One and Only – SLICE #9 — IRISH’s Story

irish-one-and-only-fixedOne and Only

With EXO’s Byun Baekhyun and Red Velvet’s Kim Yeri

Supported by EXO, TWICE, and SMRookies Members

A sci-fi, fantasy, romance, and life story rated by PG-16 in chapterred length

DISCLAIMER

This is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life. And every fake ones belong to their fake appearance. The incidents, and locations portrayed herein are fictitious, and any similarity to or identification with the location, name, character or history of any person, product or entity is entirely coincidental and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art without permission are totally restricted.

©2015 IRISH Art&Story All Rights Reserved


“Mencintaimu? Ya, aku mencintaimu. Walaupun kita berbeda.”


Previous Chapter

Prologue || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8 || [NOW] Chapter 9

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Yeri’s Eyes…

“Kalian keberatan untuk menaiki truk? Ada sebuah pabrik truk modifikasi di Marseille. Bagian belakangnya sangat besar dan luas untuk bisa membawa barang-barang dan juga orang.” lagi-lagi Wendy berucap.

Tentu saja, Ia mengenal Eropa, dalam pandangan dan pendapatku.

Kenapa aku harus merasa setidaknyaman ini?

“Yeri? Kau baik-baik saja?” tanya Momo membuyarkan lamunanku.

Aku menjawabnya dengan anggukan pelan, “Aku baik-baik saja.”

Sementara Momo melemparkan senyum yang untuk pertama kalinya tidak kumengerti.

“Jangan tersinggung karena aku tidak menyebutmu, aku sudah memberitahu Sally ada seorang Humanoid yang kukenal di Marseille. Dia tak akan keberatan untuk berpura-pura menjadi Humanoid-mu.

“Aku sudah tahu kita akan pergi ke Marseille, karena tempat itu satu-satunya jalur aman untuk melintasi Eropa tanpa Pembersihan.” ucap Momo.

Ucapannya mengingatkanku bahwa Sally tadi tidak menyebut namaku. Apa itu karena Ia sudah mendapatkan informasi ini dari Momo?

“Terima kasih…” ucapku tulus.

Momo mengangguk dan tersenyum.

“Jangan terlalu memikirkan kedatangan Owner-nya, aku juga tidak begitu menyukai manusia itu.” komentar Momo sambil menatap ke arah Wendy yang sekarang duduk di balik kemudi, sementara Baekhyun ada disebelahnya.

“Kau bisa tidak suka pada manusia?” godaku membuat Momo tertawa pelan.

“Aku tahu dia membuatmu merasa tidak nyaman. Karena kau menyelamatkanku dan membuatku bisa merasa sebebas ini, rasanya tidak pantas jika aku tidak sependapat denganmu.”

Benarkah? Padahal tadinya aku sudah berpikir mereka semua melupakan keberadaanku. Aku berpikir mereka akan meninggalkanku.

“Tenang saja, jika dia membuatmu kesal, katakan saja padaku.” tambah Momo sambil mengulurkan tangannya padaku.

Aku tak bisa membohongi diriku sendiri dan menganggap Humanoid-humanoid ini tak melihat segalanya. Mereka melihatnya dengan jelas, hanya saja mereka menyimpannya untuk diri sendiri.

Aku meraih tangan Momo, dan tersenyum padanya.

“Aku sudah berpikir akan meninggalkan mobil ini saat kita sampai di Marseille.” ucapku akhirnya membuat Momo terbelalak.

“Kau gila? Walaupun tidak ada Pembersihan, Marseille adalah kota yang sangat ramai karena Humanoid Pemburu.”

“Benarkah?”

Momo mengangguk.

“Itulah mengapa hampir tak ada Outsider disana.”

Karena Humanoid Pemburu berkeliaran dimana-mana? Ah… Untunglah Momo bicara padaku tentang hal ini. Jika tidak hidupku mungkin berakhir untuk kedua kalinya di Marseille.

“Terima kasih…” ucapku membuat Momo menyernyit.

“Untuk apa?”

“Semuanya, karena membatalkan keinginanku untuk…” aku menggeleng-geleng pelan, “tidak, lupakan saja,” sambungku membuat Momo malah menatapku semakin penuh tanda tanya.

“Kau jadi aneh Yeri, apa ini karena dia?” tanya Momo sambil menatap ke arah Wendy, dan aku segera menggeleng.

Bukan karena Wendy, tapi Baekhyun.

Ingin sekali aku mengucapkan kalimat itu, tapi aku tahu kalimatku hanya akan memperburuk keadaan disini. Baekhyun tampak begitu senang menemukan Owner-nya, dan aku seharusnya ikut merasa senang bukan?

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Wendy, biarkan aku menggantikanmu.”

Aku tersadar dari lamunanku saat Baekhyun berucap. Entah mengapa mendengar suaranya membuat jantungku berdegup kencang, tanpa alasan, aku hanya merasa aman saat mendengar suaranya.

Ah, bukankah aku tak seharusnya berpikir seperti itu sekarang?

Aku memperhatikan dua orang yang sekarang tengah bergantian menyetir. Wendy berpindah duduk ke sebelah Baekhyun, sibuk mengutak-atik electric map dihadapannya.

“Seharusnya dari depan sana kita bisa menemukan belokan kecil, melewati Museum Louvie.” ucap Wendy.

Museum itu yang tadi aku dan Baekhyun bicarakan.

“Kau baik-baik saja?” aku tersadar saat tiba-tiba saja Kyungsoo bicara padaku, sementara di sebelahnya, Chaeyeong, menatapku dengan tatapan khawatir.

“Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?” tanyaku.

“Tanda vitalmu tidak stabil.” ujarnya.

“Ah…” aku hanya bergumam pelan, aku kembali melemparkan pandangan ke bagian depan mobil, dan aku sedikit tersentak saat mendapati Wendy tengah menatapku, tanpa ekspresi, sebelum Ia kembali bicara pada Baekhyun.

“Apa yang membuatmu kembali ke Lyon?” tanyanya.

“Aku hanya mengira bisa menemukan sesuatu di rumah Greek.”

“Lalu? Apa kau menemukan sesuatu di laboratorium tua Dad?”

“Ya, beberapa penelitian Greek, dan proyeknya yang sudah dibatalkan.”

“Proyek? Yang mana?”

HmP-I.”

“Ah, proyek itu. Kukira Dad sudah sangat lama melupakan proyek itu, kau menemukan data-datanya?” tanya Wendy.

“Ya, sudah kuprotret dan ada dalam micro-card ku.”

“Kau sudah menganalisisnya?” tanya Wendy lagi, Ia tampak sangat senang mendengar hal yang Baekhyun temukan, aku tahu ia senang, nada bicaranya sangat jelas menunjukkan rasa senangnya.

