I Love You, Morning, Noon, and Night [#2] – Honeybutter26

llll

 

I Love You, Morning, Noon, and Night [#2]

Presented by  Honeybutter26

EXO Member x OC

Random Fic

[from Mencintaimu, Pagi, Siang, Malam by Andrei Aksana]

Sanggupkah aku mencintai pagi, siang, dan malam?

♦♦♦

Kyungsoo x OC

Sad, Romance

 

“Kamu seperti siang hari. Tak mau mengawali seperti pagi, tak berani mengakhiri seperti malam. ”

 

Cinta?Apa itu cinta? Sebuah rasa yang hadir dan menyatukan dua hati untuk saling memiliki. Memiliki?Apa hakikat memiliki yang sungguh? Apa seperti sebuah label atau hak paten atas sesuatu? Atau mungkin hanya suatu yang semu seperti aku ada untuknya namun dia yang tak bisa ada untukku?

 

Kami mencintai. Namun hanya berhenti disana. Dia terlalu jauh untu kuraih atau mungkin dia yang tidak berniat untuk meraih kesungguhan dari perasaan ini. Dia tak membiarkanku pergi namun tak pernah memberi sebuah kata pasti. Dia membawaku melangkah bersamanya tapi tak pernah dengan sungguh menggenggam tanganku.

 

Kyungsoo…

 

Namanya Kyungsoo, si pemilik hati. Tidak tahu bagaimana perasaan ini bermula, kami dekat di awal dan perasaan ini tumbuh seperti ilalang. Tak pernah diduga, terus tumbuh dan tak pernah mau mati.

 

Ini bahkan lebih menyedihkan dari cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kyungsoo yang menahanku membuat semuanya jadi sulit. Pria itu tak membiarkanku pergi namun tak jua memperjelas sesuatu diantara kami.

 

Kyungsoo, haruskah aku marah padamu? Bisakah aku melakukannya? Kau..bisakah kau enyah dari pikiranku barang sejenak saja? Atau setidaknya perjelas ini semua agar rasa sakit ini jelas atau mungkin bisa kau hilangkan dengan sebuah keputusan yang menyenangkan.

 

Kyungsoo, jangan jadi siang untukku. Karena aku ingin kau jadi pagi yang berani memulai, atau jadi malam yang berani untuk mengakhiri. Karena sebuah kapal tak mungkin terombang-ambing di lautan selamanya. Jadikan perasaan ini karam di tengah lautan atau segera bawa dia ke pantai yang indah.

 

***

 

LuhanxBarbie [OC]

Fluff, Family

 

“Siang ketika aku bertemu hiruk pikuk keindahan, dan aku tak sabar ingin segera kembali padamu.”

 

Luhan berkali-kali melirik jam yang ada di dinding, yang ada di pergelangan tangannya, yang ada di layar ponsel pintarnya, yang ada di manapun namun semuanya masih menunjukkan angka yang sama. Dalam hati Luhan terus mengerang, “Kapan rapat ini selesai? Kapan Kim Joonmyeon yang ada di depan sana berhenti mengoceh dan Zhang Yixing yang ada di sebelahnya berhenti membolak-balikkan letak pensil dan bolpoin yang ia punya? Kapan jam makan siang datang?

 

Bukannya Luhan merasa lapar. Perutnya baik-baik saja, cacing di dalam perutnya belum ada yang melakukan orasi meminta tambahan gizi. Luhan hanya sedang… rindu.

 

Rindu pada seseorang yang ia tinggalkan tadi pagi untuk melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga. Luhan rindu kepada seorang yang begitu berarti dalam hidupnya, Luhan rindu pada Barbienya. Malaikat yang mambawa pelangi dalam hidup Luhan, yang menerbangkan Luhan ke atas nirwana.

 

“Barbie!”

 

“Ayah!”

 

Gadis kecil berumurlima tahun itu berlari dengan kaki kecilnya, rok yang ia pakai bergelombang dan rambutnya yang terkuncir kuda bergerak ke kanan dan ke kiri. Luhan merendahkan tubuh sembari merentangkan tangan lebar-lebar. Menyambut dengan pelukan.

 

“Ayah rindu Barbie.”

 

Barbie tertawa-tawa saat Ayahnya mengecupi seluruh wajahnya. Gadis itu bergerak-gerak dalam gendongan sang Ayah hingga membuat Luhan agak kesusahan dan berhenti mengecupi wajah putrinya.

 

“Ayah, ayo bermain!”

 

“Ouh, Dad’s so sorry, honey. Ayah harus kembali ke kantor lagi setelah ini.”

 

“Tidak usah kembali ke kantor saja, Ayah!” Barbie merengek dengan wajah yang memelas hendak menangis berharap Ayahnya akan luluh. Luhan menghela napas, ini pilihan yang sulit. Ia tak tega meninggalkan Barbie tapi tak mungkin juga meninggalkan pekerjaannya.

 

“Tidak bisa, sayang. Nanti Paman Joonmyeon marah lagi pada Ayah.”

 

Babrie cemberut, hidungnya mulai memerah dan Luhan memeluk anaknya itu dengan hangat. Satu isakan kecil keluar dari bibir kecil itu dan Luhan merasa sakit.

