KAJIMA – SLICE #2 — IRISH’s story

irish-kajima (2)

KAJIMA

With EXO’s Oh Sehun & Xi Luhan; OC’s Lee Injung & Kim Ahri

Supported by EXO Members, Rainbow‘s Kim Jaekyung & Cho Hyunyoung, OCs

fantasy, drama, supranatural, life, friendship, school-life and romance story rated by PG-17 inchapterred length

DISCLAIMER

This is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life. And every fake ones belong to their fake appearance. The incidents, and locations portrayed herein are fictitious, and any similarity to or identification with the location, name, character or history of any person, product or entity is entirely coincidental and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art without permission are totally restricted.

©2015 IRISH Art&Story All Rights Reserved


“Jebal… Jebal kajima…”


Previous Chapter

Teaser || Chapter 1

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Injung’s Eyes…

PIP. PIP.

Aku segera merogoh ponselku, ada telepon masuk, dari Jaekyung Unnie.

Yeoboseyo?”

“Injung-ah, bisakah kau pulang? Kurasa ada sesuatu dengan Halmeoni. Ia tadi menelponku dan tiba-tiba terputus.”, ucapnya segera membuatku panik.

Arraseo. Aku pergi sekarang.”, ucapku sambil langsung memutuskan telepon dari Jaekyung Unnie.

Aku segera merapikan bukuku, dan membawa tas ranselku keluar kelas, sedikit berlari. Aku harus keluar dari sekolah ini.

Langkahku terhenti di depan sekolah. Ternyata walaupun sekolah ini sekolah di desa, pengawasan di gerbang mereka ketat. Sial. Tidak ada cara lain selain cara itu.

Aku segera berlari lagi, mencari arah ke belakang sekolah. Selalu ada jalan dari belakang sekolah. Gotcha!

Benar bukan? Ada pagar tinggi di bagian belakang sekolah. Aku meletakkan tas ku di bawah pagar itu, dan aku berusaha memanjat, melihat keadaan di luar. Jalan kecil. Cukup untukku jika aku melompat ke bawah.

Aku segera melompat turun, dan mengambil tasku.

BRUGK!

Tas ku jatuh di luar dengan suara gedebum pelan. Sekarang aku memandang sekitarku, rasanya tadi aku mendengar suara pembicaraan di sini sebelum aku menemukan tempat ini, tapi sekarang sepi.

Tatapanku sempat terhenti pada beberapa tumpukan bungkusan di sana, tapi aku segera menyingkirkan rasa penasaranku. Halmeoni membutuhkanku.

Aku segera memanjat pagar, berusaha mendaki pagar yang terbuat dari batu bata ini. Tentu saja bukan pekerjaan berat untukku.

HAP!

Aku berhasil melompat turun. Sekarang aku ada di luar sekolah. Sial. Kurasa aku harus berhenti membawa sepeda ke sekolah mengingat aku masih menggunakan kebiasaan kabur dari sekolah seperti ini.

Aku menarik tasku, dan berlari meninggalkan sekolah. Aku harus sampai ke rumah dengan cepat. Semoga Halmeoni baik-baik saja.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Wow. Siapa gadis tadi? Aku tidak pernah melihatnya.”

“Anak baru di kelasku. Lee Injung. Pindahan dari Incheon.”, ucap seseorang, sambil melangkah keluar dengan teman nya dari semak-semak tempat mereka tadi bersembunyi saat Injung muncul.

“Perlukah kita cari tempat baru, Sehun-ah? Aku punya firasat gadis itu akan sering kesini untuk kabur.”, kata namja lain.

“Tidak. Tidak ada tempat lain. Aku tidak pernah tahu gadis dari Incheon bisa seperti itu. Suho hyung, ini tempat kita, dan gadis itu tidak seharusnya ada disini.”, ucap Sehun, tatapannya lekat tertuju pada pagar yang tadi di lompati Injung.

“Jangan seperti itu. Kau dengar sendiri pikiran nya kan?”, ucap Suho.

