[EXOFFI FREELANCE] Dream(ing) [2/2End]

dreaming

Aku tidak tahu apakah aku sedang menapak langit ataukah tanah.

Penulis:Hima
Peraga:OC dan EXO’s SeHun
Genre:Slice of Life,Drama,Fantasy
Rating:G
Lenght:Twoshot

Cuplikan sebelumnya:

SeHun segera menarik kuat tubuhku dan aku juga berusaha untuk menggapai tanah yang ada di atasku.SeHun menggeleparkan tubuhnya dan mencoba untuk mengambil napas dalam.Aku masih terkejut dengan apa yang baru saja aku alami.Wajah-wajah kesakitan tadi masih jelas tercetak di pikiranku.Aku bahkan tak mengira ini semua bisa terjadi.Aku menangis dalam diam.Aku menyembunyikan wajahku di balik kedua lututku.Aku,merasa tak karuan.

Aku mendengar SeHun menggeserkan tubuhnya lalu membersihkan pakaiannya.”Kamu baik-baik saja?”

Aku menggeleng.”Enggak sama sekali.”Aku mengusap air mataku dan menatap SeHun dengan tatapan kosong.”Jadi,semua tadi cuma ilusi?”

SeHun menekuk kedua lututnya dan menatap ke arahku.”Semua yang kamu lihat tadi merupakan perasaan terdalammu saat kamu emosi.Kamu melihat orang-orang yang kamu sayangi dirantai dan di bawah mereka terdapat luapan api hitam,bukan?”Aku mengangguk.”Itu karena kamu sayang terhadap mereka namun kamu juga terkadang melampiaskan emosimu terhadap mereka sehingga ingin menjerat mereka dan membakar mereka dalam luapan emosimu.Dari awal aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mengosongkan pikiranmu ‘kan?Lalu kenapa kamu bisa ceroboh begini?”

Aku menatap SeHun sayu.”Karena aku kehilangan sosok kamu.Kamu kemana sih?Aku sudah berusaha memikirkan hal-hal nggak penting gara-gara omongan kamu.Tapi kamu malah menghilang.”

SeHun menghela napas pelan.”Yaudah,tenangkan diri kamu.Tapi sebaiknya sekarang kita cepat pergi.Atmosfer kebencian dan emosi negatif di sini terlalu kuat bahkan sampai membuat ruang agar kita terpisah.Aku bahkan sedikit kesulitan mencarimu tadi.Untungnya aku dapat menemukanmu di saat yang tepat.Ayo!”

Aku menerima uluran tangan SeHun dan kami pun berlari kencang.Kali ini aku menggenggam erat tangan SeHun dan tak berpikir untuk melepaskannya.Begitu pun yang aku rasakan terhadap SeHun.Sepertinya dia juga tak ingin melepaskan tangannya dariku.Setelah berjalan cukup jauh,kami berhasil keluar dari tempat menyeramkan itu dan kembali mendapat naungan cahaya.Cahayanya terlalu silau hingga aku harus menutupnya dengan tangan kiriku.Setelah mencoba menyesuaikan dengan intensitas cahaya yang ada,aku mulai membuka lebar kedua mataku.Yang pertama kali aku lihat adalah sosok SeHun yang diselimuti cahaya oranye.Aku mengerjapkan mataku berkali-kali.Ini,terasa magis.Bahkan sekarang tubuhku bergidik.Bukan karena takut,namun karena takjub.SeHun membalikkan tubuhnya ke arahku.Aku tak dapat melihat ekspresi apa yang ia tunjukkan,namun aku dapat merasakan kalau ia tengah tersenyum ke arahku.Bahkan meskipun terlihat samar dalam pandanganku,wajahnya terlihat bersinar dan indah.SeHun menggoyangkan tangannya yang menggenggam tanganku.

“Hey!Kamu melamun?”

Aku menggelengkan kepala.”Eh?Eng-enggak kok.Aku-wah!Tempat ini indah sekali.”Aku melangkah maju dengan tatapan takjub dan melupakan tanganku yang masih menggenggam tangan SeHun.Aku menatap SeHun dengan senyum lebar menghiasi wajahku.”Kayaknya aku kenal tempat ini deh.Dulu waktu aku berumur 10 tahun,aku melihat film karya Disney World Tinker Bell.Tempat ini sama persis dengan yang ada di film itu.Apa Tinker Bell dan teman-teman perinya juga ada ya?”

