TRIANGLE (Chapter 7) [ending+extra chap]

tissakkamjong

TRIANGLE

tissakkamjong

Chaptered

Romance, School Life, Drama

13+

Irene (Red Velvet), Kris (ex-EXO), Sehun (EXO)

Ff ini murni dari otak author. Mohon maaf apabila ada kesamaan nama tokoh, alur, tema, waktu karena ketidaksengajaan. Ini murni dari otak author, dimohon untuk tidak copypaste. [Warning typo(s)].

Poster by Aerriblue

FMV by Alfath11

HAPPY READING

[ Chapter 1 2 3 4 5 6 7 8 ]

“Maaf aku tidak bisa menerimamu, Kai-ya.” Kai melepaskan pelukan Irene dengan penuh tanda tanya.

OoO

Chapter 7 (ending+extra chap)

IRENE POV

 

“Bae Joo Hyeon—“ Baru saja kubuka pintu kelas ini, suara berat sonsaengnim itu sudah terdengar dan ia menatapku dengan tajam. Aku menatap balik sonsaengnim dengan takut.

 

“Kau terlambat pelajaran saya, diluar sana. Berdiri sampai pelajaran saya selesai.” Hatiku mencelos seketika, aku bahkan hanya telat lima menit saja. Ah pasti tadi aku ketiduran saat diperpustakaan tadi, bodohnya aku. Padahal tadi niatku kan cuma istirahat sebentar. Kenapa pake ketiduran segala sih. Pabo.

 

“Tapi ssaem, saya hanya telat lima menit saja.” Aku mencoba menawar hukumannya.

 

“Bahkan jika kau telat sedetik pun, saya akan tetap menghukummu.” Aku menatap semua teman-temanku hingga kulihat Kai sedang cekikikan karena aku dihukum oleh sonsaengnim, dia pasti sangat senang sekali melihatku dihukum. Dasar bocah itu, tidak pernah berubah.

 

Aku membalikkan badanku dengan kesal dan berjalan keluar kelas. Aku harus kemana? Masa iya aku harus berdiri disini selama satu jam kedepan? Bagaimana kabar kakiku nanti? Ya ottoke. Aku mencoba berjalan dengan menjinjit kearah kantin, aku tidak mau berdiri disini sendirian, nanti apa kata murid lain jika mereka melihatku dihukum. Kulangkahkan kakiku perlahan-lahan agar sonsaengnim tidak tahu.

 

“Bae Joo Hyeon! Tetap disitu atau saya tambah hukumannya!” YAAAAAA!

 

Bagaimana mungkin ia tau kalau aku ingin mencoba kabur dari hukumannya? Sial! Kulihat wajah Kai yang sudah sangat merah akibat tertawanya yang mungkin terlalu keras dari jendela kelas ini.

 

NE SSAEM!”

 

OoO

 

KRIS POV

 

Ssaem, saya izin ke toilet.” Ucapku sambil berdiri dari tempat duduk ini, sonsaengnim hanya mengangguk saja, aku pun langsung berjalan keluar kelas. Toilet dari kelasku lumayan jauh, ya harus melewati kantin, kantor guru, kelas Irene—Irene? Ah dia sedang apa ya dikelasnya? Hari ini kan dia ada jadwal pelajaran sejarah dunia, pelajaran yang sangat dibencinya.

 

Kupercepat jalanku agar cepat sampai depan kelas Irene hingga aku melihat seseorang sedang berdiri didepan pintu kelasnya Irene. Yeoja? Sepertinya aku tidak asing dengan yeoja itu.

 

“Irene?” Aku mencoba menyapanya, lalu yeoja itu menoleh dan—YA ITU IRENE.

 

Ya, sebenci apasi kau dengan pelajaran sejarah hingga kau tidak mengikutinya hari ini?” Kutatap wajahnya yang kelihatannya bungkam itu.

 

“Aku tidak benci pelajarannya, pelajarannya saja yang membenciku.” Elak Irene dengan polosnya, sungguh menggemaskan. Ingin rasanya mengusap gemas rambutnya itu, tapi kuurungkan niatku.

 

“Dihukum lagi?” Aku tersenyum miring, maksud mengejeknya.

 

YA! Aku baru kali ini kok dihukum, kau pikir sudah berapa kali?” Irene menggembungkan pipinya dengan lucu.

 

“Kau tidak ingat dengan pelajaran lain? Perlu kesebutkan?” Kuteruskan ucapanku lalu tertawa.

 

“Tapi pelajaran ini kan baru sekali.” Katanya terus-terusan mengelak, sungguh pintar anak ini.

