[Chapter 3: Sweet Memory] Emergency Love

Emergency Love1

Shuu’s present

[Chapter 3: Sweet Memory] Emergency Love

Main cast:

Xi Luhan [EXO] | Irene Bae [Red Velvet]

Support cast:

Im Yoona [Girls’ Generation] | Lay [EXO] | Kim Jonghyun [Shinee] |

Park Chorong [A Pink] | Jessica Jung [Girls’ Generation]

Genre:

failed Comedy | Romance | Drama | Family

Rating:

PG-13

Desclaimer:

Terimakasih atas komentarnya di chapter sebelumnya. Semoga enjoy di chapter 3 ini. Walaupun agak terlambat nge-post. Please, DON’T BASH or PLAGIAT. RCL juseyo! Warning! Typo kayaknya ada, tapi di usahain gak ada!

Prolog | After a Long Time | Q n A | Sweet Memory


Mata Irene dan Yoona masih mencari-cari tempat kosong di kedai patbingsu ini. Tak heran kedai patbingsu ini beberapa bulan belakangan menjadi tren di Seoul. Tak heran jika kedai kecil ini penuh dengan pembeli. Mata Irene terpaku kepada sebuah meja dengan seorang lelaki duduk disana sambil bermain ponsel. Matanya terbelalak saat itu juga ketika melihat lelaki itu.

“Sial” umpat Irene.

“Wae geurae?” tanya Yoona.

“Xi Luhan berada disini.” Kata Irene setengah berbisik di telinga Yoona yang berada di sebelahnya.

Mata Yoona membelalak kaget, tak lama kemudian Yoona tersenyum kecil. “Dimana orang itu?” tanya Yoona.

”Orang yang sedang duduk sendiri sambil bermain ponsel di sudut ruangan.” Kata Irene.

“Kau pintar juga memilih orang seperti itu.” kata Yoona. “Baiklah kita duduk saja bersamanya.” Kata Yoona lalu menghampiri Luhan.

“Ya! Ya! Eonni-ya!” Irene berusaha menghentikan eonni-nya yang menurutnya gila ini. Tapi Yoona tidak menggubris Irene sama sekali. “Eonni!” Irene memanggil-manggi Yoona. Tetapi tak sedikitpun Yoona menengok ke belakang. “Aishhh… Jinjja.” Kata Irene sambil mengacak poninya, ia dengan terpaksa menyusul Yoona yang beberapa puluh centi lagi sudah berada di depan Xi Luhan.

Irene sedikit menerobos orang yang berlalu lalang di kedai itu. Dan dalam hitungan beberapa detik Irene sudah berdiri dibelakang Yoona sambil memegang pundak kakak sepupunya itu. Nafasnya terlihat terengah.
“Apa yang kau lakukan?” kata Irene setengah berbisik kepada Yoona.

“Diamlah, aku hanya ingin membantumu.” Kata Yoona.

“Membantu pantatmu?” umpat Irene. Yoona membalasnya dengan mencibir Irene.

“Annyeonghaseyo, bolehkah kami duduk disini? Kau lihat kan kedai ini sudah penuh sesak. Bolehkah kami bergabung, kau temannya Irene kan?” tanya Yoona sambl menunjukan senyum terbaiknya kepada Luhan.

Luhan menghentikan aktivitasnya yaitu bermain ponsel. Ia lalu menatap Irene dan Yoona bergantian sebelum menjawab, “Ahh… ne. Tentu saja.”

“Tidak usah. Kami akan pergi. Lagian ketika melihatmu disini aku sudah tidak nafsu makan lagi.” Kata Irene sambil mengibaskan tangan. Luhan langsung beradu pandang dengan Irene, tatapan itu menakutkan.

Yoona berbisik sambil menggertakan gigi-giginya, “Apa yang kau bicarakan?” Yoona lalu lagsung duduk di hadapan Luhan tanpa meminta persetujuan Irene. “Ahhh terimakasih Tuan Xi. Oh ya perkenalkan aku Im Yoona, kakak sepupu Irene.” kata Yoona sambil mengulurkan tangan yang disambut Luhan. Irene masih berdiri memandangi Luhan dan Yoona sambil berdecak lidah.

