[EXOFFI FREELANCE] My Answer Is.. You (Chapter 1)

My answer is you

Author : Lightmover0488

Cast : Kim Jongin, Kim Kyura, ETC.

Genre : Full Romance, Fluff, Comedy, Friendship, School life

Rating : Pg-15

Lenght : Captered

Disclaimer : Pure mine. Don’t copy my story!

CHAPTRER 1

Kim Kyura, adalah nama gadis mungil yang sedang asik dengan layar laptopnya. Jarum jam sudah menunjukan pukul 11:27 pm tapi matanya sepertinya masih betah berlama – lama dengan layar datar itu. Walaupun besok dirinya harus sekolahpun dia tidak peduli, kesenangannya mengedit foto hasil jepretannya tak ayal membuat gadis itu makin memperparah insomnia nya.

Dia adalah siswi Yeonwoo High School tingkat 3 yang terbilang biasa saja. Tidak pintar tapi juga tidak bodoh, hanya saja sejak 7 bulan lalu dirinya terjerumus masuk ke dalam dunia—erhh.. sebut saja fangirling?

Yeah, ini semua gara- gara teman sebangkunya Lee Daena. Dia menyukai secara berlebihan namja yang bernama Kim Jongin siswa sekolah sebelah.

Siapa yang tidak kenal dengan Kim Jongin, seorang penari handal sejak kelas 1 SMA di Soojung High school— sekolah para populer.

8 bulan lalu Kim Jongin terdaftar sebagai trainee di sebuah agensi musik ternama di seoul.

Sebulan dijejali dengan segala macam bentuk wajah Kim Jongin dari Daena, Kim Kyura pun jatuh kedalam pesona laki – laki itu 7 bulan belakangan ini. Saat pertama kali dia bertemu dengan jongin-bukan bertemu lebih tepatnya mengintip dari balik tembok sekolah yang biasa digunakan Daena memburu gambar Jongin, dia sudah seperti teperosok ke dasar jurang yang indah karena melihat wajah Jongin saat itu.

Setelah kejadian love at first sight itu, dia berencana bekenalan dengan namja berkulit tan tersebut di cafe yang sering dikunjunginya di depan sekolah, tapi selalu gagal karena Jongin pasti sedang bersama teman – temannya. Ck! Padahal dia ingin berkenalan tanpa ada teman – temannya disana. Karena jika Jongin mengacuhkannya kan dia tidak telalu menanggung malu.

“Yak!! Kenapa kau belum tidur ha?!”

Suara kakak laki – lakinya tiba – tiba terdengar di ambang pintu. Saking seriusnya memberi efek blooming pada wajah tampan Jongin, Kyura sampai tidak mendengar pintu dibuka tadi.

Dengan gelagapan gadis yang sudah memakai piyama nemo itu menutup paksa laptopnya dan nyengir lebar pada kakaknya yang masih berdiri dengan tampang mengintimidasi.

“Em.. oppa. Aku sedang mengerjakan tugas tadi, hehehe”

“Tugas mengedit gambar idolamu!” Kakak kyura-Kim Jongdae-berdecak bosan dengan tingkah adiknya, “Kemarikan laptopnya,”

“Tidak,”

“Aku akan melapor pada ayah,”

Kyura berdecih, selalu saja mengancam seperti itu tapi ujung – ujungnya juga tidak akan melapor karena Jongdae tidak ingin ayahnya naik darah dengan hobi baru anak bungsunya yang konyol itu-menurut jongdae.

“Kau tidak akan melaporkannya,” Kyura melet – melet mengejek kakaknya yang sekarang matanya menjelajah ke seluruh sudut kamar Kyura. Setelah berhasil menemukan kamera yang biasa digunakan untuk memotret sang idola, Jongdae segera menyambarnya sebelum Kyura menyadari aksinya tersebut.

“Yaaaa! Apa yang kau lakukan?! Kembalikan,”

“Tidak. Aku akan menyitanya sampai ujian semesteranmu selesai,”

Well, Kim Jongdae adalah tipikal kakak yang sangat perhatian terhadap adik semata wayangnya itu, bahkan tau jadwal sekolahnya.

Mata Kyura melotot, tak percaya kalau kakaknya akan bertindak berlebihan seperti ini.

“Oppa, aku akan belajar dengan giat dan masuk 10 besar. Jadi kembalikan kameraku—” kyura mulai memasang puppy eyes nya, membuat Jongdae mendecak.

“Kau harus masuk 5 besar. Saat itu akan kukembalikan kamera ini,” Setelah berkata demikian Jongdae berjalan menuju pintu, “tidurlah. Insomnia mu semakin mengerikan. Jangan buat ibu khawatir dengan wajahmu yg besok seperti zombie karena tidak tidur—”

Blam

Punggung Jongdae menghilang bersamaan pintu kamar Kyura yang ditutup.

