KAJIMA – SLICE #1 — IRISH’s story

irish-kajima (2)

KAJIMA

With EXO’s Oh Sehun & Xi Luhan; OC’s Lee Injung & Kim Ahri

Supported by EXO Members, Rainbow‘s Kim Jaekyung & Cho Hyunyoung, OCs

fantasy, drama, supranatural, life, friendship, school-life and romance story rated by PG-17 in chapterred length

DISCLAIMER

This is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life. And every fake ones belong to their fake appearance. The incidents, and locations portrayed herein are fictitious, and any similarity to or identification with the location, name, character or history of any person, product or entity is entirely coincidental and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art without permission are totally restricted.

©2015 IRISH Art&Story All Rights Reserved


“Jebal… Jebal kajima…”


Previous Chapter

Teaser

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Beijing, April 12th 2001

Appa! Aku mau coba menyetir juga!”, teriak seorang gadis kecil dari bangku penumpang, Ia berusaha meraba keberadaan Appa nya.

Arraseo… Kemarilah, Appa akan memangkumu…”, jawab sang ayah sambil kemudian memangku putrinya.

Yeay! Aku bisa menyetir!”

Mereka tampak hanyut dalam kesenangan, sampai mereka tidak menyadari seseorang yang berlari menyebrang jalan, dan kini mobil mereka melaju ke arah sosok tersebut.

CKIIITT! BRAKK!

Akh…”

“Astaga…”, sang Ayah langsung memindahkan anaknya ke bangku penumpang.

“Tunggu disini nak,”, ucapnya sambil kemudian keluar.

Karena rasa takutnya, anak kecil itu malah mengikuti langkah Appa nya. Gadis kecil itu berusaha meraba di tanah, sampai Ia menemukan sosok yang terbaring di tanah.

Akh…”

“O-Oppa… Apa Oppa sakit? Maafkan aku… Aku tidak bisa melihat Oppa…”, ucap gadis kecil itu, tangan nya terhenti di wajah sosok yang menjadi korban tabrakan itu,

Jeongmal mianhae Oppa… Injung tidak bisa melihat… Mianhae…”, gadis kecil bernama Injung itu meraba wajah sosok yang di tabraknya, Ia mulai terisak pelan.

“G-Gwenchana… Akh…”

Oppa… Jangan bicara… Appa! Appa! Tolong Oppa ini!”, teriak Injung.

 “Ayo cepat kembali ke dalam mobil,”, ucap Ayahnya, menarik gadis kecil itu menjauh dari sosok yang sekarang meregang nyawa di hadapan mereka.

Akh… Ka…”

Appa! Jebal tolong Oppa itu!”, ucap Injung terisak

“…kajima…”

Gadis kecil itu akhirnya hanya bisa menangis saat Appa nya membawanya menjauh.

JebalJebal kajima…”

Tanpa peduli pada rintihan kesakitan namja itu, Appa dari gadis kecil itu membawa anaknya masuk ke dalam mobil.

AppaOppa itu tadi—”

Gwenchana. Dia akan baik-baik saja. Kita harus cepat sampai di rumah.”

“Tapi Appa—”

“Lee Injung, berhenti bicara.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Incheon, January 9th 2006

In Author’s Eyes…

“Lee Jaein, kau di jatuhi hukuman mati atas tindakan pembunuhan berantai berencana, penggelapan dana, penyuapan pada pihak pemerintahan, dan pendistribusian obat-obatan terlarang, yang kau lakukan sejak tahun 1997.”

Andwae! Appa! Appa! Andwae!”

Seorang lelaki paruh baya yang tampak memandang sedih ke arah putrinya yang menyaksikan persidangan nya.

“Injung, tenanglah nak…”, seorang wanita tua tampak berusaha menenangkan gadis kecil yang sedari tadi berusaha memberontak.

AndwaeHalmeoniAppa tidak salah… Appa tidak boleh di penjara…”

Andwae! Andwae!”

Gadis itu terus memberontak.

Appa! Appa!”

Namja paruh baya itu menghentikan langkahnya, berbalik, mendatangi gadis kecil yang tampak menangis itu. Namja paruh baya itu menangis pelan saat melihat putri semata wayangnya di hadapan nya.

