Erase [Chapter 1]

erase

Erase [Chapter 1]

Author : Honeybutter26

Cast : Park Chan Yeol || Kris Wu || Kim Da Som (OC) || Purple Lee (OC)

Length : Twoshoot

Genre : Angst || Sad || Romance

Rate : PG 17+

Disclaimer : Dibuat karena kesengsem sama lagunya HyoLyn x JooYoung yang berjudul Erase beserta MV-nya.

Soundtrack : HyoLyn x JooYoung – Erase

Disclaimer : Fanfic ini murni hasil dari pemikiran otak kelam saya,kalau ada kesamaan dengan ff lain itu bukan suatu kesengajaan. Ini juga pernah diposting difp exo juga di wordpress pribadi saya http://farahdiba26.wordpress.com

Summary:

Sekeras apapun mereka mencoba, mereka tak akan bisa kembali bersama. Karena seperti itulah cinta diantara mereka.

 

“Semakin jauh kau ku raih, aku selalu memikirkanmu. Tanpa kau ketahui, mengapa? Aku terus merindukanmu?”

 

Erase

Malam-malam yang dilaluinya masih saja sama. Sepi dan membosankan. Hampa mengisi relung hatinya yang terdalam. Tiap hari yang dijalaninya masih tak berubah. Masih berada dalam rangkuman sebuah kata monoton yang seperti tiada akhirnya.

Namun entah hari ini Dewi Fortuna yang mendatanginya atau justru setan yang sedang mencoba mencari hiburan darinya. Malam ini kata monoton itu seakan hilang dalam satu kejapan mata.

Chan Yeol menolehkan kepalanya saat suara stiletto itu menggema keras karena berbentur dengan kerasnya lantai. Matanya tak berhenti lepas dari sosok yang kini mendudukan diri tiga kursi disampingnya.

Mata itu tersenyum dengan indahnya seperti yang selalu Chan Yeol ingat dalam benaknya. Lekuk tubuhnya terbalut mini dress hitam yang senada dengan stilettonya. Suara itu masihlah terdengar seperti gemerincing lonceng yang samar-samar terlintas dipendengarannya.

Semuanya masih sama, kecuali helaian selembut sutra itu kini telah tumbuh memanjang. Dia mengikatnya tinggi-tinggi membuat leher jenjang yang pernah menjadi sandarannya itu terekspos dengan jelas. Wajahnya yang jelita dipoles dengan riasan smoked make up pada bagian matanya.

Hello.”

Inginnya Chan Yeol mengucapkannya lalu melihatnya tersenyum membalas sapaan yang ia lontarkan. Namun lidahnya terlalu kaku dan membuat satu kata itu terucap lebih dulu oleh seorang bartender berpawakan tinggi yang tengah menata gelas-gelas pada tempatnya.

“Kau datang sendiri?”

“Iya. Aku merindukan kekasihku. Sangat.”

Pria itu terkekeh ringan mendengar ungkapan kalimat itu. Jarinya bergerak menyentil hidung mungil didepannya. “Mau berkencan setelah ini?”

Chan Yeol mencengkeram kuat gelas sloki ditangannya. Menenggak jagger-nya dalam sekali tengak. Mengabaikan rasa terbakar pada tenggorokkannya karena minuman beralkohol itu. Hatinya jauh terasa lebih panas sekarang.

***

Pagi datang menyapa setiap kehidupan dibumi. Semilir angin awal musim dingin membuatnya enggan menyingkap selimut dan keluar dari alam mimpinya. Hingga sebuah suara yang disertai tepukan ringan dipunggungnya mau tak mau membuat Chan Yeol terjaga.

“Ayo bangun. Kau harus bekerja, bukan?”

Chan Yeol tersenyum cerah mendapati sosok bidadarinya sudah berada didepannya kini. “Cium aku dan aku akan bangun, Tuan Putri.”

“Kau bau alkohol, Park. Cepat bagun, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu,” Lalu wanita itu melangkah keluar dari kamarnya. Meninggalkan Chan Yeol yang hanya mampu menghela napas beratnya.