“Benar Sehun-ah. Kau akan menyalahkan nenek gadis itu untuk kesalahan yang Ia lakukan karena tahu tempat persembunyian kita?”

“Kai!”, sergah Sehun kesal.

“Setidaknya akhirnya tempat yang di anggap menyeramkan ini bisa berguna bagi orang lain selain kita.”, kata Suho.

“Tidak. Aku akan membuat gadis itu berhenti menggunakan tempat ini.”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Injung’s Eyes…

KRIET.

Aku membuka pintu tua rumah kecil tempat aku dan Halmeoni tinggal.

Halmeoni, aku pulang…”, ucapku sambil menaruh tas ku di kursi sofa tua di ruang tamu. Tidak ada sahutan dari Halmeoni.

Halmeoni?”

“Injung…”

Aku menoleh, memandang seorang ahjumma yang berdiri dengan anak kecil di ujung pintu.

Halmeoni tadi pingsan, aku dan beberapa tetangga lain sudah memindahkan nenekmu ke kamarnya… Nenekmu kelelahan nak…”

“Oh… Ah, gomawoyo Ahjumma… Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Halmeoni jika ahjumma tidak membantunya…”, ucapku, berusaha menahan diriku untuk tidak menangis karena keadaan Halmeoni.

“Tadi tabib juga sudah datang nak. Obat Halmeoni mu ada di meja.”

“Sekali lagi gomawo Ahjumma…”, ucapku.

Ahjumma itu beranjak pergi. Aku memandang bungkusan obat di meja, kemudian aku melangkah ke kamar Halmeoni. Halmeoni tampak tertidur pulas, wajahnya sangat pucat.

Aku menghela nafas panjang. Seharusnya Halmeoni tidak ikut terjebak dalam kesulitan hidup seperti ini. Seharusnya Halmeoni bisa tinggal dengan tenang di Incheon, bukan nya malah ikut mengurusku.

HalmeoniJeongmal mianhae…”, ucapku, duduk di celah kosong di tempat tidur Halmeoni.

Halmeoni membuka matanya, tersenyum tipis.

“Kau sudah pulang, Injung? Bagaimana pelajaranmu? Bagaimana sekolahmu?”, tanyanya dengan senyuman.

“Bagus. Aku suka sekolahku. Dan teman-temanku juga sangat baik,”, ucapku berusaha menghibur Halmeoni.

Ia tersenyum.

Halmeoni… Jangan bekerja terlalu keras… Aku akan membantu Halmeoni…”

Halmeoni menggeleng pelan.

“Sudah tugas Halmeoni untuk menjagamu…”, ucapnya.

“Tadi Jaekyung Unnie menelponku…”, kataku kemudian.

“Ah… Jaekyung tadi ingin mengabarimu sesuatu… Kau bisa menghubunginya nanti…”, ucap Halmeoni.

Aku tersenyum.

ArraseoHalmeoni tidur Ya? Aku akan buatkan makan malam.”, ucapku sambil kemudian melangkah keluar, ke ruang tamu.

Aku memandang obat milik Halmeoni, sangat kebetulan sekali karena jam minum obat nya sama dengan jam istirahatku. Aku bisa kabur dari belakang sekolah saat jam istirahat.

Aku masuk ke kamar ku, koper-koper besarku masih berada di tempat yang sama. Aku sama sekali tidak berniat merapikan isinya walaupun aku akan tinggal lama disini. Kurasa… Halmeoni berniat untuk tinggal menetap disini.

Aku memandang foto yang ada di atas meja dekat tempat tidurku. Fotoku bersama seorang namja, tampak tersenyum lebar dan di foto, aku merangkul namja itu. Kami sama-sama mengenakan pakaian olahraga.

Aku tersenyum tipis. Kemudian membaringkan diriku di tempat tidur. Masih ada waktu beberapa lama untuk tidur sebelum saatnya aku nanti memasak makan malam untuk Halmeoni.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku melangkah ke tempat parkir, lega karena sepedaku nyatanya masih terparkir dengan aman disana. Aku segera melangkah menuju kelas, tapi firasatku mendadak tidak enak saat Park seonsaengnim, wali kelasku, berdiri di depan kelas.

