[EXOFFI FREELANCE] Black Pearl (Chapter 2)

bp

Black Pearl : 2nd Chapter

Cast : Byun Baek Hyun – Do Kyung Soo and Kim Ji Kyung – Jung In Ho – Do Min Soo

Author : Emyrakey

Genre : Friendship

Lengt : Chaptered

Rating : General

Thanks to Olv @ Poster Channel for beautiful poster

Tentang persahabatan dua orang lelaki dengan impian mereka. Impian yang mereka bentuk sejak

kecil. Namun karena ulah mereka impian itu hancur di tengah jalan. Di hari kemudian salah

seorang dari mereka hampir saja meraih mimpi itu, selangkah saja ia maju ia akan berhasil.

Namun nyatanya seorang yang lain datang dan membuatnya ragu untuk melangkah dan ia

mengacaukan segalanya.

_

To be a big star!

_

Jari-jari Baekhyun sedang sibuk menari-nari di atas smartphone putihnya. Entah apa yang

sedang ia tulis di dalam note digitalnya itu, jari-jari lentiknya terus saja mengetikkan huruf-huruf

Hangeul dan terangkai secara otomatis menjadi sebuah kata, kalimat. Apa yang sedang

dipikirkan oleh otaknya dan dikatakan oleh hatinya ia tulis semua di dalam note digital itu.

Melihat ke sekeliling, nampaknya Baekhyun sedang duduk manis sendirian di dalam ruang

khusus untuk persiapan. Ah! Lagi-lagi Baekhyun menyendiri. Tak seorang pun terlihat di

sekelilingnya. Bahkan ruangan yang tadinya sesak akan properti untuk pertunjukan pun sekarang

sudah kosong, hanya ada beberapa kursi yang tertinggal, termasuk yang menjadi zona nyaman

Baekhyun saat ini.

“Byun Baek Hyun! Apa yang kau lakukan disini?!” sebuah teriakan mengejutkan Baekhyun.

“Ah, noona! Apa sudah dimulai?” tanya Baekhyun santai dengan menunjukkan senyum

konyolnya. Aih! Ia sama sekali tak bisa membaca situasi. Baekhyun masih bergeming di tempat

duduknya, ia hanya diam melihat noonanya yang sedang berkacak pinggang di hadapannya

dengan tatapan amarahnya.

“Tungga apa lagi. Cepat pergi!” teriak noona itu lagi yang siap menendang Baekhyun jika ia

masih tak mau berdiri dari tempat duduknya.

Dengan gerakan cepat, ia menekan ikon save yang tertera di layar samrtphonenya lalu

memasukkan smartphonenya ke saku celana jeansnya. Kemudian berlari cepat menuju aula

pertunjukan tanpa menghiraukan noona yang masih menatapnya tajam. Jika dilihat dari sikap

noona itu yang tak lain adalah staf untuk pertunjukan hari ini, sepertinya sekarang giliran

Baekhyun untuk menampilkan bakatnya.

Aku tidak bernyali untuk mendatangimu, namun dengan tidak tahu dirinya aku mengharapkan

kau mendatangiku. Tadi malam, lagi, aku memimpikanmu. Memimpikan hal buruk itu. Tolong

maafkan aku. Aku berharap kau benar-benar mendatangiku. Saat itu tiba, aku akan mengatakan

semuanya. Semua hal yang selama ini mengganggu pikiranku. Semua hal yang selama ini

mengusik hatiku. Semua hal yang selama ini selalu menakut-nakutiku. Semua hal yang selama

ini kulakukan, tanpamu. Semoga kau bersedia memberiku satu kesempatan. Aku menunggumu.

Baekhyun mengalungkan kalung bintangnya ke lehernya. Mencium bintang hitam itu sekilas

sebelum akhirnya ia naik ke atas panggung. Izinkan aku untuk memulainya. Gumam Baekhyun

dalam hati. Semua siswa –teman seangkatannya yang tergabung dalam sebuah band bersama

Baekhyun- sudah siap di posisi masing-masing. Termasuk seorang siswa lelaki yang akan mejadi

teman duet Baekhyun dalam pertunjukan ini juga sudah berdiri di samping Baekhyun. Baekhyun

menatap tajam pada siswa lelaki itu, begitu pula sebaliknya. Entah kenapa semburat kebencian

tergambar jelas di wajah mereka.

