IRRESISTIBLE LOVE – SLICE #10 — IRISH’s Story

irish-irresistible-love (3)

Irresistible Love

With EXO’s Byun Baekhyun and OC’s Song Heekyung

Supported by :

EXO’s Park Chanyeol, OC’s Na Inryung, OC’s Byun Baekhee

A fantasy and romance story rated by PG-17 in chapterred length

DISCLAIMER

This is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life. And every fake ones belong to their fake appearance. The incidents, and locations portrayed herein are fictitious, and any similarity to or identification with the location, name, character or history of any person, product or entity is entirely coincidental and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art without permission are totally restricted.

©2015 IRISH Art&Story All Rights Reserved


 

—When love and hate becomes one—


Previous Chapter

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8 || Chapter 9 || [NOW] Chapter 10

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Preview Chapter 9~

“Chanyeol,” Gaeul berucap dengan nada menuntut, “kau sudah berjanji akan membawaku kemanapun di tempat tinggal manusia jika aku membantumu. Apa kau mau aku mengadukanmu pada Incubus lain karena kau berkhianat?”

Ucapan Gaeul kali ini membuat Chanyeol berdecak kesal.

“Ya. Ya. Baiklah. Kita pergi ke tempat yang lebih ramai.” ucapnya menyerah.

Sementara senyum terukir di wajah Gaeul. Chanyeol baru saja akan beranjak pergi saat tiba-tiba saja mendengar Gaeul berucap cukup keras.

“Chanyeol, lihat! Dia gadis manusia yang kau sukai!”

“Appa, tempat apa ini?” tanya Baekhee penasaran.

Baekhyun tersenyum, menatap gadis kecilnya penuh makna.

“Ini… rumah Eomma mu, Baekhee-ah.”

In Author’s Eyes…

Chanyeol duduk termenung. Tatapannya tertuju pada seorang gadis berambut sebatas bahu yang berdiri tak jauh darinya, menghadap sebuah etalase toko dimana Chanyeol yakin tatapan gadis itu pasti berfokus pada salah satu diantara kue-kue manis yang berjajar rapi di etalase.

Sejenak, timbul perasaan aneh dalam benak pemuda itu, mengingat bahwa gadis berambut sebatas bahu itu cukup familiar baginya—yang notabene tak pernah merasa tertarik pada manusia manapun—dan kehadiran gadis bersurai kecokelatan itu mengusiknya kini.

Tersentak, pemuda Park itu sungguh terkejut saat gadis yang sejak tadi diperhatikannya tiba-tiba saja menegakkan tubuh dan membalik badan. Tatapan mereka beradu, entah mengapa Chanyeol yakin itu, walau hanya untuk sepersekian detik yang sangat singkat, Chanyeol seolah merasa dunianya terhenti sesaat.

BRUGK!

Jelas-jelas pemandangan di depannya sekarang mengalihkan fokus Chanyeol. Bagaimana gadis berambut pendek itu tersenggol seseorang dan akhirnya, buku-buku yang dipeluknya di depan dada berjatuhan ke tanah.

Melempar pandang sejenak ke kiri dan kanan, Chanyeol akhirnya melesat dalam hitungan tak sampai sepersekian sekon menghampiri gadis itu. Sungguh Ia tak tahan untuk terus diam seperti ini.

Gwenchanayo?” Chanyeol mencoba memulai konversasi antara dirinya dan gadis yang sedari tadi diperhatikannya dalam diam itu.

“A-ah, ya, gwenchana. Gomawo…” gadis itu menjawab dengan suara yang entah sejak kapan menjadi nada khas di pendengaran Chanyeol.

Ia tahu gadis ini tidak setenang saat ini. Ia ingat jelas walau dalam beberapa menit saja, bagaimana gadis ini dulu pernah menangis. Dan suara tangis itu begitu melekat di ingatan Chanyeol.

“Lain kali perhatikan jalanmu,” Chanyeol berucap sebelum Ia mengulurkan buku yang ada di tangannya.

Gadis itu mendongak, mengumbar senyum yang lagi-lagi sanggup membuat Chanyeol merasa dunianya sejenak berhenti berputar. Seolah keadaan di sekitar mereka membeku sejenak dan hanya Ia juga gadis di hadapannya ini lah yang ada.

“Terima kasih,” gadis itu melempar pandang ramah dan juga senyum manis pada Chanyeol, satu hal yang seolah menjadi tamparan baginya.

Gadis ini tidak mengingatnya.

Beberapa detik hanyut dalam keterperangahan dan ketidak sadaran, Chanyeol akhirnya bangkit, berdiri menjajari gadis yang nampaknya sudah berdiri sedari tadi dan membersihkan buku-buku di tangannya dari debu akibat terjatuh tadi.

Sementara Chanyeol masih berdiri mematung, menatap lamat-lamat sebelum bibir nya akhirnya terbuka membentuk kalimat.

