[Chapter 4: Heartbeat] Emergency Love

emergency_love_shuuShuu’s present

[Chapter 4: Heartbeat] Emergency Love

Cover by:

L J S @ Indo Fanfictions Arts

Main cast:

Xi Luhan [EXO] | Irene Bae [Red Velvet]

Support cast:

Lay [EXO] | Park Chorong [A Pink]

Genre:

failed Comedy | Romance | Drama

Rating:

PG-13

Prolog | After a Long Time | Q n A | Sweet Memory | Heartbeat

Desclaimer:

Terimaksih atas komentar positif yang saya terima di chapter 3 sebelumnya. Maaf buat update telatnya >.< Please, DON’T BASH or PLAGIAT. RCL juseyo! Warning! Typo kayaknya ada, tapi di usahain gak ada! Oh, ya kunjungi blog pribadi aku di http://www.allaboutfangirl.wordpress.com

Luhan dan Irene selesai memeriksa pasien di bangsal anak. Waktu telah menujukkan tengah hari dan saatnya mereka istirahat makan siang. Mereka berjalan menyusuri koridor-koridor untuk menuju ke kafetaria rumah sakit.

Suara Irene menginterupsi keheningan yang awalnya tercipta, “Aku akan ke kamar mandi dulu. Kau duluan saja nanti aku menyusul.”

Ne. Arraseo. Kalau begitu aku akan menunggu di ruang UGD saja.” kata Luhan sambil menunjuk ruang UGD yang berjarak beberapa meter dari mereka.

Irene mengangguk dan berbelok arah menuju kamar mandi. Sedangkan Luhan meneruskan langkahnya menuju ruang UGD. Ruang UGD tak seramai biasanya yang penuh sesak sampai terkadang Irene mengeluh karena banyaknya orang yang berlalu lalang membuat kepalanya pening. Sekarang rasanya bisa bernafas dengan leluasa, tidak seperti biasanya yang harus berlomba menghirup udara dengan yang lainnya.

“Dokter Xi!” panggil kepala perawat Jang.

“Ne? Ada apa?” tanya Luhan sambil menghampiri kepala perawat yang berada di bilik administrasi.

“Kemarilah.” Kata kepala perawat Jang. Luhan lalu berjalan mendekat.

“Ne? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Luhan.

Ani. Aku hanya ingin menunjukan jadwal piketmu di ruang UGD.” Kata kepala perawat Jang sambil menyodorkan selembar kertas padanya.

“Ahhh…. Arraseo.” Kata Luhan sambil mengambil selembar kertas dari tangan kepala perawat Jang.

Dooooooorrrrrrrr…….

Terdengar bunyi tembakan dari arah ruang pemeriksaan. Luhan dengan refleks langsung menoleh disertai perawat dan beberapa orang yang sedang berada di UGD. Luhan terpaku di tempatnya dan hanya bisa berdiri mematung. Pikirannya yang semula masih baik-baik saja sekarang seperti otaknya telah rusak, tidak dapat digunakan lagi. Semua kata tanya melintas di benak Luhan. Apa yang harus kulakukan? Dimana Irene? Kenapa harus di ruang UGD? Bagaimana ini? Siapa orang itu? mengapa dia melakukannya di rumah sakit seperti ini?

Tak lama kemudian terdengarlah suara pria paruh baya yang memecah keheningan penuh ketegangan yang berlangsung selama beberapa puluh detik, “Tolonglah, selamatkan anak saya. Anak saya tidak bisa meninggal dengan cara seperti ini.”

Luhan menggeser tubuhnya supaya dapat melihat orang tersebut. Ia melihat seoarng pria paruh baya yang mengangkat pistolnya sambil menangis tersedu. Dilihat dari penampilannya dia lebih mirip dengan seorang gangster. Ia berdiri tepat di samping ranjang yang terdapat seorang anak lelaki yang tengah berbaring. Monitor kecil di sampingnya terlihat munjukkan garis lurus yang monoton.

