Still (Chapter 1)

CYMERA_20151113_171151

Title                       : Still (Chapter 1)

Author                  : dosamonim

Length                  : Chaptered

Genre                   : Romance, AU

Rating                   : PG-13

Main cast             : Park Chanyeol, Kim Jooyeon (OC), Oh Sehun

Additional Cast  : EXO, Lee Cheonsa (OC)

Disclaimer           : I just own the story. The characters claimed by theirself. Don’t sue me.

Author’s Note   : FF ini belum pernah dipublish dimana pun selain disini. So, enjoy and happy reading ^^

***

“Memperhatikan dia lagi?” tanya Cheonsa, sahabatku sejak awal masuk SMA, saat ia menemaniku duduk di pinggir lapangan basket. Aku hanya mengangguk dan tetap fokus memperhatikan seorang siswa bertubuh tinggi yang sedang sibuk mendribble bola basket dengan tangannya.

Namanya adalah Park Chanyeol, siswa kelas 3-2 SMA Paran. Dia adalah kapten tim basket di sekolahku dan memiliki banyak penggemar baik dari dalam sekolah maupun luar sekolah. Yeah.., he’s famous. Tidak sepertiku yang hanya merupakan siswi biasa di SMA Paran.

Aku menyukai Chanyeol. Bukan hanya menyukainya, bahkan aku mencintainya sejak lama, sejak sekitar 3 tahun yang lalu. Aku mengenalnya saat kami bersekolah di SMP yang sama, SMP Paran. Saat duduk di kelas 3 SMP, Chanyeol sekelas dengan Han Heera, sahabatku yang sekarang tinggal di Jepang dan Heera yang mengenalkanku dengan Chanyeol. Kami beberapa kali bertemu dan berjalan-jalan bertiga.

Saat aku mengetahui bahwa aku memasuki SMA yang sama dengan Chanyeol, aku merasa sangat senang. Kupikir ini adalah jalan yang membuatku semakin dekat Chanyeol namun ternyata aku salah. Chanyeol malah mengabaikanku saat aku menyapanya di hari pertama masuk sekolah.

Ia bertingkah seperti tidak mengenalku dan aku seolah adalah orang asing untuknya. Apa ia membenciku? Meskipun aku sendiri tidak tahu apa yang telah aku perbuat sehingga ia menjadi membenciku. Sejak saat itu aku tidak pernah berani menyapanya lagi dan aku berusaha untuk melupakan perasaanku padanya namun ternyata aku tidak pernah bisa.

Aku tidak pernah bisa melupakan Chanyeol dan malah membiarkan perasaan ini terus tumbuh meskipun hanya kupendam sendiri selama hampir 3 tahun lamanya. Hanya Cheonsa yang mengetahui perasaanku pada Chanyeol karena aku hanya bercerita padanya.

“Jooyeon-ah, sampai kapan kau seperti ini terus?” Cheonsa geleng-geleng kepala. “Sudah jelas dia tidak pernah menganggapmu sama sekali. Dia memperlakukanmu seperti orang asing tapi kau tetap saja masih menyukainya. Untuk apa sih?” tanya Cheonsa gemas.

Perkataan Cheonsa memang benar, mungkin Chanyeol hanya menganggapku orang asing. Fakta kami pernah berteman saat duduk di bangku SMP sepertinya telah terhapus dari ingatannya. Aku mengangkat bahuku “Molla. Mungkin ini yang namanya cinta.”

“Terlepas dari kata cinta, aku tidak mau melihatmu seperti ini. Kau seperti orang bodoh, menunggu tanpa bertindak. Aku memang tidak terlalu suka dengan Chanyeol tapi kenapa kau tidak mencoba untuk menyatakan perasaanmu?”

Aku menggeleng lemah. “Dia saja selalu mengabaikanku, bagaimana jika aku menyatakan perasaanku? Mungkin dia akan membenciku. Di matanya aku hanya orang asing. I’m just a stranger for him.”