“Boleh aku tahu siapa namamu?” gadis di hadapan Chanyeol mengalihkan atensinya dari buku di tangan, dan kembali, tersenyum ramah pada Chanyeol sebelum Ia menjawab.

“Tentu saja, namaku Inryung, Na Inryung.”

Detik itu juga Chanyeol ingin musnah saja dari hadapan gadis di hadapannya ini.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Rumah Eomma?”

Baekhyun termenung sesaat. Tentu saja gadis kecil di gendongannya tak akan mengerti. Karena mungkin Baekhyun jadi satu-satunya Incubus yang memberitahukan hal semacam ini pada keturunannya.

“Apa kita bisa punya rahasia kecil?” Baekhyun kembali berucap.

Sementara Baekhee mengerucutkan bibir mungilnya, tampak berpikir sebelum Ia mendekatkan wajahnya ke arah Baekhyun.

“Apa Paman Chanyeol tidak boleh tahu rahasianya juga?”

Chanyeol. Ah. Mengingat nama itu membuat Baekhyun ingat jika putri kecilnya begitu dekat dengan Chanyeol. Entah karena alasan apa, terkadang Baekhyun merasa jika Chanyeol tahu lebih banyak tentang putrinya daripada Ia sendiri.

“Ya, Paman Chanyeol juga tidak boleh tahu.”

“Baiklah,” Baekhee mengangguk-angguk antusias, “apa rahasianya?” sambungnya masih dengan ketertarikan yang sama.

Baekhyun menatap sejenak gadis mungilnya, sebelum Ia menyerah karena entah mengapa sisi dirinya seolah menatap sosok yang sama saat memandang Baekhee.

“Baekhee… punya seorang Eomma.” Baekhyun memulai, sementara gadis kecilnya masih memasang ekspresi yang sama.

“Lalu?” tanyanya dengan nada kekanak-kanakkan khas dalam suaranya.

“Dia sangat cantik, sepertimu, dan dia juga sangat baik…” Baekhyun tampak mengenang, “dia… selalu percaya pada semua ucapan Appa.”

Baekhyun terhenti sejenak, melempar pandangnya ke arah Baekhee sementara gadis kecil itu masih memandangnya antusias.

“Lalu dimana Eomma Baekhee sekarang? Kenapa Baekhee tidak pernah melihatnya?” timbul satu rasa bersalah dalam diri Baekhyun ketika mendengar pertanyaan itu.

Eomma mu… Dia sudah—”

KRIIETT!

Baekhyun terhenti saat gerbang di depannya berbunyi cukup nyaring hingga mengalihkan fokusnya. Tatapan namja itu segera tertuju pada sumber suara, tapi detik itu juga Ia mematung.

Di hadapannya, sosok gadis yang dipikirnya sudah mati beberapa bulan lalu kini tampak terbalut jaket tebal dengan sebuah tas bahu kecil tersampir di sisi bahunya. Rambut panjang gadis itu dibiarkan terurai sementara pipi pucatnya tampak kemerahan menahan dingin.

Appa?”

Baik perhatian Baekhyun, maupun gadis itu, teralihkan begitu suara nyaring Baekhee terdengar. Tapi bukan malah mengalihkan pandangannya, Baekhyun memutuskan mengunci tatapan gadis itu selama beberapa saat.

“Song Heekyung…” tanpa sadar kata itu meluncur keluar dari mulut Baekhyun, membuat tatapan gadis di hadapannya membulat.

“Kau… mengenalku?” tanya gadis itu dengan suara yang sanggup membuat Baekhyun ingin menarik gadis itu dalam pelukannya sekarang juga.

Tapi mengingat bahwa gadis itu tidak seharusnya ada, bahwa gadis itu seharusnya sudah mati, rahang Baekhyun terkatup.

Ia yakin seseorang telah menyebabkan ini semua.

Segera, Baekhyun mengalihkan pandangannya, menatap gadis kecilnya sesaat sebelum Ia akhirnya merajut langkah meninggalkan gadis yang tak lain adalah Song Heekyung itu begitu saja, dalam kebingungan.

Appa? Kenapa?” Baekhyun mengabaikan pertanyaan Baekhee, dan terus berfokus pada gelapnya malam yang sekarang membentengi.

Sementara rahangnya masih terkatup, satu nama sekaligus satu wajah kini ada di benaknya.

“Park Chanyeol… Apa yang sudah kau lakukan?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Heekyung-ah, gwenchana?”

Gadis yang sedari tadi melamun dengan menopang dagunya, Song Heekyung, mendongak, menatap gadis berambut sebatas bahu yang memandangnya dengan tatapan khawatir.

“Apa, Inryung-ah?” ucapnya tersadar dari lamunannya.

Aish, kau melamun terus sedari tadi. Ada apa?” tanya Inryung dengan nada khawatir yang membuat Heekyung terkekeh pelan.

