[EXOFFI FREELANCE] Unreasonable Love (Chapter 1A)

ureasonable love

Tittle/judul fanfic: Unreasonable Love [CHAPTER 1 A]
Author: AGEHA
Length: Chapter
Genre: Romance, drama, marriage life
Rating: PG – 14
Main cast & Additional Cast: Oh Sehun and Suiren Lee
Disclaimer: agehautada.wordpress.com , wattpad: agehach31
Author’s note: Don’t be a silent readers

The beginning

Suiren menggeliat pelan karena secercah cahaya menembus kelopak matanya. Ia bangun jam 06.30 pagi? Tumben sekali ia tidak bangun terlalu pagi. Lalu ia duduk di atas ranjang, mengerjapkan matanya dan mulai memfokuskan pandangannya. Hari ini ia memiliki jadwal kelas yang tak dapat diganggu gugat. Langsunglah saja ia mempersiapkan diri.

Setelah berpakaian, memakai sepatu, dan membawa tasnya, ia berjalan dan membuka pintu kamarnya. Tebak apa yang baru saja dilihatnya. Oh Sehun sedang berdiri tepat di sana. Suiren memasang wajah datarnya lalu dengan sigap kembali menutup pintu itu lagi. Ia tak jadi keluar. “Apa – apaan ini? Aku salah lihat? Mimpi?” batinnya.

“Suireeen!!! Cepat keluar dari kamarmu! Tuan Oh sudah menunggumu!” teriak Nyonya Lee dari lantai dasar.

“Bukan mimpiiiii!” teriak Suiren dalam hatinya. Hal yang baru saja ia lihat tadi terlalu nyata untuk menjadi mimpi. Ia lalu menghela napas panjang dan mempersiapkan mentalnya, lalu ia kembali membuka pintunya. Beruntung tak ada siapapun di sana. Pasti ORANG ITU sudah kembali ke lantai dasar rumahnya.

Seperti biasa, tak ada perubahaan pada wajah cantik sekaligus datar milik Suiren Lee itu. Bahkan hari ini mungkin terlihat lebih datar dari biasanya. Ia sedang dalam mood yang tak baik. Lalu, Suiren menuruni tangga dan berjalan ke tempat orang tuanya berada. Tentu saja di sana pasti ada Tuan Oh Sehun yang menunggunya.

“Ayah, Ibu, aku akan langsung berangkat saja,” ucap Suiren pada orang tuanya.

“Sepagi ini? Kau pergi dengan Tuan Oh, kan?” tanya Nyonya Lee pada anaknya yang sebenarnya sedang malas. Mendwngar hal ini, tentu saja Suiren tersadar. Berarti ia akan berangkat bersama Oh Sehun itu.

“Ya, tentu saja ia akan berangkat bersamaku,” sebelum Suiren bisa berkata – kata, Sehun sudah berbicara lebih dulu seperti itu yang langsung membuat Suiren diam dan tak merubah wajah datarnya.

Memangnya wanita seperti Suiren sekarang bisa apa?

Setelah itu, Sehun dan Suiren pamit kepada Tuan dan Nyonya Lee. Suiren lalu berjalan di belakang Sehun tanpa mengucapkan sepatah kata. Setelah mereka berdua sudah berada di dalam mobil lamborgini milik Sehun, pria itu langsung menyalakan mesin mobilnya dan mengendarainya Universitas tempat Suiren belajar. Tak ada percakapan selama mereka berdua di perjalanan. Sikap keduanya yang sama – sama dingin membuat keadaan menjadi seperti ini. Keduanya memiliki ego yang dipertahankan dengan erat.

Setelah sampai di depan Universitas, Suiren turun begitu saja dari mobil, saat gadis itu akan melangkahkan kakinya, pergi, Sehun tiba – tiba bertanya. “Hari ini kau pulang jam berapa?” Suiren mengerutkan dahinya. Bingung. Untuk apa pria itu menanyakan jam pulangnya?

“Jam dua siang nanti, sepertinya,” jawab Suiren seperti biasa.

Sehun mengangguk, tanda ia sudah mendapatkan jawaban. “Aku akan menjemputmu. Kita harus pergi ke suatu tempat. Aku pergi dulu,” setelah itu, Sehun langsung saja mengendarai mobilnya pergi. Dan semakin lama menjauh dan menghilang dari pandangan Suiren. Suiren terdiam selama beberapa detik, setelah itu ia hanya mengangkat bahu dan berjalan memasuki Universitasnya.