Annyeong seonsaengnim.”, sapaku sambil berjalan masuk ke dalam kelas.

“Lee Injung. Kemana kau kemarin setelah istirahat kedua?”

Aku berbalik, memandang Park seonsaengnim. Ia wali kelasku, dan pasti tahu data-dataku, termasuk poin-poin pelanggaran yang pernah ku dapatkan di sekolah lamaku.

Mianhae seonsaengnim, kemarin aku ada—”

“Kau ada urusan keluarga mendadak yang tidak bisa kau tinggalkan karena urusan itu sangat penting. Iya kan?”, ucapnya memotongku.

Aku diam.

“Aku sudah membaca datamu Injung, dan jangan menggunakan alasan yang sama yang selalu kau gunakan di 23 sekolah yang dulu pernah kau tempati. Walaupun sekarang kau bersekolah di desa, kau tidak bisa seenaknya kabur dari sekolah saat jam pelajaran masih berlangsung.”, ucapnya.

Aku memandang sekitar kami, beberapa anak tampak memperhatikan perdebatan ku dengan Park seonsaengnim.

“Aku tidak kabur kemarin, seonsaengnim.”, kataku.

“Sehun melihatmu memanjat pagar belakang sekolah.”

“Sehun?”, aku menyernyit.

Dua orang namja melangkah mendekati Park seonsaengnim.

“Kau melihatnya kan, Sehun?”, ucap Park seonsaengnim.

Nde seonsaengnim. Aku melihat dia memanjat pagar sekolah.”, ucap namja—yang ku ingat Ia memperhatikanku kemarin.

“Sehun-ssi, tidak seharusnya kau berbohong seperti itu.”, ucapku sambil memasang senyum semanis mungkin.

“Lee Injung. Aku adalah teman dari Lee seonsaengnim, wali kelas di sekolah terakhirmu. Jangan berusaha berbohong di saat aku sudah sangat tahu seperti apa kau.”, ucap Park seonsaengnim.

Perlahan, sifat buruk yang berusaha ku pendam di sekolah ini, muncul lagi. Aku mendongak, memandang Park seonsaengnim.

“Lalu? Anda mau menskors-ku, seonsaengnim?”, ucapku santai.

Aku mendengar helaan nafas terkejut, dan juga, namja bernama Sehun itu memandangku kaget.

Apa yang mereka kagetkan? Mereka tidak pernah melihat murid pemberontak sebelumnya? Hah. Lucu sekali.

“Lee Injung!”, bentak Park seonsaengnim.

Seonsaengnim…”

“Injung-ah… Tumbuhlah dengan baik nak… Jangan menjadi seperti Appa… Jadilah seperti Eomma mu… Appa sangat menyayangimu nak…”

Ucapanku terhenti saat aku teringat ucapan Appa. Aku mengatupkan rahangku kuat-kuat, berusaha menahan marah.

“…mianhamnida. Aku tidak akan mengulang tindakanku lagi…”, ucapku, dengan sangat pelan, sambil kemudian melangkah masuk ke kelas.

“Segera panggil tukang kebun untuk menutup jalan ke belakang sekolah.”, ku dengar Park seonsaengnim bicara.

Memang seperti itu yang akan terjadi bukan? Aku meminta maaf ataupun tidak. Tidak akan berpengaruh apapun.

Kurasa Appa terlalu tinggi menaruh harapan padaku. Jadi seperti Eomma? Eomma yang sangat membenciku dan ingin melenyapkan ku itu?

Langkahku terhenti saat aku sampai di kursiku. Aku sadar ada yang salah. Aku memandang ke arah namjanamja—yang aku yakin sebagai oknum yang mengerjaiku. Kemudian aku melangkah keluar kelas, menuju gudang, sekolah ini pasti punya kursi lebih.