Suara ketukan antara dua stik dram mulai terdengar, pun dengan sorakan lirih penonton yang

penasaran dengan mereka karena lampu panggung belum menyala. Disusul dengan suara piano

dan bass. Satu per-satu siswa yang tergabung dalam band sementara tersebut tersorot oleh lampu

panggung. Seketika penonton bersorak riuh saat para personel tersorot lampu panggung

menunjukkan wajah tampan dan berkarisma mereka.

“Jung In Ho? Itu benar Jung In Ho?” komentar seorang penonton ditengah riuhnya sorakan

penonton lain yang melihat lelaki tampan bertubuh tinggi berdiri di samping Baekhyun.

“Oh? Apa yang akan dia lakukan? Menyanyi?” komentar penonton lain ragu.

“Sepertinya begitu! Ini pertama kalinya dia berdiri di atas panggung musik.” Tambah penonton

lain.

“Aku tidak yakin.” Sahut seorang penonton lain ragu.

“Dia bukan seorang penyanyi. Apa bisa?”

“Kita lihat saja!” komentar penonton lain menyudahi perdebatan diantara mereka.

Seorang siswa yang berperan sebgai drummer menabuh dramnya sekali. Masih diiringi dengan

piano dan bass, ditambah dengan suara gitar. Menghasilkan sebuah irama yang begitu

menggugah.

Nal bichun black light museoun fiction

Nal hyanghan bad news neomchyeojin nunmul

Doraganeun nalgeun chetbakwiga

Nae moseubeul daesinhae meomchweo

Lelaki tampan yang berdiri di samping Baekhyun akhirnya menyerukan suara beratnya.

Penonton nampak terkejut saat mendengar suara berat lelaki itu. Ini pertama kalinya lelaki

tampan bernama Jung In Ho itu bernyanyi. Jung In Ho bukan seorang siswa dari kelas musik

melainkan dari kelas modeling dan akting. Ia baru saja debut di dunia akting bulan lalu. Terang

saja penonton pada terkejut melihat Jung In Ho bernyanyi.

“Jung In Ho!!” teriakan-teriakan itu terus terdengar saat lelaki tampan itu bernyanyi.

“Luar biasa.” Ucap seorang penonton kagum dengan penampilan Jung In Ho.

Seorang penonton lain menangguk menyetujui, “Tampan, tinggi, dan berbakat. Tipe lelaki ideal,

siapapun akan terpesona melihatnya.” Ucapnya.

“Tidak buruk.” Komentar Ji Kyung sinis pada Jung In Ho saat melihat penampilan mereka dari

balik panggung.

I just wanna leave tonight

Sorakan penonton semakin riuh saat Baekhyun menyerukan suara emasnya, menggetarkan

seluruh hati penonton. Ia berhasil menarik seluruh perhatian penonton, para staf, dan seluruh

teman-temannya yang berada di balik panggung. Mereka semua terpana akan penampilan

Baekhyun yang luar biasa.

Nal gadeun meodeun geotdeuli

Jugeoganeun nae simjangael

Wanjeoni jjijeo noheulyeohae yeah..

Naneun kkok chajayaman hae, I will find out

Jikyeoya hae, mideoya hae, meodeun geol igyeonaeya hae, yeah…

Teriakan dan tepuk tangan riuh memenuhi aula. Teriak-teriakan keras yang tadinya menyebutkan

nama Jung In Ho sekarang tergantikan oleh nama Baekhyun, seakan-akan hanya Baekhyun yang

sedang berdiri di atas panggung itu. Menyadari hal itu, Baekhyun tersenyum miring pada Jung In

Ho, namun Jung In Ho hanya menatap Baekhyun tajam. Ini adalah sebuah pertarungan untuk

mereka berdua. Ya, hanya Baekhyun dan Jung In Ho yang tahu.

Terlihat seorang pria berpakaian serba hitam berdiri ditengah gerombolan penonton. Matanya

hanya tertuju pada panggung, tepatnya pada dua anak muda yang berdiri di atas panggung itu,

pada dua anak muda yang saat ini menjadi bintang utamanya.

