Timeline – Honeybutter26

041a4216bd478c5278803e2485063c32r

 

Timeline

Presented by Honeybutter26

Kim Jongin x Oh Hami [Kimiham OC’s]

Fluff, Romance

PG

Buat HamHam yang rekues dadakan.. Semoga gak mengecewakan

Memilikimu sebatas timeline . Semua terasa nyata. Aku memang gila. Tergila-gila kepadamu.”

***

Hami terlalu bosan. Guru Yang tidak berhenti mengoceh tentang algoritma dan kawanannya sedari sejam yang lalu. Terlintas dalam benaknya apa mulut Guru dengan perut yang membuncit itu tidak berbusa? Hami dengan iseng menoleh dan dia hampir saja muntah saat sungguhan ada busa di sudut kanan bibir guru Yang.

 

“Ew, sialan sekali. Benar-benar menjijikan,” ucapnya sambil bergidik. Ia merogoh lacinya secara acak hingga menemukan ponselnya. Dibukanya kunci layar kemudian langsung log-in dalam akun SNSnya.

 

Scroll.

 

Scroll.

 

Scroll.

 

Hami terus mengusap layar ponselnya, menggeser halaman timeline ke bawah. Tidak ada yang menarik, isinya hanya ocehan tidak penting teman-temannya tentang betapa membosankannya jam pelajaran. Hami menguap lebar, namun segera menutup mulutnya saat Soojin menegurnya. Ia nyengir dan Soojin mendengus babi.

 

“Tiba-tiba kelabu menjadi biru. Ada kamu di timeline-ku. Hanya kamu yang aku perlu.”

 

Tulisnya pada kolom momen, Hami tersenyum aneh sesudahnya. Kata-kata itu tiba-tiba muncul di benak saat Hami mengingat buku kumpulan puisi yang ia baca semalam. Ponselnya terus bergetar oleh notifikasi. Jelas saja, Hami adalah anak social media yang terkenal dengan tulisan-tulisannya yang sarat akan makna.

 

Hami membuka kolom notifikasi, melihat berapa banyak stiker suka yang dibagikan oleh teman-temannya ataupun melihat komentar-komentar yang kadang cukup menggelikan tertulis disana.

 

“Aku disini. Merindukanmu suaramu yang merdu. Namun aku hanya melihat tulisanmu di timeline-ku. Sunyi namun menggetarkan hati. Rindu ini, mungkinkah dapat terobati?”

 

Satu detik

 

Dua detik

 

Tiga detik.

 

Hami masih terdiam kaku di tempatnya, tak bergerak tak berucap namun masih bernapas. Saat sadar akibat suara bolpoin yang dijatuhkan teman sebelahnya, Hami melihat kembali layar ponselnya. Ia berharap matanya tidak salah melihat. Bukan ia sering salah melihat, hanya saja ia tidak mau terjebak dalam delusi semu yang berlangsung sementara.

 

Hami menahan napas. Ia genggam tangan Soojin dengan begitu erat hingga gadis itu mengaduh kesakitan dan mengumpatinya. Sial! Sial! Sial! Hami terus menggumamkan kata itu dalam hati. Wajahnya memerah karena menahan napas.

 

Menjerit kau mati, tak menjerit kau juga mati.

 

Hami tidak bisa berkutik, namun segera mengambil napas begitu paru-parunya meraung sakit dan kempis. Ia lihat lagi layar ponselnya, membaca lagi satu komentar yang mampu membuatnya menahan napas.

 

Jongin Kim

“Aku disini. Merindukan suaramu yang merdu. Namun aku hanya melihat tulisanmu di timeline-ku. Sunyi namun menggetarkan hati. Rindu ini, mungkinkah dapat terobati?”

 

Ya Tuhan, Hami merasa benar-benar ringan seolah tak lagi terikat oleh gravitasi. Dadanya penuh oleh udara, sesak tapi Hami suka. Ada tujuh warna pelangi di atas kepala setengah botak guru Yang. Tembok kelas berubah menjadi awan-awan berwarna merah muda dan kelopak mawar bertebaran dimana-mana.