Aku beruntung karena gudang tidak di kunci. Oh. Tidak. Tunggu. Bisa saja ini memang sengaja tidak di kunci untuk mengelabuiku dan nanti mereka bisa mengunciku.

Aku berdiri mematung di depan gudang, jarak antara pintu dan tempat kursi berada cukup jauh. Kesempatan mereka untuk mengunci gudang saat aku mengambil kursi sangatlah besar. Dan juga… bisa saja salah satu dari mereka ada di dalam gudang, bukan?

“Apa yang kau lakukan?”

Aku menoleh, menyernyit mendapati seorang namja berdiri tak jauh di belakangku. Aku tidak mengenalinya sebagai salah satu dari teman sekelasku, tapi bisa saja Ia berkomplotan, kurasa teman sekelasku semakin bersemangat untuk mengerjaiku karena aku kemarin tahu taktik mereka.

“Kau melamun?”

Aku kembali tersadar, lalu menggeleng.

“Apa yang kau lakukan disini?”, tanyaku balik.

Ia menyernyit, memandangku, dengan tatapan… geli? Apa yang menggelikan baginya dari tindakanku sekarang yang tengah mencurigainya?

“Aku hanya lewat, dan melihat seorang gadis berdiri melamun di depan gudang. Lalu bagaimana denganmu?”

Kurasa dia bukan salah satu dari mereka yang ingin mengerjaiku.

“Ah, kurasa anak-anak dikelas mengerjai kursiku lagi, jadi aku kesini mau mengambil kursi.”, ucapku.

Namja itu tersenyum.

“Kau rasa? Tapi kau yakin mereka mengerjai kursimu?”, tanyanya.

Aku mengangguk.

“Itu yang selalu di lakukan pada murid baru kan? Jika tidak menjegal saat murid baru berjalan, mengerjai kursi, menyembunyikan seragam, mengempeskan ban, mengunci anak baru di toilet atau gudang, dan jika anak baru melawan pasti nanti—”, aku segera menghentikan ucapanku, tidak seharusnya aku bicara terlalu banyak.

Aku menatap namja didepanku, Ia tampak masih memandangku dengan senyuman yang sama diwajahnya.

“Nanti? Lanjutkan saja, aku ingin tahu apa pemikiran anak baru tentang kami.”, ucapnya sambil masih mengulum senyumnya.

“Kurasa bukan hal yang menarik,”, ucapku singkat sambil berbalik, hendak masuk ke gudang.

Chakkaman.”

Aku memandang namja itu, Ia sudah berdiri di belakangku.

“Ya?”, ucapku.

“Aku akan ambilkan kursi untukmu, bicaralah lagi, aku jarang bicara pada murid baru,”, katanya, tersenyum padaku sambil kemudian melangkah masuk ke dalam gudang.

Ia tidak menyalakan lampu gudang. Tapi ada cahaya memancar di depan nya, kurasa Ia menggunakan ponselnya sebagai senter.

“Lanjutkan lagi, Injung-ssi.”

“Bagaimana kau tahu namaku?”, kataku kaget, sosok namja itu sudah tidak terlihat, tapi suaranya bergema.

“Tentu saja dari nametag mu, lanjutkan ceritamu tadi,”, ucapnya, gema suaranya terdengar lebih pelan.

“Ah… Sampai mana aku tadi… Oh, kurasa sampai jika murid baru melawan… Hmm, di sana, jika murid baru melawan, biasanya murid baru itu akan di hajar.”, kataku.

“Dan itu terjadi padamu?”, Ia kini muncul dengan membawa kursi.

Aku mengangguk.

“Yap. Itu terjadi padaku. Selalu…”, ucapku.

“Berarti kau pemberani. Buktinya saja kau tidak pernah mau mereka menginjak-injakmu.”, ucap namja itu.

Aku tertawa pelan.

“Tidak ada yang perlu di takutkan. Toh Ia juga manusia. Kecuali jika Ia adalah alien yang berasal dari Mars atau planet lain, aku akan berpikir dua kali.”, kataku sambil mengambil kursi darinya.