Just forget him! Kenapa kau tidak mencoba menerima Sehun? Sehun itu baik, ramah, tampan dan pandai bermain gitar. Dia juga terkenal. Apa yang kurang? Kalian berdua terlihat sangat serasi saat duet di festival sekolah waktu itu.” Cheonsa menyarankanku untuk menerima teman sekelasnya yang sudah beberapa kali ‘menembak’ku meskipun aku sudah sering menolaknya.

Aku menatap Cheonsa lalu menggeleng. “Aniya, tidak ada yang kurang. Aku hanya tidak mau menjadikan Sehun sekedar pelarian. Aku takut aku tidak bisa mencintainya. Akan sangat tidak adil untuk Sehun jika aku hanya berpura-pura mencintainya.”

Cheonsa mengangguk paham. “Perkataanmu benar sih, tapi apa kau tidak ingin mencoba dulu? Cobalah untuk belajar mencintai Sehun. Atau kau mau kukenalkan dengan sepupu-sepupuku, mereka semua tampan kok.”

Aku tertawa kecil mendengar ucapan Cheonsa yang sedang mempromosikan para sepupunya “Hey Lee Cheonsa! Kau ini seperti sedang berdagang saja.” ledekku.

“Aku serius Kim Jooyeon! Kau tahu, salah satu sepupuku yang bernama Baekhyun pernah menanyakan dirimu saat ia melihat foto kita berdua di wallpaper ponselku.” ujar Cheonsa dengan wajah serius.

“Ayolah.., jika kau tidak mau dengan Sehun. Kau bisa mencoba dengan Baekhyun. Umur kalian tidak berbeda jauh kok. Baekhyun hanya lebih tua setahun dari kita. Dia orang yang menyenangkan dan suaranya juga bagus sepertimu.” Cheonsa tetap mempromosikan sepupunya.

Aigoo, jangan membuat ini semakin rumit deh. Aku jadi pusing.” aku mengabaikan perkataan Cheonsa dan kembali melihat ke arah lapangan. Terlihat Chanyeol sedang bersenda gurau dengan teman-teman satu tim basketnya dan juga para penggemarnya yang kebanyakan adalah para siswi cantik dan terkenal, tentunya.

Tiba-tiba mataku dan mata Chanyeol bertemu dan aku merasakan waktu seolah berhenti sesaat. Bola matanya yang hitam menatapku tajam, aku segera mengalihkan pandanganku. Jantungku berdebar begitu cepat saat ia menatapku tadi. Aku memilih mengajak Cheonsa pergi meninggalkan lapangan basket.

Jika terlalu lama disini, Chanyeol pasti akan sadar bahwa aku memperhatikannya. Bisa-bisa ia semakin membenciku dan aku tidak ingin itu terjadi. Aku tidak meminta Chanyeol membalas perasaanku, aku hanya ingin Chanyeol tidak membenciku. Aku ingin kembali berteman dengannya seperti dulu. Bukan seperti orang asing yang tidak saling mengenal seperti saat ini.

***

Mianhae, Jooyeon-ah. Hari ini aku harus pulang duluan, aku mau menjenguk nenekku yang sedang sakit. Jadi kita tidak bisa pulang bersama deh, maaf ya..” ujar Cheonsa saat menghampiriku yang sedang membereskan tasku di dalam kelas.

Aku tersenyum mengangguk “Gwaenchana, hari ini aku juga sepertinya akan pulang telat. Aku mau mengerjakan tugas dulu di perpustakaan.”

“Aku duluan, kalau begitu. Annyeong!” Cheonsa melambaikan tangannya dan bergegas keluar dari kelasku.

Josimhae ka, annyeong!” aku balas melambai lalu menyampirkan tasku ke bahu dan berjalan keluar dari kelas menuju perpustakaan.

Aku menyusuri rak-rak buku untuk mencari buku yang kuperlukan untuk mengerjakan tugas dari Jung sonsaengnim. Aha! Itu dia bukunya, tapi kenapa harus diletakkan di paling atas sih? Aku mencoba menjinjit untuk mengambil buku tersebut namun tetap saja tidak sampai.

“Kau ingin mengambil buku itu?” aku mendengar suara yang cukup familiar bagiku. Aku menoleh dan melihat Sehun berdiri di belakangku sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.

