[EXOFFI FREELANCE] Dream(ing) [1/2]

dreaming

Aku tidak tahu apakah aku sedang menapak langit ataukah tanah.

Penulis:Hima
Peraga:OC dan EXO’s SeHun
Genre:Slice of Life,Drama,Fantasy
Rating:G
Lenght:Twoshot

Aku benci segala hal yang ada di kehidupanku.Mempunyai dua sosok orang dewasa yang berperan sebagai orang tua bahkan tak mampu menuntun jiwa penuh keinginan tahuan ini terisi barang seperempat bagian.Seorang pria berperangai keras kepala dan tegas dipertemukan dengan seorang wanita berperangai semaunya dan juga keras kepala menghasilkan tiga orang anak dengan perangai berbeda namun satu pemikiran dengan kedua orang tuanya.Keras kepala.Satu atap diisi oleh lima manusia yang bersikeras akan pendapat yang dianggapnya benar benar-benar sebuah bencana.Dan disinilah aku.Anak pertama dengan dua saudara lelaki yang menyebalkan sedang merajuk kepada kedua orang tuanya.Masalah pendidikan menjadi topik yang selama dua minggu ini menjadi makanan penutup makan malam keluarga ini setelah masalah-masalah sebelumnya.

Bukan masalah yang begitu besar sih –bagiku- aku hanya ingin meneruskan pendidikan universitasku ke luar negeri setelah berjaya lulus dengan nilai yang cukup memuaskan.Aku telah merencanakan sekolah ke luar negeri sudah semenjak kelas 3 sekolah menengah pertama.Impian itu muncul saat mendengar bahwa istri kakak keponakanku mendapat beasiswa di Jerman.Seketika aku langsung mencari segala macam informasi mengenai sekolah di luar negeri.Tak luput rasa antusiasku untuk mendapat beasiswa ke universitas ternama di luar negeri.Apalagi jika mendapat beasiswa penuh.Selain aku dapat meringankan tanggungan keluarga,aku juga dapat menikmati uang kerja part-timeku tanpa perlu ketar-ketir memikirkan soal biaya kuliah.

Namun,keinginan muliaku harus terhalang oleh terjalnya restu bapak maupun ibu.Bahkan si bungsu pun ikut-ikutan melarang.Alasan mereka juga beragam.Ada yang khawatir tentang hidupku yang pastinya dari ibu,ada yang tak mau ibu terus-terusan mengeluh akan keadaanku dan juga ketersediaan universitas ternama di Korea yang juga memiliki beasiswa penuh yang pastinya dari ayah,dan ada yang khawatir tak ada yang menjadi bahan gelitikkannya yang sialnya dari si bungsu.Sebagai anak pertama yang menuruni perangai keras kepala keduanya akupun tak mau kalah membuat berbagai macam pertahanan diri.Aku tak ingin ada orang yang mengganggu segala keinginanku begitupun kedua orang tuaku.Kami membicarakan masalah ini selama 3 jam tanpa henti.Rekor terbaru yang kami peroleh setelah sebelumnya dipegang oleh 2 jam 55 menit satu hari sebelumnya.

Dan,seperti biasa,akulah yang akhirnya meninggalkan meja makan dan berjalan tegas menuju kamar.Bukannya berlagak kalah dan menyerah.Aku hanya lelah dan ingin tidur.Kemari malam aku mengisi seluruh waktuku untuk bermain game dan membaca buku.Tak ada waktu untuk tidur bahkan mandi pun aku baru saja pukul 5.30 sore tadi.Aku menubrukkan punggung ke kasur empukku.Dadaku masih naik turun tak beraturan,disebabkan oleh emosi yang mengumpul bertumpuk di dalamnya.Aku terkadang heran dengan keluarga yang aku miliki ini.Bagaimana bisa Tuhan mempertemukan dua orang dengan perangai keras kepala yang keterlaluan seperti bapak dan ibu lalu menghasilkan anak yang tak kalah keras kepalanya dari mereka?Aku bisa gila jika terus seperti ini.Aku mengucek rambut penuh emosi.Biarlah!Lebih baik aku tidur sekarang.Kepalaku pusing.Biarlah aku bermimpi tanpa peduli apa saja kejadian di dunia nyata yang tak dapat aku kontrol.

