entah kenapa terasa seperti hari kiamat kecil dalam hidupnya.

Kedua kakaknya harus pergi keluar negeri untuk pekerjaannya masing-masing. Junhong masuk rumah sakit karena penyakit tipes yang di deritanya selama seminggu terakhir. Dan Sehun… ah, Runa sudah tak mau membahasnya lagi.

Lelaki yang sebelumnya selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun, kini sudah tak ada lagi. Runa bahkan tak yakin Sehun ingat hari ini adalah hari ulang tahunnya. Berhubung jam di dinding sudah menunjukkan pukul 22.30 dan tak ada satu panggilan atau pesan darinya yang berisi ucapan selamat.

Setidaknya Runa masih punya Sera dan Seungwan untuk hari ini. Ya tentu saja Runa juga tak melewatkan Hoseok, Taehyung dan… Joohyuk.

Ting. Tong.

Bell apartemen berbunyi. Runa mendengus sebal. Pasalnya, ia baru saja sampai kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur setelah hari yang penuh dengan kepura-puraan ini berakhir. Ya, hari ini Runa terus berpura-pura bahagia dan tertawa bersama teman-temannya. Jadi, setidaknya Runa butuh spasi. Lagi pula siapa yang datang ke apartemennya malam-malam begini?

Tanpa repot-repot merapihkan ikatan rambutnya yang berantakan, Runa keluar kamar untuk membuka pintu. “Ya, ada yang bis—”

Ucapan Runa terhenti saat seseorang yang sejak tadi berdiri membelakangi pintu berbalik, tersenyum dan menyapa Runa dengan cengiran khas yang amat ia rindukan. “Hai, Runa. Syukurlah kau belum tidur.”

Runa menggigit bibir bawahnya. Dalam hati ia berharap ini ilusi. Runa terlalu lelah untuk menghadapi satu orang lagi di penghujung hari ini. terutama jika orang itu adalah Sehun. Ya, Oh Sehun yang telah membuat hari berharganya menjadi sebuah kiamat kecil.

“Oh, Runa! Kau masih menggunakan seragam? Kau baru pulang? Apa kau ketiduran dan belum sempat ganti baju?”

“Hey, rumahmu sepi, gelap. Apa hyung dan noona belum pulang? Kau sendiri? Sudah makan?”

Runa memutar bola mata yang entah sejak kapan sudah mulai berair lagi. Hatinya sakit mendengar setiap tutur kata yang keluar dari mulut Sehun. Seolah lelaki itu benar-benar peduli padanya. Apanya yang peduli? Pantatnya? Sial. Runa sudah sampai pada batasnya.

“Pulanglah. Aku lelah.” Runa hendak menutup pintu namun Sehun menahannya. Mencekal lengan Runa dan menariknya dalam sebuah pelukan. “Maafkan aku, aku tahu kau marah. Aku minta maaf. Selamat ulang tahun.”

Emosi Runa memuncak. Tangis yang beberapa hari terakhir ini diredamnya kini tumpah ruah tanpa bisa lagi dikontrol. Susah payah Runa melepaskan diri dari pelukan hangat Sehun. Meski sebagian dari dirinya mengumpat karena masih ingin merasakan kehangatan sedikit lebih lama.

“Oh!” Sehun memasang ekspresi terkejut. Mengangkat pergelangan tangan Runa yang terpasang sebuah gelang cantik yang terbuat dari bahan kulit dengan ukiran unik di tengah-tengah. “Kau… sejak kapan memakai gelang?”

Runa melepaskan genggaman Sehun sedikit kasar, “Bukan urusanmu.”

“Pulanglah, aku lelah.”

Dan pintupun tertutup. Menyisakan Sehun yang terdiam mematung.

***

Runa menatap beberapa foto yang ditempel secara acak di dinding. Beberapa di antaranya terdapat fotonya bersama Sehun. “Ini terlalu menyakitkan,” Runa berkata lirih. Jarinya terangkat mengusap permukaan wajah Sehun yang tersenyum lebar.

Runa tersenyum di sela isakannya. “Ini bukan tentang persahabatan yang sudah kita jalin, ini masalahku. Masalah perasaanku padamu yang tumbuh menjadi sebuah rasa cinta.”

“Berapa kalipun aku pikir aku mampu terus berada di sisimu, akhirnya aku menyerah. Tak peduli berapa banyak kenangan yang nantinya akan memberatkanku melepasmu. ini bukan tentang kenangan, tapi ini tentang cintaku. Cintaku yang bertepuk sebelah tangan.”

***

Sehun bersandar pada dinding pintu. Lalu menatap sepasang gelang yang ada di tangannya. Tadinya, Sehun berencana memasangkan gelang itu pada Runa. Tapi ternyata Runa telah memakai sebuah gelang. Padahal Sehun yakin. Selama ini ia belum pernah melihat Runa memakai asesoris pada pergelangan tangannya. Kecuali sebuah jam tangan.

Sehun masih bisa mengingat saat pertama kali pergi ke festival musim dingin bersama Runa. Ketika mereka duduk di kelas 2 SMP. Hari itu adalah ulang tahun Runa yang ke-14. Bodohnya Sehun karena tak mengingat hari ulang tahunnya saat itu. Dan sebagai ganti hadiah yang tak Sehun miliki, gadis itu merengek meminta sebuah gelang dari sebuah game keparat yang tak bisa Sehun menangkan berapa kalipun ia mencoba. Padahal Sehun bersedia membelikan gelang lain yang lebih bagus di sebuah toko, tapi Runa tetap ingin gelang itu.

“Yah, Kwon Runa… padahal kali ini aku berhasil mendapatkan gelangnya.”

 

FIN.

Hoi hoi…
lama gak update, rasanya aneh. Hihi
sebenernya ini adalah hadiah ulang tahun buat Runa,
yang ulang tahunnya tanggal 4 Nov kemaren. Hihi

Lagi lagi sad yaa? Maap. Hehe
tapi semoga suka. Kalo feel atau penulisannya buruk, aku mohon maap.
bikinnya di sela-sela kerjaan sih. /alesan
terus, akhir-akhir ini lagi kena virus wb keknya. :’’’
sebenernya kalo kamu peka (Nida), ada banyak pertanda dalam cerita ini. XD
Ohiya, selamat ulang tahun (lagi) Nida Khaula ;))
ini telat banget aku tahu, wkwk
yasudahlah, mohon maklum. *bow

eh, makasih buat yang udah baca fic gajelas ini,
sampai jumpa! -tata ❤

20 tanggapan untuk “A Distance”

  1. hiks’ hiks’ nyesek bgt kak….
    kasihan ma sehun dan runa…
    bikin mereka brdua brsatu dong kak, buat sehun sadar bhwa sbnernya runa suka ma dia…
    buat sehun mnyadari bhwa runa bner” tulus mncintainya..
    aq harap sehun-runa bisa bersama dan bahagia 🙂

    1. Ohaha kapan2 aku bikin mereka yg bersatu deh. Hehe
      Makasih yaa sudah baca dan komen ^^
      Jgn lupa doain semoga authornya juga bisa bersama dengan sehun dan bahagia /plakplakplak

  2. ihh sedddihh ihh sweet endingnya entah kenapa kereeen.. kalimat terakhir sehun ituu beeeuhh nyesek, sedih, aaaahh runaaa kenapa kau begituu joohyuk pergi jauh jauh gih biar sehun bisa ama runa ahahhaha… *ditendang*

    1. ahaha. makasih udah baca dan komen sayang. 🙂
      kalo buat real pairnya, mau sama siapa nanti Runa ke depannya, silahkan tanya Nida si pemilik OC, XD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s