Namja itu terdiam sebentar.

“Kenapa?”, tanyaku.

Ia menggeleng, dan tersenyum.

“Kembalilah ke kelas, kurasa sebentar lagi bel pelajaran di mulai.”, ucapnya sambil berjalan keluar gudang.

Chakkaman,”, ucapanku menghentikan langkahnya yang tadi hendak meninggalkanku.

“Ya?”, Ia memandangku.

“Namamu, siapa?”, tanyaku.

“Baekhyun. Byun Baekhyun, dari kelas 3-5.”, ucapnya sambil tersenyum.

Bangapseumnida… Dan… gomawo.”, kataku.

Ia mengangguk.

“Ah, aku hampir lupa. Kurasa Injung-ah, ada baiknya jika anak-anak di kelasmu tahu tentang satu hal menyeramkan tentangmu, seperti keberanianmu itu misalnya, aku yakin mereka akan berhenti mengerjaimu.”, ucap Baekhyun sambil kemudian melangkah pergi.

Hal menyeramkan? Apa maksudnya?

Aku menggeleng pelan. Kurasa Ia hanya menyemangatiku saja. Aku melangkah ke kelas, seonsaengnim sudah ada di dalam kelas. Dan aku merasa bersalah karena terlambat masuk ke kelasnya—walaupun bukan sepenuhnya salahku, karena mereka mengerjaiku dan membuatku terlambat masuk kelas.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Ini sudah hampir seminggu aku di sekolah ini dan mereka masih mengerjaiku. Tentu saja ide amatiran mereka tidak akan bisa menyentuhku sedikitpun. Aku jauh lebih profesional. Dan juga, aku mulai mengerti apa maksud ucapan Baekhyun waktu itu. Satu hal menyeramkan.

Fakta bahwa aku berpindah sekolah puluhan kali karena kasus.

Mereka akan bungkam jika tahu itu. Dan juga, rasanya satu fakta saja tidak cukup untuk membuat mereka takut. Aku akan memberi tambahan.

Aku melangkah menuju kelas, dan bisa ku dengar, langkah di dalam kelas terdengar kencang saat aku berjalan mendekat.

Sesuatu di letakkan di atas pintu. Pasti. Kurasa ini saatnya menunjukkan pada mereka betapa aku sudah sangat tahu tentang pikiran amatir apa yang mereka rencanakan padaku.

KRIIINNGG!

Aku masih berdiri di depan pintu saat bel panjang tanda pelajaran di mulai berbunyi. Beberapa anak mulai menyernyit memandangku, mereka menunggu saat bagiku untuk masuk dalam perangkap? Tidak akan semudah itu.

Aku berjalan sedikit jauh dari kelas, dan berdiri membelakangi pintu saat melihat seonsaengnim berjalan ke arah kelas. Aku melemparkan pandanganku ke dalam kelas, dan tersenyum tipis.

Mereka akan habis.

GREKEK. SPLASH!

Ya!”

Aku berbalik, benar dugaanku. Aku memandang mereka saat melihat seonsaengnim sudah basah kuyup, dan pakaian nya yang tadinya berwarna merah marun berubah menjadi putih.

Kurasa mereka mencampur air dengan tepung atau kapur, membuat airnya berwarna putih. Aku bisa mendengar seisi kelas kaget. Tentu saja. Karena mereka semua akan terkena imbasnya.

Seonsaengnim. Gwenchanayo?”

Seonsaengnim…”

“Diam!”

Isi kelas lain pun mulai keluar dan melihat kejadian heboh apa yang baru saja terjadi. Hasilnya, seonsaengnim berjalan dengan marah ke arah ruang guru dan wajah panik anak-anak di kelas.

Setelah memastikan mereka berada dalam kepanikan dan kemarahan karena aku, dengan tenang aku berjalan masuk ke dalam kelas. Beberapa anak dari deret sampah itu berdiri di hadapanku.

“Ada apa?”, tanyaku tenang pada mereka.

“Kau…”

Aku tertawa pelan.

