A Warm Hug — by ShanShoo

images

Casts EXO’s Baekhyun, OC’s Reyna | Genre Family, Fluff, slight!Sad | Length Vignette +2000 words | Rating Teen

Disclaimer : I own the plot!

Note : cerita ini tidak sepenuhnya memakai EYD 🙂

.

Mungkin hanya pelukan hangat dari Baekhyun yang mampu menenangkan hati Reyna.

.

Hujan kembali turun di sore ini. Rintikannya yang membentur atap serta jendela kamarnya, seolah memberikan kenyamanan lebih untuk Baekhyun yang saat ini sedang sibuk membaca sebuah novel terbaru yang ia beli beberapa waktu lalu. Wajah tampannya terlihat begitu damai, namun sesekali ada kerutan samar di keningnya tatkala Baekhyun membaca satu adegan yang entah bagaimana ceritanya dalam buku itu, kemudian beralih membentuk mimik sedih yang sebenarnya tak terlalu kentara.

Konsentrasi Baekhyun sedikit terpecahkan kala ia mendengar pintu kamarnya dibuka perlahan oleh seseorang. Baekhyun lantas menoleh ke sumber suara. Di sana ada Reyna, adik perempuannya tengah memamerkan satu lekuk senyum menawan. Hingga Baekhyun sendiri tak tahan untuk membalas senyuman sang adik.

“Kak,” alih-alih mengutarakan tujuannya datang ke kamar Baekhyun, Reyna justru memilih untuk memanggil namanya saja dengan nada pelan. Ia hanya takut mengganggu kegiatan kakaknya membaca novel.

“Sini, duduk di samping Kakak.” Baekhyun menepuk kecil sisi tempat tidurnya yang kosong. Menyuruh Reyna sambil tersenyum menenangkan, seolah mengerti kegusaran gadis itu.

Reyna lekas berjalan memasuki kamar Baekhyun, lalu memposisikan diri untuk duduk senyaman mungkin di samping kakaknya.

“Oh, ya, bagaimana hari pertama di sekolah baru kamu, apa menyenangkan?” Pertanyaan ringan itu terlontar dari bibir Baekhyun. Sementara matanya kembali tertuju pada deretan kalimat novel, juga masih memasang senyuman manis.

Reyna mengangguk antusias. Dan tanpa merasa canggung sekalipun, Reyna menyandarkan kepalanya di bahu Baekhyun. “Sangat menyenangkan, Kak. Apalagi teman-temanku semuanya baik.” Ujarnya, mendeskripsikan bagaimana perasaannya melalui nada bicara yang begitu ceria.

“Memangnya lebih baik mana, Kakak sama teman-teman kamu?” Kekehan kecil keluar saat Baekhyun selesai bertanya.

“Tentu saja, lebih baik Kakak.” Reyna memasang senyum lebar hingga ia mendapat satu usapan cepat di kepalanya dari Baekhyun.

Rasa gusar kembali hinggap. Reyna menggigiti bibir bawahnya ketika Baekhyun kembali masuk dalam cerita. Berkali-kali Reyna melirik kakaknya itu secara hati-hati. Dan ia sedikit terlonjak begitu ia mendengar Baekhyun berujar,

“Ada yang mau kamu bicarakan?”

Tergagap Reyna mengutarakan tujuannya. Namun ia tak boleh terus menekan ucapannya dalam bibir, ia harus mengutarakannya sekarang!

“Kak, malam ini… aku boleh pergi bersama Sehun?”

Pertanyaan itu membuat Baekhyun segera memutar pandang ke arah Reyna. Menyelidik penuh ke dalam mata Reyna yang masih memunculkan sinar gusar. Adalah satu embusan napas panjang dari bibir sebelum Baekhyun memberi tanggapannya.

“Pergi ke mana, memangnya?” Reyna tergegun mendengar nada bicara kakaknya. Begitu datar dan seolah tak peduli.

Uh, pergi… pergi makan malam.” Sahut Reyna, pelan. Melirik kembali kakaknya sedikit takut.

