IRRESISTIBLE LOVE – SLICE #8 — IRISH’s Story

irish-irresistible-love-2

Irresistible Love

With EXO’s Byun Baekhyun and OC’s Song Heekyung

Supported by EXO’s Park Chanyeol and OC’s Na Inryung

A fantasy and romance story rated by PG-17 in chapterred length

DISCLAIMER

This is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life. And every fake ones belong to their fake appearance. The incidents, and locations portrayed herein are fictitious, and any similarity to or identification with the location, name, character or history of any person, product or entity is entirely coincidental and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art without permission are totally restricted.

©2015 IRISH Art&Story All Rights Reserved


“..Aku mencintaimu, bahkan jika kau seorang monster..”—Heekyung


Previous Chapter

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Anybody waiting for this story?Irish.

In Author’s Eyes…

“Kurasa… aku juga sudah jatuh cinta padamu.”

Jantung Heekyung seolah berhenti bekerja selama beberapa saat ketika Ia mendengar ucapan itu dari mulut Baekhyun.

“Benarkah?”

Kata itu sanggup meluncur keluar dari bibir Heekyung. Antara percaya dan tidak, Ia ingin sekali mempercayai ucapan Baekhyun, tapi satu sisi hatinya juga tahu Ia dan sosok sempurna di hadapannya tak akan bisa bersama.

“Ya. Kau percaya padaku bukan?” Baekhyun menarik Heekyung dalam rengkuhannya, seolah tak ingin gadis itu menjauh darinya walaupun Ia juga tahu Ia tidak seharusnya mengucapkan kalimat itu pada Heekyung.

Baekhyun pun tahu Ia dan Heekyung tak akan bisa bersama.

“Kau tidak menyesal?” tanyanya lembut.

“Untuk apa?” Heekyung menatap tak mengerti.

“Karena sudah jatuh cinta padaku. Kau tidak menyesalinya?” tanya Baekhyun menjelaskan.

Heekyung mengulum senyumnya, dan menggeleng.

“Tidak, aku tidak menyesal sama sekali.” jawabnya pasti.

“Jadi… apa boleh?” kali ini Heekyung menyernyit mendengar pertanyaan Baekhyun.

“Boleh? Boleh apa?” tanyanya memastikan.

Baekhyun mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu, dengan mengulum senyum kecil yang berusaha Ia sembunyikan dari Heekyung.

“Aku boleh menjadikanmu mangsaku lagi bukan?”

Tatapan Heekyung melebar. Segera, Ia memukul pelan lengan Baekhyun. Tanpa bicara apapun gadis itu melangkah menjauh, menutupi wajahnya dengan syal yang Ia kenakan.

Baekhyun tahu, wajah gadis itu pasti memerah seperti kepiting rebus sekarang. Dan tak ingin menggoda Heekyung lebih jauh lagi, namja itu memilih merajut langkah menyusul gadisnya. Tentu saja tidak sulit baginya untuk menyusul langkah-langkah pendek milik Heekyung.

Dalam beberapa langkah panjang saja Ia sudah berhasil menjajari Heekyung, dan lagi-lagi, Baekhyun tergelitik untuk menggoda gadis itu. baekhyun melirik sekilas, memperhatikan wajah Heekyung yang benar-benar memerah karena efek ucapannya tadi.

“Boleh kan, Heekyung-ah? Kalau iya, aku sangat ingin punya sepuluh orang anak.” Heekyung menatap terkejut.

“Kau gila?!” pekiknya tertahan.

Baekhyun tanpa sadar tertawa pelan.

“Tidak. Aku serius.”

“Jangan bercanda.” Heekyung mengalihkan pandangannya lagi.

“Memangnya aku pernah bercanda?” pertanyaan itu membuat Heekyung terpojok. Ya. Memang namja di hadapannya tak pernah bercanda soal ucapannya, dan juga tak pernah berbohong.

“Aku hanya mau punya tiga orang anak.” komentar Heekyung singkat.

Kali ini Baekhyun yang terhenti. Ucapan Heekyung berefek lebih padanya. Wajah namja itu memang tidak memerah seperti yang terjadi pada Heekyung, tapi Ia membeku di tempat.

Heekyung hanya menginginkan tiga orang anak? Bukankah itu sebuah jawaban bagi pertanyaan Baekhyun? Dan malah, gadis itu terdengar seolah mengizinkannya untuk kembali datang di beberapa tahun berikutnya.

“Apa itu sebuah jawaban ‘ya’ Heekyung-ah?” tanya Baekhyun.

Heekyung melempar pandang sekilas.

“Menurutmu?” pertanyaan gadis itu kini terdengar membingungkan.

Tapi melihat bagaimana Heekyung mengulum senyum kecilnya, Baekhyun tahu Ia sudah mendapat sebuah jawaban ya. Persetujuan dari gadis itu. Segera, Baekhyun merengkuh bahu gadis itu, merapatkan tubuh mereka.

“Apa itu artinya kau juga tidak menyesal karena jatuh cinta padaku?” kembali Baekhyun mengulang pertanyaannya.

“Tidak.” Heekyung menggeleng, “tidak sama sekali.” gadis itu melanjutkan.

“Kajja, Baekhyun-ah, kita harus berjalan-jalan!” ucap Heekyung lagi, dengan bersemangat gadis itu membawa langkahnya juga Baekhyun untuk menghabiskan waktu bersama, di hari terakhir mereka.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Na Inryung kini berdiri tegap menantang namja jangkung di hadapannya. Tak usah di tebak, benak gadis itu sarat akan ketakutan sekaligus ketersimaan karena benar-benar berhadapan dengan seorang Incubus, di tambah lagi, namja di hadapannya benar-benar sempurna.

Inryung bahkan berulang kali menggeleng kuat-kuat untuk mengingatkan dirinya untuk sekedar berkedip dan berhenti memandangi namja di hadapannya. Sementara Chanyeol sudah tentu tahu apa yang ada dalam benak gadis di hadapannya.

“Kau tidak percaya aku seorang Incubus?” tanya Chanyeol berhasil membuat Inryung sekali lagi menggeleng kuat-kuat.

“Tidak. Tidak ada Incubus yang muncul di siang hari!” bantahnya tegas.

Sepasang alis Chanyeol terangkat.

“Lalu bagaimana dengan Incubus yang selalu berada di dekat sahabatmu itu?” kali ini Inryung menyernyit.

