Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 10]

tfam

 

Ketika sang atlet lari dan drummer sebuah band yang belum debut dipertemukan dengan cara tidak terduga dan masing-masing mulai memiliki rasa. | Waktu boleh saja berlalu, tapi cinta akan tetap tinggal | “Sunbae, gumawo…” | “Aku… aku janji akan lebih mengenalmu.” | “The best love story is when you fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time”― Anonymous

Len K present… Tempus Fugit, Amor Manet

Previous chapters : 00 | 01 | 02 | 03 | 04 | 055.5 | 06 | 07 | 08 | 09

Rate: T, PG-15

Romance, Hurt/Comfort, Supranatural, a bit humor

Chanyeol EXO, Cha Iseul (OC), Minho SHINee, Kai-Sehun-Chen-Lay EXO dan beberapa idol/actor dan OC sebagai support cast

Warning: AU, Semi-canon, OOC (maybe), typo, humor garing, rush

Poster by Aqueera at https://posterdesigner.wordpress.com

A/N                        : Disini Chanyeol dan Iseul beda sekolah. Hope you don’t get confuse.

.

.

.

Chapter 10

.

                “Kulihat kau sudah mulai terbiasa dengan lingkungan barumu. Bagaimana kalau kuajari sesuatu?” Iseul bertanya dengan senyuman menggoda namun licik miliknya.

Mendengar itu segera Chanyeol mendadak jadi antusias. “Apa? Apa? Kau mau mengajariku apa? Caranya menakut-nakuti orang lain?”

“Bukan. Kau pikir kita berada di ‘Scare School’-nya Casper?” sewot Iseul.

Geureom mwo?”

Iseul tersenyum penuh misteri. “Bermain dengan tubuh manusia!”

“Apa?”

 


 

Tempus Fugit, Amor Manet

Standard disclaimer applied. Storyline by Nuevelavhasta

Chapter 10 ― Nothing Last Forever

 


 

 

“Apa? Apa katamu tadi? Bermain… dengan tubuh manusia?” Chanyeol tidak paham.

Iseul menganggukkan kepalanya singkat. “Iya, kita akan bermain dengan tubuh manusia. Hal ini bisa berguna nantinya.”

“Bagaimana caranya?”

“Kita akan merasuki mereka dan mengambil alih tubuh mereka.”

Chanyeol terkesima mendengar penuturan singkat Iseul. “Woah. Yang seperti itu ada ya? Aku kira hal-hal seperti itu hanyalah mitos atau terjadi di film-film saja. Tidak kusangka itu bisa benar-benar terjadi.”

Iseul tertawa pelan. “Tentu saja itu benar-benar ada. Kau lupa ya kalau aku ini seniormu dalam hal seperti ini? Tsk, harusnya kau lebih hormat padaku.”

Bibir Chanyeol maju guna mencibir Iseul. Tapi sedetik kemudian, raut wajah Chanyeol berubah. “Tapi Iseul, kalau kita bisa merasuki seseorang dan mengambil alih tubuhnya, kenapa kita tidak melakukan hal yang sama pada tubuh kita yang terbaring koma? Kita bisa bangun lagi ‘kan?”

Decakan kecil keluar dari mulut Iseul. “Kalau itu bisa dilakukan, pasti sudah kulakukan sejak dulu, Pabo.”

“Ah, kau benar juga ya? Jadi… tidak bisa?”

“Tentu saja tidak!” Iseul merasa ia makin gemas pada Chanyeol dan semua tingkah konyol Chanyeol.

“Kalau begitu, ajarkan aku caranya sekarang juga! Butakhaeyo!” Chanyeol menepukkan tangannya seperti ingin berdoa dan memohon dengan mata terpejam.

 

 

Menepati janjinya, Iseul membawa Chanyeol ke taman kota sore ini. Cuaca sore hari yang teduh ditambah oksigen yang keluar dari pohon-pohon rindang di taman memberi kesejukan tersendiri dan membuat sebagian orang mengantuk atau terlarut dalam pemikiran masing-masing.

Ada sekelompok anak kecil yang tengah bermain di area bermain anak. Lalu ada beberapa pasang kekasih yang sedang memadu cinta di sudut-sudut taman. Ah, melihat ini baru menyadarkan Chanyeol jika hidupnya cukup kering akan cinta. Kemudian ada juga sepasang kakek-nenek yang berjalan-jalan santai. Atau remaja-remaja yang asyik bercengkrama atau melamun. Benar-benar komplit.

Chanyeol sedari tadi hanya berjalan mengikuti Iseul. Tidak banyak kata yang terucap dari bibir keduanya. Hingga kemudian mereka berhenti di depan kolam taman dan duduk di birainya.

“Jadi… kita akan mencoba merasuki salah satu dari mereka?” Chanyeol mengedarkan atensinya ke penjuru taman.

Iseul menjentikkan jarinya. “That’s right!”

Chanyeol mengangguk-angguk paham. “Tapi bagaimana caranya?”

Jiwa senior Iseul terpanggil. Gadis itu kemudian turun dari birai dan berdiri di hadapan Chanyeol. Sambil menjelaskan, Iseul terus berjalan mondar-mandir di depan Chanyeol. “Merasuki atau mengambil alih tubuh seseorang itu pekerjaan yang susah-susah-gampang. Karena apa? Karena kita tidak bisa sembarangan melakukannya. Merasuki seseorang kelihatannya sepele; kau hanya perlu menerjang tubuh orang itu. Tapi, tidak se-simple itu. Lihat.”

