Cigarettes Effect — Honeybutter26

2z65yzp

 

Cigarettes Effect

Author: Honeybutter26

Cast : Oh Sehun | Park Hani

Genre : IDK

Rate : PG 17+

Length: 1898 w.c

Summary:

“Aku tak mau kebiasaan ini menurun pada anak kita kelak, terutama jika dia laki-laki. Aku harus membuat anak kita berpikiran bahwa tanpa merokok pun dia bisa berprestasi, hidupnya juga akan lebih banyak bermanfaat karena waktu yang ia habiskan untuk merokok justru ia habiskan untuk melakukan hal-hal positif lainnya. Aku juga tidak mau merugikan orang-orang terdekatku karena tanpa sadar mereka jadi perokok pasif. Jadi, aku ingin kau membantuku. Aku tidak yakin akan bisa melakukan ini sendirian. Ya?”

***

Sehun awalnya tidak tahu apa itu rokok. Awal mula dia mengenal benda sepanjang lima centi yang terbuat dari tembakau yang dilinting dengan kertas itu saat usianya menginjak lima belas, tahun pertamanya diSMA. Sehun hanya coba-coba saja awalnya, penasaran ketika melihat teman-temannya menghisap putungan itu dan menghembuskan asapnya di udara, terlihat keren pikirnya.

 

Hingga kebiasaan itu terbawa sampai sekarang. Diperparah dengan dirinya yang kini sudah berpenghasilan dan berumur legal membuat ia tak perlu lagi sembunyi-sembunyi untuk merokok. Sehun tahu merokok adalah salahsatu perilaku buruk. Bukan berarti setiap perokok adalah kriminal, bukan. Yang dimaksud buruk disini adalah merokok adalah suatu perilaku atau kebiasaan yang berakibat buruk bagi kesehatan tubuh dan psikologi pelakunya.

 

Merokok memang tidak dilarang selayaknya memakai narkoba. Orang tidak perlu takut masuk penjara karena merokok padahal keduanya sama-sama mengandung suatu adiktif. Itu juga menjadi salahsatu faktor  pemicu meningkatnya kebiasaan merokok Sehun yang awalnya satu bungkus untuk dua hari jadi satu bungkus untuk sehari bahkan terkadang lebih jika ia sedang stres dengan pekerjaan atau hal lainnya.

 

Hani yang tidak melarang Sehun untuk merokok juga jadi pemicu. Sehun bisa saja patuh untuk tidak merokok jika gadis itu memintanya. Tapi Hani tak pernah melakukannya, dia hanya bilang kalau Sehun tidak boleh merokok di depannya, di tempat umum karena mengganggu banyak orang, di tempat bebas asap rokok, dan di tempat dimana banyak anak-anak.

 

Hingga hari itu entah mendapat pencerahan darimana, Sehun merasa bahwa ia harus berhenti dari perilaku buruk yang satu ini. Setelah berpikir semalaman penuh tentang hal ini, Sehun pun akhirnya memberanikan diri untuk berbicara dengan Hani. Setelah seharian berkencan, Sehun mengajak Hani untuk bersantai sebentar dan melepas dahaga di kedai milik Minseok.

 

“Sayang,” Panggil Sehun untuk mengambil perhatian Hani dari milkshake vanilla dan black forest dengan banyak sekali remah coklat serta dua manisan cherry diatasnya sebagai garnish.

 

“Aku mau bicara.”

 

“Bicara saja, aku mendengarkan,” Hani kembali pada hidangannya setelah tadi sempat melihat pada Sehun sebentar.

 

“Ini serius, jadi kau harus mendengarkan dengan baik,” kata-kata Sehun membuat Hani kembali memberikan perhatian pada pria itu tapi ditambah dengan beberapa kerutan dikening. Namun ia masih diam, dengan bibir yang masih mengapit sendok kue. Membuat Sehun mengerti kini Hani tengah membiarkannya untuk bicara.