Gwenchana, mengapa wajahmu sesedih itu huh?” ucap Heekyung membuat Inryung menekuk wajahnya, dan akhirnya duduk di sebelah gadis itu.

“Tapi dari tadi pagi kau melamun. Apa ada sesuatu terjadi?”

Mendengar pertanyaan Inryung, Heekyung mendesah pelan. Ya, memang sesuatu terjadi semalam.

Heekyung melirik sekilas, sebelum akhirnya Ia memutuskan untuk bicara.

“Oh… Ada yang aneh semalam,” ucap Heekyung memulai.

Inryung membulatkan matanya penasaran, dan sekaligus mendekatkan wajahnya pada Heekyung.

“Benarkah? Apa itu?” tanyanya sedikit berbisik, seolah mereka berdua adalah detektif rahasia Korea.

Alih-alih merasa risih karena tindakan Inryung, Heekyung malah semakin memelankan suaranya, mereka berdua benar-benar bersikap seperti mata-mata.

“Semalam, ada pria aneh di depan rumahku.” ucap Heekyung berbisik.

“Benarkah? Siapa dia?” tanya Inryung penasaran.

“Ish…” Heekyung merutuk kesal, “kalau aku mengenalnya aku pasti tidak bilang dia ‘pria aneh’.” sambungnya masih dengan nada kesal yang membuat Inryung terkekeh pelan.

Cepat-cepat, Inryung menutup mulutnya dan kembali memandang serius.

“Memangnya dia aneh karena apa?”

Heekyung terdiam sejenak.

“Umm, itu… dia sangat tampan.” ucapan Heekyung sekarang membuat Inryung menjauhkan tubuhnya, menatap sedikit kesal.

Ya! Kau mau mengerjaiku huh? Mana ada pria aneh karena dia tampan?” tanyanya kesal.

Segera, Heekyung menarik leher sahabatnya itu, dan kembali berbisik.

“Aku belum selesai, bodoh. Dia sangat tampan… dan dia menggendong seorang anak kecil yang sangat lucu… Lalu kau tahu apa?” ucapan Heekyung tak ayal mengundang rasa penasaran berlebihan dari dalam diri Inryung.

“Apa? Apa? Cepat katakan.” desaknya.

“Dia… menyebut namaku.”

“Oh!” Inryung tersentak dengan sikap berlebihan, matanya terbelalak seolah kalimat itu baginya adalah informasi penyelundupan internasional yang baru diungkapnya, sementara kini Heekyung menatap bingung.

“Kenapa denganmu? Kau kenal pria itu?” tanyanya bodoh.

Ani, aku tidak tentu saja,” Inryung menyahut polos, “tapi dia memang pria aneh. Kau bilang kau tidak kenal padanya tapi dia tahu namamu.” sambungnya.

Heekyung mengangguk-angguk setuju.

“Tapi ada yang lebih aneh lagi, Ryung-ah.” Ia kembali bicara.

“Benarkah? Apa itu?” tanya Inryung makin penasaran.

“Saat dia menyebut namaku… tiba-tiba saja jantungku berdegup sangat kencang… tidakkah itu aneh?” tanya Heekyung.

Inryung segera memasang raut serius.

“Mungkin karena kau terkejut.” ucapnya menyimpulkan, tapi Heekyung menggeleng pasti.

“Tidak, aku tidak terkejut. Ya memang aku terkejut karena dia tahu namaku, tapi… kurasa bukan itu yang membuat jantungku seperti semalam.”

“Lantas apa yang membuat jantungmu begitu?” tanya Inryung.

“Entahlah… rasanya seperti… suaranya sangat kukenal.”

Inryung yang tadinya menatap serius, lagi-lagi mendelik kesal.

Tsk, kurasa itu karena yang memanggilmu adalah seorang yang tampan, jadi kau ingin membuatnya seperti di drama.” komentarnya cukup pedas membuat Heekyung balik melotot.

Ya! Memangnya aku sepertimu yang menangis hanya karena pemain utama drama nya mati huh?”

Aish, memangnya kau tidak sedih? Kematian itu menyeramkan, tahu. Bagaimana jika dua pemain utamanya tidak bisa bersatu karena salah satunya mati?”

Heekyung terdiam sesaat.

“Mudah saja, tinggal cari pemain utama baru yang menggantikannya.”

Ya! Song Heekyung! Kau menyumpahi pemain utama drama favoritku mati huh?” tanya Inryung menuntut.

“Tidak,” Heekyung menggeleng cepat, “aku hanya bilang kalau kau terlalu sering menangis karena sebuah drama, Na Inryung.”

“Itu sama saja. Kau sendiri juga menangis karena drama kan?”

Huh? Drama mana?” Heekyung menyernyit.

“Itu! Drama yang kau bilang selalu kau tonton larut malam bersama seseorang itu, kau bilang kau menangis karena pemeran utamanya jahat dan pemeran utama lainnya selalu dijebak!”

Alis Heekyung makin bertaut.