“Dia tak berubah sama sekali. Dia masih sangat baik seperti dulu. Akhirnya aku

menemukannya!” gumam pria itu saat melihat Baekhyun beraksi di atas panggung. “Tapi bukan

dia pasangannya. Apa yang terjadi dengan mereka?” tanya pria itu bingung pada dirinya sendiri

saat ia mengamati Jung In Ho.

Nareul chajgo sipeo

I have to find, I have to breath right now

Jebal nareul chajgo sipeo

I have to find, I have to breath right now

Pertarungan Baekhyun dan Jung In Ho masih berlanjut. Penonton semakin terbawa suasana saat

suara Baekhyun dan Jung In Ho pecah di bagian akhir lagu yang mereka nyanyikan. Ditutup

dengan high note khas milik Baekhyun.

I just wanna leave tonight. Yeah…

Tepuk tangan menggema di aula. Semuanya mengagumi penampilan mereka, Baekhyun dan

Jung In Ho sebagai bintang utamanya, juga para siswa yang berada di atas panggung bersama

mereka berdua sebagai pengiring suara mereka dengan musik yang luar biasa.

“Pertarungan antara bintang baru terkenal dan bintang besar yang belum terkenal. Itu sangat

menarik!” canda salah satu teman Baekhyun bernama Park Chanyeol saat ia sudah berada di

balik panggung. Baekhyun hanya tertawa menyahuti gurauan temannya itu.

Kim Ji Kyung yang berdiri di samping Baekhyun pun langsung meninju lengan Chanyeol saat

mendengar hal itu. “Siapa bilang Baekhyun belum terkenal. Apa kau tidak lihat orang-orang

yang berdiri di depan panggung itu, semuanya adalah fans Baekhyun.” Ujar Jikyung.

Chanyeol mencibir mendengar ucapan Jikyung. “Kenapa gadis bodoh ini selalu di sampingmu?!”

sungut Chanyeol. Baekhyun hanya tertawa melihat pertikaian kecil mereka.

“Ya, Kim Ji Kyung! Kenapa kau ini selalu sok tahu?” Baekhyun menyahuti ucapan Jikyung yang

sedikit berlebihan baginya.

Kim Ji Kyung bergumam dan berpikir, lalu ia mengidikkan bahunya. “Mungkin, itu

kelebihanku.” Sahutnya dengan tersenyum konyol. Baekhyun tercengang mendengar jawaban Ji

Kyung, begitu juga dengan temannya, Chanyeol.

“Kau lihat? Haaaah… seharusnya kau membuang jauh-jauh gadis bodoh ini!” ujar Chanyeol

pada Baekhyun sambil menatap Jikyung sinis. Sedangkan Jikyung bersungut-sungut sudah siap

mendaratkan pukulannya di lengan Chanyeol.

“Aih! Gadis ini tahu segalanya tentangku. Aku tidak bisa membuangnya begitu saja.” Ujar

Baekhyun membela. Entah itu belaan atau cibiran, namun Baekhyun mengucapkannya dengan

tulus.

Kim Ji Kyung menjulurkan lidahnya pada Chanyeol saat menerima pembelaan Baekhyun.

Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya tak mengerti lalu pergi meninggalkan mereka berdua

begitu saja.

“Kau luar biasa, Baek! Aku tidak pernah menyesal menjadi fans kalian.” Ucap Jikyung bangga

sambil menunjukkan kedua jempolnya pada Baekhyun.

Baekhyun menatap Jikyung bingung, “Siapa yang kau maksud dengan kalian?”

“Siapa lagi! Ya kalian berdua.” Jawab Jikyung. Jawaban yang ambigu.

“Jangan bilang kau juga fan anak itu?!” tanya Baekhyun menyelidik.

“Siapa? Jung In Ho? Hei! Tidak mungkin.” Jikyung menggeleng tegas. Baekhyun tertawa

melihatnya.

“Lalu siapa? jawab yang jelas!”

“Sudah kubilang, kalian berdua. Apa kau masih belum sadar juga, Baek? Sejak dulu aku adalah

fans kalian! Dia bahkan mengataiku penguntit saat dulu aku terus saja mengikuti kalian.” Tutur

Jikyung. Ia terlihat kesal saat mengucapkan kalimat terkahirnya.

