Erase [Chapter 2] – Honeybutter26

erase

 

Erase [Chapter 2]

 

Author : Honeybutter26

Cast : Park Chan Yeol || Kris Wu || Kim Da Som (OC) || Purple Lee (OC)

Length : Twoshoot

Genre : Angst || Sad || Romance

Rate : PG 17+

Disclaimer : Dibuat karena kesengsem sama lagunya HyoLyn x JooYoung yang berjudul Erase beserta MV-nya.

Soundtrack : HyoLyn x JooYoung – Erase

Disclaimer : Fanfic ini murni hasil dari pemikiran otak kelam saya,kalau ada kesamaan dengan ff lain itu bukan suatu kesengajaan. Ini juga pernah diposting difp exo juga di wordpress pribadi saya http://honeybutter26.wordpress.com

Summary:

Sekeras apapun mereka mencoba, mereka tak akan bisa kembali bersama. Karena seperti itulah cinta diantara mereka.

 

“Semakin jauh kau ku raih, aku selalu memikirkanmu. Tanpa kau ketahui, mengapa? Aku terus merindukanmu?”

 

Erase

Da Som merasa Kris sedikit berubah. Entahlah, sejak ia pulang setelah pertemuannya dengan Chan Yeol hari itu Da Som merasa Kris sedikit berbeda. Pria itu kini terus tersenyum sepanjang waktu. Tidak biasanya apalagi ini musim dingin yang biasanya kekasihnya itu akan bersikap lebih dingin dari suhu udara yang ada.

 

Kris juga lebih sering menghabiskan waktunya di kamar sendirian. Sering mengutak-atik ponselnya hingga melupakan eksistensi Da Som disekitarnya.

 

Dan Da Som menjadi muak hingga wanita itu sampai pada batas akhir kesabarannya. Malam itu mereka bertengkar hebat. Da Som mengambil kesimpulan dini bahwa Kris mempunyai orang ketiga diantara hubungan mereka.

 

Dan ia pun memutuskan untuk pergi dari rumah mereka malam itu. Mengunjungi satu klub malam untuk melepas segala emosinya disana. Dan entah bagaimana Da Som mulai berpikir jika setan sedang senang bermain dengannya karena membuat dirinya bertemu Chan Yeol lagi dan lagi. Bahkan ditempat yang tak ada Kris disampingnya.

 

Itu sebabnya Da Som merutuki diri dalam-dalam. Pagi itu ia terbangun disebuah ranjang yang empuk dan nyaman. Sebuah lengan melingkari pinggangnya yang polos tanpa busana dengan hangat. Dan saat Da Som menengokan kepalanya, tiba-tiba pusing menyerangnya begitu hebat. Dia mengerang hingga membangunkan pria yang tertidur disampingnya.

 

“Kau sudah bangun?” Tanya Chan Yeol dengan suara serak sehabis bangun.

 

“Bagaimana kita bisa berakhir seperti ini?”

 

“Tidak tahu. Semua terjadi begitu saja,” Jawab Chan Yeol sekenanya. Chan Yeol mengeratkan pelukannya namun ditolak mentah-mentah oleh Da Som. Wanita itu bangkit dari tidurnya dan membuat kepalanya kembali berputar hebat.

 

“Aku harus pulang. Kris akan mencariku,” Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Kembali mengerang ketika  melihat pakaian mereka tercecer diseluruh kamar atas kekacauan yang mereka perbuat sepanjang malam.

 

“Tidak. Jangan pergi,” Chan Yeol meraih tangan Da Som yang berusaha untuk berdiri.

 

“Lepaskan aku, Park!” Da Som memberontak namun Chan Yeol menarik tubuhnya hingga terjatuh dibawah tindihan pria itu.

 

“Jangan pergi. Please, don’t go,” lirihnya dengan pandangan sendu yang begitu terlihat frustasi.

 

Get away from me!”

 

Chan Yeol membungkam pekikan Da Som dengan sebuah ciuman. Gadis itu kembali memberontak namun Chan Yeol terlalu kuat mendominasi dirinya. Pria itu terus mencumbu bibirnya dengan gerakan kasar yang terkesan brutal hingga oksigen dalam paru-parunya serasa habis diserap oleh Chan Yeol.