“Siapa?” tanyanya bodoh.

Chanyeol mendengus pelan.

“Kau tidak tahu sahabatmu sudah menjadi korban Incubus?” tanyanya makin membuat tatapan Inryung membulat.

“A-Apa? Tapi… Tapi Heekyung…” Inryung terbata, tatapan gadis itu kini berkaca-kaca, “bodoh, sudah ku bilang dia seharusnya jadi orang jahat saja supaya tidak menjadi korban. Heekyung bodoh…” isaknya pelan.

Sungguh, Chanyeol sangat ingin tertawa geli melihat ekspresi gadis di hadapannya. Tapi sebuah tawa adalah hal tabu bagi Chanyeol. Ia tidak seharusnya menunjukkan bahkan secercah senyum di hadapan manusia.

Manusia adalah mangsanya. Dan Chanyeol membencinya.

“Bukan korban itu.” ucap Chanyeol mengerti jika gadis di depannya pasti berpikir sahabatnya kini sudah tak bernyawa.

“Lalu?” Inryung menatap takut-takut.

Butuh beberapa sekon bagi Chanyeol untuk tersadar dari ingatannya tentang kejadian kemarin. Dan butuh beberapa sekon lainnya bagi namja itu untuk tidak menyentuh lengan gadis yang kemarin memeluk bayinya penuh sayang.

“Ia mengandung anak dari seorang Incubus.” ujar Chanyeol dengan nada sepelan mungkin.

Tak mengerti kenapa juga Ia menggunakan nada sepelan itu padahal tak ada siapapun di sekitar mereka.

Terperangah, Inryung kehilangan fungsi berkedip juga bergeraknya selama beberapa saat. Gadis itu hanya mematung menatap namja di hadapannya. Berharap telinganya telah salah mendengar padahal Ia cukup yakin pendengarannya masih baik-baik saja.

“H-Heekyung… hamil?” kalimat itu lolos dari mulut Inryung setelah beberapa detik dalam heningnya.

“Ya. Selama dua bulan ini dia mengandung.”

Inryung mengedarkan pandang, tatapannya benar-benar berubah khawatir. Chanyeol bahkan bisa mengetahuinya hanya dengan mendengar degupan jantung gadis itu yang berangsur-angsur berubah tidak stabil.

“Ini semua salahku…” lirih gadis itu.

“Salahmu? Kenapa?”

“Ya. Ini semua karena aku selalu menakut-nakuti Heekyung. Mungkin ucapanku jadi sebuah doa, dan akhirnya… Heekyung benar-benar menjadi korban.” terang Inryung membuat Chanyeol selama sepersekian detik tak bisa berkomentar apapun.

Heran, Ia sungguh heran bagaimana pemikiran gadis ini sebenarnya.

“Ini salahku… Heekyung tidak seharusnya tersiksa karena ucapanku…” kini suara gadis itu bergetar hebat.

Sesaat kemudian Chanyeol berhasil di kejutkan karena tangisan gadis di hadapannya. Na Inryung menangis keras tanpa peduli keterkejutan namja di depannya. Dan bagi Chanyeol, gadis ini benar-benar punya masalah emosi yang akut.

“Bukan. Semuanya bukan salahmu, Na Inryung.”

Inryung terhenti sejenak, gadis itu kemudian menatap namja di depannya.

“Aku sudah menduganya… Aku memang jadi magnet kesialan. Semua orang yang di dekatku pasti terkena bencana. Aku selalu terjebak dalam masalah… Aku juga selalu membuat orang lain berada dalam masalah.

“Bodoh… Seorang sepertiku seharusnya tidak pernah mengenal orang lain…” isak gadis itu memilukan.

“Aku tidak menganggapmu seperti itu.”

Inryung mengusap wajahnya, dan menggeleng.

“Kau bahkan tidak mengenalku. Aku sudah di kenal sebagai magnet kesialan. Semuanya berkata begitu.” lirihnya.

“Tapi kau manusia pertama yang tidak ingin ku bunuh.”

Inryung mendongak sejenak.

“Apa maksudmu?” tanyanya bingung.

Chanyeol menarik lengan gadis itu, meraih kedua telapak tangan gadis itu dalam genggamannya. Perlahan, seperti sebuah déjà vu, kejadian sore kemarin terulang dalam benak mereka berdua. Bersamaan, seperti sebuah kilasan film yang begitu cepat.

“A-Apa yang tadi kulihat?” tanya Inryung terkejut, Ia ingin menarik kembali tangannya yang berada dalam dekapan orang asing di depannya, tapi gadis itu seolah kehilangan keinginanya saat tatapannya bertemu dengan namja jangkung itu.

“Terima kasih, Na Inryung.”

“Untuk?” alis Inryung kini bertaut.

“Bayiku. Kemarin, kau merengkuh bayiku dengan kedua tanganmu. Dan bahkan menangisinya. Gadis yang mengandung bayiku bahkan membunuhnya. Tapi kau menangis. Itulah kenapa, kau jadi manusia pertama yang tidak ingin kulenyapkan.”

Inryung mematung. Ya, Ia masih ingat benar bagaimana seorang bayi Ia temukan kemarin dan Ia rengkuh dalam tangisnya. Ia ingat bagaimana Ia menghabiskan semalaman untuk menangis karena merasa bersalah untuk hal yang sebenarnya Ia sama sekali tidak bersalah.

“B-Bayi itu… bayimu?”

Chanyeol mengangguk.

“Dari salah seorang gadis yang mengandung bayiku. Mungkin kau tidak tahu, tidak ada satupun manusia yang ingin tubuhnya dijadikan tempat tumbuh bayi monster seperti kami.

“Sekarang aku mengerti, kenapa temanmu itu, Song Heekyung, menjadi gadis favorit Baekhyun dan bahkan mendapatkan kepercayaan darinya. Aku juga mengerti apa alasan gadis itu tidak membenci monster yang tumbuh dalam tubuhnya.

“Tapi aku masih tidak mengerti…” Chanyeol menatap Inryung tepat di sepasang manik matanya, “kenapa kau menangisi bayiku? Bayi yang bahkan tidak di inginkan oleh manusia yang mengandungnya. Bayi… dari seorang monster?”

Pertanyaan namja itu membuat Inryung tertegun. Kenapa? Butuh beberapa sekon bagi gadis itu untuk menemukan suaranya dan menjawab.