“Belum, akan ku analisis sesegera mungkin. Tapi Wendy, apa kau terus tinggal dirumah lama?” Baekhyun kini bertanya dengan penuh nada khawatir.

“Hmm, ya, tak ada tempat lain yang bisa kutuju. Lagipula, aku tak punya siapapun di Lyon.” ujarnya.

“Lalu… Humanoid itu, bagaimana kau menemukannya?” apa Baekhyun bicara soal Dahyun?

Tatapanku tanpa sadar tertuju pada Dahyun, aku terkesiap saat Dahyun nyatanya tengah menatapku, entah sejak kapan, tapi segera kualihkan pandanganku, menatap jalanan diluar, berpura-pura tak peduli padahal aku masih mendengarkan pembicaraan dua orang itu.

“Dia Humophage, dan Senty memburunya. Bukankah lebih baik jika aku melindunginya?” ucap Wendy membuat Baekhyun tertawa pelan.

“Dulu kau tidak pernah berucap seperti ini.”

“Benarkah? Memangnya seperti apa aku dulu?”

“Kau selalu saja bertengkar dengan Sara, dan berdebat tentang menonaktifkanku.” ucap Baekhyun.

Wendy tidak menyahut. Tapi Baekhyun kembali bicara.

“Aku tidak mengatakannya untuk membuatmu merasa bersalah Wendy. Pengucilanku bukanlah salahmu.”

“Tidak. Aku tidak merasa seperti itu. Aku… merasa bersalah karena tak bisa menyelamatkanmu dari keegoisan saudaraku. Padahal keegoisannya juga yang membuatnya dibenci oleh Dad.”

Saudaranya? Mereka tengah bicara tentang Sara bukan? Aku tak lagi mendengarkan pembicaraan mereka karena kami tak lagi sempat bicara banyak. Jalan yang kami lalui mulai berubah seperti jalur off-road dan Baekhyun harus dengan ekstra hati-hati saat mengendarainya.

Sekarang, aku tak lagi melihat jalanan kosong, melainkan hamparan hutan kering disepanjang jalan ini. Musim dingin seolah membekukannya.

Sekitar dua jam mengemudi, Baekhyun bertukar duduk dengan Momo. Kami semua mulai sama-sama saling membisu, seolah tak ada bahan pembicaraan.

“Wendy, ayo ke belakang.” Baekhyun mengulurkan tangannya pada Wendy, membantu Wendy pindah dari kursi depan ke ruangan kosong mobil dibelakang.

Heran sekali kenapa dari banyak tempat yang ada disini Wendy memilih duduk memunggungiku yang berpura-pura tidur. Aku tahu Baekhyun tahu aku tidak tidur, tapi Wendy manusia, Ia tak bisa mengetahui tanda vitalku, tak bisa membedakan saat ketika aku benar-benar tertidur atau berpura-pura.

“Kau tahu Grey, aku benar-benar minta maaf atas kejadian terakhir kali.”

“Kejadian yang mana?” Baekhyun berucap.

“Kau tahu… Saat Sara mengutak-atik programmu dan mengubahmu menjadi kepemilikannya. Aku tahu Sara tidak menyukai Humanoid, Ia membenci semua Humanoid, tapi aku benar-benar tidak tahu Ia akan nekad membuat Dad menonaktifkanmu.”

Kurasa beberapa hari lalu Baekhyun bilang bahwa Ia di nonaktifkan karena keluarganya sudah berkumpul.

“Kurasa Greek dan Sara tidak salah. Keluarga kalian sudah berkumpul, sangat wajar bagi Sara yang menjadi Outsider selama tiga tahun jadi begitu membenci manusia.”

Wendy tertawa pelan.

“Ia masih sangat kecil saat itu, tapi Dad percaya Sara sangat jenius. Aku sangat iri padanya.”

“Kenapa?”

“Tentu saja karena Dad selalu meminta pendapatnya. Dia bahkan bisa membuat Dad mengucilkan Humanoid lain yang bersamamu saat itu.” ucap Wendy.

“Ah, Johnny?” ucap Baekhyun.

Johnny? Jadi selain Baekhyun, ada Humanoid lain dirumah mereka?

“Ya…” kudengar Wendy menghembuskan nafas panjang, “Aku sangat rindu Johnny, dia sudah bersamaku sejak pertama kali aku dikeluarkan dari rumah.”

“Itu karena Nicole tidak tahan berada dirumah.”

“Aku tahu… Apa kau ingat Grey?”

“Tentang apa Wendy?”

“Sara… Aku bahkan masih ingat bagaimana Ia menangis dan berteriak betapa Ia membencimu saat pertama kali kau diaktifkan. Dia juga jadi orang yang membuatmu dinonaktifkan.” ucap Wendy.

“Aku ingat, tentu saja aku ingat. Tapi kau tahu Wendy? Bagiku Sara… Tetap seperti gadis berusia 10 tahun yang memberiku kenangan terakhir paling berkesan.” ucap Baekhyun.

Aku menyernyit. Sepuluh ta—oh tunggu, saat kami berada di Yanke layar aneh itu mengatakan usia Sara adalah tujuh belas tahun. Apa itu artinya Sara seusiaan denganku?

“Kenangan berkesan?” Wendy berucap bingung.

“Ya, Ia seolah menyumpahiku dihari terakhir aku diaktifkan.”

Beberapa lama tercipta keheningan.

“Memangnya apa yang Ia ucapkan?” tanya Wendy pelan

Baekhyun terdiam beberapa lama, dan Wendy tidak tampak bicara lagi untuk mendesaknya.

“Ia bilang saat terbangun aku akan mengalami hal yang tak akan kulupakan bahkan ketika chip-ku hancur, atau ketika aku diprogram ulang.”

Aku membuka mataku saat tak lagi mendengar pembicaraan mereka. Saat aku membuka mata, aku mendapati Wendy tengah tertidur dipangkuan Baekhyun, sementara Baekhyun tersenyum sambil mengusap rambut pirangnya.

Pemandangan semacam itu entah mengapa kembali membuatku merasa sesak. Aneh. Sangat aneh bagiku. Tapi perubahan tanda vitalku seolah menyadarkan Baekhyun bahwa aku masih terjaga.

Ia mendongak, dan tatapannya segera bertemu denganku. Menatap sepasang logam nano mengkilap yang berputar halus itu entah mengapa tak lagi membuatku merasa tenang sekarang.

Aku mengalihkan pandanganku, tak ingin memandangnya walaupun aku tahu Ia masih menatapku. Aku mengawasinya dari sudut mataku.

Tidak, jantung bodoh, berhenti bersikap tidak sopan. Berhentilah menjadi overact ketika aku melihat Humanoid itu. Ia akan mempertanyakan keanehan pada—

“Kau baik-baik saja Yeri?”