“Oh Sehun?”

“Kau ingin mengambil buku itu?” Sehun mengulangi pertanyaannya sambil menunjuk ke arah buku yang ingin kuambil.

Ne..” aku mengangguk.

Sehun dengan mudahnya dapat meraih buku itu, berbeda sekali denganku. Ia pun meraih buku yang kubutuhkan lalu menyerahkannya padaku “Ini.”

Gomawo Sehun-ah.” aku menerima buku darinya sambil membungkuk berterima kasih.

Gwaenchana.” balas Sehun yang kembali tersenyum “Aku senang bisa membantumu.” Sehun mengelus kepalaku lembut.

Aku memilih duduk di sudut perpustakaan setelah mendapatkan buku yang kucari dan mulai mengerjakan tugas dari Jung sonsaengnim. Setelah satu jam berkutat dengan tugas Sejarah yang rumit, akhirnya aku dapat keluar dari perpustakaan.

“Sudah mau pulang?” suara Sehun mengagetkanku dan membuatku terkesiap.

“Astaga, kau mengagetkanku saja.” aku memukul bahunya pelan.

“Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanmu.” Sehun tertawa kecil. “Kau mau pulang sekarang?”

Aku mengangguk. “Ne. Kau tidak pulang, Sehun-ah?”

“Aku akan mengantarmu. Langit sudah gelap, tidak baik untuk seorang gadis berjalan sendirian. Tidak apa kan?”

Aku berpikir sejenak, perkataan Sehun benar. Lebih baik, aku pulang bersamanya daripada aku tidak selamat sampai dirumah “Ne, gomawo, Oh Sehun.

Kajja!” ajak Sehun dan kami pun berjalan menuju parkiran untuk mengambil motor milik Sehun. Sehun memakaikanku sebuah helm berwarna biru dengan hati-hati dan ia sendiri memakai helm berwarna merah yang modelnya sama dengan helm yang kupakai. Sepertinya ini helm untuk pasangan.

“Noonaku yang memberikan helm ini untukku, aku tidak mempunyai maksud apapun kok.” ujar Sehun seakan mengetahui isi kepalaku.

Ah..? Aniya, gwaenchana. Aku tidak keberatan kok.” aku merasa tidak enak hati pada Sehun. Tak lama motor Sehun pun melaju menuju apartemenku yang letaknya cukup jauh dari sekolah.

Sepertinya hari ini bukan hari keberuntunganku. Karena di perjalanan hujan turun dengan deras dan Sehun pun terpaksa menepikan motornya dan kami pun berteduh di sebuah halte bus. “Kau kedinginan?” tanya Sehun saat ia melihatku memeluk tubuhku sendiri untuk menghilangkan rasa dingin yang menusuk. Sialnya, hari ini aku tidak membawa mantel ataupun jaket yang bisa menghangatkan tubuhku. Meskipun aku sudah memakai blazer tapi tetap saja dingin.

Aku menggeleng lemah. “Aniya.” dustaku dan Sehun tetap melepas jaket yang melekat di tubuhnya dan menyampirkannya ke bahuku, sepertinya ia tahu kalau aku berbohong.

“Pakailah, aku tahu kau kedinginan.” ujar Sehun seraya menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk menghasilkan rasa hangat lalu menempelkannya ke kedua pipiku “Hangat kan?”

Aku tercengang melihat perlakuan Sehun, ia berusaha membuatku hangat tanpa memperdulikan dirinya yang aku yakin pasti merasa dingin. Ia hanya mengenakan kemeja sekolah yang tipis. “Sehun-ah, kau tidak perlu seperti ini. Kau juga pasti kedinginan kan?”

Sehun menggeleng “Nan gwaenchana.” aku tahu Sehun berbohong, terlihat jelas wajahnya yang memucat dan giginya yang bergemeletuk menahan dingin sementara ia tetap menggosokkan telapak tangannya dan menempelkannya ke pipiku agar aku merasa hangat.

Aku menahan tangan Sehun dan menempatkan kedua tangannya ke pipinya sendiri “Kau juga kedinginan.”