Baekhyun tersenyum miris saat mengerti siapa yang dimaksud Jikyung. “Kau masih berharap

kami kembali, Ji?” tanya Baekhyun ragu.

“Tentu saja!” namun Jikyung menyahutinya tanpa ragu. “Kau tahu betul, Baek! Tidak ada yang

tidak mungkin di dunia ini.” tambah Jikyung. “Meskipun kejadian pahit dan menyakitkan sudah

memisahkan kalian, bukan berarti kalian tidak bisa bersama lagi kan? Aku yakin ada banyak cara

agar kalian bisa kembali.”

Baekhyun diam menatap Jikyung dalam. Gadis imut di hadapannya itu selalu saja membuatnya

mengingat masa lalu. Masa lalu mereka yang bagi Baekhyun begitu menakutkan. Jika ia bisa

memutar waktu dan kembali ke masa lalu, ia lebih memilih untuk tidak mengenalnya dari pada

harus berakhir dengan Baekhyun menyakitinya.

“Aku tahu kau juga mengharapkan hal itu.” Jikyung menatap Baekhyun iba.

Baekhyun tertawa kecil lalu mengusap pucuk kepala Jikyung pelan. “Kau memang selalu sok

tahu!” ujar Baekhyun.

Jikyung menampik tangan Baekhyun dari kepalanya. “Byun Baek Hyun, aku serius!” ucap

Jikyung kesal. Lagi-lagi Baekhyun hanya tertawa kecil, ia sama sekali tak berniat menimpali

perkataan Jikyung.

Jikyung membuang napas berat, “Berusahalah! Aku bisa membantumu jika kau mau. Jangan

lupa tentangku bahwa aku juga salah satu saksi perjalanan kalian. Semuanya belum berakhir,

Baek! Kau harus tahu itu.” ucap Jikyung tegas yang seketika membuat Baekhyun termenung.

The black light that shine on me is the scary fiction

The bad news that come at me the spilling tears

The worn out wheel that keep turning

It stop in place of me

I just wanna leave tonight

All the things that imprison me

Its trying to completely rip apart my dying heart, yeah..

I need to find, I will find out

I need to protect myself, I need to believe in me, I need to overcome everything, yeah…

I want to find myself

I have to find, I have to breath right now

Please! I want to find myself

I have to find, I have to breath right now

I just wanna leave tonight, yeah… (FT Island – To The Light)

_

Minsoo menghampiri Kyungsoo yang sedang berbaring di salah satu deretan bangku panjang

yang ada di sekitar halaman utama sekolah. Mata Kyungsoo lurus menatap langit biru di atasnya,

ia juga tak menyadari bahwa Minsoo sudah duduk di bangku tersebut. Minsoo melepas headset

yang terpasang di telinga kanan Kyungsoo, baru kakaknya itu tersadar akan kehadirannya.

Kyungsoo terkejut saat medapati adiknya sudah ada di dekatnya. Minsoo juga terkejut saat

melihat wajah Kyungsoo, sendu dan matanya berair. Kyungsoo yang menyadari tatapan adiknya

itu segera bangun dan mengusap air matanya.

“Kau mengingatnya lagi, oppa?” tanya Minsoo menyelidik.

“Mengingat apa? Tidak ada yang aku pikirkan, Minsoo.” Sangkal Kyungsoo. “Bagaimana

audisinya?” tanya Kyungsoo berniat mengalihkan pembicaraan saat melihat Minsoo siap

melontarkan pertanyaan lain padanya. Ia sangat benci jika mengungkit hal itu, karena berbicara

tentang hal itu tak akan ada selesainya dan hanya akan menyudutkannya.

Minsoo membuang napas berat, ia sudah sangat hafal dengan gelagat kakaknya yang selalu

menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan mengingatkannya pada masa lalu. Seakan

Kyungsoo tak ingin mengungkitnya lagi. Kyungsoo selalu bilang padanya dan ibunya bahwa ia

sudah melupakan semuanya. Tapi melihat sikapnya sekarang, Minsoo yakin bahwa semua yang

Kyungsoo katakan selama ini adalah bohong, bahwa ia tidak pernah melupakan masa lalunya.

