MY SWEETEST DOLL

exoffi – LUHAN/MINAH – MY SWEETEST – oneshoot 

– SHIN TAMA-

Author Note’s : tidak ada yang sempurna, kecuali sang pencipta. begitupun ff-ku.

pasti ada saja yang kurang. so,,,ditunggu coment dan like-nya y, dari para reader

setia EXOFFI. thanks.

“TADAA! Pacarku yang memberikannya.” Yura menunjukkan sebuah boneka beruang pink yang berukuran besar.

“Wah, lucu sekali.” komentar Sojin.

“Juga lembut.” timpal Minah seraya membelai boneka itu.

“Oia, lihat ini!” Sojin mengeluarkan sesuatu dari tas tangannya.

“Baju couple?” gumam Yura.

“Ehm,,, bagaimana menurut kalian? Cocok tidak untuk kami?”

“hey, kalian tampak seperti pasangan model, memakai baju apapun pasti cocok.” balas Yura.

 

Minah tersenyum miris. Bukan untuk kedua temannya, tapi lebih ditujukan untuk dirinya sendiri. Ia kembali sibuk dengan dessert-nya. Ia tidak punya alasan untuk membicarakan hal itu.

“Aku sudah selesai, aku permisi pulang lebih dulu, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, annyeong. ”

 

Minah beranjak pergi  Tanpa menunggu sanggahan dari mereka.

 

“Ada apa dengannya?” tanya Sojin.

“Aku khawatir, dia memikirkan pria klise itu lagi. ” Jawab Yura seraya memandangi Minah yang berjalan gontai menuju pintu keluar.

 

 

***

 

 

Minah menelusupkan tangannya ke dalam saku jaket tebalnya. Suhu udara malam ini kurang bersahabat, membuat hatinya yang dingin semakin dingin. Namun hal tersebut tak menyurutkan niatnya untuk menyusuri jalan di pinggiran kota.

 

“Yura-ah…Sojin-ah….aku iri kepada kalian.” Gumam Minah.

 

Minah membayangkan ekspresi wajah kedua temannya itu, ketika mereka mendapat benda pemberian dari kekasih mereka masing-masing. Mereka tampak begitu bahagia. Senyum mereka tak pernah pudar. Dapatkah aku merasakannya juga? tanya minah dalam hatinya.

Bukannya ia tidak pernah mendapatkan benda-benda semacam itu dari seorang pria. Malah terlampau sering. Namun, Minah tidak merasakan perasaan yang istimewa saat menerimanya. Semuanya tampak biasa. Hambar.

 

Langkah minah terkunci tepat didepan sebuah butik. Dibalik kaca butik tersebut, terpajang sepasang baju pengantin. Beberapa detik, pandangannya tak lepas dari objek yang menurutnya menarik. Tubuh Minah mendadak kebal terhadap suhu ekstrim yang menyelubunginya. Sekilas kenangan hangat melintas dipikirannya.

 

“Minah-ah, kau cocok memakai gaun putih itu, aku menyukainya, maukah kau menikah denganku?”

“ne, kajja… kita menikah.”

 

Percakapan Minah dengan pria itu, masih menggema ditelinganya. Seperti musik klasik yang abadi yang tak pernah bosan ia putar. Perasaannya kepada pria itu seakan melarangnya untuk menyukai pria lain. Apa maksudnya? cinta sejati? ataukah, sebuah kutukan? jika itu cinta, maka pertemukan kami. Namun, jika itu benar kutukan, maka izinkanlah hati ini menerima pria lain. Jebal… doa minah.

 

“maukah kau menikah denganku? ”

 

Suara seorang pria membuyarkan lamunannya. Bagai disengat alat kejut jantung, Minah langsung terkesiap. Ia menengok kekanan dan kekiri, serta kebelakang. Jalan ini tampak lengah. Hanya ia yang berdiri disitu. Minah kembali menatap pria itu.

