[EXOFFI FREELANCE] Don’t Hate Me (Chapter 2)

dont-hate-me

Title :
Dont Hate Me
Author :
DuckyGirl
Length :
Chapter
Genre :
Friendship, Marriage life, School life, Romance
Rating :
16+
Cast :
Jung Saena ( OC/ ulzzang Kim Shin Yeong), Xi Luhan, Byun Baekhyun
Additional Cast :
Lee Hyera, Kim Dahee
Disclaimer : This is my own storyline. For OC’s name and the all famous cast are belong to God. Thankyou.
Cover by Babyglam @IndoFanfiction Art
Author’s note : thanks buat kalian yang dengan baik hatinya masih nyelipin komentar buat FF perdana author. Komentar kalian sangat membantu author dalam menghayal lebih gila lagi #wkwk. Banyak yang mempertanyakan persahabatan Baekhyun-Saena yang terkesan eww ya, itu karena author pingin buat friendship yang gak sekedar friendship (?). Ya intinya begitulah….hehe Enjoy it #bow

Dia yang membuatku seperti ini.
Membuatku merasa didalam pusaran kebencian.
Membuatku merasakan pahitnya cinta.
Membuatku merasa dunia berpihak padanya.
Aku benci diperlakukan seperti ini.
Bahkan aku membenci diriku sendiri.
Jika aku bisa memilih.
Aku akan mencintai sahabatku……..


“Bruk!”
Saena melempar asal setumpukan buku di atas mejanya, sehingga menimbulkan suara berdentum yang membuat Dahee membalikkan tubuh cepat dan menatap Saena penasaran.
“Apa ini Saena?” tanya Dahee sembari menunjuk-nunjuk setumpukkan buku.
“Makanan,” ujar Saena singkat.
“Aish, maksudku buku untuk apa?” geram dahee memutar bola matanya.
“Ya untuk belajarlah Dahee.”
Dahee menyipitkan matanya tak percaya. Sejak kapan Saena yang notabennya sang juara tak terkalahkan tiba-tiba giat belajar seperti ini? Awesome.
“Mengejutkan sekali kau mau belajar.”
Saena hanya tersenyum lebar dan mulai membuka –buka buku itu. Mengerjakkan soalnya satu persatu tanpa memperdulikan gangguan teman-temanya yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing .
Kentara sekali bahwa Saena benar-benar serius saat ini. Guratan di dahinya beberapa kali ia tampakkan, tapi kemudian sirna dan digantikkan oleh senyum cerahnya. Dahee yang memperhatikkan gerak-gerik Saena sedikit merasa khawatir . Tak biasanya seorang Jung Saena akan bertingkah seaneh ini saat mengerjakan soal.
Sudah lewat sejam Saena bergelut dengan soal-soal yang ia peroleh dari Baekhyun. Rasa kagum ia utarakan saat Baekhyun dengan sangat tak terduganya menawarkan buku-buku ini padanya. Tapi disisi lain, ia juga bersyukur bahwa setidaknya sahabatnya itu masih memiliki buku yang berisikan soal-soal. Bukan kumpulan majalah dewasa yang ia koleksi di kamar mandinya.
Yah walaupun Saena yakin jika Baekhyun tak akan mungkin membukanya. Terlihat dari cover dan kertas buku ini masih tertata rapi tanpa ada satupun goresan yang timbul dari kertas putih itu. Baunyapun masih menyengat khas layaknya buku yang baru dibeli dari toko buku. Dasar Baekhyun!

From : Bacon
Bagaimana buku-buku yang aku rekomendasikan?
Benar-benar sulit bukan?
Kekeke
Saena memutar bola matanya. Kemudian membalas pesan Baekhyun singkat.
To : Bacon
Kau saja yang bodoh Baek!
Saena pastikan Baekhyun akan merenggut saat ini. Pasalnya ia selalu tak terima jika Saena mengejeknya bodoh. Tapi berdasarkan fakta dan realita yang ada, seorang Byun Baekhyun memang terlihat stupid dimanapun ia berada.