“Haah sialan!”

Umpatnya dan langsung membenamkan tubunya di kasur dengan menutup kepalanya dengan boneka beruang hadiah dari sehun tahun lalu.

Diambilnya ponsel yang berada di sebelah laptop diatas ranjang , dan mengetikkan pesan pada Daena yang ia yakini belum tidur sama sekali.

 

To : Daena moo~

Ya! Oppa mengambil kameraku! Bagaimana ini besok kita harus memotret Jongin di lapangan belakang! Aaargh aku akan gila sebentar lagi!

 

Setelah mengklik tombol send. Kedua kakinya ia tendang – tendang diudara dengan kesal. Ck.. kakaknya memang selalu seperti itu. Karena ibu dan ayahnya adalah orang sibuk, Jongdae-mahasiswa semester awal di Kyunghee University ini yang selama ini mengurusi keperluan sekolah Kyura. Mengawasi belajarnya, mengawasi peringkatnya di sekolah, bahkan dia akan menggeledah tas sekolah Kyura agar mengetahui nilai- nilai akademisnya setiap hari. Oh, bahkan seorang Kim Jongdae seperti seorang saseng fans saja.

Drtt drttt

 

From : Daena moo~

Hahahahaha. Kau beruntung Kyura-ya, tadi Cheonsa menelponku, dia besok tidak sekolah karena sakit. Kau bisa menggunakan kameranya. Dia selalu menyimpanya di loker.

 

Seperti ada kembang api yang meledak – ledak di atas kepalanya, Kyura tersenyum sangat lebar hanya dengan membaca pesan Daena. Buru – buru dia mengetikan balasannya lagi.

 

To : Daena moo~

Astaga! Baiklah kalau begitu. Aku bisa tidur dengan nyenyak sekarang. Selamat bermimpi Jongin, daena-ya

 

Kyura mengklik tombol send dan tersenyum sendiri seperti orang gila. Dia tidak mampu membayangkan wajah Jongin yang sedang berolahraga sepulang sekolah besok. Pasti sangat sexy!

Setelah membayangkan wajah Jongin di angan – angan, matanya pun terpejam menandakan ia sudah memasuki alam mimpinya.

Pagi yang sedikit dingin di musim semi mengawali hari Kyura yang sudah akan berangkat sekolah. Ayahnya sudah berangkat setengah jam yang lalu, sedangkan ibunya sudah berada di mobilnya di garasi, siap menuju kantor.

“Aku sudah selesai,” kata Kyura melepaskan celemek yang ia gunakan untuk mencuci piring. Jongdae yang masih menyantap sarapannya dengan rambut sarang burung berkata, “Hati – hati dibus. Dan jangan pulang terlalu malam,”

Kyura mendesis, “Baiklah oppa ku yang cerewet,”

Ujarnya membuat jongdae mendengus.

Dengan menyampirkan blazer sekolahnya di pundak, dia memakai sepatunya dan langsung membuka pintu rumah. Saat dia berjalan hendak membuka pintu pagar depan, sehun-teman sekaligus tetangganya sudah berdiri di depan Kyura.

“Kau lama sekali,” protes sehun dengan datarnya sembari bersedekap di depan dada.

“Kau tau ini giliranku mencuci piring. Ayo jalan–”

 

“Ppstt~”

Kyura mengkode teman sekelasnya-Kim Minseok, yang kenal dekat dengan Jongin. Merasa gagal karena Minseok tidak juga menoleh padanya, dia menyobek kertas pada belakang buku tulisnya dan meremasnya. Sebelum melemparkannya pada Minseok, dia mengawasi guru Bae yang sedang menerangkan tentang sejarah bangsa silla di depan kelas.

Saat Daena menyenggolnya tanda bahwa guru Bae sedang lengah, Kyura melancarkan aksinya. Remasan kertas tersebut tepat mengenai meja minseok, membuat kepala namja berpipi tembem itu menoleh.

“Wae..” bibirnya bergerak tanpa suara.

“Balas pesanku,” Kyura juga melakukan hal yang sama, hanya bibirnya saja yang berkomat – kamit.

Minseok yang segera mengerti lalu mencari – cari ponselnya yang ia letakan di laci meja belajarnya, membuat Sehun disebelahnya ikut menoleh karena terganggu.

Beberapa detik kemudian balasan Minseok ter-pop out pada layar ponsel Kyura.

Daena disebelahnya terlihat antusias dan menelengkan kepalanya agar bisa membaca balasan Minseok.

 

From : mandoo

Sepertinya dia akan bertanding futsal dilapangan belakang sekolah. Tapi jika teman satu tim jongin ada tambahan pelajaran, kemungkinan dia tidak akan bertanding dan langsung pulang.