“Kenapa? Kalian marah karena jebakan itu tidak mengenaiku dan malah mengenai seonsaengnim? Ah, apa kalian kemarin membolos saat aku memperkenalkan diri? Namaku Lee Injung, pindahan dari Hyena Girls School… di Incheon.

“Dan juga, tindakan bodoh kekanak-kanakan amatiran seperti ini sudah sangat sering ku alami. Jadi sebaiknya kalian berhenti mengerjaiku…”, ucapku sambil berjalan ke bangkuku.

Aku menghentikan langkahku, tahu bahwa anak-anak di kelas masih memandang ke arahku. Dengan macam-macam tatapan. Bingung, marah, kaget, dan… kagum? Aneh, kenapa ada yang menatapku seperti itu?

Aku berbalik, memandang hmm… empat orang dari deret sampah itu.

“Ah, kalian pasti bingung kenapa aku di pindahkan di Mokpo kan? Padahal sekolah di Incheon jauh lebih baik. Kalian tahu alasan nya apa?”, ucapku sambil berjalan pelan mendekati mereka.

Bisa ku lihat tatapan benci dan marah mereka berubah, ada keraguan disana.

“Karena… aku sudah pernah di keluarkan dari 23 sekolah di Incheon, dan tidak ada lagi sekolah di Incheon yang berani menampungku.”, ucapku tanpa menunggu siapapun mengutarakan kalimat yang menunjukkan bahwa mereka ingin tahu tentang alasannya.

“Mana mungkin!”

Aku berbalik, menyernyit memandang salah satu dari mereka angkat bicara.

“Kenapa?”, tanyaku

“Tidak ada yang akan bisa berpindah sekolah sebanyak itu.”, ucapnya.

Aku tersenyum tipis.

“Tentu ada. Sekedar informasi, di Incheon, surat penerimaan siswa baru keluarnya dua minggu setelah murid baru itu masuk di sekolah, sebelum surat penerimaan keluar, anak baru itu masih jadi murid di sekolah lamanya. Dan aku… biasanya hanya bertahan di sekolah baru selama seminggu.”, ucapku.

Ku dengar helaan nafas kaget di dekatku.

“Kurasa kalian tidak mau tahu kasus apa yang membuatku berpindah-pindah sekolah, lagipula… aku sangat berharap sekolah ini jadi sekolah terakhir, aku malas untuk pindah-pindah sekolah lagi.”, ucapku sambil melangkah santai ke arah tempat dudukku.

Mereka benar-benar bungkam. Tidak hanya deret itu, seisi kelas—aku tidak menghitung dua orang yang nyatanya anti-sosialisasi yang duduk di sebelahku. Sehun dan Kai. Aku mulai bisa menghafal nama mereka berkat Hyunyoung, Ahri dan Chanyeol.

Dan menurut informasi—yang di sampaikan dengan penuh semangat oleh Chanyeol—dua orang itu memang sejak kelas 1 tidak mau berbaur dengan siapapun. Entah mengapa fakta itu membuatku terusik. Karena setidaknya ada orang yang sama-sama anti-sosialisasi sepertiku dulu? Entahlah.

Ah! Satu lagi! Karena salah satu dari mereka, Sehun, membuat halaman belakang sekolah benar-benar di tutup dan aku harus berjuang lebih ekstra lagi saat akan membolos sekolah. Dan aku kesal padanya karena hal itu. Sangat kesal.

Sangat sangat kesal.

Dan juga, dia dan teman nya itu tetap bertindak aneh. Membawa bungkusan keluar dari kelas setiap jam istirahat, atau saat pelajaran—dengan beralasan Ia akan ke UKS atau toilet. Dan aku hafal jam keluar mereka.

Pagi di jam 8. Lalu istirahat pertama jam 10. Kemudian jam 12, dan saat makan siang, jam 2. Mereka keluar setiap dua jam sekali. Aneh bukan? Karena kelas berakhir saat jam 3, aku tidak bisa memastikan apa mereka juga akan keluar di saat jam 4. Kurasa ya. Dan setiap keluar mereka membawa bungkusan yang sama.