Baru saja aku menutup mata,tiba-tiba saja aku terganggu oleh suara alarm sialan berbentuk burung hantu milikku.Aku segera membuka mata dan mematikan alarm.Aku kaget melihat jam burung hantu itu menunjukkan pukul 7 pagi.Aku tahu karena sinar matahari sedikit menyelip dibalik tirai kamarku.Kok bisa?Bukannya aku baru saja menutup mataku pukul 10 malam?Dan itu baru terjadi 2 menit lalu.Aku segera berlari membuka pintu kamar tanpa membereskan kamar.Bukannya mendapati ruangan minimalis rumah,aku malah disuguhi pemandangan asing rumah tua yang hampir reot.Aku bingung.Kepalaku berputar pusing hingga ingin muntah rasanya.Bagaimana bisa keadaan kamarku masih sama sedangkan di luar sangat berbeda?Ada sesuatu yang ganjil dengan ini semua.Berniat mencari tahu,akupun sesegera memakai sandal selop dari kamar dan berlari keluar.Aku mencoba membuka pintu kayu yang juga hampir reot namun tak juga terbuka.Aku heran,bukankah pintu ini hampir reot?Kenapa tak juga bisa aku buka?Aku terus mencoba dengan berbagai cara.Aku menendangnya,meninjunya,bahkan mendobraknya.Namun,hasilnya nol.Tak dapat terbuka.Sial!Aku benar-benar ingin pergi dari sini.Aku tidak ingin terus berada disini!Aku ingin bebas!Tiba-tiba saja saat aku ingin membukanya,pintu di hadapanku dengan gampangnya langsung terbuka.Aku membuka sedikit mulutku,takjub.Setelah semua usahaku,bagaimana bisa.Bahkan keadaan di luar rumah tua itu lebih parah dari apa yang ada di dalam rumah tua di belakangku.Aku pasti sedang bermimpi.Tapi,jika ini mimpi,bagaimana bisa keadaan di sekelilingku bisa sangat nyata seperti ini?

Aku tidak tahu apakah aku sedang menapak langit ataukah tanah.Aku pernah membaca kejadian macam ini dari internet dan buku yang aku baca mengenai mimpi.Di dalamnya berisi tentang kemampuan orang untuk mengontrol mimpinya dan membuat mimpinya terasa nyata baginya.Tapi,masa aku memiliki mimpi macam itu sekarang?Aku memang penggila fantasy dan hal berbau supernatural,tapi jika dihadapkan langsung macam ini aku juga gak tahu harus bersikap macam gimana.Selain itu,seiring usiaku bertambah,rasionalitasku membuat keinginan untuk bertemu dan hidup di dunia fantasy membuatku sedikit sangsi.Akhirnya,daripada harus berdiam diri macam orang dungu akupun mulai beranjak maju menelusuri jalan setapak yang terhubung dengan pintu masuk rumah tua di belakangku.