“Kurasa kau lebih sopan dan lebih menarik daripada adik sepupumu itu.” kata Luhan kepada Yoona. Tawa Yoona-pun meledak saat itu juga.

“Apa kau bilang?!?” kata Irene sambil mengertakan gigi-giginya.

Luhan mengulum senyum sebelum akhirnya menjawab, “Kakak sepupumu lebih menarik daripada kau!” kata Luhan menekan setiap kata-katanya. Irene menghembuskan nafasnya kasar yang membuat poni di dahinya berterbangan. Sedangkan Yoona pengacau pada malam hari ini malah tersenyum penuh kemenangan.

Dengan kasar Irene menarik kursi dan duduk dengan kasar di samping Yoona. “Cepat pesan. Aku tak sabar ingin melahap patbingsu. Aku juga ingin mengunyah orang yang duduk di hadapanku ini.” Kata Irene sambil melirik Luhan sinis.

“Ahjussi! Dimeja ini aku tambah dua porsi lagi!” kata Luhan sambil mengangkat sebelah tangannya mencoba untuk menarik perhatian Ahjussi si pelayan. Ahjussi itu akhirnya mengangguk mengerti.

“Jadi kau cinta pertama Irene.” kata Yoona tanpa bersalah, saat itu juga Irene lagsung menginjak kaki Yoona dengan sekuat tenaganya.

“Eoh? Aku tak mengerti dengan semua orang hari ini.” kata Luhan bingung dengan apa yang dikatakan Yoona.

“Ah…. abaikan dia. Dia suka mengada-ada jika berbicara. Biarkan saja, jangan dipedulikan.” Kata Irene berusaha bersikap biasa saja. Lalu Irene melotot kepada Yoona sambil mencibirnya. Yoona hanya mengendikkan bahu sambil merintih kesakitan, tidak ada raut menyesal sedikitpun dari wajahnya.

“Apa kalian sedang bertengkar?” kata Yoona sambil menunjuk ke arah Luhan dan Irene secara bergantian.

“Tanya kan saja padanya” kata Irene menopang dagu dengan sebelah tangannya. Sedangkan Luhan mengendikan bahu tanda tak tahu.

Suasana masih ramai, malah semakin ramai dari waktu ke waktu. Orang-orang berdatangan sekedar memakan patbingsu. Kedai ini tidak terlalu besar seperti toko-toko yang lain, tapi entah kenapa yang berkunjung disini sangat banyak membuat kedai ini penuh sesak.

“Selamat makan.” Kata seorang pelayan sambil memindahkan tiga porsi patbingsu dari nampan ke atas meja. Wah, patbingsu ini membuat air liur Irene menetes. Dengan cepat Irene menarik satu mangkok patbingsu bagiannya.

“Oh ya Bae, Eomma terus menelponku dia selalu mengomel soal kau yang tak segera menggandeng seorang namja.” Kata Yoona sambil mengaduk patbingsu-nya yang membuat Irene tersedak.

“Dasar bodoh!” kata Luhan cuek. Irene memelototi Luhan sambil mencibirnya.

“Menggandeng saja kan? Aku bisa kalau hanya menggandeng.” Kata Irene yang sudah tak tertarik dengan topik pembicaraan yang sedang dibicarakan Yoona. Yoona mendecak kesal melihat kelakuan adik sepupunya ini yang mulai gila.

“Ahjumma kesayanganku itu membuat kupingku panas seharian ini. Apa kau tahu? Gara-gara kau, dia menelponku dan mengomel di telepon selama tiga jam, itu membuat desain baju yang harus kuselesaikan untuk musim gugur dan musim dingin terhambat.” Kata Yoona lalu melahap patbingsu-nya. Yoona berkerja di sebuah perusahaan fashion besar di daerah Gangnam.

“Katakan padanya, suruh ia bersabar.” Kata Irene masih berkonsentrasi dengan makananya. Luhan terlihat canggung dengan arah pembicaraan Irene dan Yoona, tentang masalah pribadi mereka.