***

Kaki jenjang itu bergerak dengan tenang menuju ruang makan. Senyuman terhias pada pahatan sempurna wajahnya. Tangan kekarnya bergerak melingkari pinggang ramping wanitanya.

CHUP

Sebuah kecupan mendarat di pipi putih bulat favoritnya itu. Wanita itu membalas dengan senyuman juga elusan lembut pada pipi kekasihnya.

Good morning, Baby,” ucap sang pria.

Morning. Duduklah kita sarapan bersama.”

Dia masih enggan melepas rengkuhan itu pada tubuh ramping wanitanya. Dagunya ia tumpukan pada pundak sempit sang kekasih. Menghirup dalam-dalam pheromone beraroma lavender yang menguar dengan kuat dari tubuh itu.

“Bisakah kita melakukan sarapan pagi ini sambil berpelukan?” Wanita itu terkekeh dan kembali mengelus pipi tajam sang pria yang masih setia mendekapnya.

“Jangan konyol, Kris. Cepat duduk ditempatmu, anak manis.”

Kris merengut. Ia melangkah dengan kesal ke kursinya. Duduk dan menumpukan dagunya pada sebelah tangan dengan raut merajuknya.

Jemari lentik itu menyentil hidung mancungnya. Kris mengaduh dan semakin memberengutkan wajahnya. Namun wanita itu justru terkekeh dengan keras.

“Berhenti memasang wajah seperti itu, Kris. Kau menjijikan.” Kris mencebikkan bibirnya. Jemarinya saling bertaut dan dagunya kembali menumpu disana.

“Cium aku dan aku akan memaafkanmu.”

Mata bulat itu memicing. Lalu Kris kembali mendapat sentilan dihidungnya. Pria tinggi itu mengelus hidungnya yang sedikit memerah.

“Tidakkah kau sudah puas menciumiku sepanjang malam?”

Sorot mata keduanya bertemu dalam satu tatapan. Kris menyeringai kemudian. “No, never if it’s you, Baby.”

***

Decitan suara ban dan rem yang bergesek menggema dengan keras di basement parkir yang remang dan masih sepi pagi itu. Sepasang stiletto yang menumpu dua kaki jenjang itu turun dari mobil Audy berwarna silver tersebut. Namun belum sempat wanita itu turun, sebuah tangan menariknya kembali kedalam mobil.

“Ada apa?” Tanyanya pada sosok lelaki disampingnya.

“Selamat bekerja. Aku akan menjemputmu untuk makan siang nanti,” Wanita itu mengangguk dengan senyum tipis yang tersemat disudut bibirnya.

“Purple.”

“Ya, Chan Yeol?”

Chup

Tanpa peringatan bibir tebal Chan Yeol disatukan dengan bibir merah merona Purple. Chan Yeol diam sejenak, meresapi sengatan-sengatan manis direkahan itu. Kepalanya mulai bergerak kekiri dengan perlahan, menyesap wangi mint yang menguar dari dalam mulut kekasihnya. Bergerak kekanan dan mengaitkan lidah mereka ketika belahan bibir kekasihnya mulai terbuka.

Chan Yeol masih betah dengan kegiatannya. Ciuman itu berlangsung lama dan perlahan. Beberapa kali keduanya mengambil posisi untuk dapat meraup oksigen disela ciuman mereka. Lenguhan-lenguhan kecil tercipta saat Chan Yeol tak hentinya bergerak menggoda dalam rongga mulut wanitanya.

Tangan besarnya merangkum pipi sang kekasih dengan sesekali mengelusnya pelan. Menghantarkan rasa sayang yang dimilikinya pada sang terkasih.

Chan Yeol melepas pertautan bibir mereka dengan perlahan. Ia tersenyum, lalu mengusap sisa panas yang tertinggal dibibir Purple dengan jemarinya. Bibir itu semakin memerah karena ulahnya. Dan Chan Yeol selalu suka dengan itu.

Chup

Bibirnya beralih mengecup kening Purple. Mengalirkan rasa sayang yang begitu tulus untuk wanitanya. Mata mereka bertemu untuk beberapa saat hingga akhirnya terputus karena Chan Yeol membawa Purple dalam pelukannya.