 

Chan Yeol melepaskan bibirnya dari bibir Da Som yang kini membengkak merah. Lagi-lagi matanya menatap sendu manik coklat dibawahnya.

 

Don’t go. Please stay here beside me. I beg you,” Nada lirih nan frustasi itu membuat perasaan Da Som terenyuh. Ia pun tidak tahu kenapa ia diam saja ketika Chan Yeol kembali menciumnya di bibir kemudian turun kerahangnya lalu leher. Dan membuat dosa itu terulang kembali diantara mereka.

 

***

 

Ini hari kedua Da Som tak pulang kerumah mereka. Kris merasa khawatir. Biar bagaimana juga ini terjadi karena kelalaiannya. Jika saja ia tak ikut emosi malam itu, mungkin Da Som tak pernah pergi selama ini. Tentu dia takut. Takut akan kehilangan wanita itu.

 

Mereka hanya saling memiliki. Dan jika salah satu pergi maka mereka akan hidup sendiri.

 

Kris terlalu larut pada euphoria tentang kekasih masa lalunya yang kini entah bagaimana kembali dekat dengannya. Seakan perpisahan tak pernah terjadi diantara mereka. Membuat ia melupakan kehadiran Da Som didekatnya.

 

Wajar saja jika wanita itu marah padanya. Karena sebelumnya ia tak pernah memperlihatkan rasa bahagianya sejelas ini. Dan sudah pasti itu membuat Da Som curiga dan menuduh bahwa Kris mempunyai orang ketiga dalam hubungan mereka.

 

Namun Kris juga tak bisa menutup diri akan betapa bahagianya ia saat itu. Purple menghubunginya terlebih dahulu. Saat Kris bertanya darimana wanita itu mendapatkan nomor ponselnya, Purple dengan tenang berkata bahwa ia tak pernah menghapus nomor Kris dari ponselnya.

 

Itu cukup melambungkan perasaan Kris hingga setinggi awan. Cinta masa lalu mereka ternyata masih bertahan dihati masing-masing hingga saat ini.

 

Lagi-lagi Kris terlalu larut dengan pemikirannya hingga tak sadar Da Som sudah memasuki rumah sedari tadi. Ia baru tersadar akan kehadiran Da Som saat wanita itu membanting pintu kamar mereka.

 

Kris segera bangkit dan berjalan menuju kamar mereka. Dilihatnya Da Som yang sedang melepas coatnya.

 

“Kau darimana saja?” ucapnya dingin. Da Som hanya menoleh sekilas dengan wajahnya yang sama dingin dengan nada bicara kekasihnya.

 

“KIM DA SOM!”

 

“Bukan urusanmu,” Jawabnya sembari mengeluarkan sweater putih dari dalam almari. Kris menghela napasnya dengan kasar. Kemudian membaik tubuh Da Som dengan menarik  tangannya.

 

“Lepas!”

 

GREB

 

Dan Kris membawa Da Som dalam pelukannya. Mereda usaha Da Som untuk kembali memberontak.

 

“Jangan pergi lagi. Kau membuatku takut,” ucapnya lirih.

 

“Hiks.”

 

I’m so sorry.”

 

“Aku membencimu. Hiks.”

 

***

 

Hari berlalu dengan begitu cepat. Semuanya mulai kembali normal kini. Kasih sayang Kris untuknya juga perhatian pria itu. Namun, rasa khawatir itu tetap mengganjal didalam lubuk hati Da Som. Entahlah, semenjak hari itu sulit baginya untuk benar-benar mempercayai Kris lagi sepenuh sebelumnya.

 

Acap kali dirinya memikirkan kembali perkataan Chan Yeol tempo hari.

 

“Kris tak pernah mencintaimu. Kau hanya pengganjal bagi hatinya yang kesepian. Kau tidak memiliki arti apapun untuk kekasihmu itu,  Da Som. Kembalilah. Kembalilah padaku dan aku akan memberikan semua yang kau mau.”

 

Tidak. Da Som tidak bisa kembali pada Chan Yeol. Kenyataan bahwa dirinya sudah mengetahui perihal perasaan Kris padanya harusnya tak membuatnya sesakit ini. Dia sudah tahu bahkan sebelum Chan Yeol memberi tahunya.