 

“Apa kau bicara denganku?” tanya Minah kepada pria asing itu.

“iya, kau!”

cogi, kau bilang apa tadi? ”

 

Luhan berjalan menghampiri gadis yang tengah terperangah itu. “Aku bilang: maukah kau menikah denganku.” katanya setelah berada didepan Minah. Minah memicingkan matanya. “Hey… siapa kau? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? pasti kau mabuk, atau akalmu memang tidak waras eoh!? Kenapa kau bicara seperti itu padaku?”

 

Anio… ”

 

Oh astaga, pria ini benar-benar gila. Racau Minah dalam hati. “Permisi, aku mau pulang.” Minah mengambil langkah cepat, hampir berlari. Dengan ragu-ragu, ia menoleh kebelakang.

Luhan melambaikan tangan sambil tersenyum geli. “Gadis itu masih sama. Cara bicaranya, sikapnya. Hanya sedikit yang berubah, yaitu wajahnya. Jadi semakin cantik.” ungkapnya.

 

 

***

 

“Hey Luhan hyung ! awasss…. ”

BUGHH….

Sebuah benda bulat berwarna hitam putih mendarat mulus dikepala Luhan.

mianhae hyung, aku tidak sengaja. Sungguh!” kata Sehun dengan penuh penyesalan.

Gwaenchana.” Balas Luhan seraya mengelus-elus kepalanya, lalu ia memberikan senyum untuk temannya itu.

Sebelah alis Sehun terangkat. Heran? bingung? oh, terlampau dari itu. Biasanya pria itu akan mengomel jika ada sesuatu yang buruk menimpanya. Tapi sekarang…. pria manis itu malah menunjukkan senyumnya yang membuat orang bisa terjangkit diabetes.

Wae? Sepertinya suasana hatimu sedang baik.” tanya Sehun.

Joah, tadi malam aku bertemu dengannya.”

nugu? Apakah yeoja yang tempo hari kau ceritakan itu?”

“ya, memang dia.”

“Lalu bagaimana reaksinya saat melihatmu?”

“dia melarikan diri.” air wajah Luhan berubah seketika, menjadi sendu.

Wae? apa yang kau lakukan, sampai seorang yeoja lari terbirit – birit seperti itu?”

“Aku bilang ‘maukah kau menikah denganku?’ itu saja.”

Sehun menepuk dahinya, “kau itu terlalu frontal, hyung. Kemungkinan besar, yeoja itu sudah lupa padamu. Waktu 18 tahun itu, bukan waktu yang sebentar. ”

“Menurutku dia tidak melupakanku,  dia hanya tidak ingat. ”

“Ya, terserah kau saja, hyung.” Balas Sehun seraya berlalu meninggalkan Luhan yang sedang terduduk di lapangan futsal sambil memeluk bola.

 

Aku tidak ingin kencan buta, cinta buta, atau semacamnya. Aku ingin kau melihatku dengan mata dan hatimu. Merasakan kehadiranku dengan feeling dan nalurimu. Cinta yang tulus darimu. That’s enough. ~Luhan~

 

 

***

 

BRUKKK…

“Ahw… ” ringis Minah.

Gadis itu tersungkur ke tanah, ketika ia hendak melangkahkan kakinya.Tali sepatunya lepas lagi.

 

“Hmm…kau masih saja memelihara kebiasaan burukmu itu. ”

 

Mata Minah membulat sempurna. “Neo…neol…” ucapnya tergagap ketika menemukan pria itu lagi. Pria aneh yang pernah mengajaknya menikah secara tiba-tiba.

Luhan berjongkok didepan Minah yang tersimpuh ditanah, lalu mengikat tali sepatu gadis itu. “Lihat, kau harus membuat simpul seperti ini, agar tidak mudah lepas saat kau memakainya, ara?” jelas luhan seraya mempraktekkannya.

 

“Hey, kau penguntit ya?” teriak Minah membabi buta sambil berdiri.

