I Love You, Morning, Noon, and Night [#3]

llll

 

I Love You, Morning, Noon, and Night [#3]

Presented by  Honeybutter26

EXO Member x OC

Random Fic

[from Mencintaimu, Pagi, Siang, Malam by Andrei Aksana]

[#1] [#2]

Sanggupkah aku mencintai pagi, siang, dan malam?

 

Yixing x Wendy

Fluff, Romance

 

“Malam untuk kembali kesampingmu, hatiku terkunci lagi.”

 

Yixing merasa lelah. Hangat pagi telah terlupa, terhapus dan dibakar oleh panasnya hiruk pikuk siang. Dan kini malam telah datang. Diawali dari lembayung senja yang menjalar di ufuk barat, satu ingatan menghinggapi kepalanya.

 

Ingatan tentang dia yang jauh disana. Dia yang ia tinggalkan untuk memenuhi kehidupan fana.

 

Yixing pandangi pintu bercat hitam di depannya. Kata pulang selalu terasa menyenangkan. Lalu kemudian pintu terbuka, Yixing masuk dan meletakkan sepatunya dengan rapi, berjejer dengan beberapa teman sesamanya.

 

Tungkainya bergerak cepat menuju satu tempat. Suara derap langkahnya terdengar hampir ke seluruh penjuru. Dua simpul tertarik di kedua sudut bibir, menyembunyikan segumpal  daging ke balik pipi yang menimbulkan lesung pipi di sebelah kanan.

 

Hatinya terasa hangat seperti mentari pagi saat dua almondnya menangkap punggung sempit tak bersayap itu. Rambutnya yang keemasan tergerai dan bersinar seterang surya. Yixing silau karena terpukau.

 

“Rindu ini, kenapa begitu menusuk hati? Kenapa begitu erat mendekap diri? Aku sesak, tak bisa bernapas karena rindu ini. Aku hangus oleh rindu yang membakar hingga jadi abu. Apa yang harus aku lakukan, wahai bidadari?”

 

Serentetan sajak yang Yixing ucapkan membuat Wendy merasa lemah. Yixing memang sialan. Pria itu selalu ada saja tingkahnya untuk membuat wajahnya memerah bahkan hingga telinga.

 

“Dasar gombal! Kampungan sekali!” Ia lepas dekapan Yixing kemudian berbalik. Menatap pria itu tepat pada bola matanya yang sewarna almond, dan Wendy merasa jatuh ke dalam sumur yang sangat dalam, Yixing begitu mempesona.

 

“Aku memang berasal dari kampung, Nona. Kenapa, hm? Apa salah jika anak kampung ini telah berlaku kurang ajar dengan mencuri sayap bidadari agar ia tak bisa kembali ke khayangan dan menetap disini. Dalam hati dan pikiran anak kampung ini.”

 

Wendy terkikik geli. Bibirnya berkedut keras sekali. Ingin tersenyum terus menerus juga.. ingin dicium. Astaga.

 

Sedetik kemudian Wendy mendapatkannya, satu ciuman yang panjang, dalam, dan menggelora. Bibirnya makin merah dan..

 

“Kau merusak lipstick ku, Zhang!”

 

Gemerincing lonceng terdengar sama dengan tawa Yixing. Indah sekali.

 

“Aku suka itu. Bahkan aku berencana untuk merusak dandananmu yang lain, sayang.”

 

Ia pukul Yixing dibagian dada. Wendy merasa malu sekali karena maksud yang tersirat dari kalimat Yixing.

 

Lalu Yixing sendiri tidak bisa berhenti memandangi wajah Wendy yang tak juga padam. Ia suka sekali dengan hal ini. Satu dari banyak hal yang akan selalu membuat Yixing untuk kembali pulang.

 

Wendy. Rumah yang akan ia datangi ketika malam datang. Kunci yang menutup erat pintu hatinya dari invasi asing yang mencoba datang.

 

***

 

JoonmyeonxHyoyoung [OC]

Sad, Romance

 

“Memejamkan mata tiap malam, hanya itu caraku bertemu denganmu.”

 

Joonmyeon melihat ke sekitar. Padang rumput tampak hijau, matahari bersinar dengan ceria dan burung-burung saling berkicau riang. Rambutnya terbang oleh angin musim semi yang membawa wangi bunga mekar.

 

“Joonmyeon.”

 

Joonmyeon menoleh, tersenyum cerah saat dia mendekat. Matanya tak mampu berpaling, pikirannya tak bisa memikirkan yang lain, dan dalam hatinya terus terucap pujaan akan betapa indahnya sosok di depannya ini.

 

Gaun putihnya bersinar terpantul mentari, bibirnya tertarik simpul manis. Indah sekali. Joonmyeon tak pernah melihat makhluk seindah ini. Sayapnya terbuat dari ratusan atau mungkin jutaan foton, terang sekali namun tidak menyilaukan.

 

“Hyoyoung. Kau kah itu? Benar ini kau?”

 

Joonmyen tak mampu menyembunyikan perasaan senangnya. Apa ini nyata? Kalau bukan maka Joonmyeon minta agar tidak pernah dibangunkan.

 

“Ini tidak nyata, Joonmyeon.”

 

Joonmyeon tercengang. Apa dia dapat membaca pikirannya? Ia tatap Hyoyoung dengan wajah yang sendu.

 

“Hyoyoung.”