 

***

 

Hami masih saja merasa ringan, ia terus tersenyum tidak jelas dan membuat Soojin bergidik ketakutan. Mungkinkah temannya ini sudah gila?

 

“Kau kenapa?” tanyanya.

 

“Aku sedang diabetes.”

 

“Huh?” jawaban Hami sukses membuat Soojin mengrenyitkan dahi. Apa orang diabetes terlihat seperti orang gila?

 

Dari lorong menuju kantin, seorang pemuda berjalan dengan begitu tegap dan jantan. Kulitnya yang sewarna almond bersinar oleh bias surya. Rambutnya yang sekelam malam bergerak lincah oleh angin dan langkahnya yang mantap.

 

Tatapan mereka bersirobok. Hami tersedot begitu cepat dan jatuh begitu dalam pada manik matanya yang sepekat kopi. Tubuhnya lagi-lagi kaku dan mulutnya gagu. Pesona pemuda itu terlalu kuat membelitnya dengan sulur-sulur selembut sutra.

 

“Hai, Jongin.”

 

“Oh, hai, Soojin,” Jongin balas menyapa Soojin. Ekor matanya sedikit melirik pada Hami yang masih saja diam dengan wajah yang hampir membiru. Apa?

 

“Hei, Hami ambil napas!” Seru Jongin. Hami menurut, mengeluarkan jutaan molekul karbondioksida yang tadi memenuhi rongga dadanya hingga sesak dan menimbulkan suara yang cukup keras. Jongin terkekeh kecil melihatnya.

 

“Jongin,” seseorang memanggil Jongin dan berdiri di samping pemuda itu begitu sampai.

 

“Ada apa, hm?” suara Jongin begitu lembut mengalun di telinga. Sambil berkata, Jongin mengelus lembut pipi bulat milik gadis itu.

 

“Aku lapar, ayo makan.”

 

“Ayo,” Jongin menggenggam tangan gadis itu dengan begitu hangat. Satu bunyi retakan terdengar dari rongga dada Hami.

 

Begitu Jongin dan Hani pergi, Hami segera menoleh pada Soojin. Omong-omong Soojin ini sepupu dari Hani, si primadona sekolah yang kulitnya sewarna almond dan senyumnya semanis madu kendati sifat juga wajahnya begitu dingin dan misterius seperti Queen Elsa.

 

“Apa mereka pacaran?” tanya Hami. Jantungnya berdetak keras sekali, namun kali ini sungguhan terasa sakit.

 

“Sepertinya begitu. Mereka terlalu mesra untuk disebut sebagai sahabat. Kenapa memangnya?”

 

“Tidak, bukan apa-apa.”

 

Terdengar suara patah yang begitu keras dalam diri Hami. Belum dimulai saja hatinya sudah dipatahkan. Lalu kenapa tadi Jongin seperti memberi satu kode? Apa tadi itu hanya delusi? Hami lemas untuk melanjutkan hari.

 

***

 

Hami sungguhan tak bergairah dalam melanjutkan harinya. Terbang terlalu tinggi ternyata tidak baik, saat jatuh rasanya akan lebih sakit. Hami rasanya ingin menangis, menumpahkan segala lara dengan banyak berceloteh. Tapi siapa yang akan mendengarkan curahan hatinya?

 

Hanya ada satu. Ponsel. Mungkin Hami memang sudah terlalu addict, daripada menelpon Soojin atau siapapun untuk diajak bercerita, ia lebih memilih untuk menumpahkan keluh kesaahnya di social media.

 

“Memejamkan mata tiap malam, hanya itu caraku bertemu denganmu.”

 

“Air mata tanda duka. Kala cinta mematahkan asa. Bisakah harapan kembali merekatkannya?”

 

“Aku teringat malam yang penuh bintang, kau hadir dalam bayang temaram. Cinta, tawarkan suka dan duka. Yang mana yang akan kau berikan?”

 

“Malam kelabu. Aku merindukanmu, kau tiada hadir disini. Sekedar mengusir sepi dengan sedikit goresan huruf di kolom komentar momen yang kutulis untukmu.”

