TRIANGLE (Chapter 5)

tissakkamjong

TRIANGLE

tissakkamjong

Chaptered

Romance, School Life, Drama

13+

Irene (Red Velvet), Kris (ex-EXO), Sehun (EXO)

Ff ini murni dari otak author. Mohon maaf apabila ada kesamaan nama tokoh, alur, tema, waktu karena ketidaksengajaan. Ini murni dari otak author, dimohon untuk tidak copypaste. [Warning typo(s)].

Poster by Aerriblue

FMV by Alfath11

HAPPY READING

[ Chapter 1 2 3 4 5 6 7 8 ]

 

OoO

Chapter 5

 

IRENE POV

 

Saranghae Irene-ya. Jadilah kekasihku.” Mendengar perkataan itu entah mengapa badanku refleks melepas pelukannya dan aku mendorong dadanya. Aku hanya bisa diam menatap matanya. Apakah ia sedang menembak diriku?

 

Wae? Mian kalau aku tidak sopan. Aku sudah tidak tahan harus menyembunyikan perasaanku padamu berbulan-bulan. Aku tidak tahu kapan waktu yang pas untuk menyatakannya. Dan kupikir ini waktu yang tepat. Maafkan aku jika aku tidak sopan dan maaf jika aku aku bukan tipikal orang yang romantis.” Kris menghela nafasnya. Dapat kulihat dari matanya bahwa ia sangat mencintaiku. Tapi bagaimana, haruskah aku menjawab pernyataannya?

 

“Aih kau tidak usah terburu-buru. Aku akan menunggu jawabanmu lusa, bagaimana? Ku tunggu kau diruangan ini, lusa setelah pulang sekolah. Jangan lupa ya.” Kris mengusap pundukku lalu ia berlalu. Haruskah aku datang kesini lusa? Haruskah aku terima jawabannya? Bagaimana dengan Sehun jika kuterima pernyataannya? Bagaimana jika aku masih kepikiran Sehun jika nanti aku sudah menjadi kekasihnya? Apa yang harus kulakukan? Kenapa bisa aku cinta dengan dua namja sekaligus.

 

Aku berjalan keluar dari ruangan ini, aku pun kembali kekelas untuk melanjutkan pelajaran.

 

Yaaaa!! Dari mana saja kau? Ini cappuccino dingin untukmu, minumlah. Semoga kantukmu hilang ya. Kkkk.” Aku menerima minuman dari Kai dengan wajah cemberut. Ia selalu saja mengejekku namun anehnya aku malah terkadang senang dengan ejekannya. Dan terkadang aku malah rindu jika ia tidak mengejekku.

 

“Habis dari mana kau tadi?” Kai melontarkan pertanyaannya untuk kedua kalinya.

 

“Ngg… Dari ruang musik.” Aku menjawab pertanyaannya dengan pelan. Aku takut ia menanyakan aku habis bertemu siapa.

 

“Memang kau habis bertemu siapa? Memang disana ada orang?” Yap! Dugaanku benar. Bagaimana ini, harus aku jujur padanya? Ah aku tidak bisa berbohong padanya, entah kenapa.

 

“Nggg… Ada. Aku habis bertemu Kris.” Aku menjawab pertanyaan dengan hati-hati seraya menggaruk pipiku yang tidak gatal sebenarnya. Kai mengalihkan pandangannya yang tadinya menatapku kini menjadi menatap pemandangan dari jendela disampingnya.

 

Yaaaa aku tahu aku harusnya tidak berhubungan dengan mereka lagi. Tapi, tadi aku bertemu dengannya tidak sengaja. Aku tidak tahu kalau dia juga ada diruangan itu. Mian kkamjongieeee.” Kutarik lengan bajunya dengan manja. Entah kenapa aku sangat tidak ingin Kai marah padaku. Kai membalikkan badannya menghadapku.

 

Ne. Aku seharusnya yang minta maaf, aku bukan siapa-siapamu tapi aku sudah berani mengatur-aturmu. Gwaenchana, mereka semua kan juga temanmu, jadi tak apa. Ini hanya akunya saja yang egois, tak apa kok. Bertemanlah dengan mereka lagi.” Kai tersenyum dengan lebar.