Langkah Iseul terhenti dan gadis itu segera berlari kecil untuk menerjang seorang remaja putri yang tengah melintas. Chanyeol memperhatikan Iseul dengan seksama. Mulanya Chanyeol pikir Iseul sudah berhasil merasuki gadis itu. Tapi nyatanya, Iseul menembus si gadis dan gadis itu mengusap-usap kedua lengannya. Bulu kuduk gadis itu pasti berdiri semua merasakan sensasi diterjang makhluk tak kasat mata.

Kemudian Iseul kembali di hadapan Chanyeol dan kembali mondar-mandir. “Kau lihat yang kulakukan tadi? Itulah kenapa merasuki seseorang itu bukan hanya sekedar persoalan menerjang tubuh. Oke, kelihatannya memang begitu, tapi kenyataan berbicara lain.”

“Lalu?”

“Jadi, untuk merasuki seseorang, hal paling penting yang harus kau perhatikan adalah kesadarannya.”

“Ke… sadarannya?” Chanyeol masih belum bisa menangkap maksud Iseul.

Iseul mengangguk sekilas. “Iya. Kesadarannya. Akan lebih mudah merasuki orang yang sedang dalam kondisi melamun, pikiran kosong…”

“Kenapa bisa?”

“Karena ketika seseorang melamun, kendalinya atas alam bawah sadarnya menjadi berkurang. Ketika kendali alam bawah sadarnya berkurang, kesempatan kita untuk menguasai orang tersebut bertambah. Itulah kenapa kita disarankan tidak melamun dengan pikiran kosong. Orang yang sedang merasa emosional juga lebih mudah untuk dirasuki.”

Mata Chanyeol berbinar mendengar penuturan Iseul. “Hho, begitu. Masuk akal, masuk akal.”

“Tapi ingat, tidak selamanya orang yang pikirannya kosong bisa dirasuki dengan mudah.” Peringatan dari Iseul kembali menyita perhatian Chanyeol. “Kadang ada suatu kasus dimana orang yang dirasuki tersebut, menyadari jika ada sesuatu yang mencoba mengambil alih atas kendali dirinya dan melakukan penolakan. Percayalah, kau tidak mau mengalami penolakan ini, rasanya cukup menyakitkan” pungkas Iseul dengan mimik prihatin.

“Jauh lebih menyakitkan mana, penolakan saat ingin merasuki seseorang atau penolakan saat kita menyatakan cinta?”

Ya!” bentak Iseul disertai delikan tajam. Chanyeol tertawa lebar sambil mengacungkan tanda ‘peace’ sebagai itikad damai. “Dasar kau ini,” gerutuan Iseul kembali dibalas tawa, “jadi alasan kenapa aku membawamu ke taman adalah ini. Biasanya orang-orang suka melamun di taman, sadar atau tidak sadar.”

Perkataan Iseul membuat Chanyeol kembali melihat sekitar. Benar juga apa yang dikatakan Iseul. Chanyeol sendiri sudah bisa melihat beberapa orang yang tengah sendiri sedang kelihatan melamunkan sesuatu.

“Sekarang, lihat aku baik-baik. Aku akan memberi contoh.” Iseul kembali menyita perhatian Chanyeol.

Belum sempat Chanyeol merespon, Iseul sudah melenggang pergi. Chanyeol terus mengamati dan mengikuti Iseul. Iseul pergi ke salah satu sudut terpencil di taman. Di sana ada sesosok perempuan yang tengah duduk sendiri dan melamun.

Chanyeol terus mengamati perempuan itu dan Iseul secara bergantian. Iseul kelihatan menarik nafas untuk berkonsentrasi. Lalu perlahan, Iseul melangkah mendekati perempuan itu. Tapi ketika jarak Iseul dan perempuan itu tinggal selangkah, Iseul menerjang perempuan itu. Tubuh perempuan itu sedikit berjengit kemudian terdiam.

Chanyeol yang sedari tadi memperhatikan tidak mampu berkata-kata dan berbuat sesuatu. Sejujurnya, dia masih belum paham benar akan hal ini. Apa yang telah terjadi? Apa Iseul berhasil?

“Ta-da!”

“WOAH!” Chanyeol mundur dan hampir terjengkang ke belakang tatkala perempuan itu tiba-tiba memasang cengiran lebar dan membuka kedua telapak tangannya di samping wajahnya.

“Aku berhasil,” kata perempuan itu, masih dengan cengiran lebar.

Manik Chanyeol mengerjap tak percaya. “Ka-kau Iseul?” tanyanya. Perempuan itu mengangguk antusias. “Ka-kau… ada di tubuh perempuan itu?” lagi-lagi Iseul yang berada dalam tubuh perempuan itu mengangguk. “Kau… bisa melihatku?” Chanyeol menunjuk dirinya sendiri.

Iseul―yang sudah mengambil alih tubuh perempuan itu―menepuk jidat’nya’. “Ah yaaaa… aku lupa. Jika kau berhasil mengambil alih tubuh seseorang, maka otomatis kau bisa melihat makhluk sebangsa kita. Terlepas dari orang yang kau rasuki benar-benar bisa melihat atau tidak.”

“Hhhooo, begituuuu….”

“Ya. Sekarang, perhatikan lagi dengan baik-baik. Aku akan keluar dari tubuh perempuan ini.”