Minsoo hanya bisa menatap Kyungsoo iba. Ia sangat ingin tahu tentang perasaan kakaknya saat

ini. Namun ia tak bisa memaksa kehendaknya yang mungkin saja membuat kakaknya tersakiti. Ia

juga tidak bisa melihat sikap Kyungsoo yang terus-terusan seperti orang gila saat ia atau ibunya

mengungkit tentang masa lalunya. Miris. Tidak ada maksud lain, ia hanya ingin masalah pelik

kakaknya itu selesai dan luka dihatinya bisa sembuh, ia juga ingin kakaknya itu kembali

mengejar mimpinya.

“Semuanya berjalan lancar.” Ucap Minsoo kemudian.

“Bagus.” Sahut Kyungsoo singkat.

“Aku pikir aku sudah melakukan semuanya dengan baik. Tapi aku rasa peserta lain

melakukannya lebih baik dariku.” Canda Minsoo berusaha menetralkan suasana.

Kyungsoo tersenyum cerah mendengar ucapan Minsoo. Benar, senyumnya sangat cerah. Ia

bahkan tak terlihat kacau lagi seperti beberapa menit sebelumnya. Minsoo ikut tersenyum

melihat kakaknya tersenyum. Ayolah! Siapa yang tidak akan tertular jika melihat senyuman

Kyungsoo.

Kyungsoo menyerahkan potongan buah semangka pada Minsoo. “Makan ini.” ucapnya. “Tadi

aku menelepon Seungsoo hyung. Aku memberitahunya jika hari ini kau ikut audisi.”

Minsoo terkejut, ia menelan potongan semangkanya. “Benarkah? Lalu bagaimana?” ia sangat

tertarik dengan cerita Kyungsoo tentang Seungsoo. Sudah sangat lama ia tidak bertemu dengan

kakak pertamanya itu. Minsoo penasaran apa yang akan dikatakan kakaknya tentang audisinya,

apa ia akan mendukung atau malah sebaliknya.

Mengingat Kyungsoo yang tidak pernah mendapat izin dari Seungsoo untuk meraih mimpinya.

Seungsoo benar-benar menentang apa yang dulu sangat diinginkan Kyungsoo. Kyungsoo

menangispun meminta izin Seungsoo tidak akan merubah pikirannya. Dia bahkan

menghancurkan gitar Kyungsoo saat ia tahu Kyungsoo tak mematuhi perkataannya. Kyungsoo

sangat marah saat itu, bahkan ia sempat membenci Seungsoo karena telah menghancurkan

barang berharganya. Gitar itu adalah hadiah dari mendiang ayah mereka untuk Kyungsoo. Satu-

satunya barang kenangan yang selalu membuatnya teringat akan ayah mereka, namun Seungsoo

menghancurkannya begitu saja. Dia benar-benar kakak yang luar biasa. Minsoo menggeleng-

gelengkan kepalanya ngeri mengingat hal itu.

Mereka sudah tak memiliki ayah. Selain restu dari ibu, restu Seungsoo juga penting bagi mereka.

Apalagi Minsoo yang tak pernah bisa bertemu dengan ayah mereka sejak ia lahir. Bagi Minsoo,

Seungsoo adalah kakak pertama yang merangkup sebagai ayahnya sekaligus, jadi ia sangat

menghormati kakak pertamanya itu dibandingkan dengan Kyungsoo yang seperti temannya

sendiri.

“Hyung… melepaskanmu.” Ucap Kyungsoo yang berhasil membuat Minsoo menautkan alisnya.

Bukan salah Minsoo yang tidak mengerti tapi jawaban Kyungsoo yang tidak jelas.

Kyungsoo tersenyum, tapi senyuman iri yang tergambar dari bibirnya. “Hyung mengizinkanmu,

Minsoo.”

Minsoo tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi, ia terlihat sangat

bahagia.

“Kau senang?” tanya Kyungsoo.

“Tentu saja!” sahut Minsoo. “Tidak ada alasan untukku tidak senang. Aku sangat senang.

Seharusnya kau menungguku selesai dulu, oppa. Baru kau meneleponnya. Aku juga ingin

berbicara dengan Seungsoo oppa.”