 

Whoaa Kai-ya! Apa kau sakit? Kenapa kau jadi sangat bijak? Kkkk gomawo ya!” Kai yang mendengar kata-kataku pun tertawa, aku pun ikut tertawa dengannya.

 

OoO

 

IRENE POV

 

Hari ini aku sudah berjanji akan berangkat sekolah dengan Sehun. Memang sih hubungan kita sekarang belum terlalu membaik meski kemarin kita sudah berbaikan. Namun tidak salah kan jika aku menerima ajakannya? Aku juga sudah memberitahu hal ini pada Kai, dan ia membolehkannya. Aku juga tidak tahu kenapa aku harus meminta izin padanya terlebih dahulu, padahal dia kan bukan siapa-siapaku.

 

SEHUN

 

Irene, apa kau sudah siap? Aku sudah didepan rumahmu.

 

Kubaca pesan masuk dari Sehun. Aih itu bocah, tumben sekali jam segini sudah siap. Untung saja aku sudah siap dari tadi, kalau tidak bisa-bisa dia menunggu lama. Aku segera turun kebawah menghampiri Sehun yang sudah menunggu.

 

“Irene-ya. Siapa namja didepan? Aih itu Kai ya?” Suho oppa memberikan evil smilenya padaku. Aku menatap tajam matanya. Sungguh menyebalkan jika ia sudah mengejekku tentang Kai.

 

“Diamlah Suho.” Ucapku sambil memakai sepatu. “Hey! Kau tidak memanggilku oppa!” Aku tidak menghiraukan perkataan terakhirnya. Selesai sudah kupasang sepatuku, aku pun keluar rumah.

 

“Sehun! Tumben kau sudah datang.” Sapaku pada Sehun, ia hanya tersenyum lebar.

 

“Sudah ayo!” Sehun meraih tanganku, ia genggam tanganku menuju mobilnya. Pipiku sudah semerah tomat saat ini, kusembunyikan pipi merahku dengan rambut panjangku.

 

“Aih Irene. Kau masih saja seperti kemarin-kemarin. Sudah kubilang jangan kau tutupi muka merahmu itu.” Sehun mengambil rambut yang menutupi pipiku lalu ia selipkan kebelakang telingaku. “Seperti ini kan lebih cantik.”

 

“Ah Sehun-ya, mukaku sudah panas sekarang.” Aku menutup wajahku, Sehun yang melihatnya pun tertawa. Tak lama ia menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya.

 

OoO

 

IRENE POV

 

Yaaa kenapa kau diam? Ayo turun.” Aku menatap Sehun yang sedang diam saja. Padahal kita sudah sampai sekolah, mesin mobil ini juga sudah Sehun matikan dari tadi. Namun mengapa ia tidak turun?

 

“Nggg… Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan.” Aku menatapnya dengan heran, kenapa suasananya menjadi tegang seperti ini? Sehun mengambil sesuatu dari jok belakang mobilnya.

 

“Bunga?” Aku menatap benda yang ada ditangan Sehun, setangkai mawar pink.

 

“Irene-ya. Aku rasa ini bukan waktu yang salah, setelah berbulan-bulan kita saling kenal. Kita tertawa bersama, latihan musik bersama, bahkan hingga kau dua kali marah padaku namun itu tidak membuatku menyerah untuk mencintaimu. Aku tau ini rasanya mungkin terlalu cepat, namun aku sudah tidak dapat menahannya lagi. Aku mencintaimu, Maukah kau menjadi kekasihku?” Ia menyerahkan bunga itu padaku, mau-tak mau aku menerima bunga itu. Aku hanya diam saja tidak menjawab pertanyaannya.

 

Aku sedang memikirkan. Kemarin Kris menyatakan perasaaannya padaku, dan Sehun juga. Kenapa harus berbarengan seperti ini? Siapa yang harus kupilih. Omo, aku mencintai keduanya, namun tidak mungkin kan kalau aku menerimanya? Bagaimana caranya aku menerima salah satu dari mereka namun aku tak mau salah satu yang lainnya kecewa. Aku tidak mau. Aku harus bagaimana?