“Lebih baik aku yang kedinginan daripada aku harus melihatmu kedinginan.” Sehun mengelus pipiku lembut.

***

Sehun-ah, gomawo.” ujarku saat kami berdua akhirnya sampai di depan gedung apartemenku dengan kondisi yang cukup basah kuyup.

Sehun mengangguk. “Kau cepat masuk dan ganti pakaian nanti kau bisa sakit jika kau terlalu lama memakai pakaian yang basah seperti itu.” titahnya. “Kalau begitu, aku pulang dulu. Annyeong!

“Hati-hati, Oh Sehun.” aku melambaikan tangan saat motor Sehun menjauh dari pandanganku. Aku pun bergegas naik ke lantai 5 menuju apartemen yang kutempati bersama kakak laki-lakiku yang bernama Kim Junmyeon. Kedua orangtuaku tinggal di Sydney sejak setahun yang lalu karena tuntutan pekerjaan.

“Aku pulang.” ujarku saat membuka pintu. Aku melirik televisi di ruang tengah yang menyala, sepertinya kakak laki-laki yang berbeda 4 tahun dariku itu sudah kembali dari kampusnya.

“Kau baru pulang?” tanya Junmyeon oppa yang muncul dari pantry. “Kau darimana? Kok badanmu basah kuyup begitu?”

“Tadi aku mengerjakan tugas dulu di perpustakaan dan pulangnya aku kehujanan.” jawabku seraya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.

“Setelah mandi, aku ingin berbicara denganmu.” terdengar suara Junmyeon oppa dari luar.

Ne!” Aku jadi penasaran, apa yang ingin Junmyeon oppa bicarakan ya? Seusai mandi dan mengeringkan rambutku, aku menghampiri Junmyeon oppa yang sedang berkutat dengan laptopnya. Aku duduk di sofa sementara Junmyeon oppa menutup laptopnya. “Oppa ingin bicara apa?” tanyaku.

“Tadi malam appa menelponku dan menyuruhmu untuk pindah ke Sydney.” jawab Junmyeon oppa yang membuatku terkejut.

Mwo?!” Pindah ke Sydney? Itu artinya aku tidak bisa melihat Chanyeol lagi. “Bagaimana dengan oppa?”

“Aku akan menyusul setelah kuliahku selesai. Tapi aku akan tetap mengantarmu sampai di Sydney.”

Tinggal di Sydney berarti aku harus berpisah dengan Cheonsa dan Chanyeol. Tapi bukankah itu bagus? Aku semakin gampang melupakan perasaanku pada Chanyeol. Mungkin disana aku akan menemukan laki-laki yang seribu kali lebih baik dari Chanyeol. Tapi, apakah aku kuat untuk tidak melihat Chanyeol dalam jangka waktu yang panjang?

“Jooyeon-ah? Kenapa kau diam? Kau sepertinya sedang memikirkan sesuatu.” tebak Junmyeon oppa.

Aniya, aku tidak memikirkan apa-apa.” aku menggeleng, malu rasanya jika harus bercerita tentang kisah cintaku pada Junmyeon oppa.

“Jangan berbohong padaku. Ayolah, ceritakan padaku.” pinta Junmyeon oppa.

Aniya!” aku bersikeras tidak akan bercerita.

Yak, malhaebwa!” Junmyeon oppa bersikeras memintaku untuk bercerita padanya. Aku menghela napas dan memilih mengalah, akhirnya aku menceritakan tentang Chanyeol padanya.

“Kau tidak ingin menyesal kan?” tanya Junmyeon oppa setelah aku menuturkan semua ceritaku tentang Chanyeol.

“Maksud oppa?” aku mengerutkan dahiku, bingung.

Tell him. Sebelum kau pergi ke Sydney, katakan bahwa kau sangat mencintainya. Aku tidak ingin kau menyesal. Jangan sampai dia tidak mengetahui perasaanmu yang sebenarnya. Walaupun ternyata dia tidak bisa membalas perasaanmu, setidaknya kau merasa lega. Aku tidak mau kau menyesal sepertiku.” ujar Junmyeon oppa panjang lebar.

“Seperti oppa?”