Mwo?” Luhan terkejut atas tudingan gadis itu.

“Hanya karena aku mengacuhkan mu kemarin, kau nekad mengikuti ku kan?”

anio,,, kau salah paham.” balas Luhan sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

“Lalu, kenapa kau bisa tahu rumahku?”

“aku pernah tinggal disekitar sini.”

“Modus pria sama saja. ”

Minah bergegas meninggalkan pria itu. Ia melanjutkan kegiatan lari paginya yang sempat tertunda karena insiden kecil.

 

“Lagi? Dia pergi lagi.Gwaenchana Xi Luhan (seraya menepuk-nepuk pundaknya sendiri). Kau masih punya banyak cara untuk membuat yeoja itu ingat ke padamu.” Luhan menyemangati dirinya sendiri.

 

***

 

 

Sojin dan Yura memasuki bangunan bertingkat 3 yang di atas pintu masuknya ada papan nama bertuliskan ‘Girl’s Day Salon’. mereka rutin ke tempat itu di akhir pekan.

“Kau sedang lihat apa?” tanya Yura kepada Sojin yang tengah fokus menatap layar tablet pc-nya.

“Aku sedang melihat ini.” Sojin menunjukkan tablet pc-nya.

“Gaun pengantin?” respon Yura setelah melihat gambar di gadget temannya itu. “Kau akan menikah?” sambung Yura.

Ani, aku sedang belanja baju online. Kebetulan aku melihat gaun ini.”

Yura mengangguk, mengerti.

“Dan… aku ingin memakainya.” lanjut Sojin lirih.

“Itu mudah, kau menikah saja!”

“Masalahnya …dia sedang sibuk dengan proyek pekerjaannya. Aku tidak yakin, dia akan melamarku dalam waktu dekat.” Balas Sojin dengan ekspresi kecewa. “Lalu… bagaimana dengan pacarmu? Apakah dia sudah mengajakmu menikah?” Tanyanya.

Sepertinya ekspresi wajah Sojin menular kepada Yura. Wajah cerahnya tiba-tiba berkabut. “Belum, entahlah apa yang dia tunggu. Padahal kita sudah pacaran selama 3 tahun.” Keluh Yura.

“Silakan nona ke ruang spa, semuanya sudah disiapkan.” Kata agassi pegawai salon tersebut.

Ne.” Jawab Yura dan Sojin berbarengan.

 

CKLEK….

Pintu ruang spa terbuka.”Mian, aku terlambat.” Kata Minah sambil menggantungkan tas dan jaketnya di pojok ruangan.

“Kami hampir selesai.”

“Kau cepatlah ganti baju.”

Kata kedua temannya secara bergantian.

agassi, Aku ingin dipijat dibagian kepala lebih lama ya.” Pinta Minah kepada agassi pegawai salon.

“Kau sedang pusing ya?” Tanya Sojin.

“Ehm…ada yang mengajakku menikah.” Jawab Minah.

Mwo?”

Nugu?”

“Zhang Yi Xing?”

“Terima saja!”

Shut up!” Teriak Minah. Terpaksa ia mengeluarkan raungannya. kalau dibiarkan, kedua temannya itu akan berspekulasi dengan sesuka hati. “Kalian kira menikah itu mudah? aku buka anak kecil yang sedang main rumah -rumahan.”

“lalu kau jawab ‘tidak ‘?” Tanya Sojin.

“Aku kabur.”

wae? malah aku iri padamu. Kausudah dilamar. Pria itu pasti sangat menyayangimu dan bertanggung jawab.” uangkap Yura

Minah merenung sesaat. Entahlah. Sayang? Tanggung jawab? Lupakan itu. Ia tidak mungkin serta merta setuju dengan pendapat temannya itu. Menurutnya, pria tampan dan manis itu adalah pria kurang beruntung. Dengan kata lain ‘kelainan’. Terlalu kasar? Benarkah? Menurutnya julukan itu pantas. Lagipula, pria waras mana yang akan melakukan hal senekad itu.