 

“Kenapa kau diam? Kau pasti sedang memikirkannya ya? Kau pasti kaget ya jika aku menyatakan perasaanku padamu? Ah kau tak usah bingung, tak usah terburu-buru juga. Aku tunggu jawabanmu besok diruang musik sepulang sekolah bagaimana?”

 

Mwo? Nggg…” Aku menggaantungkan ucapanku. Sehun mengenggam kedua tanganku.

 

“Kumohon jangan menolak permintaanku yang ini.” Sehun melepaskan seatbelt nya, lalu ia turun dari mobil duluan. Aku baru saja ingin menolak ajakannya untuk menemuinya besok. Besok aku harus menemui Kris, dan barusan Sehun menyuruhku besok menemuinya juga dan bahkan ditempat yang sama saat aku ingin menemui Kris. Bagaimana ini? Kenapa harus serumit ini? Ah.

 

Aku mencoba memikirkan jalan keluarnya dari masalah ini. Namun tak ada ide sedikit pun yang lewat di otakku. Aku benar-benar bingung, aku harus menemui mereka besok ditempat yang sama dan aku harus memilih salah satu dari mereka. Yang akan menjadi teman keseharianku, yang akan mengisi keseharianku. Akankah salah satu dari mereka akan kecewa dengan pilihanku?

 

OoO

 

“Suho—“ Belum selesai Irene menyelesaikan kata-katanya namun oppanya itu sudah menoleh padanya dan memotong ucapannya.

 

“Stop memanggilku tanpa ‘oppa’.” Suho kembali menatap layar handphonenya kembali.

 

Yaaa! Paboya! Aku baru saja ingin memanggilmu oppa tapi kau sudah memotongnya.” Suho meletakkan handphonenya, lalu ia memutar badannya menghadap adiknya itu.

 

Wae chagiya?” “Kkkk aku jijik dengan panggilan itu.” Irene menunjukkan wajahnya yang seakan-akan ingin muntah mendengar panggilan dari oppanya itu.

 

“Aku ingin meminta pendapatmu—“

 

“Tentang?”

 

Yaaa! Lagi-lagi kau memotong ucapanku. Bisa tidak sih kau ini mendengarkan dulu ucapanku hingga selesai?” Suho hanya tertawa saja melihat marah adiknya itu.

 

“Jadi sekarang aku sedang mencintai dua namja, dan pas sekali mereka menyatakan perasaan mereka padaku secara bersamaan dan aku harus menjawab pernyataan mereka besok ditempat yang sama. Aku tak tahu harus memilih yang mana oppa. Aku bingung.”

 

Prokkk prokkk prokkk

 

Irene menatap oppanya dengan aneh. “Kau benar-benar bodoh, kenapa kau bertepuk tangan?”

 

“Adikku sudah dewasa ya kkkkk apakah Kai termasuk dalam dua namja tersebut?”

 

Ani, kenapa sih kau selalu menanyakan tentangnya?”

 

“Aih sayang sekali, padahal dia cinta pertamamu dan dia kelihatannya sangat baik padamu. Memang siapa saja mereka?”

 

“Kau tidak usah tahu, berilah aku solusi oppa!”

 

“Pilih saja yang membuatmu nyaman, yang tidak pernah membuatmu sedih, yang selalu ada buatmu, yang selalu perhatian padamu, yang benar-benar kau cintai.” Irene merenungkan jawaban dari oppanya. Jawaban oppanya benar-benar membuatnya bingung.

 

“Ah aku bingung oppa, apa aku tidak usah menerima keduanya saja?”

 

“HEYYYY! Wae wae wae?! Jangan seperti itu, kau ini ish. Mereka pasti akan sangat kecewa jika diantara mereka tidak ada yang kau pilih. Pilihlah sesuai isi hatimu. Kau pasti bisa, kau kan sudah besar. Begini saja bingung, cih.”