Chanyeol tidak membalas. Karena tanpa dimintapun dirinya sudah secara sukarela memperhatikan. Kejadiannya cukup cepat. Yang bisa ditangkap oleh mata Chanyeol adalah Iseul melompat keluar dari tubuh perempuan itu. Ya, hanya melompat biasa. Seperti yang dilakukan bocah taman kanak-kanak ketika mereka bermain.

“Hanya… itu?” Chanyeol menatap Iseul tak percaya.

“Ya, hanya itu. Kau mau yang bagaimana memang?”

“Kupikir akan lebih… spektakuler?”

“Hahahaha, tidak.”

Perhatian Chanyeol teralihkan pada perempuan yang tadi dirasuki Iseul berjalan pergi. “Di-dia pergi…”

“Yah, itu reaksi yang wajar. Mungkin dia merasa merinding atau ada yang tidak beres dengan tempat ini. Hal itu sering terjadi tapi tidak selalu terjadi. Kadang ada juga orang yang setelah dirasuki tetap diam atau beraktivitas seperti biasa. Mereka tidak tahu jika kita telah bermain-main dengan tubuhnya. Kecuali ketika mereka sadar mereka ada di tempat atau posisi yang berbeda dari sebelumnya. Tapi yah, mereka tidak akan tahu jika telah dirasuki. Paling mereka hanya terheran-heran.”

“Lalu apa aku harus seperti kau saat ingin merasuki orang?”

“Maksudmu?”

“Caranya. Merasuki dengan perlahan-lahan lalu keluar dengan melompat… seperti itu.”

Iseul mengibaskan tangannya. “Tidak. Kau bisa melakukannya dengan cara yang menurutmu lebih sesuai dengan dirimu. Ada makhluk halus yang merasuki seseorang secara perlahan, tapi ada juga yang cepat seperti saat aku menerjang remaja putri tadi. Pun halnya saat akan keluar. Ada berbagai macam cara juga.” Chanyeol mengangguk-angguk paham. “Jadi… langsung ingin mencobanya?”

“TENTU!”

Antusiasme Chanyeol tidak dapat dibendung lagi. Kini dia dan Iseul kembali menjelajahi taman untuk mencari ‘korban’ Chanyeol. Chanyeol menargetkan seorang pemuda yang kelihatan melamun di salah satu kursi taman.

“Jadi dia targetmu?” tanya Iseul memastikan.

Chanyeol mengangguk. “Ya. Bagaimana menurutmu?”

Iseul mengedikkan bahu. “Lumayan. Menurutku dia mudah dirasuki. Nah, sekarang coba saja untuk memastikan.”

Chanyeol mengangguk singkat. Dan tanpa membuang banyak waktu lagi ia berlari menerjang pemuda itu. Iseul tentu saja berharap percobaan Chanyeol yang pertama ini sukses. Tapi ekspektasinya jatuh sejatuh-jatuhnya ketika melihat Chanyeol terhempas keluar begitu saja dari tubuh pemuda itu tanpa bisa mengambil alih barang sedetik saja.

Chanyeol bangun dan kembali mencoba untuk merasuki tubuh pemuda itu. Memang di percobaan yang kedua ini Chanyeol berhasil merenggut kesadaran pemuda itu. Tapi hal ini hanya berlangsung beberapa detik saja karena lagi-lagi Chanyeol terhempas keluar dan pemuda tadi bergegas pergi dari tempatnya.

“Payah!” cibir Iseul pada Chanyeol yang terduduk di tanah. “Apa-apaan kau tadi? Percobaan pertama gagal, yang kedua si pemuda tadi berhasil merebut kesadarannya dan kabur.”

Aigoooo, aku tidak menyangka akan sesulit dan sesakit ini…” Chanyeol mengeluh seraya memijit-mijit beberapa bagian tubuhnya yang terasa sakit. Dia sendiri tidak menyangka jika penolakan saat berusaha merasuki seseorang bisa sesakit ini.

Iseul tidak menyahut. Ia justru tetap tenang berdiri di tempatnya. Tidak lama kemudian Chanyeol kembali berdiri dan melangkah pergi.

“Kau mau kemana?” Iseul pada akhirnya mengekor Chanyeol.

“Mencari mangsa baru. Kau pikir apa lagi?” sahut Chanyeol tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.

“Belum menyerah juga ya?”

“Mana mungkin aku menyerah semudah itu?”

Iseul terkikik sejenak lalu kembali mengekor Chanyeol. Kali ini sasaran Chanyeol adalah seorang anak kecil perempuan yang tengah diam bermain pasir. Tapi Chanyeol masih gagal. Dia bahkan tidak bisa merasuki gadis cilik itu.

“Merasuki anak kecil seperti dia itu cukup susah dan banyak dihindari. Kusarankan untuk tidak mencoba merasuki anak kecil untuk itu,” ujar Iseul.

“Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal?!”

“Habisnya kau tidak bertanya.”

Chanyeol menghentakkan kakinya. “Haish! Neo jinjja!”

Pemuda bertubuh tinggi itu bergegas kembali berkeliling taman untuk mencari mangsa baru. Ia sungguh menyesal sempat meremehkan―dalam hati―’pelajaran’ merasuki orang ini. Siapa sangka jika prakteknya tidak semudah teori dan contoh dari Iseul? Berkali-kali pula Chanyeol harus berseru frustasi ketika ia gagal dan mendengar gelak tawa Iseul.

Hampir semua rentang usia Chanyeol coba rasuki. Dari anak-anak sampai yang berumur. Tapi semuanya berakhir dengan hasil yang sama, dengan kegagalan yang sama. Tidak jarang pula, orang-orang yang menjadi target Chanyeol lari karena merasakan sensasi aneh pada diri mereka.