Beginilah Hami saat sedang mangalami masa galaunya sebagai seorang remaja delapan belas tahun. Kadang terlalu labil, kadang terlalu optimis dan lebih sering berakhir dengan delusi-delusi yang tak pernah terealiasasi.

 

Hami tak peduli, biar saja setelah ini banyak pesan masuk di ponselnya karena dia menyampah di timeline orang. Mana peduli dia, mereka saja tidak peduli dengan dia yang sekarang sedang patah hati.

 

Benar saja, ponselnya berbunyi sudah hampir lima puluh kali dalam waktu yang singkat. Ia berniat mematikan dering ponselnya atau sekalian mematikan notifikasinya saja. Malam ini Hami mau tidur cepat agar segera lupa dengan kejadian siang tadi.

 

Namun tangannya selalu saja gatal untuk menyentuh ikon bel dikanan atas layar. Ada sekitar sepuluh—lima belas, atau mungkin dua puluh, entahlah Hami berhenti menghitung saat tahu jika kesemua itu dari satu ID yang sama. Jongin Kim.

 

“Kau kenapa?”

 

“Ada apa denganmu?”

 

“Seseorang menyakitimu?”

 

“Hami, jawab aku.”

 

“Sedang galau, ya?”

“Persetan, Kim Jongin. Kenapa kau masih memperhatikan gadis lain saat kau sudah punya pacar, huh? Dasar sialan! Lelaki ternyata sama saja!”

 

Hami melempar ponselnya asal lantas berteriak sejadinya, ponselnya masih berdering dan menampilkan satu nama yang sama. Namun Hami tidak peduli, lebih tepatnya tidak ingin peduli. Ia tak mau merasakan sakit yang lebih dari ini.

 

***

 

Esok pagi datang dengan begitu cepat. Hami masih merasa enggan menjalani hari. Tubuhnya masih lemas namun suhu tubuhnya masih normal jadi dia tidak bisa nego dengan Ibu agar diizinkan tidak berangkat sekolah. Hatinya masih sakit, sakit dalam makna konotasi tentunya.

 

Saat langkah kakinya hendak sampai pada gerbang, hazelnya menangkap dua sosok dimana yang satu bukanlah seorang yang asing lagi baginya.

 

“Hani? Dia dengan siapa? Oh Tuhan, pria itu mencium pipinya. Sepertinya aku mencium bau perselingkuhan disini.”

 

Hami menyeringai, merogoh saku roknya dan membuka aplikasi kamera. Barangkali saja jika ia sedang kesetanan, ia bisa menggunakan foto itu untuk merebut cinta Kim Jongin.

 

Hami berjalan dengan suasana hati yang sedikit lebih cerah ketimbang tadi pagi. Meletakan tas kemudian duduk dengan perlahan. Hami merogoh saku roknya dan mengambil ponsel.

 

“Soojin, lihat ini.”

 

Ia perlihatkan hasil jepretan ala wartawan yang ia dapatkan tadi pagi. Soojin sontak saja terbelalak. Bagaimana Hami mendapatkan foto sepupunya yang sedingin es kutub utara itu sedang dicium di pipi oleh seorang pria?

 

“Kupikir ada bau pengkhianatan disini.”

 

Soojin dan Hami saling berpandangan. Hami benar-benar ahli dalam memprovokasi orang. Soojin segera mengeluarkan ponselnya, menyuruh Hami untuk mengirim foto itu kemudian ia mengirimnya lagi pada Seulmi, sahabat dekat Hani sedari kecil.

 

Tak berapa lama ponsel Soojin bergetar, mereka dengan cepat menaruh mata pada layar ponsel yang menunjukkan balasan pesan dari Seulmi. Kedua pasang mata mereka membola bersamaan.

 

“Hei, Park Soojin. Kau ini sungguhan sepupu Hani atau bukan, huh?”

 

“Tentu saja. Margaku Park!”

 

Hami mendengus dengan malas, “Jiyeon juga Park, Jimin juga seorang Park dan CEO JYP juga seorang Park. Kau mau bercanda denganku?”