Mimpi atau apalah ini,yang pasti semua benda di sekitarku saat ini benar-benar aneh dan gila.Aku baru saja melewati semut merah berkumis,berekor kuda,bertubuh besar dan memiliki sayap pegasus.Bukan hanya satu dua semut saja yang aku lihat.Tapi sekelompot semut merah bertubuh aneh dan terbang di angkasa.Keadaan tanah yang aku tapaki juga tak biasa.Tanahnya seperti terbuat dari kue kacang yang aku suka.Aku jadi sedikit merasa bersalah karena menginjaknya.Aku berjalan tanpa tahu arah dan tujuan karena aku memang bukannya ingin berada di sini.Aku benar-benar ingin berada di kamarku yang nyaman bahkan aku lebih memilih berdebat dengan keluargaku ketimbang berada di tempat antah berantah macam ini.Aku menatap tanah kue kacang terpotong di tempatku berada dan tempat di depanku.Tanah di depan tempatku berada berwarna hitam kelam seperti langit malam tanpa bulan dan bintang.Gelap dan muram.Lalu,di atas tanah hitam itu tumbuh pepohonan raksasa yang menjulang tinggi dan gersang.Bahkan aku tidak bisa melihat puncak pepohonan itu.Meskipun takut,aku mencoba untuk mengangkat kedua tungkai kakiku untuk mendarat di tanah bertekstur seperti tanah kali.Yah,baunya juga hampir menyerupai tanah kali.Aku melihat sekelilingku yang penuh oleh juluran akar yang besarnya hampir sebesar gajah dewasa.Sempat terpikir olehku jikalau juluran akar seukuran gajah dewasa itu melilit tubuhku.Aku mencoba menggerakkan tangan kananku untuk memukul kepalaku,namun tanganku serasa tak dapat digerakkan.Aku melihat tangan kananku yang kini terikat oleh juluran akar.Aku mencoba melepaskan ikatan akar yang semakin menguat saja.Melihat kilauan dari bawah kakiku yang masih selamat,aku sesegera mengambil pecahan kaca yang entah berasal darimana.Aku mencoba menghalau akar yang semakin menjalar ke hampir seluruh tubuhku.Meskipun pecahan kaca ini bisa untuk mengiris akar di tubuhku ini,tapi ukuran dan tebal akar yang melilit tubuhku lebih besar dan tebal dari biasanya.Tubuhku tak bisa bergerak karena sekarang akarnya telah penuh melilit seluruh tubuhku.Aku tak bisa bernapas lancar,sedangkan lilitan akar di tubuhku semakin kencang.Aku hanya dapat berteriak dalam hati meminta tolong.Siapapun dia.Tolong aku!Aku…sudah tak….kuat lagi…

Tubuhku sudah mati rasa dan hanya telingaku saja yang masih dapat bekerja dengan baik.Aku mendengar tebasan yang cukup keras berasal dari depan dan sampingku.Aku pasrah saja saat mendengar suara gedebuk keras di tanah.Aku mengira suara gedebuk itu berasal dari tubuhku saat aku mendengar suara seseorang menggumamkan namaku.Mungkin saja ini bukan mimpi.Karena semua ini terasa sangat nyata untuk menjadi sebuah plot mimpi.Bahkan sekarang aku mulai bisa merasakan leher seseorang di kedua lenganku dan suara hembusan angin yang cukup kencang.Eh,apa sekarang aku sudah bisa menggerakkan tubuhku?Aku membuka kedua mataku dan samar-samar aku melihat wajah seseorang.Rambut cepaknya bergerak liar dibawa angin.Aku melihat posisi tubuhku saat ini.Ah,aku sedang dibopong olehnya.Tunggu dulu.Dibopong?Aku meronta dalam bopongannya dan aku melihat dia sedikit terganggu dengan gerakan tubuhku.

“Bisakah kamu diam?Kita sedang dalam bahaya sekarang.Kamu tidak ingin mati konyol bukan?”

“Memangnya bahaya apa sampai kamu membopong aku dengan berlari kencang macam ini?”

“Dasar goblok!Lihat sendiri gih di belakang kita.”

Aku mengintip di balik bahu lebarnya –apa yang baru saja aku pikirkan sih- dan benar saja,juluran akar yang salah satunya melilit tubuhku tadi sedang mengejar kami.Tubuhku bergetar.Orang yang sedang membopongku ini benar.Aku juga dia bisa mati konyol jika tertangkap oleh juluran akar raksasa itu.Aku menenangkan tubuhku dan berhenti memberontak.Aku biarkan orang ini membopongku untuk keselamatan diriku sendiri.Kami,maksudku orang yang menyelamatkanku ini sudah berlari sangat jauh dan sekarang kami berada di padang rumput.Padang rumput ini sama seperti yang berada di kartun teletubbies.Aku melepaskan diri dan langsung menatap orang yang menyelamatkanku tengah menubrukkan tubuhnya di padang rumput yang terlihat nyaman.Aku berdehem cukup keras untuk menarik perhatiannya.Tak ada respon dari orang yang kini malah memiringkan tubuhnya.Sialan!Aku butuh penjelasan tahu!Akhirnya aku menendang kakinya cukup keras dan dia langsung terbangun dan berteriak protes.Aku mengangkat satu alis congkak.Orang di hadapanku ini sekarang sedang mengacak rambutnya yang entah mengapa terlihat seksi,ah apa yang baru saja aku pikirkan sih?Aku menggelengkan kepala berkali-kali mencoba mengusir pikiran kotor yang sempat mampir tadi.Aku kembali melihat orang di hadapanku yang kini sedang menghadapku.