 

Begitu balasan dari Minseok. Membuat kedua gadis ini menurunkan bahunya kecewa. Ini adalah kesempatan emas untuk mereka karena lapangan futsal berada tepat di tembok belakang. Pasti mereka akan banyak menghasilkan wajah Jongin dengan berbagai ekspresi jika dia bermain futsal disana. Ck!

Krringgg

Bel istirahat berbunyi dengan nyaringnya membuat seisi kelas langsung bersorak kegirangan karena perut mereka yang sudah meronta – ronta kelaparan. Lagipula pelajaran sejarah guru Bae benar – benar membosankan tadi.

Minseok buru – buru merangkul leher Sehun dan pergi dari kelas mereka. Sedangkan Kyura masih tidak bergemimg di tempatnya.

“Kau tidak lapar?” Tanya Daena yang sudah selesai dengan merapihkan mejanya.

“Lapar. Ayo ke kantin,”

Daena melingkarkan tanganya pada lengan Kyura dan berjalan keluar kelas yang sudah ramai dengan para siswa yang berlalu – lalang.

“Apakah kita nanti tetap akan kesana?” Tanya Daena seraya membetulkan letak dasi kupu – kupunya yang sedikit miring saat dia berkaca di kaca kelas yang sedang dilewatinya.

Kyura masih berkutat dengan ponselnya seraya menjawab, “Tentu saja.. sekolah kita kan selesai 10 menit lebih awal dari sekolah sebelah. Jadi kita bisa memata – matai dulu Jongin bermain atau tidak,”

“Baiklah,” katanya, “Ya! Bisakah kita masuk melewati gerbang depan saja?” Lanjutnya bertanya polos pada Kyura yang sekarang sedang tersenyum sendiri, membuat Daena heran.

“Apa kau gila? Kalau ketahuan bagaimana?”

“Kita kan kesana saat sudah selesai jam pelajaran, lagipula siapa juga yang melarang siswa sebelah masuk kesana ha?”

Benar juga, Kyura akhirnya menoleh pada Daena karena perkataannya barusan. Kenapa dia tidak sedari dulu memasuki sekolah itu saat pulang sekolah? Ck!

“Tapi siswa yeoja disana katanya menyebalkan. Sombong dan suka mencampuri urusan orang lain,”

“He?? Kau tau darimana?”

“Salah satu teman di sosial media berkata seperti itu,”

“Ck! Sejak kapan kau perduli pada perkataan orang lain, Kim Kyura!”

Kyura cengengesan seraya duduk dibangku kantin yang tersisa disana, “Kau sangat mengerti aku ternyata,”

“Aku mengenalmu sudah 5 tahun ini, dan kau adalah tipe yang gampang dipelajari,”

“Sialan memangnya aku buku paket,”

“Hahahaha”

 

 

 

 

To : sehunie

Hun-ah, kau tidak usah menungguku di halte. Pulanglah duluan aku ada urusan. Hehe.

Kyura membalas pesan singkat Sehun yang beberapa menit lalu menanyakan keberadaannya. Memang sudah kebiasaan saat jam pulang sekolah Sehun selalu menunggu Kyura di halte dan pulang bersama. Jika memang salah satunya sedang ada urusan, mereka memutuskan untuk pulang duluan.

“Kyura~ya cepat! Ck aku lihat seharian ini kau sibuk sekali dengan ponselmu—” Daena bersungut dan membalikkan badannya karena Kyura berjalan agak jauh di belakangnya. Keadaan gang menuju sekolah sebelah ini sangatlah sepi karena gang ini memang jarang dijamah oleh siswa – siswa atau orang – orang karena terhimpit oleh bangunan kosong bekas pabrik tekstil yang sudah betahun – tahun terbengkalai seperti ini.

Mereka sengaja lewat sini karena ini jalan tercepat menuju sekolah sebelah. Agar bisa memantau Jongin yang jadi bermain futsal atau tidak. Jika tidak jadi kan mereka bisa langsung pulang karena jika sore hari jalanan di sekitaran halte sangatlah menyeramkan.

“Aigo kau sangat tidak sabaran,” Kyura berdecak dan segera memasukan ponselnya pada blazer sekolahnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menggenggam kamera milik Cheonsa.

“Jongin-ah,”

Saat mendengar seseorang memanggil namanya, Kim jongin-yang sedang bejalan santai di koridor yang sepi segera berhenti dan membalikan badannya.

“Oh.. yebin-ah—”

“Apakah kau tidak ada urusan setelah ini??” Tanya gadis berparas cantik dan anggun di hadapan Jongin, matanya yg berbinar membuat siapa saja terpesona olehnya.

“Tidak. Aku tidak jadi bertanding futsal, ada apa?”