Ting… Tung….. ponsel Yoona berdering, menandakan sebuah pesan singkat masuk. Dia lalu merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan benda persegi panjang pipih itu, yang tak lain adalah ponselnya. Yoona terlihat menggeser layar ponselnya, kemudian matanya membulat setelah membaca pesan singkat itu.

“Aigooo…. aku lupa. Aku harus menyerahkan dokumenku kepada atasan. Aku menyesal tak bisa bergabung sampai akhir. Aku harus pergi.” Kata Yoona sambil mengemasi barangnya dan memasukkannya kedalam tas tangannya.

“Ya! Ya! Ya! Eodiga?” tanya Irene, protes kepada Yoona.

Yoona berdiri, “Bae aku harus pergi. Kita bertemu di rumah. Ok?” kata Yoona bernegosiasi. Kalau negosiasi ini ditolak mentah-mentah oleh Irene, pasti Yoona akan tetap pergi.

Yoona lalu berlari kecil menuju pintu keluar. Luhan dan Irene memandangi punggung Yoona. Tentu saja dengan tatapan yang memiliki arti berbeda. Luhan yang bingung dengan kejadian yang tengah berlangsung ini, sedangkan Irene menatap punggung Yoona seakan tatapan itu mengeluarkan laser yang dapat memecahkan bata.

Terlihat Yoona berhenti dan berbalik, “Luhan! Jangan beri Bae makanan yang mengandung hewan berkaki empat. Dia tidak menyukainya. Dan juga jangan biarkan dia minum alkohol, dia belum pernah sedikitpun menyentuhnya.”

“Ya! Disini jual patbingsu bukan restoran barbeque! Jangan mengada-ada!” kata Irene sambil mencibir Yoona.

“Siapa tahu kalian setelah ini akan pergi bersama.” Kata Yoona. Luhan hanya mendengus kesal dengan semua yang terjadi.

Sebelum Irene sempat menjawab, Yoona kembali berbalik dan melangkahkan kakinya dengan langkah lebar. Dan tak lama kemudian ia terlihat sibuk menelpon dengan ponsel yang ia genggam.

Luhan dan Irene sejak tadi melempar pandang satu sama lain secara diam-diam sambil seolah sedang berkonsentrasi dengan patbingsu masing-masing. Kedai patbingsu mulai sepi dan hanya meninggalkan beberapa orang saja di beberapa meja, karena memang ini sudah malam. Irene mengaduk patbingsu-nya yang sudah hampir habis sambil menopang dagu dengan sebelah tangannya.

Pandangan mereka akhirnyapun bertemu. Manik mata mereka terkunci satu sama lain. “Ehem…” Luhan berdeham menghilangkan kecanggungan yang ada. Ia lalu melempar pandangannya terhadap objek lain sambil menggaruk tengkuknya.

Irene masih memandangi Luhan dengan tatapan bersalah. “Sunbae, kau masih marah?” kata Irene dengan wajah yang ditekuk.

“Sunbae…. jangan membuatku terlihat buruk. Katakanlah sesuatu. Kumohon!” kata Irene sambil menusuk-nusuk lengan Luhan yang duduk di hadapannya. Tetapi, Luhan tidak menggubris dan tetap memandang ke luar jendela.

“Sunbae…, maafkanlah aku. Kumohon, lain kali katakan padaku. Mengenai sesuatu yang tak boleh mereka ketahui tentang kau.” Kata Irene sambil mempertemukan kedua telapak tangannya di dada, tanda meohon.

“Sunbae….” kata Irene lagi sambil tetap menusuk-nusuk lengan Luhan dengan jari telunjuknya.

“…..” tetap tak ada jawaban berarti. Luhan terlihat melirik Irene sedikit melewati sudut matanya. ”Baiklah, aku akan memaafkanmu. Tetapi kau harus janji jangan membuatku marah seperti ini lagi.” Kata Luhan sambil mengulurkan tangannya.