****

Saat ini, Suiren dan Sehun sedang ada di depan sebuah gedung yang besar dan terlihat mewah. Suiren hanya memperhatikan bangunan itu dan menoleh ke arah Sehun. “Kita ada di mana?” tanya gadis itu dengan perasaan sedikit penasaran. Ya, hanya sedikit. Hal itu terbukti dari wajahnya yang masih saja terlihat datar.

Sehun hanya diam, tak menjawab pertanyaan Suiren. Pria itu langsung saja memasuki gedung tersebut. Dan akhirnya Suiren hanya bisa mengikuti pria itu masuk ke gedung. Saat ada di dalam gedung, Suiren merasa familiar dengan tempat ini. Tempat yang dihiasi bunga, mutiara dan batu – batu berlian, dan juga… gaun – gaun putih yang super cantik. “Tempat ini…” batin Suiren.

“Kita akan mencoba pakaian pengantin di sini.” Ucap Sehun tanpa menoleh ke belakang sedikitpun! Suiren hanya diam dan mengikuti Sehun dari belakang. Sia –sia. Memang siapa yang akan mendengar penolakannya? Bukannya berbicara hanya akan menyia – nyiakan waktu dan suara indahnya? Diam adalah pilihan yang tepat. Hal yang selama ini selalu ia lakukan. Dan sama sekali tak ada masalah tentang hal itu.

Jadi hal ini diperbolehkan.

Seorang perempuan yang sepertinya bekerja di tempat ini menghampiri Sehun dan Suiren dan menyapa mereka dengan sebuah ‘senyuman bisnis’. Hal ini bahkan sudah bisa disadari oleh kedua pasangan tanpa ekspresi ini. Hal yang biasa. “Tuan Oh dan Nyonya Lee?” tanya pegawai itu masih tetap dengan senyumannya. Sehun dan Suiren hanya mengangguk. “Silakan ikut saya,” setelah berbicara seperti itu, pegawai wanita itu, Sehun, dan Suiren berjalan, lalu menaiki elevator.

Sehun dan Suiren hanya saling berdiam diri tanpa kata. Dan setelah elevator itu berhenti, Sehun dan Suiren mengikuti pegawai tersebut dari belakang. Dan sampailah mereka di depan pintu seebuah ruangan. Pegawai tersebut membukanya dan… tampaklah gaun putih yang dihiasi dengan mutiara dan lily putih. Cantik dan terkesanelegant. Saat Suiren diminta untuk mencoba gaun itu, dan rupanya ukurannya sangat pas!

“Pria ini mengerikan,” ucap Suiren dalam hati dan sedikit memandang horor Sehun. Dari mana pria itu tahu ukuran tubuhnya hingga gaunnya bisa pas seperti ini. Ah, sudah. Lupakan hal itu. Setelah mencoba gaunnya dan berganti ke pakaian semula, Suiren duduk di tempat yang sudah disiapkan dan Sehun sedang sibuk membicarakan sesuatu. Setelah selesai, Sehun dan Suiren mengucapkan terima kasih dan keluar dari gedung itu.

Setelah Sehun dan Suiren keluar, Suiren melihat sebuah tempat yang menarik perhatiannya. “Maaf, bisakah kita pergi ke tempat itu?” tanya Suiren dengan formal dan cara bahasa antara orang asing. Sehun hanya melihat tempat yang ditunjuk oleh Suiren dan mengangguk. Dan akhirnya mereka berdua berjalan sebentar untuk sampai ke tempat itu.

Suasana tempat itu hening. Hanya ada beberapa orang yang ada di sana. Ini sebuah coffe and tea shop. Benar – benar tempat favorit seorang Suiren Lee. Suiren lalu memesan secangkir rose tea dan Sehun memesan secangkir black coffe. Mereka berdua memilih tempat duduk yang berada di pojok ruangan dan menghadap ke arah luar kaca besar tersebut. Menunggu dalam diam, hingga pesanan mereka datang. Wangi yang bercampur aduk antara teh dan kopi. Perpaduan yang aneh.

Dan semua itu dinikmati dalam diam.

Entah sudah berapa menit waktu berlalu. Sehun dan Suiren hanya duduk diam di tempatnya sambil sesekali menikmati minuman mereka. Benar – benar suasana yang aneh.

Setelah beberapa lama waktu berlalu, akhirnya cairan yang berada di masing – masing cangkir Sehun dan Suiren habis. Setelah melihat tehnya habis, Suiren langsung saja mendongak dan menatap Sehun. “Ayo pulang,” ucap gadis itu tenang. Sehun memejamkan matanya sejenak, lalu bangkit dari tempat duduknya. Lalu, mereka berdua keluar dari tempat itu dan berjalan menuju gedung tadi, tempat di mana lamborgini milik Sehun berada.