“Sebenarnya bukan hal penting. Eum.. kau tau kan tugas yang di berikan guru Kim tadi. Aku merencanakan akan bermain piano saja. Apakah kau bisa membantuku menyelesaikan lagu yang akan kubuat untuk tugas nanti?” Tanyanya sambil tersenyum, Jongin adalah pria yang dingin. Tapi jika sudah berurusan dengan Lee Yebin, Jongin akan sedikit luluh padanya.

“Kenapa kau tidak menari saja? Kita bisa duet—”

Yebin tersenyum masam, “Aku sudah menyerah dengan menari sejak kau yang menjadi trainee di—”

“Jadi kau masih belum menerimanya?”

Tiba – tiba saja aura Jongin menggelap. Memang benar keduanya saat itu melakukan audisi bersama dan keduanya juga sering berlatih bersama di ruang tari sekolah dan itu yang membuat mereka dekat sampai sekarang. Tapi saat hanya Jongin yang masuk agensi itu, perasaan kecewa sekaligus iri dirasakannya pada Jongin lantaran dia memang sangat ingin masuk ke agensi bergengsi itu.

“Bukan begitu Jongin. Aku.. hanya sudah tidak ingin menari lagi,”

Jongin maju beberapa langkah agar bisa lebih dekat memandang wajah Yebin, sebenarnya dirinya juga merasa bersalah pada gadis itu. Apalagi saat mengingat masa – masa mereka berlatih bersama. Rasanya Yebin yang sekarang lebih terlihat sering murung, berbeda dengan Yebin sebelum ditolak oleh agensi itu.

“Yebin-ah, walaupun mimpimu tidak tercapai. Mungkin tuhan mempunyai rencana lain yang lebih indah untukmu..” Jongin menepuk pelan pundak yebin seraya membuat ekspresi wajah semeyakinkan mungkin.

“Terimakasih, Jongin,” Ujar Yebin tersenyum manis. Mood nya yang tadi sempat merosot kini telah bangkit kembali.

“Baiklah besok aku akan membantumu. Diruang musik?”

Yebin menggangguk, “Baiklah aku pulang dulu,”

Jongin mengangguk dan membiarkan Yebin berjalan melewatinya. Saat hendak beranjak dari koridor, ekor matanya melihat sesuatu.

Di balik pohon besar yang ada di sebelah kolam, kyura berdiri mematung saat tiba – tiba mata Jongin menangkap sosoknya. Saat hendak kabur mencari Daena yang tadi berpencar juga mencari Jongin, tubuh Kyura kaku ditempat lantaran mata Jongin yang gelap itu menatapnya tajam dari jarak sekitar 3 meter.

Jongin berjalan cepat kearah Kyura yang berdiri seperti patung sambil memegang kameranya.

“Apa yang kau lakukan? Sepertinya kau bukan siswa disini–” kata Jongin dingin dan penuh intimidasi. Tubuhnya sekarang sudah berjarak tidak lebih dari satu meter. Kyura ditempatnya menatap wajah Jongin takjub, tidak.menyangka akan bertemu sedekat ini. Apakah dia berada di dunia mimpi?

“Kau memotretku?!” Lanjut Jongin lagi, tangannya segera menyambar kamera yang sejak tadi Kyura pegang.

“Jadi kau yg selama ini menyebarkan fotoku? Ya! Ini sudah melanggar hukum!”

Kyura berjengit saat mendengar suara jongin meninggi. Sepertinya Jongin marah besar. Rahangnya mengeras dan tatapannya sungguh mematikan.

Tiba – tiba angin sore berhembus di antara mereka. Sejak tadi memang matahari sudah bersembunyi di balik awan yang sekarang menggelap persis aura jongin saat ini.

“Aku…” kyura tiba – tiba kehilangan kosakata, matanya masih betah menatap wajah indah Jongin. Tidak peduli bahwa sekarang Jongin seperti akan memakannya hidup – hidup.

“Kita ke kantor polisi!”

To be continued…

 

hAHAHAHA. Ya elah akhirnya aku publish lagi deh FF aku yang ini. Semoga suka deh ya huhuhuh~ soalnya ide nya mencuat(?) gitu aja diotak aku Ck~

tolong tinggalin KOMEN dong, aku author baru soalnya ^_^ makasih~

mohon kritik dan sarannya….

6 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Answer Is.. You (Chapter 1)”

  1. hah…tbc…tbc…tbc… #penyakit#kali#ah (abaikan)padahal lg seru2 pake nya,gimana nasib kyura ? aku makin penasaran nih next chapter di tunggu

  2. huwaaaaaaaa aku suka banget ff nyaa.. Walupun bukan bias ku(baekh) yang jadi main castnya,,, kyura jadi sasaeng fansnya jongin haaahhaa ,,, yahhhh pas seru2 nya kok tbc ,,,
    Hihihhihi Knpa mereka g dijadiin 1 sekolah aja biar lebih seru hahhaaaa //ketawa jahat//
    Okkkk aku tunggu next chap yaaa gomawooooo chingudeul //

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s