SeHun mengangkat bahu.”Emangnya aku tahu?”

Aku mendengus.Tiba-tiba saja aku mendengar kepakan sayap kecil di belakang telingaku.Aku menelengkan kepala ke samping kanan kiri,namun tak menemukan sumber suara kepakan tersebut.Aku melihat SeHun juga melakukan hal yang sama.Aku menatap ke sekeliling tempat kami berada.Cahaya mentari semakin terlihat oranye yang menunjukkan sekarang telah masuk sore hari.Aku memilih duduk di tanah berlapis rumput teki dan menggeret jas panjang SeHun agar mengikuti jejakku.Kami duduk berdampingan.Aku menyenggol bahu SeHun.

“Eh,aku boleh nanya sesuatu nggak?”

“Soal apa?”

“Katamu dunia ini aku yang menciptakan ‘kan?Nah,masa selama 16 tahun kehidupanku,aku cuma memikirkan tiga tempat saja?”

“Tiga tempat itu mewakili perasaan yang kamu pendam selama ini.Kamu pertama kali berada di dalam sebuah rumah tua reot ‘kan?”Aku mengangguk.”Itulah apa yang kamu rasakan selam ini.Aku merasa kesepian dan sendirian.Kamu selalu menjatuhkan diri kamu dari orang lain.Kamu merasa tak ada seorang pun yang memperhatikanmu dan menyayangimu sehingga kamu menjebloskan dirimu ke dalam rasa sepi dan mengukung dirimu dalam sebuah tempat yang membuatmu terhindar dari dunia luar.

“Lalu,kamu terperangkap dalam awan hitam,kegelapan,dan juga jurang berisi api hitam yang menyalak.Kamu juga melihat orang yang kamu sayangi terjebak di atas api hitam.Saat di sana aku sudah menjelaskannya ‘kan?Kamu juga pasti lebih mengetahui alasan jelasnya.

“Yang terakhir,tempat ini.Yah,yang seperti kamu lihat sekarang.Tempat ini terlihat indah dan nyaman.Kamu,sudah ingat semuanya sekarang?”

Aku menatap SeHun.Senyum tipis terangkai dalam roman wajahku.”Yah,aku sangat suka dengan cerita fantasy dan magis.Dan,dari semua cerita fiksi yang ada,aku lebih suka plot cerita Tinker Bell.Bagaimana tawa bayi dapat membuat seorang peri pixie terlahir.Bagaimana segenggam serbuk pixie bisa membuat seorang peri pixie terbang.Dan,bagaimana setiap peri pixie mendapat tugas sesuai bakat untuk menstabilkan hidup seluruh makhluk di bumi.Maka dari itu,keinginanku ini juga masuk dalam alam bawah sadarku ‘kan?”Aku berdiri menatap langit yang mulai gelap.Aku memandang takjub bulan yang berbentuk dua kali lebih besar dari seharusnya dan juga memiliki dua warna yang kontras.Biru laut dan ungu.Bahkan bintang-bintang mulai bermunculan dan menari di langit berwarna kelabu.Aku mengikuti gerakan bintang yang terus menari kesana-kemari.

“Hey!Kamu mau kemana?”

“Jalan-jalan lah.Katanya aku bakal kembali kalau aku sudah jalan-jalan sama kamu.Kita masih harus jalan-jalan lagi ‘kan?”

SeHun menahan langkahku untuk terus berjalan.Aku menatap SeHun.”Ini tempat terakhir.”

Aku tersenyum girang.”Benarkah?Lalu apa yang harus aku lakukan agar cepat kembali?”

“Tutup mata kamu dan lupakan segala masalah yang menghimpitmu selama ini.Jangan lagi terjerumus terlalu dalam ke dalam masalahmu.Hiduplah seperti yang kamu inginkan.Kamu siap?”

Tiba-tiba saja aku merasa ragu.Apakah kami bisa bertemu?Aku menghela napas dalam.”Apa,kita bisa bertemu lagi,Shun?”

 

“1”

 

Aku menutup mataku lalu membukanya kembali.”Shun,jawab aku!”

