[LAY BIRTHDAY PROJECT] I Am Sorry, I Love You

lay-wendy

I am sorry, I love you

Oneshoot // Sad Romance // PG 13+ // Lay (EXO), Wendy (Red Velvet)

anneandreas & tissakkamjong

Disclaimer:

FF ini murni dari otak kami. FF ini merupakan FF kolaborasi pertama kami.

Mohon maaf apabila ada kesamaan nama tokoh, alur, tema dan waktu.

copypaste jaebal khajima

[Warning typo(s)]

HAPPY READING

OoO

Lay tidak henti-hentinya memandangi wanita yang duduk di depannya. Wanita yang begitu ia cintai. Wanita yang tampak lebih indah dari bunga-bunga di taman tempat mereka berada. Wanita yang sebentar lagi akan dilamarnya, untuk menjadi pendamping hidupnya, menjadi  ibu dari anak-anaknya, menjadi belahan jiwanya.

Lay masih memerhatikan orang di hadapannya itu terus-menerus sehingga rona merah mulai tampak menghiasi pipi wanita tersebut.

“Kenapa kau memandangiku terus?” Tanya wanita itu.

“Aku tidak sabar akan melamarmu, Wendy-ya.” Jawab Lay tanpa mengalihkan pandangannya.

Wendy menggenggam tangan Lay sambil tersenyum, “Seminggu lagi kok. Bersabarlah.”

Aniya, seminggu itu lama. Aku tidak bisa bersabar, bagaimana kalau besok saja aku melamarmu?”

Wendy pun tertawa melihat tingkah lucu pasangannya itu.

“Memang kau sudah siap bertemu eomma-appaku?” Wendy mencoba menantang Lay.

“Berani!” Jawab Lay seraya menegapkan badannya dan menghadap Wendy sambil tersenyum gagah.

“Dasar.” Wendy tak mampu menyembunyikan senyum yang menghiasi bibirnya.

Lay kembali memandang Wendy hangat. Hubungan mereka sudah terjalin selama dua tahun, memang bukan waktu yang lama, namun juga bukan waktu yang terlalu singkat bagi Lay untuk memantapkan hatinya melamar Wendy minggu depan.

OoO

Wendy turun dari motor ninja yang dikendarai Lay dan berdiri menghadap laki-laki itu dengan senyuman manisnya. “Gomawo sudah mengantarku.”

Ne, tidak usah secanggung itu. Bukankah sudah kewajibanku kan mengantar pulang calon istriku?” Lay mencoba menggoda Wendy yang tentu saja sudah mulai salah tingkah.

Ya, meski mereka sudah menjalin hubungan 2 tahun namun tetap saja rasa malu-malu di antara mereka masihlah ada.

“Aku masuk dulu ya. Kau hati-hati di jalan, annyeong.” Wendy pun berjalan masuk ke dalam rumahnya setelah motor Lay melaju dengan kencangnya.

“Cih, anak itu. Baru saja kubilang hati-hati, sekarang sudah ngebut lagi saja.” Omel Wendy.

Wendy mulai memasuki rumahnya yang langsung disambut oleh eomma-appanya.

“Wendy, dia siapa?” Tanya appanya dengan suara yang berat.

Eoh, yang tadi mengantarku? Dia Lay, kekasihku. Memang appa belum tahu? Bukankah aku sudah sering menceritakannya?” Wendy menatap orang tuanya dengan heran.

“Jangan menjalin hubungan lagi dengannya.”

Wendy terpaku mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut appanya.

Mwo?! Memangnya kenapa appa? Selama ini appa tidak pernah berkomentar tentang hubunganku dengannya. Mengapa tiba-tiba..” Jawab Wendy.

“Kami sudah sepakat untuk menjodohkanmu dengan anak partner bisnis appa yang tinggal di luar negeri, nak.” Kali ini giliran eommanya yang berbicara.

Mwo?! Eomma-appa kenapa sih? Sekarang sudah tidak jaman menjodoh-jodohkan seperti ini. Lagi pula Lay akan datang melamarku minggu depan. Aku tidak mau bertemu dengan siapapun dia itu, apalagi sampai menikah dengannya!”

Tanpa mendengarkan jawaban eomma dan appanya, Wendy langsung berlari menuju kamarnya dengan mata berkaca-kaca. Bagaimanapun juga ia sangat mencintai Lay dan tidak mungkin ia mampu meninggalkan Lay hanya demi lelaki yang bahkan tidak ia kenal sama sekali.