 

“Memangnya mau berapa kali? Lima kali? Sepuluh kali?” Aku mencoba menggodanya lagi lebih lama.

 

Ya Kris-ya, sudah sana. Jangan ganggu aku, atau ingin kupanggil sonsaengnim lalu ku suruhnya untuk menghukummu juga, mau?!” Katanya sambil mendorong-dorong bajuku dengan kesal.

 

Ara ara, sayangnya pelajaran yang membenci kau itu tidak membenciku.” Kataku lalu langsung berlari kearah toilet sebelum tangan Irene itu melayang mulus dikepalaku.

 

OoO

 

Kai melahap potongan ayam itu dengan sekaligus. “Bagaimana rasanya berdiri selama satu jam?”

 

Irene menelan nasinya dengan malas-malasan lalu menatap Kai dengan kesal, masih saja ia membahas tentang hukuman Irene, padahal Irene sudah malas sekali membahasnya. Irene terus menyendokkan nasi kedalam mulutnya tanpa menghiraukan pertanyaan Kai itu.

 

“Jadi, tidak mau menjawab? Ara ara, aku tahu perasaanmu. Pasti berat ya?” Kai tetap bertanya seraya mengunyah ayamnya.

 

“Telanlah dulu makananmu, jorok.” Jawab Irene dengan ketus.

 

Ya, berhentilah mengelak. Lagipula dulu kau sering belum menelan makananmu, tapi terus-terusan bicara.”

 

“Itukan dulu.” Irene mengambil sepotong bakso. “Mau tidak?” Lalu ia menaruhnya ditempat makan Kai.

 

“Wah wah, sekarang kau sudah berubah ya—ne, mau, gomawo.” Kai melahap bakso pemberian Irene dengan lahap.

 

“Lahap sekali kau, tumben. Aku saja yang sudah menghabiskan banyak energi, tapi tidak terlalu lapar ah.” Irene mengamati cara makan Kai yang begitu semangat, apalagi lauknya itu fried chicken—makanan favoritnya.

 

“Aku tidak pernah ‘tidak semangat’ jika lauknya ini.” Kai terus menyendokkan nasi kedalam mulutnya. “Jadi, hari ini kau latihan?” Irene hanya mengangguk saja.

 

“Sibuk sekali ya sebagai anggota band, apalagi menjelang kenaikan kelas begini, selalu ada pensi dan pasti band akan tampil. Kau memang tidak lelah?”

 

Ani, kalau memang hobi pasti tidak akan pernah lelah.” Kai hanya mengangguk-angguk saja mendengarnya. “Kau sendiri tidak latihan nari? Memang tidak ada yang akan ditampilkan nanti?” Irene bertanya balik pada Kai.

 

“Ada, besok aku latihan. Bukan hari ini.” Irene langsung menatap Kai dengan kaget, Kai pun menatapnya dengan tatapan—mwo? Wae? Ada yang salah?

 

“Berarti hari ini dan besok, tidak bisa pulang bareng dong?” Kai menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan, Irene pun menghembuskan nafasnya.

 

Yaa, jangan sedih gitu. Kan masih ada hari lain, kalau perlu weekend nanti kita pergi bersama keluar.” Hibur Kai. “Jinjja?” Irene memelototkan matanya dengan semangat.

 

Ne.” Jawab Kai lalu mencubit pipi Irene dengan gemas.

 

OoO

 

“Kata Kris tadi kau dihukum berdiri selama sejam, benar?” Sehun bertanya pada Irene seraya merapikan alat-alat musik yang setelah dipakai latihan beberapa jam. Anggota lain sudah pulang duluan kecuali Kris yang hari ini tidak latihan karena ia terpaksa menjemput eommanya di bandara yang baru saja pulang dari luar negeri.

 

Ya. Bisa tidaksih orang-orang hari ini tidak membahas tentang itu? Aku sudah cukup muak.” Jawab Irene sambil menutup penutup pianonya dengan perlahan. “Aw!” Irene menarik tangannya dengan cepat, saat jari telunjuknya terjepit penutup piano itu.

 

Wae?” Tanya Sehun, ia menghampiri Irene yang sedang berusaha meniup-niupkan jarinya—berusaha menghilangkan rasa ngilunya. “Pabo.” Sehun mengambil kotak P3K yang berada didekat wastafel lalu membukanya.

 

“Pakai nih.” Sehun memberikan plaster pada Irene. “Ya gunanya apa? Bahkan ini tidak berdarah Sehun-ya.” Sehun membuka bungkusnya itu dan merekatkan plaster tersebut dijari Irene.

 

“Terkadang kau lebih bodoh dariku, Sehun-ya.” Irene memencet-mencet jarinya dengan pelan, agar lemnya merekat dengan sempurna.