Junmyeon oppa memandang nanar ke arah langit-langit apartemen. “Aku pernah mencintai seorang gadis dan bodohnya aku tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya. Jangankan mengungkapkan, untuk menunjukkan tanda-tanda aku mencintainya saja, aku tidak berani. Kini, aku merasa sangat menyesal.”

“Lalu sekarang dimana gadis itu?” tanyaku penasaran, selama ini aku memang tidak pernah melihat tanda-tanda Junmyeon oppa sedang jatuh cinta. Kupikir ia memang sedang fokus dengan pendidikannya.

“Gadis itu sekarang tinggal di Jepang.” jawab Junmyeon oppa tersenyum samar.

Aku terdiam dan berusaha mencerna ucapan Junmyeon oppa barusan. Sepertinya aku tahu, siapa gadis yang Junmyeon oppa maksud. “Jadi, selama ini oppa mencintai Heera?!” tanyaku tidak percaya.

Junmyeon oppa mengangguk. “Tapi aku tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya sampai saat ini.” Junmyeon oppa mengelus kepalaku yang kusandarkan di bahunya. “Karena itulah, aku tidak ingin kau mengalami hal yang sama sepertiku. So, you must tell him.

“Bagaimana jika ia makin membenciku setelah tahu aku mencintainya?” tanyaku khawatir.

“Berarti dia tidak pantas dicintai oleh gadis sepertimu.” Junmyeon oppa menjawil hidungku. “Pikirkan baik-baik kata-kataku tadi, agar kau tidak menyesal.”

***

“Apa?! Pindah ke Sydney?! Kau serius?!” seru Cheonsa tidak percaya saat aku menceritakan rencana kepindahanku ke Sydney. “Andwae… Aku tidak mau berpisah dengan sahabatku.”

Yak! Lee Cheonsa! Apa kau lupa di dunia ini ada yang namanya ponsel? Kita ini bukan hidup di zaman batu, teknologi sudah maju. Kita masih tetap bisa berkomunikasi.” aku menepuk bahu Cheonsa berusaha menyemangati dirinya meskipun aku sendiri sebenarnya masih ragu akan keputusanku ini.

“Tapi tetap saja, aku pasti akan merindukanmu.” ujar Cheonsa lemas. “Kapan kau pindah?”

“Sekitar dua minggu lagi.” jawabku.

“Kenapa tidak menunggu sampai kau lulus SMA saja sih?”

“Entahlah, appa yang memintaku.”

Cheonsa menjentikkan ibu jari dan telunjuknya “Berarti masih ada waktu.”

“Hah? Waktu untuk apa?” aku tidak mengerti dengan maksud kalimat Cheonsa barusan.

You must tell him, dear.” Cheonsa tersenyum penuh arti.

***

Hari ini adalah hari terakhirku di Korea karena nanti malam aku akan menyusul kedua orangtuaku di Sydney dan sekarang aku duduk di pinggir lapangan basket di taman dekat sekolah untuk menunggu seseorang atau lebih tepatnya menunggu Chanyeol.

Biasanya tiap Minggu sore, Chanyeol bermain basket disini. Hari ini aku berniat untuk mengungkapkan perasaanku pada Chanyeol sebelum kepergianku ke Sydney. Apapun reaksi Chanyeol nanti, sebisa mungkin aku akan menerimanya.

Tak lama terlihat sosok Chanyeol yang datang sambil membawa bola basket kesayangannya. Ia menghentikan langkah kakinya saat melihatku. Sepertinya ia terkejut melihatku berada disini. Aku pun memantapkan hatiku dan memberanikan diriku melangkahkan kakiku menghampiri Chanyeol.

“Park Chanyeol.” lidahku terasa berat untuk memanggil namanya. Jantungku berdebar kencang, mengingat ini adalah pertama kalinya kami berbicara lagi setelah 3 tahun lamanya kami saling diam seperti orang yang tidak mengenal.

Wae?” ia menatapku datar.

“Aku…, aku… ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Katakan cepat, aku tidak punya banyak waktu untukmu.” desak Chanyeol.

“Aku menyukaimu, Park Chanyeol.” akhirnya kalimat itu meluncur juga dari mulutku dan aku terdiam beberapa saat menunggu reaksi Chanyeol.