 

“Kau kan sudah berpengalaman jadinya kau tahu, kalau aku kan tidak! Ah sudahlah aku ingin keatas saja, lelah meminta pendapatmu. Lama-lama aku emosi denganmu.” Irene meninggalkan oppanya dengan kesal. Selalu saja oppanya menyebalkan, selalu membuatnya cemberut setiap saat.

 

Irene berjalan keatas menuju kamarnya, rasanya ia ingin tidur dan bangun dalam keadaan seperti semula ketika ia belum mengenal Sehun dan Kris. Namun, itu sangatlah mustahil.

 

Drrrttt drrrrttt

 

2 message

 

“Ah pasti dari mereka.” Gumam Irene sambil menekan tombol buka dilayarnya.

 

KRIS

 

Bagaimana? Kau sudah menemukan jawabannya? Kuharap jawabanmu membuatku senang.

 

SEHUN

 

Irene-ya! Aku tidak sabar menanti jawabanmu besok! Jangan membuatku kecewa, ne?

 

Irene hanya menghela nafas membaca pesan dari mereka. Semakin bingung—itulah yang dirasakan Irene. Ia tidak tahu harus memilih yang mana, ia sangat mencintai keduanya dan keduanya pun sangat baik padanya.

 

Tunggulah jawaban dariku.

 

Irene membalas pesan dari mereka, setelah membalasnya ia mencoba memejamkan matanya. Namun hasilnya nihil, ia sama sekali tidak bisa tidur. Ia terus saja memikirkan siapa yang akan ia pilih. Kenapa juga mereka harus menyatakan perasaan mereka pada Irene diwaktu yang bersamaan.

 

OoO

 

“Irene, kenapa kau sangat lemas hari ini?” Kai menarik rambut Irene hingga mukanya terangkat.

 

Yaaa rambutku! Pabo!” Kai pun tertawa saat melihat Irene marah.

 

“Kenapa sih kau seperti tidak bersemangat hari ini?” Kai menatap Irene yang sedang merapihkan rambutnya.

 

“Ah tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, lihat ini.” Irene menyengirkan bibirnya dengan lebar yang menunjukkan bahwa ia tidak apa-apa. Entah kenapa untuk hal ini ia tidak bisa jujur pada Kai.

 

“Jelek kau.” Kai menarik hidung Irene hingga memerah.

 

Yaaa kau lebih, dasar hitam!” Irene mencubit lengan Kai dengan kesal. Kai pun tertawa melihat Irene marah, sungguh hal yang menyenangkan melihat Irene marah bagi Kai.

 

Irene lalu menelungkupkan kembali kepalanya kemejanya. Kai yang melihatnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja.

 

“Pergi ke uks sana!” Kata Kai sambil mendorong pundak Irene dengan perlahan. Irene hanya diam saja tak berkutik dari tempatnya. Ia masih memikirkan siapa yang akan ia pilih, bahkan untuk memilih seperti ini saja ia sangat kesusahan. Bagaimana mereka akan melamarnya? Menjadikan Irene pendamping hidupnya, pasti itu akan sangat amat menyulitkan baginya. Irene mengangkat perlahan kepalanya dan menatap Kai dalam-dalam. Ia menghela nafasnya.

 

“Aku tidak sakit, aku hanya sedang kebingungan.” Irene mengacak rambutnya yang sangat berantakan itu.

 

“Kenapa? Ceritalah padaku, siapa tau aku bisa membantumu.” Kata Kai. Irene hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Nanti akan kuceritakan padamu, tapi tidak sekarang. Aku mau melewati ini sendirian, tanpamu.” Kai mendorong jidat Irene dengan jari telunjuknya.

 

Yaaa! Jangan sok kuat! Aku tau kau tidak sanggup.” Irene mengerucutkan bibirnya setelah mendengar perkataan dari Kai.

 

“Aku bisa! Lihat saja, huh.” Kai mengacak-acak gemas poni Irene itu.