Sehun menyalakan mesin mobilnya, mengendarainya untuk mengantarkan Suiren pulang. Memang memakan waktu beberapa puluh menit untuk sampai ke kediaman keluarga Lee, dan itu tetap tak membuat mereka berdua memulai pembicaraan. Saat sampai di kediaman keluarga Lee, Sehun dan Suiren memasuki rumah besar itu.

“Aku pulang…” ucap Suiren saat memasuki bagian dalam rumahnya. Keadaan rumah begitu hening. Suiren hanya menatap sekeliling secara cepat lalu berjalan masuk dan Sehun mengikuti di belakangnya. “Tunggulah di sini. Aku ingin berganti pakaian,” saat Suiren berbicara seperti itu, Sehun sama sekali tidak merespon.

Akhirnya Suiren meninggalkan Sehun di ruang tamu dan menaiki tangga menuju ke kamarnya. Saat Suiren membuka pintu kamarnya yang tak terkunci, ia melihat Maria sedang menyusun beberapa gaun yang belum pernah ia lihat di lemari pakaiannya. “Maria?” suara Suiren yang terdengar membuat Maria sedikit terlonjak kaget.

“No… Nona?” ucap Maria terbata – bata. Kemungkinan ini karena efek kagetnya.

Suiren memperhatikan sejenak gaun – gaun yang sedang berada di tangan Maria. Ia lalu menatap pelayannya itu dengan sedikit rasa penasaran. “Gaun milik siapa itu?” tanyanya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah gaun – gaun pesta itu. “Aku tidak ingat memiliki gaun – gaun seperti itu,” ucap Suiren tegas.

“Ahh… gaun ini. Ini gaun yang dipilihkan Nyonya untuk Nona untuk dipakai di pesta besok malam bersama Tuan Oh,” jawab Maria sejujur – jujurnya. Suiren hanya mengerutkan alis. Karena merasa belum mengetahui semua ini.

“Maria, tolong siapkan minuman untuk Tuan Oh. Aku ingin berganti pakaian,” mendengar hal itu, Maria segera menyelesaikan pekerjaannya, membungkuk, lalu pergi meninggalkan Suiren sendiri di kamarnya. Suiren lalu mengganti pakaian tadi dengan rok mini bermotif kotak – kotak merah dan kaus hitam polos berlengan panjang. Setelah itu, Suiren keluar kamarnya dan berjalan ke tempat sang Tuan Oh berada.

Saat mendekati sofa yang berada di ruang tamu, Suiren memfokuskan dirinya lalu duduk di atas sofa lain yang berdekatan dengan sofa panjang yang diduduki Sehun. Ia membiarkan suasana hening beberapa saat, lalu memulai pembicaraan. “Besok malam akan ada pesta?” tanya Suiren yang hanya direspon dengan anggukan Sehun.

“Kau tidak memberitahuku,” ucap Suiren tenang.

Sehun meletakkan cangkir di atas meja dan menoleh memandang Suiren.“Apa itu harus?” tanya pria itu dengan nada tenang dan wajah yang serius.

Suiren diam sejenak saat menatap Sehun. Gadis itu lalu menghela napas. “Sepertinya tidak,” jawabnya. Setelah itu, Sehun meneruskan kegiatan minumnya. Suiren mencium wangi yang sangat familiar. Asalnya dari minuman yang diminum oleh Sehun. “Earl grey?” gadis itu mulai yakin dengan apa yang dibauinya. Wangi teh yang sangat menarik perhatiannya.

Bagj Suiren, teh adalah suatu hal yang wajib ada setiap harinya. Yang paling utama adalah kegiatan afternoon teanya yang hampir tak pernah ia lewatkan. Sebuah kegiatan yang biasa dilakukan oleh para bangsawan Inggris pada abad pertengahan. Hal klasik yang sangat disukainya. Tapi…

“Kau suka teh?” tanya Suiren tiba – tiba yang menyebabkan Sehun menghentikan kegiatannya. Suiren hanya memandangnya tenang. Pandangan normal yang biasa gadis itu keluarkan.

“Tidak terlalu,” jawab Sehun singkat.

“Lalu, kenapa kau meminumnya?”

“Karena aku sedang haus,” ya. Alasan yang cukup logis yang bisa membuat Suiren diam, tak ingin bertanya dan tak ingin mengucapkan sepatah kata. Keadaan hening kembali seperti semula. Setelah minuman itu habis, Sehun segera bangkit dari tempatnya. “Aku akan pulang,” ucap pria itu pada Suiren.

