Kebimbangan Para Fujoshi [Episode: Berkah Di Musim Panas Jilid Dua!]

kebimbanganfujoshi-arinyessy

 

Choi Han itu sempurna luar-dalem di mata orang-orang. Bocah SMA itu bakal keliatan makin sempurna dan lengkap kalo aja statusnya bukan ‘single’.

Kim Junmyeon. Guru SMA yang punya senyum sales-penakluk-wanita. Kekurangannya ada dua; kurang tinggi dan masih sendiri.

Kei, Ye-in, Sujeong. Trio fujoshi yang diem-diem jadi shipper-nya Han–Junmyeon. Iya, mereka bertiga suka jadi pengamat guru mereka dan temen sekelas mereka sendiri. Abisnya dua orang itu interaksinya suka bikin ambigu.

T-A-P-I! Apa bener Junmyeon sama Han itu gay dan couple?

/Kumpulan cerita stand-alone (bisa dibaca tanpa mengikuti cerita sebelumnya) soal terduga couple gay: Junmyeon–Han, duo maut sohib Han; Taemin–Jisoo, dan trio fujo kita

Storyline by Len K

Starring: Choi Han (OC), Kim Junmyeon–Suho EXO, Lee Taemin SHINee, Hong Jisoo–Joshua Seventeen, Kim Jiyeon–Kei Lovelyz, Ryu Sujeong Lovelyz, Jeong Ye-in Lovelyz, Choi Seunghyun (TOP) BIGBANG, etc | Rate: T, PG-15 | Genre: School-life, Humor

Warning: AU, OOC, Typo, timeline gak jelas, humor garing, bahasa tidak baku, konten bromance yang mungkin nanti bakal nyerempet-nyerempet. Kepolosan anda mungkin akan ternodai karena membaca fanfiksi ini.

Karakter idols bukan saya yang punya, tapi OC Choi Han dan cerita punya saya.

Poster by arin yessy @ Poster Channel ( https://posterfanfictiondesign.wordpress.com )

Bacalah fanfic ini dengan jarak aman antara mata dengan layar gadget dan pastikan tidak membaca di tempat gelap

.

.

Hari pertama di kamp musim panas telah terlewati dengan baik. Momen-momen HaMyeonpun berhasil ditangkap oleh mata Trio Fujo kita. Kira-kira gimana sama hari-hari berikutnya di kamp musim panas? Apa bakal ada asupan OTP yang bikin Trio Fujo memanas? Atau… sesuatu yang tak terduga bakal menimpa kelompoknya Han?


Kebimbangan Para Fujoshi

Standard disclaimer applied. Cerita punya Nuevelavhasta

Episode 7 Berkah Musim Panas Jilid Dua!

 


 

 

 

Lanjutan dari episode enam kemaren. Sehabis masak dan sarapan yang dipenuhi momen HaMyeon, yang walau sebentar dan secuil tapi bisa bikin nafas megap-megap, setelah perut terisi dan para cacing makmur, rombongan Hyundai High mengikuti outbond. Outbond-nya biasa aja, nggak jauh beda sama outbond-outbond lainnya.

Isinya permainan-permainan yang bisa meningkatkan rasa kepercayaan, kerjasama, kepemimpinan, juga keberanian. Makin biasa lagi buat Trio Fujo soalnya nggak ada momen OTP mereka. Ya jelaslah, guru ‘kan bukan bagian dari tim siswa.

Tapi meski kecewa, seenggaknya kekecewaan itu bisa terobati sama Han. Kok Han? Iya, soalnya Han itu keliatan manly banget selama outbond. Aura leadership-nya menguar. Pinternya makin keliatan dan itu ngebuat kelompoknya Han jadi juara satu dalam kegiatan outbond ini. Pokoknya kalo ada Han, semua pasti beres.

Baru pas selesai outbond, mereka makan terus istirahat atau membersihkan diri alias mandi. Malemnya, khusus buat pengurus kelas wajib ikut malam keakraban bareng pengurus kelas lain. Tujuannya selain cari kecengan adalah supaya kerjasama antarkelas makin terbangun yang nantinya juga bakal memajukan event-event sekolah. Prok prok prok, cerdas sekali idenya.

Entah kebetulan apa, tapi kelompok kamp musim panasnya Han ikut malam keakraban ini semua. Taemin yang notabene itu Ketua Kelas, Han jadi wakilnya, Jisoo yang jadi bendahara, Kei sekretaris, Ye-in ama Sujeong masuk jajaran seksi-seksi. Bukan seksi yang ‘itu’ lho ye. Karena selain ketua-wakil-sekretaris-bendahara, pengurus yang wajib ikut tuh minimal enam. Jadi aja Ye-in ama Sujeong mengajukan diri secara sukarela karena seksi-seksi laen udah tepar. Ye-in ama Sujeong juga sekalian modus. Siapa tahu ada tempe, siapa tau ada momen OTePe.

Tapi sayang, malem itu Dewi Fortuna masih ngambek sama mereka. Nggak ada momen OTP berarti. Iya sih, Junmyeon juga ikut di malam keakraban itu. Tapi doi duduknya jauh di sono noh, di depan sendiri di jajaran para guru. Kalo udah gini, keliatan jelas deh status OTP mereka yang cuma guru ama murid. Yah, mau dikatakan apa lagi ya readers

Di malam keakraban juga nggak banyak kejadian seru. Mereka ngobrol, diskusi, sama maen games ringan macem maen kartu dari kartu UNO ampe kartu remi, tebak-tebakan, juga hiburan kayak nyanyi-nyanyi, lalu ditutup doa bersama terus balik tidur di tenda masing-masing. Jangan sampe salah masuk tenda. Bisa nyaho entar.

Di dalem tenda Trio Fujo, ketiga fujo itu udah tepar dengan cepatnya ke alam mimpi. Outbond tadi bener-bener menguras tenaga mereka. Belum besok mereka ada soft-hiking. Enakan temen-temen mereka yang bukan pengurus kelas dan udah molor dari tadi. Lah mereka? Niatan nyari momen OTP malah yang dicari-cari nggak ada. Nasib, nasib… tapi meski gitu, mereka tetep bisa tuh bobok dengan tenang kayak orang mati.

Sementara di tendanya Han dan anak laki-laki lain, semua juga udah molor dan ngorok. Bahkan ada yang ngelindur manggil-manggil Miyabi. Sakit tuh anak. Taemin ama Jisoo gak usah ditanya lagi. Mereka ‘kan pelor. Nempel – molor. Beda ama Han. Doi belum bisa tidur juga. Frustasi kagak bisa tidur, Han diem-diem keluar tenda.

Malem-malem gini gak jelas juga tuh bocah mau kemana. Yang pasti bukan cari nomer togel ato cari pesugihan. Holangkaya masa’ cari pesugihan lagi? Han jalan menjauh dari kompleks tenda dan akhirnya berhenti di salah satu tempat yang agak tinggian. Semacem bukit gitu. Di situ pohon-pohonnya jarang, langit berbintang jadi keliatan jelas.

Han menghela nafas sambil masukin tangan ke kantong celananya. Cuma dengan liat langit berbintang aja dirinya bisa lumayan adem. Rasanya damai di hati, dan tanpa sadar doi senyum. Sebodo amat besok harus bangun pagi terus soft-hiking. Doi udah biasa tidur cuma dua-tiga jam perhari.

“Wah, rupanya bukan aku saja yang terkena insomnia.” Suara yang nggak asing lagi buat Han itu dateng beberapa menit kemudian.

Han noleh sebentar ke belakang. Bener ‘kan tebakannya? Itu Junmyeon. Karena yang dateng cuma Junmyeon, Han balik liat langit lagi. Junmyeon yang sadar kalo dikacangin cuma bisa ngetawain diri sendiri. Udah biasa digituin sih. Junmyeon rapopo.

Akhirnya Junmyeonpun ikutan liat langit di sampingnya Han. Ecieh… malem-malem berduaan, liatin langit. Ada yang lebih sesuatu(?) lagi nggak?

“Langitnya indah bukan?” celetuk Junmyeon.

“Hm.” Ahelah Han, singkat amet jawabnya.

“Bagaimana hari ini? Menyenangkan bukan? Bisa melakukan aktivitas bersama teman-teman. Hal yang… cukup langka untuk kau dapatkan.”

Di luar dugaan saudara-saudara, Han senyum! “Eo, menyenangkan sekali, juga melelahkan.”

“Kalau begitu kenapa kau tidak kembali ke tenda dan tidur?”

Han langsung melirik nggak enak ke Junmyeon. “Kau menyuruhku untuk tidur, Junmyeon?”

Junmyeon yang dilirik atau dipelototi gitu malah ketawa. “Eo. Wae? Aku gurumu di sini. Wajar bukan? Aku berhak menyuruhmu tidur.”

“Tapi aku masih malas. Tidak bisa tidur.”

“Kenapa? Tidak bisa tidur karena masih terbayang-bayang cerita-cerita seram dari teman-temanmu? Tidak bisa tidur karena belum minum susu?” goda Junmyeon.

“Tsk! Tidak lucu, Junmyeon!”

Junmyeon tergelak. “Lalu kenapa heh?”

Han mikir bentar. “Tidak tahu. Hanya… yah, tidak bisa tidur. Itu saja.”

Kepala Junmyeon manggut-manggut kayak paham padahal aslinya mah nggak. Ya tapi mau ngomong apa lagi kalo yang diajak ngomong itu jawabnya singkat-padat-jelas dan irit ngomong.

“Ya sudah kalau begitu. Kau tidak asyik diajak bicara, aku kembali ke tenda saja. Lebih baik tidur. Kau juga, cepatlah tidur. Besok ada soft-hiking,” pesan Junmyeon seraya pergi meninggalkan tempat itu dan Han sendiri.

“Cerewet. Sudah, tidur sana!” usir Han. Junmyeon ketawa. Nggak berubah.