 

“Daripada lukanya membesar, sudah bagus kutolong kau. Jadi, mau pulang bareng tidak?” Ucap Sehun seraya menutup kotak P3K lalu mengembalikannya ketempat semula.

 

“Heum ani.” Jawab Irene dengan singkat.

 

Ya kau ini! Kau kan tadi abis berdiri selama sejam, apa kakimu tidak pegal? Apa kakimu tidak sakit? Bahkan jika kau tidak barengku, kau harus berjalan menuju halte. Lalu bagaimana jika nanti di bus kau tidak dapat tempat duduk? Tak taukah kalau jam segini jalanan sangat ramai, pasti kau akan kesulitan mendapatkan tempat duduk di bus dan kau harus berdiri lagi. Bagaimana jika nan—“

 

NE SEHUN-YA, AKU BARENG DENGANMU. KAJJA KITA PULANG. SUDAH SELESAI KAN BICARAMU?!” Teriak Irene dari arah luar ruang musik, tanpa Sehun sadari ternyata Irene sudah jalan duluan.

 

Yaaa tunggu aku.” Teriak Sehun sambil mengambil tasnya dan berlari kearah Irene berjalan.

 

OoO

 

IRENE POV

 

Sabtu ini aku terpaksa harus kesekolah, untuk apa? Ya hanya untuk ke perpustakaan, belajar sejarah untuk senin nanti aku ujian. Sebenarnya aku bisa saja meminjam bukunya dari perpustakaan lalu membacanya dirumah, hanya aku sangat malas membawa begitu banyak buku tebal kerumah. Pasti sangat berat.

 

Oppa, aku ingin kesekolah dulu ya.” Kataku sambil menuangkan susu hangat dari teko ini kedalam gelas, lalu meminumnya.

 

“Ngapain? Memangnya hari ini kau sekolah? Memangnya hari ini gerbang dibuka? Dan kenapa kau memakai baju bebas? Mana seragammu? Aih, kau ingin berbohong pada oppa ya? Bilang saja kau ingin pergi kencan kan? Bilang saja kau ingin per—“

 

YA OPPA! PERTAMA, AKU INGIN KESEKOLAH KARENA AKU HARUS BELAJAR DIPERPUSTAKAAN UNTUK SENIN NANTI AKU HARUS UJIAN. KEDUA, HARI INI GERBANG SUDAH PASTI DIBUKA. KETIGA, AKU MEMAKAI BAJU BEBAS KARENA SERAGAMKU DICUCI. KEEMPAT, AKU TIDAK BERBOHONG. KELIMA, AKU TIDAK PERGI KENCAN. AKU PERGI KENCAN BES—AH POKOKNYA AKU HARI INI KESEKOLAH.” Kata Irene dengan terengah-engah, sungguh oppanya jika sedang kepo seperti ini sangat menyebalkan. Terlalu banyak tanya, membuat Irene pusing dan terpaksa mengeluarkan segala amarahnya untuk membentak oppanya itu.

 

YA! Jangan bentak oppa dengan seperti itu, sungguh menyeramkan!” Kata oppanya sambil meringis pura-pura ketakutan, lalu ia kembali menyantap rotinya.

 

“Suruh siapa menyebalkan? Suruh siapa terlalu banyak tanya? Suruh siapa tidak bisa diam? Suruh siapa kau—“

 

“IRENE-YA SUDAH SANA PERGI. OPPA BISA-BISA MATI KESAL HARUS BERHADAPAN DENGANMU.” Teriak oppanya dengan kesal lalu mendorong-dorong punggung adiknya agar cepat berangkat. Irene lalu berjalan kearah pintu keluar—

 

“TANPA KAU SURUH JUGA AKU INGIN BERANGKAT DENGAN CEPAT.” dan menutup pintu rumah dengan keras.

 

Eommaappa­, kenapa kau harus melahirkan adik seperti itu?” Suho berdecak dengan kesal.

 

“AKU MENDENGAR ITU OPPA!”

 

OoO

 

2 minggu kemudian…

 

“Ah akhirnya selesai juga ujian kali ini.” Ucap Irene sambil meregangkan badannya bak kucing yang baru bangun tidur.

 

“Sekarang kita hanya harus fokus latihan untuk tampil besok di acara pensi.” Kata Kai sambil memasukkan pensil bekas ujiannya kedalam tempat pensilnya.

 

“Ah iya, hampir saja aku lupa. Padahal hari ini rasanya aku ingin pulang kerumah lalu tidur dengan nyenyak.”