“Memangnya kamu tidak bisa makan malam di rumah? Atau… ajak… siapa tadi namanya? Buat makan malam di sini?” Tidak ada nada bicara ramah dan menenangkan lagi dalam suara Baekhyun. Semuanya tenggelam oleh perasaan emosinya. Membuat Reyna secara tak sadar menahan napasnya sejenak.

“Tapi, Kak—”

“Kakak tidak mengijinkan kamu pergi sama Sehun!”

Atmosfer penuh ketenangan itu benar-benar hilang. Hanya ada emosi yang meletup disertai tatapan tajam dari mata keduanya.

Untuk hari ini, kedua orangtua mereka sedang pergi ke rumah bibi Byun, mengunjungi suaminya yang sedang sakit. Baekhyun dan Reyna bisa saja ikut. Hanya saja urusan pendidikan menjadi prioritas utama mereka. Sehingga keduanya lebih memilih untuk diam di rumah selepas pulang dari gedung sekolah atau kampus.

Karena tidak ada kedua orangtuanya lah, Baekhyun yang kini bertugas untuk menjaga rumah, sekaligus menjaga Reyna. Bahkan untuk melarang Reyna melakukan hal yang menurutnya salah pun Baekhyun berhak menegur. Seperti saat ini.

“Kak, Reyna cuma mau makan malam saja dengan Sehun!”

Ini baru kali pertama Baekhyun mendengar Reyna membentak dan membelalakkan matanya dengan lebar hanya untuk membela seorang laki-laki yang belum dikenal Baekhyun. Degupan jantungnya meningkat tatkala ia melihat satu cairan bening mengalir dari pipi kiri Reyna. Namun kendati merasa bersalah, Baekhyun justru merasa bahwa Reyna lah yang membuat kesalahan.

“Jangan menentang keputusan Kakak, Rey!” Suara Baekhyun meninggi, sedangkan matanya menatap Reyna semakin dalam. “Kakak bilang tidak, ya tidak. Lagipula, Kakak tak yakin jika Sehun itu hanya mengajakmu makan malam—”

“Reyna tak peduli!” Suara Reyna tak kalah tingginya. Ia pun balas menatap Baekhyun begitu tajam.

“Pokoknya malam ini Reyna mau pergi!”

Baekhyun tak sempat membalas, karena Reyna bangkit dari tempat tidurnya dengan gerakan kasar. Lalu melangkah keluar dan membanting pintu kamar Baekhyun begitu saja.

Semuanya kembali hening. Tidak, lebih tepatnya, Baekhyun seolah menutup telinga, tak ingin mendengar suara rintik hujan yang mulanya menenangkan, berubah menjadi suara penuh ejekan.

Apakah Baekhyun telah salah dalam mengambil keputusan?

Di malam tanpa hujan ini…

Baekhyun ingat, ketika Reyna baru menginjak usia lima tahun—sedangkan Baekhyun berumur 7 tahun, Reyna selalu berlari menghampirinya, lalu memeluknya erat seolah melepas rindu yang terpendam bertahun-tahun lamanya, padahal Baekhyun barusaja pulang sekolah.

Baekhyun ingat, ketika Reyna dengan keteledorannya meletakkan sebuah buku diary kecil berisi perasaannya terhadap Park Chanyeol. Dan ketika Baekhyun telah mengetahui rahasia kecil dalam buku itu, Reyna lekas memarahinya sambil menangis tak terima.

Baekhyun ingat, saat Reyna dengan santainya menceritakan hal-hal menarik begitu Reyna menginjakkan kedua kaki mungilnya di taman kanak-kanak. Baekhyun tak bisa melupakan bagaimana ekspresi menggemaskan milik adiknya itu. Penuh dengan keceriaan khas anak kecil pada umumnya.

Namun jika diingatkan kembali pada kenyataan saat ini, Baekhyun tak bisa mendeskripsikannya secara singkat.