Appa… Katakan pada mereka Appa tidak salah… Kumohon Appa…”, gadis itu menangis sesenggukan.

Ayah gadis kecil itu langsung memeluk anaknya, ikut menangis.

“Injung-ah… Tumbuhlah dengan baik nak… Jangan menjadi seperti Appa… Jadilah seperti Eomma mu… Appa sangat menyayangimu nak…”

Appa… Kumohon… Appa tidak salah…”

Namja paruh baya itu mengusap wajah anaknya, mencium anaknya penuh sayang.

“Lindungilah orang yang lemah nak… Hiduplah dengan baik… Appa akan bahagia jika kau kelak hidup dengan baik…”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Incheon, January 14th 2006

 “Kajja Injung, kita harus pulang nak…”, ucap seorang nenek.

Gadis kecil bernama Injung itu masih menangis di depan sebuah makam.

AndwaeAppaAppa…”

Nenek tua itu menangis pelan, tidak percaya seorang gadis kecil seperti Injung harus menjalani hidupnya tanpa Eomma dan Appa nya di usia yang masih sangat muda.

“Jangan begini nak… Appa mu tidak akan senang…”

Appa… Aku akan jaga mata ini…”, lirih gadis kecil itu.

Ia dan neneknya kemudian beranjak pergi. Di perjalanan keluar makam, tanpa sengaja Ia melihat gadis kecil seusiaan nya berjalan bersama beberapa orang pengawal.

Eomma… Dia anak dari orang yang membunuh Appa!”, teriak gadis kecil itu sambil menunjuk Injung.

 “Hush, jangan bicara seperti itu, nak!”, bentak sang ibu membuat gadis kecil itu terdiam.

Injung hanya menatap gadis kecil itu, lama, lalu kemudian Ia beranjak pergi mengikuti neneknya.

Appa… Aku akan hidup dengan baik…”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Incheon, Desember 29th 2012

Eomma…”

“Pergi! Aku membencimu! Pergi!”

Tapi Eomma! EommaEomma jebal…”

TIIIIIINNN!

Eomma! Eomma aakkhh—”

Andwae!”

Seoran gadis terlonjak dari tempat tidurnya. Peluh membasahi wajahnya, dan nafasnya memburu. Jantung gadis itu juga berdegup kencang seirama dengan ketakutannya.

KRIIINNGG!

Untuk kedua kalinya gadis itu terperanjat. Kali ini karena alarm nya berbunyi. Dengan berdecak kesal gadis itu segera mematikan alarmnya yang pagi ini kalah cepat olehnya.

“Mimpi itu lagi…”, gumam gadis itu, pelan dengan nada penuh kesedihan di dalam suara gadis itu.

TOK. TOK.

“Injung-ah, kau sudah bangun?”

Gadis itu menoleh ke arah pintu. Mengenali suara gadis diluar kamarnya. Gadis itu memang tinggal bersamanya sepeninggal Appa nya.

“Sudah Jaekyung Unnie. Ada apa?”, sahut gadis bernama Injung itu.

“Kita akan ke makam Appa mu dulu… Bersiaplah.”

Arraseo…”

Gadis itu menatap foto kusam di atas mejanya, dan tersenyum kecil.

Appa… Aku akan mengunjungimu.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Komplek pemakaman tampak sepi. Panasnya matahari menyinari punggung seorang gadis yang tampak menaruh sebuket bunga di depan sebuah makam yang tampak tua dan tidak terawat.

Ia mengenakan pakaian serba hitam, dan tampak terus tertunduk.

Appa… Aku tak bisa hidup dengan baik seperti yang Appa harapkan. Appa tidak marah padaku kan?”, gadis itu menghapus air matanya yang mulai terjatuh pelan.

Appa… Mungkinkah… aku bisa menjadi orang baik seperti yang Appa minta? Selama ini… teman-temanku terus mengejek Appa, dan aku tidak bisa tinggal diam… Aku jadi orang yang tidak baik karena itu… Mianhaeyo Appa.

“Aku akan berusaha lebih baik di sekolah baruku ini…”

Gadis itu kemudian beranjak pergi, Ia sempat memandang lagi makam Ayahnya, kemudian dengan menaiki sebuah sepeda gunung, gadis itu segera pergi dari makam.