 

Drrt Drrt

 

Ponsel disampingnya bergetar. Da Som meraihnya dan membuka kunci layarnya. Nama Chan Yeol adalah yang pertama dilihatnya. Da Som membuka pesan teks dari Chan Yeol dengan hati yang enggan.

 

***

 

Dan tak seharusnya pula Da Som berakhir disini. Tak seharusnya ia mengikuti perkataan Chan Yeol jika hanya membuat hatinya bertambah sakit. Harusnya ia sudah tahu bahwa Chan Yeol yang brengsek akan selamanya seperti itu.

 

“Kau lihat bagaimana mereka? Kau tahu? Melihat mereka membuatku merasa bahwa kehadiran kita berdua hanyalah sebagai penghalang bagi mereka,” ujar Chan Yeol dengan pandangannya yang masih lurus kedepan. Da Som diam, bibir bawahnya ia gigit kuat-kuat agar tidak bergetar.

 

Matanya memanas hendak mengeluarkan air mata namun sekuat diri ia tahan. Ia tak mau menunjukkan kelemahannya pada Chan Yeol dan membuat pria itu tahu akan kegoyahan hatinya.

 

“Tidak,” Da Som mencoba agar tidak bergetar dengan menarik napasnya dalam-dalam. “Mereka tidak akan pernah bisa seperti itu. Karena seperti halnya aku dan kau. Mereka sudah bukan apa-apa lagi. Dan aku tak akan membiarkan ada kata kembali diantara mereka. Tidak akan.”

 

Chan Yeol hanya mampu tersenyum getir. Ia tak pernah melihat wanita itu seemosional ini sebelumnya. Bagaimana matanya yang selalu bercahaya itu tiba-tiba gelap oleh amarah. Bagaimana bibir yang selalu tersenyum cerah itu bergetar hingga rahangnya mengeras.

 

Apa tidak ada harapan?

 

“Kau tahu aku bisa memberimu segalanya. Tinggalkan Kris dan kembalilah padaku. Asal kau tahu, ini akan jadi percuma jika kita masih berusaha untuk bertahan.”

 

Dan yang Chan Yeol dapat hanyalah sebuah kekehan remeh dari wanita disampingnya. Da Som kemudian berbalik padanya dengan tatapan nyalang.

 

“Kau tahu? Sejak hubungan kita berakhir, aku tak pernah mengharapkan sedikit pun untuk kita dapat kembali. Aku hanya mainan mu dulu dan begitu pula sebaliknya.”

 

“Kau bukan mainanku!” Sanggahnya cepat. Da Som kembali tersenyum miring.

 

“Sayangnya aku menganggapmu seperti itu. Bahkan jika sekarang kita kembali, kita hanya akan bermain saja. Tidak lebih.”

 

“Tidak bisakah aku menjadi tujuan bagimu?”

 

“Tidak.”

 

Chan Yeol tahu ini adalah finalnya. Ia benar-benar tak punya sedikit pun harapan lagi untuk Da Som.

 

***

 

Hembusan angin dimusim dingin bukanlah hal yang baik karena suhu yang dingin jadi makin dingin. Sinar matahari yang redup siang itu juga tak membantu sama sekali. Hamparan sungai yang luas didepan dengan keheningan yang melanda menambah dingin suasana.

 

“Purple,” Panggil Kris dengan suaranya yang rendah.

 

“Ya, Kris.”

 

I’m sorry. Kita tidak bisa seperti ini. Kau tahu kita tidak bisa sama lagi seperti dulu.”

 

Gadis disampingnya menundukkan kepala. Sesak mendekap dadanya seketika. Ini adalah kelamahannya. Ia tak akan sanggup melihat orang terkasihnya menampakkan wajah terluka seperti itu.

 

I’m so sorry, Purple.”

 

“Uhm. It’s okay, I’m okay,” wanita itu mencoba untuk tersenyum disela luka yang kembali menyayat hatinya. “But, may I ask something to you?” Matanya yang sekelam malam itu memandang Kris dengan penuh harap.

 

Of course.”