“Kamu pasti mau tanya soal kenapa kamu bisa ada di tempat kayak gini,‘kan?”

“Iya.Emang ini apa dan dimana?Aku sedang mimpi,‘kan?”

“Yah,bisa dibilang gitu sih.Tapi lebih tepatnya sekarang kamu lagi berada di ambang mimpi dan kenyataan.Kamu memang sedang tidur saat ini di kamarmu,tapi kamu tidak sepenuhnya tidur karena sebagian kesadaranmu ikut terbawa bersama mimpimu.Kamu pernah dengar soal mimpi yang bisa kamu kendalikan sendiri,‘kan?”Aku mengangguk.”Nah,cara kerjanya hampir sama seperti itu.”

Aku menggeleng keras.”Tapi aku tidak mungkin melakukannya.Aku memang pernah nyoba,tapi selalu gagal.Lagipula,kalau aku bisa mengendalikan mimpiku,kenapa tadi aku gak bisa ngalahin akar yang membelit tubuhku?”

“Karena semua benda yang ada di sini merupakan alam bawah sadarmu semasa kecil.Kau tahu anak kecil selalu berimajinasi bukan?Dan inilah hasil dari imajinasi semasa kecilmu dan mungkin sebagiannya juga hasil alam bawah sadar masa kinimu.”

Aku mengerutkan kening.”Ini gak mungkin terjadi!Semua ini cuma ada di kisah fantasy dan dongeng aja,‘kan?Kok aku bisa kayak gini sih?Ah aku bingung!”Aku mengacak rambut emosi.”Jadi,kamu juga bagian dari imajinasiku?Tapi,kok aku gak tahu siapa kamu.Aku juga gak bisa lihat wajah kamu lho.Wajah kamu samar-samar gitu.”

“Aku juga gak tahu.Yang pasti semua benda di sini itu penciptanya ya kamu.Cuma kamu yang tahu.”
Aku menggeleng keras.”Nggak!Aku pasti saking capeknya mikirin masalah sampai ngelindur hal aneh kayak gini.”

Aku merasa orang di hadapanku sedang menatapku tajam,meskipun aku tidak dapat melihat jelas wajahnya.”Kamu,percaya dengan keinginan?Inilah semua keinginanmu selama 16 tahun usiamu.”
Aku menghela napas kasar.Aku menatap orang di hadapanku penuh tanya.”Tapi,ngomong-ngomong kamu itu cowok atau cewek sih?”

Orang di hadapanku langsung berdiri tegap.”Tentu saja aku cowok!Kamu bisa lihat postur tubuh dan suaraku ‘kan?Aku sudah jelas-jelas cowok!”

Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal.”Yah,aku ‘kan cuma mau memastikan aja.Takut salah.Oh ya,nama kamu siapa?”

“Masa kamu tidak tahu nama tokoh yang kamu buat sendiri sih,RiRin?”
Aku menatapnya tajam.”Yah,aku ‘kan sudah bilang aku memang gak tahu.Lagian kok kamu tahu nama aku sih?”

“Karena kamu penciptaku.Yaudah deh aku kasih tahu.Namaku Oh SeHun.”

Aku mengangguk.”Ok.Gimana kalau aku panggil kamu Shun?Bagus ‘kan?”

Aku melihat SeHun bergidik.”Panggilan macam apa itu?Panggil aku SeHun saja.”

Aku menggeleng keras.”Gak mau!Aku tetap mau panggil kamu Shun.Ayo Shun!Sekarang kita ngapain di sini?”