From : Bacon
Jangan temui aku lagi.
Saena menahan tawanya saat membaca balasan Baekhyun. Ia sungguh bertaruh bahwa Baekhyun tak akan menyapanya sepulang sekolah nanti.
To : Bacon
Baiklah.
Silahkan pulang bersama supir bus.
*******
Atmosfir di dalam Mobil ini benar-benar menyeramkan menurut Saena. Keheningan menyelimuti mereka berdua. Luhan dengan raut muka datarnya tetap focus pada jalanan raya Seoul tanpa memperdulikan Saena yang merasa tak nyaman dikusinya. Beberapa kali Saena merubah posisi duduknya hanya untuk menghilangkan rasa akward nya saat ini. Tapi itu tak membuat Saena merasa nyaman juga.
Detik kemudia Saena meruntuki dirinya sendiri. Ia dengan bodohnya lupa memberikan kunci mobilnya kepada Baekhyun, sebab Sena yakin Baekhyun tak akan mau melangkah masuk ke kelasnya hanya untuk mengambil kuncinya.
Baekhyun memang tipe orang dengan egois tinggi dan pendedam yang luar biasa. Tapi Saena telah mengetahui titik lemah Baekhyun agar ia terhasut dengan rayuan gombal Saena. Sehingga ia akan dengan mudahnya mendapat kembali senyum bodoh Baekhyun. Dan jangan lupakan yang satu ini, harga diri Baekhyun bahkan lebih tinggi dari tinggi badannya.
Biasanya jika Bekhyun marah, ia kan berlari menuju kelas Baekhyun dan membelikan Bubble Tea kesukaan Baekhyun, lalu bergelayut manja dilengannya. Cara ampuh yang selalu berhasil meredamkan amarah picik Baekhyun. Tapi dengan bodohnya ia bisa meninggalkan sahabatnya itu tanpa memberi kabar keberadaannya sekarang. Bisa- bisa ia takkan disapa oleh Baekhyun selama seminggu lamanya. Frustasi sejenak menerpa Sena.
Saena menginggit kuku jarinya cemas, beberapa kali ia melihat kebelakang. Berharap jarak tempatnya sekarang dan sekolah tak begitu jauh. Namun naas , daerah ini hampir sampai dari jalan menuju rumahnya.
Dengan kasar Saena mengaduk ranselnya. Mencari benda berbentuk persegi itu. Jemari Saena mengetik Lihai list kontak dan menemukan nama Bacon .
“Ketemu,” dengan cepat ia menempelkan ponsel birunya ketelinga kanannya. Menunggu seseorang disebrang sana menjawa panggilan Saena.
Tut…
Panggilan ini sudah kedua kalinya. Dan Baekhyun sepertinya memang benar-benar marah pada Saena. Namun, Saena tak begitu saja menyerah. Ia tetap bersikukuh untuk menelfon Baekhyun.
Luhan yang berada di samping Saena mencoba tak sepeduli mungkin dengan Saena. Mata rusanya tetap focus kedepaan, mengalihkan pandangannya pada seseorang yang sibuk disampingnya. Kenyataannya, kedua mata Luhan sempat melirik singkat Saena sehingga memunculkan rasa penasaran yang luar biasa.
“Bisa turunkan aku di sana?” Luhan mengarahkan pandangan matanya ke arah telunjuk Saena. Sebuah halte bus.
Luhan tak menjawab. Ia masih mencari kata yang pas hanya untuk bertanya. Yang pasti tanpa membuat Saena salah paham dengan sikap sok carenya.
Saat hampir mendekati tempat tujaun Saena, Luhan meminggirkan mobilnya ke tepi jalan. Sebuah halte bus yang tak begitu ramai sempat menyita perhatian Luhan sejenak. Kemudian ia memperhatikan Saena yang melepaskan savebeltnya tergesa-gesa, lalu membuka lock pintu mobilnya kasar. Saena seperti tak menyadari tatapan Luhan. Dipikiran Saena hanya ada nama Baekhyun yang terlintas brutal memenuhi otak kecilnya.