Suiren mengangguk. “Baiklah,” setelah itu, gadis itu mengantarkan Sehun sampai teras rumahnya. Ia menunggu sampai Tuan Oh Sehun dan lamborgininya itu pergi dan menghilang dari pandangannya. Setelah ia tak melihat Sehun lagi, ia masuk ke rumah dan menutup pintu besar itu. Dan akhirnya, pintu itu sepenuhnya tertutup.

****

Suasana malam ini sangat ramai. Pesta yang diadakan oleh seorang Oh Sehun memang tak bisa diremehkan. Banyak pengusaha – pengusaha dari luar Korea Selatan juga menyempatkan datang ke pestanya. Sungguh, ini adalah pesta orang – orang kelas atas. Sehun sedang berbicara dengan beberapa rekan bisnisnya sedangkan Suiren bersama gaun hitam yang dipakainya sedang duduk di pojok ruangan, menjauh dari keramaian.

Suiren sudah bertekad hanya akan memperhatikan Sehun dari jauh. Ia hanya berpikir untuk apa ia datang ke sini dan duduk manis memandangi orang – orang. Ralat. Dipandangi orang – orang. Kecantikan luar biasa yang terpancar dari dirinya memang tak bisa dihalangi. Dan Suiren sendiri merasa terganggu dengan pandangan – pandangan yang ditujukan padanya.

Inilah alasan mengapa ia benci pesta.

Karena merasa sudah tak tahan, Suiren bangkit dan berjalan ke arah Sehun. Saat sudah ada di belakang Sehun yang sedang berbicara dengan rekan bisnisnya, Suiren hanya diam dan menunggu. Hingga akhirnya Sehun menyadari kehadirannya, dan membalikkan tubuhnya. “Ada apa?” tanya pria itu.

“Aku ingin bicara,” ucap Suiren. Sehun akhirnya pergi meninggalkan rekan bisnisnya berbincang satu sama lain, sedangkan ia dan Suiren pergi ke luar menuju taman.

Udara di luar memang tergolong dingin. Ini sudah hampir tengah malam dan Suiren ada di luar mengenakan gaun hitam yang sedikit memperlihatkan bagian punggungnya. Benar – benar.

“Aku ingin pulang,” ucap Suiren tepat saat mereka sampai di taman.

“Alasannya?”

Suiren menghela napas. Sedikit kedinginan. “Aku tidak tahu untuk apa aku datang ke sini. Jika aku hanya menghabiskan waktu dengan duduk di pojok ruangan, bukankah lebih baik aku diam di rumah dan belajar?” jawab gadis itu. Dan Sehun tetap memasang wajah tenangnya.

Sehun memperhatikan Suiren dari bawah ke atas. “Kau kedinginan?” tanyanya saat melihat tubuh Suiren sudah mulai menggigil kedinginan.

Gadis itu menjawab dengan tenang seraya menahan hawa dingin. “Ya, sedikit,” hmph. Dasar tidak jujur.

Sehun lalu melepas jas hitamnya dan memasangnya di bahu Suiren sampai menutupi punggung gadis itu yang terbuka. “Pakailah,” ucap pria itu. Suiren hanya memperhatikan Sehun sejenak lalu mengangguk, tanda ia mengerti. Tak mungkin Suiren menolaknya, menyadari fakta bahwa hal ini membuat tubuhnya hangat. Gadis itu hanya diam dan bersikap tenang, terlihat dari wajah datarnya.

Sehun melirik Suiren yang masih berdiri di tempatnya. “Ayo masuk. Kau bisa kedinginan di sini,” mendengar Sehun berkata begitu, Suiren hanya bisa mengangguk. “Nanti kau akan tahu sendiri untuk apa kau datang ke sini,” ucapan Sehun tidak digubris oleh Suiren. Yah… itu wajar mengingat betapa apatisnya seorang Suiren Lee itu.

Saat kembali ke tempatnya semula di pojok ruangan, Suiren merasa tubuhnya tidak menggigil lagi, tapi ia tetap tak melepaskan jas hitam milik Sehun. Kali ini, Suiren hanya berdiri di tempat tersebut. Ia tidak melihat Sehun di manapun kali ini. “Bukan masalah. Ia pasti akan terlihat nantinya,” begitulah ucapan hati Suiren. Dan benar saja. Pria itu muncul bersama sekretarisnya dan seorang pembawa acara.

Entah apa yang dikatakan si pembawa acara tersebut. Yang pasti Suiren tidak tertarik mendengarnya. Tidak penting. Dan akhirnya ia tersadar pada saat tiba – tiba namanya tersebut. Suiren kembali pada kesadarannya.