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Mokpo, 1st January 2013

“Lee Injung imnida. Aku pindahan dari Hyena Girls School di Incheon. Mohon bantuan nya…”, ucap gadis bernama Injung di depan kelas barunya.

“Injung, kau sekarang bisa duduk di kursi kosong disana.”, ucap seonsaengnim.

“Ya seonsaengnim…”

Gadis bernama Injung itu kemudian duduk di kursi kosong di bagian belakang kelas. Tatapan gadis itu terarah ke pegunungan yang menghampar tak jauh dari sekolahnya yang memang berjarak tidak terlalu jauh dari sungai yang memisahkan desa tempatnya sekarang tinggal dan pegunungan itu.

Injung kemudian memperhatikan teman-teman sekelasnya, tidak ada yang tampak begitu mengenalnya. Gadis itu menghela nafas lega, setidaknya Ia akan berhenti di beri julukan buruk karena background keluarganya.

Di Incheon, Injung berulang kali harus pindah sekolah karena begitu banyak perkelahian yang terjadi karenanya. Dan juga, gadis itu tidak betah karena mendapat perlakuan yang selalu memojokkan nya dan mengungkit masalah orang tuanya.

KRIINNGG!

Injung menyernyit saat mendengar suara bel di kelasnya. Berbeda dengan sekolah lamanya di Incheon, beberapa hal di tempatnya sekarang lebih tertinggal di bandingkan sekolah lamanya.

Injung memandang teman-teman baru di kelasnya yang langsung menghambur keluar kelas, tentu saja semua siswa akan menyukai jam istirahat. Injung kini menaruh perhatian nya pada beberapa anak yang tampak bermain sepak bola di bawah teriknya matahari.

Sepengetahuan gadis itu, desa Mokpo tempatnya tinggal sekarang, matahari jarang sekali singgah, dan daerah ini lebih sering berada dalam cuaca mendung dan sejuk. Tapi pagi ini matahari tampak dengan gagah menunjukkan sosoknya.

“Injung-ssi…”

Perhatian Injung teralihkan saat seseorang memanggilnya. Ia lebih merasa aneh dan kaku lagi saat seseorang menyebut namanya. Ia tak terbiasa disapa dengan ramah sebelumnya.

Gadis itu menoleh, tatapannya tertuju pada dua orang gadis yang berdiri di dekat mejanya.

“Ya?”, ucap Injung, melepaskan headset yang sedari tadi Ia kenakan.

“Aku Cho Hyunyoung, dan dia Kim Ahri,”, ucap gadis itu.

“Ah, bangapseumnida,”, ucap Injung sambil tersenyum.

“Boleh aku duduk?”, tanya Hyunyoung.

“Tentu saja.”, jawab Injung.

Dua gadis itu kemudian duduk di bangku kosong di depan meja Injung.

Eum… Kau dari Incheon kan?”, tanya Hyunyoung.

“Ya. Waeyo?”, Injung menyernyit.

“Aku… Aku dan Ahri selama ini sangat ingin tahu, seperti apa disana.”, ucap Hyunyoung kemudian.

Injung tersenyum tipis. Tahu bahwa dua teman barunya itu pasti tidak pernah tahu seperti apa sekolah disana.

“Di Incheon… Banyak hal yang berbeda dengan disini. Disana… lebih panas. Tidak sesejuk di sini, dan juga… banyak hal menarik disana, kalian pasti suka jika ke Incheon.”, ucap Injung.

Geotjimal. Incheon sangat buruk.”, Injung menoleh kaget ke arah seorang namja yang tiba-tiba muncul di ujung kelas, melemparkan pandangan ke arah tiga orang gadis itu.

Aish! Chanyeol-ah!”, ucap Ahri kesal, mendatangi namja itu, dan mencubit lengan namja yang dimata Injung, jauh lebih jangkung dibandingkan Ahri.

“Abaikan saja ucapan nya, Chanyeol memang suka seperti itu,”, ucap Ahri kemudian sambil menarik Chanyeol ke tempat mereka.

“Apa kau anak baru?”, tanya Chanyeol.

Injung mengangguk.

“Lee Injung.”, ucapnya.