“Bagaimana bisa aku bilang ‘iya’, sedangkan aku tidak mengenalnya. Dan parahnya lagi, dia seorang penguntit.” Jelas Minah.

“Baiklah, lupakah soal pria asing itu. Sekarang kami ingin tau mengenai kau dan Yi xing? ” sela Sojin.

“Aku sudah pernah bilang bahwa dia adalah rekan kerjaku.”

“Ya tentu, rekan kerja yang menyayangimu dan mengejarmu. Apa salahnya kau coba membuka hatimu dan memberi kesempatan kepadanya?! ”

Sebenarnya Minah ingin. Tapi… ah sudahlah. Mereka pasti tahu alasannya. Mereka bilang itu hanya cinta monyet. Minah mengira juga begitu. Namun, apakah cinta monyet bisa bertahan selama ini? ia rasa sudah sangat lama.

 

***

 

Minah berdiri didepan zebra cross dengan perasaan tegang. Hari ini adalah hari terpenting dalam karirnya. Ia akan dipromosikan sebagai pemimpin redaksi di perusahaan media cetak fashion populer dikorea selatan dengan rating yang memuaskan . Minah melirik ke lampu lalu lintas….3….2…1…lampu berubah hijau untuk pejalan kaki.

BRAKK…

Seseorang menabrak tubuh ramping Minah. Semua berkas ditangannya berhamburan di jalan.

Joesong-hamnida,,,biar kubantu.”

Kata seorang Ahjumma yang menabrak Minah tadi. Dengan segera mereka berdua memunguti lembaran kertas itu.

“Saya sungguh menyesal. saya sangat minta maaf .” Kata Ahjumma itu lagi seraya membungkukan badannya.

“Tidak apa-apa. Tidak usah dipikirkan. ”

Setelah sampai diujung jalan, Minah memeriksa kembali berkas -berkas nya. “Hah…laporan keuangan nya tidak ada.” katanya, lalu Indra penglihatan nya menyisir tempat itu lagi.”itu dia… ”

Andwae! ” Luhan menahan lengan Gadis itu yang hendak berjalan ketengah jalan untuk mengambil kertas itu. “Aku saja yang akan mengambilnya. Berjalan ke tengah jalan disaat kendaraan masih lalu-lalang, itu sangat berbahaya.”

Minah terkejut, saat melihat pria itu lagi. Yang benar saja? Dunia sempit sekali, bisa jadi lebih sempit dari taman bermain di TK-ku dulu. Komentar Minah dalam pikirannya. ia menurut. Pria itu berjalan ketengah jalan tanpa rasa takut. Padahal Minah hanya melihatnya saja, tapi itu cukup membuatnya takut. Kendaraan kecil sampai yang besar, melesat dengan cepatnya di jalan raya. Ia tidak sadar telah menahan  napasnya saat pria itu pergi dan kembali lagi. Khawatir jika ada kendaraan yang tiba-tiba menabrak pria itu.

“terima kasih.” Ungkap Minah seraya menerima kertas itu.

“kata ‘terima kasih’ saja tidak cukup.”

nde? Kau mau uang?”

“tidak.”

“mau aku traktir makan?”

“bukan itu.”

“lalu apa?”

“aku minta waktumu 10 menit!”

Minah melirik jam tangannya. 10 menit? Tidak masalah. Ia masih punya cukup waktu untuk ke kantor. Pikirnya. “baiklah, ada apa? Ada yang ingin kau katakan?”

“ikut aku.” Pinta Luhan, lalu meraih ibu jari gadis itu dan menuntunnya.

Luhan membawa Minah ke depan sebuah rumah bergaya vintage yang jaraknya cukup dekat dengan kediaman Minah. Minah merasakan perasaan aneh ketika pria itu menggenggam ibu jarinya. Rasanya seperti de javu.