 

Please be mine again today. Just a day. I beg you,” Mata itu semakin memncarkan pengharapan yang besar. Membuat ulu hati Kris kembali serasa diremas-remas.

 

“Purple.”

 

“Aku mohon, Kris. Hanya kali ini. Setelah itu aku berjanji kita akan menjalani kehidupan kita masing-masing. Seperti katamu, aku tak akan melihat kebelakang lagi. Sehingga kita tak akan bisa saling mencoba untuk menggenggam kembali.”

 

Kris dapat melihatnya. Ada seribu luka pula yang tersimpan didalam tatapan mata wanita di depannya. Kris memang masih memiliki hati untuk Purple. Dalam ekspektasinya ini tentu menjadi waktu yang bagus untuk kembali memulai hubungan mereka. Namun, ekspektasi tak akan sesuai dengan realita yang ada.

 

Karena realita itu justru memukul diri Kris dengan telak. Ia kalah oleh keadaan. Mereka tak akan bisa kembali, sekeras apapun mereka mencoba. Purple membutuhkan seseorang yang sudah dijodohkan dengannya agar perusahaan keluarganya tetap berdiri. Dan Kris bukanlah orang itu.

 

“Baiklah. Hanya hari ini. Mari kita menjadi sepasang kekasih untuk hari ini.”

 

Lalu Purple menyambut kalimat Kris dengan sebuah senyuman. Kemudian wanita itu menghambur dalam sebuah pelukan. Melepas segala rindu yang mengukungnya dalam kepedihan selama ini. Dan Kris juga tanpa ragu ikut melingkarkan tangannya merengkuh tubuh Purple yang masih sehangat dulu. Masih senyaman dengan wangi yang selalu memanja penciumannya dengan baik.

 

Namun tanpa disadari oleh keduanya, dua orang didalam mobil Audi hitam itu memperhatikan Kris dan Purple dengan perasaan yang sama terluka.

 

***

 

Chan Yeol memasuki apartemen mewahnya dengan langkah yang lemah. Ini hari yang sungguh sial dan menyebalkan baginya. Tubuh dan hatinya lelah secara besar-besaran. Tugas kantor yang tak ada habisnya ditambah dengan kisah percintaannya yang begitu rumit membuatnya serasa ingin meledak saja.

 

Mungkin ini saat bagi Chan Yeol untuk berhenti. Berhenti untuk berusaha membuat Purple melihatnya atau pun berusaha membuat Da Som kembali padanya.

 

Katakan Chan Yeol itu brengsek, namun mungkin memang seperti itulah keadaannya. Ia sudah cukup lelah mempertahankan hatinya untuk Purple. Dan ia hanya berharap agar Da Som mau kembali padanya. Akan tetapi semua tak berjalan sesuai keinginannya. Tak ada satu pun yang berhasil didapatkannya.

 

“Park, kau sudah pulang?” Astaga bahkan kini suara Purple mulai menjadi halusinasi baginya.

 

“Chan Yeol, kau baik?” Lagi, apa Chan Yeol sudah mulai gila karena cintanya bertepuk sebelah tangan pada dua orang gadis?

 

“Chan Yeol?” hingga akhirnya Chan Yeol membuka matanya dan mendapati Purple berada di depannya. Wanita itu nampak khawatir terlihat dari wajahnya. Dan Chan Yeol sadar bahwa ini nyata.

 

“Bagaimana kau bisa ada disini?” Purple semakin mengrenyitkan dahinya.

 

“Apa maksudmu? Sudahlah, mungkin kau terlalu lelah sehingga jadi aneh begini. Mandilah aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Setelah itu kita makan malam.”

 

Seperti biasa, tak ada kalimat manis ataupun ucapan selamat datang yang hangat. Wajah itu tak pernah sekalipun berubah lembut untuknya.

 

Tak berapa lama Chan Yeol datang ke meja makan dengan celana piyama bergaris biru muda dan kaos putih polos. Rambutnya masih berantakan dan sedikit basah. Rasa lapar pada perutnya tiba-tiba memberontak dengan liar begitu melihat masakan yang terhidang di atas meja makan.