“Park Chanyeol. Aku dari kelas sebelah.”, ucap Chanyeol sambil tersenyum.

Injung membalas senyuman namja itu. Kemudian Chanyeol menarik kursi kosong di bangku sebelah Injung.

“Maaf soal ucapanku tadi, aku hanya bercanda saja,”, ucap Chanyeol kemudian.

“Ah, gwenchanayo.”, jawab Injung sambil tersenyum.

“Lanjutkan ceritamu Injung-ssi. Banyak kami disini yang tidak begitu tahu tentang Incheon. Terutama gadis-gadis sekolah ini, saat tahu ada pindahan dari Incheon, mereka langsung penasaran.”, ucap Chanyeol sambil tertawa pelan.

Injung mengangguk kaku.

“Aku sangat ingin melanjutkan ceritanya, tapi, ada beberapa file yang harus ku serahkan pada seonsaengnim. Mian.”, ucap Injung cepat, tanpa menunggu jawaban apapun gadis itu mengambil map berwarna merah yang ada di dalam tasnya sambil kemudian melangkah keluar dari mejanya.

“Tapi kau nanti akan cerita lagi pada kami kan, Injung-ssi?”, ucap Ahri

Injung berbalik.

“Tentu saja. Aku duluan Ya? Ahri, Hyunyoung, dan… Chanyeol.”, ucap Injung, tersenyum pada tiga orang itu, sambil kemudian melangkah keluar kelas.

Injung menghela nafas panjang, dan tersenyum kecut.

“Kau punya teman Injung, kau akhirnya punya teman,”, gumamnya.

Sementara di dalam kelas, Ahri tersenyum tipis menatap kepergian gadis itu. Ia kemudian melemparkan pandangan nya pada Chanyeol.

“Jangan bercanda seperti itu lagi.”, ucap Ahri.

ArraseoArraseo chagiya…”, goda Chanyeol berhasil membuat Ahri terkejut, wajah gadis itu bahkan sampai memerah.

Ya! Jangan panggil aku begitu!”, bentak Ahri

Aish dua orang ini… Selalu saja…”, gerutu Hyunyoung sambil menggelengkan kepalanya, geli melihat kelakuan dua orang sahabatnya itu

“Aku butuh kursiku.”

Chanyeol mendongak, mendapati dua orang namja tampak berdiri memandangnya dengan tatapan dingin.

“Tsk.”, Chanyeol menggerutu pelan, tapi kemudian Ia berdiri.

“Kembalikan ke tempatnya semula.”, ucap salah satu dari namja itu.

Chanyeol menatap dua namja itu bergiliran, sekuat tenaga berusaha menahan emosinya. Kemudian Ia berdiri di depan dua namja yang sedikit lebih pendek darinya itu.

“Haruskah?”, ucap Chanyeol dingin.

Melihat keadaan yang menjadi kaku, Ahri segera menarik Chanyeol.

Aish kau ini, jangan bercanda begitu Chanyeol-ah…”, ucap Ahri sambil kemudian mengembalikan kursi itu ke tempatnya.

“Kursimu sudah kembali Jongin-ssi.”, ucap Ahri sambil menarik Chanyeol menjauh, gadis itu memberi isyarat pada Hyunyoung untuk segera beranjak mengikutinya.

Dengan tergopoh-gopoh Hyunyoung segera berlari mengikuti Ahri dan Chanyeol, walaupun gadis itu sempat melemparkan pandangan nya ke arah Jongin yang tampak mengatupkan rahangnya marah, memandang tajam Chanyeol yang sudah beralih dari kelasnya.

Sementara itu, tanpa Ahri tahu, sepasang mata menatap lekat ke arahnya.

“Apa yang kau lihat Sehun-ah? Kau cemburu?”

“Tidak. Bukankah harusnya kau yang lebih sensitif, dia baru saja memanggilmu dengan nama aslimu,”, ucap Sehun.

“Ah, benar. Dia memanggilku Jongin lagi, bukan Kai.”

Sehun tertawa pelan.

Aish! Tapi kau kan menyukai gadis itu,”, ledek Kai kemudian.

Mwo? Jangan bercanda.”, ucap Sehun, mengalihkan pandangan nya.

Kai terkekeh geli, lalu duduk di samping sahabatnya itu.