“Bagaimana kalau aku akan dijodohkan?”

Tak terasa air mata Wendy pun mengalir mengenai pakaiannya, ia mengusap air matanya dan mengambil bingkai foto yang tertata apik di sebelah kasurnya. Seketika cairan hangat itu kembali mengalir ke pipinya saat ia menatap fotonya dan Lay yang sedang duduk berdampingan di sungai Han. Senyum yang merekah di bibirnya dan Lay yang saat itu sedang merayakan anniversary pertama mereka. Pada saat itu mereka sudah berjanji untuk tidak saling meninggalkan dan kini Wendy takut ia ingkar akan janjinya. Terlebih ia takut melukai perasaan laki-laki yang begitu dicintainya itu.

OoO

Lay memandang Wendy yang duduk bersebelahan dengan dirinya di dalam busway menuju Namsan Tower. Mereka hendak pergi ke jembatan gembok cinta yang merupakan salah satu tempat wisata terkenal bagi pasangan kekasih di Korea Selatan. Konon kata orang-orang di sana, pasangan kekasih yang memasang gembok bertuliskan nama orang tersayang dan membuang kuncinya, cintanya akan abadi.

Namun yang aneh, Wendy tampak tidak bersemangat sama sekali, hal ini tentu membuat Lay khawatir.

“Wendy-ya kenapa kau diam saja? Biasanya kau selalu cerewet sepanjang jalan.  Apa kau tidak mau ke Namsan Tower? Atau kau sakit? Apa kau ingin pergi ke tempat lain?” Kata Lay mencoba memegang jidat Wendy.

“Aih, tidak apa-apa.  Aku hanya mengantuk.” Jawab Wendy sambil berusaha tersenyum.

Jinjja? Kenapa tidak bilang saja dari tadi? Sini kepalamu senderkan saja ke bahuku.” Lay menyentuh kepala Wendy dan menaruhnya di bahunya.

Wendy menurut dan menyandarkan kepalanya di bahu Lay. Namun perasaannya menjadi sesak dan matanya yang baru saja terpejam terasa hangat. Wendy berusaha sekuat tenaga agar tidak ada cairan bening yang keluar dari matanya.

“Mian aku harus berbohong. Aku belum sanggup mengatakannya padamu sekarang. Aku masih berharap appa dan eomma dapat menerimamu sebagai calon suamiku.” Ucap Wendy dalam hati.

OoO

“Whoa… Indah sekali.”

Wendy membulatkan matanya dan itu membuat wajahnya menjadi lucu. Sejenak kesedihannya hilang karena pemandangan dari puncak Namsan Tower yang menakjubkan.

“Lay! Kemari! Kita pasang gembok kita disini saja ya.” Ucap Wendy sambil menunjuk ke salah satu tempat yang masih ada celah kosong.

Ne! Sebentar aku bayar gemboknya dulu.”

Lay segera membayar gemboknya dan berjalan menuju Wendy.

“Kau mau menulis apa?” Tanya Lay pada Wendy sambil mengarahkan pandangannya pada gembok yang ada di tangan Wendy.

Lay – Wendy

Forever

 

Mata Lay membulat saat melihat tulisan yang ada di gembok milik Wendy.

“Aih, kau mengikuti punyaku yaaa?” Kata Lay dengan nada menggoda.

Aniya! Enak saja. Ini ideku sendiri, kau saja yang mengikutiku!” Wendy mengelak.

“Atau mungkin kita memang jodoh sampai-sampai sama seperti ini.”

Wendy yang mendengar jawaban Lay hanya tertawa saja, Lay pun mengusap-usap poni gadisnya itu dengan gemas.

“Semoga cinta kita abadi.” Ucap Wendy sambil melemparkan kunci gemboknya sejauh mungkin.

“Tetaplah bersamaku, Wendy-ya.” Lay mencium kening Wendy penuh cinta.

Itupun yang kuharapkan Lay, semoga keajaiban itu benar-benar ada.

OoO

Sekali lagi Wendy tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah Lay saat laki-laki itu mulai berjalan menjauh dari pagar rumahnya. Senyumnya masih mengembang saat mengenang kembali kecupan lembut di dahinya.

“Wendy, kemari…” Panggil eommanya dari depan pintu.