“Heekyung…” gadis itu memulai, “aku tahu Ia sedikit berubah akhir-akhir ini. Ia benar-benar berhati-hati dalam semua hal, bahkan berhati-hati agar aku tidak membuat masalah di dekatnya.

“Mendengar bahwa Ia mengandung bayi seorang Incubus… sekarang aku tahu apa alasannya. Heekyung… pasti menyayangi bayi itu. Dan seperti itu lah yang aku rasakan.

“Maksudku… bayi itu… bayimu… Ia pasti sangat ingin hidup. Ia seharusnya bisa menghabiskan bertahun-tahun dengan menikmati dunia yang indah… dan bagiku… kenapa seseorang harus melukai orang lain jika mereka sebenarnya bisa hidup berdampingan dengan damai?”

“Kau monster! Kau bukan manusia! Kau seharusnya mati!”

Chanyeol mengerjap cepat. Satu kalimat tiba-tiba saja menyusup masuk dalam ingatannya. Alasan yang membuatnya sangat membenci manusia.

“Tidak semua manusia berpikir seperti itu.” ucap namja itu singkat.

“Kenapa tidak?”

“Incubus sialan itu seharusnya juga mati! Kenapa kau harus terlahir ke dunia ini dan membuatku malu!? Kau hanya seorang monster! Kau bukan anakku!”

“Karena manusia… membenci hal yang berbeda. Bagi bangsamu, hanya manusia yang layak menempati bumi ini. Bukankah kau juga berpikir seperti itu?” Chanyeol menatap gadis di depannya lamat-lamat.

Inryung kini menyernyit.

“Tidak. Siapa bilang aku berpikir begitu? Aku percaya ada alien, juga hantu. Mereka juga ada di bumi bukan?” tatapan gadis itu membulat, sementara perlahan Chanyeol bisa merasakan amarahnya meluruh.

Seolah kalimat gadis itu menghapus emosinya begitu saja.

“Jadi menurutmu, tidak ada yang salah dengan sebuah perbedaan?” tanyanya di jawab dengan anggukan cepat oleh Inryung.

“Perbedaan yang membuat dunia ini jadi indah bukan?” gadis itu malah balik bertanya.

Segera, Chanyeol merajut langkah, membuat gadis—yang kedua tangannya sedari tadi terkunci dalam genggaman Chanyeol itu—terpaksa mengikuti langkahnya juga.

“E-Eh? Kemana kita akan pergi?” tanyanya panik.

“Ikut saja denganku, kau tidak akan menyesal.”

“Tapi aku harus menyusul Heekyung!” cicit Inryung masih dengan kepanikan yang sama.

“Temanmu aman bersama Baekhyun. Lagipula, kau tidak mau menganggu kencan mereka bukan? Jadi aku akan membawamu ke tempat lain, supaya kau tahu bagaimana kami sebenarnya.”

“K-Kami? Apa yang kau bicarakan? Aw! Ya! Tanganku sakit!”

Tanpa sadar, kurva tipis terbentuk di wajah Chanyeol. Senyum. Ya, namja itu tersenyum tanpa sadar.

“Aku akan membawamu ke tempat lain Na Inryung, jika tidak, kau mungkin akan melupakan semua ini.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kau tidak lelah?”

Baekhyun menatap gadis yang terengah-engah di sebelahnya. Ia tahu Heekyung lelah, tapi gadis itu masih memasang senyum yang sama sejak tadi.

“Tidak. Aku tidak lelah.” jawab Heekyung membuat Baekhyun menyernyit.

“Duduklah, aku akan belikan minum untukmu.” ucapnya.

“Tidak perlu, aku tidak lelah, sungguh.”

Baekhyun menggeleng tegas.

“Tidak Song Heekyung. Duduk dan tunggu aku kembali.”

Heekyung mengerucutkan bibirnya, membuat Baekhyun dengan gemas mendaratkan ciuman kecil di sana, sekaligus berhasil membekukan Heekyung di tempat.

“Kau jadi penurut jika sudah begini.” ucap Baekhyun geli, Ia mendudukkan Heekyung di kursi duduk yang ada di tepi sebuah jalur lebar pejalan kaki.

“Aku akan segera kembali.”

“O-Oh.” hanya itu kata yang berhasil mencelos keluar dari mulut Heekyung sementara Ia masih berusaha menemukan fungsi indera nya yang lain karena ciuman kecil Baekhyun tadi.

Jari telunjuk gadis itu bergerak menyentuh bibirnya tanpa sadar.

“D-Dia baru saja menciumku?” cicitnya terkejut.

“Di tempat umum? Tanpa seizinku? Apa yang sebenarnya Ia pikir—”

BRUGK!

“Omo!” Heekyung baru saja akan mengutarakan kekesalannya saat seorang nenek terjatuh di hadapannya, ramai nya pejalan kaki memang membuat beberapa orang harus sedikit berdesakan untuk mencari jalan.

“Nenek baik-baik saja?”

Heekyung membungkukkan tubuhnya untuk membantu nenek itu, tapi—

KRAK!

Gadis itu terlonjak saat tiba-tiba saja merasakan sesak seiring dengan gemeratak cukup keras di punggungnya.

“Ugh, aku sudah seperti tua renta saja.” rutuk gadis itu pelan.

Ia membantu nenek itu memunguti beberapa barang yang terjatuh, tapi Heekyung kemudian sadar, tetesan gelap kental kini menetes keluar dari hidungnya.

“Aigoo, agassi, hidungmu berdarah.” ucapan nenek yang di tolongnya membuat Heekyung tersadar.

Ada yang salah dengannya.

“Tidak apa-apa, halmeoni. Aku baik-baik saja.” ucap Heekyung sementara kini Ia membantu nenek itu berdiri.

TES.

Darah kembali menetes ke tanah dari hidung gadis itu.

“Benarkah agassi? Darahnya tidak berhenti mengalir…” nenek itu kini terdengar khawatir.

“Ya. Benar. Aku tidak apa—”

Lagi-lagi ucapan Heekyung terhenti saat Ia merasakan sakit luar biasa di punggungnya. Sepertinya gemeretak keras tadi baru menunjukkan efeknya sekarang. Gadis itu kelimpungan, Ia segera berpegangan pada sisi kursi tempat nya tadi duduk.

“Kau baik-baik saja, agassi?” pertanyaan nenek itu kini mengundang pandangan dari beberapa orang yang melewatinya.