“Berhenti memanggilku kayak gitu!Aku gak mau ngajak kamu jalan-jalan kalau kamu tetap manggil aku kayak gitu.”
Aku tertawa renyah.”Dasar!Gitu aja marah.Pokoknya aku tetap manggil kamu Shun.Gak ada protes!Katamu kamu mau ngajak aku jalan-jalan?Emangnya kalau aku gak ikut kamu jalan-jalan apa yang akan terjadi?”

Aku melihat SeHun menatap kumpulan awan hitam juga petir yang menyambar ke tanah di bawahnya.”Kamu akan tetap terus di sini dan tubuhmu akan kosong di dunia nyata.”Aku meneguk ludah susah payah.”Jadi gimana?”

Aku mengangguk mantap diiringi helaan napas.”Ayo kita cepat jalan-jalan.Aku mau cepat keluar dari sini.Di sini menyeramkan.”

SeHun mendecak.”Kan kamu sendiri yang buat.”

Aku menggeram.”Diam!Memangnya aku tahu semua alam bawah sadarku bakal jadi beneran kayak gini!Lagipula,selama 16 tahun aku juga gak bakalan hapal satu-satu semua yang aku pikirin.”
SeHun melenggang pergi di hadapanku.”Yaudah.Ayo pergi!”

Aku mengikuti SeHun lalu memegang erat lengan kanannya.”Kita gak akan pergi ke kumpulan awan hitam itu ‘kan?”Aku bertambah ngeri mendengar suara petir yang semakin lama semakin keras saja.

SeHun mengangkat bahu acuh tak acuh.”Itu cuma satu-satunya jalan,Gadis Tampan.”

Aku merengut.Tapi tetap saja mengikuti langkah lebarnya tanpa melepas peganganku di lengannya.Merasa sedikit terganggu,SeHun mencoba melepaskan peganganku dengan menggoyangkan lengannya.Namun karena aku masih saja keukeuh memegangnya erat,SeHun pun pasrah dan membiarkanku memegang lengannya.Kami berjalan dalam diam.SeHun mengeluarkan pedang di paha bagian kanannya dengan tangan kirinya karena lengan kanannya masih aku pegang erat.Melihat itu aku sedikit melonggarkan peganganku.

“Em,kamu bisa pakai tangan kiri dengan pedang itu?”

SeHun mendengus.”Ya enggaklah.”

Aku melepas peganganku di lengannya lalu tersenyum aneh.”Eh ini aku kembalikan lengan kamu.Pakai yang benar.”
SeHun hanya diam dan memindah pedang ke tangan kanannya.SeHun memalingkan wajahnya ke arahku.”Aku cuma mau mengingatkan.Saat berada di dalam nanti jangan biarkan pikiranmu kosong.”Setelah berkata demikian,SeHun melangkah pergi memasuki kegelapan.

Aku mengikuti langkahnya di belakang.Nyatanya,setelah memasuki kawasan awan gelap dan sambaran petir aku tak merasa kegelapan serta merta mengambil alih keadaan.Mataku masih dapat melihat sekelilingku meski sedikit samar.Yang aku lihat hanyalah kegelapan dan petir yang menyambar ke segala arah.Bahkan aku tidak tahu tanah seperti apa yang aku injak.Aku melakukan seperti apa yang SeHun katakan saat sebelum kami menginjak ke kegelapan ini.Aku mengisi pikiranku dengan segala hal dan tak membiarkan pikiranku kosong sedetik pun.Aku mengingat cerita webku yang masih setengah aku kerjakan dan memikirkan kelanjutan ceritanya.Lalu bagaimana cara membujuk Shawn agar mau mengajariku bermain grand piano.Dan menagih janji JiHo untuk mentraktirku sabtu ini.Dan banyak lagi dan dan lainnya.Terlalu banyak pemikiran dan juga intensitas cahaya yang sedikit membuatku kehilangan sosok SeHun.Aku meneriakkan namanya namun tak jua mendapat jawaban yang aku harapkan.Pemikiranku kacau.Bagaimana kalau aku terus berada di sini tak dapat kembali ke rumah?Lalu bagaimana dengan rencana kuliahku ke luar negeri dan juga impianku menjadi seorang penulis?Bagaimana?Aku tidak mau…