“Aku iri padamu. Aku meneleponnya dan mengatakan padanya bahwa kau ikut audisi hari ini,

dan dia langsung mengizinkanmu. Dia bahkan bilang kau harus bekerja lebih keras lagi agar kau

bisa lulus audisi dan meraih apa yang selama ini kau inginkan. Dia benar-benar mendukungmu.”

Tutur Kyungsoo.

“Kapan Seungsoo oppa akan pulang? Aku hampir melupakannya karena dia tidak pernah

pulang.” Ujar Minsoo asal sambil mengambil buah-buahan yang sudah disiapkan Kyungsoo di

dalam sebuah kotak plastik.

“Akhir tahun ini.”

“Aku penasaran apa saja yang dilakukan Seungsoo oppa di Amerika.”

“Mungkin saja dia memiliki pekerjaan disana.” jawab Kyungsoo asal.

“Pekerjaan macam apa? Sudah lima tahun dia tidak pernah pulang sekalipun. Apa dia tidak

memikirkan ibu sama sekali?”

“Apa kau tidak tahu? Dia memang seperti itu. Jika sudah menggilai dunianya, ia hanya akan

peduli dengan dunianya sendiri dan melupakan segalanya. Sekalipun itu ibu.”

Minsoo menggeleng tak percaya. “Luar biasa. Seungsoo oppa memang kakak yang luar biasa.”

“Kapan audisinya selesai? Tidak ada yang menarik di sini. Aku bosan!” ujar Kyungsoo.

“Hei! Tahan dulu bosanmu, oppa. Ini masih tahap pertama, masih ada dua tahap lagi. sepertinya

kita akan pulang malam.” Jelas Minsoo. Kyungsoo membuang napas berat.

Tiba-tiba ada seorang gadis lewat di depan mereka berdua. Seorang gadis dengan gaun mewah

dan empat pengawal di belakangnya. Mata Kyungsoo lurus menatap gadis itu.

Minsoo mengikuti arah pandang Kyungsoo, “Kau mengenalnya, oppa?” tanya Minsoo ragu saat

ia tahu siapa gadis yang sedang Kyungsoo lihat.

“Apa?” Kyungsoo tersentak oleh pertanyaan Minsoo.

“Kenapa kau melihatnya seperti itu? Apa kau mengenalnya?” Minsoo mengulangi pertanyaanya.

“Tidak. Aku hanya merasa tidak asing dengan wajahnya.” Sahut Kyungsoo.

“Namanya Jung In Hwa.”

“Jung In Hwa?!” Kyungsoo terkejut, matanya semakin membulat.

“Ya. Dia yang paling banyak menarik perhatian. Dia sudah memiliki agensi. Aku dengar dia juga

akan debut dalam waktu dekat.” Tutur Minsoo.

Kyungsoo mengabaikan cerita Minsoo tentang pesaingnya itu. Ia sibuk dengan pikirannya

sendiri. Mereka terlihat mirip. Mungkinkah…? Gumam Kyungsoo dalam hati.

“Oppa!” Minsoo menyenggol lengan Kyungsoo dengan bahunya. Lagi-lagi Kyungsoo tersentak

karena ulah Minsoo. “Kau tidak mendengarkanku dari tadi?” sungut Minsoo kesal.

“Aku mendengarkanmu, Minsoo.” Jawab Kyungsoo dengan menunjukkan senyum manisnya.

“Aku harus masuk sekarang.” Ucap Minsoo kemudian.

“Oh! Kau harus melakukannya lebih baik lagi. Fighting!” ujar Kyungsoo menambahkan

semangat untuk Minsoo.

Minsoo tersenyum manis dan mengangguk. Lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan

Kyungsoo sendiri.

_

Baekhyun dan Jikyung berjalan menuju ruang persiapan mereka. Namun seseorang menabrak

bahu Baekhyun keras saat ia dan Jikyung akan memasuki ruang tersebut. Baekhyun

menghentikan langkahnya begitu juga dengan Jikyung namun seseorang yang menabrak bahu

Baekhyun terus saja melangkah, sama sekali tak menghiraukan Baekhyun yang sedang

menatapnya tajam. Melihat hal itu, Jikyung sangat kesal dan akan menendang punggung

seseorang itu namun ia terhenti karena Baekhyun bersuara mendahuluinya.