Benar bukan? Ia akan mempertanyakannya. Ugh.

Aku bergeming, dan memejamkan mataku. Aku ingin tertidur. Sungguh ingin tertidur.

“Yeri?”

“Aku hanya bermimpi buruk,” ucapku cepat.

“Kau berbohong,” kudengar Baekhyun bergumam pelan, aku kembali membuka mataku, dan tatapanku kembali tertuju pada tangannya yang—ugh, kenapa aku bahkan tak bisa mengalihkan pandanganku darinya?

“Aku tidak berbohong.”

“Tanda vitalmu sudah tidak stabil sedari tadi. Apa yang terjadi padamu? Scanning ku menunjukkan bahwa tak ada yang salah pada organ tubuhmu. Semuanya fungsional.”

Memang tak ada yang salah pada organ tubuhku karena perasaanku lah yang sedang bermasalah. Dan juga, hey—

“Kenapa kau melakukan scan tanpa seizinku?” ucapku tak terima.

“Aku tak perlu izin untuk melakukannya. Aku selalu melakukannya pada siapapun yang punya keadaan mengkhawatirkan.”

Jadi Ia menggolongkan keadaanku sekarang sebagai keadaan mengkhawatirkan?

“Aku hanya merasa terluka,” ucapku akhirnya.

Memangnya Ia akan mengerti?

“Tapi tubuhmu tidak terluka.”

Ugh, sudah kukatakan Ia tak akan memahaminya. Ia tak pernah paham apa yang terjadi pada manusia.

“Nah, kau sudah tahu aku baik-baik saja.”

“Tapi ada apa dengan tanda vitalmu? Kau juga bilang bahwa kau terluka.” ucap Baekhyun membuatku memejamkan mataku sejenak, sebelum aku akhirnya menatap Baekhyun lagi dengan sangat tidak sabar.

“Seseorang bisa saja terluka walaupun tubuh mereka tidak terluka.”

Baekhyun mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum Ia akhirnya menyernyit, dan menatapku bingung.

“Aku tidak mengerti. Kenapa manusia selalu menganalisis dengan cara yang aneh dan tak bisa dilogika…” gumamnya tampak berdebat dengan dirinya sendiri.

Apa Ia tidak bisa mendeskripsikan makna kata ‘terluka’ yang baru saja kukatakan? Oh sungguh. Sampai kapanpun Ia juga tak akan bisa mendeskripsikannya karena Ia tak bisa merasakannya.

“Apa yang membuatmu terluka?” tanya Baekhyun akhirnya.

“Karena aku terus bermimpi buruk.”

“Benarkah?”

“Ya, mimpi buruk bisa membuat manusia terluka.”

“Tapi banyak manusia yang sering mengatakan bahwa mereka lebih senang terus tertidur daripada harus bangun dan menghadapi kenyataan.”

Aku menyernyit.

“Dimana kau belajar istilah itu?” tanyaku.

“Sara…” gumamnya pelan.

“Begitukah? Kurasa Ia benar juga. Jika aku punya mimpi indah, aku akan memilih terus tertidur daripada menghadapi dunia sekacau ini.”

Baekhyun mengerjap cepat.

“Jangan bicara hal seperti itu.”

“Memangnya kenapa?”

“Kau tidak tahu bagaimana keadaan manusia yang tidak bisa terbangun dari tidurnya? Kau tidak sedang berkeinginan menjadi seperti mereka bukan?”

“Tidak, ya, tidak, tapi kurasa ya, sedikit banyak.”

“Yeri,” ucapnya dengan nada tak senang.

“Kuakui memang terus tertidur tanpa harus peduli tentang apapun tentang dunia ini, membiarkan orang lain menjalani duniamu tanpa dirimu sendiri memikirkan atau mengingat apapun, keadaan seperti itu pasti sangat menyenangkan.” ucapku pelan.

“Itu menakutkan.”

“Kau tak bisa merasa takut,” ucapku mencibir.

“Bagi manusia lain itu pasti menakutkan,” ucap Baekhyun.

Aku tertawa pelan.

“Tidak juga, lagipula keadaan semacam itu tak akan terjadi pada manusia. Mereka tidak harus peduli pada dunia tanpa harus tertidur tanpa terbangun. Bangsamu sudah mengambil alih semua yang manusia pedulikan.” ucapku.

Baekhyun diam, tapi Ia terus menatapku.

“Ada apa?” tanyaku saat Ia tak kunjung mengalihkan pandangannya.

“Tanda vitalmu terus tidak stabil, Yeri, kurasa kau butuh pengobatan.”

Aku mengalihkan pandanganku.

“Lupakan saja, aku baik-baik saja.”

Aku berbalik memunggunginya, kali ini benar-benar mengabaikannya. Apa Ia akan terus berpikir perubahan tanda vital seseorang berarti sesuatu yang buruk? Atau mereka memang diprogram seperti itu?

Tapi Baekhyun tidak punya program bukan? Ia sudah berpikir mandiri. Bukankah seharusnya Ia bisa menganalisa hal semacam itu?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Lihat apa yang kutemukan.”

Pagi ini sangat riuh karena Wendy berhasil menemukan frekuensi yang tepat untuk membajak sumber informasi. Dari sebuah chip kecil yang didapatkannya entah darimana, Ia membuat mobil ini penuh dengan celotehan orang-orang yang ada disekitar kami.

Yang ada diluar mobil tentu saja.

“Benda ini bisa melacak suara hingga lebih dari lima mil, hebat bukan?” ucapnya antusias disambut keberisikan yang sama dari Momo, Sally, dan tidak lupa, Baekhyun.

Hanya Kyungsoo dan Chaeyeong yang tampak acuh tak acuh pada perjalanan ini tapi tetap ikut andil dalam memberi pendapat.

Kurasa mereka tak begitu ambil pusing dengan apa yang orang lain lakukan jika itu tidak membahayakan nyawanya.

Aku melirik benda kecil yang dipasangnya di bagian kaca depan mobil, seperti kancing kecil berwarna hitam yang mempunyai perekat, suara Wendy diluar mobil segera terdengar dari sebuah speaker kecil di dalam mobil.

“Dengan ini kita bisa mendengar apa yang orang bicarakan saat mereka melihat kita. Kita bisa menghindari bahaya dari jarak lima mil.” terangnya.

“Hanya Sentry yang menggunakan ini, mereka memakainya untuk melacak keberadaan Humanoid Pemburunya. Sentry selalu punya teknologi yang canggih.”

Ia sekarang sudah ada didalam mobil.

“Sentry?” ucapku tanpa sadar.

Wendy menatapku.