Suasana mendadak berubah menjadi amat mencekam. Suster-suster berhamburan dan beberapa terlihat bersembunyi di kolong meja dan kolong tempat tidur. Kepala perawat pun terlihat pucat setelah mendengar tembakan tadi.

“Jangan kemana-mana tetaplah dsisini.” Kata Luhan sambil menjauh.

Luhan lalu berjalan mendekati Bapak tersebut. Tangannya masih memngangkat pistol di udara. “Jangan mendekat!” teriak bapak tersebut yang melihat Luhan yang tengah berjalan menghampirinya.

“Apa yang anda inginkan?” tanya Luhan sambil mengarahkan telapak tangannya kearah bapak itu.

“Aku hanya ingin anakku bisa hidup.” Kata bapak itu masih sambil menangis.

“Ahjussi, kematian itu sudah ditangan Tuhan kita tak bisa mengingkari kehendaknya. Jika sudah waktunya kita hanya bisa menerima dan mengikhlaskannya. Mungkin Tuhan mempunyai rencana yang lebih baik untuk anda dan anak anda. Berpikir positiflah kepada Tuhan.” Kata Luhan mencoba menenangkan.

“Jangan coba-coba mengajariku tentang itu anak muda. Kau tak tahu apa-apa dibandingkan aku.” Kata bapak itu. pistolnya masih terangkat ke udara. “Bagaimana aku bisa memaafkan diriku sendiri jika yang membuat anakku mati adalah aku sendiri?” kata Bapak itu sambil menerawang jauh.

Luhan terpaku di tempatnya. Terlihat metanya membelalak kaget saat mendengar pernyataan bapak itu.

Ahjussi, anda tidak bisa melakukan ini di rumah sakit. Tenanglah, kumohon.” Kata Luhan masih mencoba menengkan bapak itu.

“Jika kau menginginkan aku tidak melakukan hal ini. Kau harus membuat anakku hidup kembali.” Kata Bapak itu, sekarang pistol yang semula terangkat di udara mengarah ke arah Luhan.

Saat itu juga Luhan terlihat pucat. Ia menelan ludahnya kasar. Orang siapapun itu, tak akan bisa mengembalikan orang yang sudah mati kan? Siapapun itu termasuk Luhan sekalipun. Itu tidak bisa ternalar oleh otak manusia. Seorang Albert Einstein-pun tak bisa menghidupkan orang kembali.

Luhan sedari belum berhasil juga membuat perjanjian dengan bapak itu. Bapak itu masih bersikeras menyuruh Luhan menghidupkan anaknya kembali seperti semula. Suster-susterpun terlihat ketakutan dengan wajah garang bapak itu. sedangkan belum ada dokter lain yang datang. Karena kebetulan sekali semua dokter senior sedang rapat dengan Ketua. Hell, siapapun itu pasti akan gemetar jika di tempatkan dengan suasana seperti ini.

Dari ujung koridor terdengar suara langkah kaki. Luhan langsung menengok ke samping kiri memastikan siapa orang yang berjalan menuju ruang UGD.
“Sunbae!!!” kata Irene sambil melambaikan tangannya. Llau ia terlihat sibuk menggulung lengan jasnya sampai ke siku.

Luhan terlihat menggeleng ke arah Irene. Bermaksud tidak membiarkan Irene memasuki runag UGD. “Mwo?!? Ada apa?” kata Irene dengan suara lantangnya. Terlihat Bapak itu tertarik dengan kedatangan Irene.

Luhan lalu mengode Irene dengan gerakan bibirnya, “Jangan mendekat! Pergilah!”
“Memangnya ada apa?’ tanya Irene yang terlihat polos. Ia malah berlari kecil ke arah Luhan. Semain dekat, semakin dekat, semakin dekat, sampai akhirnya Irene menepuk pundak Irene.