 

OoO

 

Kringgg kringgg

 

Bel pulang sekolah telah berbunyi, suara ricuh semangat anak-anak sangatlah terdengar jelas kecuali Irene. Ia sangatlah tidak semangat, justru ia sangat tidak menginginkan bel pulang sekolah hari ini. Itu adalah pertanda kalau ia harus segera member jawaban pada Sehun dan Kris. Meskipun ia sudah memiliki jawabannya, namun ia tetap saja merasa tidak tega pada keduanya. Rasa takut akan kecewa keduanya itu terus melanda pikirannya. Ia takut Sehun atau Kris akan membencinya setelah mendengar pilihan yang akan ia pilih itu. Ia takut jika ia memilih maka persahabatan mereka akan hancur. Ia takut. Sangat.

 

Irene melangkahkan kakinya keluar kelas dengan berat hati. Ia menghela nafas berkali-kali dengan kencangnya. Irene berjalan menuju toilet perempuan terlebih dahulu, membasuh muka agar terlihat lebih fresh.

 

“Huft… Pasti mereka sekarang sedang bertengkar karena bertemu diruangan yang sama, apalagi setelah tau tujuan mereka sama, pasti mereka sekarang sedang berkelahi. Ah aku harap tidak ada adegan tonjok-tonjokan seperti kemarin.” Irene membasuh mukanya sekali lagi lalu mematikan kran airnya. Ia mengambil tas nya yang ia taruh disisi kiri kran dan memakainya. Ia sekarang sudah lebih siap untuk memberi jawabannya pada mereka.

 

MUSIC ROOM

 

Irene menyentuh kenop pintu ruangan itu lalu menariknya kebawah. Pintu itupun terbuka dan menampilkan dua orang namja saling bercanda dan tertawa.

 

OoO

 

Sehun keluar dari kelasnya dengan senyum yang merekah diwajahnya. Ia menggenggam pegangan tasnya dan berjalan dengan riang menuju ruangan musik. Bukan untuk latihan, melainkan untuk mendengar jawaban Irene yang ia yakin Irene pasti akan menerimanya. Sehun membuka pintu ruangan musik itu dengan semangatnya, namun ia melihat sesosok namja yang membuat semangatnya itu luntur.

 

“Hmm… Kris sedang apa kau disini?” Tanya Sehun dengan nada dinginnya, yang ditanya lalu berdiri dan menghampiri Sehun.

 

“Kau pikir aku sedang apa? Dan—ah kau sedang apa disini? Tak taukah kau bahwa ruangan ini sudah ku booking untuk bertemu dengan Irene?” Kris menaikkan suaranya dan menatap Sehun dengan tajam.

 

“Hey apa-apaan kau?! Kau pikir kau siapa? Enak sekali asal book ruangan. Hari ini aku dan Irene akan bertemu disini dan kuharap kau keluar sekarang juga!” Sehun mendorong pundak kanan Kris dengan ogah-ogahan.

 

“Dengar ya! Aku kesini untuk menemui Irene, karena dia sudah berjanji padaku bahwa dia akan memberiku jawabannya setelah pernyataan cintaku kemarin lusa.” Sehun menjentikkan jarinya lalu tersenyum miring.

 

“Itu adalah janjiku dengannya kemarin! Kenapa sih kau selalu mengikutiku saja?!”

 

“Kurasa aku tidak mengikutimu tapi memang tujuan kita sama, kurasa.” Sehun menatap Kris dengan diam dan merenungkan perkataannya. Bisa saja tujuan mereka sama, menunggu jawaban Irene. Tapi jika memang benar, kenapa Irene tidak pilih hari lain saja untuk Sehun? Ah iya, ia baru teringat bahwa kemarin Irene seakan-akan ingin menolak bertemu dengannya hari ini, namun ia tetap bersikeras untuk bertemu.

 

“Kau tidak ingin kan imagemu menjadi jelek lagi?” Tanya Sehun pada Kris, lalu merangkulnya. Kris segera menepis tangan itu.

 

“Maksudmu apa hah?!”