“Bilang pada Mama aku ada acara!” Luhan mengangguk cepat, tapi Saena tak sempat melihatnya, karen terburu menutup pintu mobil Luhan dengan keras. Seketika Luhan sedikit terlonjak dan menggeleng bingung
“Dasar aneh!” gerutu Luhan seraya menstrat mobilnya kembali dan melaju pelan mengikuti arus jalanan Seoul.
****
Seperti pagi biasa Luhan dengan sangat setia menunggu Saena di depan pagar rumahnya. Punggungnya ia sandarkan ke tembok sembari mengotak-atik ponselnya. Sempat beberap kali ia mendesah karena menunggu Saena yang tak kunjung keluar. Padahal lima belas menit lagi bel sekolah akan berbunyi.
Jika bukan untuk orang tuanya, Luhan akan meninggalkan Saena sejak sepuluh menit yang lalu. Sial.
To : xx
Cepat! Aku ada ulangan!
Luhan menekan tombol send dengan geram. Lalu melirik lagi arlojinya.
From : xx
Sebentar. Aku akan turun….
Tunggu satu menit lagi!
Punggung Luhan ia tegakkan, lalu berjalan malas menuju kemudinya. Matanya sempat beberapa kali melirik pintu Saena. Berharap gadis itu segera menyembulkan kepalanya. Namun nihil, saat Luhan menutup pintu mobilnya dan duduk tenang di kursi kemudinyapun Saena tak kunjung terlihat.
“Menyebalkan..”
Tak terasa umpatan kotor sejak tadi Luhan lontarkan. Membuat ia harus mengelus dadanya agar Luhan tak terkena stroke saat ini juga. Dan semoga saja penyakit jantungpun tak menyerangnya sekarang.
“Luhan-ssi maafkan aku…..”
Sena membuka gerbangnya, lalu menutupnya kasar. Langkahnya yang tergesa-gesa membuat ia hampir saja terjungkal kedepan. Kebiasan seorang Jung Saena yang tak pernah memperhatikan langkahnya. Untung saja dewi fortuna masih berpihak padanya pagi ini. Terselamatkankah Saena.
“Kenapa tak sekalian saja kau berangkat siang nanti?” Saena menolehkan kepalanya pada Luhan. Menatap bingung pemuda di sampingnya, tangannya seketika berhenti saat membenarkan savebeltnya. Sindiran tajam Luhan kali ini membuatnya merasa bahwa kesalahannya memang fatal.
“Kenapa diam? Cepat pasang !” Saena memasang raut muka jengkel. lalu duduk dengan bibir mengerucut.
Luhan dengan cepat menstart mobilnya dan melaju secepat mungkin ia bisa. Saena yang tiba-tiba merasakan aura gelap Luhan hanya meneguk salivanya. Tangannya memegang erat roknya, berharap ia tak kencing di celana saat Luhan menambah kecepatan mobilnya.
Beberapa kali Luhan hampir saja bersentuhan dengan mobil yang ada di depannya. Membuat Saena menutup matanaya rapat. Saena melirik sekilas Luhan yang mengemudi mobilnya dengan sikap yang terlihat sangat santai, tapi dari mata dan raut muka Luhan tak benar-benar di bilang santai.
Dan mobil Luhan yang memang di setting untuk race dengan lihainya menerobos jalanan Seoul tanpa ada halangan. Padahal pada jam-jam ini kemacetan mulai merabah bagaikkan penyakit. Sungguh ini di luar batas kemampuan Baekhyun, pikir Saena. Mungkin Jika Baekhyun yang menyetir , nyawa mereka berdua akan melayang dengan mudahnya.
Saena menggeleng pelan membayangkan yang tidak-tidak akan Baekhyun. Sejenak ia melirik arlojinya lalu menghembuskan nafas. Kurang lima menit lagi gerabang sekolah akan ditutup.
“Luhan-ssi , pelan-pelan!”
Teguran Saena serasa angin lalu untuk Luhan. Tak ada jawaban ataupun respon dari Luhan. Luhan hanya memadang kedepan tanpa menoleh kearah Saena.
