[EXOFFI Freelance] Dear Jongin

image1

  • Tittle/judul fanfic : Dear Jongin
  • Author : @cemymo
  • Length : oneshot
  • Genre : sad
  • Rating : G
  • Main cast & Additional Cast : Kim Jongin and You
  • Disclaimer :
  • Author’s note : bacalah dengan teliti dan hati hati. Maaf banget kalo ada typo bhakkk

 

 

 

Ketika langit mulai gelap dan bulan mulai menampakkan sinarnya. Orang orang berlalu lalang dijalanan dengan sibuknya. Hari ini kota masih ramai seperti biasa. Riak riuh suara kendaraan bermotor, gelak canda anak jalanan, masih terdengar hingga detik ini ditelingaku. Ketika diluar sana terdengar sangat ramai, mengapa disini aku tak merasakan keramaian itu. Aku merasa hanya sendiri. Duduk terdiam diruangan berwarna putih dengan cahaya lampu orange yang remang remang.

Kini malam semakin dingin. Angin bertiup dengan kencang diluar sana. Menerbangkan helai dedaunan yang berguguran. Entah kemana. Mengelilingi kota, menyusuri taman bermain, hingga akhirnya dihempaskan kembali ketanah. Aku tak ingin seperti daun itu. Aku harus melakukan sesuatu.

Ku genggam tangan seseorang didepanku. Sentuhanku mungkin terlalu keras bagi kulitnya yang rapuh. Hingga aku bisa merasakan respon tangannya oleh sentuhanku. Aku masih memandang wajah pucatnya. Bibirnya yang kering mengelupas. Tak berdaya. Aku ingin memeluknya. Tapi dengan semua peralatan medis yang melekat pada tubuhnya, itu tak mungkin. Aku ingin membawanya pergi dari kamar tak bernyawa ini. Ketempat yang lebih berwarna, lebih segar, dan lebih membahagiakan. Namun, tak mungkin bila ia tak sadar.

Entah sampai kapan ia akan tetap seperti ini. Sampai ada seseorang berhati mulia mendonorkan satu ginjal padanya. Tapi adakah orang itu? Apa ia akan berakhir dikamar ini? Kamar menyedihkan yang tak memiliki harapan.

Ia tak pantas disini. Ia lebih pantas disana. Disebuah panggung penuh dengan sorotan lampu dan tepuk tangan. Kim Jongin seharusnya berada di atas panggung dengan gitar kayunya. Gtar kesayangannya. Melantunkan nada dengan penuh cinta. Bukan terbaring lemah dengan wajah pucat disini. Ia tak boleh berada disini. Aku tak mau.

Tanpa sadar aku meremas tangannya. Dan sekali lagi aku merasakan respon dari tangannya. Masih ada harapan. Seminggu lagi, aku yakin kurang dari seminggu, aka nada seseorang yang mendonorkan ginjalnya pada Jongin. Aku yakin. Walaupun dokter mengatakan kemungkinannya sedikit. Tapi, aku sangat yakin. Orang itu ada.

Aku ingin melihatnya tersenyum lagi. Senyum bahagia dari bibir merahnya. Aku ingin rasakan pelukannya. Pelukan hangat dari bahu lebarnya. Aku rindu aroma badannya saat ia berkeringat. Bukan bau khas rumah sakit yang memenuhi ruangan saat ini. Aku rindu ciuman pertama kami. Ciuman yang sangat hangat dan lembut. Tepat sebelum Jongin bernasib sial dan harus dibawa kerumah sakit.

Kini, sudah sebulan lamanya aku tak berbicara dengannya. Padahal kami sangat dekat. Setiap hari. Aku selalu berada disampingnya. Duduk. Menunggu kesadarannya pulih. Menunggu ia membuka mata indahnya dan melihatku. Disini. Menunggunya.

Rasa sesak di dadaku tak juga hilang. Masih sama seperti seminggu lalu, saat aku melihat wajahnya sungguh pucat. Ya. Ini sudah seminggu lamanya kekasihku, Jongin tak bangun bangun dari tidur lelapnya. Satu alasan ia tak bangun adalah pendonor ginjal tak kunjung datang. Kemana semua orang yang berhati baik? Kemana semua orang yang dermawan? Apa mereka sudah musnah? Atau telah punah? Hingga tak ada pendonor tersisa untuk Jongin. Satu ginjal saja, ia tak mengambil keduanya. Hanya satu.

Aku masih memandanginya dari tepi ranjang. Berharap keajaiban terjadi. Aku sandarkan kepalaku diatas tangannya yang sedang au genggam. Berharap ia tau keberadaanku disini. Karena aku selalu disini bersamanya. Menemaninya, hingga ia sadar. Sesuatu mengalihkan pandanganku dari Jongin. Seseorang dengan seragam serba putih datang menghampiriku. Berbicara dengan suara tenang dan menjelaskan aku semuanya. Ia menjelaskan sesuatu keajaiban yang tak pernah ku duga. Sesuatu yang sangat mengejutkan hingga aku pun tak menyangka. Harapan untuk Jongin, masih ada.

Aku mendengarkan setiap perkataan dari orang itu. Tanpa sadar air mataku menetes ke pipiku. Aku sangat bahagia. Tuhan telah mengirimkan keajaiban untuk Jongin. Jongin masih bisa hidup. Aku segera menghapus air mata di pipiku dan tersenyum pada orang didepanku sembari mengangguk.

Untuk pertama kalinya aku meninggalkan Jongin sendirian diruangan itu. Aku pergi untuk mengikuti seseorang berbaju putih tersebut. Akhirnya kini Jongin bisa sadar. Begitu ia sadar, aku akan melihat senyumnya yang paling manis. Ya, aku yakin aku akan melihatnya.

Akhirnya hari ini pun tiba. Hari dimana Jongin akan mendapatkan kembali ginjalnya. Saat matahari masih bersembunyi dibalik awan, aku telah menemui Jongin seperti biasa. Tersenyum padanya. Meneteskan sedikit air mata di pipiku. Air mata kebahagiaan. Untuk Jongin. Aku menarik dan menghembuskan nafas sekuat tenaga sebelum akhirnya aku harus meninggalkan Jongin sendiri diruangan itu. Berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang sudah tak asing bagiku. Hingga memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi oleh cahaya putih. Jongin, masih ada harapan.

-Jongin Prov-

Aku terbangun dengan rasa berat pada kepalaku. Mataku silau karena cahaya matahari pagi yang memaksa untuk masuk dari sela sela jendela. Aku melihat sekelilingku. Semua keluargaku mengerumuniku. Semuanya berkumpul. Orang yang aku sayang. Tapi, aku tak melihat batang hidungnya. Ia yang aku cintai. Dia tak ada disini. Kemana dia? Kenapa aku?

Badanku terbalut oleh perban putih. Membingungkan memang. Aku tak ingat apapun. Yang aku ingat adalah sebuah bayangan semu. Entah itu nyata atau tidak. Disebuah taman bermain yang indah. Ditumbuhi bunga bunga dan rumput semata kaki, aku bermain dengannya. Seseorang yang aku cintai.

Seseorang dari salah satu keluargaku menyodorkanku secarik kertas, yang ternyata adalah amplop. Ku buka hati hati dan kubaca perlahan.

 

*Nb: suratnya bisa kalian baca di cover/poster dari ff ini ya :v

2 tanggapan untuk “[EXOFFI Freelance] Dear Jongin”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s