Reyna-nya telah berubah. Reyna berubah menjadi sosok gadis cantik berambut sebahu ketika usianya menginjak enam belas tahun. Berbeda dengan Baekhyun, Reyna memiliki bola mata bulat, hidung yang mancung, serta senyuman menggemaskan di bibir plumnya.

Terkadang Baekhyun selalu bertanya-tanya dalam hati kecilnya; sejak kapan Reyna memiliki tinggi hampir sama dengan tinggi tubuhnya? Sejak kapan Reyna memiliki suara begitu lembut? Ke mana suara melengkingnya ketika Reyna berbicara?

Dan untuk pertanyaan terakhir, mungkin akan menjadi sebuah pertanyaan yang tak akan memiliki jawaban pasti;

Mengapa Reyna mulai menjaga jarak darinya?

Ya, karena Reyna yang sekarang tak lagi duduk manis di sampingnya sembari merangkul hangat lengannya. Reyna yang sekarang tak lagi menceritakan kisah yang ia alami di sekolah. Reyna yang sekarang tak lagi mau membuka diri, menceritakan segala keluh kesahnya seperti biasa.

Reyna yang sekarang berubah, dan tentu saja bukan tanpa alasan. Dan Baekhyun yakin, inilah alasan paling tepat mengapa Reyna benar-benar berubah;

Ini semua karena Sehun.

Seluruh pemikiran Baekhyun seketika sirna saat mendengar pintu kamar Reyna dibuka secara kasar oleh pemiliknya. Baekhyun mendongak demi menatap tubuh kurus Reyna yang turun memijaki satu persatu anak tangga. Malam ini ia menggunakan dress berwarna biru gelap dengan panjang di atas lutut. Stiletto hitamnya terlihat begitu serasi dengan pakaian yang dikenakan. Rambut hitam kecoklatannya sebahu pun dibiarkan tergerai, tak ada asesoris menghiasi.

Cantik.

Satu kata itu terpeta dalam benak Baekhyun.

Ya, Reyna cantik. Sangat cantik.

“Kak…” Reyna bersua, menggigit bibir bawahnya sembari mengeratkan pegangannya pada tas tangannya.

“Aku… aku pergi hanya sebentar saja. Kakak tak usah cemas, ya?”

Nada memohon itu membekukan persendian Baekhyun. Reyna menatapnya dengan mata sendu. Mengisyaratkan bahwa apa yang dikatakannya barusan bisa Baekhyun percaya. Demi apapun, Baekhyun tak mampu menjawab apapun selain,

“Baiklah, jaga dirimu baik-baik, Rey.”

Binar penuh kelegaan itu mulai terlihat. Baekhyun tersenyum lembut, pun Reyna yang balas tersenyum hangat.

“Terima kasih, Kak…”

Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam.

Dan hujan kembali turun dengan derasnya.

Sungguh, demi apapun, Baekhyun merutuki dirinya yang dengan mudahnya memberikan ijin pada Reyna untuk pergi. Jika saja Baekhyun bisa memprediksi hujan akan turun lagi di malam hari, sudah pasti ia tak akan membiarkan Reyna pergi. Apapun alasannya!

Yang bisa dilakukan Baekhyun saat ini hanyalah duduk resah di kursi ruang tamu. Menunggu kepulangan Reyna di tengah hujan mendera. Pandangannya tak lepas dari pintu rumah dan juga jam dinding. Di samping rasa resah dan cemas, ada rasa emosi juga dalam dadanya. Baekhyun emosi karena ia tak bisa menjaga Reyna seperti yang ia janjikan pada kedua orangtuanya sebelum mereka pergi.

Tak berselang lama, Baekhyun mendengar deru mesin mobil di depan pekarangan rumahnya.

Itu pasti Reyna!

“Sialan!” Mengumpat kesal, Baekhyun beranjak dari duduknya menuju pintu rumah untuk ia buka. “Mengapa lelaki itu baru mengantar pulang Reyna? Awas saja, aku akan—”

“Reyna?”