“Luhan-ssi!”
Saena memekik pelan, suaranya yang cempreng berhasil membuat Luhan menoleh sekilas.
“Bisakah kau diam! Apa kau pikun jika ini ulahmu?” Luhan mendesah berat, rasa jengkel yang membumbung tinggi membuatnya meledupkan semua amarahnya.
“Tapi ini demi keselamatan kita!” Saena yang tak mau kalah , masih kukuh dengan argument nya. Tapi di samping itu kedua tangannya masih memegang erat savebelt.
“Aku tak peduli dengan keselamatanmu. Aku lebih peduli dengan nilai ulangku.”
Saena menatap Luhan tak percaya. Pemuda disampingnya ini benar-benar menjengkelkan. Dengan santainya ia mengutarakan ketidaksukaannya terhadap Saena. Walaupun Saena sendiri sebenarnya tak begitu nyaman dengan Luhan.
“Baiklah …terserah kau saja Luhan-ssi. Setidaknya aku masih berbaik hati menasehatimu.”
Setelah Saena mengatakan itu. Luhan malah menambah kecepatan mobilnya. Membuat Saena menegang di kursinya. Sungguh ini dibatas kemampuan Saena.
“teng..teng”
Tepat saat setelah mobil Luhan memasuki kawasan sekolah. Bel berbunyi memenuhi lingkungan sekolah. Beberapa siswa berlari tergesa-gesa menuju kelas mereka masing-masing.
“Tunggu aku di parkiran sepulang sekolah nanti!”
Saena hanya mengangguk dan turun dari mobil Luhan. Langkahnya benar-benar malas hanya untuk memasuki kelas. Setan yang sejak tadi menyusup ke kepalanya, membisikkan pelan agar ia membolos pada jam pelajaran pertama.
Dengan senyum licik, Saena mengambil ponselnya di ransel dan mengetik pesan ke sahabatnya, Baekhyun. Ia sedikti komat-kamit membaca ulang pesannya.
To : Bacon
Baekhyunie, temani aku melewatkan jam pertama ya!
Akhirnya Saena mengikuti hasutan setan yang ada di kepalanya. Dan menjadi setan karena mengajak Baekhyun juga untuk membolos pada jam pertama ini.
From : Bacon
Mianhae Saena-ya, aku ada ulangan hari ini 
Alhasil Saena hanya mendesah berat sesaat membaca balasan Baekhyun. Kenapa pada waktu yang sangat tepat seperti Baekhyun malah disibukkan dengan ulangan sih, batin Saena sembari menendang-nendang udara kosong di depannya.
To : Bacon
Baiklah….Aku akan berjuang sendiri utuk membolos.
Ingat Baek! Jangan pernah mengisi sembarangan jawabanmu!
Saena berjalan mengedap-endap menuju kantin sekolahnya. Sesekali ia harus bersembunyi dari guru yang sekedar lewat ataupun satpam yang sedang menggoda menjaga kantin dengan rayuan gombalnya. Menjijikan.
Dengan keahliannya bersembunyi dan menyeludup seperti ini. Bisa di pastikan jika Saena dengan mulusnya dapat lolos dari incaran siapapun.
“Eonni..Aku pesan jus jeruk ya?”
Saena tersenyum lebar sembari duduk di salah satu kursi dimana seharusnya itu deperuntukkan bagi penjaga toko kantin.
“Membolos lagi ya?” tebak salah satu penjaga kantin yang tiba-tiba dibelakang Saena.
Saena hanya mengisyarakat penjaga kantin itu dengan menaruh telunjukknya di bibir Saena, membuat penjaga kantin itu hanya mengangguk lalu menganjungkan jempol.
“Mana Baekhyun?” Saena hanya menggeleng lemah dan meraih jus jeruk itu dari penjaga kantin. Kemudia dengan rakus ia menyeruput kasar jus jeruk itu. Entah tenggorokannya memanas sejak tadi.