 

***

 

Besoknya, pagi-pagi para murid udah dibangunin dan seperti biasa, pemanasan dulu. Apalagi entar mereka pada mau soft-hiking. Habis pemanasan, tentunya sarapan. Kalo udah beres semua, mereka disuruh kumpul ke lapangan pake baju olahraga dan jaket―yang juga bagian dari seragam itu―buat baris sesuai kelompoknya.

Aturan mainnya gampang kok. Masing-masing kelompok harus datengin pos-pos yang ada mengikuti rute yang tertera di peta. Satu kelompok dapet satu peta. Mereka harus nyelesaiin permainan yang ada di pos-pos itu dan nanti bakal dapet cap sebagai tanda kalo mereka berhasil di pos tersebut. Kalo belum berhasil, bisa pergi ke pos lain dan ngulang di pos yang gagal tadi nanti. Kelompok yang sampai di garis akhir paling awal yang jadi pemenang.

Selain itu, mereka juga nggak boleh bawa peralatan elektronik atau gadget. Hape, handycam, walkie-talkie, dan tralalala lainnya harus dikumpulin ke guru Pembina. Kelompok yang melanggar bakal didiskualifikasi.

“Mulai!” begitu seorang guru teriak pake toa, semua kelompok langsung jalan.

“Han! Aku yang bawa petanya ya?” Taemin melambai-lambaikan peta di tangannya.

“Iya, terserah kau saja,” bales Han cuek. Biarlah duo TaeSoo itu yang hebring masalah ‘siapa yang megang peta’. Doi cukup jalan di belakang aja sekalian ngawasin temen-temennya.

Ecieh, diem-diem lu perhatian juga ya, Han?

Selama perjalanan, kelompoknya Han nggak bisa diem. Ngomong mulu, becanda mulu, ketawa mulu. Han cuma sesekali nyaut aja. Mereka juga berhasil nyelesein misi atau game di pos-pos yang mereka lalui dengan gampangnya. Kadang mereka juga ketemu kelompok lain di pos yang sama.

Permainannya nggak susah dan ekstrim kok. Paling kayak nyusun puzzle, tebak gambar, games outbond, dan sebangsanya. Nggak ada tuh, yang nyuruh makan kecoa atau roti basi. Atau disuruh masuk ke kotak penuh cacing, dan kawan-kawan. Sekali lagi, ini cuma soft-hiking diselingi games, bukan Fear Factor.

Pemandangan sepanjang perjalanan juga menyejukkan mata dan bikin adem serta tentram di hati. Udaranya masih seger, banyak ijo-ijo bukan kolor ijo. Andai aja boleh bawa kamera, mungkin anak-anak udah rame selfie dan nggak nyelesein kegiatan mereka ini. Makanya, segala bentuk gadget dan alat komunikasi dilarang. Kalo mau selfie bisa besok pas photo hunting.

“Tinggal empat pos lagi nih!” Jisoo udah semangat.

“Semangat! Tinggal sebentar lagi kita akan jadi juara!” sorak Kei.

“SEMANGAT!” seru semua minus Han.

“Oh! Junmyeon ssaem!” Sujeong langsung ngacir ke pos di depan mata mereka karena liat sosok Junmyeon dadah-dadah ke mereka sambil senyum lebar.

Plis deh, Myeon, lu beneran keliatan kayak pedofil tau nggak?

Nggak butuh waktu lama buat kelompoknya Han sampe di pos yang dijaga Junmyeon ama satu guru laki-laki lain yang masih muda. Mereka semua bengong liat ada gelas plastik berjejer di meja sama wadah minuman gede di sana.

“Kita disuruh ngapain, Ssaem?” tanya Ye-in.

Junmyeon nunjukin senyum salesnya. “Mudah kok. Kalian hanya harus meminum minuman ini dan menebak bahan-bahan apa saja yang ada di dalamnya.” Junmyeon jelasin tugas di posnya sambil mulai mengisi gelas-gelas plastik itu sama… cairan… hijau? Bukan slime tapinya.

Dahi Trio Fujo langsung mengkeret liat cairan ijo-ijo lumut itu. Feeling mereka nggak enak.

“Itu apa, Ssaem? Bukan yang aneh-aneh ‘kan?” selidik Kei.

Junmyeon ketawa. Duh, guru satu ini kok ceria sekali ya? “Bukan, bukan. Tentu saja bukan. Justru ini minuman yang berkhasiat. Nah, ayo ditebak. Sejauh ini belum ada yang berhasil lho.”

Gelas-gelas berisi cairan hijau itu udah berada di tangan kelompoknya Han. Awalnya mereka ragu buat minum. Pake ngendus-ngendus segala pula. Tapi Trio Fujo jadi orang pertama yang minum. Muka mereka langsung berubah jelek begitu cairan ijo itu terasa di lidah mereka.

“Ampun dah, Ssaem! Rasanya kok aneh begini?” protes Sujeong dan cuma dibales ketawa ama Junmyeon.

“Itu menyehatkan lho,” sahut Junmyeon.

“Bohong!” elak Kei. “Rasa nggak enak gini masak sehat sih?”

“Kebanyakan obat ‘kan begitu, rasanya tidak enak.”

“Apa ya? Apa ya?” Ye-in sok-sokan mikir. Padahal dalem ati ngarep ada yang bisa nebak.

“Aku beri kalian clue kalau begitu,” kata Junmyeon berdiplomatis. “Minuman ini adalah campuran dari tanaman-tanaman herbal yang terkenal di salah satu negara di benua Eropa.”

Clue dari Junmyeon bikin Trio Fujo ama Jisoo makin gondok. Clue-nya nggak bantu sama sekali! Benua Eropa itu luas, mamen! Bukan cuma Jerman, Inggris, Prancis, Italia, Spanyol aja! Ada tuh Negara-negara Balkan, Swedia, Norwegia, Denmark, Swiss, Negara-negara Skandinavia, Ceko, Hungaria, belum lagi negara-negara kecil pecahannya Uni Soviet. Mateng nggak tuh!

“Aku tahu ini apa!” seruan Taemin memberi pencerahan. Taemin minum minuman ijo itu sekali lagi sambil dicecap-diicip-icip. “Ada… peterselli. Lalu ada… rosemary dan sage…” kata Taemin tanpa diminta.

“Benar sekali, Taemin.” Ucapan Junmyeon bikin temen-temen Taemin takjub kecuali Han. Yah, nggak heran lah ya. Taemin ‘kan calon koki dan udah kemana-mana buat belajar masak. “Tapi masih kurang satu lagi.” Junmyeon sukses melunturkan ketakjuban di sana.

Timi,” kata Han kalem.

“Heh? Lu bilang apa Han?” Jisoo mendadak budeg.

Timi. Tanaman herbal terakhir yang dimaksud oleh Junmyeon ssaem adalah timi. Peterselli, rosemary, sage, dan timi adalah tanaman herbal yang terkenal dari Inggris. Apa aku benar, Ssaem?” Han langsung nyerobot ngejawab, jelasin, ama tanya.

“Ya, itu benar sekali Han.” Kelompoknya Han langsung jejingkrakan seneng.

Gimana nggak? Kelompok mereka adalah kelompok pertama yang berhasil lewatin posnya Junmyeon ssaem! Kei langsung nyodorin kertas yang harus dikasih cap sama Junmyeon ssaem.

“Selamat ya? Silahkan lanjut ke pos berikutnya.” Junmyeon melepas kepergian kelompoknya Han atau Semenya dengan senyum pepsodeng sambil dadah-dadah.

Kelompoknya Han balik jalan lagi.

“Tapi Han hebat ya, bisa menebak tanaman terakhir dengan benar. Wah, sesuai dengan kepintarannya, Han juga punya wawasan luas,” puji Sujeong.

“Kenapa hanya Han yang dipuji? Kau tidak memujiku, Sujeong?” protes Taemin. “Aku, berhasil menebak tiga dari empat tanaman herbal itu. Aku menebak lebih banyak dari Han tahu!”

“Ya tapi kalo Han nggak nebak yang terakhir ya sama juga. Nggak bakal berhasil kita,” kilah Sujeong.

“Ya tapi ‘kan gue berhasil nebak tiga dari empat! TIGA.DARI.EMPAT! Banyakan gue ahelah!” Taemin protes dengan nggak nyantenya.

Yang lain ketawa-tiwi liat Taemin ama Sujeong debat kusir begitu. Han sendiri kayak biasa, cuek beibeh. Tapi tiba-tiba, debat kusir itu berhenti karena sebuah seruan dan bunyi-bunyi lain.

ZRAAAKKK!

“AAAAAHHHH!”

“TAEMIN!”

Kejadiannya cepet banget. Taemin tiba-tiba kepleset di tebing tanah yang cukup curam dan sebelum yang laen bereaksi, Han udah langsung meluncur dan megang tangan kiri Taemin. Seketika, suasana jadi tegang banget. Itu si Han kalo lepasin si Taemin, mungkin Taemin udah gelundungan dan nggak tau kapan brenti atau brenti dimana.

“Petanya!” Taemin berseru dramatis pas liat peta kelompoknya melayang-layang ke bawah ketiup angin dengan tak berdayanya. Tangannya yang bebas ama badannya uget-uget kayak ulet pengen ngambil tuh peta.

“Dasar bodoh! Kau mau mati, hah?!” bentak Han dan langsung bikin Taemin kicep. Jujur, selama ini doi ama yang lain belum pernah liat Han ngomong sekeras itu. “Jisoo, bantu aku menarik Taemin! Dan kalian perempuan bertiga, bantu kami dengan menarik kami!” perintah Han.

Kalo medannya nggak segaswat ini, Han udah jelas bisa narik Taemin kayak narik ikan mujaer lewat pancingnya di kolam orang. Cuma selain posisi dan medan yang nggak menguntungkan, tangan kanan Han juga cedera. Pas meluncur tadi bahu kanan Han kena batu lumayan gede yang mengakibatkan kekuatan tangannya menurun. Sekarang aja masih nut-nutan tuh rasanya.