“Hei, Jung In Ho!” panggil Baekhyun tajam.

Seseorang itu membalikkan badannya malas, ia menatap Baekhyun sinis. “Kau yang

menghalangi jalanku. Bukan salahku yang menabrakmu.” Ucap Jung In Ho dingin. Wajah

tampannya benar-benar tak sesuai dengan sikapnya.

Baekhyun masih tak mau menurunkan pandangannya pada Jung In Ho. Kedua tangan Baekhyun

sudah terkepal dan siap melayangkannya di wajah musuh bebuyutannya itu.

Jung In Ho tertawa kecil saat melihat kepalan tangan Baekhyun yang siap mendarat di wajahnya

kapan saja, “Kau ingin memukulku? Lakukan saja! Aku sudah bosan menerima kepalan

tanganmu itu. Kau bukan apa-apa sekarang. Menyentuh wajahku sedikit saja, kau bisa berurusan

dengan polisi.” Ujarnya tajam.

Baekhyun berusaha keras menahan emosinya. Jikyung yang berdiri di belakang Baekhyun

menggenggam tangan Baekhyun berusaha meredupkan emosinya. Jung In Ho tersenyum miring

melihat sikap Baekhyun yang tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Ia pergi meninggalkan mereka

berdua, namun belum jauh ia melangkah ia kembali lagi menghadap mereka berdua.

“Aku lupa. Penampilanmu tadi cukup baik. Tidak aku sangka kau bisa berdiri di atas panggung

tanpa dia. Aku pikir kau tidak akan bisa melakukan itu sendiri. Melihatmu yang dulu selalu

menempel seperti benalu padanya. Itu sangat mengejutkan.” Jung In Ho menyeringai dan

menatap mata Baekhyun tajam.

Baekhyun tersenyum sinis. “Berterima kasihlah padaku karena aku masih memikirkan kariermu

tadi. Itu belum apa-apa. Aku hanya mengeluarkan sebagian kecil kekuatanku, tapi kau

melihatnya bukan, antusias mereka padaku bagaimana? Bagaimana jika aku menunjukkan semua

kekuatanku tadi. Mungkin mereka semua sudah beralih padaku, termasuk fansmu. Kau tahu

sendiri, bahwa aku tak terkalahkan dulu.”

Inho balas tersenyum tipis, “Itu dulu. Aku akui bahwa kau hebat, tapi itu dulu. Saat masih ada

teman kecilmu di sampingmu. Sekarang, kau bukan apa-apa tanpa dia. Kau juga tahu sendiri

bahwa kau terkalahkan olehnya.” Ucap Inho penuh penekanan di setiap nada bicaranya.

Baekhyun siap mendaratkan kepalan tangannya ke wajah Inho lagi jika saja Jikyung tak

menghalanginya. “Hentikan! Tolong hentikan!” ucap Jikyung menengahi sambil menatap

Baekhyun lekat. Jikyung berbalik menghadap Inho. “Kau juga! Memangnya kau siapa?

Mengungkit-ungkitnya dan Mengatakannya di depan kami.”

Inho tertawa, “Aku? Haruskah aku mengatakannya siapa aku diantara kalian? Siapa aku bagi

kalian? Haruskah aku mengatakannya?”

Baekhyun dan Jikyung terdiam mendengar pertanyaan Inho.

“Aku juga saksi dari apa yang semua kalian lakuakan dulu. Mataku ini melihat semuanya,

bahkan hal yang mungkin tidak kalian lihat. Aku tahu semuanya. Jadi, mulai sekarang berhati-

hatilah padaku. Atau kalian akan hancur.” Ucap Inho pelan namun tegas dan tajam.

Baekhyun yang mendengar hal itu hanya bisa menatapnya tajam, tangannya sudah terkepal keras

di samping tubuhnya. Tanpa menunggu aba-aba lagi. Baekhyun melayangkan kepalan tangannya

ke pipi kanan Inho. Jikyung terbelalak melihatnya, ia langsung menarik tubuh Baekhyun

menjauh dari Inho sebelum semuanya semakin kacau. Inho menyentuh pipi kanannya yang mulai

memar dan meringis pelan.