Senyum yang melengkung di bibir Wendy itupun langsung lenyap. Iya tahu pembicaraan akan berubah menajdi serius setiap kali eomma memanggilnya seperti itu.

“Aku lelah, eomma. Tidak bisakah kita bicaranya besok saja?”

Appa sudah menunggu di dalam. Kau jangan membuat appa marah. Eomma minta tolong padamu, Wendy. Turutilah appamu sekali ini saja.”

“Sekali ini saja? Memangnya eomma dan appa berharap aku menikah berapa kali?”

“Bukan itu maksud eomma. Maafkan kami memaksamu terlibat dalam dunia bisnis, maafkan kami juga memaksamu menikah dengan laki-laki pilihan kami. Namun usaha appa sedang mengalami krisis, dan jalan keluar yang ada hanya ini. Dia laki-laki baik, Wendy. Ayahnya adalah partner bisnis appa, dan dia menawarkan jalan keluar ini. Tegakah kau melihat usaha yang sudah dibangun oleh appa dengan kerja keras selama ini sia-sia dan bangkrut?” Tutur eommanya dengan suara yang berat sambil memandang Wendy dengan sendu.

Wendy menatap eommanya, namun bibirnya bungkam untuk menjawab.

“Masuklah, Wendy. Semakin lama di luar semakin dingin.” Lanjut eommanya kemudian masuk ke dalam rumah.

OoO

Wendy duduk di atas ranjangnya, memeluk lututnya sendiri sementara menenggelamkan kepalanya dibalik lipatan lututnya. Pikirannya mengawang jauh, membawanya ke tempat yang semakin gelap dan pekat seperti langit malam di luar jendelanya yang tak berbintang.

Wendy mengangkat kepalanya dan menghela napas panjang. Ia menatap paspor dan tiket pesawat yang ada di sampingnya. Penerbangan untuk dua hari lagi. Dua hari lagi. Hari yang juga dijanjikan oleh Lay untuk melamarnya.

Apa yang harus dilakukannya?

Wendy merasa dua hari tidaklah cukup untuk menentukan apa yang harus ia pilih. Apakah itu Lay, laki-laki yang sangat dicintainya, atau itu masa depan bisnis keluarganya.

Tidak.

Tidak dua hari.

Bahkan dua bulan atau dua tahun pun Wendy masih merasa tidak mampu memilih.

Andai saja.

Andai bisnis appa tidak diambang kebangkrutan.

Andai Lay adalah anak dari partner bisnis appa.

Wendy mulai berandai, itu yang biasanya dilakukannya ketika segala sesuatu berjalan tidak seperti yang ia inginkan. Namun ia tahu kata-kata yang sangat ia sukai itupun tidak akan berdampak dalam situasi saat ini.

Andai saja pengandaiannya ini menjadi kenyataan..

Andai…

OoO

Wendy membuka matanya dan menyadari cahaya matahari sudah menyeruak masuk lewat jendela kamarnya yang masih terbuka. Tangannya meraba sekitar tempat tidurnya dan menemukan paspor dan tiket pesawat. Wendy terduduk dan kembali menatap dua benda itu.

Ternyata ini nyata, dan waktunya semakin dekat.

Besok.

Haruskah aku pergi dan menjadi anak yang berbakti?

Atau haruskah aku pergi bersama Lay, memulai kehidupan baru bersama dengannya?

 

Dering handpone tanda panggilan masuk membuyarkan lamunan Wendy. Ia meraih handphonenya yang juga tergeletak di atas tempat tidurnya.

Panggilan itu dari Lay.

Annyeong jagiya…” Sapa Lay dari ujung telepon.

Mendengar suaranya membuat tenggorokanku tercekat dan dadaku terasa sesak.

Apa yang harus aku lakukan?

 

“Halo… Ada apa pagi-pagi seperti ini menelponku?” Jawab Wendy berusaha membuat suaranya tidak terdengar bergetar

“Aku hanya rindu padamu…”

Please, Lay. Aku tidak sanggup memilih jika kau bersikap lembut seperti ini padaku.

“Ha… ha… Beberapa hari yang lalu kan kita baru pergi ke Namsan Tower berdua…”

“Meskipun begitu, aku tetap merindukanmu setiap hari. Aku tidak sabar menunggu datangnya besok, Wendy. Saat aku akan datang melamar ke rumahmu, bertemu dengan appa dan eommamu, memohon restu mereka untuk menikahimu.”