 

“Barbie rindu Ibu. Biasanya Ibu akan menemani Barbie saat Ayah sedang bekerja. Sekarang Ibu tidak bisa menemani Barbie bermain lagi. Ayah juga. Lalu Barbie harus bermain bersama siapa?”

 

Tangisan Barbie makin keras dan jantung Luhan seperti tertikam. Ia lepas pelukannya kemudian mengecup kening Barbie. Menghapus air mata di pipi bulat gadis kecilnya, berharap luka di dalam hati Barbie dapat segera disembuhkan.

 

“Jangan menangis lagi. Apa yang kita bicarakan tentang Ibu, hm?”

 

“Ibu ada disini bersama Barbie dan Ayah. Barbie tidak boleh menangis karena Ibu akan sedih. Barbie tidak mau Ibu sedih.”

 

Tangannya ada di depan dada, Luhan berusaha tersenyum meski sebenarnya ia juga ingin menangis. Kini hanya tinggal Barbie yang menjadi satu-satunya cahaya hidup bagi Luhan ketika istrinya, Marry, telah pergi menjemput Tuhan lebih dahulu.

 

“Kalau begitu ayo kita bermain!” Ajak Luhan tak ingin larut terlalu lama dalam memori luka itu.

 

“Sekarang?”Barbie terlihat antusias. Karena ini berarti dia telah berhasil mengalahkan tumpukan berkas di kantor Ayahnya dan Paman Joonmyeon.

 

“Tapi bukannya Ayah harus bekerja?” Anak ini pintar sekali akalnya. Wajahnya berpura-pura prihatin namun Luhan tahu dalam hati anak itu tengah bersorak penuh kemenangan.

 

“Bolos kerja apa salahnya?”

 

Dan keduanya tersenyum setan. ‘Maaf Joonmyeon, maaf juga Yixing karena lagi-lagi malam ini kau harus repot mengirim semua berkas ke emailku.’

 

“Ayah, ayo kita buat pancake.”

 

“Oh, dear jangan pancake lagi.”

 

“Barbie juga inginnya begitu, Yah. Tapi masakan Ayah yang lain rasanya seperti kecoa bakar.”

 

Dari semua keindahan dunia yang tersaji, Luhan hanya inginkan satu. Senyum yang terus terpancar dari wajah Barbie, putri kecilnya. Tak peduli bagaimana indahnya hiruk pikuk yang disajikan oleh siang, Luhan hanya selalu ingin kembali pulang ke rumah dan bertemu dengan malaikatnya.

 

***

 

JonginxTaemin

Friendship

 

“Siang meregangkan aku dan kamu. Memanggang amarah menjadi angkara, mungkin kita perlu berteduh.”

 

“Jongin! Lari, Jongin! Lari! Ayo cepat!”

 

Taemin berteriak lantang pada Jongin yang terengah di belakangnya. Mereka sedang dikejar oleh segerombolan orang setelah aksi Jongin ketahuan tadi. Taemin memutuskan untuk menarik Jongin yang kini sudah hampir menyerah dan terlihat hampir pingsan.

 

“Jangan mati disini dulu, bodoh! Setidaknya kita gunakan dulu uang itu untuk makan agar kau bisa mati dengan perut yang kenyang.”

 

Mereka terus berlari dan Taemin benar-benar khawatir ketika Jongin mulai kehilangan kesadarannya. Pria itu mulai terbatuk-batuk, mungkin tenggorokannya kering karena Taemin juga merasakannya. Terang saja, mereka sudah berlari sejauh hampir satu kilo dengan kecepatan paling tinggi karena dikejar dan diteriaki pencuri.

 

Napas keduanya terengah dan menimbulkan suara yang keras saat keduanya sedang bersembunyi disebuah gang sempit yang gelap juga lembab. Ada bau kotoran kelelawar yang begitu menyengat disini, namun mereka tidak peduli. Seakan hal itu sudah sangat biasa untuk penciuman mereka. Taemin merasakan genggaman di tangannya melemas dan terdengar bunyi jatuh saat tubuh Jongin luruh ke tanah yang dingin dan basah.

 

“Sakit, Taemin. Sakit sekali, Taemin. Sakit.”

 

Jongin mengerang, memukuli kepalanya dan terbatuk-batuk. Taemin panik melihat kawan sejawatnya dalam keadaan seperti ini.

 

“Bertahanlah, Jongin. Lihat! Uang si tua bangka itu ternyata banyak juga. Kita bisa membeli banyak makanan enak dari uang ini.”

 

Taemin masuk ke ruang bawah tanah di mana ia dan Jongin tinggal dengan wajah yang secerah matahari siang ini. Ditangannya ada banyak sekali makanan enak dan ia pastikan kalau pun mereka mati, mereka akan mati bahagia karena kekenyangan.

 

Namun begitu ia melihat Jongin yang terduduk lemas di sofa usang mereka, jantungnya mencelos. Ia lempar kasar plastik-plastik di tangannya dan berlari dengan terburu-buru menghampiri Jongin.