“Ngomong-ngomong, soal pemisahan jiwa—”

“Jangan membicarakan nya disini.”, potong Sehun cepat.

Kai segera menutup mulut. Menatap sekitarnya walaupun kelihatannya tak ada seorangpun yang mendengarkan pembicaraan mereka, Ia tak bisa apa-apa.

Arraseo.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Injung’s Eyes…

Aku kembali ke kelas, dan baru ku sadari Hyunyoung juga Ahri duduk tak jauh dariku. Aku tersenyum pada mereka berdua, dua orang teman baru yang ku punya di hari pertamaku di kelas.

Ini bagus. Biasanya aku baru akan punya 1 teman dalam waktu beberapa hari, itu pun karena Ia terpaksa mengerjakan tugas bersama ku dan membuat kami secara terpaksa harus bicara.

Aku menganggapnya teman, walaupun aku yakin Ia tidak menganggapku teman. Tatapanku terhenti pada seorang namja yang memandang ke arahku. Aku segera melangkah cepat ke kursiku, dan aku segera sadar…

Sekolah disini dan di Incheon sama saja.

Aku mengkeretakkan rahangku menahan marah saat melihat cat basah berwarna merah ada di kursiku. Anak kelas ini tentu saja senang mengerjai murid baru, terutama karena aku seorang gadis. Hah. Mereka hanya belum tahu siapa aku.

“Murid baru. Segeralah duduk di kursimu.”, aku tersadar saat seonsaengnim bicara padaku dari depan kelas.

“Ya seonsaengnim.”, ucapku sambil kemudian mengeluarkan bukuku, membuka kedua sisinya, menaruhnya di cat basah itu, lalu duduk.

Aku menghembuskan nafas, berusaha menahan rasa marahku. Aku memandang satu persatu teman sekelasku, dan menandai beberapa orang di deret terjauh dari tempatku. Mereka memandang ke arahku, antara geli dan kesal.

Tentu saja aku tahu artinya. Aku sudah mengalami ini belasan, tidak, puluhan kali malahan.

Mereka geli karena akhirnya dengan terpaksa aku duduk di jebakan mereka, dan mereka kesal karena aku tidak mudah untuk terkena jebakan mereka. Apa lagi yang selanjutnya mereka lakukan?

Mengempeskan ban sepedaku? Mengunciku di toilet? Menyiramku dengan air di toilet? Menyembunyikan seragamku saat olahraga? Melempariku dengan kapur? Menjegal kakiku saat aku di suruh maju ke depan kelas? Mengerjaiku dengan menaruh ember berisi benda aneh di atas pintu? Menggergaji kursiku sehingga aku akan terjatuh saat duduk?

Mengikutiku saat pulang sekolah dan mengerjaiku di jalan? Merusak isi tas ku saat aku tidak ada di kelas? Hah. Semuanya aku sudah pernah rasakan dan aku sudah tahu bagaimana wajah-wajah tolol mereka saat berpikir bahwa aku akan terkena jebakan idiot semacam itu.

“Lee Injung. Bisakah kau kerjakan soal di depan?”

Aku tersadar, dan segera berjalan cepat ke depan kelas. Pelajaran ini sudah pernah ku dapatkan, tentu saja aku bisa menyelesaikan nya dengan mudah.

“Jangan melamun saat pelajaran.”, ucap seonsaengnim saat aku mengembalikan kapur ke tempatnya.

Arraseo.”, kataku sambil berjalan kembali ke bangkuku.

Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam.

Aku menghentikan langkahku tepat saat kaki salah seorang temanku menjulur keluar. Aku memandangnya, tersenyum tipis.

“Mau menjegalku?”, tanyaku pelan.

Ia diam. Tentu saja. Semua yang berniat mengerjai pasti menghadangkan kaki tepat saat aku akan mendekati kursiku. Aku sudah tahu itu.

Aku melangkahkan kaki melewati kakinya dengan cepat. Bisa ku dengar Ia berdecak pelan, kesal karena jebakan nya tidak mengenaiku. Tatapanku tertuju pada namja yang tadi memperhatikanku saat aku masuk ke kelas, Ia dan teman sebangkunya tampak tersenyum tipis, memandang ke arah temanku yang gagal itu.