Pheromone-pheromone dalam tubuh Purple mulai bereaksi pada penciumannya. Membawa efek rileks karena wangi jasmine dan citrus pada tubuh Purple menguar dengan kuat. Chan Yeol melonggarkan pelukannya, ditempelkannya kening dengan kening. Berada sedekat ini dengan Purple selalu saja membuat tubuhnya melemas karena hormon yang tiba-tiba melunjak.

Tangannya menjalar hingga merangkum wajah Purple lagi. Ia kembali menempelkan bibir mereka dalam sebuah ciuman lembut. Dapat Chan Yeol rasakan ada dua getaran berbeda dalam hatinya. Ada rasa senang namun juga sakit disaat bersamaan. Entah karena apa rasa sakit itu.

“Aku mencintaimu,” Gumamnya usai bibirnya terlepas. Sesuatu dalam dadanya terasa nyeri. Chan Yeol mencoba menghilangkannya dengan mencium kembali bibir kekasihnya. Namun rasa nyeri itu masih juga belum hilang. Membuat dadanya sesak oleh perasaan tak menyenangkan yang dulu pernah dirasakannya.

***

Purple memasuki ruang kerjanya. Ia melempar tasnya pada sofa kemudian menjatuhkan tubuhnya disana. Ini masih pagi namun tubuhnya sudah merasa lelah. Sebenarnya bukan fisiknya, namun hatinya terasa berat sekali.

Tangannya mengepal saat merasakan rasa sakit dijantungnya hingga membuat matanya memanas. Tidak, Purple tidak sakit jantung dalam arti denotasi. Ini sebuah konotasi dari perasaannya yang terasa tercabik-cabik hinga berdarah-darah.

Ia tak bisa memungkiri diri bahwa perasaan itu memang tak pernah ada untuk Chan Yeol. Meski mereka sudah bertunangan sejak dua tahun yang lalu.

Pipinya tak pernah sekalipun memerah atas semua sikap manis yang Chan Yeol perlihatkan padanya. Hanya ada rasa sesak yang memenuhi dadanya karena ia selalu mengingat pria lain disetiap kebersamaan mereka.

Purple masih mengingat dengan jelas betapa nyamannya rengkuhan pria itu. Betapa manis tiap perlakuan yang diberikan padanya hingga selalu membuatnya memerah sampai lemas. Betapa Purple selalu merasa terlindungi dengan lengan kekar yang selalu melingkari tubuhnya dengan pas itu.

Ia tentu merasa bersalah pada Chan Yeol. Pria itu terlihat begitu tulus dengan perasaannya. Berbanding terbalik dengan dirinya yang tak pernah dapat membalas perasaan Chan yeol padanya seberapa pun kerasnya ia mencoba.

Purple gadis jahat. Dia tahu itu dengan sangat. Seperti sudah tercetak dengan besi panas didalam otaknya. Chan Yeol terlalu baik untuk disakiti, namun mereka tak punya pilihan untuk pergi. Mereka harus tetap bersama apapun yang terjadi.

***

Kris memandang keluar dari dalam jendela kamarnya. Salju turun tidak terlalu lebat hari ini. Namun cukup sendu baginya saat mengingat hari-hari dimana ia masih bersama wanita yang disayanginya. Ingatan-ingatan itu terputar kembali dalam kepalanya.

Kesedihan akan berakhirnya hubungan cinta mereka kembali mengoyak jiwanya. Masih ia ingat dengan jelas bagaimana mereka berpura-pura untuk baik-baik saja disaat terakhir kebersamaan mereka.

Flashback

Hari itu sama seperti hari ini dimana salju turun dengan tenang. Tidak terlalu lebat hingga membuat jalanan tertutup oleh butiran putih itu. Meski tetap saja suhunya terasa begitu dingin hingga menyentuh tulang.

Mereka bersama seharian penuh. Pergi ke taman untuk bersepeda. Bersenang-senang di taman bermain. Melakukan hal manis dengan membeli benda couple di outlet aksesoris pinggir jalan. Saling menggenggam tangan dan merangkul dengan hangat. Seperti bagaimana biasanya kencan mereka berlangsung.