Saat itu juga Luhan menengok mengalihkan pandangannya kepada bapak yang sedang berdiri di hadapannya. Bapak itu kemudian menunjukkan senyum penuh artinya. Luhan tak bisa berkata apapun saat itu. Semua yang ada di ruangan tu terlihat menahan nafas mereka masing-masing.

“Wae sunbae?” tanya Irene yang masih tak menyadari bapak itu yang sedang berjalan mendekatinya. Luhan hanya dapat memandang Irene sambil menggeleng kepalanya samar. Rasanya tenggorokannya tercekat.

Tangan dingin Luhan menggengam erat pergelangan tangan Irene. Waktu terasa lama berputar. Luhan ingin mengatakan sesuatu ke Irene tetapi tenggorokannya rasanya tak sanggup.

“Ada apa sunbae? Apa kau sakit? Kenapa tanganmu dingin?” tanya Irene sambil melihat tangan Luhan yang memegang pergelangan tangannya.

Secepat kilat, Ahjussi itu terihat menepuk pundak Irene. “Wae?” tanya Irene kepada bapak itu, masih tak menyadari bahwa tangan kanan bapak itu memegang pistol. Irene lalu mengalihkan pandanganya ke arah Luhan.

Pistol tersebut lalu diarahkan Paman itu ke arah pelipis Irene. Irene membelalakkan matanya, ia tahu pasti jika sudut matanya menangkap sebuah pistol. Posisi mereka sekarang adalah, Irene berdiri disamping Luhan sedangkan Luhan menatap Irene dengan pandangan seribu maknanya. Sedangkan Paman itu berdiri dihapan Luhan sabil mengarahkan pistolnya ke pelipis Irene.

Rasanya jantung Irene berpacu 100 kali lebih cepat dari biasanya. Ia hanya bisa berdiri mematung disamping Luhan. Luhan semakin erat memegang pergelangan tangan Irene.

“Kau harus menghidupkan kembali putraku jika kau tak ingin gadis ini mati.” Kata Paman itu tangannya belum absen dari pelipis Irene. secepat kilat Paman itu memiting leher Irene dengan lengan kekarnya.

Ia lalu menyeret Irene menjauh dari Luhan. Tetapi tangan mereka masih tertaut satu sama lain. Paman itu terus menarik Irene, sekarang tangan Luhan bukan lagi memegang pergelangan tangan Irene malainkan tangan Irene. Paman itu menarik Irene menjauh dari Luhan sampai tangan mereka berdua terlepas.

Terlihat wajah khawatir dari Luhan. Luhan bejalan mendekat berupaya mengenyahkan Paman tersebut. Luhan tak ingin Irene disentuh dengan orang seperti itu. Tak akan.

“Jangan mendekat. Jika kau mendekat akan kubunuh gadis cantik ini.” Kata Paman itu sambil terkekeh. Luhan dengan terpaksa menghentikan langkahnya.

Terlihat Irene berusaha melepaskan lengan Paman itu dari lehernya. “Ahjussi, tolong lepaskan tanganmu.” Kata Irene setengah merintih. Wajah Irene menampakan ketakutan teramat dalam. Keringat dingin mulai mungucur di pelipisnya.

“Ahjussi, kumohon dengan sangat. Tolonglah, biarkan Irene. jangan buat dia seperti itu. kumohon.” Kata Luhan memohon. Tetapi tetap saja Paman itu masih meletakkan pistolnya kearah pelipis Irene.

“Jadi kau mencintainya anak muda?” kata Paman itu. Luhan mengangguk samar.

“Cih, omong kosong. Cinta itu hanyalah omong kosong.” Kata Paman itu.

Terlihat Irene yang sudah mengeluarkan bulir-bulir airmatanya. Dadanya terasa sesak, ia tak membayangkan jika akan mati seperti ini.

“Kumohon Paman. Lepaskan Irene.” kata Luhan lalu jatuh terduduk dihadapan Irene. terdengar isakan kecil dari Irene. Wajahnya terlihat pucat dan gemetar disekujur tubuhnya.