TES.

Lagi-lagi darah menetes keluar tanpa bisa di cegahnya. Segera, Heekyung memilih untuk beranjak pergi dari tempat itu tanpa bicara apapun. Gadis itu berusaha menangkap Baekhyun dalam jarak pandangnya, tapi semuanya terlihat blur dalam pandangan gadis itu.

Heekyung mencari tempat sepi, susah payah gadis itu mengumpulkan kesadarannya untuk menahan diri agar tidak bersuara karena Ia tahu, darah sudah siap mengalir keluar dari mulutnya jika Ia bersuara.

Gadis itu bersembunyi di sisi sebuah café, dan segera mengeluarkan ponselnya, mengabaikan case putih yang kini berubah merah karena terkena darah, gadis itu menekan nomor yang dikenalnya.

“Yeoboseyo?”

“In… Inryung-ah—Uhuk!” gadis itu menutup mulutnya saat darah hampir saja menyembur keluar begitu saja.

“Oh? Heekyung-ah? Waeyo?”

“T-Tolong aku… Inryung-ah… Sakit…”

“H-Heekyung-ah! Kenapa denganmu? Dimana kau sekarang?”

“Inryung-ah… Perutku…” Heekyung mengusap mulutnya, berharap darah segar yang kini mengalir keluar dari mulutnya bisa berhenti, “perutku sangat sakit…” sambungnya terbata.

“O-Oh? Perutmu sakit? Kenapa? Apa yang terjadi?”

Heekyung memejamkan matanya sejenak. Ya, benar. Inryung tak pernah tahu jika Ia mengandung bayi. Pantas saja gadis itu tak mengerti apa yang diucapkan nya sekarang.

Tapi, apa ini waktu yang tepat untuk menyembunyikan semuanya?

“Aku di taman ujung kota… Inryung-ah… Cepat kemari… Bayiku… Aku harus menyelamatkannya.”

“Kau di taman yang ada di ujung kota? Tunggu. A-Apa yang barusan kau bilang? Song Heekyung! Bayi apa yang kau bicarakan?!”

“Aku menga—”

PIP.

Heekyung baru saja akan menjelaskan semuanya pada Inryung saat telepon di seberang terputus. Gadis itu kini kembali berusaha menajamkan pandangannya, tapi semakin Ia berusaha, semakin semuanya terlihat blur dalam pandangannya.

“Baekhyun… Baekhyun…”

Tak ada nama lain yang kini bisa di ucapkannya. Gadis itu terduduk. Berharap kesadarannya masih akan terkumpul sampai Baekhyun menemukannya.

“Baekhee-ah… Aku mungkin tidak akan bisa melihatmu… Ugh… Baekhyun… Kemana dia pergi…”

Heekyung memejamkan matanya, menarik dan menghembuskan nafas konstan sementara nyeri mulai menguasai tubuhnya.

“Heekyung…”

Gadis itu membuka matanya. Seolah sebuah ilusi, Ia yakin Ia mendengar suara Baekhyun masuk dalam pendengarannya. Namun nihil. Ia tak menemukan siapapun disana. Bahkan Ia harus bersyukur karena orang-orang melewatinya tanpa menatap curiga pada keadaannya.

Ia tidak ingin siapapun tahu.

“Song Heekyung.”

Kini suara itu terdengar lagi, begitu nyata dalam pendengaran Heekyung. Samar, Ia melihat Baekhyun melangkah ke arahnya.

“B-Baekhyun?” panggilnya pelan.

Memang benar, Baekhyun lah yang kini muncul di hadapannya. Menatap keadaan gadis itu dengan tatapan menahan pilu.

“Maaf, Heekyung-ah. Ini sudah saatnya.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kenapa kau membawaku ke tempat sepi seperti ini?”

Untuk ke sekian kalinya Chanyeol harus menahan dirinya tak menjawab pertanyaan Inryung yang kini melangkah mengikutinya. Karena ini kali ke empat belas gadis itu menanyakan pertanyaan yang sama.

Dan Chanyeol sudah menjawabnya tadi di kali pertama, bahwa Ia akan membawa Inryung ke tempat yang aman.

“Ya! Kau tidak menjawabku?” tuntut Inryung.

“Aku sudah menjawabmu sedari tadi.” balas Chanyeol.

Inryung berdecak.

“Aku tidak bisa percaya padamu begitu saja.” rutuknya.

“Lalu kenapa kau mengikuti langkahku terus?” lagi-lagi Chanyeol membalas.

“Karena aku tidak tahu jalan pulang! Kau membawaku ke tengah hutan. Dan kau juga memegang ponselku. Bagaimana aku bisa pulang?”

Kurva samar muncul di wajah Chanyeol. Sementara Ia terus menguntai langkah ke dalam hutan. Ia tahu benar apa yang akan terjadi pada gadis ini setelah sahabatnya, Heekyung, tak lagi mengandung bayi Baekhyun, dan entah mengapa Chanyeol ingin melindungi gadis itu.

Melindungi ingatannya.

“Kalau kau kubiarkan di rumahmu, kau tidak akan bisa mengingat apapun.”

“Apa? Apa yang kau bicarakan sekarang?” tanya Inryung tak mengerti.

Chanyeol akhirnya menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap gadis yang tingginya bahkan tak sampai di bahu namja itu.

“Nona Inryung, ingatanmu akan di hapus oleh Baekhyun setelah Heekyung melahirkan bayinya. Dan aku tidak mau kau kehilangan ingatanmu, jadi ku bawa kau ke tempat ini. Aku sudah menjawab pertanyaanmu bukan?”

Masih dengan alis terpaut, Inryung membuka mulutnya.

“Kenapa? Maksudku, kenapa aku di buat lupa?” tanyanya.

“Tentu saja karena Heekyung juga akan melupakan semuanya.”

Kini tatapan Inryung membulat.

“Jadi… Heekyung tidak akan ingat padaku?” ucapnya takut.

“Tidak. Bukan padamu. Ia akan lupa semua kejadian dua bulan ini. Dan karena kau sudah tahu tentang kami, kupastikan Baekhyun akan menghapus ingatanmu juga. Aku baik bukan? Aku menceritakan semuanya padamu.” ucap Chanyeol sambil menatap gadis itu.

“Memangnya Heekyung tidak tahu… jika ingatannya akan di hapus?”