 

“Apa maksudmu Jongin dan Hani berpacaran? Dan apa tadi? Hani menyelingkuhi Jongin? Yang benar saja! Sampai populasi manusia di dunia ini berubah jadi kera dan hanya tersisa Hani dan Jongin, Hani akan lebih memilih menikahi kera daripada Jongin. Oh ya, pacar Hani sangat tampan jika kau melihatnya dari dekat. Dia juga pria yang romantis. Kapan-kapan aku ajak kau untuk melihatnya, ya.”

 

 

***

 

Waktu olahraga harusnya menyenangkan, tapi bagi Hami pelajaran olahraga adalah salahsatu hal yang menyebalkan. Ia tidak suka tubuhnya lengket karena keringat, tapi kalau Jongin yang membuatnya berkeringat basah tentu saja tidak apa.

 

Guru Shin sudah membunyikan peluit, dengan malas Hami berjalan untuk masuk ke barisan. Hari ini tema olahraga mereka adalah Chin Up, sejenis olahraga angkat beban namun yang diangkat adalah beban badan. Kemudian yang selanjutnya adalah lompat tali. Hami sudah tidak bisa lagi membayangkan akan betapa sakit lengan dan betisnya esok hari. Ini sebabnya ia membenci olahraga.

 

“Baiklah, Kim Jongin bawa teman sekelasmu kemari.”

 

Apa?

 

Hami segera melempar pandangan ke depan. Kenapa ada Jongin disana? Kenapa anak-anak dari kelas Jongin sudah berbaris rapi di samping barisan kelasnya? Kenapa Jongin tersenyum padanya dengan begitu manis? Dan apa itu tadi? Jongin melambaikan tangan dan mengucapkan halo padanya? Puji Tuhan. Kalau ini delusi tolong bangunkan Hami lain kali.

 

Ternyata pelajaran olahraga kelasnya dengan kelas Jongin disatukan karena Guru pengampu untuk kelas Jongin berhalangan untuk hadir. Hami mengangguk-angguk saja mendengar penjelasan Guru Shin, ia senang-senang saja.

 

Semua sudah dapat pasangan, namun karena salah satu temannya hari ini ada yang absen Hami jadi tidak memiliki pasangan. Soojin juga kenapa jadi mengkhianatinya? Hami menggerutu tidak terima, mulutnya terus berkomat-kamit tidak jelas.

 

“Biar aku yang menghitungkan, ya.”

 

Satu suara membuat Hami terhenyak, menoleh dengan lambat dan berakhir dengan Hami yang terkena kram dadakan disekujur tubuh. Diam kaku.

 

“Jongin sialan. Kenapa senyumnya manis sekali kalau dilihat dari dekat. Puji Tuhan,” dewa batinnya berteriak heboh.

 

“Ayo.”

 

Tanpa aba-aba Jongin menarik Hami untuk segera mengambil tali untuk digunakan melompat. Hami menurut saja, matanya masih terpaku pada genggaman tangan Jongin di tangannya. Oksigen kemanakah perginya, napas Hami sesak.

 

Hami mulai melompat. Ia canggung sekali, apalagi mata Jongin tak berhenti memandanginya. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Hami ingin berteriak tapi takut dianggap gila dan bagaimana kalau Jongin jadi risih dengannya? Itu tidak boleh terjadi.

 

“Pelan-pelan saja nanti jatuh.”

 

Sialan, Kim Jongin! Dia jadi makin canggung. Apalagi detak jantungnya makin keras, Hami takut Jongin mendengarnya. Ia juga jadi tidak bisa berkonsentrasi kalau begini.

 

***

 

Sekarang giliran kelas Jongin, entah kebetulan atau bagaimana, kelas Jongin juga berjumlah ganjil hari ini. Bertambah parah suara detak jantung Hami yang sekarang berdebum kencang sekali saat Jongin memintanya untuk jadi pasangan.

 

“Uh, ada apa dengan talinya?” Hami menoleh pada Jongin yang sedang melihat pegangan tali, omong-omong Hami hanya diam saja sedari tadi karena terlalu gugup.

 

“Coba kau pegang yang bagian ini.”