 

“2”

 

Aku kembali menutup mataku lalu membukanya lagi.”Shun!”

 

“3”

Tiba-tiba saja aku merasa seluruh tubuhku terasa ngilu dan seperti ada jarum yang mencoblos tangan kananku.Aku membuka perlahan kedua mataku dan sedikit terganggu oleh intensitas cahaya yang terlalu banyak.Aku mendengar suara isakkan dan juga genggaman tangan di tangan kiriku.Mataku yang sudah mulai terbiasa dengan cahaya yang ada telah sepenuhnya terbuka lebar.Aku melihat seluruh keluargaku berada di sini.Menangis dan menunjukkan wajah sedih.Aku menautkan kedua alisku.Apa yang terjadi?Bukankah setelah berada di dunia antah berantah dan bertemu dengan pria aneh bernama Oh SeHun aku seharusnya berada di kamarku?Lalu,kenapa sekarang aku malah berada di sebuah kamar berdinding putih membosankan dan juga kehadiran keluargaku?Apa aku berteriak saat tertidur?Tapi,aku tidak punya riwayat ngelindur saat tertidur.Aku melihat keadaan tempatku berada lebih teliti.Aku ternganga.Bagaimana bisa aku berada di rumah sakit?Aku membuka mulutku perlahan.

“A-ada apa de-nganku?”

Ibu yang ternyata menggenggam tangan kiriku masih sesegukkan terkejut.”RiRin?Kamu sudah bangun nak?Sebentar,akan ibu panggilkan dokter.”

Aku menggenggam tangan ibu erat.Melihat keinginanku,ayah memilih untuk memanggilkan dokter.Aku melihat ibu penuh tanya.”Bu,apa yang terjadi?Kenapa,aku bisa berada di rumah sakit?Bukankah tadi malam aku baru saja berada di kamarku setelah bertengkar dengan ibu?”

Ibu mengusap air mata yang masih mengalir di pipinya.”Kamu koma selama dua minggu,Rin.Kamu mengalami kecelakaan saat naik sepeda untuk les menari.Ibu,kami semua sangat takut.Rin,ibu minta maaf atas semua kesalahan ibu selama ini sama kamu.Ibu minta maaf.Ibu takut kamu pergi meninggalkan kami.”

Aku menggenggam tangan ibu yang menggenggam tanganku.”Ibu,aku juga minta maaf.Sekarang kalian lihat aku sudah sadar,’kan?Jangan lagi bersedih,ya?”

Pintu kamar tempatku berada terbuka dan menampakkan bapak juga dokter beserta seorang suster.Bapak menuntun ibu untuk sedikit menjauh agar dokter dan suster dapat memeriksaku.Dokter bilang jika keadaanku sudah membaik setelah selama dua minggu koma dengan keadaan yang cukup parah.Yah,cukup parah hingga aku melihat kepalaku diperban juga kaki kiri dan tangan kananku yang digips.Tapi dokter tetap menyarankan untuk menginap di rumah sakit seminggu ke depan agar keadaanku semakin membaik.Dokter beserta suster pergi setelah membicarakan keadaanku.Ibu kembali ke sebelah tempat tidurku dan menggenggam tangan kiriku kembali.Aku berdehem mencoba menjernihkan suaraku setelah dua minggu lamanya tak kugunakan.”Bu,bagaimana kejadian runtutnya hingga aku bisa sampai di rumah sakit?Tolong ceritakan apa yang ibu ketahui.Semuanya.”

Aku melihat sorot sedih dalam netra kelam milik ibu.Ibu menundukkan kepala sejenak lalu melihat tepat ke dalam mataku.”Dua minggu yang lalu,pagi-pagi sekali setelah semalam kita sekeluarga bertengkar,kamu pergi menggunakan sepeda onthel milikmu menuju tempat les menarimu.Pagi itu seperti biasa kamu tidak mengeluarkan sepatah kata pun.Dan ibu tahu kamu masih marah atas keputusan ibu dan keluarga semalam.Jadi,ibu membiarkanmu.Setelah cukup lama kamu pergi,tiba-tiba saja ibu mendapat telpon dari Shawn kalau kamu tidak juga muncul di tempat les.Dia sudah mencoba untuk menghubungimu tapi tak juga kamu terima.Ibu bilang ke Shawn kalau satu jam yang lalu kamu baru saja pergi dan seharusnya kamu sudah muncul.Akhirnya ibu mencoba terus menghubungimu.Sepuluh kali ibu menghubungi nomormu tapi tak juga kamu angkat.Akhirnya setelah sebelas kali,kamu mengangkatnya.Namun,bukan suara kamu yang terdengar.Melainkan suara seorang pria yang mengatakan kalau pemilik ponsel yang sedang ia bawa mengalami kecelakan bersama seorang pengemudi mobil.Ibu terkejut.Sangat terkejut.Ibu tak tahu harus bagaimana.”