“Hahahahaha, kulihat kau sepertinya kurang berbakat dalam hal ini ya?”

Kening Chanyeol mengerut heran melihat seorang laki-laki berusia dua puluhan yang tengah menatap dan menertawakannya. Chanyeol melihat sekitar dan menemukan tidak ada siapapun yang berada dalam jangkauan untuk bicara dengan laki-laki itu kecuali dirinya. Siapa dia? Apa dia bisa melihatku? Ah, tentu saja bisa. Kalau tidak mana bisa ia berbicara padaku?

“Siapa kau?” tanya Chanyeol.

“Iseul!” laki-laki itu menjulurkan lidahnya.

“Apa?! Kenapa kau merasuki laki-laki itu? Kau ingin melakukan hal-hal kotor ya?” tuduh Chanyeol secara beruntun.

Pabo! Jangan samakan aku dengan dirimu!” tolak Iseul tidak terima.

“Lalu kenapa kau merasuki laki-laki itu?”

“Tentu saja untuk mengejekmu. Weeeekk!”

Ya! Neo!”

Chanyeol sudah akan menerjang laki-laki itu ketika Iseul keluar dari tubuh laki-laki tersebut. Alhasil, laki-laki itu jatuh terjengkang ke belakang karena terjangan Chanyeol. Gelegak tawa Iseul menjadi ketika melihatnya. Muka Chanyeol merah padam dibuatnya. Sisi maskulin dalam dirinya tidak terima jika ia ditertawakan oleh seorang perempuan. Terlebih karena hal sepele semacam ini.

“Chhhhaaaa Iiiisseeeuuulll!” dalam sekilas Chanyeol berlari ke arah Iseul.

“Wo-wow!” tidak ingin tertangkap Chanyeol, Iseul juga ikut berlari. Tapi bukan hanya Iseul yang berlari. Laki-laki yang tadi dirasuki Iseul juga berlari ketakutan.

 

 

Layar cakrawala telah berganti warna menjadi warna gelap. Lampu-lampu di tempat-tempatnya telah dinyalakan. Taman kota yang tadinya ramai oleh manusia kini sepi manusia. Menyisakan dua arwah yaitu Chanyeol dan Iseul, juga satu-dua arwah lain.

Chanyeol dan Iseul duduk bersebelahan di ayunan yang ada di sana. Sekilas, orang-orang tanpa kemampuan indra keenam yang melihatnya mungkin akan bergidik ngeri karena melihat dua ayunan yang terus terayun-ayun tanpa ada siapa-siapa di atasnya. Berbeda dengan Iseul yang bersenandung kecil dan riang, Chanyeol justru menundukkan wajahnya. Ia merasa kecewa.

Rasa kecewanya tidak beralasan. Ini karena seharian ini Chanyeol belum bisa merasuki satu orangpun. Sementara itu, sepanjang hari selama Chanyeol berlatih, Iseul justru gonta-ganti merasuki tubuh orang untuk menggoda Chanyeol. Kekesalan Chanyeol makin berlipat karenanya. Padahal Chanyeol sudah bertekad untuk bisa menguasai ‘teknik’ satu ini dalam sehari―karena ia awalnya berpikir ini adalah hal mudah.

“Sudah, tidak perlu kecewa begitu. Kau bisa mencobanya besok ‘kan?” hibur Iseul.

“Iya. Tapi rasanya tetap saja aku kecewa, padahal aku berniat bisa melakukannya dalam waktu sehari. Tapi… aaahhh!”

Geokjeongma. Aku juga tidak berhasil melakukannya dalam sehari kok.”

Muka Chanyeol berubah menjadi cerah mendengar ucapan Iseul. “Jinjja? Jinjjaaaaaaa? Jinjjaaaaaaa? Geotjimal aniya?

Iseul mengangguk mantap. “Eo.”

“Memang kau berhasil menguasainya berapa lama?”

“Setengah hari!”

Chanyeol merasa seperti baru saja dihantam oleh sesuatu yang besar. “HAISH! Kupikir lebih dari sehari! Kau sama sekali tidak membantu! Sama sekali tidak! Tidak berguna! Pergi sana!”

Iseul tergelak. “Hei, hei, tapi jawabanku benar bukan? Aku memang tidak menguasainya dalam sehari. Itu berarti bisa lebih atau kurang dari sehari. Dan kau ingin aku pergi? Kau yakin? Katanya di sini ada setan nakal yang suka berkeliaran lho…”

Chanyeol menelan ludahnya. Ia belum cukup terbiasa menghadapi makhluk sebangsanya―untuk sekarang. Tapi berkata ‘jangan pergi’ pada Iseul? Di saat ia sedang emosi seperti ini? Aduh, itu sama saja menjatuhkan harga dirinya.

“Kau sama sekali tidak membantu!” gerutu Chanyeol pelan.

Lagi-lagi Iseul tergelak. “Itu bukan sesuatu yang bisa kubantu―”

“Tapi setidaknya jangan membuatku lebih down! Kau harusnya menyemangatiku atau membeirku motivasi atau sejenisnya atau bagaimana. Bukannya mengatakan hal-hal yang justru membuatku merasa lebih terpuruk!”

“Yah, aku tidak tahu salahku dimana. Aku hanya mencoba menjadi anak baik yang bersikap jujur dalam menjawab pertanyaanmu tadi.”