“lihatlah! Plumeria-nya sedang mekar.” Kata Luhan sambil menatap pohon yang dipenuhi bunga berwarna merah dengan gradasi kuning.

Minah terpukau saat melihat pemandangan itu. Sangat cantik. Tapi, kenapa dia tahu bunga favoritku? Batinnya.

“tunggu sebentar, aku akan membuatkan sebuah mahkota bunga itu untukmu.”

“jangan!” larang Minah sambil menahan lengan pria itu.

Minah tahu betul karakter si pemilik rumah ini. Dia adalah seorang pria tua yang galak dan pelit. Bagaimana jadinya jika sampai pria itu keluar rumah, lalu memergoki mereka sedang memetik tanaman kesayangannya? Tamatlah riwayat mereka.

“tenanglah, sepagi ini, pria tua itu masih tidur.” Balas Luhan seolah tahu isi pikiran Minah, kemudian ia mulai memanjat pohon itu.

“dia sudah tau?” gumam Minah. “apa mungkin dia adalah….”

“hey….pencuri!!!” teriak si pria tua yang tiba-tiba muncul di teras rumah.

 

~di kantor polisi~

Luhan dan Minah terduduk dibalik jeruji besi. Pria tua itu tidak hanya galak, tapi juga kejam. Dia tega menjebloskan dua muda-mudi itu ke penjara. Padahal masalah ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Mianhae… ”

“kata maaf saja tidak cukup.” Respon Minah tanpa menoleh ke arah Luhan. “Sudah kubilang ‘jangan ‘, tapi kau menghiraukannya. Jadi ini akibatnya, kita mendekam disini. Dan aku kehilangan kesempatan ku menjadi pemimpin redaksi. Ini semua gara -gara kau. Kenapa kau tiba-tiba datang dan menghancurkan hidup ku, hah!?” Lanjutnya sambil terisak.

Luhan tertegun. Ia tidak bermaksud melibatkan gadis itu dalam situasi sulit ini. Tidak ada niatan sama sekali. Ia kira, dengan mengajak Minah ke tempat itu untuk melihat plumeria mekar, akan membuat ingatan gadis itu tentang dirinya muncul dipikirannya. Itu saja. Tidak ada yang lain.

“Nona Minah, kau boleh keluar. Ada wali yang menebusmu.” Kata seorang petugas polisi.

Ye. Terimakasih.” Balas Minah, lalu beranjak dari tempat duduknya. “Neol… jangan temui aku lagi!” Ucap Minah sebelum meninggalkan sel.

 

***

 

Beberapa kali Luhan menghembuskan napas berat. Dadanya sesak, karena aura kekecewaan mengalir diseluruh pembuluh darah ditubuhnya. Ini lebih mengecewakan daripada melihat nilai ujian matematikanya waktu SD dulu.

ponsel Luhan Berbunyi. Ada panggilan masuk.

“Ya, ma?”

“Bagaimana kabarmu?” Suara lembut seorang wanita terdengar dari seberang sana.

“Aku ingin memeluk mama.”

“ada apa? Ceritakan pada mama!”

Naluri seorang ibu dan ikatan batin dengan anak. Pasti itu yang dimiliki oleh seorang wanita yang melahirkan seorang pria bernama Luhan. Dari caranya bicara, caranya menghela napas, dan keinginan nya mendapat pelukan hangat. Beliau tahu, anaknya sedang tidak baik.

“Maaf ma, aku tidak bisa menepati janjiku untuk membawa calon menantu mama ke hadapan mama.” Ungkap Luhan.

“Tidak apa-apa. mungkin dia bukan untukmu. Kau harus bisa menerima kenyataannya. Lalu apa rencanamu selanjutya?”

“aku akan pulang ke Cina.”