 

“Begini, bagaimana menurutmu jika aku berhenti merokok?” Sendok terlepas dari bibirnya, dan matanya menuntut penjelasan.

 

“Aku pikir aku harus— ah tidak, aku ingin berhenti merokok.”

 

“Kau serius?” Sehun mengangguk pelan, agak ragu sebenarnya tapi ia sudah memikirkannya semalaman.

 

“Baguslah.”

 

BANG!

 

Sehun menganga, hanya itu respon Hani? Sehun pikir gadis itu akan memberikannya senyum lebar dan kalimat-kalimat penyemangat yang penuh gula. Ah, Sehun lupa jika pacarnya ini salahsatu ciptaan tuhan yang begitu unik.

 

“Hanya itu?” Tetap saja tenggorokan Sehun gatal untuk tidak bertanya.

 

“Lalu apa lagi? Bagus kalau kau berpikir ingin berhenti.”

 

“Maksudku— bukannya harusnya kau menyemangati pacarmu ini?”

 

“Ah, semangat!” Satu dengusan keluar dari kedua lubang hidungnya, Sehun pikir umurnya akan berkurang banyak karena Hani karena gadis itu membuatnya menghela napas tiap saat. Bahkan meski gadis itu memberikan kata penyemangat pun wajahnya masih tetap sedatar papan ski. Sehun rasa ia harus menambah panjang ususnya.

 

“Kau ini bisa tidak serius sedikit?” ucapnya sedikit sebal. Hani seperti tidak peduli, gadis itu masih saja menikmati camilannya dengan hikmat.

 

Diletakkannya sendok kue itu lalu menyeruput sedikit milkshake vanilanya. Halusnya rasa dan aroma vanilla memenuhi seluruh indra pengecap. Terasa menyenangkan.

 

“Sehun, aku tidak pernah melarangmu untuk merokok juga tak pernah menyuruhmu untuk berhenti. Kau tahu kenapa?” Sehun menggeleng dan Hani hanya menyematkan satu simpul glukosa disudut bibirnya.

 

“Karena itu percuma. Aku justru takut kau menganggapku tidak menghargaimu karena hal ini. Itu sebanya aku hanya memberi batasan dimana dan kapan kau boleh merokok atau tidak. Keinginan untuk berhenti itu harus berasal dari dirimu sendiri. Yah—walaupun niat dan tekad saja sebenarnya tidak cukup untuk itu. Tapi kenapa tiba-tiba sekali?”

 

Hani benar, tekad dan niat saja tidak cukup. Sehun dulu juga mencoba untuk berhenti secara permanen namun tetap tidak bisa. Berbagai cara ia lakukan namun hasilnya justru berkebalikan. Adiksi Sehun terhadap lintingan tembakau itu justru semakin menjadi.

 

“Sebenarnya tidak tiba-tiba, aku sudah memikirkan ini sejak lama. Aku bahkan pernah mencoba berhenti saat masih berada di Amerika. Tapi kau tahu? Hasilnya nihil justru semakin parah.”

 

“Lalu sekarang karena apa?”

 

“Pernah tidak kau berpikir bahwa merokok dampaknya jauh lebih mematikan secara fisik dan psikologi daripada narkoba?” Hani mengangguk, ia pernah ikut seminar tentang rokok jadi ia tahu tentang ini.

 

“Orang sadar bahwa merokok membahayakan hidupnya tetapi tetap melakukan itu karena tidak ada larangan. Berbeda dengan narkoba yang akan menjerat pemakainya dengan hukuman,” jawab Hani.

 

“Itu jadi salahsatu sebab, tapi daripada semua itu yang aku pikirkan adalah masa depan kita nantinya,” Hani berkedip, tak mengerti dengan maksud kalimat pacarnya ini.

 

“Sejujurnya aku merokok bukan hanya karena pengaruh dari teman-temanku. Ayah juga seorang perokok, semenjak kecil aku sudah melihat perilaku Ayah sebagai seorang perokok. Tapi karena waktu itu aku berpikir hanya orang dewasa saja yang boleh merokok jadi aku belum berniat mencobanya.”