 

Dentingan alat makan melatar belakangi suasana diantara dua sejoli itu. Chan Yeol memilih untuk diam meski sesekali ekor matanya melirik pada sosok kekasih. Purple juga, wanita itu sama sekali tidak berniat membuka percakapan basa-basi seperti biasanya.

 

Samar-samar Chan Yeol dapat melihat jejak aliran air mata diatas pipi kekasihnya. Purple pasti baru saja menangisi mantan kekasihnya. Memang terlalu dini untuk menyimpulkan, namun Chan Yeol juga tak bodoh hanya untuk membaca situasi yang ada.

 

“Purple,” panggil Chan Yeol namun tak direspon. Wanita itu masih setia menatapi makanan didepannya.

 

“Purple,” panggilnya sekali lagi. Dan Purple baru tersadar saat Chan Yeol hendak memanggil wanita itu untuk ketiga kalinya.

 

“Ya, Chan Yeol.”

 

“Kita hentikan saja semua ini,” Mata dengan hazel sekalam malam itu memicing sebelum akhirnya membulat terkejut.

 

“Apa maksudmu?”

 

“Kita tak bisa terus seperti ini. Kembalilah—,” Chan Yeol menarik napasnya sejenak. Mencoba mengeyahkan sesak yang mengganjal didadanya.

 

“Kembalilah pada mantan kekasihmu itu. Bukankah kau sangat mencintainya?”

 

“Chan Yeol—,”

 

“Jangan khawatir tentang Ayah dan Ibu atau pun perusahaan. Aku yang akan mengurusnya,” Satu senyum getir tersungging dibibir penuh milik Chan Yeol.

 

“Kenapa?” Purple mencoba mencari tahu alasan dibalik keputusan kekasihnya. Alih-alih menjawab, Chan Yeol justru memalingkan wajahnya. Dan kini giliran Purple yang tersenyum getir.

 

“Kau pasti muak padaku, benar?” Masih tak ada sahutan.

 

“Padahal aku sudah memutuskan untuk menyerah dengan masa laluku dan kembali padamu. Tapi sepertinya kau sudah terlalu lelah padaku. Maaf.”

 

***

 

Dua pasang sepatu berbeda jenis itu melangkah dari arah berbeda. Bunyi ketukan tak terhindarkan dan menggema diseluruh ruangan. Mereka semakin dekat hingga akhirnya keduanya saling berhadapan dan melempar senyum satu sama lain.

 

Hi, kita bertemu lagi, Kim Da Som,” Chan Yeol menyapa lebih dulu. Kecanggungan terlihat jelas dari gerak-gerik pria tinggi itu. Sebuah gumaman dan anggukan menjadi balasan bagi sapaan Chan Yeol padanya.

 

“Aku datang kesini bukan untuk menemuimu,” Keduanya nampak tersenyum dengan kikuk. Atmosfer kecanggungan terasa begitu kental disekitar mereka.

 

“Eum, aku juga tak berniat bertemu denganmu. Kekasihku bekerja disini, jika kau lupa.”

 

Da Som sampai terlebih dahulu didepan meja bartender. Disusul Chan Yeol yang duduk tiga kursi darinya, seperti biasanya.

 

Da Som menjulurkan badannya kedepan, mengecup kilat pipi kekasihnya. Ekor matanya sempat melirik ekspresi Chan Yeol yang sedikit mengeras.

 

“Ada apa?” Kris bertanya seraya mengelap gelas dan meletakkannya ditempat masing-masing.

 

I miss ma boy so bad,” ujar Da Som dengan nada manja. Mengundang kekehan dari Kris atas tingkah kekasihnya.

 

“Mau berkencan setelah ini?” Da  Som menjawabnya dengan senyuman penuh makna serta satu kedipan dimata kirinya.

 

Atmosfirnya seperti pertama kali Chan Yeol menemukan Da Som disini. Dimana wanita itu terlihat mesra dengan kekasihnya dan Chan Yeol yang terbakar oleh panasnya api cemburu. Hanya saja kali ini api itu lebih panas mengingat perasaan cinta yang masih ada itu sudah bertumbuh kembali dalam hatinya.