 

“Hahaha memangnya kau bisa tidur nyenyak dirumahmu?” Tanya Kai seraya tertawa.

 

“Ah iya, kau mengingatkanku pada oppaku yang menyebalkan itu. Ah, untung saja hari ini ada latihan jadi aku tidak harus pulang dengan cepat kerumah dan bertemu oppa.” Decak Irene dengan kesal, Kai pun tertawa mendengarnya.

 

Kajja kita keluar.” Kata Kai, lalu ia berdiri dan diikuti Irene. Mereka segera berjalan berdampingan menuju ruangan latihan masing-masing. Untungnya ruang musik dan ruang tari bersebelahan, jadi mereka bisa jalan bersama.

 

“Latihan berapa jam hari ini?” Tanya Irene pada Kai. “Heum, tiga jam.”

 

Jinjja? Aku juga, pulang bareng ya?” Pinta Irene dengan puppy eyesnya itu. Kai menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda ia tidak bisa pulang bareng Irene.

 

Wae?” Tanya Irene dengan muka sendu, padahal ia sudah berharap sekali pulang bareng Kai.

 

“Aku ada janji dengan seorang yeoja.” Jawab Kai dengan menekankan ucapan akhirnya itu. Irene yang mendengarnya langsung mempercepat langkahnya menuju ruang musik yang sudah mulai terlihat.

 

Yaaa Irene-ya, yang kumaksud yeoja itu adalah kau. Dasar pemarah!” Kai mengacak-acak rambut Irene dengan gemas, lalu ia berjalan menuju ruang tari yang masih beberapa langkah lagi. Seketika juga senyum Irene mengembang saat itu juga.

 

OoO

 

IRENE POV

 

Oppa, kajja kita berangkat. Kenapa kau lama sekali sih? Aku bisa-bisa telat kalau seperti ini.” Kupandangi oppaku yang masih menyemprotkan parfumnya keseluruh bagian badannya, sungguh menyengat.

 

“Aku saja yang akan tampil hari ini tidak seribet kau, ayolah cepat.” Aku menarik lengan panjang kemejanya dengan kesal. Aku bisa telat hanya dengan kegiatannya yang sangat tidak berguna.

 

“Bersabarlah, oppa juga harus tampil tampan seperti namjachingumu. Apalagi pasti disana banyak yeoja cantik, oppa juga harus tampil dengan keren agar mereka terpikat dengan oppa.” Jawabnya sambil menyisir rambutnya yang hitam itu.

 

Ya kulaporkan pada Ah Ra eonnie baru tau rasa kau!” Decakku dengan kesal, dia kan sudah bertunangan dengan Ah Ra eonnie dan masih saja genit. Sifatnya sangat tidak bisa berubah dari dulu.

 

Andwaeeee, pulang nanti kau kubelikan parfum kesukaanmu, tapi jangan laporkan itu, ne? Kajja.” Akhirnya selesai juga dandannya yang sangat lama itu, kami pun segera berjalan keluar rumah menuju garasi dan berangkat kesekolahku.

 

OoO

 

“Yak, itu dia penampilan dari band sekolah kita. Bagaimana? Bagus bukan? Jangan salah, walau mereka masih band baru tapi mereka sudah berkali-kali memenangkan lomba, ya kan Minho-ssi?” Kata Joy, selaku MC acara pensi sekolahnya itu. Joy yang merupakan teman sekelas Irene itu merupakan salah satu MC terbaik bersama rekannya, Minho, anak dari kelas Sehun dan Kris.

 

“Yap benar sekali, mungkin akan memakan banyak waktu sekali jika kita sebutkan award mereka. Dan, tidak lama lagi akan ada penampilan dari Kai, salah satu dancer terbaik disekolah kita. Ini dia, deep breath!” Minho dan Joy meninggalkan panggung itu, dan tak lama kemudian backsound itu mulai terdengar.

 

Irene yang sedang diruang ganti langsung berlari kearah lapangan untuk melihat penampilan Kai itu. Kai muncul dengan kostum putihnya lalu ia duduk dibangku besar. Suara music mulai terdengar, Irene memfokuskan tatapannya pada namja itu. Dia mulai melekuk-lekukan badannya seirama dengan musik yang berjalan.

 

“Geurigo namgyeojin heunjeok l.o.v.e

Nan imi naege jungdok

Neon imi naege jungdong”

 

Badan Irene bergetar seketika, melihat Kai menunjukkan smirknya diatas panggung. Mengucapkan kata-kata singkat dengan suara melemah dan aura ketampanannya yang membuat siapa saja pasti jatuh cinta. Irene terus melihat tarian Kai hingga selesai.