Tanpa aba-aba dan tanpa banyak berkata lagi Irene langsung menjabat tangan Luhan dan mengangguk mantap. Matanya membulat sempurna dan berbinar-binar. Seperti anak anjing yang sedang meminta makan kepada tuannya.

“Ah…. jangan menunjukkan ekspresi itu. kau menjadi membuatku merasa bersalah.” Kata Luhan sambil mengibaskan tangannya tepat di wajah Irene. Irene yang sungguh jail tetap saja meneruskan ekspresinya yang begitu lucu itu sambil tetap memandang Luhan lekat.

“Irene hentikan!” kata Luhan. Tetap saja Irene mengabaikan kata-kata Luhan dan melanjutkan ekspresinya itu. Luhan mendesah kasar dan mengusap wajahnya dengan sebelah tanganya. Terlihat sekali ia sedang frustasi menghadapi makhluk seperti Irene ini.

“Baiklah, sunbae akan kuhentikan.” Kata Irene sambil tetap melanjutkan ekspresi itu. seperetik kemudian ekspresi Irene langsung berubah 180 derajat berbeda dari sebelumnya.

Tak beberapa lama kemudian, mereka berubah menjadi akrab. Seakan tidak mempedulikan orang sekitarnya mereka membicarakan hal yang menarik saja untuk mereka. Seperti mengapa mereka dahulu menghitung percepatan apel yang jatuh dari pohonnya, karena menurut Luhan dan Irene ilmu itu tak berguna sama sekali dalam kehidupan sehari-hari. Kata Irene kita tak mungkin menghitung percepatan apel jatuh saat hendak memakan mereka.

Ada hal yang mereka bicarakan sampai mereka merasa tertawa terbahak, padahal belum tentu orag lain yang mendengarnya akan tertawa. Seperti kenapa televisi, ponsel, dan ac diciptakan dnegan bentuk persegi panjang? Menurut Luhan lebih menarik jika bentuk mereka adalah segitiga atau segilima. Lebih bagus saja katanya.

Hari pun telah semakin malam. Merekapun memutuskan untuk berpisah. Kedai itupun sudah sepi hanya ada dua oarang di meja dekat pintu yang sedang membicarakan suatu pekerjaan. Dan terlihat salah seorang pekerja mengelap permukaan meja dengan lap kotak-kotak.

Udara musim semipun terasa saat mereka berjalan ke luar kedai. Udara musim dingin yang Irene suka. Ia selalu menghirupnya dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Terasa ringan dadanya, saat menghembuskannya.

Hari ini berjalan seperti hari-hari kemarin. Belum ada yang spesial dari hari ini. Terlihat Lay dan Irene berlari kecil menuju ruangan Dokter Jung. Irene terlihat kerepotan dengan rambutnya yang belum ia ikat ke belakang. Ia menggigit karet rambutnya dan kedua tangannya terlihat sibuk mengarahkan surai dan anak rambutnya kebelakang. Tepat di belakangnya ada Lay yang berlari kecil menyamakan langkahnya dengan Irene.

Tepat sesaat sebelum Irene dan Lay sampai di depan ruangan Dokter Jung, ikatan rambut Irene sudah selesai. Dengan sigap Lay lalu membuka pintu ruangan tersebut dan masuk kedalam ruangan yang diikuti Irene.

“Annyeonghaseyo,” sapa Lay. Terlihat Dokter Jessica Jung telah duduk di kursi yang tak lain adalah kursi tahtanya. Sedangkan Chorong, Jonghyun dan Luhan berdiri di hadapannya dan menunggu perintah darinya.

“Jeoseonghamnida. Dokter Jung, tadi kami ke ruang UGD dan tidak menemukan kalian an kami di beritahu suster untuk ke ruangan anda.” Kata Irene sambil ikut berdiri berjajar di samping Luhan diikuti dengan Lay.

“Gwencanha. Kali ini jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya akan di ganti dengan jadwal baru. Karena di beberapa bangsal banyak yang kekurangan tenaga dokter dan kurasa kalian harus merasakan bagaimana bekerja di bangsal yang berbeda, menghadapi pasien yang berbeda pula.” Kata Dokter Jung sambil membolak-balikkan beberapa dokumen di tangannya.