“Ya tapi kau harus tahu situasi dan kondisinya!”

“Hho, jadi kau menyarankanku untuk tidak jujur? Itu tidak baik, Chanyeol. Dasar kau anak nakal. Santa pasti membencimu. Kau pasti tidak akan dapat hadiah Natal tahun ini.”

“Entahlah Iseul. ENTAHLAH!”

Gelak tawa Iseul yang keluar untuk yang ketiga kalinya sejak mereka berbincang di ayunan ini membuat Chanyeol makin kesal. Rasa-rasanya percuma berdebat dengan Iseul.

“Tapi aku salut padamu,” celetuk Iseul saat tawanya sudah reda.

Chanyeol menoleh. “Hng? Salut?”

“Iya. Kau begitu gigih dalam berusaha,” pujian Iseul membuat semangat Chanyeol naik, “tapi gara-gara usahamu yang gigih itu banyak orang yang lari ketakutan. Mungkin berita jika taman ini angker atau berhantu akan cepat menyebar keesokan harinya dan pengunjung taman ini akan berkurang. Selamat, sudah menghancurkan tempat latihanmu,” tapi perkataan Iseul selanjutnya kembali menjatuhkan Chanyeol.

Tidak melawan, Chanyeol hanya bisa pasrah dijatuhkan Iseul seperti itu.

 

***

 

Ini sudah hari ketiga dan Chanyeol masih belum bisa merasuki seseorang. Kemarin ia hampir berhasil dengan rekor terlamanya dalam merasuki orang. Yaitu tiga detik. Setelah itu ia terhempas keluar dan menuai tawa dari Iseul yang melihatnya, membuatnya sangat geram pada Iseul tapi tidak bisa marah pada Iseul.

Belum lagi Iseul juga sering mengejeknya dengan cara merasuki tubuh orang lain dan menggunakan tubuh orang lain untuk mengejeknya. Dan tidak jarang Chanyeol balas melempari Iseul yang berada di tubuh orang lain itu dengan sesuatu. Tapi Iseul segera keluar dari tubuh orang itu dan mengakibatkan orang yang ia rasuki bergidik ketakutan dan lari.

Keisengan keduanya dalam mencoba merasuki tubuh manusia―dalam kasus ini sepertinya hanya Chanyeol yang masih mencoba, karena Iseul sendiri sudah merupakan seorang pro―terkadang membuat kekacauan di sekitar mereka. Tidak terhitung lagi berapa teriakan atau berapa banyak orang yang lari tunggang-langgang ketakutan karena keisengan mereka.

Melihat kejadian itu keduanya sama sekali tidak merasa bersalah. Chanyeol masih kesal karena Iseul sering menggodanya dan Iseul yang sangat suka menggoda Chanyeol yang payah dalam hal ini. Tidak jarang Iseul menjadikan kekacauan ini sebagai hiburan tersendiri.

“Woah! Lihat, lihat! Pria itu lari ketakutan dengan badannya yang besar dan tampangnya yang sangar! Siapa sangka ya? Hahahaha.” Iseul tergelak seraya menunjuk-nunjuk seorang pria yang lari ketakutan. “Dan Chanyeol masih belum bisa merasuki orang, hahahaha.”

Alis Chanyeol menukik tajam dan menyatu. “Ugh! Diamlah Iseul! Kau sama seklai tidak membantu. Yang kau lakukan hanyalah menggodaku dan mengejekku tiga hari ini.”

Iseul kembali tertawa. Terdengar menyebalkan bagi Chanyeol tapi di sisi lain juga disukai oleh Chanyeol. “Oh, aku sudah membantu sebisaku. Mengoceh soal tips-tips ini-itu, memberi contoh bukan sekali-dua kali, apa yang kurang? Merasuki seseorang bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan mewakilkan dirimu. Pada akhirnya kau harus mencobanya sendiri untuk bisa melakukannya. Dan bagaimana bisa aku tahan untuk tidak menggoda dan mengejekmu? Kenyataannya, kau begitu payah dalam hal ini. Sepanjang yang kutahu, kau adalah arwah terlama yang bisa menguasai hal ini. Belum lagi segala kekonyolan dan kekacauan yang kau sebabkan ketika mencoba. Aku yakin jika ada arwah lain yang melihat hal ini, mereka akan tertawa, bukan hanya aku. Jadi bagaimana? Sudah mau menyerah sekarang, Tuan Park?”

Tidak ada sahutan untuk ocehan panjang Iseul.

“Chanyeol?” Iseul menoleh ke samping dan mendapati sosok Chanyeol sudah tidak ada di sana. “Chanyeol! Dimana kau?” Iseul berseru memanggil kawan barunya. Tapi masih saja tidak ada sahutan. Yang didapatinya hanyalah lalu lalang orang-orang yang ramai.

“AKU BERHASIIIIIIIILL!”

Tiba-tiba saja teriakan lantang itu datang dari sesosok wanita kantoran bertubuh semampai di trotoar seberang jalan. Tentu saja teriakan itu menyita banyak perhatian dari sekitar. Tapi nampaknya wanita tadi tidak begitu mempedulikan sekitarnya. Anehnya, wanita itu justru melihat dadanya melalui kerah bajunya.

“Aku tidak pernah menyangka hal ini akan menjadi sangat berguna!” wanita itu berseru lagi.

Melihat ucapan aneh dari wanita itu membuat Iseul curiga. Dengan sesekali menembus orang-orang yang lewat, akhirnya Iseul bisa mendekati wanita itu yang sekarang tengah memegangi dadanya.