Malam itu mereka memutuskan duduk di balkon apartemen Kris. Wanita itu bilang dia ingin memeluk Kris semalaman. Mereka menyalakan kembang api kemudian tertawa dengan riang bersama. Mengesampingkan sesak dihati mereka yang tak kunjung bermuara.

“Apa kau kedinginan?” Kris bertanya sembari mengeratkan pelukan pada kekasihnya.

“Tidak. Tubuhmu selalu hangat saat cuaca sedang dingin seperti sekarang,” Jawabnya. Kris tersenyum kilat.

“Kalau begitu kau harus mengingatnya dengan baik.”

“Tentu.”

Keduanya kembali terdiam. Menikmati sunyi yang kembali menengahi suasana diantara mereka.

“Purple.”

“Ya, Kris?” Purple memandang Kris masih dalam posisinya. Kris menariknya untuk bersejajar dengannya. Menangkap wajah jelita dihapannya sebelum menarik Purple dalam pelukannya yang lebih dalam dan hangat.

Kris dapat mencium aroma jasmine dan citrus yang selama ini jadi fovoritnya saat Purple membalas dengan mengeratkan pelukan mereka. Dadanya kembali terasa sesak oleh rasa sakit yang menghujami jantungnya.

“Purple.”

“Ya, Kris?”

Whatever will be, you have to know that I will always loving you with no limit. You will always be my sun, my moon, my star, my soul and my purple rose forever.”

Kening mereka saling menempel. Dua napas hangat mereka bercampur membelai kulit wajah masing-masing. Purple memejamkan matanya erat-erat. Sesuatu mencoba keluar dari matanya. Tapi mereka telah berjanji tak ada air mata dimalam terakhir mereka ini.

Jadi Purple membiarkan matanya tetap tertutup saat Kris mulai mencium bibirnya. Bergerak dengan perlahan seperti sebuah tarian. Menyalurkan perasaan dengan sejuta makna lewat pertautan mereka. Begitu dalam hingga mereka dapat merasakan seberapa sakit yang menggerayangi hati masing-masing.

You can erase my number in your phone contact. But, don’t ever you mind to erase my love from your heart,” Ujar Kris saat ia melepas bibirnya dari bibir sang kekasih untuk sejenak.

Never.” Dan keduanya kembali berciuman. Begitu dalam dan terburu seakan besok tak akan pernah datang. Meninggalkan jejak-jejak panas sepanjang malam. Membiarkan pakaian mereka tercecer dilantai kamar Kris yang remang-remang malam itu. Mencoba meleburkan luka dalam kobaran panasnya dosa yang mereka ciptakan. Untuk terakhir kalinya.

Flashback end

Wanita itu terus memperhatikan Kris dari atas ranjang. Matanya menatap sendu punggung Kris yang terdiam menatap rintikan butiran salju yang turun dari luar jendela kamar.

“Kris.”

Kris berbalik. Tersenyum pada sosok cantik yang membalut tubuh polosnya dengan selimut putih ranjang mereka.

“Ya, Da Som?”

Da Som membalikkan tubuhnya yang semula tengkurap menjadi telentang dengan kepala yang diposisikan lebih rendah dari tepi ranjang. Membuat leher jenjangnya yang penuh bercak merah sisa dari malam panas yang Kris ciptakan terpampang dengan jelas.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

Nothing. Hanya saja kenapa kau jadi semakin sexy, sayang?” Kris menghampiri wanitanya. Berjongkok hingga membuat wajahnya berhadapan dengan wajah Da Som yang masih sayu sehabis bangun tidur.

“Ugh, so cheesy pervert man.”

CHUP

Bibir Kris mengunci bibir Da Som dalam sebuah kecupan selembut dan semanis permen kapas. “But you love this cheesy pervert man, right?” Kris mengerang saat Da Som memberi pinggangnya cubitan sebagai jawaban.

“Minggir! Aku mau mandi!”

“Ide bagus. Ayo kumandikan!”