 

***

 

Rangkain bunga plumeria merah yang berbentuk mahkota, tergeletak di meja kayu tua, menunggu untuk disematkan di kepala sang pemiliknya. Berusaha tetap berada disana, walaupun ia tidak mendapat kepastian. Setidaknya, ia memiliki keyakinan bahwa tidak ada yang sia-sia.

appa…eomma…aku pergi jogging.” Teriak Minah sambil membenahi tali sepatu olahraganya.

Ujung matanya menangkap wujud benda yang menurutnya sudah tidak asing lagi. File kantornya yang tertinggal di kantor polisi dan rangkaian bunga yang berbentuk mahkota. Pasti pria itu lagi. Pikir Minah. Siapa lagi? Tidak mungkin petugas polisi yang mengantarkan file ini, apalagi sampai membuat benda semacam ini, mustahil.

eomma… apa ada seorang pria yang mengantarkan ini?” tanya Minah untuk memastikan.

“bagaimana kau tahu?”

“tentu saja, pria itu adalah orang yang membuat aku mendapat masalah dikantor polisi kemarin.”

“coba tebak siapa pria itu?” kata ibunya dengan senyum penuh misteri.

molla.”

“dia adalah Xi Luhan.”

DEGH… detak jantung Minah terasa berhenti. Ia tidak dapat merasakan debarannya sendiri. Wajahnya jelas melukiskan rasa terkejut yang entah masih dalam batas normal atau tidak. Nama itu seperti petir di siang bolong yang menyambar tubuhnya.

“awalnya eomma tidak tahu bahwa itu dia, karena banyak perubahan fisik yang terjadi padanya. Katanya, ia pernah mengalami kecelakaan. Jadi dia melakukan sedikit operasi pada wajahnya. Tapi dia tetap tampan seperti dulu. Untung saja dia menyebutkan namanya.” Papar ibunya lagi.

“Kapan dia kemari? ”

“pagi-pagi sekali. Bahkan kau pun masih tidur. ”

“Kemana dia pergi?”

“dia tidak mengatakan tentang itu.”

 

***

 

 

“maukah kau menikah denganku? “

“Hmm…kau masih saja memelihara kebiasaan burukmu itu. “

“Lihat, kau harus membuat simpul seperti ini, agar tidak mudah lepas saat kau memakainya, ara? “

“aku pernah tinggal disekitar sini. “

“aku akan membuatkan sebuah mahkota bunga itu untukmu.”

 

Potongan puzle dipikirannya, sedikit demi sedikit tersusun. Sampai akhirnya ia dapat menebak apa yang sebenarnya terjadi. Ini bukan de javu. Minah memang pernah mengalami semua kejadian itu.

Geriak hujan meredam isak Minah yang mulai pecah. Ia mematung didepan jendela kamarnya. Rasa menyesal kini menguasai jiwanya. salahnya, ia tidak menanyakan nama pria itu. Salahnya tidak menyadari bahwa pria itu adalah Xi Luhan. Andai saja, ia tahu lebih awal, kata -kata terkutuk itu tidak mungkin keluar dari mulutnya.

Minah sudah ke tempat biasa ia jogging, tapi ia tidak menemukan nya. Ia sudah ke tempat mekarnya bunga plumeria, ia juga tidak menemukan nya disana. Lalu, kakinya menuntunnya ke butik itu, tempat dimana mereka pertama bertemu, setelah 18 tahun terpisah. Hasilnya? nihil.

Pria itu pasti menganggap serius ucapannya. Dan kini… Minah harus terima akibatnya: untuk kedua kalinya berpisah dengan Pria itu, Xi Luhan. Pria yang sudah bertahun-tahun membelenggu hatinya.

 

***

 

Luhan mengecek jadwal maskapai penerbangannya di FIDS (Flight Information Display System). Ia masih punya waktu 10 menit sebelum jadwalnya pergi. Banyak harapan yang ia simpan. Pertama: ia ingin melihat gadis itu lebih lama lagi. Kedua: ia ingin gadis itu mengenali dirinya. Ketiga: ia ingin gadis itu menginginkan kehadirannya. Semua tentang gadis itu.Namun, dalam kenyataannya….berbanding terbalik dengan harapannya. Sangat kecil presentasenya untuk mewujudkan semua harapan itu dalam waktu 10 menit.