Jisoo langsung sigap ngulurin tangannya dan langsung diraih sama tangan kanan Taemin. Han sendiri mulai ngulurin tangan kirinya. Rasa sakit di tangan kanannya makin menjadi. Bisa gawat kalo lepas ntar. Jisoo yang badannya kecil gitu mana kuat narik Taemin?

“Tarik, sekarang!” komando Han.

Keenam bocah itu langsung ngeden berjamaah. Plis jangan mengkonotasikan ini sebagai hal-hal yang jorok. Mereka berusaha nylametin temen mereka, bukan kena panggilan alam. Dan akhirnya, berkat perjuangan bersama itu Taemin berhasil ditarik ke atas. Han yang bahu kanannya sakit langsung nyingkir dan megangin bagian yang sakit.

“Taemin, lu nggak kenapa-napa ‘kan?” tanya Sujeong was-was.

Taemin geleng-geleng kayak orang India. “Nggak, nggak apa-apa kok. Cuma bagian dada ama perut agak sakit. Paling lecet pas jatoh ama ketarik tadi. Terus otot tangan kiri gue rasanya kayak ketarik, tapi nggak apa-apa kok.”

“Yakin lo baek-baekhyun ekso? Eh, maksud gue yakin lo baek-baek aja?” tanya Ye-in.

“Iya, enelan deh. Ciyus nggak bo’ong.” Taemin mendadak alay.

“Tapi daripada itu…” lirih Kei. “Kalo petanya kabur, terus kita yang lanjutin ini soft-hiking gimana dong? Mau balik ke pos Junmyeon ssaem nggak mungkin, udah jauh. Sementara pos berikutnya juga sama-sama jauh.”

Omongan Kei bikin yang lain kicep seketika. Bener juga…

Han misuh-misuh dalem ati. Sepanjang perjalanan ini doi nyante-nyante aja. Alah cuma soft-hiking juga. Jisoo ama Taemin juga bisa baca peta. Masak gue mulu yang kerja? Begitu pikirnya tadi. Alhasil doi dari tadi cuma ngikut ama ngelamun alias doi sama sekali nggak tahu jalan. Sama sekali nggak ada di pikirannya kalo kejadiannya bakal kayak gini.

“A-aku hafal jalannya kok!” sahut Jisoo.

“Eh, yang bener lu, Soo?” tanya Taemin nggak percaya.

Jisoo ngangguk-ngangguk kayak anak metal lagi konser. “Iya, gue apal jalannya. Cuma ampe pos berikutnya tapi.” Jisoo mengakhiri omongannya dengan cengiran tak berdosa.

“Yaelah cuma satu pos! Kirain semua,” cibir Ye-in.

“Ya tapi ‘kan mending daripada nggak apal sama sekali,” ucapan Jisoo menohok Han dan yang lain yang ada di situ, “’kan nanti kita bisa minta peta ama guru yang jaga di pos. Kok kurang akal banget sih? Katanya anak Hyundai High.” Gentian Jisoo yang ngejek.

“Ya sudah kalau begitu, kita ikuti Jisoo saja. Aku juga ceroboh sekali tidak menghafal jalannya.” Han berdiri dan pura-pura seteronk. Padahal aslinya sakit di bahunya makin menjadi.

Kelompoknya Han nggak punya jalan lain. Mereka nggak bawa hape ato alat komunikasi laen. Di tas mereka cuma ada makanan ama minuman sama mantel jaga-jaga kalo ujan. Terpaksa deh mereka ngikutin Jisoo. Lagian cuma satu pos terus bisa minta peta lagi.

Tapi semakin mereka jalan, perasaan mereka makin nggak enak dan nggak nyaman. Apa bedanya kampret? Mereka udah jalan blusukan tapi kok belum ketemu juga posnya? Awalnya mereka berusaha berpikiran positif. Ah, jarak antar posnya ‘kan emang jauh. Mungkin emang belom nyampe aja. Ntar juga nyampe kok.

Tapi makin lama pikiran positif itu makin menipis. Mereka udah jalan muter-muter ampir satu jam lebih tapi kok belum nyampe juga? Mana jalan yang mereka lewati makin nggak jelas jluntrungannya gini. Feeling mereka makin cemas.

“Jisoo, lu yakin jalannya bener? Kok perasaan dari tadi kita cuma muter-muter nggak jelas ya?” tanya Kei was-was.

Muka Jisoo langsung pucet. “Kayaknya sih… bener…”

“APA LO BILANG? KAYAKNYA?” semua minus Han ama Jisoo teriak berjamaah.

“Ehehehehe.” Jisoo ketawa garing banget. Kayak seprei yang dijemur seharian ampe kering plus kaku gitu sama bau gosong matahari. Yang laen udah sweatdrop.

“Oke. Sepertinya… kita masuk terlalu dalam ke hutan dan tersesat,” celetuk Han.

“APA?!”

 

 

Di tempat final soft-hiking, satu kelompok kembali berhasil memasuki garis akhir. Mereka keliatan seneng banget walau nggak menang. Tapi, Junmyeon keliatan khawatir banget. Terus Junmyeon nyamperin salah seorang guru.

Sonsaengnim, apa kelompok Han sudah memasuki garis akhir?” tanya Junmyeon yang takut kelewatan.

Guru laki-laki tadi ngecek tab-nya. “Belum, Junmyeon ssaem.”

Nah ‘kan, bener tebakan Junmyeon. “Mereka kurang empat pos lagi setelah berhasil di posku. Seharusnya mereka bisa tiba paling awal, tapi mereka belum kembali sampai sekarang.” Iya, harusnya kelompoknya Han jadi pemenangnya.

“Oh, oke. Untuk sementara, akan kuinformasikan pada guru yang lain. Kita beri waktu setengah jam lagi. Jika mereka belum kembali, kita akan bertindak.”

“Ya, tolong.”

 

 

“Oke. Sepertinya… kita masuk terlalu dalam ke hutan dan tersesat,” celetuk Han.

“APA?!”

Semua yang ada di situ beku di tempat. Ya Tuhan, mereka cuma pengen kamp musim panas berjalan sesuai harapan. Dapet kecengan, liat banyak momen OTP, dan membuat banyak kenangan indah. Nggak pake kesasar di hutan gini. Tapi emang ya, ekspektasi seringnya nggak sesuai ama realita. Nyatanya sekarang ini mereka positif kesasar di hutan.

“Terus gimana dong?” Sujeong udah mau mewek. “Kalo nggak bisa balik gimana? Kalo kita dimakan binatang buas gimana? Jalan hidup gue masih panjang!”

“Jeong, tenang, Jeong! Jangan bikin kita-kita makin panik!” Taemin histeris. Ngeri juga bayangin doi nggak bisa pulang atau dimakan binatang. Kasian emaknya ntar, kagak ada yang disuruh-suruh. Atau lebih parahnya ntar doi berubah jadi manusia goa.

“Ini semua salah elu, Taem!” tuding Sujeong.

“Lah, kok bisa salah gue? Salah temen-temen gue?” Taemin bales nyengak dengan alay dan nggak nyambungnya.

“Ya coba petanya lu pegang yang bener. Pasti nggak bakal jatoh dan kita nggak bakal kesasar kayak sekarang ini!” bentak Sujeong. Taemin dalem ati ngakuin hal itu, tapi nggak mungkin ‘kan dia ngaku gitu aja ama yang lain.

“Lah kok nyalahin gue? Yang bikin gue jatoh siapa? Elu kan? Iya ‘kan?! Coba aja lu diem, nggak banyak bacot, nggak nyolot begitu, gue nggak bakal jatoh!”

“Enak aja lu! Ya elu itu tuh, harusnya jalan tuh ati-ati, liat jalan pake mata. Bukan dengkul!”

“Eh, sialan lu! Kok dari tadi elu sewot mulu ama gue sih? Salah gue apa ke elo, hah?! Iye gue tau utang gue belum lunas, tapi biasa aja kali! Nggak usah jadiin gue kambing hitam lu mulu. Jisoo noh salahin juga!” Taemin nunjuk Jisoo.

Jisoo yang tetiba keseret perseteruan itu langsung hebring. “Kok lu jadi bawa-bawa gue sih, Taem? Jangan seenaknya seret orang dong!”

“Gue punya alesan yang jelas, Jisoo. Yang bikin kita kesasar siapa coba? Elu ‘kan? Katanya lu apal jalan ke pos berikutnya, nyatanya apa?! Lu malah nyesatin kita semua! Nyesel gue ngikutin elu, sesat tau nggak!” Taemin masih nyengak mode: on.

Jisoo ketohok ama omongannya Taemin. Tapi yaa kayak Taemin, doi nggak mau ngaku gitu aja. “Gue ‘kan udah berusaha. Kalo lu nyesel kenapa sekarang lu nggak cabut aja, jalan sendiri sono! Coba petanya kagak ilang, ya nggak bakal kejadian kayak gini. Ini semua ‘kan gara-gara elu ngilangin petanya, Dodol!”

“Kok elu jadi ikut-ikutan Sujeong sih, pake nyalahin gue? Salahin Sujeong juga dong. Dia ‘kan yang udah banyak bacot ampe bikin gue jatoh!”

Sujeong yang lagi-lagi diseret langsung sewot lagi. “Lah elu kok nunjuk gue balik? Harusnya elu tuh yang ati-ati kalo jalan. Peta disimpen baek-baek. Lu aja yang teledor!”

Ngeliat tiga orang itu emosi dan saling sengak, Ye-in ama Kei jadi bingung dan salah tingkah. Entar ngebela si ini salah, ngebela si itu salah, ngebela si anu salah. Serba salah deh posisi mereka. Sementara Han cuma diem di tempat sambil meremin mata kayak orang lagi mikir.

Guys, udah dong berantemnya. Nggak capek apa?” Ye-in berusaha jadi penengah yang adil.