“Baiklah. Sekarang Irene akan ditempatkan di bangsal anak.” Kata Dokter Jung dari kursinya. Ieren langsung berdecak kesal mendnegar namanya di tempatkan di bangsal anak. Bagaimanapun juga ia cenderung membenci anak-anak.

“Wae geurae?” tanya Dokter Jung. Irene langsung menggelengkan kepalanya, tanda tidak apa-apa. “Irene bersama…. Xi Luhan di bangsal anak. Dan sisanya, Lay, Jonghyun dan Chorong kalian akan berada di paviliun akasia”

“Ne. Uisa.” Kata mereka serempak.

“Tunggu apalagi? Cepat ke posisi kalian.” Kata Dokter Jung. Mereka langsung bubarbarisan dan keluar dari ruangan Dokter Jung dan masing-masing dari mereka mulai berpisah karena bangsal anak dan paviliun akasia berbeda arah.

“Kenapa?” kata Luhan berjalan disamping Irene sambil melipat tangannya di dada.

“Kenapa apanya?” kata Irene dengan suara yang sumbang, hidungnyapun terlihat memerah.

“Ada apa dengan suaramu? Mengapa begitu?” kata Luhan lalu terkekeh geli mendengar suara Irene yang sumbang melebihi nyanyian orang fals.

“Ah…. aku kemarin setelah makan patbingsu langsung tidur di kamar. Ternyata jendela kamarku belum kututup. Angin malampun dengan leluasa masuk ke kamarku. Alhasil, aku terkena flu.” Kata Irene sambil memandang Luhan.

“Bodoh. Seorang dokter bisa flu? Pasti orang awam akan beranggapan kau dokter yang payah. Bagaimana kau mau mengobati pasienmu kalau kau sendiri sakit?” kata Luhan.

“Sakit itu manusiawi, bodoh.” Kata Irene masih dengan suaranya yang sumbang. “Tennag saja aku akan memebli obat di apotek rumah sakit. Sebentar lagi akan sembuh.” Kata Irene percaya diri.

“Kenapa kau tadi kaget saat di tempatkan di bangsal anak?” tanya Luhan yang mulai penasaran.

“Ummm…. sebenarnya aku tidak terlalu menyukai anak-anak.” Kata Irene jujur.

“Kau calon ibu yang buruk bagi anak-anakmu.” Cibir Luhan. Irene langsung melotot dan mengomal tanpa suara.

“Kalau dengan anak sendiri, tidak akan seperti itulah. Bagaimanapun aku yang mengeluarkannya, aku yang berjuang untuknya. Mana mungkin aku akan membenci atau bahkan membuangnya.” Kata Irene panjang lebar tanpa cela sedikitpun. Bahkan Luhan tidak bisa menyela perkataan Irene saking padatnya.

Luhan tepuk tangan dan terkekeh lagi. “Janagn anggap omonganku serius. Agassi.” Kata Luhan sambil menunjukkan senyumnya.

“Terserah apa kata mulutmu saja.” kata Irene sambil memutar bola matanya.

Tak lama kemudian mereka berhenti di pusat informasi yang terdapat perawat yang sedang duduk sambil mengolah beberapa dokumen di tangan mereka. luhan angkat bicara, “Kami dari ruang UGD. Jung Uisa mengatakan bahwa disini kekurangan dokter. Adakah pasien yang belum di periksa hari ini?”

Irene terlihat megintip perawat itu dari balik tembok pembatas. Ia kelihatan kesulitan dan akhirnya menyerah karena tidak mendapat hasil apapun. “Ada lima anak-anak dengan penyakit berbeda yang belum di periksa. Kalian bisa memeriksanya.” Kata perawat tersebut sambil menyerahkan beberapa papan yang berisi riwayat pasien.

“Baiklah. Kamsahamnida.” Kata Luhan lalu menerimanya.