 

“Tapi setelah SMA dan melihat teman-teman menghisap rokok, aku juga penasaran bagaimana rasanya. Itu awal mulanya, tapi secara tidak sadar Ayah juga ikut andil dalam hal itu. Kebiasaanku melihat Ayah merokok di rumah terkadang membuatku berpikir agar cepat dewasa supaya aku bisa ikut mencoba merasakan,” serentetan kalimat panjang dari Sehun hanya dibalas dengan keterdiaman Hani. Gadis itu masih menunggu Sehun melanjutkan apa yang ingin dikatakan, mereka punya sifat yang sama tentang tidak suka jika ada orang yang memotong pembicaraannya kecuali dalam forum debat.

 

Sehun meraih tangan Hani diatas meja, menggenggam penuh kehangatan. Menyatukan pandangan dalam poros yang sama. “Aku tak mau kebiasaan ini menurun pada anak kita kelak, terutama jika dia laki-laki. Aku harus membuat anak kita berpikiran bahwa tanpa merokok pun dia bisa berprestasi, hidupnya juga akan lebih banyak bermanfaat karena waktu yang ia habiskan untuk merokok justru ia habiskan untuk melakukan hal-hal positif lainnya. Aku juga tidak mau merugikan orang-orang terdekatku karena tanpa sadar mereka jadi perokok pasif. Jadi, aku ingin kau membantuku. Aku tidak yakin akan bisa melakukan ini sendirian. Ya?”

 

Hani tersenyum kemudian mengangguk. Kalau begini semangat dan tekad Sehun untuk berhenti jadi makin besar. Hani memang selalu berperan penting dalam mengendalikan perasaannya.

 

***

 

“Sehun, biasanya sehari kau habis berapa bungkus?” Hani bertanya pada Sehun, saat ini mereka tengah melanjutkan kencan mereka dengan menonton film di kondominum milik Sehun.

 

“Eum, satu dalam keadaan normal. Kalau sedang stress biasanya tambah setengah bungkus atau mungkin dua.”

 

“Banyak juga ternyata. Kalau begitu mulai minggu besok kau hanya boleh menghabiskan satu bungkus untuk dua hari.”

 

“Kenapa harus menunggu minggu besok?” Tanyanya tak mengerti.

 

“Aku membiarkanmu untuk merokok dulu sepuasnya, tapi ingat jangan berlebihan!” Peringat Hani yang mendapat satu kecupan dikening dari Sehun sebagai jawaban.

 

Hari itu pagi-pagi sekali Hani sudah sampai di kondominium pacarnya, sudah menodong dompet Sehun dengan wajahnya yang bahkan lebih menyeramkan dari seorang yakuza. Datar dan lurus tanpa ekspresi.

 

“Untuk apa mengambil dompetku segala?” Hani tidak berniat menjawab dan hanya mengambil beberapa lembar uang dari dompet Sehun.

 

“Ini uangmu untuk dua hari, ini kartu pengenalmu dan ini sim. Ah, dan ini rokokmu,” Hani menyerahkan satu persatu benda yang ia sebutkan. Sehun menganga, apa maksud Hani memberinya uang hanya beberapa ribu won saja?

 

“Aku sudah menghitungnya, mulai hari ini kau pakai mobilku dan makan siang bersamaku. Kau tahu jika jumlah uang yang aku berikan akan habis jika kau belikan rokok dan kau tidak makan atau kau makan tapi tidak bisa beli rokok. Jadi Sehun, kau harus pintar-pintar untuk menggunakannya. Ingat, aku tidak akan memaksamu.”

 

Apa yang bisa Sehun lakukan selain menerima dengan lapang dada?