Dan Kris mengangkat Da Som dalam gendongannya. Membawa serta selimut putih yang menutupi tubuh polos kekasihnya ke dalam kamar mandi. Mengabaikan pekikan Da Som yang menyuruh untuk menurunkan wanita itu dari gendongannya.

***

Dentingan sendok dengan piring mengisi keheningan diantara mereka. Tak ada percakapan karena keduanya tengah fokus pada kegiatan makannya. Atau mungkin itu sebenarnya hanyalah kepura-puraan belaka. Mereka terlalu canggung untuk menghangatkan keheningan yang membuat dingin suasana.

“Bagaimana pekerjaanmu? Apa menyenangkan?” Chan Yeol bersuara terlebih dahulu. Menanyakan hal basa-basi yang tak penting. Seperti biasanya.

Purple memandang Chan Yeol sejenak. Tangannya meraih gelas minumnya lantas meminumnya perlahan. “Seperti biasa. Bagaimana denganmu?”

“Euhm, seperti biasa. Tak ada yang menarik. Hanya ada kertas dan laporan yang harus segera dibaca dan diberi tanda tangan,” Jawab Chan Yeol.

Lalu hening pun kembali menyapa. Sejujurnya Chan Yeol merasa tak nyaman. Selalu saja seperti ini. Mereka tak pernah benar-benar terlihat melakukan percakapan hangat layaknya sepasang kekasih. Hanya satu atau dua kalimat basa-basi kemudian hening kembali.

Chan Yeol setidaknya ingin sekali saja ia dapat merasakan arti dirinya bagi wanita didepannya ini. Hubungan mereka terlalu monoton. Mungkin hanya sekedar formalitas diatas kata perjodohan yang mengikat mereka dalam sebuah hubungan.

Terkadang Chan Yeol akan membandingkan kisah asmaranya yang terdahulu dengan sekarang. Ia tentu saja menyukai Purple. Dengan setulus hatinya pula. Namun ia tak dapat mengetahui bagaimana perasaan Purple untuknya.

Inginnya Chan Yeol menjadi egois saja. Tapi ada kalanya Chan Yeol merasa ini terlalu membosankan. Tak ada sedikitpun kemesraan yang terjalin. Degub jantungnya yang cepat itu ternyata tak mampu ia tularkan pada sang kekasih.

Chan Yeol tahu, dengan sangat. Bahwa Purple masih menyukai mantan kekasihnya. Purple memang tak pernah bercerita tentang masalalunya. Namun Chan Yeol tahu, lebih tepatnya mencari tahu.

Meski Purple tak pernah benar-benar berkata bahwa Chan Yeol-lah penyebab pupusnya hubungan wanita itu dengan kekasihnya. Namun dari sinar mata redup itu, Chan Yeol dapat membaca jika seandainya saja perjodohan ini tak pernah ada, mungkin mereka masih bersama dalam sebuah kebahagiaan.

Setidaknya begitulah yang dapat Chan Yeol simpulkan. Membuat ulu hatinya berdenyut kesakitan saat mengetahui ada fakta lain dibalik itu semua.

Fakta tentang seorang yang pernah dikasihinya dimasa lalu.

***

Chan Yeol datang lagi ke bar malam hari ini. Ia sering kemari akhir-akhir ini. Mencoba melepas penat yang sebenarnya itu tak pernah benar-benar membantu sama sekali. Mabuk membuat kepalanya jadi pusing dan mendapat kemarahan kekasihnya dipagi hari.

Namun Chan Yeol tetap melakukan rutinitas ini lagi semenjak menyadari perasaannya tak pernah terbalas sama sekali untuk kekasihnya itu. Namun hari ini berbeda, Chan Yeol datang untuk dapat bertemu dengan seseorang. Sesungguhnya ia hanya menggantungkan pertemuan ini pada keberuntungan.

Lama Chan Yeol menunggu hingga akhirnya suara peraduan antara ujung stiletto dan lantai bergema dengan keras. Chan Yeol menoleh pada tiga bangku disampingnya. Sama seperti tempo hari dimana wanita itu datang kemudian duduk ditempat yang sama.