 

Hami menerimanya dengan pikiran yang masih mengambang. Kemudian Jongin menariknya menjauh hingga tali itu terbentang. Hami tak melihat seringai nakal Jongin karena gadis itu hanya menunduk saja dengan wajah yang bersemu.

 

Tiba-tiba Hami merasa tali di genggamannya tertarik, betapa terkejutnya ia melihat Jongin berputar dan membuat tali melilit di badan pemuda itu. Lebih terkejut lagi saat berhenti jarak mereka hanya tiga puluh senti saja.

 

Ia menyerukan nama Tuhan banyak-banyak dalam hatinya. Napasnya berhenti di kerongkongan saat Jongin tersenyum padanya. Napas Jongin juga terasa hangat dan halus sekali membelai pipi.

 

“Ternyata kau cukup manis dilihat dari sedekat ini.”

 

Hami hanya berdoa supaya tidak pingsan sampai jam olahraga berakhir.

 

***

 

Jongin dan Hani berjalan bersama menuju gerbang dengan tangan yang saling bertautan. Keduanya tampak cocok sekali jika dilihat, terlebih Hani dan Jongin memang sangat dekat. Hubungan mereka bahkan sering disalah artikan oleh orang yang hanya melihat bagaimana dekatnya mereka.

 

“Kau pulang bersama Sehun hari ini?”

 

“Iya.”

 

“Sejak punya Sehun kau jadi sering lupa padaku.”

 

“Makanya cepat cari pacar.”

 

“Sudah, aku sudah menemukannya.”

 

“Huh?”

 

“Nanti aku kenalkan kalau dia sudah resmi jadi pacarku.”

 

Okay.”

 

“Ck, aku masih rindu padamu tapi kenapa Sehun sudah tiba disini?” gerutu Jongin saat melihat Sehun yang sudah bersender di motornya sembari bersidekap di depan dada, sok keren. Hani terkekeh kecil melihat Jongin yang seperti sekarang ini. Pantas saja orang-orang selalu berpikir mereka punya hubungan yang lebih.

 

“Besok kita masih bertemu, Kim. Kau juga bisa meneleponku nanti malam.”

 

“Janji, ya. Awas jika saat kutelepon kau sedang bertelepon dengan Sehun.”

 

“Iya, janji.”

 

“Sudah sana pulang. Tapi sini kucium dulu.”

 

Jongin meninggalkan satu kecupan di pipi kiri Hani dan sukses membuat Sehun melotot marah. Tapi Jongin mana peduli, dia justru suka sekali membuat Sehun cemburu padanya.

 

Jongin tak menyadari sedari tadi sepasang mata memperhatikannya dan Hani dengan suara retakan yang begitu keras. Hami kembali merasakan sakit saat melihat adegan demi adegan yang dilakoni Jongin dengan Hani. Apalagi saat melihat Jongin mencium pipi Hani, jantungnya seperti diremas oleh tangan Ogre. Padahal baru tadi siang Jongin membuatnya mendaki nirwana, kenapa sekarang justru mendorongnya untuk jatuh lagi ke bumi yang keras?

 

Dengan kepala menunduk menatap jalan serta tangan yang meremas tali tasnya, Hami berjalan melewati Jongin.

 

“Hei, Hami!”

 

Hami tidak dengar. Dia tidak mau mendengar.

 

“Hami!”

 

Sudah dibilang dia tidak mau mendengar. Pura-pura tuli saja dan terus berjalan.

 

“Kenapa tidak menoleh, aku ‘kan memanggilmu daritadi?”

 

Jongin sialan! Dewa batinnya berteriak garang. Kenapa Jongin harus mencekal tangannya? Dia ingin menjauh dari si pemberi harapan palsu ini.

 

“Aku tidak dengar!” ketusnya.

 

“Ketus sekali. Kau pulang sendirian?”

 

“Iya, sudah aku mau pulang!” Hami berusaha melepas namun Jongin justru menarik tangannya hingga ia berakhir dalam begitu dekat dengan Jongin dan tangan pemuda itu kini telah melingkari pinggangnya.

 

“Biar aku antar.”

 

Apa itu tadi? Apa Jongin barusaja mengedipkan mata padanya? Ah, sialan sekali orang ini!