Tapi kemudian namja itu—yang kukatakan memperhatikanku—melemparkan pandangan nya ke arahku, membuatku terkesiap dan segera mengalihkan pandanganku.

Bel panjang istirahat kedua berbunyi. Dan anak-anak langsung berhamburan keluar, termasuk Hyunyoung dan Ahri. Juga dua orang—yang salah satunya memperhatikanku itu, dia dan teman nya berjalan keluar kelas, dengan membawa dua bungkusan kecil—yang tampak ingin Ia sembunyikan dari tatapan anak-anak sekelas.

Dari yang ku lihat, kurasa mereka berdua tidak enak badan. Eh? Mana mungkin bisa ada teman sebangku yang tidak enak badan di waktu bersamaan? Tapi… Mereka berdua terlihat pucat, seperti orang yang sedang sakit. Mungkin karena suhu yang terlalu dingin saja.

Satu lagi. Kurasa… ada yang aneh dari mereka. Anak-anak di kelas bodoh ini seolah takut pada mereka. Aku melihatnya dari bagaimana sikap anak-anak saat dua namja ini melangkah keluar, mereka langsung beralih satu persatu. Sangat aneh, dan kaku. Padahal dua namja itu tidak terlihat menakutkan.

Entah insting apa yang membuatku tahu bahwa ada yang memperhatikanku, dan aku refleks langsung memandang ke arah teman-teman sekelasku, yang duduk di pojok lain kelas, kurasa aku harus memberi mereka sebutan.

Hmm… pojok maut? Apa mereka membawa maut? Kurasa tidak. Lalu… Hmm… Pojok setan? Terlalu bagus untuk penjahat-penjahat amatiran bodoh seperti mereka. Ah! Pojok bodoh? Lumayan juga. Tapi terlalu panjang.

Berpikir Injung… Berpikir…

“Mereka biasa menyebutnya deret sampah.”

Aku mendongak, mendapati Chanyeol, Ahri, dan Hyunyoung berdiri di depan mejaku. Tatapanku hampir sama dengan Hyunyoung, bingung, karena nyatanya Chanyeol lah yang angkat bicara.

“Apa?”, ucapku tak mengerti, apa aku tak sengaja bicara tentang barisan teman-teman sekelasku tadi?

Chanyeol tersenyum.

“Deret itu kan? Guru-guru menyebutnya begitu. Ku lihat sedari tadi kau memperhatikan mereka. Dan aku juga merasa kau pasti tidak tertarik untuk tahu nama mereka, bukan?”, ucap Chanyeol membuatku mengangguk-angguk pelan.

“Ah, jadi itu sebutan mereka…”, gumamku, aku yakin tadi mereka memperhatikanku, insting ku berkata bahwa mereka mungkin merencanakan sesuatu yang lain untukku.

“Kau melamunkan apa?”, tanya Ahri.

Ani, gwenchana.”, aku tersenyum tipis dan menggeleng.

Tiga orang itu kembali duduk di dekatku.

“Kurasa kau dekat dengan Hyunyoung dan Ahri ya?”, kataku pada Chanyeol.

“Memang. Hyunyoung temanku sejak aku kecil, dan Ahri…”, Chanyeol melemparkan pandangan nya pada Ahri yang tampak memandangnya tajam, seperti… memperingatinya?

“…dia kekasihku hahahaha!”

JTAK!

“Jangan percaya ucapan nya. Dia mengatakan itu hampir pada semua gadis di sekolah.”, ucap Ahri setelah Ia menyarangkan jitakan nya pada Chanyeol.

Chanyeol meringis, lebih tepatnya Ia tertawa geli. Dan aku… bingung harus berkomentar apa. Aku tak pernah bicara sebanyak ini pada siapapun dikelasku. Tak pernah bicara dalam… keadaan sebaik ini.

Tak pernah satupun teman sekelasku dulu memperlakukanku seperti mereka. Kebaikan mereka terasa sangat janggal dan kaku untukku yang tak pernah mendapatkan perlakuan baik dari teman sekelas.

“Kau sedikit pendiam ya?”, kata Chanyeol padaku.

“Ah, ini hanya karena…”, aku menggantungkan ucapanku. Tidak mungkin kan aku bilang yang sebenarnya kan? Hahaha bodoh.