“Cih, seperti opera sabun saja. cerita yang sangat murahan. Jika aku membuat mati gadis ini, kau juga akan merasakan kehilangan yang amat dalam. Tetapi, rasa itu tak lebih dari seujung kuku dari apa yang kurasakan. Arrachi?” kata Paman itu.

Dunia terasa berhenti berputar sejenak. Sedangkan kepala Irene dipenuhi cara yang akan dilakukannya agar terlepas dari sandera Paman gila ini. Tetapi, tak satupun cara yang ia lakukan. Hanya saja cara itu terus berputar-putar dikepalanya.

1…. 2…. 3…. DUKKK…..

Dengan megumpulkan semua kekuatan yang Irene punya, ia berhasil menendang kaki Paman itu walaupun Paman itu berada di belakangnya. Paman itu mengaduh kesakitan, sedangkan Irene langsung lepas dari sanderanya. Ia lalu jatuh tersungkur ke lantai.

Sunbae…,” rintihnya, tangannya terlihat ingin menggapai Luhan yang sedang berlutut di hadapannya.

Luhan beberapa detik hanya diam mematung, bingung akan melakukan apa. Setelah Irene memanggilnya ia baru sadar. Dengan tertatih ia menghampiri Irene yang tersungkur di lantai. Luhan memeluknya dengan erat. Wajah Irene telah pucat, dan keringat dingin terus mengalir dari dahinya.

“Irene…. Irene….,” Luhan terus saja memanggil Irene yang berada di dekapannya. Sedangkan yang dipanggil tak kunjung bereaksi. Hanya sebuah butir air mata meluncur di pipi Irene. Setelah itu, rasanya semua indera Irene sudah tak berfungsi. Rungunya tak dapat mendengar hanya sebuah dengungan yang monoton. Matanya seakan melihat banyak bintik-bintik cahaya, kemudian cahaya itu lenyap dan digantikan oleh kegelapan yang pekat.

“Irene…., Irene….” Luhan terus memanggil Irene berusaha menyadarkan Irene. ditempelkanlah tangan Luhan di dahi Irene. “Aigoooo, kau demam tinggi.” Luhan baru sadar Irene terkena flu tadi pagi. Pasti sekarang ini kepala Irene pusing, apalalagi ditambah syok.

“Ya! Gaessi!” teriak Paman itu yang terlihat marah. Matanya telah memerah dan urat-urat lehernya bermunculan. Terdengar giginya bergeeletuk keras. Melihat Irene dan Luhan.

Luhan masih saja memeluk Irene yang tenagh pingsan di dekapannya. Memeluknya erat seakan tak ingin menyerahkannya kepada siapapun.

“Dasar kalian tak tahu diri. Rasakan!” Paman itu mengangkat pistolnya ke arah Luhan. Wajahnya terlihat nafsu sekali menatap Luhan, seakan ingin menelan Luhan bulat-bulat. Tanpa ampun sedikitpun.

DORRR…

Timah panas itu berhasil menembus punggung Luhan. Luhan masih memeluk Irene, tetapi pelukannya mengerat. Yang dirasaknnya pertama panas dan mati rasa, setelah benda kecil itu menembus punggung Luhan sempurna, ia baru merasakan sakit yang teramat sangat.

“Yaaaakkkkkkk!!! Neo! Michin Gaeeeeessssiii!!!!” dari arah depan Luhan munculah Lay yang tengah berlari kearah mereka sambil mengangkat sebuah suntik tinggi-tinggi. Ia berlari kecil mengahampiri paman gila itu masih sambil mengangkat jarum suntik tersebut.

Denagn wajah merah padam Lay menghampiri Paman itu. Paman itu terlihat bingung dengan tindakan Lay. Tak disangka Lay menyuntikan jarum tersebut pada lengan Paman itu. saat itu juga Paman itu langsung jatuh pinsan dan tergeletak begitu saja di lantai.