“Pe-permisiii…” panggil Iseul ragu-ragu.

Wanita itu menoleh. Masih tersenyum lebar dan sekarang matanya semakin berbinar. “Cha Iseul! Cha Iseul! Aku berhasil!”

“Wo-woahhh!” Iseul mundur sedikit. Cukup kaget mendapati wanita itu bisa melihat dirinya dan bahkan mengetahui namanya.

Tunggu…. Yang bisa melihat dirinya dan tahu namanya, serta bertingkah aneh mengatakan ‘aku berhasil’, orang itu atau orang yang mungkin merasuki wanita ini adalah….

“Kau Chanyeol?!” mata Iseul membulat. Telunjuknya tak lupa tertuding pada wanita itu.

Wanita itu menganggukkan kepalanya dengan antusias. “Iya! Ini aku, Chanyeol! Ya ampun, akhirnya aku berhasil merasuki seseorang! Beri aku selamat, beri aku selamat! Cepat!”

Namun Iseul masih bergeming di tempat. Dirinya terlalu shock dengan apa yang terjadi. Belum lagi ke-hyper-an Chanyeol yang kumat. Tapi kemudian mata Iseul tertuju pada satu hal…

“Apa yang kau lakukan, Mesum?!” bentak Iseul.

“Apa… yang aku lakukan?” Chanyeol yang berada dalam tubuh wanita itu kembali bertanya dengan konyolnya.

“Jauhkan tanganmu dari dada wanita ini, dasar mesum!” tanpa toleransi, Iseul meninju perut wanita itu hingga si wanita―dan Chanyeol yang merasuki tubuh itu―mundur selangkah. Tenaga Iseul belum cukup kuat.

Sementara keduanya―atau ketiganya?―sibuk dengan masing-masing, orang-orang di sekitar mereka menatap mereka ah tidak, orang-orang hanya menatap wanita itu dengan tatapan aneh. Tentu saja, mereka tidak tahu jika wanita itu dirasuki dan mereka juga tidak bisa melihat sosok Iseul di sana.

“Hei! Hati-hati Iseul! Kau bisa melukai wanita ini!”

“Masa bodoh! Dasar mesum!”

“Aku hanya kaget akhirnya aku bisa merasuki seseorang. Itu tadi karena saking tidak percayanya aku!” kilah Chanyeol. “Lagipula, itu juga kesempatan langka untuk bisa mengintip. Ya ampun, bra merah wanita ini terlihat kontras dengan kulitnya yang putih sekali.” Chanyeol menambahkan dalam nada lirih dan sedikit cekikikan.

Darah Iseul mendidih. Dia masih bisa mendengar lanjutan ucapan Chanyeol tadi. Akhirnya Iseul juga ikut-ikutan masuk ke dalam tubuh wanita itu dan menyebabkan kekacauan di dalam sana.

Ya! Mwohaneun geoya?

“Memaksamu keluar dari sini, Mesum!”

“Hei! Kau akan membuat perjuanganku selama ini sia-sia!”

“Kau bisa mencobanya lain kali!”

Andwe! Setidaknya biarkan aku menikmati keberhasilanku ini!”

Sekali lagi, orang-orang di sekitar wanita itu melemparkan pandangan aneh ke wanita itu. Bagi mereka, wanita itu mengoceh seorang diri dan sekali-kali menghalau, meremas bajunya sendiri, dan rentetan gestur aneh lainnya. Mereka tentu tidak tahu jika ada tiga nyawa di dalam tubuh itu. Yang satu sebagai nyawa wanita itu tenggelam di alam bawah sadar. Sementara dua nyawa lainnya tengah berebut kendali atas tubuh itu.

“Pergi kau, Mesum!”

“Aarrgghh!”

Dan akhirnya setelah perseteruan tiada arti itu, baik Iseul maupun Chanyeol sama-sama terhempas keluar dari tubuh wanita itu. Chanyeol mengerang kesakitan sementara Iseul tertawa puas. Bagaimana dengan wanita tadi? Oh, dia langsung pergi dalam keadaan linglung dan keheranan ketika mendapat tatapan aneh dari sekitar.

“Cha Iseul, kau kejam!” rengek Chanyeol.

Tawa setan Iseul keluar. “Heh, aku memang kejam jika hal-hal seperti itu terjadi. Tidak akan kubiarkan kemesumanmu itu terjadi di hadapanku!”

Chanyeol yang masih terduduk di tanah hanya bisa menatap sengit Iseul yang sudah berdiri di hadapannya dengan berkacak pinggang. Kekesalannya karena kesenangannya tadi sudah terganggu masih belum hilang.

“Aku mengajarimu untuk merasuki orang lain bukan untuk itu tahu.” Nada bicara Iseul melunak.

“Ya, ya, ya, aku tahu,” potong Chanyeol cepat.

“Aku mengajarimu untuk merasuki seseorang karena mungkin saja…” Iseul berhenti sejenak, menggantungkan kalimatnya hingga mengundang perhatian penuh dari Chanyeol, “mungkin saja suatu saat, ketika kau sudah tidak bisa lagi membendung kerinduanmu pada orang-orang terdekatmu, kau bisa menyampaikan sesuatu pada mereka melalui perantara orang lain. Atau mungkin kau bisa sekedar mempunyai obrolan singkat bersama mereka sebagai orang asing di jalan, café, atau di manapun…. Karena kita… kita tidak tahu kapan kita akan bangun, bukan?”