“Iya, Ye-in bener. Mending kita pikirin pake kepala dingin, jangan pake emosi,” sambung Kei.

“Yang emosi juga siapa?” sengak tiga orang itu dengan kompak.

Nah ‘kan, serba salah ‘kan…

Sementara Ye-in ama Kei berusaha menengahi pertengkaran itu, Han diem tapi mikir. Agak susah buat mikir emang, kalo sekitar lo panas begitu sama saling sengak. Tapi Han tetep berusaha.

Sebenernya doi nggak ada masalah. Han ini survivor sejati. Dia bisa survive di segala medan yang tak terduga walau minim informasi mengenai medan itu. Sebut saja medan-medan kayak hutan hujan tropis, pegunungan es, tundra, taiga, gurun, ampe laut. Pengalamannya yang cukup expert di bidang bertahan hidup yang kayak gitu ngebuat Songnisan itu masalah kecil.

Cuma masalahnya, Han bener-bener buta soal Songnisan. Saking sibuknya ngurus bisnis, doi nggak sempet tengok-tengok soal Songnisan. Selain itu, Han nggak sendiri. Coba kalo sendiri, mau dia kesasar dimana dan berapa lama juga dia nggak ambil pusing. Tapi kali ini ‘kan Han bawa anak orang. Nggak tanggung-tanggung, lima orang lagi. Mana yang tiga lagi emosi gitu. Apa nggak puyeng?

“Eh, biasa aja lu, Taem, Soo!”

“Lu tuh yang biasa aja!”

“Kok elu juga ikutan nyolot ke gue sih? Elu lagi PMS ya?”

“Gue nggak PMS, Jisoo! Rese lo ah! Makan tuh sni*kers!”

Guys, udahan aja napa?”

“Teman-teman, hentikan.” Nada dingin yang keluar dari mulut Han langsung bikin semua yang ada di situ kicep sama noleh horor-patah-patah ke arah Han. Auranya Han udah kayak aura kapten basket yang pendek dari anime beken di Jepang sono.

“Percuma kalian bertengkar seperti itu, tidak akan menemukan jalan keluar,” lanjut Han kalem tapi nyeremin. “Sekarang ini yang kita butuhkan adalah solusi untuk kembali ke kamp, bukan ribut-ribut pelampiasan emosi. Daripada membuang-buang waktu untuk ribut, kenapa tidak memikirkan cara kembali sebelum hari mulai gelap?”

Yang lain makin larut dalam keheningan yang syahdu bin aduhai. Bener juga omongannya Han. Ribut-ribut ampe urat keluar ama ngegas gitu nggak nyelesein masalah. Yang ada nambah masalah. Walhasil, mereka semua diem, mikirin cara balik ke kamp sebelum matahari terbenam hari mulai malam. Terdengar burung hantu suaranya merdu.

Han keliatannya juga mikir keras tanpa meduliin sakit di bahunya yang makin parah. Sepertinya pendarahan dalam, batin Han cuek. Han berusah mengingat-ingat denah kamp mereka.

Ada dua blok kamp, buat putra dan putri. Di sebelah utara blok kamp mereka ada lapangan tempat mereka biasa ngumpul. Terus tadi pagi pas mereka mulai perjalanan soft-hiking mereka pergi ke arah timur. Jadi, kalo mereka berangkat ke arah timur, maka pas pulang mereka harus ke arah barat. Nah, itu dia! Batin Han teriak ‘eureka!’ kayak Archimides.

Kepala Han langsung celingukan cari matahari. Tapi berhubung di sini pohon-pohonnya tinggi-tinggi dan cukup lebat, terpaksa Han manjat salah satu pohon di sana. Yah, walau tangannya cedera gitu.

“Han, mau ngapain?” tanya Jisoo.

“Melihat arah matahari,” sahut Han cuek. Han terus berhenti di salah satu dahan yang cukup gede dan kokoh buat liat matahari. Begitu udah nemuin arah barat, doi turun dari pohon langsung loncat kayak bajing. “Kita tadi berangkat soft-hiking menuju ke timur, itu artinya untuk kembali ke kamp kita harus mengikuti arah matahari terbenam, arah barat.”

Yang lain ngangguk-ngangguk paham. Untung ada Han, penyelamat kita semua. Penyelamat dalam arti laen lho ya. Entar dikira syirik lagi.

“Oke, tanpa membuang waktu lagi ayo jalan. Kita harus bisa mencapai kamp sebelum hari menjadi gelap,” komando Han.

 

 

Sementara itu di kamp, kepanikan kecil mulai melanda. Tak lain dan tak bukan adalah karena kelompoknya Han belom balik. Di saat kelompok lain udah bisa leha-leha melepas lelah, para guru malah kelimpungan pontang-panting kesana-kemari.

“Berdasar salinan kegiatan masing-masing kelompok, setelah kelompok Choi Han menyelesaikan misi di pos Junmyeon sonsaengnim, tujuan berikutnya adalah pos Kyunghee sonsaengnim. Tapi menurut pengakuan Kyunghee sonsaengnim, dirinya belum melihat kelompok Han. Begitu pula dengan guru di pos-pos sisanya. Selain itu, kelompok Choi Han telah berhasil menyelesaikan semua pos sebelum pos Junmyeon sonsaenngnim.

“Itu artinya, Choi Han dan kelompoknya terakhir terlihat di pos Junmyeon sonsaengnim. Atau dengan kata lain, dalam perjalanan menuju pos Kyunghee sonsaengnim. Setelah itu mereka belum kembali ke kamp sampai sekarang. Maka dari itu pencarian akan difokuskan pada area pos Junmyeon sonsaengnim dan pos-pos setelahnya,” jelas Wakil Kepala Sekolah panjang lebar.

Junmyeon sendiri nggak begitu merhatiin penjelasan atasannya itu. Yang ada di pikirannya cuma satu; bagaimana keadaan Han? Walau Junmyeon tahu kalo Han nggak selemah itu, tapi tetep aja doi khawatir setengah mampus.

“Baiklah, mari kita mulai pencariannya.”

 

 

Kelompoknya Han udah memulai perjalanannya ke barat mencari kitab suci. Eh, bukan ding. Maksudnya ke barat mencari kamp mereka, sejak beberapa waktu yang lalu. Atmosfernya diem tapi nggak ngenakin gitu. Ya apalagi kalo bukan karena tiga cecunguk yang tadi ngegas-ngegas?

Sujeong ama Ye-in jalan di depan, terus ada Han yang jalan sendirian di tengah. Di belakang, ada Taemin yang jalan ama Kei. Di yang paling buntut, ada Jisoo. Raut wajah mereka mendung semua. Apalagi tiga orang yang tadi marah-marah. Jisoo yang paling keliatan pundungnya.

“Capek juga ya, Taem?” celetuk Kei pelan.

Han yang denger itu langsung ngasih komando, “Kita istirahat dahulu.”

Jantung Kei jumpalitan. Doh, jadi dia denger gue ngomong ya? “Ah, Han! Tidak usah, tidak usah! Aku masih kuat kok. Lagian kalo istirahat, bukannya malah mengulur waktu?”

Han brenti dan duduk di bawah pohon. “Lebih baik istirahat sekarang daripada salah satu dari kalian nanti kenapa-napa di jalan saat hari mulai gelap.”

Kei―dan yang lain―nggak bisa ngelawan. Han kok dilawan? Lagian, apa yang diomongin Han juga ada benernya. Akhirnya mereka berenam memutuskan buat ngaso sebentar. Tapi sisa-sisa pertengkaran tadi masih kerasa. Buktinya, mereka duduknya jaga jarak gitu.

Han sih keliatan cuek nggak peduli ama temen-temennya yang lagi perang dingin. Mereka berenam langsung minum air sama makan bekal yang mereka bawa. Tiba-tiba Han inget sesuatu.

“Bisa tunjukkan isi tas kalian?” pinta Han.

Semua ngangguk tanda setuju dan nunjukin isi tas mereka ke Han. Han ngabsen isi tas temen-temennya satu-satu. Ada air mineral, minuman isotonik, sandwich siap saji, roti-roti, permen, ama snack-snack. Sementara isi tasnya sendiri nggak jauh beda.

“Tidak ada yang bawa tali, atau korek, pisau serbaguna, senter dan semacamnya?” tanya Han rada parno.

Temen-temennya menggeleng kompak.

“Ya, kami tidak berpikir kalau kami akan membutuhkan alat-alat seperti itu sih Han,” bales Sujeong minta dimaklumi.

Han ngangguk singkat, “Kau benar.”

Seketika, Han merasa jadi manusia paling geblek sedunia. Kenapa coba dia nggak bawa peralatan survival? Ah, dia terlalu meremehkan kamp musim panas pertama dalam hidupnya. Hanya kamp musim panas biasa, batinnya kala itu. Nggak biasanya doi ngeremehin sesuatu kayak gini. Tapi apa mau dikata. Nasi sudah menjadi bubur. Mau gimana lagi, satu-satunya jalan ya cuma terus berjalan ke barat ampe ketemu kamp mereka.

“Ya sudah, kalau begitu bisa kita lanjutkan perjalanannya?” tawar Han.

“Iya.”

 

 

Junmyeon gabung sama dua guru lain buat nyari Han cs yang ampe sekarang belum balik. Matahari lama-lama semakin rindu akan peraduannya. Junmyeon makin khawatir.

“Aku menemukan sesuatu!” seru Soyoung sonsaengnim, guru Matematika.

Junmyeon ama Hosuk sonsaengnim berlari mendekati rekan kerja mereka itu.

“Apa yang kau temukan, Ssaem?” tanya Hosuk.

“Bukankah ini peta milik kelompok Han?” Soyoung sonsaengnim mengangkat selembar kertas yang udah sobek-sobek tapi masih bisa diidentifikasi.

“Benar! Ini milik kelompoknya Han!” kata Junmyeon lega. “Dimana kau menemukannya?”

“Di bawah tebing ini. Menurutmu peta mereka jatuh dan mereka tersesat?”