Chanyeol menghembuskan nafas panjang.

“Baekhyun memang pembohong yang baik. Semua ucapannya terdengar seperti kebenaran di telinga gadis itu, padahal semuanya hanya kebohongan—kecuali tentang Ia hanya menitipkan bayinya pada Heekyung tentu saja—tapi sisanya? Ia tidak mengatakan apapun pada sahabatmu itu.

“Ia bahkan tidak memberitahu Heekyung… bahwa gadis itu kemungkinan besar akan mati setelah melahirkan bayinya.”

Inryung terkesiap.

“Apa maksud ucapanmu? Heekyung akan mati?”

Chanyeol mengukir senyum kecil.

“Manusia… hanya mangsa bagi kami, Inryung-ah. Selamanya akan seperti itu. bahkan jika Baekhyun berhasil membuat gadis itu berpikir Baekhyun mencintainya… setelah semua ini berakhir… gadis itu tak berarti apa-apa baginya. Heekyung, hanya akan menjadi mangsa untuknya.”

Lutut Inryung bergetar. Ia bahkan tak sanggup menopang bobot tubuhnya sendiri. Gadis itu tertunduk, sementara jemarinya bergerak kalut.

“L-Lalu… setelah ini… apa aku juga akan menjadi mangsa?” tanyanya sambil menatap Chanyeol lamat-lamat.

Senyum kecil kembali terukir di wajah Chanyeol.

“Kau tahu Incubus hanya memangsa orang-orang baik bukan? Aku tidak pernah bilang kau adalah orang yang cukup baik untuk jadi mangsaku, Na Inryung.”

“A-Apa?” Inryung mengerjap cepat, terkejut bukan main.

“Kau orang jahat, kau tidak sadar?” Chanyeol kini tertawa pelan, sebuah tawa sarat akan ledekan bagi gadis di hadapannya, “kau baru saja membiarkan sahabatmu mati padahal kau punya kesempatan untuk menyelamatkannya.

“Itu membuatmu secara tak langsung menjadi orang jahat, Inryung-ah. Kau membantu seorang monster membunuh mangsanya. Tujuanku membawamu ke sini juga karena aku ingin melihat seperti apa ekspresimu saat kau melihat mayat sahabatmu nanti.”

Inryung terhuyung mundur. Gadis itu menatap nanar namja di depannya.

“Tidak. Tidak mungkin!” tanpa sadar Ia berteriak.

Chanyeol kemudian menunjuk ke arah satu tempat dengan dagunya.

“Kau lihat kastil itu? Aku membawamu menjauh dari tempat itu. Karena temanmu Heekyung sekarang ada di tempat itu dan mungkin tengah sekarat.”

Tanpa pikir panjang Inryung membawa kakinya berlari ke arah kastil raksasa gelap itu. Sementara tindakannya membuat Chanyeol tersenyum tipis.

“Kenapa ini? Aku merasa seolah membawa seekor tikus masuk dalam perangkap. Gadis itu bodoh atau apa? Kenapa dia mendatangi kematiannya sendiri?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Nafas terputus-putus milik Heekyung adalah satu-satunya hembusan nafas yang terdengar dari ruang bernuansa putih itu. Gadis itu sendiri terbaring di atas tempat tidur, dengan tangan dan kaki terikat ke sisi tempat tidur.

“Baek…” lirihnya, sementara namja yang di panggilnya sedari tadi berdiri mematung di sudut ruangan.

“Bersabarlah, Heekyung-ah.” hanya itu kalimat yang terucap dari mulut Baekhyun.

“Kenapa… aku di ikat seperti ini?”

Baekhyun tak menyahut apapun dan hanya mengusap pipi yeoja itu lembut.

“Aku akan merindukan Baekhee..” gumam Heekyung lirih.

Baekhyun hanya tersenyum. Tapi tiba-tiba saja Heekyung merintih kesakitan.

Baekhyun mengalihkan pandangannya. Tak menjawab apapun.

“Apa.. akan terasa sangat sakit?” lagi-lagi pertanyaan Heekyung membuatnya dilema. Satu sisi hatinya ingin menjawab gadis itu, tapi ego nya menahan cukup kuat hingga Baekhyun hanya menjawab dengan sebuah senyuman kecil.

“Kau bahkan tidak akan sadar saat dia lahir.” Heekyung terdiam mendengar ucapan namja itu.

“Aku percaya padamu… Baekhyun-ah.”

Hati Baekhyun mencelos.

“Tidak Heekyung, jangan percaya padaku.” ucap Baekhyun akhirnya.

Ia tak lagi sanggup mengucapkan kalimat lain pada gadis itu.

“A-Apa?”

“Maaf, aku sudah membohongimu.” ucap Baekhyun lirih.

“Apa maksudmu… Baekhyun-ah?”

Baekhyun bangkit, menarik dirinya menjauh dari Heekyung.

“Bayiku akan lahir dengan mencabik-cabik tubuhmu. Membuatmu kehilangan banyak darah dan mungkin mati. Jika kau hidup… kau hanya akan bertahan beberapa hari tanpa mengingat apapun sebelum Incubus lain membunuhmu.

“Karena… gadis yang sudah di tandai oleh seorang Incubus, harus mati setelah bayi itu tak lagi ada di tubuhnya.”

Heekyung terpaku. Sungguh. Ia tak pernah menyangka ucapan semacam ini akan keluar dari mulut seorang Baekhyun. Seorang yang sangat di percayainya selama ini.

“B-Baekhyun-ah… Apa maksudmu? Bukankah kau bilang aku akan—”

“Kau tidak seharusnya mempercayaiku, Song Heekyung. Aku adalah seorang Incubus. Dan kau manusia. Selamanya, kau hanya menjadi mangsa bangsa kami.”

Hati Heekyung mencelos. Jika boleh, Ia mungkin memilih untuk mati saat ini juga daripada harus mendengar lebih banyak lagi kalimat yang menyakitinya keluar dari mulut Baekhyun.

“Jadi… kau membohongiku?” entah kenapa kalimat itu keluar dari mulutnya walaupun Ia sudah tahu pasti apa yang akan menjadi jawaban Baekhyun.

“Ya. Aku membohongimu, Song Heekyung.”

“Tapi Baekhyun, kau sendiri yang mengatakan padaku kau tidak pernah berbo—akh! Akh… Baekhyun-ah! Perutku sangat sakit…”

Baekhyun melangkah menjauhi gadis itu.