 

“Bangunlah, Joonmyeon. Bangun. Disini bukan tempatmu, sayang. Kembalilah lalu hidup dengan bahagia,” ucapan Hyoyoung seakan menampar Joonmyeon dengan begitu keras.

 

“Tapi aku masih ingin disini. Aku.. masih ingin bersamamu,” pintanya lirih. Air mata tak kuasa bertahan di balik kelopak mata, turun begitu deras seperti hujan yang entah sejak kapan telah membasahi tubuh mereka berdua. Lalu Joonmyeon tersadar, cahaya yang ada disekitar Hyoyoung perlahan memudar bersamaan dengan sosok Hyoyoung yang mulai samar dalam pandangan.

 

Joonmyeon harap penglihatannya bermasalah, namun tidak, Hyoyoung sungguhan menghilang. Pergi untuk kesekian kalinya. Meninggalkan Joonmyeon dalam keadaan napas yang terengah dan pelipis yang basah oleh peluh. Air mata juga ikut membasahi pipinya.

 

Joonmyeon terisak, begitu pilu begitu sakit. Dadanya sesak karena terus menerus didekap oleh kesedihan yang tak pernah membiarkannya bernapas dengan benar. Joonmyeon memang telah kehilangan napasnya sejak lama, karena Hyoyoung telah membawa pergi seluruh pasokan oksigen di dunianya bersama ke dalam peti mati yang terbakar habis oleh api.

 

“Hyoyoung.”

 

Nama itu, rasanya seperti diiris sembilu setiap kali Joonmyeon melafalkannya. Sekali saja, sekali saja walau hanya dalam mimpi Joonmyeon ingin bertemu dengan kekasihnya. Mendekapnya dan menumpahkan segala rasa rindu yang ada di dada. Tiap kali ia pejamkan mata, hanya satu doa yang ia pinta pada Tuhan. Pertemukan ia dengan Hyoyoung. Joonmyeon rela meski hanya dalam mimpi, ia rela terus terpejam asal Hyoyoung dapat ia temui.

 

***

 

MinseokxReen

Fluff, Romance

 

“Ketika aku menggumamkan semoga, kamu menyahut amin. Begitulah malam ditutup.”

 

Doa. Satu anugrah terbaik Tuhan yang pernah tercipta. Pengingat saat kita lengah, penguat saat kita lemah. Minseok mungkin bukan umat yang taat. Dia mungkin hanya bisa meminta kepada Tuhan tanpa pernah bisa menjadi seorang yang baik dimataNya. Namun ada satu doa yang Minseok ingin agar Tuhan mengabulkannya.

 

Doa tentang dia yang memiliki hati Minseok.

 

Reen.

 

Nama yang indah, yang akan selalu Minseok selipkan dalam setiap doanya. Minseok tidak meminta hal-hal yang mewah pada Tuhan. Sederhana saja, seperti..

 

“Semoga kita akan selalu bersama hingga selamanya. Tak terpisahkan meski ajal tiba. Tak peduli bagaimana dunia menyelimuti diri dengan sejuta perasaan sakit, kami akan selalu ada untuk menyembuhkan satu sama lain. Seperti janji kita di altar yang suci, dihadapanMu kami akan selalu berjanji, menjadi satu untuk sehidup dan semati.”

 

“Amin.”

 

Minseok tersenyum dengan tangan yang masih tertaut satu sama lain. Tiada suara yang lebih indah dari ini, tiada sahutan paling menentramkan dari kata ‘amin’ yang selalu Reen ucapkan tiap Minseok selesai dengan doanya.

 

Satu kata yang sederhana, namun penuh dengan berjuta makna akan pengharapan. Air matanya menitik dari sudut dan bersiap untuk jatuh. Namun Reen tak akan pernah membiarkan itu terjadi, sebelum sempat keluar, Reen akan menghapusnya dengan cepat.

 

“Kenapa kau selalu menitikkan air mata setelah berdoa, hm?” tanyanya, suaranya kecil dan lembut. Terasa menentramkan jiwa.

 

“Aku terlalu terharu Tuhan mengirimkan ciptaanNya yang paling indah untukku.”

 

Reen tersenyum kala Minseok membawa tangan mereka untuk saling bertaut. Hangatnya kasih tersalur melalui desir darah masing-masing. Menarik dengan pelan, Minseok bawa tubuh hangat Reen dalam pelukan.

 

“Tahu tidak hal sederhana apa yang kau lakukan namun selalu dapat membuatku merasa bahagia melebihi apapun?”

 

“Apa?” Tanya Reen dengan suara kecil yang teredam oleh pelukan Minseok.

 

“Ucapan aminmu disetiap doa yang aku panjatkan pada Tuhan.”

 

Reen tersenyum dalam pelukan Minseok. “Bukankah sudah seharusnya seperti itu?”

 

“Ya.”

 

Tak pernah bisa Minseok dustai akan satu anugrah yang Tuhan berikan padanya ini. Memiliki Reen dalam hidupnya adalah sesuatu yang Minseok butuhkan untuk hidup. Reen adalah pagi yang membawa matahari dalam dunianya, siang yang mengajarinya arti kehidupan, dan malam yang menutup harinya yang melelahkan dengan doa-doa dan harapan yang berharap akan terwujudkan.

 

FIN

5 tanggapan untuk “I Love You, Morning, Noon, and Night [#3]”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s