“Pasti, kurang lebih seperti itu,” sahut Junmyeon. Han, anak-anak, bertahanlah!

 

 

Hari makin senja. Tapi kelompoknya Han belum nyampe kamp mereka juga. Han makin khawatir aja. Ama dirinya sendiri doi nggak khawatir, khawatirnya ama temen-temennya. Doi sendiri nggak apa-apa bermalam di hutan. Doi bisa tidur di atas pohon ampe pagi. Lah temen-temennya?

Mana mereka nggak bawa alat survival, makanan juga gitu-gitu aja nggak gizi. Ck, ngenes ngenes. Nasib, nasib. Tapi meski gitu mereka terus jalan ke barat. Sampe akhirnya mereka tiba di tepian sungai yang jernih dan arusnya yang nggak deres banget tapi tetep kudu ati-ati.

“Kita harus menyebrangi sungai ini,” kata Han.

“Kayaknya di sini dalem deh, Han. Kalo baju kita basah ampe atas, gue takutnya kenapa-napa. Dari masuk angin ampe hipotermia,” sahut Taemin.

Han nggak nyaut tapi langsung lari menyusuri tepian sungai. “Tunggu di sana sebentar!” titahnya.

Han ngilang bentar ke dalem hutan buat nyari kayu yang dikiranya cukup panjang buat dijadiin tongkat. Begitu dapet, doi masukin tongkat kayu itu ke dalem sungai. Istilahnya ngukur kedalamannya gitu, terus dia bandingin ama tinggi badannya.

“Ke sini, teman-teman! Di sini sungainya dangkal!” Han lambai-lambai ke temen-temennya buat ngasih tahu buat ngumpul. “Tingginya hanya selutut. Kita hanya perlu menggulung celana sampai lutut, melepas sepatu kita, dan berjalan dengan hati-hati.”

Mereka berenam ngelakuin apa yang disuruh Han, sepatu mereka ditaruh di tas. Han jalan lebih dulu. Disusul Taemin, Ye-in, Sujeong, Kei, ama Jisoo. Kei yang sempet kepleset dan mau jatoh langsung pegangan ke Sujeong dan Han ngasih komando yang lain buat pegangan tangan. Ecieh, so sweet…. Sungai yang mereka sebrangi cukup lebar juga.

Untungnya mereka semua slamet. Pas nyampe tepian, karena tempatnya agak licin dan curam, Han udah stand by buat bantuin temen-temennya kalo ada kenapa-napa. Taemin ampe Sujeong nggak masalah. Tapi pas Kei, cewek itu lagi-lagi kepleset dan hampir aja nyebur sungai kalo Han nggak sigap nolongin.

Gwaenchana?” tanya Han.

“Mm,” Kei ngangguk kalem.

Jisoo juga nggak masalah pas naik. Sampe di daratan, mereka balik pake sepatu mereka kalo nggak mau kakinya kenapa-napa. Di luar dugaan, Jisoo lari nyamperin Taemin dan minta maaf sama sodara tak sedarahnya itu. Taemin yang notabene nggak bisa hidup tanpa Jisoo (dalam artian sodara ye, bukan romens ye) langsung mewek, nangis buaya dan meluk Jisoo.

“Taem, woles, Taem!” Jisoo serasa diremet ama pelukannya Taemin yang macem ular piton.

Sujeong yang liat itu ngerasa tersentuh dan deketin duo maut itu. “Gu-gue juga minta maaf. Udah marah-marah nggak jelas tadi. Kayaknya Jisoo bener deh, gue beneran PMS.” Sujeong berusaha ngelawak biar nggak garing.

“Iye Jeong, udah kita-kita maafin kok. By the way, kagak ada angpao buat kita nih?” Taemin usil nanya.

“Lu pikir ini Imlek apa?!” Sujeong sewot.

Ketiga orang yang tadinya itu marah-marah dan perang dingin balik baikan lagi. Yah, kalo udah jadi temen kedeketan ya gini ini. Nggak tahan marah lama-lama. Ye-in ama Kei yang liat itu ikutan ketawa.

“Nah, enakan kalo damai ‘kan?” goda Ye-in yang diamini tiga orang itu. Kei ikutan ketawa tapi setengah meringis. Ye-in ngerasa ada yang nggak beres jadi liatin Kei dari atas ke bawah kayak mesin scanner. “Kei, lu nggak apa-apa? Kok jalan lu aneh gitu?”

“Eh? Nggak, nggak apa-apa kok,” dusta Kei.

“Tapi jalan lu aneh gitu!” Ye-in ngotot. Dan kengototannya ini mengundang perhatian dari temen-temen yang lain.

Kei langsung jadi sasaran interogasi. Ditanya ini-itu tapi jawabnya sama; nggak apa-apa kok. Tapi di luar dugaan, Han justru langsung jongkok di depannya Kei dan berusaha ngelepas sepatu kanannya Kei dengan paksa.

“Han, apa yang kau lakukan?” Kei panik. Dia berasa jadi Cinderella kalo kayak gini.

“Melepas sepatumu. Jangan banyak tanya,” kata Han yang lebih kayak perintah. Begitu sepatunya Kei lepas, Han mengamati kaki kanannya Kei yang agak bengkak. Han megang pergelangan kaki kanan Kei dan Kei langsung teriak kesakitan.

“Sakit Kei?” tanya Taemin pake tampang blo’on.

“Kagak, Bodo!” maki Kei.

“Kurasa kakimu terkilir. Kau tidak bisa memaksanya untuk berjalan atau ini akan semakin parah,” jelas Han.

“Terus gimana?”

“Ye-in, kau bawa tasnya Kei,” titah Han sambil naroh tasnya di depan badannya. Belum abis kekagetannya Kei, Han udah jongkok membelakangi Kei. “Cepat naik ke punggungku,” katanya.

“EH? APA?” Kei shock. “Ta-tapi Han…”

“Apa? Kau mau cideramu makin parah? Taemin dan Jisoo tidak bisa menggendongmu dengan badan kurus mereka,” yang disindir Han langsung senewen, “cepat naik. Kita harus sampai di kamp sebelum malam ‘kan?”

“Uh, iya…”

Kei nggak punya pilihan. Akhirnya diapun digendong belakang ama Han. Temen-temen mereka yang lain udah jalan duluan. Kei sendiri nervous setengah mampus. Demi Tuhan, yang gendong dia ini Han lho! Choi Han! Laki-laki idaman semua mahkluk hawa segala usia dan kalangan! Gimana nggak nervous?

Saking nervous-nya, Kei nggak berani nempel-nempel ke Han. Dia justru megang pundaknya Han gugup. Walau begitu, Kei masih bisa mencium bau maskulin dari badan Han yang bercampur ama parfum mint. Sungguh aroma yang memabukkan dan mewah kalo dibandingin ama Jisoo yang bau minyak telon atau Taemin yang bau kisprei ato rapika.

“Maaf Han, sudah merepotkanmu…” lirih Kei.

“Huh? Tidak kok.”

“Serius?”

“Iya, serius. Aku ini atletis tahu.”

“Hahahah, iya…” Kei ketawa kecil buat nyamarin atinya yang dugeun-dugeun nggak karuan. Duh, semoga Han nggak bisa denger ato ngerasain jantung gue yang mau copot gini.

 

 

Hari sudah gelap. Malam yang santai di kamp harusnya bisa berjalan dengan lancar kalo bukan karena kelompoknya Han yang belum balik. Karena hari udah mulai malem, para guru yang nyari kelompoknya Han mutusin buat balik dan mengontak bantuan. Sekarang mereka lagi nunggu bantuan buat dateng. Mereka juga nggak bisa gerak seenaknya karena udah ada imbauan dari tim SAR. Alhasil, mereka cuma bisa nunggu.

Junmyeon udah khawatir banget. Dalem ati dia berdoa supaya Han nggak kenapa-napa.

 

 

Jalannya kelompoknya Han makin pelan aja karena hari udah bener-bener gelap. Satu-satunya penerangan cuma bulan yang hampir purnama. Itupun nggak bisa maksimal karena ketutupan ama pohon-pohon. Han juga belum nurunin Kei dari tadi.

Chingudeul, bukankah itu lampu kamp kita?” Jisoo nunjuk terang-terang di kejauhan. Yang lain brenti buat ikutan liat.

“Kayaknya iya, Brother,” sahut Taemin.

“Yah, kalo begitu kenapa tidak kita cek sendiri saja?” usul Han.

Keenam bocah kelaparan itu terus jalan. Makin deket, makin deket sama yang terang-terang tadi. Begitu mata Ye-in liat rame-rame di sana, doi langsung histeris.

“Itu beneran kamp kita!” seru Ye-in dan langsung lari disusul Jisoo, Sujeong, ama Taemin.

Han ama Kei boro-boro lari. Mereka jalan pelan-pelan.

“Akhirnya sampai…” kata Kei.

“Iya, akhirnya…” bales Han.

 

 

Tim SAR udah dateng di kamp. Mereka lagi diskusi ama guru-guru di sana sebelum mulai pencarian. Tapi sebelum mereka mulai pencarianpun, udah ada teriakan yang urakan banget dari arah timur kamp.

SONSAENGNIM! KAMI SELAMAT!”

Teriakan sejenis terus kedengeran sampe sosok Jisoo, Sujeong,Taemin, ama Ye-in nongol dari balik kegelapan. Guru-guru yang ada di sana langsung lega banget. Tim SAR juga. Mereka langsung nyuruh bocah-bocah tadi buat langsung duduk di tanah dan disodorin minuman.

Junmyeon sumringah liat mereka. “Syukurlah kalian selamat. Dimana Han?”

“Di belakang kami, bersama Kei,” jawab Taemin.

“Junmyeon ssaem!” teriakan itu…. Junmyeon noleh ke belakang dan mendapati Kei lagi digendong ama Han.

Beberapa petugas SAR deketin mereka.