Aku mengusap pundak bergetar ibu.”Tak apa,bu.Teruskan.”

Ibu menggenggam tanganku di pundaknya.Senyum getir tercetak di wajahnya.”Setelah itu,ibu mengabari ayahmu dan pergi menuju rumah sakit yang merawatmu juga pengemudi mobil yang dilarikan di rumah sakit yang sama denganmu.Kami lari ke UGD dan melihatmu bersimbah darah juga pengemudi mobil yang keadaannya tak jauh darimu.Kami menunggu selama 3 jam lamanya.Kami sangat terpukul melihat keadaanmu yang seperti itu.Dan kami jauh lebih terpukul saat mendengar bahwa keadaanmu sangat buruk dan mengalami koma.Kami sangat takut kehilanganmu,Rin.Tapi,syukurlah kamu sudah sadar sekarang.”

Aku tersenyum melihat senyuman ibu yang masih terlihat bergetar.Kedua adik laki-lakiku menghampiri sebelah ranjangku dan menatapku.”Kakak!Aku takut kakak meninggalkanku.Kalau kakak meninggal nanti siapa yang akan bermain kuda-kudaan bersamaku?Terus nanti siapa yang menakutiku lagi?Aku takut,kak.”

Aku mengusap rambut si bungsu.”Tapi kakak nggak meninggal,’kan?Kakak masih hidup dan masih bisa main-main sama kamu lagi.Jangan menangis!Kamu itu cengeng,ya?”Aku menatap keluargaku yang lengkap berada di sampingku saat ini.Lalu,aku teringat bahwa kecelakaan yang menimpaku juga menelan korban seorang pengemudi mobil.”Bu,dimana ruangan pengemudi mobil itu?Aku mau menemuinya.”

Ibu menatapku cemas.”Tapi kamu baru saja sadar,Rin.Tubuh kamu pasti masih-“

“Nggak,bu!Aku mau menemuinya sekarang!”

Ibu menghela napas.”Baiklah.Tunggu ibu ambilkan kursi roda dahulu.”

Aku mengangguk patuh.Aku menatap langit-langit ruanganku yang tak jauh berbeda warnanya dengan dindingnya.Tiba-tiba saja bayangan wajah Shun terlukis.Saat hitungan ketiga sebelum aku menutup kedua mataku,aku mampu melihat wajah Shun dengan jelas.Mata hitam kelamnya,hidung mancungnya,bibir tipis meronanya yang tersenyum,dan juga dagu lancipnya.Aku dapat melihat bagaimana rupa orang asing di tempat asing saat aku koma.Aku sekarang tahu kenapa aku berada di tempat antah berantah yang merupakan perasaan bawah sadarku.Dan mungkin juga kehadiran Shun-tunggu!Apakah Shun…

“Ini kursi rodanya,Rin.Hati-hati menaikinya.”Ibu datang dengan membawa kursi roda dan menuntunku menaikinya dibantu oleh bapak.”Ruangan pengemudi mobil itu berada di sebelah ruanganmu.”

Aku mengangguk pelan karena sekarang pikiranku telah dipenuhi oleh hal lain.Ibu menuntun kursi rodaku menuju ruangan tempat pengemudi mobil yang juga mengalami kecelakaan bersamaku.Ibu membuka pintu ruangannya dan aku dapat melihat seonggok tubuh terbaring di ranjang bersprei putih yang sama dengan ranjang milikku.Aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas dengan jarak sejauh ini.Selain itu,aku dibuat bingung oleh orang-orang yang mengelilingi ranjangnya.Mereka menangis sesegukkan.Ibu menuntunku mendekat dan aku dapat melihat tubuhnya terbalut oleh selimut putih yang menutupi seluruh tubuhnya.Aku terkejut.Orang-orang yang sedari tadi menangis,akhirnya menyadari kehadiranku dan juga ibu.Mereka menatap kami dengan sorot mata sedih bercampur bingung.Aku tersenyum tipis.