“Kak Baekhyun…” Reyna terisak dan langsung berhambur memeluk tubuh Baekhyun begitu kakaknya itu membuka pintu secara kasar. Mata Baekhyun lekas mencari keberadaan Sehun seraya mengernyitkan keningnya dalam-dalam.

Eh, di mana Sehun? Lalu, mobilnya?

Baekhyun bertanya-tanya dalam hati, tetapi pertanyaan itu segera terlontar dari bibirnya.

“Di mana Sehun? Kamu pulang sama dia, kan? Mana dia sekarang?” Baekhyun mengguncang bahu Reyna, menatap wajah pucat pasi sang adik, juga dengan bibir bergetar hebat karena kedinginan. Tatanan cantik bak sebuah boneka pun kini tak lagi terlihat. Hanya ada sosok tubuh kurus yang basah kuyup karena hujan deras.

“Aku pulang naik taksi, Kak… Sehun…” Reyna masih terisak, namun Baekhyun terus mendesaknya untuk menjawab.

“Rey!”

“Sehun… ternyata dia itu playboy!”

Baekhyun terhenyak.

“Tadi… waktu aku makan malam sama dia, pacarnya datang. Terus pacarnya yang lain datang, sampai ada tiga orang yang datang, mereka… mereka memarahiku seenaknya, lalu saling memarahi, lalu… lalu mereka juga memarahi Sehun…” penjelasan Reyna tersendat-sendat, namun Baekhyun masih dapat mengartikannya dengan baik.

Baekhyun mengembuskan napas tak percaya. Selagi Reyna masih terisak, Baekhyun segera membawa adiknya itu masuk ke dalam rumah. Baekhyun khawatir Reyna jatuh sakit jika terlalu lama berada dalam kondisi menggigil seperti ini.

“Ini, minum cokelatnya selagi hangat.” Tangan dengan kelima jemari lentik itu menggenggam secangkir cokelat hangat yang segera beralih tangan pada Reyna. Gadis berkulit pucat itu lantas mendongak pada sang kakak, mengembuskan napas panjang.

“Terima kasih, Kak.” Seulas senyumnya terbentuk. Namun tak dapat menutupi perasaan gusar dalam dadanya.

Baekhyun memposisikan diri untuk duduk pada kursi belajar Reyna yang ia tarik ke tepian tempat tidur. Maniknya memerhatikan Reyna yang tengah meminum cokelatnya sedikit demi sedikit.

“Bagaimana, sudah merasa baikan?” Tanya Baekhyun saat Reyna berhenti meminum cokelatnya.

Uh, sedikit.” Sahut Reyna, pelan, dan tak membalas tatapan kakaknya.

Iya, Reyna akui, perasaannya sekarang sedikit membaik ketika ia selesai membersihkan diri, mengganti pakaian basahnya dengan piyama tidur, dan ketika ia meminum cokelat yang dibuat kakaknya.

“Terus, sekarang kamu bisa menceritakan awal kejadian saat makan malam tadi?” Suara Baekhyun mendominasi. Tetapi tak ada tuntutan atau paksaan dalam nada bicaranya.

Reyna mengangguk, menatap perlahan kakaknya sambil meletakkan cangkir cokelatnya di atas nakas.

“Kakak tidak marah padaku, kan?”

“Ceritakan dulu masalahnya, Rey.” Tegas Baekhyun, membuat Reyna mau tak mau menceritakannya.

“Aku tidak tahu pasti bagaimana awal kejadiannya. Tapi, satu persatu dari ketiga gadis yang mengaku sebagai kekasih Sehun itu mendatangi kami.” Reyna mendesah pelan, “Mereka sangat marah padaku dan Sehun. Sedangkan Sehun terlihat kebingungan untuk memberikan penjelasannya padaku. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari sana.”

“Memangnya, Sehun itu siapa?”

“Dia kakak kelasku di sekolah, Kak.”

Ada setitik bulir bening di matanya setelah ia bercerita. Perpaduan rasa sakit dan rasa lega lah yang membuatnya menangis. Entahlah, Reyna selalu merasa masalah apapun yang ia katakan pada Baekhyun, lambat laun keadaan hatinya berangsur membaik.

