[Lay Birthday Project] Burning Soul

whitewind-burning-soul

BURNING SOUL

 

Author : whitewind

EXO’s Lay, OC’s Sam

Fantasy, slight!action // G // ficlet


Special for EXO’s Lay birthday project event

amazing poster by : blackangel@ArtZone



Enjoy and happy reading 😀



“I’m die become ash, and born again from my ash”


==000==


Sudah berapa kali Lay harus bersembunyi dan menghindar. Mungkin ini bisa dibilang ribuan kali ia bersembunyi.

Para ‘Paladin’ memburunya tanpa kenal lelah semenjak ratusan tahun lalu hingga saat ini. Lay hanya bisa bersembunyi dan mencari sanak saudaranya yang masih tersisa dan melindunginya.

“Phoenix!?” seru Sam ketika mendengar perkataan Lay dan mulut gadis itu segera ditutup oleh tangan Lay dengan mata melotot.

“Sudah kubilang jangan keras-keras!” desis Lay dengan kesal.

Sam menganggukan kepalanya tanda ia mengerti. Lay pun melepas bekapannya dan Sam mengambil oksigen sebanyak-banyaknya setelah ia hampir tak bisa bernapas karena perbuatan Lay dan melihat sekeliling cafe tersebut lalu menghela napas lega karena tak ada satu orang pun yang mendengarkannya.

“Jadi? Kau bisa menolongku, Sam?” tanya Lay.

Sebenarnya ini adalah hal ternekat dan terbodoh yang dilakukan oleh Lay, meninta pertolongan kepada seorang ‘Paladin’ muda yang baru ia kenal dan bisa saja membunuhnya kapanpun. Tapi, Lay bisa melihat dari mata gadis itu bahwa dia anak yang polos dan baik. Terbukti bahwa gadis tersebut amat terkejut begitu mengetahui jika Lay adalah seekor Phoenix yang diburu.

Sam berpikir keras, bagaimana caranya agar para ‘Paladin’ tidak mengetahuinya –termasuk ayahnya pemimpin kelompok tersebut. Dia memikirkan beberapa cara yang terbilang konyol dan aneh. Yah, karena memang gadis ini tak bisa berpikir serius ketika dalam kondisi yang darurat dan juga serius.

“Begini saja, aku akan membantumu mencari kerabatmu. Tapi kau juga harus membantuku untuk pergi dari rumah agar aku juga bisa ikut mencari kerabatmu yang tersisa. Bagaimana?” tawar Sam.

Entah kenapa Lay menyetujui tawaran gadis berusia 18 tahun itu begitu saja. Mungkin karena ini keadaan yang genting dan mengingat hanya dia seorang yang mencari kerabatnya tanpa seorang pun yang menemaninya selama ratusan tahun.

“Bisakah kita pergi dari sini sekarang Lay? Aku mendapatkan firasat yang buruk sepertinya.” Celetuk Sam dan laki-laki itu juga merasakan hal yang serupa.

Lay pun menggandeng tangan Sam dan mengajaknya keluar dari cafe tersebut. Setelah mereka keluar, beberapa orang menggunakan jubah hitam berjalan mendekati mereka berdua.

“Ayo lari, Sam!” perintah Lay dan kemudian dia berlari bersama dengan Sam.

Orang-orang berjubah itu lalu ikut berlari mengejar mereka berdua sembari mengeluarkan senapan dan menembakannya kepada Lay dan Sam. Desingan peluru yang bertubi-tubi membuat para pejalan kaki di sekitarnya menghindar. Begitupula dengan mereka agar tidak terkena timah emas yang berbahaya itu.

Lay kemudian mengeluarkan api dari telapak tangannya untuk membuat penghalang bagi para ‘Paladin’ itu dan berhasil, para ‘Paladin itu berhenti mengejar Lay dan Sam. Tapi mereka tak kehilangan akal dan mencari jalan lain.

Mereka berdua terus berlari dan akhirnya berhenti karena menemukan jalan buntu. Ketika hendak berbalik, para ‘Paladin’ itu sudah mengepung mereka.

“Tidak ada jalan lain lagi untukmu lari.”

Suara seseorang menggema di tempat itu lalu muncul di antara orang-orang tersebut dan menatap mereka berdua tajam. Iris Sam membulat melihat sosok tersebut.