 

Tak lama sebuah suara ketukan antara ujung stiletto dengan kerasnya lantai marmer bergema kembali dalam ruangan luas itu. Seorang wanita dengan dandanannya yang begitu elegant masuk dan duduk dengan tenang disamping Chan Yeol. Tak menyadari sepasang mata menatapnya dengan penuh arti.

 

“Terimakasih sudah datang kemari. Ingin minum sesuatu?” Tawar Chan Yeol pada Purple.

 

“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Kenapa kau menyuruhku datang ke tempat seperti ini. Sudah berapa kali aku katakana padamu jika aku tak pernah suka dengan bar, Park?” Gertu Purple panjang lebar. Alih-alih peduli, Chan Yeol justru meminum absinthenya dengan sekali tenggak.

 

“Ini mengingatkanmu pada masa lalumu, ya?” Mata Purple memicing penuh selidik pada Chan Yeol.

 

“Apa maksudmu?”

 

“Mantan kekasihmu itu—,” Chan Yeol menjeda kalimatnya sembari memutar-mutar gelas sloki ditangannya. “Karena dia bekerja sebagai seorang bartender, maka dari itu kau tidak suka pergi ke bar. Karena kau akan selalu mengingatnya. Apa aku benar?”

 

Hazel gelap milik Purple menatap nyalang pada Chan Yeol. Rahangnya mengeras oleh emosi. “Terserah apa katamu!”

 

Wanita itu hendak pergi namun Chan Yeol menghalau tangannya. “Apa kau membawanya? Sesuatu yang aku minta untuk kau bawakan itu.”

 

Purple menghentakkan tangan Chan Yeol. Merogoh tas tangannya dan mengeluarkan sebuah benda persegi berbentuk pipih dengan motif ukiran yang begitu rumit namun indah. Chan Yeol turun dari kursinya setelah menerima benda itu dari Purple. Dengan penuh rasa bingung, Purple memperhatikan langkah Chan Yeol yang berjalan menuju kursi yang bersilish tiga kursi dari tempatnya.

 

“Ku harap kau akan datang,” Ujar Chan Yeol seraya menyerahkan benda itu pada Da Som. “Dan ajaklah kekasihmu juga. Aku tak ingin melihat mantan kekasihku menangisi pernikahanku.”

 

Da Som terkekeh.”Terimakasih atas undangannya. Aku dan Kris pasti akan datang.”

 

Dan Purple merasa tersambar oleh petir yang sangat keras. Kris? Dengan perlahan Purple menggerakkan kepalanya dan lututnya lemas seketika mendapati Kris berdiri dibelakang meja bar dengan tatapan yang menyiratkan luka.

 

***

 

Atmosfir tegang menyelimuti ruangan itu. Sepasang sejoli duduk disebuah sofa dalam keterdiaman akan pikiran masing-masing.

 

“Apa maksud dari semua ini? Kim Da Som, KATAKAN PADAKU APA MAKSUD DARI SEMUA INI?” Bentakan Kris sama sekali tak membuat Da Som jadi gentar. Wanita dengan milky skin itu masih tetap memasang wajah tenangnya.

 

“Jadi dia adalah mantan kekasihmu?” Senyum miring tersungging dibibir Kris.

 

“Pantas saja dia selalu datang ke bar dan memandangimu dengan tatapan yang berbinar-binar. Oh, what the hell is it? Apa kalian memang sengaja untuk bertemu?” bertubi-tubi Kris menyerang Da Som dengan kalimatnya yang setajam pedang. Namun kekasihnya itu sama sekali tak memberi respon.

 

“Apa kau sedang mencoba bermain dibelakangku? Kim Da Som, aku tak menyangka kau—”

 

“—Aku juga,” Da Som memotong kalimat Kris. Dengan ekspresi yang setenang genangan air, Da Som menatap Kris tepat dikedua hazel caramel itu.

 

“Aku juga tak menyangka kalau semua akan jadi semenarik ini,” Ujarnya diakhir dengan sebuah kekehan kecil yang membuat Kris mengerutkan kening.

 

That woman, she is your ex girlfriend, right? Aku melihat kalian berjalan berdua bahkan saling berpegangan tangan juga berpelukan. Dari yang kulihat wajahmu bahkan lebih berbinar dari Chan Yeol.”