 

OoO

 

Tringgg…

 

Suara gelas yang diangkat tinggi lalu ditabrakan itu membuat kumpulan anak musik dan tari riuh sekali. Mereka sedang merayakan keberhasilan pensi mereka itu dengan makan bersama. Termasuk, Irene, Kai, Sehun dan Kris. Tertawa bersama dan berbincang bersama, itulah yang selalu mereka lakukan jika mereka sudah selesai melakukan acara dengan sempurna.

 

“Kau lihat tadi saat Kai menari diatas panggung? Seluruh mata memandangnya dengan terpesona, sepertinya kalau sekolah kita ada junior baru, pasti banyak yang mengincar Kai.” Goda Taemin sambil menyikut lengan Kai, yang disikut hanya tersenyum kecut saja.

 

“Ah aku lebih suka saat Chanyeol ngerapp tadi, sungguh indah.” Baekhyun memberi aegyonya pada Chanyeol dengan manja

 

Ya! Homo kau!” Chanyeol menjitak kepala Baekhyun, ia pun mengusap kepalanya dengan meringis.

 

Mereka melanjutkan makan-makan itu hingga satu-persatu member sudah beranjak pulang.

 

Kajja pulang denganku.” Kata Kai sambil berdiri dari bangkunya, ia menatap Irene—pertanda kalau ia mengajak Irene.

 

Mwo?” Irene hanya bisa mengucapkan itu saja. “Wae? Tidak mau? Yasudah.”

 

Ya! Aku mau, kau ini ish. Tunggu aku!” Teriak Irene, dia langsung menyambar tasnya dan mengejar Kai. Sehun dan Kris yang masih disitu hanya bisa berpandangan lalu bergeleng-geleng.

 

OoO

 

IRENE POV

 

Paboya, kita mau kemana?” Aku bertanya padanya sambil melihat jalan yang sedang kita telusuri ini, aku rasa ini bukan jalan pulang.

 

YA! Jawab pa—“ “Panggil namaku.” Aku langsung diam mendengarnya berbicara seperti ini.

 

“Kai-ya, kita mau kemana?” Tanyaku lagi dengan nada yang lebih dilembutkan, cih jijik sekali aku sebenarnya.

 

“Panggil namaku.” APA? Dia hanya menjawab itu saja? Aku kan tadi sudah memanggil namanya, apa dia tidak punya telinga?

 

YA! Aku tadi sudah memanggil namamu, apa kau tidak dengar? Apa kau—“ “Aku lapar, Joohyeon.”

 

DEG

 

Ah? Dia memanggil nama lengkapku? Apa itu tadi benar? Apa aku salah dengar?

 

Mwo? Kenapa?” Kai bertanya padaku, ia tetap menyetir dengan serius.

 

“Ngggg…” Lidahku kelu seketika, aku juga bingung. Kenapa seperti ini. “Nggg… Ah… Kenapa kau lapar? Baru saja tadi kita makan.” Aku bingung harus bicara apa, aku hanya menjawab dengan asal-asalan saja. Aku terlalu lemah jika seperti ini.

 

“Ah tadi aku hanya makan sedikit, lagipula aku ingin makan bersamamu malam ini. Gwaenchana?”

YA. Kai-ya, kenapa sih kau selalu membuat wajahku merah. Refleks aku mengalihkan pandanganku ke sisi kiri, ke sisi jalan. Aku harus sembunyikan muka merahku ini, aku tidak mau Kai tau jika mukaku sedang merah, pasti dia akan geer Ku tatap jalanan yang sedang kita telusuri itu sambil merenungkan panggilan dari Kai tadi.

 

OoO

 

IRENE POV

 

“Katanya lapar, tapi kau hanya beli semangkuk eskrim saja?” Omelku sambil memandanginya yang sedang makan eskrim di kafe dekat rumahnya. Kenapa dia harus jauh-jauh kesini mengajakku sih? Sudah jauh-jauh kesini, lalu nanti ia harus mengantarku pulang lagi. Itukan sama saja membuang-buang waktu.

 

Ani.” Itu saja? Kenapa daritadi di mobil ia hanya menjawab dengan singkat-singkat saja? Apa dia sakit? Apa dia sedang marah padaku? Ah rasanya aku tidak melakukan salah apa-apa daritadi. Aku menatap orang-orang yang berlalu-lalang di kafe ini, meskipun kafe ini tidak terlalu besar tapi cukup ramai.

 

Kajja.” Kai berdiri, aku melihat mangkuknya, sudah kosong? Lalu? Sekarang pulang? Ya aku tidak ingin pulang, aku masih ingin bersamanya.