“Memangnya aku pernah melihat drama sampai larut malam?”

“Ya, kau bilang sendiri waktu itu.” Inryung mengangguk yakin.

Keundae, Na Inryung, bukankah tidak ada drama yang di putar jika sudah larut?” pertanyaan Heekyung membuat Inryung dengan kecepatan ekstra mengeluarkan majalah favoritnya—majalah yang selalu Ia beli karena ada jadwal penayangan drama di dalamnya—dan menatap serius.

“Kau benar, tidak ada drama lagi setelah jam 9 malam. Lalu… drama apa yang kau lihat itu?” tanya Inryung.

Heekyung menggeleng.

“Aku tidak tahu. Lagipula, kapan aku menceritakannya padamu?”

Kali ini Inryung melongo. Ia menatap Heekyung serius.

“Aku tidak ingat… tapi aku yakin kau pernah bercerita seperti itu.”

Heekyung berdecak kesal.

“Kau perlu ke dokter untuk memeriksakan ingatanmu, Na Inryung. Kau sekarang sudah seperti nenek-nenek yang pelupa.”

Heol! Bagaimana denganmu? Kau juga bilang bertemu orang aneh dan jantungmu langsung berdegup bukan? Kau perlu memeriksakan jantungmu, Song Heekyung.” balas Inryung tak mau kalah.

Heekyung memilih bungkam, tak ingin berdebat lebih jauh lagi dengan sahabatnya itu. Diam-diam, gadis itu bingung juga karena ucapan Inryung tentang dirinya.

“Keundae, Inryung-ah…”

Mwo? Kau mau berdebat apa lagi?” tantang Inryung.

Heekyung menatap serius gadis di sebelahnya, sebelum Ia berucap.

“Apa aku pernah kecelakaan sebelum ini? Kenapa rasanya… seperti ada sesuatu yang aku lupakan?”

Inryung terdiam sejenak.

“Aku juga merasa begitu…” Ia mengangguk-angguk, dan kemudian menepuk punggung tangan Heekyung, “kita sama-sama belum mengerjakan tugas dari Kim seonsaengnim, Heekyung-ah.”

Tatapan Heekyung seketika membulat.

Ya! Na Inryung! Kenapa kau tidak bilang jika ada tugas dari Kim seongsaengnim?!”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Appa…”

Baekhyun menatap gadis kecil di pangkuannya, sejenak, sebelum Ia kembali memandang keluar jendela.

“Ya… Baekhee-ah.”

Unnie waktu itu… Apa dia…”

Baekhyun tersenyum, mengusap puncak kepala putri kecilnya dan mengangguk.

“Ya, dia Eomma mu, Baekhee-ah. Cantik bukan?” tanyanya membuat senyum kecil muncul di wajah Baekhee.

“Hmm, dia sangat cantik…” gumam Baekhee mengulum nada ceria, “tapi kenapa Appa tidak bicara dengannya?” pertanyaan Baekhee membuat Baekhyun terdiam sejenak.

Appa tidak boleh bicara dengannya, Baekhee juga tidak boleh bicara dengan Eomma.”

“Kenapa?” Baekhee menatap pemuda itu dengan penuh tanda tanya.

“Karena ini rahasia. Baekhee ingat kan?”

“Ah! Ya, aku ingat…”

Baekhyun lagi-lagi tersenyum.

“Nanti, kalau waktunya sudah tiba, Appa akan membolehkanmu bicara dengan Eomma. Dan sampai hari itu datang, Baekhee tidak boleh memberitahu siapapun tentang Eomma, arraseo?”

Baekhee mengangguk-angguk cepat, merangkulkan lengan kecilnya di leher Baekhyun.

Nae, arraseo. Aku tahu, pasti Appa bilang aku boleh menemui Eomma setelah aku besar nanti.”

Terukir senyum cerah di wajah Baekhyun, menghapus senyum muram yang sedari tadi menghiasi wajahnya.

“Ya, jika Baekhee sudah besar nanti, Eomma pasti akan sangat senang bertemu denganmu, ini… rahasia antara Appa dan Baekhee saja, mengerti?”

Baekhee mengangguk.

“Aku tidak akan beritahu siapapun!” janjinya.

Baekhyun mengusap puncak kepala gadis kecil itu, sebelum Ia akhirnya tak lagi bisa membendung perasaan aneh yang sejak tadi melingkupi batinnya.

Appa akan keluar sebentar, Baekhee tunggu di sini dan main bersama Oppa yang lain, arraseo?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Ugh, ini semua karenamu, Ryung-ah. Kita jadi pulang selarut ini.”

“Aku? Aish, kau juga, biasanya kau rajin mengerjakan tugas.”

Sepanjang jalan dengan penerangan minim itu kini berisik karena perdebatan tak henti dari dua orang sahabat. Tak salah lagi, Heekyung dan Inryung-lah mereka, yang terpaksa pulang hampir jam setengah sembilan malam karena menerima hukuman di sekolah.