Lay lalu berbalik melihat keadaan Luhan dan Irene. suster-suster-oun terlihat berhamburan keluar setelah melihat Lay menaklukan Paman gila itu. entah apa yang Lay suntikkan kepada Paman itu sehingga membuatnya pingsan begitu.

HyungGwencanha?” tanya Lay melihat luka di punggung Luhan telah mengalirkan darah segar. Luhan mengangguk lirih.

Setengah berbisik Luhan berkata, “Bantu aku untuk membawa Irene, supaya ia bisa dirawat. Ia demam tinggi.”

“Biar aku saja. Kita harus mengeluarkan peluru di punggungmu itu Hyung.” Kata Lay.
“Anio. Aku harus memastikan Irene baik-baik saja.” Terlihat Luhan amat kesakitan. Dia terus mencengeran baju Irene untuk menahan sakitnya.

“Aissshhh… Michigaesseo” umpat Lay. Ia tahu Luhan sangatlah keras kepala. Dan pada akhirnya ia harus mengalah untuk Luhan.

Ia membiarkan Luhan untuk memapah Irene ke ranjang untuk dibawa ke ruang intensif. Kemudian dengan bantuan kursi roda, Luhan menuju ruang operasi melakukan pembedahan kecil untuk mengeluarkan peluru yang masih bersarah di punggungnya itu.

Mata Irene mengerjap pelan, entah kenapa kepalanya masih pening. Terasa berat untuk berpikir. Ia lalu teringat kejadian sebelum ini. Ia ingin segera bangkit dari tempat tidur. Tetapi ada sesutu berat yang menghambat kakinya untuk bergerak.
Tunggu, itu Luhan. Ia terlihat tertidur dan menyenderkan kepalanya di kaki Irene. tidurnya terlihat lelap. Wajahnya mengisyaratkan bahwa ia benar-benar lelah. Irene tersenyum kecil melihat Luhan yang tertidur sangat tenang.

Dengan berhati-hati, Irene memindahkan kepala Luhan dari kakinya. Ia lalu meletakkan sebuah bantal supaya Luhan merasa nyaman. Dengan hati-hati dan berusaha tidak bersuara Irene bangkit dari tempat tidur. Dan ia terlihat mendorong tiang gantung cairan infus menuju ke luar kamar rawat.

Hari telah malam, udara dingin menusuk tulang Irene. Sesekali ia menggosokkan kedua tangannya untuk mendapatkan hawa panas. Ia duduk di sebuah bangku panjang, tepatnya di atap rumah sakit. Melihat pemandangan kota Seoul dari atas memang tak ada duanya. Ia merasa begitu tenang.

Ia terlihat memandang langit menerawang, seakan pandangannya itu dapat menembus sampai langit ke tujuh. Sesekali ia menghirup udara dengan serakah dan menghembuskannya dnegan pelan. Ia merasa beban yang ada didadanya ikut keluar juga. Ia merasa tenang, ia menyukai musim gugur yang mengingatkannya pada 11 tahun yang lalu saat pertama kali ia menyadari bahwa ia jatuh cinta dengan Xi Luhan. Konyol memang, tapi ia bersyukur Tuhan telah mengijinkannya dapat merasakan cinta seperti itu. sampai sekarang pun rasa itu masih sama dengan 11 tahun yang lalu. Hanya saja tahun-tahun sebelumnya keraguan hinggap dihatinya.

Rungunya mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari tangga yang menghubungkan lantai bawah dengan atap. Ia langsung menoleh ke sumber suara. Belum muncul juga si pemilik suara. Ia terus menunggunya.

“Hosh…. hosh… hosh….” ternyata Luhan ia terlihat ngos-ngosan saat sampai di atap. “Kau membuatku khawatir setengah mati, Bae!” kata Luhan sambil menghampiri Irene.