Besok..

Kau kembali menyadarkanku bahwa waktunya semakin dekat bagiku untuk memilih.

 

“Wendy? Jagiya? Mengapa kau tidak menjawab?” Tanya Lay.

Eoh? Ah ya… Eoh...”

“Ada apa denganmu? Apakah kau juga merasa berdebar seperti yang kurasakan saat ini? Pasti kau merasakan hal yang kurasakan juga kan? Sehingga pikiranmu tidak fokus. Aku juga. Aku bersemangat menantikan setiap detik yang berlalu sekarang. Aku berharap besok segera datang.” Tutur Lay lagi.

“Emm… Lay, aku harus pergi sekarang. Aku matikan sambungan teleponnya, ya.”

Cairan bening yang hangat mengalir dari kedua pelupuk matanya.

Wendy merasa tidak sanggup mendengar lanjutan dari setiap kalimat yang Lay ucapkan.

Sanggupkah ia meninggalkan laki-laki yang begitu ia cintai itu?

Sanggupkah ia melupakan Lay dan mencintai laki-laki pilihan orangtuanya?

OoO

Lay memandang kotak berisikan cincin yang ada di genggaman tangannya. Cincin itu besok akan tersemat di jari manis Wendy, tanda bahwa gadis itu akan segera menjadi istrinya. Memikirkannya saja sungguh sudah membuat Lay tersenyum sendiri.

Lay kembali membayangkan hari esok, hari saat ia akan bertemu dengan kedua orang tua Wendy, dan dengan serius meminta restu dari mereka.

Pikirannya lalu membayangkan hari pernikahan mereka, betapa gadisnya itu pasti akan tampak sangat cantik dengan gaun pengantin yang putih bersih.

Selanjutnya mereka akan tinggal bersama, dimana ia akan melihat Wendy setiap pagi untuk mengawali hari. Hari-hari yang bahagia, yang juga akan diwarnai senyum dengan hadirnya buah hati.

Lay menghentikan angan-angan bahagianya dan menutup kotak cincin yang masih ada di genggamannya itu. Lalu ia beranjak dari apartemennya, hendak pergi memesan buket bunga untuk di bawa besok. Seorang laki-laki yang pergi melamar tidak mungkin melupakan bunga, bukan?

Ya, walaupun gadisnya sudah lebih indah dari bunga. Namun bunga tetap hal wajib yang harus dibawa saat seorang laki-laki pergi melamar, begitu pikirnya.

OoO

Tak kuat rasanya kaki Wendy untuk berjalan keluar dari rumahnya. Meninggalkan rumah, orang tua, negerinya, dan Lay tidaklah mudah untuknya. Begitu banyak kenangannya di sini dan ia terpaksa memilih untuk bertunangan dengan lelaki pilihan orang tuanya yang tidak sama sekali ia kenal.

Mungkin orang lain akan berpikir Wendy tidak memiliki hati nurani karena memilih meninggalkan Lay yang sangat mencintainya, apalagi di hari yang sangat indah dan spesial ini. Hari dimana Lay seharusnya melamar Wendy, tetapi ia malah pergi meninggalkannya.

Namun, jika apa yang dipilih Wendy adalah pilihan yang salah, apakah lebih baik bagi Wendy untuk membantah perintah orang tuanya yang sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang?

Angin pagi yang menusuk tulang-tulangnya tidak membuat Wendy menyerah untuk datang ke apartemen Lay. Dengan dibalut jaket tebal dan tangannya yang menjinjing koper, ia menyusuri jalanan yang masih sangat sepi itu. Ia memandang gedung tinggi yang menjulang di depan matanya itu. Air mata nya yang seketika ingin menerobos keluar segera dihapusnya.

Sudah terlambat bagi Wendy untuk kembali bernegosiasi dengan pikiran dan hatinya. Wendy tidak ingin menundanya lagi, cepat atau lambat ia akan tetap melalui rasa sakit ini. Dengan pikiran tersebut akhirnya Wendy segera masuk kedalam gedung itu.

Tangannya bergetar ketika memencet tombol di dinding lift. Keraguan masih terus berkelebat dipikirannya bahkan ia sendiri pun tak menyangka akan melakukan hal ini. Seharusnya ia bisa hidup bahagia dengan Lay, seharusnya..