“Maaf,apakah benar jika ini tempat pengemudi mobil yang ikut serta dalam kecelakaan dua minggu lalu yang juga melibatkan seorang pengendara sepeda?”

Aku melihat mereka berdua saling bertatapan sebelum seorang wanita yang aku yakini ibu dari pengemudi mobil yang terbaring di ranjang di sebelahku.Wanita tersebut menatapku.”Apa kamu pengendara sepeda itu?”Aku mengangguk.”Ma-maafkan anakku SeHun karena telah membuatmu seperti ini.Aku mewakilinya meminta maaf kepadamu,nak.”Setelah berkata seperti itu,wanita paruh baya di hadapanku kembali menangis.Suami wanita tersebut menenangkan istrinya dengan menepuk pelan pundak istrinya.

Aku menatap mereka bingung.”Apa,anak kalian bernama Oh SeHun?”

Mereka berdua menatapku bingung lalu mengangguk.Aku melihat riwayat tubuh yang terbaring di ranjang di sebelahku dan melihat nama Oh SeHun tertera jelas di sebuah papan putih beserta tempat tanggal lahir juga nama walinya.Pundakku menurun.Aku menjalankan kursi roda dengan tangan kiriku.Ibu mencoba menolong namun ku tolak.Setelah tepat berada di sebelah wajah yang tertutup kain putih,aku menghela napas dalam.Tangan kiriku perlahan membuka kain yang menutupi wajah di hadapanku.Aku terkesiap melihat wajah tanpa kain putih itu sekarang.Air mataku menetes secara mendadak.Tangan kiriku mengusap wajah pucatnya yang dan juga matanya yang tertutup rapat.Aku menurunkan tubuhku tepat di atas tubuh kakunya.Aku menangis dalam diam.

Aku tak peduli bagaimana tanggapan tiga orang dewasa di belakangku.Aku hanya ingin menuangkan perasaanku.Shun.Shunku kini ada di dunia nyata dan justru terbaring kaku di depanku.Shunku,ternyata merupakan korban kecelakaan yang menimpa pengemudi mobil dan pengendara sepeda.Shun dan juga aku.Aku,sekarang paham mengapa aku tak dapat mengingat kehadiran Shun setelah ia menceritakan tempat-tempat yang aku jelajahi bersamanya saat koma.Aku,tak dapat mengingat Shun karena dia memang tak pernah ada dalam ingatanku.Kami terhubung karena mengalami kecelakaan dua minggu yang lalu dan juga berada di ruangan yang bersebelahan.Itulah mengapa para peri pixie memberi kami berry biru itu.Berri biru itulah yang akan mengembalikan ingatan kami kembali karena saat kecelakaan,ingatan kami telah bercampur.Dan itulah mengapa Shun bisa tahu nama dan juga semua ingatan alam bawah sadarku.Aku sekarang sadar.

Aku menatap kedua orang tua SeHun.”Maaf,bisakah salah satu dari kalian menceritakan segala hal tentang Shun?”
Mereka sedikit bingung namun akhirnya ibu SeHun mengambil sebuah kursi dan menghadapku.Ia tersenyum tipis.”SeHun anakku merupakan anak yang keras kepala.Sama seperti ayahnya.Dia akan selalu menentang perintah kami dalam hal apapun.SeHun kami juga seringkali tak pulang ke rumah karena ia bertengkar dengan ayahnya.Namun,setelah itu dia pasti akan kembali.Dan keadaan akan kembali normal.Namun,kejadian yang sama sekali tak aku perkirakan adalah saat SeHun baru saja lulus dari kuliahnya.Suamiku telah lama berencana agar SeHun kami meneruskan bisnis keluarga dan menggantikan kedudukannya.Namun,SeHun kami sama sekali tak tertarik dengan dunia bisnis.Dia lebih memilih menjadi seorang dancer dan menolak mentah-mentah tawaran suamiku.Mereka bertengkar hebat malam itu dan berakhir dengan perginya SeHun mengendarai mobil.Aku sangat takut malam itu.Namun,suamiku menenangkanku dan berbicara kalau SeHun kami pasti akan kembali.”Aku mengusap tangannya lembut saat ia kembali terisak.Ia menatapku lembut.”Lalu,keesokkan harinya kami mendapat berita kecelakaan yang menimpa SeHun kami.Kami sangat panik.Kami bergegas ke UGD dan sangat terpukul saat mendengar bahwa keadaan SeHun kami sangat parah dan mengalami koma.Kami sangat sedih dan menyesal.Dan,sekarang,kami harus kehilangan SeHun kami untuk selamanya.”