“Ya, kenapa?” sahutnya dengan nada ketus yang kentara dalam pendengaranku, tapi apa Ia baru saja bilang bahwa teknologi itu digunakan oleh Sentry?

“Jika hanya Sentry yang menggunakannya darimana kau dapat benda itu?” tanyaku membuat Wendy dihadiahi tatapan yang sama oleh Sally.

“Ya Wendy, kurasa mendapatkan benda ini dari Sentry tak akan mudah bukan?” ucap Sally, Sally sangat bisa bicara memojokkan seseorang seperti ini.

“Ah… Itu…” Wendy menatap Baekhyun, seolah meminta perlindungannya, tapi Baekhyun nyatanya menatapnya dengan sama bertanya-tanyanya.

“Apa mungkin kau mengenal mereka?” ucapku membuat Wendy menghadiahiku dengan tatapan tajamnya.

“Kau bercanda? Kau pikir mengenal Sentry semudah kau menemukan Humanoid Pemburu saat Pembersihan?” sindirnya.

Ia menyindirku, aku tahu itu, entah kenapa yang lain tidak—oh, hanya ada tiga orang Outsider disini.

“Lalu kau mencurinya, Wendy?” tanya Baekhyun.

“Tentu tidak Grey, aku tak pernah menodai catatan hukumku.”

Oh, menodai… Ia pandai menjadi puitis dalam hal ini.

“Itu adalah milikku.” perhatianku teralihkan saat Dahyun berucap.

“Apa?” Baekhyun kini menatapnya.

“Penyadap itu milikku. Servicer ku memasangnya, dan Wendy menemukan benda itu ada padaku.”

Aku menyernyit. Jika benar ada pada Dahyun… Lalu…

“Bagaimana dengan speaker itu?” tanyaku.

“Aku membuatnya dari speaker tak terpakai dirumah Wendy.” ucap Dahyun lagi, kenapa Ia baru berucap sekarang?

“Tapi—”

“Bisa kita melanjutkan perjalanannya dan berhenti memperdebatkan hal sepele ini?” potong Wendy membuatku menatapnya.

Kenapa Ia selalu bicara dengan cara yang membuatku merasa Ia bersikap berbeda padaku? Sally mengangkat bahunya, dan melangkah ke bagian depan mobil, sementara Wendy melangkah ke arahku.

“Aku tahu kau tidak suka perjalanan seperti ini, kalau kau mau, aku bisa menurunkanmu di Marseille sehingga kau bisa jadi Outsider lagi seperti yang kau harapkan.”

Mulutku terbuka untuk berucap, tapi tatapanku bertemu dengan Baekhyun, membuat semua kalimat yang sudah siap untuk meluncur dari dalam mulutku kini kutelan lagi.

Aku mengabaikan ucapan Wendy, walaupun rasa sesak itu kembali melandaku. Untuk entah ke sekian kalinya, Ia bersikap seperti ini padaku, hanya padaku.

“Dan juga, Grey adalah Humanoid ku, jangan pernah bermimpi Ia akan jadi Humanoidmu, Yeri.” Ia menekankan namaku, dan menekankan setiap kata dalam kalimatnya.

“Aku tak pernah menginginkan hal semacam itu.” ucapku akhirnya.

“Benarkah? Lalu kenapa kau masih ikut dalam perjalanan ini?”

“Itu karena—”

“Yeri.”

Aku tersentak saat Baekhyun menyebut namaku, tidak, aku tersentak karena Ia akhirnya ikut bicara.

Saat aku tersadar, Baekhyun nyatanya tengah melemparkan pandangannya ke arahku, dengan tatapan khas miliknya yang tak bisa kuartikan.

Aku ingin, sangat ingin mengabaikannya, tapi aku tak pernah bisa melakukan hal seperti itu, tidak hanya pada Baekhyun, tapi bahkan pada Wendy.

“Kenapa?” ucapku akhirnya setelah terdiam cukup lama.

“Hentikan mobilnya sebentar, Momo.” ucap Baekhyun membuatku menyernyit, apa yang sekarang sedang Ia rencanakan?

Baekhyun berdiri, dan bergerak mengambil mantel wool merah muda yang sudah kutaruh begitu saja diatas bahu kursi kecil yang kemarin kupakai untuk duduk dibelakang Baekhyun.

“Aku akan membawa Yeri berjalan-jalan sebentar, Wendy.” ucapnya mengejutkanku, berjalan-jalan? Disaat segenting ini?

“Grey? Kita diburu oleh waktu,” kata Wendy terdengar tidak setuju, apa Ia tidak suka karena Humanoid nya akan pergi bersamaku?

“Dia benar Baekhyun, kita dikejar waktu.” ucap Kyungsoo membenarkan, kurasa tak hanya Wendy satu-satunya orang yang tidak setuju.

“Kalian bisa melanjutkan perjalanan, aku dan Yeri akan menyusul.” ucap Baekhyun, dan tanpa seizinku Ia memasang mantel itu dibahuku, menarik lenganku untuk mengikutinya.

“Grey!” kali ini Wendy berucap keras.

Baekhyun menatap yeoja itu sejenak, dan meninggalkanku untuk mendatanginya. Baekhyun mengusap puncak kepala yeoja itu, dan tersenyum menenangkannya.

“Aku akan baik-baik saja Wendy,”

“Kau membelanya karena Ia berdebat denganku?” tanya Wendy.

“Tidak, tentu saja aku tidak membelanya.”

Hatiku mencelos mendengar ucapan Baekhyun. Lagipula apa yang kuharapkan? Bahwa Ia membelaku? Jangan bercanda Yeri.

“Kalau begitu jangan tinggalkan mobil ini.”

“Ada yang harus kami bicarakan,” ucap Baekhyun.

“Bicarakan saja disini, apa yang begitu penting untuk dibicarakan dengan seorang Outsider?” ucap Wendy membuatku menatapnya.

“Apa Outsider begitu buruk dimatamu?” aku baru saja akan mengutarakan pikiranku saat Sally mendahuluiku.

Wendy bungkam. Heran sekali bagaimana Ia bisa tahu ucapan-ucapan yang dapat menyakiti orang lain padahal Ia sendiri bungkam saat seseorang berucap tegas padanya.

“Jangan bicara seperti itu Wendy, aku tak akan bisa menemukanmu jika tanpa bantuannya.” aku sedikit merasa senang saat Baekhyun bicara seperti itu.

Sejenak, aku merasa dirinya yang baru kukenal kembali, tapi hanya sebentar, karena aku sadar Ia berucap seperti itu untuk menenangkan Wendy, Owner-nya.

“Baekhyun-ah…” aku akhirnya berucap.