Irene menatap Luhan sambil tersenyum manis. Irene lalu menepuk tempat duduk kosong di sebelahnya. Luhan lalu tersenyum dan duduk di sebelah Irene.
“Kenapa kau disini?” tanya Luhan sambil mengusap rambut Irene. Irene terkesiap dengan perlakuan Luhan terhadapnya.

“A—, itu- a-ku suka udara musim gugur.” Kata Irene terbata.

“Benarkah? Lebih suka udara musim gugur atau aku? Apakah kau masih menyukaiku?” pertanyaan Luhan itu sukses membuat pipi Irene merah padam.

“Eoh?” hanya itu saja yang dapat Irene ucapkan. Jantungnya seakan sedang berdisco di dalam sana.

“Aku tahu kau menyukaiku saat masih sekolah menengah pertama dulu. Apakah kau masih menyukaiku seperti 11 tahu yang lalu?” tanya Luhan lagi. Irene hanya dapat diam seribu bahasa takdapat menjawabnya.

“Ahhhh… kau kaget ya kalau aku tahu? Ah… udara dingin ya?” kata Luhan kemudian meraih tangan Irene dan menggenggamnya, lalu memasukkannya di saku mantel Luhan.

Luhan menatap wajah Irene yang masih kaget itu kemudian mengecup singkat pipi Irene. lalu menunjukkan senyum terbaiknya kepada Irene. Rasanya, Irene saat ini tengah terbang ke angkasa dan sedang tidur-tiduran di atas awan yang empuk seperti kapuk. Kemudian Luhan meletakkan kepalanya di bahu Irene, lalu ia terlihat memejamkan matanya.

“Jangan bergerak. Tetaplah seperti ini sebentar saja.”

-TBC-

Huaaaaaaaa ……. T^T akhirnya selesai juga ya ku terharu :””” Oh ya kalo mau tahu jadwalku post di EXOFFI ini Kamis sama Sabtu. Tapi kalo kamis aku jarang post, bisa dibilang nggak pernah heehehe… ditunggu chap selanjutnya ya. Oh ya komennya selalu ditunggu \(^-^)/

33 tanggapan untuk “[Chapter 4: Heartbeat] Emergency Love”

  1. Aahhhhh paling suka scene yang terakhir sweet banget😍
    Tapi alurnya kecepetan thor tapi tetep bagus love deh pokoknya^_^
    Ditunggu kelanjutannya ya^_^

    1. sweet? auwwwww… iya nih Luhan sweet banget tapi tetep jail kelihatannya. hahahaha….. gemesh ya liat mereka awaw… makasih udah baca dan komentar sayangkuh

    1. Halo aku harus manggil apa nih ke kamu? Skin? Iya gak papa kok kalo minta maaf pasti dimaafin, kalo nggak minta maaf ya nggak dimaafin hehehehe…. Iya ingin tampil beda dengan pairing Lurene hehehehe…. Next chap ditunggu aja ya, yang tabah dan sabar nunggunya. Ini baru selesai part pertamanya hehehhe…. ‘-‘v

    1. Iya nih FF ini pertamanya komedi. Jadinya gini. Aku harus apah 😣. Maklum masih baru dalam dunia perFFan ceilah…. sedangkan author lain yang ada disini kebanyakan udah master dan keren kalo bikin diksi huhehehehe…. malah curhat. Nggak papalah ya :” Makasih udah baca dan komentar ^^

  2. Itu mimpi ato nyata? Apa jangan2 luhan berubah jadi lembut gara2 kejadian itu? Tapi luhan gak apa2 kan? Woaa penasarann banget thor.. ditunggu banget next chapnya thor.. oya suka banget sama chap ini.. daebak!! Kekeke ^^

    1. bener nggak ya? dilihat chap selanjutnya aja ya…. Luhan nggak papa kok udah diambil pelurunya. lagian sih Luhan disuruh istirahat setelah pembedahan dia mau ngotot nungguin Irene. dasar bandel. makasih udah mau baca dan koemntar ^^