“Cepat tolong dia, kaki kanannya terkilir,” kata Han pada petugas SAR yang langsung nanganin Kei. Han langsung menghela nafas lega begitu Kei udah ditangani sama ahlinya.

Dia mau nggak mau juga diseret sama tim SAR terus ditanya-tanya. Han dengan singkat dan cool-nya bilang “Aku tidak apa-apa,” dan “Hanya butuh istirahat.” Akhirnya setelah doi dikasih minuman isotonik, doi nyingkir. Biarin yang rame-rame itu temen-temen kelompoknya yang lain. Dia bukan tipe bocah yang doyan rame, jadi lebih pilih pergi dari situ.

Nggak tau juga mau pergi kemana. Yang pasti nggak balik ke hutan lagi. Paling-paling cuma mampir ke tendanya buat liat lukanya―yang sebenernya impossible buat dia liat sendiri karena letaknya di bahu belakang. Kenapa Han nggak minta tolong tim SAR aja?

Soalnya kalo doi minta tolong tim SAR, entar temen-temennya tau. Kalo temen-temennya tau, bisa makin hebring tuh suasana. Han itu cuma nggak pengen temen-temennya khawatir. Aih aih, kamu emang anak yang baik Han.

Pada akhirnya Han balik ke tendanya. Beruntung pas dia balik, tendanya ama komplek tenda putra sepi. Anak-anak lain pasti lagi pada ngumpul di lapangan atau lagi asyik wawancara temen-temen sekelompoknya yang lain.

Han masuk ke tendanya dan duduk selonjoran. Rasa sakit di bahu belakangnya makin menjadi. Bahkan rasanya kayak udah mati rasa dari bahu sampe lengan atas. Mau digerakin juga susah. Pake tangan kirinya, Han mengobrak-abrik tasnya buat nyari tool-kit box punyanya. Siapa tahu ada P3K di situ.

Tapi, tanpa Han sadari, dari tadi tuh Junmyeon ngawasin dia dan buntutin dia. Soalnya sejak pertama tiba abis ngilang di hutan, Junmyeon udah curiga sama gerak-geriknya Han. Ada yang nggak beres sama tuh bocah, pikir Junmyeon.

“Kau cari apa Han?” tanpa permisi atau assalamu’alaikum, Junmyeon langsung masuk tendanya Han.

Han yang lagi nyari tool-kit box langsung kelabakan. “Oh, kau, Junmyeon. Tidak. Aku tidak mencari apa-apa. Hanya… biskuit suplemen. Kurasa aku tidak bisa makan yang berat-berat untuk saat ini.” Han ngeles.

Junmyeon duduk di samping kanannya Han. “Oh, begitu?”

“Ya, begitu. Tapi… aku lupa kutaruh dimana.”

Sepinter-pinternya nyimpen bangke pasti baunya bakal kecium juga. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti jatoh juga. Setinggi-tingginya bangau terbang, pasti jadi kecap juga. Sama kayak Han. Nggak peduli sekeras apa Han nyembunyiin sesuatu, dia nggak bisa nyembunyiin itu dari Junmyeon.

“Han,” panggil Junmyeon syahduhai.

“Apa?”

Junmyeon muter badannya sampe ngadep Han. “Buka bajumu,” perintah Junmyeon.

Walau kaget dan berasa ngeri, tapi Han tetep keliatan cool. “Ap-apa?! Apa kau bilang?”

Seakan belum cukup kengerian yang dirasa Han, Junmyeon malah merangkak deketin Han. “Buka bajumu sekarang Han,” perintah Junmyeon lagi.

Bangke! Coba aja Trio Fujo liat scene ini, bakalan kejang-kejang di tanah mereka! Atau mereka bakal ngintip penuh kekepoan sambil ngebatin, “Kok Uke­-nya jadi nepsong begini ye? Ini kenapa ini? Kenapa si Seme juga kagak ngelawan? Kenapa? Kenapa? Kenapa?”

Han, makin ngeri ama Junmyeon, mundur ke belakang. Sepi, pencahayaan minim, di tenda cuma ada dia ama Junmyeon, terus Junmyeon nyuruh dia buka baju lagi! Ada yang lebih ngeri dari ini nggak?!

“Apa maksudmu Junmyeon? Kau pasti bergurau.”

Junmyeon malah deketin mukanya ke mukanya Han. “Tidak. Aku sama sekali tidak bergurau. Aku serius. Sekarang, cepat buka bajumu.”

Han makin mundur. “Oy! Junmyeon!”

Han panik. Junmyeon makin maju maju tak gentar. Han yang mundur bertumpu pake tangannya tiba-tiba udah jatoh terlentang soalnya tangan kanannya udah nggak kuat nahan berat badannya yang terbilang kurus berisi dikit. Ngeliat kesempatan emas ini, Junmyeon malah ada di atasnya Han.

Sumpah ye, siapa aja yang liat kejadian ini pasti nyangka kalo Han mau diehem-ehem ama Junmyeon. Bagi mereka yang fujo pasti nyangka seme-nya itu Junmyeon. Tapi bagi mereka yang jadi shipper-nya HaMyeon pasti terheran-heran. Yang uke siapa, yang seme siapa. Kok ini malah Uke-nya yang agresif, sementara Seme-nya jadi submisif gitu?

“Kali ini, patuhi perintahku dan jangan banyak tanya. Cepat buka bajumu, Han,” kata Junmyeon pake nada beku―karena nada dingin udah biasa.

Han nelen ludah. Sumpah! Seumur-umur dia kenal Junmyeon, belom pernah tuh dia liat Junmyeon jadi sedingin dan senuntut ini. Karena selama ini justru dialah yang lebih sering ngasih perintah ke Junmyeon. Tapi sekarang keadaannya berbalik, Bung!

“Ju-Junmyeon…”

“Apa kau tidak dengar perintahku Han? Buka bajumu sekarang…”

“Oy!―”

“Atau kau mau bajumu kusobek paksa?”

Astaga emak, Han mimpi apa semalem kok ampe bisa diginiin sama Junmyeon? Manik mata Han masih nggak bisa lepas dari manik matanya Junmyeon. Sekarang badannya Han udah keringetan dingin. Merinding, man!

“Baiklah. Kau tidak memberiku pilihan, Han.” Junmyeon menyeringai.

Dan begitu tangan Junmyeon megang bagian bawah kaosnya Han dan mulai ngangkat tuh kaos, Han langsung berseru, “Oy! Junmyeon! Apa yang kau―”

Sreett! Han berkelit pake jurus beladiri karate yang dia kuasai. Tapi Han lupa kalo Junmyeon juga jago dalam hal beladiri. Alhasil, Han yang keadaannya lagi lemah berhasil dibanting dan dikunci sama Junmyeon. Posisi mereka sekarang jadi Han tengkurap dan Junmyeon duduk di atasnya, tangan kirinya Han diplintir ke belakang, sementara tangan kanannya diinjek sama Junmyeon.

“Jangan jadi anak nakal, Han.” Liat senyum Junmyeon yang semi pedo itu ngebuat Han makin merinding disko.

“Junmyeon!” suara Han nyangkut di tenggorokan.

Menggunakan tangannya yang bebas, Junmyeon menarik kerah kaos Han ke kanan hingga bahu mulus Han lumayan terekspos. Han makin parno. Nggak mungkin ‘kan Junmyeon jadi vampir terus terobsesi mau ngisep darahnya?

“Nah, apa kubilang. Lukamu kelihatan mengerikan,” komentar Junmyeon. Walau pencahayaan di tenda minim, tapi mata elang Junmyeon bisa liat sedikit luka memar di bahu belakang Han.

“Ap-apa?” Han masih belum sembuh dari kagetnya.

Kuncian Junmyeon udah lepas. Doi juga udah nggak duduk di atasnya Han lagi. Tapi Han masih tengkurap di tempat. “Kau ini kenapa begitu keras kepala eh? Aku menyuruhmu untuk buka baju karena aku ingin mengobati lukamu, Bodoh.”

Han yang akhirnya tahu alasan sebenarnya dari perilaku Junmyeon yang cukup membuat parno dirinya mendengus kesal. “Haish! Sialan kau!”

“Oy, kenapa kau marah begitu?” tanya Junmyeon pake wajah lempeng.

“Tidak bisakah kau mengatakannya dengan lebih jelas? Atau menyuruhku untuk membuka bajuku dengan cara yang wajar? Kau membuatku merinding! Dasar!” Han udah balik duduk dan mukanya meringis nahan sakit di tangan kanannya.

“Apa?” Junmyeon yang kena semprot bukannya takut tapi malah ketawa lebar. “Hahahahaha. Aigo! Kenapa kau harus takut padaku heh? Kau pikir aku akan mengapakan dirimu?”

“Diam!”

“Oh, lihat siapa yang kita dapat di sini. Choi Han dan pikiran mesumnya. Kau pikir aku akan memperkosamu, begitu?” goda Junmyeon.

“Haish, diamlah Junmyeon! Shut up! You can’t blame on me. Semua itu karena tingkahmu yang mencurigakan dan tampangmu yang hiiisshh…” Han bergidik. “Kau sungguh membuatku ngeri.”

Junmyeon kembali tergelak. “Ya, ya, maaf, maaf. Nah, sekarang… mau kuobati lukamu?”

Han mendengus sekali lagi sebelum melepas kaosnya. Menampakkan luka di bahu kanan belakangnya yang… cukup mengerikan. Junmyeon kemudian meraih kotak P3K yang ternyata sudah tadi ia bawa dan persiapkan. Dengan cekatan, Junmyeon mengobati luka Han.

“Kenapa kau bisa tahu?” tanya Han akhirnya.

“Apa?”

“Lukaku. Kenapa kau bisa tahu?”

Junmyeon mengulum senyumnya. “Aku hanya… tahu saja. Dengan melihatmu sekilas saja aku sudah bisa mengenali ada yang tidak beres denganmu. Ditambah, kau pikir sudah berapa lama aku mengenalmu, Bocah? Aku sudah mengenalmu sejak kau masih orok. Dasar.”