“Baekhyun ada ulangan Eon…”
Penjaga kantin yang disebut Eonni oleh Saena itu hanya mengangguk pelan seraya membersihkan sisa jus yang ia gunakan setelah membuatkan pesanan Saena. Kemudian dengan gerakan reflex ia menatap Saena penuh tanda tanya.
“Kenapa menatapku seperti itu Eon? Menakutkan!” Saena menatap aneh menjaga kantin itu, merasa ada yang yang tak beres dengan sikapnya.
“Kau akan menikah ya?” Saena meneguk salivanya kasar. Pikirannya tiba-tiba blank seketika, pening merayap tak terkendali memenuhi kepala kecilnya.
“Bagaimana Eonni tahu?” ada nada ragu dan bingung saat Saena bertanya. Ia benar-benar gugup sekarang.
“Haha…Santai saja Saena. Aku tahu dari Baekhyun kemarin. Sebelum kamu mejemputnya kesini. Ia sempat mengomel tak jelas tentangmu.”
Saena seketika ingin meatahkan tulang Baekhyun. Mengahncurkannya menjadi serpihan, lalu membuang serpihan itu ke Sungai Han.
“Entahlah Eon, aku tak bisa berpikir jernih untuk saat ini…..”
*******
Baekyun menyempatkan untuk mampir ke kelas Saena saat istirahat terakhir. Saat Baekhyun memasuki kelas Saena, ia memperhatikkan Saena dari kejauhan sedang mencet-coret asal lembaran kertas di depannya.
“Tak ingin pulang bersama?”
Saena menengok sebentar Baekhyun, lalu mengabaikkannya dan melah lebih asyik dengan lembaran kertas itu.
“Saena-ya? Kau marah padaku?” Saena menggeleng lemah, ia sempatkan untuk melirik Baekhyun yang menempatkan dirinya di tempat Dahee yang sedang mengurusi adsministrasi ke central office.
“Aku tak bisa membayangkan jika menjadi istri dalam tiga hari lagi Baek!” Baekhyun memajukkan tubuhnya, mencoba membuka lebar-lebar indera pendengarnnya. Apa yang sebenarnya dikatakan Saena?
“Apa maksudmu? Kau akan menika-..”
“Aww..”
Baekhyun mengelus kepalanya. Kekerasan yang Saena berikkan saat ini cukup membuat bibir tipis Baekhyun berhenti berbicara dengan nada satu oktaf.
“Jangan teriak-teriak bodoh..”
Baekhyun mengerucutkan bibirnya. Tangannya masih setia mengelus tengkorak kepalanya. Sepertinya pukulan Saena yang ia layangkan pada Baekhyun benar-benar keras.
“Sudahlah, aku tak ingin beradu mulut denganmu Baek. Pulanglah dengan mobilku, aku ada janji,” ujar Saena yang terlihat benar-benar frustasi.
“Dengan calon suamimu?” Saena menatap tajam Baekhyun lagi, matanya berkilat menahan amarah. Bukan karena Baekhyun yang bertanya dengan nada hampir seperti mengejek. Tapi, suara yang terdengar memenuhi kelas Saena inilah alasan bagi Saena untuk marah. Benar-benar Baekhyun tak bisa diandalkan.
“Wae? Ada yang salah denganku?” Baekhyun sedikit gemetar ditempatnya, nada suaranya terdengar gagap. Ia menelan salivanya kasar.
“Baiklah, aku akan mencoba sesabar mungkin untuk saat ini,” Saena kembali focus dengan lembar kertasnya. Berbagai coretan linier yang tak terbentuk dengan rapinya memenuhi kertas yang semula putih itu sekarang tertutup dengan coretan pena hitan Saena.
Merasa ada yang tak beres dengan Saena. Baekhyun memajukkan tubuhnya. Memperhatikan Saena yang terlihat sibuk dengan lembaran kertasnya. Raut muka yang redup sesekali terlihat begitu jelas di mata Saena. Baekhyun yang menyadari keadaan Saena yang benar-benar tak bisa dikatakan baik hanya menghela nafas berat. Pasalnya Baekhyun mengetahui betul alasan perubahan sikap Saena sekarang ini.