 

“Aku yakin pasti kita akan berkelahi jika tidak ada yang mengalah, dan itu pasti akan diketahui oleh Irene lagi seperti minggu lalu. Kau pasti tidak mau kan Irene membencimu lagi hanya karena perkelahian tidak sehat kita? Aku juga. Oleh karena itu lebih baik kita hari ini berpura-puralah akrab agar Irene tidak benci pada kita.” Jelas Sehun yang diiringi anggukan Kris. Mereka sudah sepakat untuk berpura-pura akrab agar jika Irene melihat, ia tidak akan marah dan membenci mereka lagi. Mereka lalu mulai bercanda-canda dan tertawa dengan dibuat-buat.

 

Kreekkk

 

Sehun dan Kris menoleh kearah pintu dan mendapati Irene yang sedang diam dengan muka yang—kenapa Sehun dan Kris bisa akrab begitu.

 

“Irene-ya! Kenapa diam disitu? Sini!” Kata Sehun yang diiringi senyum lebarnya. Irene pun berjalan menuju mereka dan duduk dihadapan mereka. Irene menunduk dan menghela nafasnya.

 

“Tumben sekali kalian akrab, tidak seperti biasanya.” Sehun dan Kris pun hanya menggaruk kepala mereka yang tidak gatal sama sekali sebenarnya.

 

“Jadi?” Sehun dan Kris mengatakan kata itu bersamaan, membuat Irene menatap mereka secara bergantian.

 

“Kenapa sih aku harus terjebak disaat-saat seperti ini? Kenapa kalian harus menyatakan perasaaan kalian bersamaan, aku takut pertemanan kalian hancur karenaku.”

 

“Aku berjanji tidak akan marah jika aku bukan pilihanmu.”

 

“Aku juga.” Sehun dan Kris mengangguk secara bersamaan. Irene pun menghirup nafas dalam-dalam.

 

“Kalian berdua baik padaku, sangat baik malahan. Jika boleh, mungkin aku akan menerima kalian berdua namun itu tidak mungkin kan? Jadi…” Sehun dan Kris menatap Irene penuh memohon, berharap mereka dipilih.

 

“Maafkan aku jika aku tidak memilih salah satu lainnya diantara kalian, aku tidak bisa memilih kalian berdua, aku hanya bisa memilih salah satunya saja, jadi, aku kira, aku memilih…”

 

Kreeekkk

 

“Irene?”

 

Irene menoleh kearah namja yang membuka pintu ruangan ini dengan semangat, begitu juga dengan Sehun dan Kris. Namja yang memakai pakaian putih polos bertulisan ‘Saranghae, Irene-ya.’ yang ditulis menggunakan spidol dan memiliki gambar hati disetiap sudutnya. Irene hanya bisa membulatkan bibirnya, ia tidak menyangka kejadian seperti ini akan terjadi. Ditatapnya bunga yang digenggam ditangan namja itu.

 

Seketika juga air muka namja itu berubah. Yang tadinya ceria menjadi bungkam, mungkin karena menyadari kehadiran Sehun dan Kris disitu. Irene dan namja itu saling berpandangan terdiam, tak lama namja itu berbalik badan dan meninggalkan mereka bertiga. Irene segera bangkit meninggalkan Sehun dan Kris, bertujuan mengejar namja itu pergi.

 

“IRENEEEEEEEE!!!!!” Teriak Sehun dan Kris secara bersamaan.

 

To be continued…

 

tissakkamjong’s note: Haiii guysss! Sebelumnya author minta maaf pake banget karena mungkin lama banget ngupdatenya, udah 2mingguan mungkin ya? Ya itu karena author minggu kemaren itu masih uts^^ tapi sekarang udah selesai kok, tugas juga lumayan mereda tapi ngga tau deh selanjutnya gimana [kok curcol thor????]

 

Maaf banget nih ya buat kalian yang udah nunggu-nunggu banget, eh pas udah nunggu ceritanya ngegantung gini hahaha tunggu ajaya chap 6 nya, author kebagian jadwal post hari kamis dan sabtu, jadi tunggu ajayaaa! Jangan lupa like&comment&share, gomawo!^^

 

22 tanggapan untuk “TRIANGLE (Chapter 5)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s