“Aish, aku tidak suka lewat jalan sepi seperti ini.” Heekyung akhirnya menghentikan perdebatan.

“Oh, geurae. Apalagi jalan ke rumahmu gelap begitu.” Inryung menunjuk jalan kosong di depannya dengan dagu.

Tsk,” Heekyung hanya menggerutu kesal, sementara kakinya tetap berayun merajut langkah.

“Ryung-ah, kau tidak mau mengantarku pulang?”

Michyeoseo? Lalu siapa yang akan mengantarku pulang huh?”

Pendengaran tajam Baekhyun tersentak saat menangkap pembicaraan itu tak jauh dari tempatnya sekarang berdiri. Tentu saja, seperti sebuah déjà vu, keadaan di depannya sekarang sungguh sama persis seperti beberapa bulan lalu.

Bagaimana Heekyung dan Inryung berdiri di persimpangan jalan, dan berdebat tentang bagaimana cara mereka sama-sama bisa pulang dengan selamat.

“Heekyung-ah, jangan bilang… kau termakan gosip anak-anak tentang Incubus dan Succubus itu?”

Senyum tanpa sadar terukir di wajah Baekhyun. Dua orang itu masih sama-sama tidak berubah, pikirnya.

Ya! Jangan menyebutnya. Kau membuatku semakin takut saja,” gerutu Heekyung.

“Begini saja, aku akan lari ke rumah, dan kau juga lari ke rumah. Bagaimana?”

Heekyung terdiam sejenak.

“Bagaimana kalau—”

“Dihitungan ketiga. Satu… Dua…”

“Tiga!” Heekyung mengucapkan kata ‘tiga’ dengan cukup keras dan bahkan Ia berlari mendahului Inryung.

Berbeda memang dengan pemandangan yang dulu di lihat Baekhyun, tapi dua orang gadis itu masih mengundang rasa gelinya karena tindakan mereka sekarang. Pada akhirnya, Baekhyun hanya bisa menerka-nerka, apa Song Heekyung akan terhenti lagi karena lampu di ujung jalan rumahnya yang mati?

Lagi-lagi, seolah melihat kejadian yang sama terulang, Baekhyun terdiam saat Heekyung terhenti di bawah lampu jingga yang menerangi satu-satunya jalan pulangnya.

“Kapan tukang listrik negara akan datang dan memperbaikimu… Ish…” Ia menggerutu pelan, kepala gadis itu melongok-longok seolah memastikan sesuatu yang bisa Baekhyun ingat dengan jelas.

Perlahan, Baekhyun merajut langkah, mendahului gadis itu. Ia tersenyum tanpa sadar saat mendengar suara langkah Heekyung di belakangnya. Benar-benar sama seperti dulu saat mereka pertama kali bertemu.

Beruntungnya, tak ada suara tawa menyeramkan dari beberapa orang yang dulu menakuti Heekyung. Sehingga gadis itu hanya mengikuti langkah Baekhyun sampai mereka tiba di tempat dengan penerangan yang cukup.

Sejenak kemudian, Baekhyun tak lagi sanggup menahan keinginannya untuk bicara pada gadis itu. Ia membalikkan badannya, membuat Heekyung—yang masih berjalan beberapa langkah di belakangnya tadi—sontak terkejut bukan main.

Bukan hanya karena sosok yang menjadi tamengnya tadi berbalik, tapi juga karena sosok ini juga yang tadi pagi dibicarakannya pada Inryung!

“Jangan melewati jalan sepi dan gelap lagi jika kau pulang di malam hari, Song Heekyung.”

Ucapan itu sanggup membuat jantung Heekyung seolah ingin melompat dari persinggahannya. Sungguh, Ia tidak mengerti kenapa jantungnya seperti ini, tapi ucapan pemuda di hadapannya sangat membuatnya terkejut.

“AAh, ya…” gumamnya tanpa sadar.

Sementara tak mendengar sahutan yang Ia rasa Ia inginkan, Baekhyun akhirnya berbalik, hendak melangkah meninggalkan gadis itu saat sebuah suara terdengar.

“Bagaimana kau tahu namaku?”

Baekhyun terhenti sejenak, berbalik menatap Heekyung.

“Apa kita… saling mengenal?” tanya Heekyung lagi.

Ya. Ingin sekali Baekhyun melontarkan kalimat itu pada Heekyung, tapi Ia tak mungkin melakukannya. Jadi pemuda itu hanya menghela nafas singkat.

Nametag-mu.” jawabnya singkat.

Heekyung menatap nametag di seragamnya, Ia lantas memandang pemuda itu lagi.

“Kau juga menyebut namaku malam itu, saat itu aku tidak memakai seragam.” ucapnya sarat akan rasa penasaran.

Baekhyun terdiam sejenak, “Jadi… kau benar-benar tidak mengingatku?”

Pertanyaan itu membuat Heekyung terkesiap.