Chanyeol tersentak. Dirinya sendiri baru menyadari hal itu. Juga, mendengar ucapan Iseul yang terasa berat membuat remaja bertubuh tinggi itu sedikit-banyak mengetahui bagaimana perasaan Iseul. Diam-diam gadis itu merindukan orang-orang terdekatnya.

Sudut bibir Chanyeol terangkat. “Aku juga tahu itu,” ujar Chanyeol berbohong. Karena faktanya, dirinya baru menyadari hal itu ketika Iseul selesai berbicara tadi. “Tapi aku juga memanfaatkan kemampuan itu untuk hal-hal lain seperti hiburan dan kesenangan pribadiku,” tambah Chanyeol disertai seringaian lebar.

Buakk! Iseul menendang tulang kering Chanyeol. “Dasar tukang mesum perusak suasana! Pergi saja sana! Jauh-jauh dariku!”

Walau Iseul menyuruh pergi Chanyeol, tapi justru Iseul sendiri yang secara sukarela pergi meninggalkan Chanyeol yang masih mengaduh kesakitan.

Ya Iseul!” panggil Chanyeol. “Iseul! Oy! Iseul!” sadar jika dirinya diabaikan, Chanyeol bergegas bangkit dan mengejar Iseul hingga mereka berdua berjalan beriringan. Tapi tentu saja Iseul masih kesal pada Chanyeol. “Hei, kau marah padaku?”

Iseul tidak menyahut. Raut kekesalan yang nampak di wajahnya sudah cukup jadi bukti.

Aigoooo, kau ini serius sekali. Kau tentu tahu maksudku tadi hanya bercanda ‘kan? Hei, apa jangan-jangan arwah sepertimu juga mengalami yang namanya PMS?”

Dengan wajah memerah, Iseul berseru keras, “Park.Chanyeol!”

“Hahahahaha, maaf, maaf, hanya bercanda!”

“Tidak lucu! Sudah, pergi sana. Jangan dekati aku!”

“Tidak mau.”

“Kenapa? Aku tidak mau dekat-dekat dengan tukang mesum sepertimu.”

“Kenapa? Karena aku sendiri tidak bisa jauh-jauh dari gadis tukang ejek, tukang marah, menjengkelkan tapi di satu sisi menggemaskan ditambah misterius sepertimu.” Kata-kata Chanyeol meluncur begitu saja dengan lancar bagai aliran air terjun.

Walau cukup terkejut dengan perkataan Chanyeol, Iseul berusaha menutupinya.

“Hentikan itu. Terdengar begitu menjijikkan,” kata Iseul sebelum kembali berlalu dengan langkah lebih lebar dan cepat.

“Hei, Iseul! Jangan begitu!” dan Chanyeol kembali berusaha mengejar Iseul.

Chanyeol hanya tidak tahu jika saat ini seulas senyum tipis menghiasi bibir Iseul.

 

― Lanjut? ―

 

Glossary              :

  • Geureom mwo : lalu apa?
  • Pabo : bodoh
  • Butakhaeyo : aku mohon
  • Neo jinjja : kau benar-benar
  • Geokjeongma : jangan khawatir. Bentuk pendek dari ‘geokjeonghajima’. Geokjeong : khawatir. Hajima : jangan
  • Geotjimal aniya : tidak bohong
  • Andwe : tidak mau

 

A/N        :

Aloha! Ketemu lagi sama Len di chapter sepuluh fanfiksi ini. Aduh, udah berapa bulan ya fanfiksi ini terbengkalai? Dua bulan lebih, ampir tiga bulanan gitu ya? Ada yang masih nungguin lanjutan cerita ini nggak? Atau udah lupa, atau udah nggak mau ngikutin cerita ini lagi? :3

My biggest apology for had this fanfiction being neglected /bow/ Writer’s block yang bener-bener parah menyerang Len. Ini aja nggak tau udah sembuh apa belum. Jadi maaf sekali lagi kalo chap ini kerasa aneh dan pendek. Maklumin aja soalnya ditulis pas lagi kena writer’s block. Udah cari-cari inspirasi malah nggak dapet-dapet dan macet. Dapetnya malah masalah. Selain itu karena paketan abis yang berdampak pada memperparah writer’s block-nya Len.

But at the end, Len nyoba buat nulis sebisanya. Len maksain diri Len sendiri buat nulis karena nggak pengen cerita ini jadi discontinue. Jadi yaaa beginilah hasilnya. Gimana menurut reader sekalian? Apa feel-nya udah dapet? Masih kerasa ancurkah?

Mulai chapter ini dan ke depannya, Len bakal lebih nekanin ke interaksi Chanyeol ama Iseul. Poin-poin kerangka buat mereka menurut Len nggak begitu buuuuuaaaanyaaakk dan sempit, tapi Len bakal usahain yang terbaik. Mungkin nanti (pasti) bakal adalah scene-scene yang nggak begitu berat konfliknya atau menguras emosi di antara dua main cast kita ini. Semoga suka ya?

Feeling Len sih bilang, mungkin fanfiksi ini bakal end nggak sampe lima chapter ke depan. Dan kayaknya ketika tahun 2015 berakhir, ni fanfiksi belum kelar deh XD Yang sabar aja ya ngadepin author karet kayak Len ini.

Oke, segitu dulu bacotan dari Len. Kali ini biar Len tau apa aja uneg-uneg kalian. Mau kritik-saran boleh, tanya-tanya atau diskusiin ni fanfiksi juga boleh. Mau marah ama Len juga boleh kok XD Tulis semua di kolom komentar 😉

Yang mau kenalan ama Len bisa mampir dimari : Fanfiction.net atau di facebook

Sorede, see you next chapter!