 

Mata Kris membelalak lebar. Sementara Da Som, wanita itu sedang mencoba menahan sakit yang menyerang perasaannya. Sekuat hati wanita itu mencoba agar terlihat tenang dihadapan Kris.

 

“Takdir benar-benar menarik untuk dijalani, bukan? Mantan kekasihku dan mantan kekasihmu akan segera menikah. Dan kekasihku masih berkencan dengan mantan kekasihnya dibelakangku,” Lagi-lagi senyum miring itu tersemat disalah satu sudut bibir merah Da Som.

 

Kris masih membeku ditempatnya. Ia tak tahu jika Da Som tahu begitu banyak hal yang selama ini ia coba untuk sembunyikan.

 

“Kris, tell me what am I to you? Pernahkah— pernahkah aku ada dihatimu?” Sendi-sendi ditubuhnya serasa lemas begitu melihat tatapan Da Som yang menyiratkan banyak luka. Da Som tersenyum getir.

 

“Terserah apapun itu, tapi sekarang kau tak akan bisa kembali lagi pada mantan kekasihmu itu. Dan sekarang kau hanya punya dua pilihan, Kris.”

 

Dua pasang mata mereka bertemu. “Tahan aku disisimu atau kita akhiri semua sampai disini.”

 

Kemudian Da Som bangkit dari sofa. Meraih tas selempangannya dan berjalan menuju pintu keluar. Namun langkahnya berhenti saat jemari lentiknya menyentuh handle pintu. “Putuskanlah secepatnya, kuharap kau bisa menemukanku sebelum fajar datang.”

 

Kemudian terdengar suara debuman pintu yang ditutup dengan kasar, menyisakan keheningan di dalam ruang apartemen kecil itu bersama Kris yang masih diam ditempatnya.

 

***

 

“Terimakasih atas semuanya, Chan Yeol,” ucap Da Som melalui line telepon yang tersambung pada ponselnya.

 

It’s okay.”

 

Kemudian hening diantara keduanya. Chan Yeol menghela napasnya dengan kasar hingga Da Som dapat mendengarnya dari seberang.

 

“Da Som, apa kau yakin?” Kening Da Som mengrenyit dan ia tak berkata apapun. Tapi Chan Yeol tahu Da Som tengah bingung sekarang.

 

“Kau yakin tak ingin kembali padaku? Ini belum terlambat untuk mengakhirinya dan memulai lagi bersamaku, Da Som. Just you and I.”

 

No, I already talked about it many time. We can’t ever be. No. That’s how we always were,” Jawaban Da Som serasa sebuah pisau yang mengoyak jantungnya. Sakit sekali dan perih. Satu helaan napas terdengar, Chan Yeol mencoba menata hatinya sebelum kembali berkata.

 

Okay, I’ll try. I’ll erase my love for you. I’ll erase your number. And I’ll never try to call you again.”

 

Great! And don’t ever try to look back. ‘Cause I never hold onto you again.”

 

Terdengar kekehan dari Chan Yeol. Perih itu yang sekarang Chan Yeol rasa. “Hey, Da Som. Apa kau mau tahu bagaimana aku setelah kita berakhir?” Tak ada sahutan, tapi Chan Yeol tak peduli. Ia ingin Da Som tahu bagaimana ia yang begitu terpuruk kala itu.

 

“Aku benar-benar hancur saat itu. Aku pergi ke club dan bermain dengan banyak wanita hanya untuk melenyapkanmu dari pikiranku. Tapi kenapa? Kenapa bahkan sedetik pun bayanganmu tak pernah mau beranjak dari pikiranku?”

 

“Apa kau tahu juga? Hampir setiap pagi aku memberantakkan kamarku karena dirimu. Aku melempar semua fotomu dan membiarkan semua pecahan kaca itu mengenai kakiku.”

 

“Aku benar-benar hancur. Aku bahkan menangis karena itu. Aku pasti benar-benar jahat dimatamu. Sekarang aku sudah tak berarti apapun bagimu. Rasanya benar-benar sakit setiap mengingat ucapan selamat tinggalmu untukku.” Suara Chan Yeol mulai bergetar.