“Kau ‘menembak’ku?” tanya Chanyeol ‘to the point’.

Aku menggeleng “Aniya.., aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku.”

Chanyeol tertawa seperti mengejekku. “Kau hanya membuang waktumu, Nona Kim.” aku terkejut melihat reaksi Chanyeol “Kau menyukai orang yang jelas-jelas membencimu.”

Rasanya ada ribuan jarum yang menusukku setelah mendengar ucapan Chanyeol barusan. Perih dan amat menyakitkan. Air mata pun mulai menggenang di pelupuk mataku “Kenapa kau membenciku?” tanyaku dengan suara bergetar “Apa salahku?”

Chanyeol tersenyum sinis. “Kau tahu, aku mencintai Heera, sahabatmu. Saat aku menyatakan perasaanku padanya, ia menolakku dan malah menyuruhku mencintaimu. Kau yang membuat Heera menolak cintaku.” jelas Chanyeol yang sukses membuatku membisu.

Jadi selama ini Chanyeol mencintai Heera dan Heera mengalah lalu menyuruh Chanyeol memilihku karena aku menyukai Chanyeol? Jadi ini alasan Chanyeol membenciku? “Mianhae, Chanyeol-ah. Aku tidak tahu kalau kau mencintai Heera.” hanya kalimat itu yang dapat keluar dari bibirku. Aku mati-matian menahan tangisku dan tidak ingin tangisku ini pecah di hadapan Chanyeol.

“Percuma, permintaan maafmu tidak akan bisa membuat Heera menerimaku.” tukas Chanyeol. “Lebih baik kau pergi sekarang. Aku tidak ingin melihatmu.”

Chanyeol mengusirku? “Baiklah, aku akan pergi. Goodbye, Park Chanyeol.” Dengan berat hati aku melangkah pergi meninggalkan taman dan menjauh dari Chanyeol. Kakiku terasa lemas dan rasanya aku tidak kuat berjalan menghampiri Cheonsa yang menunggu di dalam mobilnya di ujung jalan.

Inikah rasanya patah hati? Perih. Seperti ada lubang besar yang menganga dan terasa pedih jika disentuh. Tapi setidaknya aku merasa lega karena telah menyatakan perasaanku pada Chanyeol meskipun akibatnya aku harus mengetahui kenyataan yang amat pahit.

Aku membuka pintu mobil Cheonsa perlahan. “Jooyeon-ah? Bagaimana tadi? Apa reaksinya saat mendengar kau menyatakan perasaanmu? Apa jawabannya? Apa dia memiliki perasaan yang sama denganmu?” tanya Cheonsa beruntun, ia terlihat amat penasaran.

Aku tersenyum getir dan mengabaikan pertanyaan Cheonsa. “Ayo kita pergi. Junmyeon oppa pasti sudah menungguku disana.”

Cheonsa terlihat bingung melihat reaksiku namun ia memilih diam dan mulai menjalankan mobilnya menuju bandara Incheon. “Neo gwaenchana?” tanya Cheonsa pelan, ia menoleh sekilas kemudian kembali fokus menyetir.

Gwaenchana.., aku bahkan sudah merasa lega sekarang.” aku menggigit bibirku, menahan air mata yang mulai memenuhi pandanganku.

“Kalau kau ingin menangis, menangislah.” Cheonsa mengusap bahuku.

Pertahananku runtuh, air mataku perlahan mulai menetes dan mengalir di pipiku. Aku memang tidak akan pernah bisa berpura-pura kuat di hadapan Cheonsa “Dia membenciku, Cheonsa-ya.”

***

“Jooyeon-ah, jaga dirimu baik-baik disana. Jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai di Sydney dan jangan lupakan aku.” bisik Cheonsa saat kami berdua sedang berpelukan sebelum aku masuk ke dalam boarding room. Sebenarnya aku sendiri merasa berat untuk berjauhan dengan Cheonsa yang sudah 3 tahun menjadi sahabat setiaku namun perasaanku mendesakku untuk meninggalkan Korea agar tidak lagi melihat Chanyeol.