Aku memang merasa tak nyaman karena kekesalan Wendy, tapi aku lebih merasa tak nyaman saat keputusan Baekhyun yang menyangkut diriku membuat keadaan menjadi canggung seperti ini.

“Jangan memanggilnya Baekhyun. Namanya Grey!” ucap Wendy tajam padaku, ucapannya untuk kesekian kalinya membuatku bungkam.

“Wendy,” kali ini Baekhyun berucap dengan nada tegas, “jaga bicaramu, aku tidak mau kau membuatnya terluka karena ucapanmu.”

Aku terpana. Sungguh. Ucapan Baekhyun barusan…

“Grey… Kenapa kau jadi seperti ini? Untuk apa kau peduli? Kau tadi bilang bahwa kau tak membelanya.” ucap Wendy dengan nada tak percaya.

“Kukatakan aku tidak membelanya, tapi aku juga tidak membelamu. Aku tak mau ada orang yang merasa tidak nyaman karena perjalanan ini.

“Jangan biarkan dirimu terus berada dalam ketidak stabilan.” ucap Baekhyun sedikit membuatku geli, Ia masih menggunakan istilah itu.

“Apa? Grey! Kau tahu apa yang membuat keadaan tidak nyaman disini?” tanya Wendy sambil menarik lengan Baekhyun yang ada dipergelangan tanganku.

“Wendy.” Baekhyun kembali berucap.

“Gadis ini! Dialah yang membuatku tidak nyaman!”

Wendy menunjukku, oh sungguh, ada apa dengannya? Apa yang begitu salah padaku? Kenapa ia bersikap seperti ini?

“Memangnya apa yang sudah kulakukan padamu?” ucapku.

“Kau masih bertanya? Tentu saja karena sejak pertama kali melihatku kau sudah melihatku dengan tatapan tidak senang. Apa kau tidak suka padaku? Sikap terang-teranganmu sungguh membuat tidak nyaman.”

Mulutku terbuka untuk bicara, tapi tak ada kata yang sanggup keluar. Apa aku bersikap begitu padanya? Tidak. Aku tak pernah bersikap seperti itu.

Aku hanya… ah, ya, aku memang merasa kesal padanya. Tapi bukan berarti aku tidak suka padanya.

Tapi… tuduhannya sungguh tak bisa kuterima.

“Lalu aku harus bersikap seperti apa? Apa kau sangat berharap semua orang menyukaimu?” ucapku akhirnya.

“Apa?!”

“Kita manusia… Bukan Humanoid. Emosi dan ekspresi sudah jadi hal wajar bagi kita. Kenapa kau begitu mempermasalahkan ekspresi seseorang?” tanyaku.

“Yeri, cukup…” kali ini Baekhyun berucap.

Aku melepaskan mantel yang tersampir dibahuku, dan segera melangkah menjauh dari pintu, tapi Baekhyun menahanku.

“Lepaskan aku…” ucapku pelan.

Mengabaikanku, Baekhyun mengambil mantel itu lagi, dan meraih sebuah ransel hitam dari atas meja.

“Grey! Lepaskan dia!”

“Tidak Wendy.” ucap Baekhyun mengejutkanku, Ia membantah Wendy, Ia membantah Ownernya.

“Grey, ada apa denganmu!?” tanya Wendy dengan nada tinggi.

“Kau sudah keterlaluan kali ini.”

Tak menunggu ucapan apapun dari Wendy, Ia menarikku keluar dari mobil, bersamanya, Ia bahkan mengabaikan panggilan Wendy.

“Kenapa? Apa kau mau bilang bahwa aku memaksakan egoku lagi?” ucapku sambil menatap Baekhyun.

Ia tampak terkesiap.

“Tidak, aku tidak ingin berkata seperti itu.”

“Tapi kau berkata seperti itu kemarin.”

“Benarkah?”

Pertanyaan Baekhyun membuatku menatapnya dalam diam.

“Lupakan saja,” kataku akhirnya.

Baekhyun bergerak memasang mantelku, tapi aku menahan lengannya.

“Sudahlah Baekhyun, lebih baik kita lanjutkan perjalanan saja.” ucapku sambil mengusap air mata yang membasahi pipiku.

Sejak kapan air mata ini terjatuh tanpa seizinku?

“Kau menangis?” tanya Baekhyun mendengar suaraku yang bergetar.

“Tidak.” ucapku lirih.

Tanpa kuduga Baekhyun menarik daguku, tatapannya berubah saat nyatanya ucapannya benar, aku memang menangis.

Ya. Aku menangis karena alasan yang aku sendiri tidak bisa mengerti.

Baekhyun mengusap pipiku, membuatku tak lagi sanggup menahan air mataku yang berjatuhan begitu saja dengan bodohnya.

“Bagaimana mungkin aku membiarkan kita melanjutkan perjalanan saat kau masih terluka seperti ini?”

Ia tahu? Ia tahu aku terluka?

“Aku baik-baik saja…”

Baekhyun menarik daguku, dan menggeleng pelan.

“Kalau kau masih menangis itu artinya kau masih terluka.” ucapnya.

Aku begitu terkejut bagaimana Ia sekarang menganalisis kata-kata ‘terluka’ itu. Apa karena ucapanku tadi? Entahlah.

Dan kenapa Ia bersikap aneh seperti ini? Membawaku keluar dengan tiba-tiba dari dalam mobil…

“Apa kau membawaku keluar hanya untuk mengatakan ini?” tanyaku.

“Tentu saja tidak. Kau kira aku membawamu turun tanpa tujuan?”

Aku menggeleng.

“Lalu apa?” tanyaku.

“Kau akan merasa lebih baik jika membagi lukamu dengan seseorang.”

Aku semakin merasa bingung. Semakin lama aku semakin tak bisa membedakannya dengan manusia. Ia… mulai bicara dengan cara yang sama seperti kami.

“Memangnya sejak kapan kau bisa membedakan seseorang yang terluka dan tidak? Lagipula… Tubuhku tidak terluka.”

Baekhyun menarik lenganku, menggenggam lembut jemariku sebelum Ia akhirnya membimbing langkahku.

Jantungku mulai melompat tidak karuan saat Ia bersikap seperti ini. Tidak. Kumohon tidak. Ia akan merasa aneh jika tanda vitalku berubah.

“Manusia itu aneh.”

“Kenapa?” aku menyernyit.

“Seperti yang kau katakan kemarin. Mereka memang tidak terluka secara fisik. Tapi tanda vital mereka berubah tidak stabil. Ekspresi mereka juga menunjukkan ekspresi sakit yang sama. Dan mereka terus mengatakan bahwa mereka baik-baik saja.

“Bukankah itu artinya kau terluka walaupun tubuhmu tidak terluka?” Baekhyun menatapku, dan ucapannya membuatku mengalihkan pandangan.