“Sudah saatnya, Song Heekyung.”

“Tidak! Aku tidak ingin mati! Akh!”

Baekhyun menatap diam.

“Seharusnya kau berpikir untuk membunuh monster itu, Song Heekyung. Bukannya malah mempercayaiku dan membiarkan dirimu mati begitu saja.”

“Tidak… Tidak…” Heekyung terisak, gadis itu menggigit bibirnya kuat-kuat saat merasakan sesuatu yang sangat tajam mengoyak tubuhnya dari dalam.

Menguras sisa-sisa tenaganya dan bahkan Ia tak lagi sanggup berteriak sekuat tenaganya.

“Akh… Tidak Baekhyun… Aku tidak mungkin… membunuh Baekhee…”

SRAT!

“Akh!!” Baekhyun mengalihkan pandangannya, walaupun dari sudut matanya Ia bisa melihat darah keluar dari perut gadis itu, mengalir dan memberi warna gelap pada tempat tidur putih itu, dan bahkan menetes ke lantai.

“Maafkan aku, Heekyung-ah…” lirih namja itu sebelum Ia akhirnya meraih gagang pintu di dekatnya, dan melangkah keluar, menutup pintu rapat-rapat sementara beberapa orang Succubus sekarang berdiri di sana.

“Lakukan tugas kalian. Jika dia masih hidup setelah bayiku lahir, biarkan saja dia di bumi. Aku sendiri yang akan membunuhnya.”

Dua dari beberapa Succubus itu mengangguk dan segera masuk ke pintu yang baru saja di tutup oleh Baekhyun. Sementara sekarang pendengarannya menangkap langkah seseorang yang aura nya saja sudah berbeda.

Seorang manusia.

Pertanyaan di benak namja itu semakin bertambah ketika melihat Chanyeol tiba-tiba saja muncul di hadapannya.

“Park Chanyeol! Apa yang kau lakukan!?” ucapnya menyadari bahwa Chanyeol pasti telah melakukan sesuatu.

“Hey, tenang Baek, aku hanya membawakan seorang tamu yang tak sempat kau undang.” ucap Chanyeol membuat Baekhyun menyernyit.

“Siapa?”

Pertanyaan Baekhyun terjawab saat Ia melihat gadis berambut sebatas bahu masuk ke ruangan itu. Tatapannya membulat. Ya. Ia memang berniat menemui gadis itu setelah bayinya lahir.

Tapi melihat bagaimana gadis itu sekarang ada di sini, Ia tahu Chanyeol sudah membawa gadis itu masuk sebuah perangkap.

“Na Inryung.” ucap Baekhyun.

“Kau! Apa yang sudah kau lakukan pada Heekyung!?”

Baekhyun mundur beberapa langkah saat lengan Inryung hampir saja menggapainya. Segera, namja itu menciptakan jarak. Sementara senyum terukir di wajahnya. Gadis di depannya benar-benar kalap.

“Akh!!”

Tatapan Inryung membulat saat mendengar teriakan Heekyung.

“Song Heekyung!!”

Kini Baekhyun tak lagi jadi sasaran Inryung, tapi pintu di belakang namja itu lah sasaran utamanya. Inryung menguntai langkah hendak meraih pintu itu, tapi sepasang tangan telah mencekalnya kuat, mendorongnya menjauh.

“Kau pasti tidak ingin melihat keadaannya sekarang, Inryung-ah.” ucap Baekhyun, yang baru saja mencekal gadis itu dan membawanya sedikit jauh dari pintu.

“Lepaskan aku!” bentak Inryung, menyentakkan lengan dingin itu dari bahunya, dan menatapnya berang.

“Kau pikir aku akan diam saja saat temanku terbunuh!?” teriaknya marah, lagi-lagi kakinya berusaha mendekat ke arah pintu, dan kali ini, Baekhyun membiarkannya.

“Chanyeol, kenapa kau membawa gadis bermasalah ini kemari?” tanyanya pada Chanyeol yang hanya menjadi penonton.

“Kau tahu gadismu sering membuatku kesal bukan? Jadi sekarang aku membawa seseorang yang juga bisa membuatmu merasa kesal.”

Baekhyun menghembuskan nafas panjang, tak sampai satu sekon Ia kembali berhasil menghentikan usaha Inryung. Bagaimanapun, Ia berada dalam posisi menguntungkan saat ini.

Karena Inryung hanya seorang manusia yang terjebak di tengah sebuah kastil berisi ratusan bangsanya. Gadis itu tak akan menang.

“Kau tidak mau menganggu bayiku bukan?” ucap Baekhyun tegas.

“Apa?! Kau seorang pembunuh! Bayimu juga pembunuh!” teriak Inryung kalap, sungguh, gadis itu terbakar amarahnya karena tiap kali Ia mendengar teriakan Heekyung, usahanya semakin bertambah untuk berhasil menggapai pintu!

“Jauhkan tanganmu dariku!” teriak Inryung, Ia menepis kasar tangan Baekhyun, tapi belum sempat Ia kembali berusaha, Chanyeol sudah bertindak lebih cepat.

“Kenapa kau ikut campur?” tanya Baekhyun.

Chanyeol tersenyum kalem.

“Gadis ini tanggung jawabku.” jawabnya.

“Kau juga! Lepaskan aku! Aku bukan tanggung jawab siapa-siapa!”

Chanyeol melepaskan cekalannya, membiarkan Inryung berhasil meraih pintu itu dan menguras tenaganya dengan menggedor-gedor pintu yang tak akan berhasil di bukanya.

Sementara gadis itu menangis keras dan terdengar berteriak marah tiap kali teriakan sahabatnya terdengar. Tapi di satu titik, Ia tak lagi mendengar suara apapun.

“Sepertinya bayimu sudah lahir, Baek.”

Ucapan Chanyeol menjadi alarm yang menyadarkan Inryung.

“Sebaiknya aku melihat keadaan bayiku.”

Inryung membalikkan tubuhnya, menatap dua orang yang kini melangkah ke arahnya. Nafas gadis itu terputus-putus, dadanya sesak, bayangan Heekyung telah meregang nyawa menjadi sebuah mimpi buruk baginya.

“Aku juga… akan mati bukan?” ucapnya terbata.

Baekhyun menyernyit.

“Kau tidak memberitahunya, Chanyeol?”