“Aku tahu, Kakak pasti akan marah padaku, lalu menceritakan semuanya pada ayah dan ibu.” Suaranya terdengar cukup parau, dan Reyna sama sekali tak mempedulikannya.

“Rey,” Baekhyun menyentuh kedua pundak Reyna, “lihat mata Kakak!” Ujarnya, membuat sang adik menatapnya perlahan dengan mata memburam, terhalang oleh bulir bening.

“Kamu tahu, Rey? Dari tadi Kakak khawatir sama kamu. Bahkan Kakak tak bisa berkonsentrasi mengerjakan tugas saat kamu tidak ada di rumah.”

Reyna terhenyak hingga ia merasa dadanya sesak mendengar penuturan Baekhyun.

“Tapi, Kakak selalu ingat sama pesan kamu, bahwa Kakak jangan mengkhawatirkan kamu malam ini. Karena kamu bisa jaga diri sendiri. Kakak selalu ingat itu. Meski pada akhirnya Kakak terus memikirkan kamu.”

Pertahanan Reyna benar-benar hancur. Ia tak sanggup menahan isak tangisnya sambil menunduk dalam, menyembunyikan seraut kesedihan yang terpatri di wajahnya.

“Kakak….”

“Rey,” tubuh kurus itu kini berada dalam dekapan sosok laki-laki yang paling ia sayangi. Baekhyun mengusap lembut surai Reyna yang basah karena keringat. Matanya terpejam rapat, sementara bibirnya terus menggumam, “jangan menangis.” Di tengah isak tangis Reyna yang tak kunjung mereda.

“Maafkan Reyna, Kak.” Susah payah Reyna mengatakan hal itu pada Baekhyun.

“Tidak apa-apa, Rey. Kakak mengerti.” Sahut Baekhyun dengan nada menenangkan.

“Seharusnya aku mendengarkan ucapan Kakak tadi sore… seharusnya… seharusnya aku tidak pergi—”

“Jangan dipikirkan, biarkan semuanya berlalu. Kamu mengerti, Rey?” Tanya Baekhyun setelah ia melepas pelukannya.

Reyna mengangguk mengerti. “Tapi… Kakak tidak akan bilang sama ayah dan ibu, kan?”

“Bilang?” Kekehan kecil kini terdengar. Kedua ibu jari Baekhyun mengusap lelehan air mata yang membasahi pipi Reyna. “Kamu pikir kita masih anak kecil yang selalu mengadukan masalah kita sama ayah dan ibu?”

Reyna tak dapat menahan malu saat mendengar balasan Baekhyun. Mengerjap pelan, Reyna lantas bertanya. “Jadi, Kakak tak akan bilang?”

Sebelah bahu yang dinaikkan secara acuh tak acuh menjadi jawabannya. “Tergantung. Kalau kamu masih nakal, Kakak akan memberitahukan masalah ini.”

“Jangan dong, Kak!” Reyna memberengut kesal.

Dan Baekhyun membalasnya dengan tawa jahil. “Iya. Tidak akan akan. Dasar cerewet!” Sahut Baekhyun, mencubit gemas hidung adiknya.

Ish, Kakak!”

Masih dengan satu senyum yang terukir manis di bibirnya, Baekhyun berkata, “Sudah malam. Besok kamu sekolah pagi, kan?”

“Iya.” Sahut Reyna ringkas.

“Kalau begitu, cepat habiskan cokelatnya, lalu tidur. Okay?” Baekhyun mulai beranjak dari tempatnya. Mengusak rambut adiknya sekilas sebelum keluar dari kamarnya. Namun, tangan kurus Reyna menghentikan pergerakan Baekhyun. Laki-laki itu menoleh ke belakang dan mereka bersitatap.

“Ada apa—”

“Temani aku di sini sampai tidur, ya?”

Tatapan memohon itu lagi. Baekhyun merasa luluh jika harus dihadapkan pada tatapan sendu milik Reyna. Maka, dengan senyum tulus, Baekhyun mengangguk mengiyakan.