Han mengangkat salah satu sudut bibirnya. “Hm. Kau benar. Apa yang tidak bisa kusembunyikan darimu, Junmyeon? Kadang aku merasa merinding karena kau bisa ‘membaca’ku dengan mudah. Kau tidak punya indra keenam atau semacamnya ‘kan?”

Junmyeon tertawa pelan sebagai balasan. “Tidak. Aku tidak punya indra keenam atau sejenisnya, dan aku juga bukan anak indigo. Dan bukankah sudah kubilang kalau aku sudah mengenalmu sejak kau bayi baru lahir? Membacamu adalah hal yang mudah jika aku sudah mengenalmu selama itu.”

“Hm, begitu.”

“Ngomong-ngomong, bagaimana kau mendapatkan luka ini?”

“Terkena batu saat berusaha menyelamatkan Taemin yang terperosok di tebing. Karena itu pula peta kelompok kami hilang dan kami tersesat. Lukanya tidak parah ‘kan?”

“Hm, tidak begitu parah untungnya. Tapi sepulang kamp musim panas kau harus mau ke rumah sakit. Akan kuhubungi Jinhyuk.”

“Terserah.”

“Sudah selesai. Bagaimana? Merasa baikan?”

“Ya, terima kasih.”

“Dasar kau ini.”

“Apa?” Han nggak paham sama ucapan Junmyeon.

“Sengaja menyembunyikan luka ini karena tidak mau ketahuan teman-temanmu dan membuat mereka khawatir. Selalu, kau selalu seperti itu. Berlagak cuek tidak peduli tapi sebenarnya peduli hingga mengabaikan diri sendiri.”

“Tch!” Han berdecih dan baru nyamber kaosnya waktu temen-temen satu kelompoknya dateng rame-rame nyerbu tendanya.

“HAN!” seru mereka bebarengan. Han yang nggak siap diliat dalam kondisi telanjang dada, lebih tepatnya nggak siap diliat karena lukanya terekspos, langsung beku di tempat.

“Ya ampun Han! Darimana kau mendapatkan luka ini?” Sujeong kaget. Yang lain juga.

“Kata Han, luka itu dia dapatkan waktu menyelamatkan Taemin yang terperosok di tebing.” Junmyeon nyaut dan langsung dipelototi sama Han. Emang Junmyeon peduli?

“Haaaaannn! Ya ampun, sorry banget Han, gara-gara nyelametin gue lo jadi luka gini. Gue emang temen yang kejem!” Taemin langsung meluk Han kayak doi meluk guling.

“Gue juga sorry Han! Coba aja gue bener yang hafal jalan, lo pasti nggak bakal kelamaan nanggung sakit lo itu!” Jisoo ikutan meluk Han.

“Aku juga Han. Gara-gara ribut sama Taemin, Taemin jatuh dan kau harus terluka begini.” Baru kali ini Sujeong ngaku salah. Tapi dia nggak berani meluk Han. Bukan muhrim dan bisa menimbulkan gosip. Sujeong jelas nggak mau diteror fans-fans-nya Han.

“Aku juga minta maaf Han. Udah nggak peka.” Ye-in yang dari tadi nggak terlibat konflik juga ikutan minta maaf.

Acara maaf-maafan itu sedikit terganggu karena suara isak tangis dari Kei.

“Kei, lo kenapa?” tanya Ye-in.

“A… aku… hiks, aku minta maaf Han! Tanganmu sudah terluka parah begitu tapi aku justru kau gendong. Aku hanya menambah lukamu saja. Hwaaaaa, aku benar-benar minta maaf Han!” Kei nangis bawang bombay.

Han sendiri cengo. Baru pertama kali ini dia ngalamin kejadian kayak begini. Doi nggak pernah nyangka bakal dikhawatirin ama orang-orang di luar timnya. Junmyeon yang liat kejadian ini cuma bisa senyum.

Han telah melalui hal-hal mengerikan dan dia telah banyak kehilangan. Hal itu membuatnya takut membuat ikatan baru dengan orang lain. Tapi dengan begini, kuharap rasa takutnya dalam membuat ikatan akan berkurang, batin Junmyeon.

“Sudah, sudah, tidak perlu minta maaf dan menangis.” Han tersenyum walau nggak lebar-lebar amat. “Aku hanya tidak ingin membuat kalian khawatir. Dan Kei, jangan menangis lagi. Bukankah, itu memang tugas seorang teman untuk saling melindungi dan merepotkan?” Han pukpuk kepala Kei.

Kelima temen Han mewek berjamaah. “HAN!” dan mereka saling berpelukan.

Diem-diem Junmyeon memotret momen itu. Lumayan buat kenang-kenangan sama lomba photo-hunting besok.

 

 

Dini harinya, Han udah bangun. Toh doi juga nggak bisa tidur nyenyak. Bentar-bentar bangun. Efek sakit di pundaknya kali. Akhirnya walau langit masih gelap gulita, Han udah keluar tenda. Suasana di luar sepi. Semua masih pada tidur sehabis seneng-seneng semalem dan capek karena soft-hiking.

Han jalan ke sebuah area terbuka. Lebih tepatnya ke pinggiran tebing. Pager kayu setinggi ulu hatinya jadi pembatas biar orang-orang nggak jatoh ke bawah. Langitnya masih gelap dan agak kebiruan gelap, khas pagi hari.

“Tidak bisa tidur lagi?”

Han noleh ke belakang. Junmyeon. “Begitulah. Kau sendiri?”

Junmyeon berdiri di sampingnya Han. “Bagaimana lukamu?”

“Kali ini aku mengalah. Setibanya di sekolah, Jinhyuk harus stand by dengan mobilnya dan membawaku ke rumah sakit.”

Junmyeon ketawa sambil ngacak-acak rambutnya Han. “Nah, begitu. Jadilah anak baik.”

“Hentikan.” Han menepis tangan Junmyeon.

“Kau tahu Han?”

“Apa?”

“Katanya matahari terbit di sini indah lho.” Mata Junmyeon menerawang ke langit di depannya yang perlahan-lahan mulai terang.

“Oh ya?”

“Iya.”

“Junmyeon ssaem! Han!” suara teriakan itu terdengar berlomba. Dan begitu Han menoleh ke belakang, kelima temennya udah nongol dengan senyum lebar dan langsung gabung bareng dia sama Junmyeon.

“Junmyeon ssaem curang. Ninggalin kita gitu aja.” Ye-in cemberut.

“Kenapa kalian di sini?” tanya Han bego.

“Ya jelas buat liat sunrise lah, Han. Masak mau mancing ikan,” kelakar Taemin.

Pagi hari itu, Han ngerasa paginya lebih anget dari pagi-pagi sebelumnya. Dia, Junmyeon, ama kelima temennya becanda bareng sambil nungguin sunrise. Dan begitu sunrise-nya muncul, mereka semua seakan terhipnotis akan keindahannya. Tentunya, nggak lupa mereka selfie dulu.

Lumayan buat kenang-kenangan, siapa tahu menang photo-hunting juga, kata Jisoo.

 

 

Pagi terakhir di Songnisan dihabiskan dengan berburu foto-foto yang ciamik. Mereka-mereka yang banci kamera tentu girang banget. Apalagi anak-anak alay di kelompoknya Han kecuali Han sendiri. Mereka berlima hobi banget tuh jepret sana jepret sini. Untung jaman udah canggih. Coba mereka masih pake kamera jadul yang pake roll. Mungkin mereka bakal bawa sekoper roll buat selfie, buat foto pemandangan, dan tralalala.

Bagi Trio Fujo, kesempatan ini nggak disia-siain gitu aja. Bermoduskan ‘kenang-kenangan’, mereka berhasil maksa OTP mereka buat foto bareng. Han sama Junmyeon berdiri sebelahan. Muka Han melengos ke samping kiri sambil lipet tangan di depan dada, sementara Junmyeon senyum lebar ke kamera sambil bikin ‘peace sign’. Emang, biasa banget. Tapi berarti banget buat Trio Fujo.

Malemnya adalah acara api unggun. Semuanya seneng-seneng pas acara api unggun. Bahkan Taemin ama Jisoo pamer kemampuan dance mereka sebagai duo. Trio Fujo mendadak jadi trio. Trio nyanyi maksudnya. Kalo cuma trio mah udah dari lama mereka cuma bertiga. Bahkan Junmyeonpun pamer kemampuan nyanyinya. Dan hal ini berhasil bikin beberapa murid cewek histeris.

Han sendiri? Cukup jadi penikmat aja. Mau main gitar juga doi nggak terlalu jago. Han ‘kan jagonya main piano, biola, sama saxophone. Sedangkan di kamp ini nggak ada tiga alat musik itu. Ya udin, jadi penonton aja. Dan malang bagi Trio Fujo karena nggak ada HaMyeon momen. Tapi mereka entah kenapa yakin banget kalo lagu Hello Hello dari OST drama You’re Beautiful yang dinyanyiin Junmyeon itu buat Han. Abis Junmyeon sering curi-curi pandang ke Han sih.

Paginya, mereka siap-siap buat balik. Dari bersihin tempat kamp, robohin tenda, cek barang bawaan, dan tetek bengek lainnya. Begitu upacara penutupan selesai, mereka semua naik ke bis dan otewe balik ke Seoul.

Lagi-lagi, Han duduk sama Junmyeon. Dan Trio Fujo duduk pisah kayak pas berangkat. Hal ini membuat mereka pengen geragotin sandaran kursi karena nggak bisa liat momen OTP mereka. Walhasil, mereka ngerusuh di grup LINE mereka sendiri.

[Kei]                       : Guys, inget pas kita nyariin Junmyeon ssaem ama Han nggak? Waktu kita udah bisa balik ke kamp…

[Sujeong]            : Inget, inget! Yang kita nemuin mereka di tenda anak cowok ‘kan?

[Kei]                       : Ho’oh, bener banget!