19 tanggapan untuk “Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 10]”

  1. Knp mrk ga bs balik ke tubuh msng2 Len? 이슬 dah prnh cb emang? Trus 찬열 udah tau dimana kmr t4 dy rwt blm? Gmn tu reaksi 찬열 klo liat diri’y sendiri lg terbaring comma trus dy liat tu 4 shbt’ny pd ngjarah bingkisan di kmr dy, trus dngr klo shbt’ny blng dg kompak tanpa komando klo mrk bkl gantiin pas 찬열 dah sadar? Yg ngajarin 이슬 bwt maen ngrasukin bdn org tu siapa, spirit mana? Smg pd cpt sadar dr comma ya 찬슬.. kshn klrg di rmh jg shbt2 yg pd malarindu 😯

  2. PADA AKHRINYA MOMEN CHAN-SEUL MULAI MUNCUL DAN MAKIN BANYAK DAN SAYA SUKA DAN DAN DAN/PLAK
    pas kalimat “Jauh lebih menyakitkan mana, penolakan saat ingin merasuki seseorang atau penolakan saat kita menyatakan cinta?”
    ………
    AZTAGAH LEN SENGAJA GITU YA NYELIPIN HAL BIKIN BAPER MAKSIMAL KEK BEGITU HAH SENGAJA YA AKU BACANYA LANGSUNG NYESS GITU AJA AMPUN DEH AZTAGAH
    salut banget sama chanyeol yang bahkan sampe tiga hari terus mencoba… padahal arwah lainnya udah bisa lebih cepet… mana diejekin terus sama iseul kan malah makin malu-maluin haha
    tapi…begitu udah bisa masuk malah….. OMAYGAT EMANG YA NAMANYA JUGA COWO YANG DILAKUIN MALAH YANG BEGITUAN SINI SINI CHANYEOL KUJEWER AJA/plakplak
    kukira gak bakal nge-fluff gitu… ternyata… ah, chanyeol bisa aja bikin anak orang senyum senyum gak jelas haha
    …yes! moment mereka makin banyak yes! yes!/plaklagi

    1. Emang sengaja Len masukin kok. Awalnya nggak maksud, tapi setelah idenya lewat terus Len mikir, “Kayaknya syahdu juga nih.” Yaudin, Len masukin aja XD
      Itu refleks berdasar insting mereka nak XD

  3. note sama fic nya kepanjangan notenya XD . gk ko bohoong..
    iddiiihhh akhirnya di poat juga setelah.. sekiaan lamaa~ aku menunggu~ fic ini di riliis~ *nyanyi lagunya ridho roma* . aku nungguin kok len. tenag tenang. tapi kayaknya iya deh fic ini pendek, trus cuman ada iseul-chanyeol ajaa.. trus diakhir feelnya kurang dapet. waktu awal-awal masih anteng aja sih, bawa ke ceritanya. tapi pas tau bagian akhirnya gtu yaa kurang dapet deh.. trus apalagi ya?? . aku mau komen bagian akhir akhir, gak kebayang gimana ada satu tubuh ada 3jiwa itu scene terngakaka siih.. kalo gtu udh aah.. aku reiksi ini bakal berakhir di april 2016 haha XD.

    1. Anjir kamu yah XD
      Ciee yang setia ama ni fanfiksi cieeee
      Iya, Len sendiri juga ngerasa feel-nya kurang dapet. Maklum, nulisnya pas lagi kena writer’s block :3
      Kita tunggu apa prediksimu bener atau salah

  4. ya ampun lennn… lama banget updatenya.. huhuhu
    akhirnya keluar juga ni fanfic
    walaupun agak pendek dari biasanya.. tp gpp lah.. karena aku bener – bener nungguin fanfic ini.hehehe
    si chanyeol ama iseul kpan sadarnya?
    trus kalo nanti sadar mereka tetep saling kenal gk?/kepoo
    semangat terus buat len ya..
    semoga cepet update chapter 12 nya.. amiin
    aku tunggu next chapternya

    1. Iya, kena writer’s block soalnya. Kondisi mental juga lagi nggak bagus XD
      Kapan sadarnya? Kapan-kapan aja ya 😛
      Yosh, sankyu buat semangatnya!

  5. udah aku tunggu lama minnn, akhirnya di post jugaaa

    seneng deh liat kayak gitu, tapi aku pingin liat chanyeol ketemu sama temen band nya ato sama keluarganya, trus ngerasuki tubuh orang biar bisa becandaan sama temen band nyaaa

    haduh maap min jadi baper gegara chanyeol ke china (‘:)

    fighting thor ngetiknyaaa

    1. Panggilnya Len aja, ‘min’ itu nama tetangga Len, serius XD Kalo ‘thor’ itu member The Avengers XD
      Yah liat aja nanti ya? Hahahaha

  6. aigooo..aku nunggunya udh hampir lumutan….jinjja…tapi seneng udh update
    and aku selalu setia nunggu ff ini..huwaaa…daebak kak…cieee..yg udh dekett…
    btw, seneng gitu chanseul akur lagi..chanyeol bisa aja bikin iseul senyum..pokoknya jjang!!! keep writing kak..di tunggu update next chapnya. jgn kelmaan kalo bisa..FIGHTNG!!

Tinggalkan Balasan ke l18hee Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s