“… Nona Suiren Lee,” hanya pada saat namanya tersebut saja Suiren mendapatkan sepenuhnya kembali kesadarannya.

“Huh?”

“Calon Nyonya baru kita,” ucap pembawa acara itu. Membuat Suiren hanya menatap ke arah tiga orang itu dan masih menggenggam gelasnya. Sehun yang masih tenang datang menghampiri Suiren dan menggenggam tangannya lalu membawanya ke tempat sang sekretaris dan pembawa acara berada. Beberapa tamu undangan mulai bertepuk tangan. Ada juga beberapa wanita yang wajahnya terlihat sedikit kesal.

Saat mereka tepat berada di sana, hampir seluruh tamu undangan bertepuk tangan. Wartawan yang datang juga mulai memotret dua orang tersebut. Dan saat ini, Suiren hanya menjaga agar wajahnya tetap terlihat tenang dan datar. Saat mereka difoto oleh banyak wartawan, Suiren hanya bisa berbicara dengan suara kecil.

“Kau benar – benar tidak memberitahuku,” ucapnya pelan. Sehun hanya diam dan memasang wajah datarnya juga. Benar – benar dua orang yang benar – benar cocok.

****

“Hachuh!” Suiren saat ini sedang beristirahat di kamarnya dan ada Sehun yang duduk di sofa kamarnya. Gadia itu terkena flu. Mungkin karena semalam dia kedinginan hingga akhirnya ia terkena flu saat ini.

“Flu?” tanya Sehun yang masih terus fokus pada koran yang ada di tangannya.

Suiren menatap Sehun yang masih tenang. “Tentu saja. Kau pikir ini salah siapa?” tanya Suiren berusaha menyindir Sehun, tetapi pria itu hanya bersikap tenang dan datar. Suiren menghela napas berat. “Ah, baiklah. Terserah. Kepalaku sakit dan aku ingin tidur. Kau boleh keluar sekarang,”.

Sehun tetap diam.

1 menit…

3 menit…

5 menit dan Sehun masih belum bergerak dari tempat duduknya. Suiren menyerah dan langsung berusaha untuk terlelap dalam mimpinya.

****

Saat Suiren membuka matanya dan melihat ke arah luar jendela, langit sudah berwarna oranye dan biru temaram. Sudah sore. Dan saat ia menoleh ke sebelah kirinya, dilihatnya Sehun tertidur dengan posisi duduk di sofa.

“Pria ini benar – benar…” Suiren hanya bisa bersabar. Gadis itu lalu bangun meskipun kepalanya masih terasa sedikit pusing. Ia lalu mengambil selimut dan dipakaikannya di atas tubuh Sehun. “Kau bisa terkena flu juga kalau kau tidur dengan posisi seperti ini,” ucap gadis itu pelan.

Suiren lalu kembali ke ranjangnya. Tidur dan beristirahat di sana.

To be continued…

Author’s note: Terima kasih untuk kalian semua yang sudah baca fanfic debut ku ini. Aku harap semua yang membacanya paling nggak merasa senang. Dan jangan lupa memberikan komentar dan tidak menjadi silent readers. Tunggu chapter 1 B nya ya…

31 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Unreasonable Love (Chapter 1A)”

  1. Jadi penasaran motifnya sehun maksa nikah sama suiren tu apa.. semoga aja gak dingin terus tuh mereka berdua kalo udah nikah.. ditunggu banget next chapnya kekeke ^^

  2. keren loh… aku penasaran awal mereka ketemunya… klo sama2 poker face gitu anaknya jgn2 sama jg nanti klo udh nikah jd setiap hari cuma ada keheningan…. kyknya keren deh ada keluarga ky gitu

  3. yaelah nih berdua yee, masih aje pada datar duhh ckckckck. yakali tar klo dah kawin anaknya kek begimana klo emak bapaknya pd datar duuhhh wkwkkwkw. lanjutkn thor

  4. Ecieee cocok banget sihh kalian berdua, tumben nihh sehun dapet pasangan yg satu spesies sama dia wkwk gak kebayang ntar dua kutub es dipersatukan dengan ikatan pernikahan, kira” apa yg terjadi ? Mungkin rumah nya bakalan lebih dingin dari artik ahhh biar lebih klop sekalian aja kalian bulan madu ke greenland kan disana dapet liat gletser dan segala hal yg berhubungan sama musim dingin, kan cocok sama suasana mereka berdua kan nambah romantis gitu, siapa tau pulang” dua kutub es ini mencair *oke ini ngaco

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s