Dengan gerakan pasti, tangan Baekhyun meraih pergelangan tangan Saena. Membuat Saena menghentikan aktivitasnya dan mendongak menatap Baekhyun penuh tanda tanya. “Lepaskan Baek!” hati Baekhyun meringis saat menatap lekat manic mata Saena. Ada rasa lelah, bingung, frustasi beradur campur disana. manic mata yang biasnya ceria sekarang terlihat begitu memilukan.
Tetap, Baekhyun masih dalam posisinya. Menatap Saena tanpa ingin mengabaikannya sedikitpun. “Apa ini yang dinamakan baik-baik saja?” Baekhyun meraih pipi Saena. Menghapus air mata Saena yang teredam di pelupuk matanya.
“Menangislah. Aku tahu itu pasti sakit.”
Saena bangkit dari kursinya lalu berlari pergi meninggalkan Baekhyun sendiri. Ia mungkin akan membolos pada jam selanjutnya seperti yang Saena lakukan pagi tadi. Dan Benar, ia harus mengutarakan perasaan yang ia sendiri tak mengeri. Mungkin menangis merupakan jalan satu-satunya yang dibutuhkan Saena saat ini.
*****
Luhan menatap tajam Saena yang sedang sedang sibuk dengan ponselnya. Rasa jengkel dan muak beradu sengit di dalam amarah Luhan yang membutanya hanya dapat mencengkram strinya kuat. Sesekali ia mendesah berat karena seseorang yang duduk disampinya itu dengan tak tahu malunya harus membuat Luhan menunggu lagi dan lagi. Padahal, jam pelajaran berakhir sekitar 30 menit yang lalu. Tak hanya itu, parkiranpun sudah sangat sepi.
Saena yang sebenarnya mengetahui betul Luhan sedang marah besar padanya tak ada niatan untuk berbasa-basi ataupun meminta maaf. Moodnya hari ini benar benar buruk hanya untuk menjelaskan kronologis Saena yang membuat Luhan harus menunggunya. Suara Saena pun seperti disumbat batu besar.
“Apakah kau akan terus seperti ini?”
Luhan bertanya tanpa menatap Saena walaupun sekilas. Rupanya, ia sungguh tak tahan lagi jika harus menunggu Saena setiap hari. Meskipun ini masih hari keempat mereka berdua pulang dan pergi bersama.
“Huh? apa yang-?” Saena memperhatikan Luhan saat ucapannya di potong sepihak oleh Luhan.
“Kau selalu membuatku menunggu Saena-ssi!” ada nada penekanan yang kuat pada kalimat yang terlontar dari bibir Luhan. Sepertinya Luhan sudah menyerah dengan kebiasaan Saena.
“Baekhyun selalu menunggu-,” Saena melupakan keadaannya sekarang. Ia bersama Luhan, bukan sahabatnya, Baekhyun. Dan Luhan adalah calon suminya. Bisa-bisanya ia dengan riangnya membela Baekhyun di depan calon suaminya.
“Aku tak peduli siapa yang menunggumu dan siapa yang selalu mengertimu. Yang kuminta jangan membuatku tambah membencimu.”
Pernyataan Luhan benar-benar mengkuliti tubuhnya perlahan. Sakit dan sesak bercampur aduk. Entah kenapa Jung Saena harus merasakan itu. Padahal rasa secuilpun untuk Luhan tak ada dihatinya. Apalagi rasa? Membayangkan mencintai Xi Luhan saja ogah-ogahan.
Saena tak menjawab. Ia hanya menundukan kepalanya dalam. Menatap roknya yang menutupi paha mulus Saena. Desahan kecil ia keluarkan, berharap rasa sesak dan sakit Saena menghilang. Alhasil Saena hanya diam sepanjang perjalanan menuju rumahnya.
Setelah dalam keningan yang mencekam. Luhan menghentikan mobilnya di depan rumah Saena. Menunggu beberapa detik untuk menyadarkan Saena yang tengah melamun. Saat Saena akan menyentuh pintu mobil Luhan. Ia membalikan tubuhnya karena mendengar seruan Luhan.