Saat memeriksa anak-anak itu, Irene di pelototi terus menerus dengan keempat anak tersebut. Entah mengapa, padahal Irene tidak melakukan apapun dan hanya memberikan salam kepada mereka. mungkin aura yang di bawa Irene cukup negatif sehingga membuat anak-anak itu tidak menyukai Irene menjadi merasa bersalah kepada Luhan yang harus memeriksa anak-anak itu sendirian. Jika Irene mendekat anak-anak tersebut kebanyakan langsung lari ke pelukan orang tua mereka, menangis atau menyembunyikan dirinya di balik sprei. Tetapi hal yang berbeda saat Luhan yang memeriksa mereka. mereka terlihat tertawa-tawa saat Luhan memberikan tebakan yang lucu.

Mereka telah memeriksa keempat anak dengan penyakit yang berbeda. Masih ada satu lagi yang harus mereka periksa, tetapi letak kamarnya di ujung lorong.

“Apa aku membawa aura yang seburuk itu kepada mereka?” tanya Irene sambil menggaruk kepalanya. “Padahal aku tak melakukan apapun.” Tambanya.

“Molla, mungkin seperti itu.” kata Luhan terkekeh.

“Maka dari itu aku menolak saran dari eommaku untuk mengambil spesialis anak. Karena semua anak-anak tak menyukaiku. Apa seburuk itu?” tanya Irene yang masih tak mengerti.

“Sudahlah, mereka hanya anak-anak. Tak usah pedulikan mereka.” kata Luhan yang tetap melanjutkan langkahnya.

“Kali ini kau saja ya yang memberikan salam. Aku akan hanya berada di belakangmu.” Kata Irene.

“Arraseo… arraseo.” Kata Luhan. Merekapun sampai di kamar 309. Luhan lalu menggeser pintunya.

Terlihat gadis kecil berusia 7 tahun sedang duduk bersila di atas kasur sambil melahap sarapannya. Anak itu menyadari keberadaan Irene dan Luhan. Ia tersenyum cerah kepada Irene dan Luhan.

“Annyeonghaseyo Uisa. Kalian uisa baru? Bangapta!” kata anak itu sambil tersenyum yang membuat gigi-giginya yang tidak rapi terekspos. “Tunggu apa lagi? Eonni, Oppa aku sudah makan banyak supaya dapat sembuh.” Kata anak itu dengan ceria.

Asalkan kalian tahu dia adalah Song Nara, berusia 7 tahuan. Senyum khas anak kecilnya itu menutupi penyakit yang di deritanya. Kalian pasti tak menyangka jika anak itu menderita kanker darah atau familiar dengan leukimia. Dia memakai kupluk menutupi kepalanya yang sudah botak. Walaupun wajahnya pucat, Irene tahu bahwa matanya bersinar-sinar saat melihat mereka berdua.

Luhan mendekati gadis itu dan duduk di bibir ranjang. Lalu tersenyum kepada anak itu. “Makanlah yang banyak, kau boleh tambah kalau mau. Tapi makannya pelan-pelan.” Kata Luhan sambil tersenyum.

“Ne. Oppa.” Kata gadis itu manis. Nara lalu beralih menatap Irene yang masih terdiam menunggu respon negatif yang terbiasa ia terima. “Eonni! kau sedang apa? Kemarilah.” Kata Nara sambil melambaikan tangannya, mengode Irene untuk mendekat.

Irene tertegun melihat respon berbeda yang Nara lakukan. Luhan lalu mengangguk kepada Irene tanda tidak apa-apa jika mendekat. Irene lalu menunjukkan senyum terbaiknya kepada Nara.

“Annyeonghaseyo? Bagaimana kabarmu?” kata Irene sambil mensejajarkan tingginya dengan Nara yang sedang duduk bersila di atas tempat tidur sambil melahap sup tahu dan tauge-nya.

“Baik-baik saja. Eomma sedang keluar sebentar. Biasanya dia akan kembali saat jam makan siang. Dia juga harus mengurusi appaku di rumah.” Kata Nara, kemudian ia melahap sesendok besar nasi yang membuat pipinya menggembung lucu.