 

“Pulang?” Tanyaku, Kai hanya diam saja dan menggandeng tanganku.

 

DEG

 

Seumur-umur baru kali ini dia menggandeng tanganku, aku merinding seketika. Ini lebih merinding dari jaman SMA dulu. Ini lebih membuatku deg-degan.

 

“Kai-ya…” Aku memanggilnya, bermaksud bertanya kenapa ia menggenggam tanganku, aku terlalu lemah untuk mengatakannya. Bukannya melepas, Kai justru mengencangkan genggamannya, aku hanya bisa diam saja dan diam. Jujur, aku juga nyaman digandengnya.

 

Dia masih menggandeng tanganku, aku mengikuti saja kemana jalannya, sampai kita menaiki tangga dari kafe ini, tangga? Mau kemana kita? Dilantai dua hanya ada sebuah pintu, Kai membukanya dan terlihatlah sebuah hamparan kosong. Jadi ini atap? Atapnya kafe tadi? Ya, sepertinya. Kai terus saja berjalan, otomatis aku juga. Lalu ia melepaskan genggamannya, aku menatapi pemandangan kota dari atas sini. Meskipun atapnya tidak terlalu tinggi tapi sangatlah indah.

 

OoO

 

Irene terus-terusan berlari sana-sini untuk melihat pemandangan dibawah dari atas atap itu. Dia terus-terus mengucapkan bahwa pemandangannya sangat indah.

 

“Keren sekali.”

 

“Lihat itu, itu apartemenmu kan? Terasa jauh sekali ya dari sini, padahal dekat.”

 

“Kok kau tau sih tempat ini?”

 

“Cantiknya.”

 

Dia terus-terusan berkomentar, sedangkan Kai hanya diam saja sambil tersenyum. Memikirkan sesuatu. Sesuatu yang harus dia akhiri.

 

“Bae Joo Hyeon…” Ucap Kai sambil mendekati Irene yang sedang ada dipojok kanan atap itu, Irene langsung menoleh dan mendapatkan Kai yang sudah ada dibelakangnya. Irene menatap Kai dengan muka merah, muka malu, dan yang pasti sangat deg-degan.

 

“Selamat hari jadi ke-100 kita.”

 

OoO

 

IRENE POV

 

Aku dari tadi berkomentar terus tentang pemandangan disini, sedangkan Kai? Dia diam saja dibelakangku, biarlah aku tidak peduli. Yang penting disini sangat indah, ah andai saja aku bawa kamera. Pasti daritadi aku sudah mengambil beberapa gambar dari atas sini.

 

“Bae Joo Hyeon…” Ucap Kai, aku mendengar langkahnya mendekatiku. Dan dia kali ini memanggil nama lengkapku lagi, lebih lengkap. Aku berbalik badan, bertujuan menanyakan ada apa dia memanggilku.

 

DEG

 

Jarak kita dekat sekali, mukaku sudah sangat panas dan merah. Beruntung hari sudah ingin malam, jadi semoga saja muka merahku tidak terlihat dengan jelas.

 

“Selamat hari jadi ke-100 kita.”

 

DEG

 

MWO?

 

AH?

 

HAH?

 

APA DIA BILANG?

 

JADI HARI INI?

 

AKU ANNIVERSARY?

 

M… Mwo?”

 

Lidahku sangat kelu saat ini, lebih kelu dari pada yang tadi. Aku diam, menatap matanya. Hari ini aku anniv dengannya. Bahkan aku lupa, aku tidak sadar, aku tidak ingat. Dan Kai? Dia mengingatnya, jadi ini yang membuatnya diam dari tadi? Pasti daritadi dia berharap aku ingat, sedangkan aku? Tidak sama sekali. Ini yang membuatnya diam daritadi?

 

Mian aku tidak ingat.” Aku tertunduk, aku merasa gagal. Gagal jadi kekasihnya, aku menyesal menerimanya dulu. Tidak, dia yang menyesal. Pasti dia sangat menyesal pernah menembakku dulu. Nyatanya aku sangat tidak bisa mengingat hal-hal kecil seperti ini. Bagaimana kedepannya?

 

Ne, gwaenchana. Aku rasa, kita harus mengakhirinya—“

 

MWO?!

 

Mengakhirinya?

 

Apa yang barusan dia katakan?

 

Wae?” Aku mencoba mengeluarkan suara meskipun parau.

 

“Aku kira awalnya aku kuat dengan hubungan kita, nyatanya tidak.” Ucap Kai sambil menatapku. Aku bisa melihat kebohongan dimatanya itu, mana mungkin dia mau mengakhiri hubungan ini?! Mana mungkin? TIDAK MUNGKIN!