 

Hani sudah menentukan kiranya metode apa yang bisa ia coba terapkan pada Sehun. Self healing dengan menunda dan pola hidupyang lebih sehat. Metode self healing ia terapkan agar Sehun tidak terfokus pada usahanya untuk berhenti merokok melainkan mencoba membawa pikiran pria itu pada hal-hal lain. Sedangkan menunda adalah metode dimana ia membiarkan Sehun menentukan sendiri kapan ia harus merokok dengan cara memberikan jatah satu bungkus rokok untuk dua hari. Jelas saja itu tidak cukup, tapi dengan begitu Sehun akan mengerti bagaimana cara menghemat putung rokok yang ia hisap agar bisa sampai dua hari.

 

Hani pernah membaca jika tidak ada obat paling mujarab untuk menyembuhkan perilaku merokok kecuali perhatian yang sadar dan jernih, yaitu melepaskan upaya dan ambisi pria itu untuk merokok. Ia akan menyempatkan diri tiap pagi datang ke kondominium Sehun dan memasak sarapan sehat untuk pria itu juga saat makan siang. Menyuruh Sehun untuk menelponnya ketika ia butuh pengalihan. Dan mengajak Sehun jogging dan yoga bersama tiga kali dalam seminggu. Ia juga menerapkan penambahan hari jatah rokok Sehun perminggunya. Ia sengaja melakukan ini secara perlahan agar Sehun tidak mengalami stres yang berlebihan karena yang ia tahu ada zat dalam rokok yang bilamana sudah dikomsumsi sekian lama maka tingkat metabolisme tubuh akan bergantung pada zat itu. Adiksi itu akan memnyebabkan pelakunya akan mengalami fase seperti terjadinya fenomena sakau pada pecandu narkoba.

 

“Saat keinginan untuk merokok hampir menghacurkan akal sehatmu, yang harus kau ingat adalah wajah marahku padamu. Kau tahu bgaimana jika aku marah, bukan?”

 

“Jangan marah, jangan mendiamkanku. Aku tidak suka. Aku akan berusaha sebisaku dan menuruti semua yang sudah kau anjurkan. Terimakasih ya.”

 

***

 

Tapi hari itu datang juga. Hari dimana tubuh Sehun menggigil kedinginan dan keringat dingin mengucur deras dari pori pori kulit. Hal ini bermula karena stres Sehun pada pekerjaannya. Sehun yang sudah mencapai tahap lima hari satu bungkus rokok itu menyerah dan menghabiskan seluruh jatah uangnya untuk membeli rokok yang dihabiskan dalam waktu dua hari.

 

Jadilah dihari ketiga Sehun sudah kehabisan rokoknya, kemudian ditambah banyaknya pekerjaan yang menumpuk dan tidak bisa menelpon Hani untuk pelampiasan membuat stresnya makin bertambah.  Ia juga tidak bisa mengalihkan stres pada rokok karena sudah kehabisan persediaan.

 

Badannya memberikan respon sebaliknya dan akhirnya Sehun jatuh sakit. Hani terus memeluk Sehun sepanjang malam, sesekali membisikan kata penenang dan mengelus punggung Sehun dengan lembut saat pria itu mulai meracau.

 

“Maaf, ya. Maaf karena melakukan ini padamu. Bukankah ini untuk kebaikan kita dimasa depan? Bertahanlah, Sehun. Bertahan untukku. Untuk kita.”

 

Hani sebenarnya tak tega. Apalagi ketika Sehun meracau kesakitan dan dingin lantas mengeratkan diri dalam pelukannya dengan telapak tangan yang terkepal. Ia ingin menangis melihatnya.

 

***

 

Hari-hari telah berlalu, rasanya baru kemarin Sehun berkeinginan untuk berhenti merokok dan meminta Hani untuk membimbing serta menemaninya. Tidak diduga delapan bulan sudah terlewati dengan berbagai proses yang berat dan menyakitkan.

 

Sehun merasa perlu memberikan banyak pujian pada kesabaran Hani dalam menghadapinya, mereka bahkan sempat mengulang dari awal lagi setelah Sehun sakau untuk yang ketiga kali.