“Apa… aku seharusnya mengenalmu?”

Tak ingin lebih jauh membuat gadis itu bertanya-tanya, Baekhyun akhirnya tak ingin lebih lama bicara dengan gadis itu.

“Maafkan aku, Song Heekyung.”

“N-Nde?”

Tak menyahut apapun, Baekhyun segera berbalik, melangkah cepat meninggalkan gadis itu, sementara Heekyung hanya berdiri mematung di tempatnya berada, merasa aneh saat pemuda itu mengucapkan namanya dan baru saja… meminta maaf padanya.

“Kenapa… Ia meminta maaf padaku?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Beberapa hari dihabiskan Baekhyun untuk menunggu kembalinya Chanyeol. Pemuda Park itu tampaknya begitu sibuk di kediaman manusia tanpa peduli jika Baekhyun sekarang menuntut penjelasan darinya.

Tapi keinginan Baekhyun untuk menanyai pemuda itu atas apa yang terjadi sungguh kuat. Dan petang ini, di hari keempat penantiannya, seolah melihat saja sudah cukup menjadi jawaban bagi Baekhyun, Chanyeol muncul dengan seorang yang mengejutkannya.

“Yoo Gaeul. Aku tahu apa yang sudah kau lakukan.”

Gadis itu, Gaeul, menatap dengan ekspresi mematung. Sungguh, Ia tak menduga jika sosok di hadapannya akan mengucapkan kalimat itu.

“C-Chanyeol—”

SRAK!!

Alangkah terkejutnya Gaeul ketika tak sampai satu detik—gadis itu bahkan tak sempat berkedip—ketika tubuhnya sudah terhempas ke tembok, dengan lengan Baekhyun mencekiknya cukup kuat. Pemuda itu baru saja menerjangnya dengan kasar.

“Apa yang sudah kau perbuat pada Heekyung!?”

Segera, melihat amarah Baekhyun membuat Chanyeol menengahi. Pemuda itu menarik Baekhyun cukup keras, membantu Gaeul berdiri dan sekaligus menyembunyikan gadis itu dibalik punggungnya.

“Jangan menyentuhnya, Byun Baekhyun.” ucap Chanyeol penuh penegasan.

Sepasang mata Baekhyun segera tertuju pada Chanyeol, geram.

“Hah, jadi kau yang ada dibalik semua ini?” tanyanya membuat Chanyeol terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab.

“Sebenarnya, apa yang membuatmu begitu marah, Baek?”

Baekhyun mengerjap cepat. Pertanyaan bodoh macam apa yang Chanyeol utarakan padanya? Tidakkah alasan kemarahan itu sudah cukup jelas?

“Kau! Aku memintamu membunuh Song Heekyung! Tapi apa yang kulihat dengan mataku adalah Ia masih hidup! Dan kau bahkan tidak memberitahuku jika Ia masih hidup!”

Teriakan Baekhyun agaknya cukup keras untuk dapat di dengar seisi ruangan. Tapi Chanyeol tak gentar, dan malah tersenyum tenang menghadapi amarah Baekhyun.

“Baekhyun, bukankah dulu… aku yang jadi orang jahat disini?”

Pertanyaan itu membuat Baekhyun mencelos.

“Kenapa sikapmu seperti ini Baekhyun? Aku sungguh tidak mengerti, apa yang sebenarnya membuatmu lebih merasa marah. Heekyung yang tidak kubunuh, atau aku yang tidak memberitahumu jika Ia masih hidup?”

Lagi-lagi Baekhyun merasa seolah ditampar oleh pertanyaan Chanyeol. Ya. Benar juga. Memangnya apa yang membuatnya benar-benar merasa semarah ini?

“Keduanya.” Baekhyun akhirnya menemukan suaranya.

“Keduanya?” ulang Chanyeol sedikit bingung.

“Ya. Keduanya, Park Chanyeol. Apa kau tahu alasan yang membuatku ingin membunuh Song Heekyung? Dan sekarang, apa kau tahu alasan yang membuatku begitu marah karena kau tidak memberitahuku Ia masih hidup?”

Seolah ucapannya menjadi pertanyaan, Chanyeol menyernyit. Memang, Baekhyun tak pernah mengungkap apa alasan Ia secara tiba-tiba ingin membunuh Song Heekyung, padahal Chanyeol tahu dan yakin jika pemuda itu sebenarnya memiliki rasa untuk Song Heekyung.

Menyerah, Chanyeol akhirnya mengangguk.

“Baiklah, sekarang jelaskan padaku apa alasannya.”

Baekhyun terdiam sejenak.

“Aku tak ingin Ia melupakanku.”

“Apa?” lagi-lagi alis Chanyeol dipaksa untuk bertaut bingung karena ucapan Baekhyun.