Aku mendengar suara jeritan dan juga rintihan sakit dari arah depan.Aku melangkah maju karena suara-suara itu merupakan suara yang familiar bagiku.Aku terdiam melihat bapak,ibu,kedua adikku,dan juga beberapa teman yang aku kenal tergantung oleh rantai besi yang mengikat kedua kaki dan kedua tangan mereka.Ditambah di bawah tubuh mereka terdapat luapan api hitam yang siap menyambar hidup-hidup tubuh mereka.Mereka melihat kehadiranku dan meminta tolong kepadaku untuk menyelamatkan mereka.Aku melangkah lebih jauh hingga sampai di ujung tanah tempatku berdiri.Ibu yang berada di tempat paling dekat dengan tempatku berdiri meminta tolong dengan wajah sedihnya.Aku tak ingin melihat wajah sedih itu di wajahnya.Aku mengulurkan tanganku namun belum mampu mencapai ibu.Aku mencondongkan tubuhku agar dapat meraih tubuh ibu yang menyelamatkan ibu juga seluruh orang yang sayangi.Tinggal sedikit lagi aku dapat menggapai tubuh ibu dan melepaskan rantai besi yang mengikat tubuh ibu,tiba-tiba saja aku merasa pinggangku di tarik oleh seseorang.Aku mengerjapkan mataku dan menatap orang yang menarik pinggangku.SeHun menarik tubuhku dengan kedua lengannya.Aku mencoba melepaskan kedua lengan SeHun dari tubuhku.

“Lepaskan aku!Aku ingin menyelamatkan ibuku!Seluruh orang yang aku sayangi dalam bahaya.Aku tak ingin mereka dilalap api hitam itu.”

“Dasar goblok!Justru kamu yang akan dilalap api hitam itu jika kamu melakukannya.Jangan banyak bergerak!”

“Enggak!Lepaskan aku sekarang!Aku gak mau kehilangan mereka.Aku mohon!”

SeHun berteriak kencang.”Sekarang coba kamu lihat di depan kamu.Apa kamu melihat seluruh orang yang kamu sayangi sedang dalam bahaya,hah?”

Aku melihat ke depan dan tertegun.SeHun benar.Tak ada rantai besi yang mengikat ibu juga orang-orang yang aku sayangi.Yang ada aku akan mati dilalap api hitam di bawahku.Aku menatap SeHun.”Tolong aku!”

SeHun segera menarik kuat tubuhku dan aku juga berusaha untuk menggapai tanah yang ada di atasku.SeHun menggeleparkan tubuhnya dan mencoba untuk mengambil napas dalam.Aku masih terkejut dengan apa yang baru saja aku alami.Wajah-wajah kesakitan tadi masih jelas tercetak di pikiranku.Aku bahkan tak mengira ini semua bisa terjadi.Aku menangis dalam diam.Aku menyembunyikan wajahku di balik kedua lututku.Aku,merasa tak karuan.

 

To Be Continued……

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Dream(ing) [1/2]”

  1. ini.menarik..sungguh…
    moga kedepanya bisa lbh bagus ya.. cara penulisan dan penyampean blum rapi..terlalu banyak pengulangan kata”aku”contoh: dr part terakhir..
    “aku menangis dlm diam,aku memyembuyikan wajahku d kedua lututku.aku merasa tak karuan..”
    bisa d ganti kata “aku” biar tak berkesan mengulang ngulang.contoh…;
    “aku menangis dlm diam.dengan menyembunyikan wajahku d antara lututku..ini membuatku tak karuan”
    maaf banget ya..ini beneran saran jg kritik..biar tulisanya lbh enak d baca..serta penyampean kisahnya mudah d mengerti…
    yg smangat ya HIMA..d tunggu serries 2 nya.jg salam kenal…

Tinggalkan Balasan ke hana811 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s