“Oh, aku memberitahunya. Aku katakan padanya bahwa Ia bukan orang baik, dan Incubus tak mungkin membunuhnya.” ucap Chanyeol santai.

Baekhyun menatap gadis itu.

“Kau tahu kau tidak akan mati sekarang bukan?”

“Lalu… apa tidak ada… hal yang bisa membunuhku saat ini juga?” tanyanya lagi.

Baekhyun tampak berpikir.

“Kurasa ada. Tanaman di belakang istana kami kudengar sangat beracun bagi manusia. Kau mau mencobanya?” Chanyeol mendahului, lengannya bergerak menyeret Inryung menjauh dari pintu, membuat gadis itu terduduk dalam keadaan sangat menyedihkan.

“Kenapa?” gadis itu lagi-lagi berucap.

“Kenapa aku membawamu menjauh dari pintu?” Chanyeol bertanya dengan nada bodoh.

Tatapan Inryung berubah nanar.

“Kenapa… kalian melakukan hal kejam ini pada kami?” tanyanya seiring dengan pecahnya tangis gadis itu yang tadi sempat terhenti.

“Karena manusia makhluk yang kejam. Baik kau, maupun temanmu itu, sekarang pasti berpikir jika seharusnya kami tidak ada di bumi bukan? Aku cukup yakin sekarang kau senang karena sudah pernah melihat kematian bayiku.” ucap Chanyeol.

Inryung masih terisak, sementara kepalanya menggeleng tanpa sadar.

“Apa kami terlihat begitu kejam bagi kalian? Bukankah… kalian yang sekarang menjadi sangat kejam pada kami? Temanmu… sudah membunuh Heekyung… dan kau… sudah membohongiku…

“Memangnya… apa aku dan Heekyung pernah berbuat salah pada kalian?”

Pertanyaan itu menghentikan Baekhyun dari keinginannya untuk membuka gagang pintu. Namja itu lantas menatap Inryung.

“Bagi bangsamu, kami adalah makhluk yang kejam. Dan bagi kami, kalian adalah makhluk yang kejam. Kita impas bukan, Inryung-ah?”

Inryung baru saja akan berucap saat pintu di depan Baekhyun terbuka. Tatapan gadis itu segera terbelalak. Tangannya sontak bergerak menutupi mulutnya sementara jeritan tertahan keluar dari mulutnya.

“H-Heekyung…” Inryung menangis tanpa suara menatap tubuh bersimbah darah yang terikat di tempat tidur rendah itu.

Tatapannya jelas menangkap bagaimana tubuh sahabatnya terkoyak dan sekarang tak bergerak, dengan mata terbelalak.

Heekyung.

“Tidak… Heekyung… Heekyung-ah…”

Hanya tangis yang sanggup keluar dari mulut Inryung sementara Ia terus menangis tanpa suara. Tubuh gadis itu gemetar hebat. Bayangan itu memukulnya jauh lebih mengerikan daripada sekedar tubuh bayi yang terkoyak karena pisau.

“Monster… Kalian semua monster…” gadis itu terus menggumamkan kata yang sama dalam tangisnya.

“Aku bukan monster, Inryung-ah. Heekyung yang meminta seperti ini.”

Perlahan, Inryung berusaha menopang tubuhnya, gadis itu menatap namja yang baru saja bicara padanya.

“Pembunuh… Kau pembunuh…”

Baekhyun menggeleng. Sementara seorang wanita berparas sempurna kini melangkah ke arahnya, mengulurkan tubuh mungil berbalut kain putih yang tampak memejamkan matanya, terlelap.

“Heekyung pernah meminta padaku… untuk tidak lagi bersikap baik padanya.”

Inryung terperangah mendengar penuturan sosok itu. Tapi Ia sudah terlalu lelah untuk sekedar berdebat dengannya.

Gadis itu kembali menatap tubuh sahabatnya, perlahan, membawa dirinya ke dalam ruangan itu sementara langkahnya sekarang terlihat sangat menyedihkan.

Darah segar bahkan masih menetes ke lantai dari tempat tidur itu. Dan kembali, Inryung menahan jeritannya. Tenaga gadis itu terkuras bahkan hanya dengan melihat pemandangan mengerikan di hadapannya.

“Tidak… Heekyung-ah… Ini salahku…”

Tangan Inryung gemetar sementara Ia bahkan tak berani menyentuh tubuh sahabatnya itu. Inryung terduduk, mengabaikan pakaiannya yang sekarang berkubang dengan genangan darah, Ia berusaha melepaskan ikatan erat yang mengikat tangan Heekyung.

“Ini salahku… Heekyung-ah…” dengan merangkak ke setiap sisi tempat tidur itu, Inryung melepas paksa ikatan erat kain yang berhasil meninggalkan jejak memar di pergelangan tangan dan juga kaki Heekyung.

“Aku tidak seharusnya meninggalkanmu… Maaf… Heekyung-ah…”

Gadis itu kini bersimpuh, sementara tangannya bergerak menutup sepasang mata Heekyung yang terbelalak. Gadis itu menggenggam erat jemari sahabatnya yang terasa dingin dalam genggamannya, dan menangis.

“Kau tidak boleh mati… Heekyung-ah… Ini semua salahku…”

Hampir dalam keadaan sadar namun tak sadar, Inryung menarik paksa selimut yang ada di bawah kaki Heekyung, menutupkan selimut putih yang telah berubah warna menjadi merah itu ke tubuh sahabatnya yang terkoyak.

Kembali, Inryung merengkuh sahabatnya erat.

“Maafkan aku… Heekyung-ah…”

Inryung masih terisak, mengabaikan tangisan lain yang Ia dengar dari seorang bayi yang Ia yakini telah membuat sahabatnya terbunuh. Ingin sekali gadis itu melempar pandang dan melihat seperti apa bayi yang telah membuat sahabatnya terbunuh.

Tapi Ia takut. Ia terlalu takut untuk bahkan melihat bayi itu, Ia enggan jika harus menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada sahabatnya.

“In…Ryung-ah…”

Inryung terpaku untuk sesaat ketika bibir pucat Heekyung bergerak membentuk kata dan nada lirih yang terdengar.

“H-Heekyung… Heekyung-ah…” tangisnya.

Kembali, bibir pucat itu bergerak pelan. Sementara hanya tarikan dan hembusan nafas pelan yang terdengar.

“Baekhee… baik-baik saja ‘kan?”