Aku membiarkan ibu Shun kembali larut dalam kesedihannya.Aku juga larut dalam kesedihanku.Aku kembali menatap Shunku yang tak lagi bernyawa.Shun,meskipun kita belum pernah bertemu secara pribadi dan juga tidak saling mengenal secara mendalam.Tapi,aku benar-benar menyukaimu.Meskipun kita hanya bertemu dalam keadaan koma dan ingatan kita bercampur,namun aku sangat menyukainya.Meskipun kamu bersikap sangat tidak baik terhadapku,namun aku menyukaimu.Kamu adalah seseorang yang sangat baik Shun.Aku tahu itu karena kamu menyelamatkan hidupku,Shun.Kamu membiarkanku hidup dengan merelakan hidupmu untukku.Dan,aku sekarang paham kata-katamu sebelum aku pergi.Iya,Shun.Aku akan hidup seperti apa yang aku inginkan.Dan juga,aku tidak akan lagi menjadi gadis yang labil.Aku sudah 16 tahun.Aku sudah lebih dewasa.Aku akan mewujudkan impianmu dengan jalan yang berbeda.Aku akan mewujudkan impianku kuliah ke luar negeri dan menjadi penulis.Seperti halnya impianmu menjadi seorang penari.Aku akan berjuang lebih keras agar orang tuaku merestui keinginanku dengan usahaku.

Aku memberikan senyuman terakhir sebelum aku kembali menutup kain putih di seluruh tubuhnya.Beristirahatlah dengan tenang,Shun.Aku akan terus mengingatmu sebagai penyelamat dan juga teman yang sangat aku sayangi meskipun intensitas bertemu kita hanya sebentar.Aku mengusap air mataku yang masih menetes.Apa sekarang kamu sekarang sedang berkumpul bersama para peri pixie?Apa rumah tua reot dan juga awan hitam beserta api hitam itu sudah lenyap?Karena ku sudah melupakan perasaan negatif dalam hatiku dan hanya menyisakan kebahagiaan dan keinginan.Kamu pasti bahagia,’kan?Aku menatap kedua orang tua Sehun.Aku juga akan menjaga kedua orang tuamu ini.Selain itu,aku juga ingin tahu lebih banyak tentangmu.

Aku mengendarai kursi rodaku menjauhi ranjang SeHun dan mendekati ibu.Aku memeluk pinggang ibu dari samping.”Bu,aku boleh ke pemakaman Shun,gak?Ibu dan yang lainnya juga boleh ikut kok.Oh ya,orang tua Shun.Kita sekeluarga boleh ikut,’kan?”Aku menatap penuh harap.

Ibu dan kedua orang tua SeHun tertawa renyah.Ayah SeHun menatapku lembut.”Tentu saja.Kalau SeHun masih ada,aku pasti sudah menjodohkan kalian berdua.”

Aku tertawa renyah.”Yang benar saja,paman.Aku tidak mau dijodohkan dengan orang semenyebalkan Shun!”
Kami tertawa bersama.Dan aku juga berharap kamu tertawa bersama para peri pixie disana.Aku tidak tahu rencana Tuhan mempertemukan kita berdua dalam sebuah kecelakaan dan mengenalkan kita dalam ingatan bawah sadarku saat dalam keadaan koma.Namun,satu yang aku tahu.Tuhan ingin memperingatkanku untuk lebih menghargai hidup dan juga lebih menyayangi orang-orang yang yang aku sayangi dan juga menyayangiku.

 

END

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Dream(ing) [2/2End]”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s