 

“Sehun, kau ingat tidak kapan terakhir kali merokok?” Tanya Hani saat sedang memilih film yang akan mereka tonton dikencan kali ini.

 

“Kapan ya? Entahlah.”

 

“Itu satu setengah bulan yang lalu Sehun, saat Jongin menawarimu rokok dan kau menerimanya dengan ragu. Kita nonton ini saja, ya?” Hani berbalik sambil menunjukkan DVD Frozen pada Sehun.

 

“Astaga, sayang. Kita sudah menonton itu minggu lalu, dan jika kau menontonnya lagi maka ini sudah yang kesepuluh.”

 

Hani mencebik dan Sehun menyerah, ia tidak mau didiamkan pacar cantiknya ini.

 

“Memang sudah selama itu aku tidak merokok, ya?” Tanyanya pada si Queen Elsa yang meringkuk hangat dalam pelukannya.

 

“Eum, memangnya kau tidak ingat?”

 

“Tidak. Aku sudah tidak menyentuh rokok lagi semenjak itu dan lebih sering menghabiskan waktuku dengan hal lain. Apa dengan ini berarti—”

 

“Kau berhasil, Sehun. Selamat, ya.”

 

Sehun tersenyum, menghadiahi pacarnya dengan kecupan diwajahnya secara penuh tapi lembut. “Aku tidak akan berhasil tanpa sifat pantang menyerahmu, sayang. Terimakasih.”

 

“Ingat-ingat dengan baik semua proses menyakitkan yang kau lalui untuk berhenti merokok agar nantinya kau tidak terjerumus lagi.”

 

“Iya, sini kucium. Ya Tuhan, pacarku cantik sekali.”

 

FIN

 

Semoga bermanfaat ya.. diselipin edukasi dikit biar kita sama sama belajar. Kalau ada yang salah atau ada yang kurang silahkan dibenarkan dan ditambahi..

33 tanggapan untuk “Cigarettes Effect — Honeybutter26”

  1. Woaahh keren ya ini kereeenn!! Edukasinya dapet banget~ tapiii yah kurang di romance nya sih hahha tapi aku lebih suka karena ada nilai mendidiknya itu sih. Ada informasinya jugaa jadi kalo buat kekurangan yg lain itu sih ga jadi masalah soalnya pengambilan tema “merokok” ini iadi nilai plus yg gede banget. Okay, semoga bisa kasih ff seperti ini lagi yaa~ keep writing dear ^^

    1. hehehe iya.. ngemixnya rada susah soalnya baru pertama ini bawa tema beginian.. tapi intinya aku pengen sekaligus ngasih edukasi aja jadi gak melulu soal genre ficnya.. terimakasih sudah baca dan komen ya…

  2. yaelah hunnie aahh pengen bgt dah yg jd hani itu gue *plak wkwkwk duuhh hunnie mah gitu kali yaahh kalo dah punya keyakinan yaahh bakal dijalani sebenuh hati. buat cewe cewe nih patut dicontoh cara hani *buatguejugakaliyaakk* wkkwkwkw

  3. bener banget.. mereka kadang kalo dilarang makin menjadi.. sesadarnya aja.. sambil diingetin pelan pelan.. kalo kata dosen aku juga orang ngrokok itu jangan disuruh berhenti nanti juga berhenti sendiri.. kalo gak berhenti karena sadar ya mati.. :v dan buat aku sendiri penyakit rokok itu bukan ke fisik melainkan psikis.. karena perokok punya perasaan semacam.. lha ini uang gue, mau gue beliin rokok mau gue beliin apa ya urusan gue. lagian ngrokok gak ngrokok bisa mati dengan penyakit yang sama.. yang terakhir kalimat keramatnya guru smk aku.. hahaha

    makasih udah baca dan komen ya..