“Iya, Kakak temani.”

Keduanya kini sama-sama terdiam. Baekhyun duduk bersandar pada sandaran tempat tidur, sementara Reyna duduk di sampingnya sambil bersandar pada bahu Baekhyun. Sunyinya malam ini seolah memberikan ketenangan untuk keduanya. Terlebih Reyna mulai merasa keadaan hatinya semakin membaik dari sebelumnya.

“Kak?”

Hm?”

“Tidak. Kakak tidak mengantuk?”

“Belum. Kakak bakal tidur kalau kamu tidur.”

Reyna mengembuskan napas. “Kalau Kakak ngantuk, kakak tidur saja. Lagipula aku juga sudah mulai mengantuk.” Sahut Reyna pada akhirnya.

“Ya sudah, kamu tidur saja, Rey.” Kata Baekhyun sambil menepuk pelan puncak kepala gadis itu.

Reyna mengangguk. “Oh, ya, Kak…”

Hm?”

“Reyna boleh minta dipeluk lagi?”

Alis Baekhyun terangkat heran.

“Hanya sekali. Biar Reyna bisa tidur nyenyak.”

Mimik wajah Baekhyun berubah menghangat, sehangat mentari pagi. Ia lekas meraih tubuh kurus Reyna dan membenamkan wajah tirus gadis itu di dada bidangnya.

“Seperti ini?”

Untuk yang ke sekian kalinya, Reyna mengangguk.

“Iya, Kak. Seperti ini.” Balas Reyna seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Baekhyun.

Dan bulir bening itu kembali hadir di antara sela-sela kedua kelopak matanya yang menutup sempurna.

Mungkin, hanya pelukan hangat dari Baekhyun yang mampu menenangkan hati Reyna.

.

.

.

.

.

.

.

Terima kasih untuk segalanya, Kak…

Aku menyayangimu…

.

.

.

Fin.

Hello, Isan’s here. It’s my first time to write the story about Byun siblings with oneshoot duration. Hope you like it, babe ^^

I’m so sorry for many typos there 😀

Mind to review? And visit my personal blog? ⇨ ShanShoo

19 tanggapan untuk “A Warm Hug — by ShanShoo”

  1. Isan tanggung jawab. Masa aku pengen punya abang si Byun coba. Ya ampun. Iya dia yang lebih cantik dari aku itu. Yang bisa make eyeliner kece itu.
    Abaaang. peluk aku juga.
    Isan ini kamu makan apa sih tulisannya bagus semua. Ajarin aku dong hehehe

    pyong

    1. Kyaaa iyaa iyaaa aku bakal tanggung jawab, Kaaaak ><
      Haha yaamvun, akumah makan nasi aja sama daging ayam sambal deelel 😂😂😂
      Ih kata siapa? Masih bagusan tulisan kakak malah 😣😣😅😅😣

  2. gak nyangka reyna sudah besar aja, aku jd iri sm reyna yg d peluk oppa baekhyun, aku jg pengen di peluk juga sm baekhyun*ngarep* sehun mah kebiasaan pacarnya banyak banget, inget setia sm eunhee awas nanti di cakar sm eunhee, eh maaf bedalagi ya ffnya, maaf jd kebawa suasana #menunduk.hehehe

    1. Kyaaaaaaa sehun emang gitu orangnya. Lirik cewe cantik dikit ajaa langsung kecantol/? 😂😂😂 gak inget sama Eunhee lagi 😂😂😂 hahahaduh dasaar, kirain kamu gak bakal inget kapel hunhee 😂

  3. Kak shanshoo aku ngiri banget. Parah kenapa oppa oppa aku nyebelin. Ngga ada tuh yg khawatirin. Ini benar benar fiksi kawan2 kalau kalian berharap punya siblings macam ini, itu adalah harapan semu! Lol. Serius kak, mereka sweet banget kakak adik begono. Diriku… >.< ah tidak tahu diriku tidak tahu

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s