 

***

 

Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, Hami masih saja melangkah dengan kepala tertunduk hingga membuat Jongin beberapa kali harus menarik gadis itu saat akan menabrak pejalan kaki yang lain. Ini semua terjadi karena perang perasaan yang terjadi dalam diri Hami. Ia gugup, senang tapi kesal lebih mendominasi. Apalagi jika ingat dengan kejadian di gerbang tadi.

 

Namun sesuatu membuat Hami berhenti. Jongin yang merasa kehilangan gadis itu pun akhirnya menoleh ke belakang dan mendapati Hami berdiri di depan etalase toko dengan mata yang terpaku pada satu benda.

 

“Ada apa?”

 

“Cony.”

 

Jongin ikuti arah pandang Hami lantas mengangguk begitu menyadari apa yang dimaksud gadis itu. “Kau mau boneka itu? Aku akan membelikannya untukmu.”

 

Hami tak sempat berpikir apapun karena tahu-tahu Jongin sudah menariknya ke dalam toko, mengambil boneka Cony yang ukurannya hampir sebesar tubuh Hami lalu membayarnya di kasir. Ada satu perasaan menyenangkan yang membuat Hami seperti berada satu meter di atas tempatnya berdiri.

 

***

 

“Tadi malam itu kau kenapa?” tanya Jongin, kini keduanya—ketiga, karena Cony yang ada dalam pelukan Hami juga ikut dihitung—sudah kembali melanjutkan perjalanan.

 

“Tidak apa,” jawabnya lirih.

 

“Tapi kau seperti orang yang sedang galau. Kau disakiti pacarmu?”

 

Hami berhenti dan Jongin pun ikut berhenti. Tatapan mereka berada dalam satu poros yang sama, saling menatap, saling menyelam.

 

“Aku tidak punya pacar,” ucapnya setengah sadar. Sedetik kemudian Hami menutup mulutnya, menyadari kebodohannya sudah keterlaluan. Jongin tertawa kecil dan Hami begitu tertarik dengan sangat saat bunyi itu mengalun di gendang telinganya.

 

“Bagus kalau begitu. Lalu yang semalam itu maksudnya apa? Kau sedang menyukai seseorang tapi dia tidak meresponmu, begitu? Atau orang itu memberi harapan palsu padamu?”

 

Mereka kembali berjalan, dan Hami lagi-lagi tertunduk. Dewa batinnya sedang marah-marah. “Iya, Kim Jongin! Iya! Orang itu kau yang sudah memberi harapan palsu padaku padahal aku sudah sangat berharap kau juga menyukaiku. Betapa sialannya dirimu, Kim!” tapi Hami memutuskan untuk diam ketimbang ia jatuh dalam rasa malu karena keceplosan menjawab.

 

“Kita sudah sampai, ini rumahmu,’kan?”

 

Ya Tuhan, Hami tidak sadar jika mereka sudah berada di depan rumahnya. Kenapa waktu cepat sekali berjalan?

 

“Setelah ini langsung mandi, makan malam, belajar sebentar lalu tidur. Mengerti?”

 

Hami mengangguk, tak tahu harus bersuara apa. Dia juga mencoba menahan diri untuk tidak berteriak kegirangan karena takut ini hanya delusi yang akan segera hilang.

 

“Boneka Cony itu sepertinya nyaman sekali untuk dipeluk.”

 

“Huh?”

 

Matanya membulat selebar telur mata sapi buatan Ibu. Demi EXO yang tampan, sekarang Jongin sedang memeluknya dengan Cony yang ada di tengah-tengah mereka. Hangat napas Jongin menerpa ceruk lehernya, terasa begitu hangat. Hami lemas bukan main.rasanya seperti dibawa terbang oleh peri-peri kecil dari legenda Yunani.

 

“Besok aku jemput. Sekarang masuklah. Selamat malam dan mimpi indah, cinta..”

 

Katakan padanya kalau ini bukan mimpi. Katakan padanya kalau lembut bibir Jongin di pipinya benar-benar bukan ilusi. Lalu apa tadi Jongin menyebutnya dengan ‘cinta’?