“Pelan-pelan, tidak akan ada yang mengambilnya darimu.” Kata Irene lalu mengusap puncak kepala Nara dengan lembut. Nara lalu menjawabnya dnegan mengangguk mantap.

“Jika ada yang akan mengambilnya darimu….. aku akan menghukumnya. Siapapun itu.” kata Luhan sambil menepuk-nepuk dadanya. Nara dan Irene seketika itu terbahak melihat tingkah Luhan yang kekanakan.

“Wae? Kenapa kalian tertawa?”

“A-ani.” Kata Irene menahan tawa. Sedangkan Nara berusaha menutup mulutnya dengan telapak tangannya yang mungil.
“Bailah kalau begitu kami akan memeriksa kamu.” Kata Luhan sambil memasang stetoskopnya ke telinganya. Ia lalu menempelkan ke dada Nara.

“Ahhh… apa jantungmu berdetak kencang saat melihatku? Apakah aku tampan?” kata Luhan yang berbicara asal.

“Mwo? Ani!” kata Nara dengan wajah yang tampak kesal.

Gelak tawa-pun mengisi ruangan tersebut. Kepolosan Nara yang masih kecil dan kejahilan Luhan dan Irene yang bergantian menggoda Nara. Entah kenapa Irene ingin selalu seperti ini. Serakah memang, tetapi ia menyadari hal itu sekarang. Ia juga menginginkannya. Sama seperti yang Yoona katakan padanya bahwa cinta itu harus serakah.

Luhan dan Irene selesai memeriksa pasien di bangsal anak. Waktu telah menunuukkan tengah hari dan saatnya mereka istirahat makan siang. Mereka berjalan menyusuri koridor-koridor untuk menuju ke kafetaria rumah sakit.
Suara Irene menginterupsi keheningan yang awalnya tercipta, “Aku akan ke kamar mandi dulu. Kau duluan saja nanti aku menyusul.”
“Ne. Arraseo. Kalau begitu aku akan menunggu di ruang UGD saja.” kata Luhan sambil menunjuk ruang UGD yang berjarak beberapa meter dari mereka.

Irene mengangguk dan berbelok arah menuju rumah sakit. Sedangkan Luhan meneruskan langkahnya menuju ruang UGD. Ruang UGD tak seramai biasanya yang penuh sesak sampai terkadang Irene mengeluh karena banyaknya orang yang berlalu lalang membuat kepalanya pening. Sekarang rasanya bisa bernafas dengan leluasa, tidak seperti biasanya yang harus berlomba menghirup udara dengan yang lainnya.

“Dokter Xi!” panggil kepala perawat Jang.
“Ne? Ada apa?” tanya Luhan sambil menghampiri kepala perawat yang berada di bilik administrasi.
“Kemarilah.” Kata kepala perawat Jang. Luhan lalu berjalan mendekat.
“Ne? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Luhan.
“Ani. Aku hanya ingin menunjukan jadwal piketmu di ruang UGD.” Kata kepala perawat Jang sambil menyodorkan selembar kertas padanya.
“Ahhh…. Arraseo.” Kata Luhan sambil mengambil selembar kertas dari tangan kepala perawat Jang.
Dooooooorrrrrrrr…….
Terdengar bunyi tembakan dari arah ruang pemeriksaan. Luhan dengan refleks langsung menoleh disertai perawat dan beberapa orang yang sedang berada di UGD. Luhan terpaku di tempatnya dan hanya bisa berdiri mematung. Pikirannya yang semula masih baik-baik saja sekarang seperti otaknya telah rusak, tidak dapat digunakan lagi. Semua kata tanya melintas di benak Luhan. Apa yang harus kulakukan? Dimana Irene? Kenapa harus di ruang UGD? Bagaimana ini? Siapa orang itu? mengapa dia melakukannya di rumah sakit seperti ini?