[Ye-in]                   : Emang kenapa Kei? :/

[Kei]                       : Doh, masak nggak inget sih? Waktu itu fokus kita teralihkan sampe kita-kita nggak sadar kalo… KALO HAN WAKTU ITU TOPLESS TERUS ADA JUNMYEON SSAEM JUGA DISANA! Ya tau sih gue, Junmyeon ssaem ngobatin Han. Tapi… cuma berdua, di tenda, remang-remang gitu, Han sakit berujung topless… ngerti ‘kan maksud gue?

Ye-in ama Sujeong beku di tempat. Otak mereka mencerna apa yang ditulis Kei. Ya, walau Junmyeon waktu itu ngobatin Han, nggak menutup kemungkinan terjadi sesuatu.

“BANGKE!” Trio Fujo ngebatin kompak.

“Ye-in! Kau mimisan!” seru temen sebelahnya Ye-in.

Ye-in dengan tampang blo’on-nya tanya, “Masa?” Dia nggak sadar kalo darah yang merembes dari idungnya udah meler sampe bawah kayak ingus aja.

“Sujeong! Kau juga mimisan?!” temen sebelahnya Sujeong nyusul teriak.

Sujeong langsung ngelap darah yang mengucur dari idungnya. “Ng-nggak apa-apa kok,” kata Sujeong dengan cengiran lebar dan tampang bahagia fuwa-fuwa. Bikin orang-orang yang liat merinding. Sujeong, lu masih waras ‘kan?

“Kei! Kok lu juga mimisan?!” temen sebelahnya Kei ikutan teriak.

“Aku… tidak apa-apa!” seru Kei sambil ngepalin tangan. Yang liat pada cengo.

Seketika, dalem bus jadi hebring. Nggak usah ditanya kenapa Trio Fujo kita bisa mimisan.

 

― Episode: Berkah Musim Panas Jilid Dua ― KELAR ―

 

A/N        :

Akhirnya kelar juga episode Berkah Musim Panas ini. Terima kasih buat semua yang udah mau setia baca atau ninggalin jejak di fanfiksi gaje ini. Diantaranya: imunimunmunmun, Jstnkrbll, littleshine, takoparfait, Oohseh, kimnaryska, HimaWaRi, dindaelf98, bimilyo82, uswatun khasanah, reisya soo, yehet girl, amyya3, IRISH, Kenken’s. Sankyu very hamnida udah mau menampakkan diri di fanfiksi ini.

Tunggu Len, kok lu udah kayak mau sayonara gitu ya?

Eheh, cuma pengen aja. Fanfiksi gaje ini bakal tetap ada selama ide masih muncul kok. Tenang aja.

Nah, gimana episode kali ini? Emang Len akui, momen HaMyeon-nya dikit dan lebih fokus ke kelompoknya Han yang kesasar di hutan. Tapi apa momen yang seupil itu udah bisa bikin kalian jejeritan atau bahkan nosblit? XD Mengingat pas Len bikin momen mereka, Len sempet banting guling beberapa kali. LOL. Buat bahasanya, fix campur-campur menyesuaikan sikon.

Ending-nya kurang nendang ya? Sebenernya mau ditambah momen yang lain, tapi karena Len udah lelah sama ini semua, dan fanfiksi ini juga udah panjang bet, jadilah begitu XD Tapi semoga udah terpuaskan ye? YANG HAMYEON-SHIPPER MANA SUARANYAAAAAA? /dilempar sendal/

Nih, Len kasih fotonya Jisoo ama Han di bawah.

Jisooooo
Buat yang kepo sama mukanya Jisoo alias Joshua SEVENTEEN, ini dia mukanya

 

Buat yang susah bayangin gimana rupanya Han, ini dia.
Buat yang susah bayangin gimana rupanya Han, ini dia.

Buat cari ulzzang yang cocok jadi modelnya Han itu susah banget. Soalnya kebanyakan ulzzang itu ‘kan imut-imut-ikemen gitu, sementara Han itu dingin-manly. Tapi sejauh ini, ulzzang ini yang menurut Len cocok. Namanya Park Taejun, kalo nggak salah XD

Kontak Len di: Fanfiction.net (Kuroshi Len), Facebook (Kuroshi Len), My Blog

Woke, kalo gitu sampai jumpa di episode berikutnya!

24 tanggapan untuk “Kebimbangan Para Fujoshi [Episode: Berkah Di Musim Panas Jilid Dua!]”

  1. Sjak prtm x bc Cresent Moon eps 1, 2 trus KPF dr eps 10 tuh dah terpatri in my imagination, Han itu visual’ny Taeyong, trus Jisoo ya si actor sipit real name’ny emang Jisoo yg maen di School 2015 ma Sungjae btob & di Glory Days ma Suho. Stlh liat visual’ny Han (foto Park Taejun) tu krng ok I think, ne style aniya, krng ganteng, chubby gt / mian.. :p / klo Jisoo–Joshua, lmyn ok jg, cm ga knal sm 1x / ga sk mmbr2 / lagu2ny seventeen & lovelyz. Bhkn wkt nonton kpop culture fair di UI bbrp bln kmrn da yg cvr dance seventeen, tak kira tu band indo ga mutu 😀 wkkk~
    aduh, nyasar di hutan brng shbt ky di nvl 5cm, ber’6-an gt jg, untung ga ktmu wild animal or yg lbh prh, siluman demit ya >.< scara kan lg journey to d'west 😀 wkkk~ HaMyeon moment.. ternyata Han parno jg ya ma skp & tampang pedo si Suho ^^

  2. aq kog curiga Han ada rasa ama Kei yaa ~~
    tp Han mah gtu orangnya, yg dpkirin kn yg tinggi” versi trio fujo n duo maut(saham dkk)
    smvah cengo bgt debatnya, ahahaa
    favoritku wktu Han naik pohon//ngebayangin// duh mcem simpanse aja lu Han ahahaa simpanse tamvan =3=

  3. Duh kak ini pertama kalinya aku nemu ff cem ini . Masyaallah , kamu harus tanggung jawab kak karena aku sekarang jadi suka FF Bromance mu xD hahah Keep Writing kak

  4. ASTAGA DRAGON!!! AKU HAMPIR MIMISAN KAK!!!! Hamyeon! Hamyeon! Hamyeon! Joonmyeon kurang greget!!! Harusnya **** terus **** /dilempar sama Han/ MUAHAHAHAH!!! KEREN!!! AKU JOGET JOGET SENDIRI PAS LIAT EPEP INI UDAH APDET!!! KYAAAA!!! AKU DOAKAN IDE ITU AKAN CEPAT DATANG!!! LOVE YOU KAK!!!

    1. Kok kamu malah manggil naga burik itu daripada aku? /diinjek
      Inget rating nak, inget rating XD Aturan di wp ini juga nggak boleh pos yang berisi gituan secara vulgar dan terbuka(?) XD
      Makasih doanya, moga manjur nyembuhin writer’s block yang lagi hinggap sekarang ini T.T
      Lap yu tu :* /ditendang

  5. duhhh Len ,aku masi waras kecuali pas lg baca partnya 2 taesoo m trio fujo,kaya org sinting karna cengengesan sendri,,,lg pula klo aku suka m ff ne otomatis donk suka m penciptanya,,,atas karya tulisanya,,, soo d tunggu bnget kelanjutanya…hiiii

    1. Artinya kamu bisa nggak waras XD
      Cieee yang otomatis mencintaiku~~ /digeprek
      Ya ya, doakan writer’s block yang melanda diriku cepet pergi

    1. That’s not a big deal 😉 aku selalu tulis siapa-siapa aja yg ninggalin jejak di semua fanfiksiku /cieeehhh
      Iya, sankyu

  6. akhhh seriusss suka bnget m ff ne pa lg penulisnnya,, penasaran deh masalalu ny c han,, kyanya bnyak hal yg ga kita tw,,,kn jd penasaran,,trus sbenernya han suka g c m kei,???kn bnyak moment keihan,,ikut ngresa gmn gtu,,,,nanti lama lama kei jatuh cinta lg m han,,akhhh jd tambah greget,,,
    makasih banget lho Len,,buat fhoto jisoonya,, maniss ya,,g kalaah dr baekhyun,,,
    klo choi han,,,emmm d pikir pikir yg namanya park ko,orgnya manly ya,,ky park chanyeol,,,ea udah liat chan yg skrng lum pas kmrn konser,, tanganya itu lhooo,,dh berotot,,,macho n manly abis,,,sekali lg makasih y Len,,d tunggu bnget kelanjutanya,,,,

    1. Eh, kamu masih waras ‘kan pas ngetik kalimat pertama? XD
      Yang nggak kalian tau? BANYAK BANGET XD
      Yup, happy waiting

  7. BANGKE. JOSHUA HONG ASFGHJKLADJDJSLS.
    (((tunggu ini oot)))
    AH! Kenapa harus ada adegan Han buka baju? KENAPA????? ADUH FEELSKU ADUH. (((buru burur dibawa ke ugd terdekat)))
    nah lho, jangan jangan…. ada seswatu antara han dan kei? yah jangn gitu dong, ntar junmyeon potek:(/apasih/
    okelah. jjang banget episode ini. cepet lanjut kay.
    tapi demi apa ngebayangin jojo jadi pecicilan cem taemin kok susah ya:”)

    1. Ada apa sama mas Hong nak? XD
      Kenapa harus ada adegan Han buka baju? Karena aku sayang kamu XD /dijorokin ke jurang/
      Yah, aku juga agak susah. Tapi di SEVENTEEN menurutku mukanya yang cocok jadi demit ya Joshua itu XD

    2. GANTENG BANGET GAKUNA:((((((((((
      Tapi aku sayang junmyeon. gimana dong/?
      Lebih cocok hoshi ato DK ato seungkwan deh/? Joshua itu gentleman:((((( makanya ngakak sendiri ngebayangin joshua jadi pecicilan gitu:((((

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s