Dia memakai stelan dengan celana yang benar-benar pendek lalu ada jaket kulit hitam dari rancangan merk ternama yang membalut tubuh bagian atasnya. Rambutnya tergerai dan banyak aksesoris yang tertempel indah di pergelangan serta jemari lentiknya.

Dia tersenyum dengan manis seperti yang Chan Yeol selalu ingat didalam benaknya. Memesan cocktail seperti hari sebelumnya. Dia tampak begitu bahagia sekarang. Bersenda gurau dengan seorang bartender yang Chan Yeol ketahui sebagai kekasih wanita itu kini.

Tiba-tiba wanita itu bangkit saat Chan Yeol hendak menenggak tequilla dalam gelas sloki digenggamannya. Samar-samar ia mendengar wanita itu mengatakan toilet. Dan Chan Yeol merasa kali ini bukan setan yang sedang mencari hiburan darinya melainkan Dewi Fortuna yang mungkin salah menjatuhkan keberuntungan padanya.

Chan Yeol bangkit dari duduknya. Mengikuti kemana wanita itu pergi dengan diam-diam. Setelah menunggu kurang lebih lima menit, Chan Yeol dapat melihat wanita itu keluar dari dalam toilet wanita. Ia segera berpindah ke tikungan.

“Lama tak berjumpa, Kim Da Som.”

Dia berhenti karena merasa namanya dipanggil. Kepalanya menoleh dan seketika bola matanya membulat terkejut pada sosok pria jangkung yang tengah tersenyum miring padanya.

“Menemui kekasihmu, huh?”

“Itu bukan urusanmu!” Da Som berkata dalam geraman, tangannya mengepal kencang. Sementara itu Chan Yeol mulai berani berjalan mendekati Da Som.

“Kau sudah banyak berubah. Sepertinya memiliki kekasih seorang bartender membuatmu jadi sedikit liar.”

Wanita itu menatap nyalang pada sosok Chan Yeol. Senyum kecut tersungging dibibirnya. “Kau yang mengajariku untuk jadi seperti ini dulu. Apa kau lupa?” Balas Da Som sakratis.

Well, sebenarnya tergantung bagaimana kau menginterpretasikannya,” Dan kepalan tangan Da Som semakin mengerat. Seiring timbunan emosi dalam dirinya yang semakin meninggi.

***

Bagi Da Som, Chan Yeol itu lelaki brengsek yang meninggalkan dirinya hanya karena sebuah kesalah pahaman.

Selingkuh.

Itu tuduhan yang Chan Yeol berikan padanya. Sakit rasanya ketika orang yang kau cintai tak mempercayai apa yang kau katakan untuk mempertahankan hubungan kalian. Hingga pada akhirnya Da Som memilih untuk menyerah.

Mungkin bukan sebuah perpisahan yang baik, namun Da Som juga tak pernah mau memilih dipertemukan dengan Chan Yeol dalam keadaan seperti ini. Dia memang sudah banyak berubah semenjak hubungannya dengan Chan Yeol berakhir.

Mau bagaimana lagi? Cinta membuatnya hampir putus asa jika saja Kris tak menyelamatkannya waktu itu. Dan karena itulah mereka dekat hingga lambat laun rasa itu tumbuh dalam hatinya. Meski sepercik rasa untuk Chan Yeol masih bersinggah dihatinya.

Kris. Da Som mencintai pria itu. Dengan setulus hatinya. Meski kenyataan pahit harus ia terima beberapa waktu yang lalu. Hati pria jangkung itu belum sepenuhnya jadi milik Da Som. Seorang wanita yang ia ketahui sebagai mantan kekasih dari kekasihnya itu masih menempati ruang penting dalam hati Kris.

Sakit, tentu saja. Namun Da Som bisa apa? Nyatanya ia marah pun tetap tak akan bisa. Ia akan luluh dengan sebuket mawar putih, sebatang coklat serta kecupan manis dari kekasihnya.

Katakan dia terlalu gila dan buta karena Kris. Namun begitulah yang terjadi. Da Som bahkan tak perlu berpikir dua kali saat memilih tinggal bersama pria itu dalam satu atap yang sama.