  4. Duh Duh Keren banget 😀
    Sampe pengen nangis saking kerennya
    Buat belajar juga, biar gak harus maksa orang buat berenti merokok. Karna emang harus dari diri sendiri sih 🙂
    Keren keren ~

  5. Fic nya bermanfaat bangett,iya nih aku emg suka keganggu aama asap rokokkdi keluargaku cuman bapa doang yg ngeroko mulu suka sesek gitu sama asapnya 😥😥.
    Suka deh pokoknya sama fic nya heheh

    1. kalo aku malah dirumah bapak gak ngrokok jadi kadang kalo lagi kumpul sama temen temen cowok suka risih kalo mereka ngrokok.. emang asepnya itu ngeganggu banget.. tapi bukan itu aja.. bau mulut perokok juga asdfgjslgak sekali…

      btw makasih sudah baca dan komen ya… 🙂

  6. Ini ff nya keren amat thor. Lebihtepatnya, kenapa bisa kepikiran gini hahaha. Good job. And thanks for your education;;)

    1. gak kudu baca sih.. tapi yang udah baca ini semoga bisa bermanfaat untuk pribadi dan untuk orang lain.. kita saling ngingetin aja..

      makasih ya udah baca dan komen.. 🙂

  7. aaaa.. makasih bangett yaa,, ini brmanfaat bangett, sebenernya aku juga gak suka sama org yg ngrokok karna ayahku sendiri juga gak ngerokok & jujur aku gak kuat banget sama asap rokok yang selalu bikin sesak d dada. tapi pas aku baca ini, aku jadi terinspirasi buat ngingetin temenku yang pecandu rokok. maaf yaa jdii curhat. tapi ini sumpah bagus banget untuk org yg pecandu rokok

    1. iya sama.. kadang suka sebel tapi ya gimana mereka dibilangin kadang makin menjadi.. semoga bacaan kecil nan absurd ini bisa bermanfaat ya..

      makasih udah baca dan komen 🙂

  8. aaaa.. makasihb bangett yaa,, ini brmanfaat bangett, sebenernya aku juga gak suka sama org yg ngrokok karna ayahku sendiri juga gak ngerokok & jujur aku gak kuat banget sama asap rokok yang selalu bikin sesak d dada. tapi pas aku baca ini, aku jadi terinspirasi buat ngingetin temenku yang pecandu rokok. maaf yaa jdii curhat. tapi ini sumpah bagus banget untuk org yg pecandu rokok

  9. weh sehun wkkwkw wah pinter2 juga yah kamu author buat fanfic yang banyak manfaatmya gini 🙂 semangat yak buat fanfic yang lain 🙂

  10. disaat ff lain cuma mengangkat romaance dan romance disini aku baca ff yg bikin semangat positif banget
    aku suka ff nya ada yg bisa dipetik tanpa ada kesan kaku atau memaksa
    suka bangettt

    1. hehehe alhamdulillah kalo tulisan aneh ini bisa ngasih manfaat meskipun kecil ya.. ini hasil dari sharing dan baca sana sini.. terimakasih banget buat temen larva ane yang ngasih inspirasi ini..

      makasih sudah baca dan komen yaaaa 🙂

  11. daebbak~ ini bisa dijadiin pelajaran nih buat para cowo yg merokok dan para cewe yg punya pacar perokok semangatin mereka juga biar bisa berhenti merokok secara perlahan-lahan tentunyaa…
    sehun berutung banget deh punya pacar yang ngedukung gitu waa,,
    keep writing thor~^^

    1. iya.. buat siapapun yang pengen berhenti merokok kita harus dukung mereka ya.. kasih support sepenuhnya.. karena emang faktanya kalo mau berhenti merokok gak bisa sekaligus.. ada proses yang panjang, lama dan pastinya menyakitkan.. kita juga gak bisa sembarangan pilih metode terutama untuk pengalihan, takutnya malah bikin adiksi baru..

      makasih sudah baca dan komen yaaaa 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s