KAMAR 217

 

Ini kali pertama Wendy memandang nomor kamar yang tergantung di pintu apartemen Lay dengan begitu sendu. Namun ia segera menyingkirkan keraguannya yang semakin membuncah di dalam dadanya, segera Wendy berjongkok didepan pintu kamar Lay dan dengan cepat menyelipkan sebuah amplop pink kecil yang berisi surat terakhirnya untuk Lay.

Sesak di dadanya terasa seketika. Ia merasakan seperti tertusuk yang amat dalam. Wendy pun berjalan meninggalkan kamar Lay itu, sebelum ia menyesal. Ia segera keluar dari apartemen dan mencari taxi untuk menuju bandara.

“Aku harus bisa melupakan Lay dan memulai kehidupan baru.”

Senyum getir tersungging di bibirnya seraya mematahkan sim-card handphonenya.  Ia lakukan itu agar Lay tidak mencarinya, ia juga sudah memblokir semua akun social media milik Lay dan juga mengganti alamat emailnya sendiri. Ia tidak ingin lagi memikirkan Lay di sana karena ia akan mempunyai kehidupan yang baru dan ia berharap Lay pun akan mempunyai kehidupan yang baru, tanpa diri Wendy disisinya.

Tentu semua hal yang terjadi ini membuat Wendy terlihat sangat kejam. Tentu saja, ia menyakiti laki-laki yang begitu mencintainya. Tidak cukup dengan meninggalkan laki-laki itu tanpa alasan, Wendy juga memutus semua jalur komunikasi antara mereka. Namun, tanpa di sadari, di dalam hati gadis yang terlihat kejam itu telah menganga sebuah luka yang berongga sangat dalam.

OoO

Lay terbangun saat alarm handphonenya berbunyi. Ia membuka lockscreen handphonenya tersebut dan mengirim pesan singkat untuk Wendy.

“Pagi Wendy, sudah siap untuk hari ini?”

 

Mengucapkan selamat pagi untuk Wendy adalah hal yang selalu Lay lakukan setiap pagi, termasuk di hari ini. Hari spesial mereka.

“Aih, kenapa tidak terkirim?”

Lay terus menekan tombol retry di layar handphonenya ketika pesan singkatnya itu tidak terkirim.

Setelah berkali-kali mencoba akhirnya Lay menyerah untuk mengirim pesan itu dan berjalan menuju pintu depan untuk mengambil handuknya yang tergantung di balik pintu tersebut.

“Apa itu?”

Lay menyipitkan matanya saat melihat sepucuk surat kecil yang tergeletak di lantai dekat pintu depan apartemennya. Lay merobek surat itu dan mengambil isinya. Terlupakan sudah niat awalnya untuk mandi. Lay segera membuka surat itu dan membacanya.

Pagi Lay-ya, bagaimana kabarmu pagi ini?

Pasti kau sangat senang ya karena hari ini kau akan melamarku?

Aku juga sangat senang hari ini akan dilamar oleh kau Lay-ya

Aku pasti sangat senang jika akhirnya kau dan aku bisa bersama

Aku pasti akan sangat senang bila kita tinggal bersama, mebentuk keluarga denganmu

Kau juga pasti akan sangat senang kan?

Terima kasih banyak karena selama dua tahun ini kau sudah selalu ada buatku

Kau menjadi tangan untuk menghapus air mataku

Kau menjadi pundak untuk memulihkan semangatku

Kau menjadi kaki untuk membawaku pergi ke semua tempat yang menyenangkan

Dan Lay-ya…

Maafkan aku…

Maafkan aku mengecewakanmu

Maafkan aku membuatmu terluka

Maafkan aku meninggalkanmu tanpa alasan

Kau tidak perlu datang ke rumahku hari ini, karena aku tidak akan ada di sana

Jangan cari aku

Jangan lagi menghubungiku

Lupakan aku dan jalani kehidupan baru tanpaku

Kau pasti akan menemukan gadis yang lebih baik dariku

Gadis yang akan mencintaimu dan tidak akan meninggalkanmu

I am sorry, I love you, Lay-ya

 

Your Ex,

Wendy

 

Lay memandang surat itu dengan tatapan kosong hingga tanpa sadar cairan bening yang jatuh dari pelupuk matanya mulai membasahi kertas itu. Seketika tatapan kosong itu berubah menjadi tatapan marah sehingga ia melempar kertas itu ke sudut ruangan.