***

Chan Yeol rasa Da Som benar-benar dengan mudah melupakannya. Melupakan segala kenangan kebersamaan mereka. Melupakan soal mereka yang pernah berada dalam satu hubungan.

Gadis itu terlihat baik-baik saja. Bahkan semakin baik jika diperhatikan. Terlihat akan bagaimana cara Da Som tersenyum dengan lebih cerah. Berbeda saat bersamanya diakhir cerita cinta mereka.

Andai Da Som tahu ia tak pernah baik-baik saja. Namun ia juga tak cukup berani untuk memulai kembali setelah tiga bulan hubungan mereka berakhir dan Chan Yeol tahu bahwa Da Som tak pernah sekalipun ada hubungan dengan Joon Myeon.

Ia merasa bersalah. Sejak hari dimana mereka berpisah Da Som tak lagi terlihat masuk kuliah. Wanita itu memilih untuk benar-benar menjauh darinya. Seperti apa yang pernah ia katakan dengan lantang pada wanita itu.

“Pergi dari hadapanku! Aku muak melihat wajah pengkhianat sepertimu!”

Chan Yeol pun mulai lagi pada kebiasaan mabuknya. Berpesta dengan gadis-gadis semalaman. Namun di pagi hari ia akan menitikan air mata. Menyadari saat sisi lain tempat tidurnya tetaplah kosong tanpa ada sosok Da Som disana.

Chan Yeol meremat dadanya saat mengingat kembali kepingan kenangan buruk itu. Andai kata-kata itu tak pernah terucap mungkin saja Da Som masih menjadi miliknya. Bagaimanapun juga Da Som masihlah wanita yang dicintainya, meski kini rasa cintanya telah terbagi untuk Purple, kekasihnya.

***

Siapa sangka setelah perpisahan yang begitu lama mereka akan dipertemukan kembali? Tak ada yang tahu bagaimana takdir Tuhan berjalan. Begitu pun dengan mereka yang terjebak dalam keheningan dan rasa canggung yang luar biasa.

Mereka ada di tempat pencucian pakaian sekarang. Duduk menghadap tumpukan mesin cuci yang sedang memutar pakaian kotor bersama air di dalamnya.

Purple tak sengaja menabrak Kris dan menumpahkan kopinya pada jaket pria itu saat mereka berada di coffee shop di seberang jalan sana. Ia pun memaksa agar Kris membiarkannya mencuci jaketnya.

Awalnya Kris sempat menolak namun ketika melihat raut sendu Purple ia jadi tak tega. Biar bagaimana pun mereka kini bukanlah siapa-siapa. Hanya sekedar orang asing yang pernah dipertemukan oleh lintasan takdir.

“Bagaimana kabarmu? Kau terlihat baik,” Purple memulai percakapan. Matanya terus memperhatikan kaleng kopi yang ada dalam genggamannya.

“Seperti yang kau lihat. Bagaimana denganmu?”

“Aku tak pernah baik tanpamu.”

“Aku baik-baik saja,” Kalimat lain terucap, bersamaan dengan sebuah senyuman yang ia paksakan. Mencoba terlihat sebaik mungkin untuk dapat meyakinkan.

Yeah, I can see it.”

Lalu kembali hening. Mereka kembali memandang mesin cuci yang masih memutar jaket Kris didalam sana.

Degub jantung keduanya bergerak cepat tanpa irama. Nyatanya meski sudah dua tahun terpisah deguban keras itu masih tetap tinggal dihati masing-masing. Berdiam diri bersama dengan sejuta rasa rindu yang menumpuk menyesakkan hati.

Sementara itu di tempat lain, Da Som rasa takdir Tuhan benar-benar rumit baginya. Bagaimana ia bisa bertemu lagi dengan sosok Chan Yeol setelah mereka bertemu di bar tempo hari? Terlebih sekarang dirinya terjebak berada dalam satu meja bersama sosok yang tak pernah ingin ditemuinya lagi.

Chan Yeol menariknya ke sebuah café saat mereka bertemu disebuah mini market. Memaksanya untuk duduk dan memesan dua gelas latte panas tanpa persetujuannya.