“Tunggu. Aku ingin berbicara denganmu Saena-ssi!”
Saena mencari posisi senyaman mungkin dikursinya. Dan ia sempat mendengar hembusan nafas Luhan yang begitu berat. Kemungkinan terbesarnya Saena siap untuk mendengarkan hal terburuk dari Luhan.
“Ada apa? Kau ingin membicarakan apa?”” akhirnya Saena angkat bicara karena Luhan tak kunjung membuka mulutnya .
“Apa kau tak ingin pernikahan ini dibatalkan? Maksudku kita tak saling mencintai, dan kau pasti memiliki seseorang yang kau idamkan untuk menjadi suamimu kelak bukan?” Luhan mengembuskan nafasnya lagi setelah panjang lebar mengungkapkan isi kepalanya.
Saena menatap Luhan dengan pandangan yang tak biasa. Membuat Luhan yang semula menatap Saena, malahan mengabaikan pandangan Saena kali ini.
“Apa kau memiliki seseorang yang kau harapkan?” suara Seana yang serak membuat Luhan menoleh lagi dan menatap Saena lekat. Senyum Luhan merekah saat Saena memepertanyakan perihal seseorang yang Luhan idam-damkan.
Mata Luhan berbinar, raut mukanya yang semula datar tiba-tiba terlihat begitu bahagia. “tentu saja Saena-ssi, aku ingin menikah dengan seseorang yang memang pilihan hatiku,” saking bahagianya, Luhan hampir menggunakan bahasa cina saat mengungkapkannya.
“Jadi kau memiliki kekasih?” Saena memperhatikan Luhan yang masih tersenyum-senyum menatap kedepan.
“Sejauh ini aku belum mendapatkan hatinya.”
Saena mengangguk-angguk seakan mengerti. Tapi, didalam hati Saena, ia tak tahu apa yang harus dikatakan pada Luhan selanjutnya.
“Bagaimana dengamu? Kau sudah memiliki-?” Saena dengan cepat memotong pertanyaan Luhan.
“Aku sudah memintanya untuk menikah denganku, tapi ia menolak keras permintaanku!”
Saena menghela nafasnya lalu tersenyum getir. Dilihatnya Luhan yang masih menatap kedepan tanpa ada keinginan merespon pernyataannya barusan.
“Jadi? Apakah kita akan menggagalkan rencana orang tua kita?” karena tak ada topic yang dibahas. Akhirnya luhan mempertanyakan kesimpulan dari obrolan dirinya dengan Saena. Luhan pikir, perjodohan konyol ini memang harus segera dibatalkan.
“Begitukah?” Luhan mengangguk semangat, ia sungguh bahagia jika Saena ingin berkerja sama dengannya.
“Tapi maaf Luhan-ssi, aku tak mempunyai seseorang seperti itu lagi. Jadi jangan harap pernikahan kita akan dibatalkan!”
Smirk terukir sempurna dari bibir tipis Saena, kemudian ia memegang lock pintu mobil Luhan dan mendorong pelan. Luhan yang sempat mematung mengepalkan tangannya kuat. Ia sungguh dikepung amarah saat ini. Sesaat Luhan juga tak percaya jika Saena akan bertindak di luar dugaannya.
Continue….

Ini Saena enaknya nikah sama Luhan apa Baekhyun ya? wkwkw
Jadi bingung author ini jalan cerita semakin absurd.
Ya udah tunggu aja ya di chapter 3 nya…hheheh

16 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Don’t Hate Me (Chapter 2)”

  1. sma Baek ajaaaa, Baek sma Sena cocok dehh aplgi mereka udh deket banget tuhhhh tpi sebenernya Baek ada rasa gak sma Sena? apa cmn nganggap Sahabat doang/?

  2. Katanya ‘Sena tidak seharusnya menikah dengan Luhan’, jika seperti itu, calon Sena di awal siapa kalo bukan Luhan?

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s