Sekolah ini berisi orang-orang aneh. Termasuk aku.

Seonsaengnim, aku izin ke toilet.”, kali ini Sehun bicara.

Jam 2. Sebentar lagi pelajaran berakhir.

Aku memandangnya saat namja itu berjalan menjauhi kelas. Sangat penasaran sebenarnya apa yang Ia lakukan dan membuatnya juga teman nya itu harus secara kontinyu keluar dari kelas untuk beberapa menit dengan membawa bungkusan aneh itu.

Aku memandang jam ku, jarum panjang jam ku ada di angka 5. Biasanya Ia hanya pergi sekitar 3-5 menit. Jadi… Aku berfokus pada jam ku, melihat, seberapa lama Ia pergi keluar hari ini.

4 menit.

Namja itu muncul di ujung koridor—yang terlihat dari kelas kami—dan berjalan tenang ke arah kelas.

Seonsaengnim. Permisi…”, ucap Ahri membuyarkan fokusku pada namja itu. Ahri kemudian berjalan keluar dari kelas setelah melihat anggukan persetujuan dari seonsaengnim.

Ia dan namja itu berpapasan, dan mereka berhenti melangkah. Kurasa mereka bicara, aku bisa melihat namja itu beberapa kali tampak tersenyum sinis, aku tidak bisa melihat wajah Ahri karena Ia membelakangiku. Dan saat namja itu melangkah ke kelas, Ahri terduduk di kursi, tampak menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.

Kurasa mereka bertengkar atau semacamnya. Aku tidak begitu bisa memahami. Dan pertengkaran aneh sembunyi-sembunyi ini begitu mengusikku.

PIP. PIP.

Aku mengeluarkan ponselku, secara diam-diam tentu saja, dan melihat nomor yang tidak ku kenal tertera disana.

From: 0102032xxx

Hadiahmu akan sampai beberapa hari lagi ^^ gidaryeo, arraseo?

Aku tertegun. Siapa yang mengirim pesan ini?

“…Injung-ahGidaryeo…”

“…Chakkaman… Jangan mencoba kabur…”

“…Tunggu aku arraseo?…”

“…Aku pasti kembali… Gidaryeo…”

“…Jebal… Jangan berhenti menungguku…”

Aku terkesiap. Ucapan itu… satu-satunya orang yang selalu memintaku untuk menunggunya. Yang selama tujuh tahun membuatku menunggunya…

Orang itu… Ah. Tidak. Tidak. Dia tidak mungkin kembali. Tidak mungkin…

Aku berusaha mengatur nafasku, mengapa tiba-tiba aku teringat pada orang itu lagi? Ia sudah pergi… Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menunggu nya. Tapi…

“…Kau percaya aku kan? Aku akan segera kembali.”

Aku mengkeretakkan rahangku tanpa sadar, emosi aneh kembali meluap dari dalam diriku karena ingatan pahit itu. Di tinggalkan Eomma saat aku sekarat, di tinggal Appa dan dia… di waktu yang hampir bersamaan…

Aku sudah cukup tersakiti oleh hal-hal itu. Walaupun Ia kembali… Tidak akan ada yang berubah dari hidupku. Hidupku akan tetap kosong seperti dulu. Tidak berarti.

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

168 tanggapan untuk “KAJIMA – SLICE #2 — IRISH’s story”

  1. Uahh xD telat baca~ dan ternyata ada baekhyun ❤ udah nebak, ini pasti baek yg ngmng.. dan trnyta bnran dia ❤ ❤ otw bc maraton~

  2. Asemeleh asemeleh 23 sekolah??? Ga kurang banyak mbak?? Yaampun gangster sejati yekan wkwkw,, rada kesel gimana gitu ya sm si cadel,, asyem kauu.
    Sumpah gatau kenapa aku baper banget sm baek,aaaaa si cabe membuat hatiku uwow uwow /apasih/ wkwk😂
    Ingatan ku di chapter ini juga makin meningkat,, hmmm apa yang akan terjadi selanjutnya… tetap saksikan acara ini di kasur kesayangan anda😊😊 /mati aja udah😂/

  3. Kolom komennya jauh ya~, kak penulisannya. Mengkertakkan biasanya aku denger menggertakkan sama menyernyit itu biasanya aku denger mengernyit. Itu menurut aku, mungkin kakak salah nulis, menurut kakak gimana?