 

“Kau benar, sudah saatnya aku harus bergerak dari persaanku untukmu. I wish you’re happy, my love,” Tanpa terasa air mata itu sudah menaglir begitu deras melewati pipi Chan Yeol. Ia tak pernah merasa serapuh ini sebelumnya. Da Som benar-benar hebat hingga membuat si kepala batu seperti Chan Yeol menangis menyedihkan seperti ini.

 

Sambungan telepon pun terputus sepihak oleh Chan Yeol. Tangan Da Som turun secara perlahan. Tak ada air mata yang turun tapi Da Som merasa hatinya benar-benar sesak. Ia tak tahu jika orang yang selalu dianggapnya brengsek itu ternyata begitu terluka. Dan semua itu karena dirinya.

 

Tapi itu semua juga bukan salah Da Som sepenuhnya. Ia sudah mencoba mempertahankan dan memperbaiki hubungan mereka saat itu. Namun Chan Yeol yang sekeras batu itu tak mau sedikitpun mendengarnya. Jadi jangan salahkan Da Som jika pada akhirnya ia memilih untuk menyerah.

 

Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Da Som merapatkan coatnya karena suhu yang semakin turun. Ia masih betah berada ditaman ini. Tempat dimana ia pertama kali dipertemukan dengan sosok Kris.

 

Sebenarnya sedari tadi perasaannya tidak tenang. Keraguan mulai mencoba untuk mendominasi hatinya meski sudah ia coba untuk mengenyahkannya.

 

Biar bagaimanapun ia masih harus menunggu. Katakana aksi sok jual mahalnya ini sebenarnya sia-sia saja karena Da Som sedari tadi melafalkan doa agar Kris secepatnya datang untuk menemuinya.

 

Namun, hingga fajar hampir menunjukkan diri dari persembunyiannya pun Kris tak juga menunjukkan batang hidungnya. Da Som menghela napasnya kasar. Pada akhirnya semua memang harus diakhiri. Setelah ini ia akan pergi sejauh mungkin dari hidup Kris sama seperti dulu saat ia putus dengan Chan Yeol. Bagi Da Som tidak baik mengharapkan masa lalu untuk dapat kembali.

 

Saat kakinya sudah melangkah tiga kali, sebuah tangan menahan dirinya agar berhenti. Meski sempat ragu, akhirnya Da Som yakin bahwa yang sedang menahan tangannya adalah Kris. Tak ada tangan yang sehangat dan senyaman milik Kris bagi Da Som.

 

“Jangan pergi. Aku mohon,” Kris memandangnya dengan tatapan yang sendu. Tergambar jelas dari wajahnya bahwa Kris kini benar-benar terluka.

 

“Aku minta maaf atas semuanya. Jangan pergi. Tetaplah tinggal disisku, Kim Da Som. Aku mohon,” Mohonnya dengan suara yang benar-benar lirih. Da Som menghamburkan dirinya pada pelukan hangat Kris.

 

“Ayo kita mulai lagi semuanya dari awal. Hanya kau dan aku.”

 

FIN

 

Sejujurnya saja ini pasti aneh dan berputar-putar. Iya kan?? Jujur aja.. kagak apa kok.. -_- Oh ya.. ini epep dibuat karena kecanduan lagunya Hyolyn x Jooyoung yang judulnya erase. Sampe sekarang masih suka muter lagu itu berulang-ulang. Yang belum tahu, aku rekomendasiin lagu ini. Sumpah suaranya Hyolyn itu emang bergetar sampai kejiwa. Udah ah, komennya ya…

 

 

9 tanggapan untuk “Erase [Chapter 2] – Honeybutter26”

  1. iihhh sedihh sumpaahhh…. btw ini cuma 2 chapter doang ? yaelaahhh…. aku kira ini bakalan ber chap2 panjangnya. taunya ada 2 doang-_-. btw selamat menempuh hidup baru cy-purple. dasom-kris juga *apaan sih ini. gujes sumpah*

    1. jangan bersedih sayang… bunda disini *nhalho??*

      iyaa kan diatas udah ditulis tusyut sayang… ntar kalo mau kondangan ngabarin ya.. kita kondangan bareng..

      btw makasih udah ngikutin cerita absurd ini.. 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s