    1. Ih…. benerkan kamu komen disini. makasih udah baca dan komentar ^^ ditunggu aja deh pokoknya kelanjutan kisah cinta Irene sama Luhan ^^

  3. Cie luhaaaaaaannnn cieeeeee *colek luhan*
    Eh Tapi itu punggungnya gimana?
    Kasian kena tembak tapi nungguin irene sampe pagi
    Ga papa kan punggungnya?
    Aaahhhhh gregetan, Luhan kalo tau irene suka kenapa ga ditembak sih si baechy -_-
    Etapi Mending pdkt lagi dulu aja kali ya, biar Makin gemes
    Ditunggu kelanjutan ceritanya 😀

    1. Ciyeeeee….. kakak muncul lagi ciyeeeee……

      punggungnya Luhan? katanya Luhan udah diambil kok pelurunya sekarang masih diperban masih dalam tahap perawatan katanya. jangan tanya Luhan terus soal punggungnya ntar diceramahin soal fraktura, diabetes, hipertensi dan yang lainnya (?)

      Luhan kelihatannya masih malu-malu deh sama Irene hehehehehe…. Makasih udah baca dan komentar ^^

    1. Hayoooo…. ketinggalan banyak. hehhe baca part sebelumnya juga ya biar nggak bingung hehehe….

      makasih udah baca dan komentar ^^

  4. Jadi Luhan emang udah suka sam Irene, baru, atau memang baru memantapkan hatinya nih??
    Tapi bagus deh kayanya Irene ga bertepuk sebelah tangan, jadi dia harus yakin sama perasaannya sendiri 🙂
    Akhirnya ada sweet moment mereka berdua ^^

    Ditunggu ya kelanjutannya 😀

    1. Luhan suka sama Irene nggak ya……. Suka nggak ya? ditunggu part selanjutnya aja deh biar surprise hehehehe….. Iya nih awalya berpikir keras untuk buat Sweet moment kayak apa… jadilah begini hehehe

      makasih udah mau baca dan komentar ^^

  5. Udah ditunggu tunggu nih chapternya
    Jujur aja aku buka fp ini cm mw tw crita ini udh di post atw blm, tp msh blm jg.
    Smbil ngayal sendiri lanjutannya ky gmna, dan eh trnyata jauh dr yg diperkirakan. Berarti author punya bkat ngasih cerita yg g diduga
    Tp rasanya trlalu singkat ceritanya kurang panjang trs alurnya agak cepet. Coba bikin pembacanya lebih gregetan lagi. Pasti makin bagus ceritanya. Ditunggu kelanjutannya… udh g sabar nih

    1. wehhhh…. makasih udah mau nungguin part ini. maaf banget terlambat dari deadline karena ya gitu deh baru ada karya wisata, makalah belum selesai dan dag dig dug karena UTS T^T /malah curhat/

      wah benerkah nggak diduga? makasih makasih aku jadi terhura :” Iya ceritanya ya? padahal panjangnya kurang lebih kayak Chap 1 hehehe…. makasih udah baca dan komentar ^^ isyaallah part selanjutnya panjang hehehe….

    1. halo ketemu lagi sama kamu hehehe…. makasih-makasih udah komentar di setiap chap-nya. aku tersanjung, aku sangat ngehargain komenmu loh ^^. hehe chap selanjutnya di panjangin deh ^^ makasih udah baca dan komentar ^^

    1. Iyakah Luhan suka Irene? jangan keras-keras bilangnya ntar ketahuan Ime ntar aku bisa diamuk karena gegenya berduaan sama Irene *kabur

      ditungg terus next chapnya ya ^^ makasih udah baca dan komentar ^^

    1. hehe…. kalo lamaya nggak jamin soalnya lagi sibuk-sibuknya persiapan UAS hehehe. tapi diusahain deh…. Lagian aku buat FF juga diem-diem malem2 pula hehehe…. makasih udah mau baca dan komentar ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s