-TBC-

Halo maaf banget udah telat buat update FF ini. maaf banget T ^T soalnya sibuk banget dan mengalami writer block yang sangat menyebalkan. aku tahu mungkin di part ini membosankan tapi aku janiji di part berikutnya bakal seru isnyaallah sih…. tapi part selanjutnya bakalan telat di update soalnya masih UTS. makasih udah baca, ditunggu banget komentar dari kalian. Gomawo ^^ Oh iya kasih saran dong buat siapa cast yang bakal dijodohin ibunya sama Irene

38 tanggapan untuk “[Chapter 3: Sweet Memory] Emergency Love”

  1. Aigoo ya…
    Tapi kadang” ff ini mirip drama Emergency Couple deh..tapi jalan gmn ceritanya agak beda gitu..tapi gpp ko suka sama ff nya

    1. Iya ih Yoona emang gitu, dia nggak munafik, dia orangnya jujurnya keterlaluan. ntar kutimpuk dah si Yoonanya. kasian Irenenya. makasih udah baca dan komentar (lagi)

  2. semakin menunggu kelanjutan hubungan dua orang ini~

    Yoona-nya sepupu yang baik :3 ngebantuin Irene buat deket sama Luhan xD makanya semoga makin kesini semakin ada kemajuan deh ya 😀
    scene terakhir sebelum tbc kenapaa? Irene baik-baik aja kan? semoga ga kenapa-kenapa
    ditunggu yaa chapter selanjutnya =D

  3. hello hello, aku telat ya baca nya 😀 thnk you loh masih ngingetin aku 😀 btw kayaknya aku ga jadi panggil unnie, soalnya kita 01L 😀 jadi kita saling panggil gimana?

    kekekek~~ aku baca ini sambil ngerjain tugas disekolah LOL, ga ada waktu lagi soalnya dan untung nya JamKos 😀 btw, aku ga ngerti yg terakhir kesannya agak kayak di percepat banget gitu, jadi ada tembakan di UGD? aku bener bener agak ga ngerti yang terakhir, kayak langsung berlalu dan duarrr gitu aja -_-

    kalo menurut aku alur nya sih agak cepetan, but aku hargain kok, dan tulisan kamu makin bagus setiap update chapter nya dan semoga bisa lebih diperbaiki lagi kesalahan dan penulisan kata kata baku yang benar 😀

    annyeong!! kalo uah dilanjut komen lagi yap :p

  4. waduh mereka lucu ya malu malu kucing gt. oiya td pas aku baca bnyk typo nya hehe tp gapapa itu manusiawi kok lain kli diperhatiin lg aja hoho. oiya saran aku sih ahn jaehyun aja gmn ?!

    1. Iya nih belom sempet di edit maaf kalo ganggu T^T Ahn Jaehyun? Wahhh… makasih udah kasih saran, di tampung dulu ya ^^ makasih udah baca dan komentar! Ditunggu kelanjutannya ya ^^

  5. akhirnya bisa ketemu di chapter 3.. hehe
    seneng banget bisa baca ff ini..
    ceritanya jg udah panjang .. hehe
    makin bagus kok ceritanya..
    yg pasti semangat terus lanjut ffnya ya.. aku tunggu next chapternya 🙂

    1. Waahhhh…. pembaca setia ya? Makasih udah mau baca FF aku yang abal2 ini terus kirim komentar ^^ Ditunggu ya kelanjutannya yang mungkin tertunda ^^

  6. Aaahhhh matchmaker Im
    Duuuhhhhh Baechy, Kalo suka mah suka aja, hayo ditunjukin ke luhaen, kali aja Emang dia ga peka
    Semoga semakin banyak momen tom&jerry/romantis baechy-luhaen
    Saran aja sih authornim, Kalo penggunaan bahasa asing atau korea sebaiknya dimiringin/italic
    Kkk ga ngebosenin kok *opini pribadi*
    Ditunggu kelanjutan ceritanya 😀

    1. Dia peka terhadap rangsang kok….. Kalo nggak peka berarti bukan makhluk hidup dong? Makasih udah baca dan komentar staytuned aja ya (?) Pokoknga tunggu aja kelanjutannya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s