 

Hami benar-benar melayang, lepas dari gravitasi dan terbang menuju nirwana. Kim Jongin membuatnya lupa daratan. Menjerit seperti hendak diperkosa preman dan membuat Ibu yang sedang berkutat di dapur langsung berlari menuju sumber teriakan.

 

“Ada apa, Hami?”

 

“Ibu, aku terserang Aritmia dan diabetes.”

 

“Huh?”

 

Ibu tentu saja terkejut, tapi Hami justru tersenyum dengan begitu ceria sambil sedikit berjingkrak saat hendak masuk kamarnya.

 

FIN

 

Ham, marriagenya kapan kapan yang entah kapan aja ya.. daku belum bisa membayangkan si abang jadi suami karena udah mabok sama mas sehun.. sori endingnya begitu sama promptnya juga yang tiba-tiba gak nyambung sama cerita.. aku udah terlanjur mabok sama si akang.. sama absnya suho.. sama tahunya sehun.. aaakkkk

21 tanggapan untuk “Timeline – Honeybutter26”

  1. Ahhh gue diabetes bacanya. anggap aja si Hami itu aku. Kan jadi lebih gimana gitu :3
    Daebbak chingu. FIGHTING CHINGU BUAT FF NYA >_<

  2. Kaka ffnya keren. Haminya lucu banget sifatnya, tadinya kesel eh mlah gk kesel lagi. Pokoknya ff kakak keren dah, nanti buat yang castnya D.O dong yang marriage life sama school life ne. Oke, cukup. Annyeong 🙂

    1. hahaha kesel sama jongen apa sama hami?? awas lho orangnya dateng nanti.. :v

      insyaallah ya.. kalo sempet emang lagi rencana mau banyakin cast yang lainnya juga.. :3

      makasih udah baca dan komen

  3. Kode oh kode 😀 😀 😀

    Si hami bahasanya puitis banget 😀

    Si kai disini sifat nya cem playboy masyaallah, matanya suka kemasukan debu kali yakkk??? kedip kedip mulu 😀 😀 😀 cem lampu disko /plak

    Laen kali bikin epep fluff cast Chanyeol donkkk kak /puppy eyes

    Ok. Love this FF
    Keep writing kak farah~~~ :-*

    1. tak kode kode tak kode kode tak kode kode *jreng* /nyanyian ala warkop/

      biasalah yaa.. anak TL kekinian /kemudian digampar hamham/

      dia belekan kali can.. makanya suka kedip kedip biar si ham gak liat beleknya dia.. ntar yaa.. kapan kapan entah kapannya kapan.. /dijorokin ke jurang/

      makasih can udah baca… ihhh sini tak cium dulu sini…

  4. Si jongin suka sama hami tp perlakuannya kaya gitu ke hani.. Pantes sehun sama hami marah-_- tp jangan gantungin hami dong jong…

    1. hahaha bawaan dari awal nulis udah buat mereka punya hubungan temen rasa pacar sih ya.. jadi selalu kebawa dimanapun ff yang dibuat.. haminya gak digantungin kok.. kasihan anak orang digantung macam jemuran.. endingnya sengaja begitu biar kalian bayangin sendiri lanjutannya.. :v /dilempar kerawa/

  5. Aaaaaakkkkhhhhh!!!!
    Kim Jongiiinn.. Lope lope lopee ❤ ❤ ❤
    Kak parah kuil makasih ya.. Makasih banyak… Endingnya. Oh perlu sekuel.. Aaaahhhh…

    Aku suka kalimat ini.
    "Ia tidak suka tubuhnya lengket karena keringat, tapi kalau Jongin yang membuatnya berkeringat basah tentu saja tidak apa."

    Wah aku banget itu. Apalagi kalo berkeringat di ranjang. Aw aw aw /plak buahahahaha

    Eh sehun punya tahu ya? Buahahahaha aku tak tertarik sebenarnya. Tapi pengen tahuuu…

    Makasih lagi ya kak parah kuil udah buatin hamjong. ditinggu marriage life nya.
    Ditunggu karya yang lain. Yosh semangat kak parah kuil. Semangat! Yosh! 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s