“Xi Luhan.”

Luhan menoleh ketika namanya disebut. Paspor ditangannya jatuh. Tiba-tiba sarafnya tak berfungsi karena terkejut. Ia melihat Minah berdiri dihadapannya. Menyebut namanya. Dan menatap kearahnya. Katakan ini adalah keajaiban. Bisiknya dalam hati.

 

~FlashBack(18 tahun lalu)~

 

Keluarga Luhan dan keluarga Minah adalah teman baik sekaligus tetangga yang rukun. Kedua pasang keluarga muda itu melahirkan anak pertama mereka masing-masing di hari, tanggal, bulan, dan tahun yang sama. Luhan dan Minah tumbuh bersama dan bermain bersama sampai usia mereka menginjak 6 tahun.

 

“Minah, kau cocok memakai gaun putih itu, aku menyukainya. Maukah kau menikah denganku? ”

“ne, kajja… kita menikah. ”

 

Pagi yang cerah untuk memulai bermain. Bermain rumah-rumahan adalah permainan favorit mereka. Luhan berakting sebagai seorang ayah yang pergi kerja, sedangkan Minah berakting sebagai seorang ibu yang memasak didapur.

 

“Hai Luhan-ah, saat appa dan eomma ku menikah… appa memberikan cincin kepada eomma. Aku melihatnya difoto.”

“Eoh? Begitu ya, tapi aku tidak punya cincin.”

“Hemm…kau tidak punya ya. ” desah Minah kecewa.

Seperti ada lampu pijar yang tiba-tiba menyala diatas kepalanya. Luhan tidak kehabisan akal. Ia punya cara lain untuk membuat sahabatnya tidak murung. “Kau jangan sedih, aku akan memberimu benda yang lebih bagus dari cincin. Ayo ikut aku!” Luhan menggenggam ibu jari gadis kecil itu, lalu menuntunnya.

Minah terpukau melihat pemandangan yang terpampang didepan matanya. Cantik sekali. bunga plumeria berwarna merah dengan gradasi kuning yang sedang mekar.

 

“tunggu disini, aku akan mengambil bunga itu, lalu membuat mahkota untuk mu. “Kata Luhan, kemudian berlalu. Ia tahu bahwa Minah sangat menyukai benda-benda yang berkaitan dengan para princess dari negeri dongeng. Ya, salah satunya adalah mahkota.

Luhan mengambil sebatang kayu yang panjangnya lebih tinggi dari tinggi badannya. Ia mengayun-ayunkan ujung kayu itu ke pohon bunga plumeria.

 

“Yaaa! kalian sedang apa? jangan rusak kebunku.” Teriak seseorang dari teras rumah itu.

Luhan terkesiap ketika mendengar teriakan pria dewasa itu. Ia langsung menghentikan kegiatannya itu. “Minah, kajja… lari.” Luhan menarik tangan gadis itu, lalu mereka melesat pergi dari tempat itu.

BRUKKK…

Minah tersungkur ke tanah. Ia tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya.

Gwaenchana?” Kata Luhan refleks.

Ne, gwaenchana. Tali sepatuku lepas.”

Luhan menghembuskan napas lega. Kemudian ia berjongkok dan mengikat tali sepatu Minah. “kau harus membuat simpul seperti ini, agar tidak cepat lepas. ” tutur Luhan seraya mempraktekannya.

Mianhae, aku gagal membuat mahkota bunga itu untukmu.” Lanjut Luhan.

Gwaenchana, kau bisa mengambil bunga itu nanti, saat tubuhmu sudah setinggi appa -ku. ” balas Minah sambil tersenyum manis.