“Kau mengulang kalimatku.”

“Karena kau menganalisisnya seperti itu.”

Aku mendengus pelan. Apa Ia juga akan menyindirku karena perubahan tanda vitalku saat Ia menggenggam tanganku? Ugh.

Ingin sekali aku menarik tanganku terlepas dari genggamannya, tapi kenapa tangan bodoh ini seolah membeku dalam genggamannya?

“Apa ucapan Wendy membuatmu sakit hati?” tanyanya membuatku terkesiap.

Kembali teringat pada Wendy sanggup membuat dadaku merasa sesak. Ia sudah mengatakan banyak hal menyakitkan sejak kami pertama bertemu.

Dan Ia jelas merasa tak nyaman karenaku. Sial. Lagipula kenapa juga aku harus membuatnya merasa nyaman? Aku yang sudah lebih dulu ada diperjalanan ini bukan? Walaupun… aku memang tak sewajarnya bersikap seperti itu padanya.

“Aku tidak sakit hati.” ucapku setelah terdiam cukup lama.

“Kau manusia, kau bisa sakit hati.” katanya membuatku tertawa pelan walaupun aku masih tidak bisa menghentikan tangisku.

“Sekarang kau tertawa. Kau baik-baik saja Yeri-ah?”

Bagaimana aku tidak merasa geli ketika Ia membalik ucapan yang pernah kukatakan padanya saat aku menuduhnya sakit hati?

Sungguh, Ia ingat semua kalimat yang pernah kuucapkan padanya.

“Aku baik-baik saja, itulah mengapa aku tertawa walaupun aku menangis.”

Baekhyun tertawa pelan.

“Sungguh aneh…” ucapnya.

“Apa yang aneh?” tanyaku.

“Perasaan dan emosi manusia, yang pernah kau deskripsikan… Aku benar-benar tidak bisa memahaminya.”

“Kenapa?” aku menyernyit, bukankah Ia punya kemampuan analisis yang luar biasa? Bagaimana mungkin Ia tak memahami manusia?

“Karena kalian bisa merasa senang dan sedih diwaktu yang sama. Kalian bisa membenci dan menyukai seseorang diwaktu yang sama. Kalian bisa berbohong dan mengucapkan hal yang benar disatu waktu yang sama… Sungguh aneh.” terangnya.

Aku menghembuskan nafas panjang.

“Begitulah manusia… Tidak bisa dipahami.”

“Kau juga manusia, dan aku sama sekali tidak bisa memahamimu.” katanya, kali ini aku yang menatapnya.

“Kenapa tidak?” tanyaku.

“Kau bicara padaku… Lalu detik selanjutkan kau mengabaikanku. Tapi kemudian aku tahu kau memandang ke arahku… Kau berjalan bersamaku tapi menganggapku tak ada.

“Saat aku mengajakmu untuk ke rumah lama Owner ku, aku tahu kau enggan ikut… Tapi aku tak mengerti kenapa kau setuju untuk ikut.”

Aku tersentak.

Bagaimana mungkin Ia bisa mengetahui hal-hal yang tak kuucapkan? Apa Ia sekarang punya kemampuan lain seperti membaca pikiran?

“Kau mengetahui pikiranku?” ucapku tanpa sadar.

Baekhyun menyernyit.

“Aku tidak punya kemampuan supranatural.” sanggahnya.

“Lalu bagaimana kau… bisa mengetahui semua itu?”

Baekhyun tersenyum.

“Tentu saja karena ekspresimu jelas menunjukkan kau tidak ingin ikut.”

“Ah…” aku akhirnya bergumam pelan, tentu saja, Ia punya kemampuan analisis yang luar biasa bukan? Nyatanya Ia sudah menggunakan kemampuannya.

“Terima kasih…”

Aku menatapnya.

“Untuk?”

“Kau masih bisa bersikap tidak keberatan walaupun kau sendiri merasa tidak suka melakukannya. Kau bahkan menemaniku, aku sangat menghargainya. Walaupun tetap saja, ekspresimu tak bisa berbohong.”

Apa ekspresiku begitu menunjukkan emosi yang kurasakan?

“Kau ingin pergi ke Museum Louvie, tapi kau menolak karena alasan yang tak kumengerti. Hanya karena mereka menunggu kita? Kurasa tak akan ada manusia yang mau melepaskan keinginannya hanya karena hal seperti itu.

“Kau juga marah karena aku bersikap mengacuhkanmu, tapi kau terus diam dan membiarkanku bersikap seperti itu. Kau marah karena Sally tidak menyebut namamu… Tapi kau masih diam.

“Kau bahkan terluka karena ucapan Wendy, tapi tak membalas ucapannya dan tetap diam. Apa semua emosimu kau simpan dalam diam, Yeri-ah?” Baekhyun kini kembali menatapku.

“A-Aku tidak—”

“Kau bahkan bicara pada Momo bahwa kau ingin meninggalkan kami semua di Marseille. Tidakkah kau tahu terkejutnya aku saat mendengarnya?” sambungnya membuatku terkesiap.

“Bagaimana kau tahu semua itu?” tanyaku.

“Yeri-ah… Aku seorang robot, aku mendengar semuanya lebih jelas, aku menganalisis semuanya dengan lebih rinci.”

“Ah…” lagi-lagi aku hanya sanggup bergumam.

“Lalu… alasanmu menangis, apa itu karena kau sudah tak bisa menahan emosimu lagi?” tanyanya kujawab dengan gelengan pelan.

“Aku tidak tahu kenapa aku menangis.” ucapku.

“Apa?”

“Aneh bukan?” kataku sambil menatapnya.

“Aku tidak mengerti. Kau selalu membuatku harus banyak menganalisis karena sikapmu, Yeri-ah.”

Aku terdiam mendengar ucapannya.

“Lalu kenapa kau mengatakan semua ini padaku?” tanyaku.

Sangat aneh ketika semuanya sudah terjadi dan Baekhyun tiba-tiba saja membahasnya. Terutama karena Ia membawaku keluar dari mobil untuk membicarakan hal ini.

Sangat aneh.

“Pembicaraan terakhir kita dimobil… Aku tahu kau sangat takut ucapan Irene akan jadi kenyataan. Kau bahkan memintaku mencarikan Humanoid untukmu karena kau berpikir aku akan meninggalkanmu setelah bertemu Ownerku.

“Kau bilang kau ingin punya seorang Humanoid agar hidupmu tak lagi menyedihkan. Tapi aku tahu kau hanya takut ditinggalkan. Kau tidak ingin kembali sendirian. Bukankah begitu?”

Aku menatap Baekhyun. Apa Ia menganalisis semua sikapku? Sementara aku sama sekali tidak sadar ketika Ia sudah melakukannya?