 

“Memang awalnya aku menerima syarat itu, tapi setelah berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan hingga sekarang, aku tidak bisa melanjutkan syarat yang kau buat itu. Aku tidak bisa, aku tidak bisa jika seperti ini terus, aku tidak mau seperti ini terus. Aku rasa aku harus mengakhirinya, tidak, bukan aku, tapi kau juga.”

 

Dadaku sesak, sangat sesak, dia bicara apa sih?! Baru saja dia mengajakku ketempat indah ini dan sekarang dia malah mengacaukannya? Kenapa harus mengacaukannya disaat-saat seperti ini sih? Mataku sudah hangat, pasti sebentar lagi aku menangis, aku yakin.

 

“Bukan hubungannya, tapi syaratnya.” Aku tertegun, maksudnya apa? Jadi dia masih mau melanjutkan hubungan kita?

 

“Awalnya memang aku mengiyakan syaratmu, aku langsung mengiyakannya saat itu karena kupikir tidak ada jalan lain agar kau menerimaku. Namun lama-lama, aku merasa aku tidak bisa seperti ini terus, aku tidak bisa harus menutup-nutupi hubungan kita diluar sana, kecuali disaat berdua saja seperti ini. Aku tau kau tak bisa, tapi kau harus berusaha.”

 

“Apa kau tidak pernah merasa? Jika banyak yeoja mendekatiku, apa kau tidak merasa sedih? Ketika mereka menggodaku, apa kau tidak merasa sakit? Kau merasanya tidak? Kadang aku pernah berpikir, kenapa kau tidak terlihat sedih ketika banyak yeoja mendekatiku, apa kau tidak sungguh-sungguh menerimaku?”

 

AKU SEDIH KAI-YA. AKU SAKIT. SANGAT. MELIHATMU DIDEKATI BANYAK YEOJA. TAPI, JIKA MEREKA TAU BAHWA AKU KEKASIHMU, PASTI SEKARANG AKU LEBIH SAKIT. AKU TIDAK MAU ITU.

 

“Kenapa sih kau masih takut? Takut mereka membullymu seperti Seulgi, Yeri, Krystal, dan lainnya? Kau takut mereka menyakitimu? Kau takut yang dulu terulang?”

 

Kai menghela nafasnya, aku masih terdiam. Aku tidak bisa berkata apa-apa, tidak menyangka Kai akan seperti ini.

 

“Aku janji akan melindungimu, aku janji mereka tidak akan menganggumu lagi, aku janji. Kumohon lanjutkan hubungan kita dan hilangkan syarat itu.” Kata Kai, menatapku dengan memohon. Aku menunduk, menyembunyikan air mataku yang sudah mulai turun.

 

Aku memikirkan semuanya, aku sangat sayang pada Kai, tapi aku tidak bisa disakiti seperti Seulgi, Yeri maupun Krystal. Aku tidak bisa, aku tidak sanggup seperti mereka. Diperlakukan oleh anak-anak seperti mereka. Tapi aku tidak mau memutuskan hubunganku dengan Kai.

 

“B-bagaimana kalau aku tidak bisa—“ Suaraku terpotong. “Apa kau akan meninggalkanku?”

Suaraku sangat serak, aku menyeka air mataku.

 

“Tentu saja—“ Aku langsung menatapnya dengan kaget. “Tentu saja, aku tidak akan meninggalkanmu. Kalau kau tidak bisa, kita akan tetap berhubungan seperti biasa.” Kai tersenyum dengan lebar, aku tau itu bukan senyum senang, itu pasti senyum kecewa.

 

Aku harus bisa, aku harus kuat.

 

Ne, kajja kita lanjutkan hubungan kita dan hilangkan syarat yang pernah kubuat, dan jangan ingat-ingat lagi itu.” Aku menyeka air mataku kedua kalinya, aku berusaha tersenyum.

 

Jinjja? Apa itu tidak menyiksamu? Kau yakin?” Tanya Kai berkali-kali, dia sungguh khawatir padaku. Aku mengangguk dengan cepat. “Aku akan melindungimu, aku janji itu.” Aku tersenyum dengan senang dan bahagia, Kai mengusap-usap poniku dengan bahagia. Dia meraih tanganku, dan menarikku ke… PELUKAN?!

 

Kai memelukku dengan erat, sesak tapi terasa nyaman. “Ngggg…” Aku mencoba bersuara tapi tertahan. Kai malah mengencangkan pelukan kami. Tanganku masih menggantung, aku tidak memeluknya balik, ah belum maksudku.