Entah kenapa sejak dulu Chan Yeol ini selalu melakukan hal sesukanya. Tak peduli Da Som mau atau tidak.

“Kau tak pernah berubah. Selalu berbuat sesuka hatimu,” Ungkapnya dengan nada sinis yang dibalas dengan sebuah kekehan oleh Chan Yeol.

“Sepertinya kau masih mengingat dengan baik seperti apa diriku, Kim.”

Da Som memalingkan wajah dengan tanpa minat untuk menjawab pernyataan Chan Yeol.

“Sepertinya hidupmu bahagia sekali sekarang.”

Da Som mendengus pelan dengan senyum miring yang tersungging disudut bibirnya. “Seperti apa yang kau lihat. Kenapa? Apa kau tidak bahagia? Apa kau menyesal berpisah denganku?”

Keduanya bertemu tatap. Mata dengan mata. Menyelami makna yang tersirat dari pancaran mata masing-masing.

“Bagaimana kalau jawabannya iya?”

“…”

“Bagaimana jika aku memang menyesal telah berpisah denganmu? Bagaimana jika sekarang aku benar-benar ingin kembali padamu?”

Chan Yeol masih menatap Da Som namun wanita itu memilih untuk kembali memalingkan wajah. Chan Yeol dapat melihat rahang Da Som mengeras pertanda wanita itu tengah menahan emosinya.

“Aku—sudah bukan apa-apa untukmu, ya?”

Chan Yeol tersenyum getir. Rasa sakit itu kembali menyerang ulu hatinya. Ia tak berani lagi menatap Da Som karena tak tahan dengan rasa sakit itu.

“Kita memang bukan apa-apa sejak awal. Aku— sudah melupakan semuanya. Aku menganggap semua memang tak pernah ada diantara kita berdua.”

Sakit sekali. Seperti ada peluru panas dari Revolver yang menembus tepat dijantungnya.

“Aku tahu.”

TBC

12 tanggapan untuk “Erase [Chapter 1]”

  1. Bagus ceritanya thor. Awalnya cukup bingung, tapi sdh pertengahan baru tau yg sebenarnya. Ttp semangat nulisnya ya. Dan juga, tolong yg cast nya Chan yeol kalau bisa. Fighting…

  2. jadi ini jodoh yang tertukar gitu maksudnya ? btw gua paling sedih sama cerita beginian, 2 orang saling cinta tapi gak ditakdirin buat bareng. tapi yg gak saling cinta malah bersama 😥
    btw gua tungu thor next chapnya. bhaaaaiiii

    1. Maaf, thor. Tadi kepencet langsung kepost, padahal belum selesai ngetik(?) Hp-nya stress(?)

      Ini bagus thor😍👍karena terinspirasi dari MV Erase, jadi ada beberapa kesamaan. Ceriatanya menarik, penasaran endingnya bakal gimana. Soalnya aku seneng banget lagu Erase ini😍oke thor, lanjutkan berkarya dan ditunggu part selanjutnya!~ \^^/

    2. lagunya emang addict banget yaaa apalagi jooyoungnyaaa aaaakkk dedek gak kuat bang… *udah*

      ho.oh aku coba jabarin maksud dari mv erase ini dengan imajinasiku sendiri soalnya maksud mv.nya itu ketangkep gak ketangkep gitu tapi nyeseknya dapet banget.. aaakk jadi laper..

  3. aku udah pernah baca ini di fb, tapi ceritanya lupa lagi haha jadi dibaca lagi aja deh sa seru.
    mereka tuh kyk yg pasangan ketuker gitu kan ya? purple mantan kris dan pacar chanyeol. dasom mantan chanyeol dan pacar kris. tp aku ga inget endingnya gmn. haha
    ditunggu chap selanjutnya dan karya2mu yg lain😁

    1. waahhh makasihnya udah baca dobel.. :3 terharu sekali daku..

      iya mereka itu pasangan yang tertukar nanti judulnya kuganti jadi pasangan yang tertukar aja kali yaaa.. bhaqs..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s