~Flashback End ~

 

Dia menoleh, ternyata dia memang Luhan. Bisik Minah dalam hati. Kakinnya terasa ringan saat melangkah ke arah pria itu. Matanya mulai terasa panas. Pandangannya perlahan-lahan kabur, dan akhirnya cairan bening itu luruh dari matanya. Sekuat apapun Minah berusaha menahannya,,,tetap saja gagal. Ini sudah terlalu lama, bahkan sangat lama. Semua perasaan aneh yang ia pendam selama bertahun-tahun, kini mencapai puncaknya. Air mata itu adalah bukti, bila ia sangat merindukan Luhan.

Ingin pergi lagi? jangan harap! Dia harus menebus apa yang telah Minah rasakan sepeninggalannya. Minah bahkan hampir menyerah menghadapi kata hatinya sendiri. Sadar atau tidak, semuanya diluar logika. Tidak normal, kutukan, atau sejenisnya. Spekulasi itu tanpa henti merundung hidupnya selama 18 tahun. Dan sekarang….ia harus melumpuhkan semua praduga yang tak berdasar itu. Jadi, selesaikan ini sebelum kau pergi. buktikan ini bukan hal yang klise. Sumpah Minah dalam hatinya yang selama ini tidak sejalan dengan logikanya.

 

~5 tahun kemudia~

 

Waktu bukanlah batas dari sebuah ingatan. Karena ingatan itu akan menjelma menjadi sebuah kenangan. Kenangan yang selalu menyisakan senyuman di benak pemiliknya. Jangan pernah berhenti mengenang. Sekalipun ingatan itu semu tanpa bayangan. Percayalah, kenangan akan berakhir indah, jika itu patut untuk diungkit.

Eomma… ” teriakan cempreng anak laki-laki menarik perhatian Minah, Anak itu langsung merangkak kepangkuan Minah. “ya, chagiya. Wae?” Tanya Minah seraya membelai pipi chubby buah hatinya.  “Eomma, ori-kie hilang, aku tidak bisa menemukan dia dimanapun,  eottokhae? ” rengek Minjoon . “Kajja, eomma akan mencarinya, jangan menangis lagi, ne?”

Eomma, aku takut ori-kie tidak mau pulang dan main bersamaku lagi.” Keluh Minjoon . “Dia pasti pulang.” Balas Minah. Sebenarnya bukan itu yang ia pikirkan, tapi ‘ori-kie si mainan bebek plastik itu tidak akan kembali kepada pemiliknya, kecuali jika pemiliknya mencarinya. ‘ lupakan itu. Jika Minah serius mengatakannya, maka anak semata wayangnya itu akan menangis uring-uringan.

“Minjoon… ”

Appa…” respon Minjoon yang melihat ayahnya baru saja pulang dari kantor, lalu ia menghambur ke pelukan ayahnya. Minah memandangi Minjoon dan suaminya secara bergantian. Mereka sangat mirip. Alur pemikiran Minah berubah. Dulu ia iri kepada teman-temannya yang mendapat hadiah boneka lucu dari kekasih mereka masing-masing. Sangat iri, pada saat itu. Tapi sekarang tidak lagi, karena ia telah mendapatkan boneka paling lucu yang tidak dijual ditoko manapun, yaitu Minjoon. Gomawo Xi Luhan ~Minah~

 

~The End~

 

14 tanggapan untuk “MY SWEETEST DOLL”

  1. Finally Minah inget Luhan dan mereka bersama, bahkan udah punya minjoo xD
    sweet banget sih mereka, pas kecil aja udah sweet banget, udah saling suka dari kecil gitu… keren ^^b

  2. Wow seru….akhirnya bulan ni ada juga ff minah jadi watak utama… Buat lagi ff minah, luhan atau member exo yang lain… . Hwaithing 👍

  3. Waahh… Rasanya tuh hangat bgt waktu baca ffnya terutama dibagian flashbacknya.. Dan ffnya bikin gue terhura.
    Daebak dech pokoknya 🙂 🙂
    mao lagi thor!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s