 

Kai masih memelukku lama sekali, aku ingin melepasnya, tapi tidak bisa. Aku berusaha mengangkat tanganku dan… memeluknya balik. Mukaku sudah sangat panas dan merah sepertinya. Aku menaruh kepalaku didadanya, jujur ini sangat nyaman.

 

Aku memejamkan mataku, mencoba mengulang momen 100 hari yang lalu. Momen yang sama seperti ini, sama-sama sedang berpelukan diatap. Bedanya, 100 hari yang lalu aku tidak membalas pelukannya, dan sekarang aku membalas pelukannya dengan bahagia. Aku memejamkan mata lebih kencang, mencoba menghilangkan bayang-bayang ‘mantan kekasih’ Kai yang terus ada dikepalaku. Aku harus bisa melewatinya bersama Kai. Karena dimulai dari 100 hari ini, hubungan kami berubah. Menjadi lebih baik. Ya.

 

 

 

END

 

tissakkamjong’s note : 1… 2… 3… ALHAMDULILLAH YARABB akhirnya ff ini selesai juga yay! Seperti yang pernah author bilang minggu lalu, chapter ini merupakan chapter terakhir dan yup benar! Ini merupakan chapter terakhir, tapi jangan sedih karena author insyaAllah nyiapin bonus chapter, bonus chapternya itu merupakan chapter flashback yang nanti isinya flashback pas Irene nerima Kai. Dan chapter ini juga merupakan extra chapter karena panjang banget, kalo kemaren kan pendek karena setengah chapter biasa, kalo ini panjang. Buat bales dendam supaya kalian gak capek2 nunggu lama eh taunya pendek hahaha.

 

Pasti ada yang bingung sama ceritanya ya?

“Thor kok tiba-tiba jadian sama Kai?”

“Thor kok awalnya aneh?”

“Thor kok gak nyambung sama chap sebelumnya?”

“Thor kok awalnya katanya Irene nolak Kai tapi kok tiba-tiba udah jadian 100 hari aja?”

“Thor itu syarat apa? Kok ngegantung sih?”

Yap! Itu memang sengaja, awalnya Irene nolak Kai tapi akhirnya Irene nerima Kai juga karena ‘sesuatu’. Apa itu sesuatunya? Tunggu aja di bonus chapter nanti ya kkk disitu nanti bakal dijelasin semua.

 

Jadi author awalnya di chapter ini itu pengennya kalian nggak tau kalo yang diterima Irene itu ternyata Kai, jadi awal-awalnya langsung dibuat mereka kayak biasa aja gitu, padahal aslinya Irene sama Kai udah jadian, udah 100 hari malah. Jadi kayak buat surprise gitu buat para readersnya kkk^^

 

So, gimana? Dapet gak feelnya? Semoga dapet ya hahaha meskipun ini chap terakhir (nanti ada chap bonus kok) tetep like+comment+share yaa! Tunggu aja ya bonus chapternya, dan nanti bakalan ada beberapa ff oneshot dari author, tunggu yaaa! Gomawo^^

19 tanggapan untuk “TRIANGLE (Chapter 7) [ending+extra chap]”

  1. Keren thor, feelnya dapet pas diakhir akhir itu :’v saya suka saya suka. Tapi aku masih bingung tentang hubungan Sehun sama Irene nya apa ‘-‘ terus kalo boleh saran, pas Irene nya nanya ke bangKkam ”Kok kau tau sih tempat ini?” mungkin akan lebih enak kalo ditambah kata ‘bisa’ jadi ”kok kau bisa tau tempat ini?” atau jadi ”bagaimana kau bisa tau tempat ini?” gitu. Sebenernya ada beberapa yg menurutku bakal lebih bagus kalau ditambah, biar lebih dapet lagi feel-nya. Maaf komennya panjang thor :’v kelanjutannya ditungguu yo bonus nya jugak 😀

  2. woahhh…kakkk..daebak super daebak!! Oh My God! ituso sweet…awalnya sih bingung apa kai sama irene itu udh jadian blm. tapi ko kayaknya yg lain biasa” aja. kadang” aku mikir kalo irene itu di sekolah cuma punya tmn cowok. haihhh… lupakan, tapi sumpah kak aku gk bisa bayangin hubungan mereka udh 100 hari??? dan yg lain gk curiga gitu? woah mereka jalanin hubungan mereka tanpa ketahuan sedikitpun?? aigooo….daebakkk

  3. Panjang bgt ceritanya, agak cape sih bacanya
    Tp aku ngerasa aga ngebosenin karna saking panjangnya chapter ini
    Terus msh banyak pertanyaan yg terjadi di chapter ini. Semoga bonusnya memuaskan. Ditunggu karya lainnya!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s