 

“Brengsek! Brengsek, kau Jongin! Kenapa kau habiskan uang tadi hanya untuk barang sialan itu, hah?” Taemin berteriak penuh amarah. Menggoyangkan kerah baju Jongin dengan kasar. Namun Jongin hanya diam tak berdaya. Efek dari barang haram yang ia konsumsi menjadikan Jongin lemas dan terbang.

 

“Bajingan tengik! Kau tahu tidak jika uang itu bisa membuat kita makan enak selama satu minggu tanpa perlu mencopet lagi?”

 

Taemin murka, benar-benar murka pada Jongin. Ia pikir Jongin akan menepati janjinya kali ini. Tapi tidak, karena barang haram itu sudah membawa Jongin pada candu kesesatan yang penuh dosa.

 

Suara pintu yang dibanting kasar oleh Taemin membuat Jongin sedikit tersadar dari perasaan terbangnya. Ia juga menyesal jauh dalam lubuk hatinya, namun mau bagaimana lagi? Jongin tidak bisa berhenti dari candu dosa ini.

 

Taemin tidak pulang dan Jongin benar-benar khawatir. Jongin berteriak penuh amarah, menendang meja kecil yang biasanya mereka gunakan untuk makan atau mabuk berdua. Pikirannya kacau, tubuhnya kacau, dan Jongin butuh barang itu itu untuk menenangkannya. Tapi sekarang ia sedang tak punya uang. Jika ada Taemin mungkin ia bisa meminjam uang atau mungkin mereka bisa beraksi bersama.

 

Jadi Jongin memutuskan untuk beraksi sendiri saja. Ia sudah tidak bisa lagi menahan perasaan butuhnya. Namun naas, saat dompet milik wanita yang jadi korban Jongin hampir didapat, seorang pria memergokinya. Dan berakhirlah Jongin berlari terbirit-birit sambil diteriaki pencuri.

 

Pada saat itu, Jongin berpikir tentang Taemin. Andai ada Taemin disini. Andai ada Taemin yang menarik tangannya saat napasnya mulai berhembus satu-satu. Andai di matanya yang sekarang kabur benar-benar ada Taemin yang menarik tangannya untuk berlari lebih cepat dan lebih jauh lagi.

 

“Taemin! Kau kah itu? Taemin, maafkan aku. Maafkan aku, aku memang tidak bisa berjanji padamu, Taemin. Tapi, kumohon berjanjilah untuk tidak meninggalkanku karena aku pun begitu. Kumohon!”

 

Mereka berhenti di gang sempit yang sama dengan tempo hari. Taemin memandang Jongin lekat namun Jongin hanya tertunduk dengan napas yang putus-putus disertai batuk.

 

“Hei, bodoh! Kau mau aku tetap menjadi temanmu, bukan?”Jongin mengangguk lemas, masih mengatur napas.

 

“Kalau begitu pergilah ke panti rehab, dan sembuhkan dirimu.”

 

“Taemin,” Jongin tak percaya Taemin akan berkata seperti itu padanya. Ini bukan Taemin yang ia kenal. Ini tidak seperti Taemin, temannya yang selalu mengerti entah bagaimanapun sifat dan keadaannya sekarang.

 

“Jika dengan tidak jadi temanmu membuatmu lepas dari benda sialan itu, maka aku akan melakukannya. Setidaknya aku ingin kita melangkah menjadi lebih baik lagi, Jongin. Bukan seperti ini, hidup tanpa sesuatu yang berarti. Sembuhkan dirimu, jika kau masih menganggapku sebagai teman, datanglah kemari.”

 

Taemin memberinya sebuah kartu nama sebuah perusahaan entertainment. Hati Jongin sakit saat tahu maksud dari Taemin. Ia ingat mereka berdua kabur dari rumah, menentang perkataan Ayah dan membiarkan Ibu menangis meraung untuk meraih mimpi menjadi seorang penari. Namun apadaya, meraih mimpi tak semudah membalik telapak tangan. Dan mereka tak punya muka untuk pulang ke rumah. Dan lihatlah sekarang apa yang telah Jongin lakukan? Menjadi seorang pecandu tak ada dalam list mimpi mereka. Ia telah menodai kemurnian mimpi yang sejak kecil selalu menjadi kebanggaan bagi mereka berdua.

 

Siang ini mereka kembali bertengkar, dan Jongin tahu kali ini Taemin tak mungkin memaafkannya. Kecuali jika dia bisa berubah. Siang ini hubungan mereka terputus oleh amarah dan angkara. Jongin menyalahkan dirinya, menyalahkan kebodohannya dan segala sisi buruk yang ada pada dirinya kini. Taemin teman terbaik yang pernah ia miliki telah pergi meninggalkannya sendiri dalam dunia yang begitu gelap dan sepi.

 

FIN

7 tanggapan untuk “I Love You, Morning, Noon, and Night [#2] – Honeybutter26”

  1. uh.. aku terharu ama sikap bijak taemin disini 😥
    luhan nyesek kali.. ditinggal istri. tadi hampir aja mau nangis akunya. tapi aku tahan :’v kasian anaknya luhan ㅠ_ㅠ

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s