  4. Siapa sbnrny sehun dkk?? Apa mrk bnrn bkn manusia eon???? Kshn injung y dikerjain mulu jd ank baru … Neeeeeeext eon 😀 fighting

  5. Ciee sehun manja banget sih pake ngadu2 sama saem segala wkwk. Rish aku yakin 200% persen itu yg ngesms pasti luhan , si sehun ama kai itu alien ? Apa vampire ? Apa jin ? Apa tuyul yg dipelihara irish ? Wkwk . Penasaran banget sumvaaah

  6. ohh… injung daebakkk.. kereeren bingitss.. ah aku tw sp yg ngirm.pesan sm injung past lu to the han lu…hannnn.. hahahahaha

  7. rebellious student jmn highschool itu saya bgt 😀 wkkk~ ah.. bikin nostalgila setting’ny jmn sklh gini. sigh.. cb jmn sklh dulu pny classmates cogan2 mcm SeKai & ChanBaek gt, @ that moment spt’ny bronis2 ini msh pd esdeh, tak’ kira yg nyapa Injung di dpn gudang itu si Suho, scara dy dah muncul wkt di semak2 kmrn, eh trnyt Baekhyun. cogan2 ini para alien dr exo planet ya, classmates from d’stars.. egen, saya tbak yg krm sms ke Injung itu Luhan. Trus2, Sehun wkt pa2san sm Ahri di dpn kls itu ngomongin apa sih..? /kepo nih../ xpresi’ny Sehun senyum sinis gt trus Ahri’ny jd ngdown, ada apa dg mrk?

    1. XD buakakakakakakaka ini malah kebalikan aku sekali XD wkwkwkwkwkw
      oiya XD mereka di sini jadi makhluk super astral ya XD

  8. Waahh injung kayanya udah terbiasa banget di bully yaa hahhaha… Itu sehun pake ngelaporin segala lagi.. Ada Baekhyun 💜💜
    Dia?? Siapa kah dia??

  9. Injung keren masa😂 mungkinkah sehun sama kai itu vampir? Kayanya mereka 2 jam sekali ke toilet buat minum darah deh. Maybe😂

  10. 23 Sekolah? We o we 😮 suka deh sama Injung 😂 cewek keyen 😆 penasaran sama bungkusan itu, izin baca next chap kak 😄

  11. Injung, i love her profile. Cucok eui injungnya, ada ya orang macem dia. Itu siapa yg nge sma Injung kak? Lanjut chap3 aja langsung anenya ya kak.😂
    Btw, gidaryeo artinya apa kak Rish?

    1. Ah, ternyata gidaryeo tunggulah. Tunggu, tunggulah? Jangan bilang itu berhubungan dengan luhan egen. (*maklum, abis baca chap ending.😂)

  12. aaaa !! aku suka karakter injung di sini.. peka banget.. di saat temen” yg lain ga curiga, dia curiga sendiri..

  13. Sehun dan kai selalu keluar kelas dijam yg sama tapi kenapa gurunya gak curiga??? Aku suka sama injung karena dia pintar banget gak mau selalu ditindas..

  14. Orang itu lan kah?? Wkwk asbutdan btw suka bgt sama karakter injung di sini, tipe” cewe kuat, bosen ngeliat kalo ada chara cewe yg lemah lembut kalo dibully diem ae trus nangis Wkwk males liatnya

  15. Huf huf huf makin penasaran eonni, seperti.a Kai dan Sehun vampir, mungkin mereka —Kai Sehun— ke toilet cman mau minum darah. Ah maafkan aku yg sok tau
    Next ya eon bca.a

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s