Aku bahkan tak pernah mengungkapkannya pada siapapun. Kenapa… Kenapa Ia bisa mengungkapkan semuanya dengan rinci?

“Lalu… Apa hubungannya dengan pembicaraan ini? Kita bisa bicara didalam mobil, tak akan ada yang berbeda.”

Baekhyun tersenyum.

“Aku tak ingin kau merasa tidak nyaman karena semua orang mendengar pembicaraan ini. Sudah kukatakan kita perlu bicara secara pribadi bukan?” tanyanya membuatku menyernyit.

“Kau mengatakannya beberapa hari yang lalu, saat kita berdebat tentang membawa serta Chaeyeong dan Kyungsoo.” ucapku.

“Benar. Dan kita tak pernah bicara dengan pribadi. Semua orang mendengarkannya.”

“Tidak juga… Kurasa tadi kita sempat bicara berdua saja.”

“Benarkah?”

“Saat aku membahas tentang—”

“Momo mendengarnya. Ia tahu kau ingin seorang Humanoid.”

“Benarkah?” kali ini aku yang mengulang pertanyaan Baekhyun, sementara Ia menatapku, dan menghembuskan nafas panjang.

“Aku merasa aneh saat kau bicara tentang Humanoid.”

“Memangnya kenapa?” tanyaku bingung.

“Karena kau membuatku berada dalam posisi yang membingungkan.”

“Memangnya apa yang sudah kulakukan?” ucapku semakin tak mengerti.

Baekhyun memandangku tak percaya.

“Kau tidak sadar? Ucapanmu membuatku harus memutuskan dengan benar tentang siapa yang harus mendapatkan Humanoid.”

“Maksudmu?”

“Siapa yang lebih pantas mendapat Humanoid baru, Wendy… atau kau.” jantungku kembali terpompa karena ucapannya.

“Wendy? Tapi Wendy Ownermu.”

“Siapa yang mengatakannya?”

“Kyungsoo. Dan kau juga membenarkannya.” ucapku.

“Dia bukan Ownerku.”

“Tapi bukankah dia adalah—”

“Saat aku di non-aktifkan, Ownerku memang memindahkan kepemilikanku pada Wendy, tapi aturan Servicer, jika ada seorang Humanoid tidak di upgrade Owner nya selama lebih dari tiga tahun, maka hak kepemilikannya akan dicabut.

“Aku tak punya Owner sekarang, Yeri-ah. Dan juga, aku tidak mau membayangkan kau punya seorang Humanoid asing yang tidak bisa kupercaya.”

Aku menyernyit, “Kenapa?” tanyaku.

Baekhyun menggenggam erat jemariku, untuk ke sekian kalinya membuat jantungku berdegup tidak karuan karena tindakannya.

“Karena aku bisa melindungimu lebih baik daripada Humanoid manapun.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

Cuap-cuap by IRISH:

Oke, pertama, tolong jangan jenuh karena Irish selalu menyisakan cuap-cuap di akhir fanfict .___. ini semata-mata karena kolom komentar saja gak cukup buat aku mengenal kalian. HIKS. Padahal kan aku pengen kenal sama kalian semua /kemudian mewek bombay/ /ditendang/ OKE, JADI SERIUS SEKARANG, sebenernya gak ada rencana sama sekali buat mengganti poster (lagi) karena menurut pemikiranku ganti poster itu tiap 5 chapter aja ._. biar kalian gak pada jenuh gitu liat posternya itu-itu aja. Tapi kali ini di chapter 9 aku udah ganti. Kenapa? Karena ada yang pernah nanya ‘seperti apa visualisasi Baekhyun sebenernya di sini?‘ oke, memang membingungkan ngebayangin Baekhyun jadi robot, ya. DAN AKU JUGA SAMA BINGUNGNYA. Jadi setelah bertapa selama 40 hari 40 malem (ceritanya lebay) aku mendapatkan inspirasi tentang visualisasi Baekhyun! That nano-logam on his eyes! (kemudian digampar karena bahasa inggris yang ancur) jujur, seperti di poster inilah penggambaranku tentang dia, GAK BEREKSPRESI, jelasnya.

Dan karena aku baik (ceritanya pamer) aku rajin membuat chapter nya isinya panjaaangg (karena jujur sebenernya kemampuan mengetikku per chapter itu gak sampe 4000 words T.T) kebetulan juga karena ide nya lancar. HEHE. SYUKURLAH.

DAN KABAR GEMBIRANYA, karena aku anak rajin yang rajin berdoa, pengerjaan fanfict ini kan dari sebelum TWICE debut kan, ya. UNTUNGNYA mereka debut pas fanfict ini on going, jadi kalian bisa searching profile mereka biar lebih bisa memvisualisasikan. DAN SM ROOKIES sendiri tahun depan debut! YEAY! IRISH MEMBUAT MEREKA DEBUT /kemudian ditendang ke rawa-rawa/

Tapi mohon sabar ya, karena cerita ini sebenernya banyak adventure nya, jadi member EXO dan TWICE juga SM Rookies yang lain masuknya nyicil-nyicil /elah/ di fanfict ini~~~ alurnya sendiri? Tau teaser EXODUS kan? Fanfict ini akan berjalan-jalan ke negara itu ^^

HAMPIR KELUPAAN! Karena imej Baekhyun yang terhancurkan di Irresistible Love, aku jadi merasa bersalah u,u karena di chapter 8 kemarin Baekhyun jahat juga ke Yeri u,u maap ya, bawaannya pas bikin chapter kemarin pengen membully si Baekhyun. Tapi Baek baik kok. NAMANYA AJA BIAS. Dia baik, hiks. Jangan marahin Baek, marahin authornya aja /ceritanya melas/ DAN YA AMPUN akhirnya Irish bisa ngebuatin quotes buat fanfict ini! Sungguh author yang menyedihkan T–T

SEKIAN CUAP-CUAP KALI INI, THANKYOU~~~~~ /KEMUDIAN TINGGAL SALAM PELUK CIUM/

COMING SOON!