“Katakan saja pada semuanya. Katakan semuanya apa yang kau lihat itu. Katakan! Aku tidak

takut dan aku tidak peduli. Kau pikir aku akan takut dengan ancaman bodohmu itu. Katakan

semuanya. Dengar! Aku tidak pernah takut pada pengecut yang hanya bisa mengancam di

belakang sepertimu.” Teriak Baekhyun penuh emosi.

Inho tertawa, “Baiklah! Jika itu yang kau inginkan. Tunggu dan lihatlah. Kau akan menyesal

nanti.” Ucapnya. Kemudian ia pergi meninggalkan Baekhyun dan Jikyung yang terus saja

menatapnya tajam.

Baekhyun mengusap wajahnya gusar. Sedangkan Jikyung langsung menggenggam erat tangan

Baekhyun saat melihat Baekhyun yang mulai gusar. Menyalurkan ketenangan dan kehangatan

dari sana. Baekhyun balas menggenggam erat tangan Jikyung. Jikyung mengusap pelan lengan

Baekhyun saat Baekhyun menatapnya dalam.

“Kau tidak berubah sedikitpun. Ambisimu dan sikap pemberontakmu. Kau masih sama seperti

saat pertama kali kutemui.” Ucap seorang lelaki mengejutkan Baekhyun dan Jikyung yang tiba-

tiba datang dari belakang mereka.

“Anda siapa?” tanya Baekhyun tegas.

Lelaki itu tersenyum, “Sudah sangat lama, tentu saja kau melupakanku. Kau tidak mengingatku

sama sekali?”

Baekhyun menatap lelaki itu lurus-lurus, tapi ia tak menemukan sesuatu yang familiar di sana.

“Apa kau mengenalnya?” bisik Baekhyun pada Jikyung.

Jikyung menggeleng, “Aku bahkan baru melihatnya sekarang.”

“Mungkin penampilanku sedikit berubah sekarang. Dulu aku masih cukup muda saat pertama

kali bertemu denganmu dan kau masih kecil jadi wajar jika kau tak mengenaliku.”

“Anda pernah bertemu denganku sebelumnya?” Baekhun menunjuk dirinya sendiri tak percaya.

Ia merasa belum pernah bertemu dengan lelaki yang berdiri di hadapannya sebelumnya.

Lelaki itu mengangguk. “Aku bersama temanku waktu aku bertemu denganmu dulu. Kau juga

bersama temanmu,” lalu lelaki itu mengeluarkan sebuah pin berbentuk bintang dengan huruf

BNG terukir di bagian depannya, “Kau masih ingat ini? aku mendapatkannya setelah tiga tahun

aku menemukanmu dulu.”

Baekhyun dan Jikyung terkejut melihat lelaki itu memiliki pin bintang itu. “Siapa anda

sebenarnya?” tanya Baekhyun lagi lebih tegas.

Lelaki itu tersenyum dan mengeluarkan kartu namanya, lalu menyerahkannya pada Baekhyun.

Mata kecil Baekhyun mendadak lebar saat membaca nama yang tertulis di kartu nama yang ia

terima.

“Anda…” ucap Baekhyun tertahan.

“Kau sudah mengingatku?” tanya lelaki itu penuh arti.

To be Continoud…

5 respons untuk ‘[EXOFFI FREELANCE] Black Pearl (Chapter 2)

  1. Lma bngdd postny ..
    Pdhl aq ska bngd sma ff in , soalny main castny bias aq, hehehe 😀 .
    Kra2 tdi siapa yaa ??? Jd tmbhh pnsran ??

    Lnjuttt yaa, tp jngn lma2 lgi postny, soalnya d.tnggu !! Ocee heheh

  2. Aish jinjja. . . . Pertemukan mereka segera. . AKu ingin lihat bagaimana sikap mereka saat bertemu. . .
    Apa chapternya akan panjang? Aku sudah penasaraaan 😭

  3. Hai, aku reader baruu.
    Bagus thor ff nya, lanjuut.
    Tp kok ini spasi nya gaenak bgt ya pemenggalannya. Bikin sdkit ga nyaman d baca, tp yasudahlah yg ptg ceritanya bagus.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s