“Aku ingin Ia mati… karena setelah melahirkan keturunanku… Ia tak akan mengingatku. Dan kami tak bisa bersama. Daripada melihatnya bersama manusia lain… bagiku lebih baik jika tidak seorangpun memilikinya. Aku bicara seolah aku membohonginya… agar Ia membenciku. Agar Ia tahu jika seorang monster telah jatuh cinta kepadanya.”

Chanyeol terperangah. Alasan Baekhyun adalah alasan terbodoh sekaligus alasan paling klasik yang pernah masuk dalam otaknya tapi juga tak pernah diduganya sama sekali.

“Byun Baekhyun!” Chanyeol berucap cukup geram, tapi Baekhyun lagi-lagi bicara memotongnya, “Alasanku marah karena kau tak memberitahuku dia masih hidup…” Chanyeol terpaksa menelan kalimatnya saat Baekhyun berucap.

“Apa? Pasti sebuah alasan bodoh lagi bukan?” ucap Chanyeol menerka.

Baekhyun tertawa pelan.

“Ya. Kau benar. Alasannya juga sama bodohnya…” sejenak Baekhyun menggantung ucapannya, “karena jika aku tahu Ia masih hidup, aku pasti menemuinya lebih cepat dan meminta maaf padanya karena telah membuatnya kecewa.”

Sungguh, Chanyeol tak mengerti dengan ucapan Baekhyun sekarang. Pemuda itu membolak-balik ucapan Baekhyun dalam otaknya, sebelum Ia mengeluarkan kalimat yang menjadi kesimpulan yang didapatnya.

“Lalu, kenapa kau tidak biarkan Heekyung hidup setelah melahirkan Baekhee? Kau masih bisa menemuinya bukan? Kenapa kau harus gunakan cara bertele-tele seperti ini?”

“Untuk apa aku menemuinya jika Ia tidak mengingatku?”

“Dan kau bilang kau ingin menemuinya lebih cepat jika kau tahu Ia masih hidup.” lagi-lagi Chanyeol berucap.

Baekhyun terdiam.

“Aku tak bisa menjelaskannya, Chanyeol. Disatu sisi, aku sangat membencinya. Kenapa Ia harus diciptakan sebagai seorang manusia… dan bukannya bangsa kita? Kenapa bangsa kita… tidak diizinkan untuk mengubah seorang manusia untuk menjadi sama dengan kita?

“Tapi disatu sisi, aku sadar aku tak pernah menemui gadis sepertinya. Seorang sempurna sepertinya yang sanggup membuatku tak lagi membenci manusia. Aku jatuh cinta padanya sehingga aku semakin benci pada takdir yang ada.

“Bukankah tidak adil, Chanyeol-ah? Jika perasaan cinta dan benci bersatu seperti ini… bukankah hanya perpisahan jalan terbaik yang ada?”

Chanyeol mengerti. Ia sungguh mengerti perasaan Baekhyun sekarang. Pemuda itu terang mengakui Ia nyatanya telah jatuh cinta pada Song Heekyung, seorang manusia. Tapi Ia tahu mereka tak bisa bersama.

Kenapa? Tentu saja karena mereka berbeda. Dan perbedaan fatal itu bukanlah perbedaan yang bisa disatukan seperti yang ada di dalam film atau drama buatan manusia.

Tak ada bangsa mereka yang bisa merubah seorang manusia menjadi sama seperti mereka. Itu adalah aturan mati.

Dan jika saja Baekhyun memilih untuk terus bersama dengan Song Heekyung, hasilnya akan sama saja, sebuah perpisahan akan terjadi. Karena Song Heekyung seorang manusia dan pastinya akan mati.

Chanyeol mengerti kenapa Ia membenci Song Heekyung dan lebih ingin melihat gadis itu mati tepat setelah melahirkan bayinya. Karena Baekhyun tak ingin membayangkan gadis itu akan bahagia bersama lelaki lain yang bukan dirinya.

Ya, Chanyeol tahu Baekhyun egois. Tapi bukankah cinta memang egois?

Ia juga kini mengerti kenapa Baekhyun begitu marah karena Ia tak memberitahu jika Heekyung masih hidup. Karena Baekhyun pasti sangat merindukan gadis itu, dan sungguh ingin meminta maaf karena telah mengecewakannya di akhir kebersamaan mereka.

“Baek…” Chanyeol akhirnya menemukan suaranya.

“Kau masih mengatakan alasanku ini bodoh? Aku mengerti. Karena kau tidak merasakan apa yang aku rasakan. Kau tak harus terjebak dalam perasaan bodoh yang membuatmu mencintai seseorang yang fana.

“Tapi aku tahu kau mengerti Chanyeol. Bagaimana rasanya… ketika kau… yang tak akan pernah mati, mencintai seseorang yang pasti mati. Apa kau pikir aku sanggup membayangkan hidup ribuan tahun lagi dengan terus mengingat Song Heekyung?”

Chanyeol menelan kalimat yang akan Ia utarakan tadi. Alih-alih merasa marah pada pemikiran bodoh Baekhyun yang tadi ingin di tertawakannya, Ia malah merasa kasihan.