SUNDAY – 22/11/2015 – 00:00 [IRRESISTIBLE LOVE – SLICE #10]
WEDNESDAY – 25/11/2015 – 00:00 [KAJIMA – SLICE #5]
SUNDAY – 29/11/2015 – 00:00 [One And Only – SLICE #10]

168 tanggapan untuk “One and Only – SLICE #9 — IRISH’s Story”

  1. baek kampr*t…ga jadi robot ga jadi program ga jadi vampir ga jadi avg bikin baper parah….tolong hambamu ne y Allah..ga kuat sama apapun bentuknya baek…
    irish always jjang!!!!!!! ❤
    lihat..jam segini mata masih melek setia baca dari awal smp akhir gegara tulisanmu rish..:D
    pedulilah sudah besok dokumen numpuk hahahahahha

  2. terharu pas yeri kluar aer mata >//< smp berkaca-kaca mata ini, wlw ga smp netes.. pas wendy debat ma yeri tu pengen bejeg2 si wendy!! songong bgt dy!! pasti dy nyembunyiin sesuatu ttg tu chip. Dahyun jg apa2an pk blng tu chip dr dy, bo-ong bgt dah! -_- pasti ada apa2ny tu mrk! pasti!! btw, Rish, obrolan Bakery Lover tu kedengeran ma rombongan mrk yg di dlm home car kan, gegara chip yg di pasang si wendy cagur itu?! kyny lama2 mrk hrs ganti pk bus pariwisata deh ^ ^ secara rombongan slalu bertambah tiap singgah di 1 kota 😀 wkkk~

  3. yawla cabe itu terbuat dari apa sih? jelas” cabe y terbuat dari cabe#lahapaini.wkekkk abaikan
    aduuh cabe peka juga ternyata meskipun lama….
    huffh kayanya cabe udah mulai suka sama yeri yaahhh..huwaaa seneng deh

  4. Kak chapter ini kok bikin nyesek ya, terutama waktu baekhyun nyeritain semua analisanya sama yeri kok nyesek banget bacanya hahahaha

  5. Kak, aku curhat dikit ya. Sebelumya minta tisu lagi ya kak, janji deh besok bakal beli.
    feel dari part awal-tengah
    pengen nendang si baek. Aku nangis kak dan bilang sama baek ‘cerewet lu baek’ mendadak kata itu keluar karena ketidak pekaannya sama yeri, sumpah kak. Pertanyaan baek bikin kesel sampe aku mewek kak rish.
    feel dari part tengah-akhir
    mewek lagi, tapi karena baek sadar dan peka *walaupun lama* serta masih peduli banget sama yeri huhuhu, dengan seketika rasa kesel ama baek jadi berkurang.
    Feel part cuapcuap kak irish
    Woa daebakk, seolah semua pertanyaanku dari chap sebelumnya sampe skrng terjawab jelas.sejelasjelasnya. dan seketika rasa kesel sama baek jadi ilang. Hahaha maap kak rish kalo terlalu cerewet and panjang, tapi aku pengen kak rish tau apa yg aku rasakan *plak-lebay* maap ya kak kalo komentku ganggu..

    1. XD ASTAGFIRULLAH, kenapa di chapter ini dan chapte delapan banyak yang baper? padahal aku pas ngetiknya biasa aja engga ada niatan buat dibikin sedih XD kwkwkwkw
      DUH LIAT AJA NTAR KALO CABE PEKA, DIA JADI KAYAK APA XD wkkwkkwkwkw
      gapapa monggo curhat aja, aku mendengarkan semua keluh kesahmu tentang fanfiksi ini kok XD

  6. Lagi iseng2 nyari ff yeri, nemu disini,, ijin baca yaa..
    ff nya seru 👍 kasian sama yeri nya dia dibayang bayang sama ketakutannya sama irene,, sebenernya udab baca dari chap 1 tapi mian baru komen disini. Mau lanjut baca yaa

  7. Oke. Yeri bener2 menyedihkan…karena sikap baekhyun yang nggak peka an itu..
    Ya walaupun baek udah mulai baik lagi.Plissss Baek,jangan buat Yeri merasa terasingkan.*plakk nangis bombai*
    Dan untuk kak Irish. Oke,aku nggak mau nyalahin kamu atas perlakuan baek ke Yeri karena ff mu ini yang…yang apa ya??? *tau sendirilah,yang apa??*
    Dan buat wendy,berasa pengen jambak rambutnya karena sikap+kelakuan+omongannya yang nggal bisa direm (pils,buat temenku yang biasnya wendy,jangan kenali aku ya,karna aku takutnya nanti pas ketemu aku malah tu jambakan rambut kenanya ke aku *apaan sih nggak jelas aku ini*)

    1. XD baek sih gapeka, dasar robot lemot XD wkwkwkwkwk
      buakakakakak masa aku yang dislahin? ini salah baekhyun loh yang nyuekin Yeri, bukan aku XD wkwkwkwkwk thanks yaa XD

  8. Sumpah hampir netesin airmata di chapter ini waktu yeri keliatan cemburu 😂😂😂
    Btw,salam kenal yaa author yg pinterr banget bikin alur crita ff ini wkwk
    Love this sooo much

  9. Aku suka bgt sm chapter ini. Yaampun disini perasaan yeri bener2 nyentuh bgt. Merasa kasihan bgt yeri diabaikan. keinginannya buat pergi jadi outsider lagi. Ah aku gtw harus ngomong apa. Aku suka bgtttt
    Di chapte ini akhirnya baek sm yeri bisa ngomong berdua. Klw gini kan jelas bgt

  10. Kok jantung aku nyut-nyutan ya pas bacanya
    Duuh kasian banget yaa yeri dikacangin gitu…. untung aja baekhyunnya peka
    Duh Wendy ceritanya disini jahat ya? Hadeuh biasku disini jahat banget ya…
    Tapi keren kok! Semangat ya kak!😁

    1. Weh ini bahaya .___. kenapa sampe nyut nyutan? segera periksa ke ugd coba wkwkwkwk XD iyeeppp bener dia di sini jahat XD tp jangan bad mood sama wendy yaa XD

  11. Akhirnya si baek peka juga… Untung dia ganteng, kalo ga mungkin udah dibuang ke rawa rawa:’v Keep Writing kak Irish!!! Semangat!!! Ngefans deh pokonya sama kak Irish!!!

  12. sungguh aku ngga bisa diam baca chap ini maunya guling sana guling sini,, efek debat yeri ama wendy. yahh si wendy nyebelin bangettt akhh *emoji kesel*

    dan aku rasa baek pengen ngelindungin yeri –dalam arti special– ahh itu sweet *emoji lope-lope*

    ahh aku ga sabar kelanjutannyaaa *ngilang*

  13. eonniii… ya ampuuunn, selain ff Kajima ni ff nyentuh banget, apalgi tanda vital yeri gak stabil melulu, terus penasaran ama wendy yg sikapnye kek gitu, pokoknya ni ff terutama ni chapt paling nyeseeekk banget…(╥_╥)
    semangat ya eon ngelanjutin chaptnye
    Fighting!!!*^O^*

    1. nyesek banget eonn… soalny baca ni ff kyk kenyataan, kalau aku jd yeri pasti udh nangis berat, apalagi wendy nyindir yeri mulu, uaaa.. pokoknya eonni sukses berat deh buat aku nyeseekk(╥_╥)

Tinggalkan Balasan ke secret Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s