Lay segera berlari keluar dari apartemennya.

Ia harus datang ke rumah Wendy.

Ia harus menemui gadisnya itu.

Ia harus tau apa alasan Wendy melakukan hal ini.

Beribu pikiran memenuhi ruang pikirnya hingga tanpa sadar ia sudah sampai di depan rumah Wendy.

Hati Lay semakin berdebar tak karuan kala ia melihat rumah gadisnya itu kosong. Lay mencoba memencet bel yang ada di depan pagar rumah Wendy berulang kali hingga akhirnya satpam yang bekerja di kompleks tempat Wendy tinggal menghampiri Lay.

Ajjusi, saya mencari Wendy. Apakah Wendy atau keluarganya ada di rumah?”

“Wendy, anak gadis yang tinggal di sini? Tadi pagi-pagi sekali saya melihat ia pergi dengan membawa sebuah koper besar dan saya belum melihatnya kembali sampai saat ini.” Jawab satpam itu.

Lay masih berdiri mematung di depan rumah itu bahkan setelah satpam yang tadi menghampirinya sudah meninggalkannya. Lay tidak akan menyerah begitu saja, ia kembali mencoba menghubungi nomor telepon Wendy berkali-kali.

Ia harap isi surat itu bohong.

Ia harap ini hanya akal Wendy untuk mengejutkannya.

Ia harap Wendy tidak benar-benar pergi dari sisinya.

Namun semakin banyak ia berharap, justru semakin kuat bagian lain dirinnya memaksa untuk menerima kenyataan yang telah ada di depan matanya.

Kenyataan yang diciptakan oleh Wendy.

Kenyataan yang bagaimanapun juga harus ia lalui.

Berbagai pikiran yang berkelebat di dalam dirinya membuat pandangan Lay terlihat jauh dan mengawang, menghasilkan bulir-bulir hangat yang kini turun menjadi air mata.

Air mata yang Lay harap akan menguatkannya menghadapi hari-hari selanjutnya.

END

An: Annyeonggg! Gimana oneshot bikinan kami? Dapet kan feel-nya? Pasti dapet dong kkk^^ ff ini kami buat untuk merayakan ultah Lay! Saengil chukkae hamnida Lay Oppa! Semoga makin sukses ya Lay Oppa! Buat kalian, jangan lupa like&comment&share yaaa! Gomawo!!!^^

21 tanggapan untuk “[LAY BIRTHDAY PROJECT] I Am Sorry, I Love You”

  1. Huaaaaaaa kasian my bias ditinggal nikah sama calon istrinya dihari pas ngelamar😭
    Sabar ya Yixing, kalo ga bisa sama Wendy mending sama aku aja😚 wkwk

  2. huwaaaaaa endingnya bikin gak legaaaa
    nyesek banget itu mas yixing, polos gitu dan udah semangat mau ngelamar wendy, eh wendynya disuruh nikah sama org… TT
    aku suka pairnya yg unik, terus juga feel yg ditonjolkan, tapi kurang suka cerita kucing2an di mana wendy ga berani bilang… hm dan forced marriage juga kyknya udah lumayan sering diangkat, aku malah berharap ini ketwist jadi komedi dgn lay yg ternyata jadi pihak yg dijodohkan sama wendy
    anyway, kupikir surat wendy itu enaknya dijadiin satu paragraf aja agar lebih enak dibaca ^^
    keep writing!

  3. Annyeong Aku readers baru 🙂 ,salam kenal 🙂
    Sequel please sequel masa endingnya ngegantung chingu 🙂
    kasian tau lay dan wendynya >,<
    Di tunggu FF Wendy~Exo lain.nya 😉

  4. MBAK SEUNGHWAN!! KEMBARANKUH/lalu dikroyok/ KENAPA BEGITUHH TAT
    hrusnya dia bilang dari awal biar yixing gak begitu berharap, mana udah siap siap kan kasian mending nglamar yang lain aja/dikroyok tisa sama kaknean/
    uyeeee kolab niyeee ciyeeee uhuk ciyeeee/plak

    1. kalo dia bilang dari awal, jadinya drabble nanti bukan oneshoot.. wkwkwkwk..
      ngelamar siapa? kamu maksudnya?
      *siap siap bisikin sehun
      iyenih, kolab pertama, uhuk.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s