Tangis Inryung kembali pecah mendengar kalimat yang meluncur keluar dari mulut sahabatnya. Sungguh, bukan kalimat itu yang ingin Ia dengar saat ini. Bukan kalimat itu yang Inryung inginkan sebagai ucapan perpisahan dari satu-satunya sahabat yang Ia miliki.

Inryung menenggelamkan wajahnya, tangisnya teredam sedikit, tapi jemari gadis itu sekarang memutih karena genggamannya pada jemari milik Heekyung terlalu erat.

“Bodoh… Inryung bodoh…” gumaman itu terus keluar bagai sebuah lirik lagu dari mulutnya.

Gadis itu terus mengumpat dirinya atas apa yang terjadi.

“Sekarang apa, Baekhyun?” tanya Chanyeol menyadarkan Baekhyun dari sikap diamnya sedari tadi.

Sekilas, Ia melempar pandang ke arah Chanyeol.

“Apa yang Ia pikirkan?” tanyanya dengan nada acuh.

“Na Inryung?” tanya Chanyeol memastikan.

“Keduanya.”

“Gadismu tak lagi memikirkan apapun. Tapi yang satunya, Ia berharap jika saja waktu bisa di putar ke saat Ia bisa mencegah sahabatnya bertemu denganmu.”

Sebuah tawa pelan pecah dari bibir Baekhyun. Sementara tatapan kosongnya terarah pada dua orang yang terlihat menyedihkan, terutama karena salah satunya masih meraung tanpa henti, seolah tenaganya sama sekali tak terkuras habis untuk menangis.

“Jangan bercanda. Memangnya Ia pikir dunia ini cukup adil untuk kehidupan mereka?” gumamnya sembari membawa langkahnya menjauh dari pemandangan di ruang bernuansa putih yang penuh darah itu.

Sementara Chanyeol sendiri menatap dalam diam. Hal seperti ini lah yang selalu terjadi setiap kali mereka mendapatkan seorang keturunan. Tapi kenapa kali ini segala sesuatunya terasa begitu salah?

Namja itu sendiri tak mengerti, Ia belum pernah merasa setidak rela ini melihat kematian sekaligus kesedihan seseorang. Terutama karena sosok yang merenggut ketidak relaannya adalah manusia.

Makhluk yang paling di bencinya dan ingin Ia lenyapkan dari muka bumi.

Namja itu menghembuskan nafas, dan kembali menatap Baekhyun.

“Apa yang akan kita lakukan pada mereka berdua?” tanyanya.

Langkah Baekhyun terhenti sejenak.

“Akhiri hidup mereka tentu saja, kau bisa melakukan keduanya sekaligus bukan?” tanya nya membuat Chanyeol mendesah pelan.

Ia melempar pandang sekilas ke arah Inryung, dan kembali menatap Baekhyun.

“Aku tak bisa melakukannya. Kau tahu ada auraku di tubuhnya karena—”

“Kalau begitu,” Baekhyun memotong, Ia mengulurkan tubuh mungil dalam gendongannya pada seorang Succubus yang ada di sana, sebelum Ia kembali melanjutkan ucapannya, “aku akan membunuh Na Inryung. Kau lenyapkan saja tubuh Heekyung untukku.”

Sejenak, Chanyeol terdiam. Sekali lagi Ia merasa aneh saat tak rela jika harus membayangkan kematian seseorang. Tapi cepat-cepat Chanyeol melenyapkan kgeusaran sejenak itu, sebelum Chanyeol akhirnya mengangguk, mengukir senyum kecil di wajahnya yang entah mengapa memancarkan ekspresi lelah yang sarat di sepasang mata gelapnya.

“Kematian memang akhir terbaik bagi manusia bukan?”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

CuapCuap by IRISH:
Haloha! Siapa yang sudah menunggu chapter ini? Wkwk. Yang jelas thankyou banget buat yang udah sabar menunggu dan terus menanyakan pertanggung jawabanku sebagai author (?) untuk melanjutkan fanfict absurd ini XD oho! Seperti janjiku di chapter 7, chapter ini sudah kubuat lebih panjang daripada chapter 7 XD
Dan EHEM EHEM karena Chanyeol-Inryung lumayan dapet perhatian dari kalian jadi kubuatkan sedikit (?) bagian untuk mereka juga. Maaf ya kalau semakin kesini ceritanya makin ngebosenin, apa daya diri ini juga manusia. Jadi… ada komentar untuk chapter ini? Selain panjangin next chapternya, thor’ tentu saja karena bikin satu chapter yang panjang itu lumayan runyam XD thankyou~~

234 tanggapan untuk “IRRESISTIBLE LOVE – SLICE #8 — IRISH’s Story”

  1. Sumpah mereka semua jahat. .
    Jd ini slama ini yg kau tutupi baek, keji sekali kalian.tidak bisa kah mengerti 2 sahabat ini#aigo malang skli nasib kalian ber 2 huhu
    Semoga mereka ber 2 tidak matii

  2. wkt dngr kata2 jht chan ttg baek ke inryung, msh ga percaya. tp baek bnrn ngomong gitu ke heekyung?! tidaakk..!! kebayang jelas ini pas lahiran ky bella mo nglahirin reneesme di twilight saga. baek ga pny venom ky edward apah bwt bikin heekyung idup lg? aduh, naluri motherly’ny heekyung ke bakhee bikin terenyuh.. hah..?? ada aura chan di inryung?? apa mksd’ny? jgn bilang chan udah nanem bi2t di inryung? kpn? tega ih baekhyun ke heekyung, pdhl udah sweet bgt wkt bhs mo pny anak 3.. tp 1 aja udah ky gitu serem’ny >.<

  3. parahhhhhh jadi ternyata baekhyun seorang pembohong ulung, padahal udah terbuai sama sikap manis nya dia huhuhu kasiann heekyung…

  4. ini apa Thor? jd ini sifat asli baekhyun? jd selama ini perlakuan lembutnya sama heekyung cm palsu…
    trs nasibnya heekyung sama inryung gmna? masa mrka mati?
    lnjt baca lg ahhh

  5. Kaaak~aku reader baru mu. Salam kenal yaa..
    Sumpah,gk nyangka banget baek ngomong begitu. Aku mewek ka bacanya 😭 gk bisa bayangin adegan antara heekyung sama inriyung 😢
    Huee sediih banget sumpah 😭😭

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s