“Karena?”, Ahri memandangku, menunggu.

“Itu… mungkin karena ini hari pertamaku disini, aku… sedikit kurang terbiasa.”, ucapku, tidak sepenuhnya berbohong.

Gwenchana! Aku akan membuatmu terbiasa dengan seisi sekolah ini!”, kata Chanyeol tertawa santai, seolah kebohonganku sama sekali tak kentara.

Gomawo…”, ucapku, tersenyum.

Chanyeol menyernyit memandangku, membuatku ikut memandangnya bingung.

“Apa kau aktif di kegiatan ekstra kulikuler sekolah lamamu?”, tanyanya sejurus kemudian, Chanyeol seolah tak pernah kehabisan bahan pembicaraan.

Aku menggeleng.

“Aku tidak mengikuti kelas ekstra apapun.”, ucapku.

“Benarkah? Tapi kau terlihat seperti atlit, hahaha!”, Chanyeol mulai bercanda lagi.

Aku tertawa ringan. Atlit? Tentu saja. Aku adalah satu-satunya orang yang setiap hari harus berlarian demi menyelamatkan diri…

“Kurasa kau boleh mencoba ikut kelas ekstra disini, Injung-ah,”, ucap Ahri.

“N-Nde?”, aku mengerjap kaget.

Ahri dan Hyunyoung mengangguk cepat.

“Kau tinggal pilih saja. Tapi, tidak ada begitu banyak kelas ekstra di sekolah ini.”, ucap Hyunyoung, dia tipikal gadis yang manis, pendiam, dengan wajah dan tatapan yang lembut, penuh kasih sayang.

Dan kurasa, seseorang akan merasa nyaman dan terlindungi jika berada di dekat Hyunyoung, walaupun gadis itu tidak melakukan apapun. Ia punya postur yang mungil, dan mata yang selalu ikut tersenyum saat Ia tersenyum.

“Ah! Benar! Kau mau ikut di kelas ekstra apa? Kurasa kau tidak akan tertarik untuk ikut basket seperti Chanyeol. Hyunyoung ikut kelas kesenian, dan aku ada di kelas tata rias, kau tertarik?”, tanya Ahri penuh semangat.

Tiga hal itu jujur saja tidak ku kuasai.

“Ada juga kelas ekstra penjelajah alam, sains, renang, volly, dan sepak bola…”

DEG!

Sepak bola…

“Kenapa Injung-ah, kenapa wajahmu kaget begitu?”, tanya Ahri.

“Ah ani. Aku akan pikirkan nanti di rumah. Kurasa besok aku bisa mengabari kalian.”, ucapku, aura kaku kembali muncul di antara kami berempat karena ucapanku.

Aku memang tidak pandai berteman.

“Ah, aku yakin pilihan yang sedikit itu membuatmu bingung juga. Arraseo, kau bisa memberitahu kami besok.”, kata Hyunyoung.

“Ya, aku akan memberitahu kalian besok.”, ucapku, tak yakin jika mereka akan bicara padaku besok, mengingat aku sudah mengacaukan pembicaraan hangat yang mereka berusaha ciptakan saat bersama denganku.

Bagus Injung, kau mengusir beberapa orang yang baru saja kau anggap teman.

Tapi, memangnya mereka benar-benar tidak akan bicara padaku besok?

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

178 tanggapan untuk “KAJIMA – SLICE #1 — IRISH’s story”

  1. Si injung udah kek masternya gansgter gitu yaa wkwk,, sampe hafal trik trik kejailan anak sma😂😂
    Ceye mah ga dimana mana modus mulu wkwk waaaa, gubrakk.
    Dikit dikit memory ku ttg ff KAJIMA terkuak di chap ini /ngomong apa lu/ hehehe, aku lanjutin maraton nya ya kak,, Insha’allah aku bakl komen di setiap chapter nya hehehe

  2. Kakak~ hai. Kakak, katanya ini salah satu ff bagus buatan kakak ya? Tapi aku telat baca~ sedih gak ya. Kak tanda ptiknya banyak yang hilang.. Kakak tO be continuednya itu bikinnya gimana ? Keliatannya lucu.. Kasi tau ya. Moagh,,

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s