Karena Ia tahu, perasaan cinta yang dirasakan seorang Byun Baekhyun pada gadis bernama Song Heekyung, tak akan pernah bersatu. Mereka, tak akan pernah bisa bersama.

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

.

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH+Announcement

Yuhuu :v aku kembali dengan slice 10 IL yang kemarin sudah kumintain vote nya dari kalian semua. Seperti hasil vote ya, aku baik jadi Heekyung-Inryung aku kembaliin :v OC nya murni supported doang.

Dan juga, aku mencoba bikin sisi ‘sad’ nya :v sesekali bikin Baekhyun teraniaya. Entah ini berhasil apa enggak membuat kalian baper karena MEREKA GAK BISA BERSATU (sengaja di kepslok biar menantang) wkwk serius, mereka gak bisa bersatu loh, hayoh, gimana nih END nya XD wkwkwk. Karena aku baik TBC nya aku taruh di bagian gak menggantung (kata aku gak ngegantung sih) XD

Cuap-cuapnya gak banyak kan? Tapi ada 3 announcement yang mau aku sampein.

Satu, karena banyak part-part dari awal IL sampe chapter 10 yang ke-skip alias gak aku reveal, jadi setelah ini aku gak publish IL Slice 11 tapi aku publish sebuah Side Story buat cerita IL ini. Tulis aja di kolom komentar dari slice 1-10 bagian mana yang kalian pengen tahu (kalo bagian gimana Heekyung sama Inryung gimana bisa idup juga aku jelasin nanti).

Dua, ini serius, bukan karena kalian memilih Heekyung-Inryung kembali tapi karena emang aku gak mau ngebawa fanfict ini jauh dari alur sebenarnya, jadi dengan berat hati aku harus umumkan kalau IL akan END akhir tahun ini, paling lambat awal tahun depan, yang jelas sebelum pertengahan bulan depan, HOHOHO. Gomenasai~ keputusan ini juga supaya kalian gak merasa IL ini udah kayak sinetron yang sampe berseason-season ya~^^ supaya pure kisahnya Baekhyun-Heekyung dan sedikit pemanis buatan (?) yaitu kisahnya Chanyeol-Inryung. Aku juga punya beberapa projek buat awal tahun depan jadi gak mungkin kan kalau rebutan beberapa fanfict buat di publish, aku juga pusing ngerjainnya T~T daripada ceritanya jadi ancur mending aku END in aja.

Ketiga, aku sendiri belum yakin apa aja yang akan ada di Side Story nanti, yang jelas kalau sampe rate nya tinggi (aku juga cuma menduga-duga, sih) mungkin akan kupassword, tapi ini masih mungkin, karena aku gak ribet sebenernya orangnya, guys, gak begitu suka ribet2 password u,u

Udah, itu aja cuap-cuap dan announcement dariku. Terima kasih udah menyempatkan baca cuap-cuapku walaupun aku gak yakin berapa banyak yang ngebaca fanfict absurd ini dan bersedia merespon cuap-cuap dariku~^^

Sincerely, Irish. See you on my next fict!

WEDNESDAY – 25/11/2015 – 00:00 [KAJIMA – SLICE #5]
SUNDAY – 29/11/2015 – 00:00 [ONE AND ONLY – SLICE #10]
WEDNESDAY – 02/12/2015 – 00:00 [IRRESISTIBLE LOVE – SIDE STORY]

248 tanggapan untuk “IRRESISTIBLE LOVE – SLICE #10 — IRISH’s Story”

  1. oh, jd 2 OC itu cm jd cameo aja, kirain bkl di bikin ngejelimet, panjang berseason-season ky sntrn! wkkk~ hm.. duo sohib gadis baik2 itu msh pny potongan2 memory di masa lalu ya. sigh.. jd itu alasan baek ngomong jht ke heekyung yg pas mo lahiran itu, krn ga rela heekyung ktmu & jd milik namja laen, jika kau tdk jd milik ku, mk kau tdk blh jd milik siapa pun! ko melting yaa.. dr 2 chptr sblm’ny pengen nyinggung ttg trauma childhood’ny chan ttg eomma’ny tp klupaan mulu, skrg mumpung inget, terus eomma’ny apa kbr? ‘mendiang’ ayah’ny chan? emang’ny incubus & succubus ga immortal?? oh, wkt di chap awal2 yg baek ngobrol ma heekyung itu baek bilang ada ya yg bs bikin mrk mati..

  2. Ih jahat banget, kak irish buat baek nelongso…
    Huwaaa sedih banget, heekyung ilang ingatan. Kak iris, buat baek-heekyung endingnya bareng dong.kan kasian baekhee pengen bareng eommanya*wkwk modus*

  3. Cinta beda keyakinan aja nyakitin, apalagi beda alam. Duh dek, km tega amat bikin fanfict super baper kek gini 😢😢😢

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s