Gokjongma, Cheonsa-ya. Aku tidak akan melupakanmu. Kita sahabat selamanya. Aku pasti akan sering menghubungimu.” ujarku sambil melepas pelukanku padanya lalu beralih menatap Sehun yang sejak tadi berdiri di samping Cheonsa.

Sehun tersenyum padaku dan meraih tubuhku ke dalam pelukannya. “Jooyeon-ah, aku pasti akan sangat merindukanmu. Kau tahu kan, perasaanku padamu? Jika terjadi sesuatu, kau bisa menghubungiku. Ingat, disini kau punya aku dan Cheonsa. Perasaanku padamu tidak akan berubah.”

Untuk kali ini aku membiarkan Sehun mendekapku dan juga mengecup keningku. Aku merasa terharu mendengar perkataannya. Ia masih tetap peduli padaku meskipun aku sudah menolaknya beberapa kali. “Tidak, kau harus mencari gadis lain dan kau harus mengenalkannya padaku nanti saat kau sudah menemukannya. Kau juga harus menemukan kebahagiaanmu.” Aku melepas pelukan Sehun saat mendengar pengumuman bahwa seluruh penumpang pesawat menuju Sydney sudah harus memasuki boarding room.

“Ayo, kita harus segera masuk.” ajak Junmyeon oppa.

Aku mengangguk. “Aku pergi dulu, jaga diri kalian baik-baik. Selamat tinggal.” Aku melambai lalu mengikuti Junmyeon oppa yang telah berjalan lebih dulu ke boarding room dan Cheonsa dan Sehun balas melambai padaku.

Well, goodbye Korea. Goodbye Park Chanyeol, aku akan melupakanmu dan seluruh perasaanku padamu. Cheonsa-ya, aku pasti akan merindukanmu. Sehun-ah, carilah gadis yang jauh lebih baik dariku dan berbahagialah.

***

Setahun sudah aku tinggal di Sydney dan hari ini adalah hari pertamaku kuliah. Aku berhasil menjadi mahasiswi jurusan design interior di sebuah universitas di kota Sydney. Kemarin aku baru saja mengobrol dengan Cheonsa lewat Skype. Sahabatku itu berhasil menjadi mahasiswa jurusan perfilman di Inha University. Cita-citanya sejak dulu adalah menjadi seorang sutradara.

Sedangkan Sehun, Cheonsa bilang ia pindah ke luar negeri setelah lulus namun Cheonsa tidak tahu kemana Sehun pindah. Semoga Sehun bahagia. Aku akan terus merasa bersalah jika ia masih  mengharapkanku. Aku tidak menanyakan kabar Chanyeol sama sekali. Walaupun jauh dilubuk hatiku, aku sangat merindukannya. Aku masih berusaha membunuh perasaanku padanya, meskipun ini menyakiti diriku sendiri.

Aku memasuki kelas yang belum terisi penuh, hanya ada segelintir orang yang sudah duduk di bangku yang tersedia. Aku melirik jam tangan putih yang melingkar di pergelangan tanganku. Kelas baru akan dimulai 15 menit lagi.

Excuse me.” aku mendengar sebuah suara yang familiar di telingaku. “May I sit here?” Aku mendongak dan tubuhku terasa membeku sekejap saat melihat pemilik suara yang tadi bertanya padaku.

“Oh Sehun?”

TBC

Hi, dosamonim’s here. Mau coba ngepos FF selain Let’s Get Married! Tenang, Let’s Get Marriednya bakal tetep jalan kok, cuma aku mau liat respon kalian aja kalo aku bikin FF selain Let’s Get Married. So, please comment ^^

10 tanggapan untuk “Still (Chapter 1)”

  1. Jooyeon.. kenapa gak sama sehun aja yg tulus cinta kamu. Malahan dia sampe nunggu 1 tahun dan di bela2in nyusul ke sydney..
    oke deh, next yaa

  2. wuhuuu sehun ngejar si jooyeon ke sydney.. tinggalin aja tuh si mas cahyo.. biarin dia nyesel. next part nya di tunggu postnya jan lama2 :3

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s