“Rupanya kau sedang belajar menjadi seorang pengkhianat, Samantha.” Ucap pria itu dingin dan tajam.

Sam hanya bisa menunduk, antara takut dan malu berhadapan dengan pemimpin kelompok tersebut. Dia tak tahu harus berkata apa untuk menjelaskan semua ini. Dia takut akan kemarahan ayahnya yang tidak segan-segan menghabisi seorang ‘Paladin’ yang ketahuan menjadi seorang pengkhianat. Tapi di sisi lain, dia juga tak tega dan ingin menolong Lay.

Lay bisa membaca pikiran gadis itu. Dia lalu berdiri dan berdiri di depan Sam dan memunggunginya. Lay menatap pria tersebut dengan tatapan tajam.

“Bawa aku, gadis ini tidak bersalah.” Katanya.

Dia lebih baik melindungi gadis itu dan menyerahkan dirinya daripada melihat Sam mati di depannya karena gadis itu tidak bersalah sama sekali.

“Oh, baguslah kalau kau menyerahkan diri. Tapi sebelumnya aku harus menyelesaikan masalah ini dulu.”

Entah kenapa, tiba-tiba tubuh Sam bergerak maju ke depan dengan sendirinya tanpa ia kendalikan.

DOR!

Peluru emas itu bersarang tepat di kepala gadis itu dan tubuh gadis tersebut lalu rubuh ke tanah. Lay membelalakan matanya melihat apa yang barusan terjadi. Dia lalu mendekati tubuh gadis itu dan merengkuhnya. Sebelumnya dengan kekuatannya dia mengambil peluru yang ada di dalam kepala gadis itu.

“Bawa dia!” perintah pria itu.

Ketika orang-orang tersebut hendak membawa Lay. Tubuh laki-laki itu mengeluarkan api tubuhnya dan kemudian membakar orang-orang yang hendak membawanya. Pria tersebut terkejut dan mengambil rantai emas yang sudah ia persiapkan di balik punggungnya.

Namun dengan cepat Lay menghempaskan tubuh pria itu dengan api yang dimilikinya dan kemudian menghilang dengan api tersebut dan membawa tubuh Sam.

“Tuan Luhan, bagaimana ini?” tanya salah satu orang kepada pria tersebut.

Pria itu hanya tersenyum miring lalu berjalan meninggalkan tempat itu.

“Biarkan mereka pergi. Kita harus mencari Phoenix yang masih tersisa.”

 

Di sebuah padang bunga dandelion yang luas. Lay duduk bersimpuh menopang tubuh Sam yang sudah tidak bernyawa lagi. Entah kenapa hatinya hancur melihat pemandangan yang terjadi tadi dengan mata kepalanya.

“Sam…” ucapnya lirih.

Airmata Lay menetes pada lubang di kepala Sam karena tembakan tersebut. Dan secara ajaibnya lubang itu menutup secara perlahan-lahan dan akhirnya menutup dengan sempurna. Sam terbatuk-batuk karena napasnya tertahan dan kemudian membuka matanya.

“A-apa yang terjadi? Bukankah tadi ayah menembakku? Ini dimana?” tanya Sam kebingungan sambil melihat sekelilingnya.

Lay tersenyum lembut dan menepuk kepala Sam lembut.

“Kau terlalu muda untuk mati, nak. Tidak sepertiku yang sudah berumur 541 tahun ini.” Jawab Lay lalu ambruk dan untungnya Sam segera menahan tubuh Lay.

“Lay! Kau tidak apa-apa?” tanya Sam khawatir.

Laki-laki itu hanya tersenyum dan menatap iris Sam dalam. Dia menyilakan rambut Sam lembut.

“Tak usah khawatir, Sam. Aku akan mati menjadi abu dan terlahir kembali lagi dari abuku. Begitulah siklus hidup Phoenix. Tak usah khawatir.” Jawab Lay lembut.

“Tapi kau pasti akan menjadi jiwa yang baru dan melupakanku! Walaupun kita baru pertama kali bertemu, tapi aku merasa nyaman berada di dekatmu Lay!” seru Sam dengan terisak.

“Terima kasih, Sam. Aku senang bertemu dan berkenalan denganmu. Ini adalah pertemuan pertama dan terakhir kita. Aku akan selalu mengingatmu.” Bisik Lay sembari menghapus airmata Sam.

Perlahan-lahan tubuh Lay menjadi bara api dan kemudian berubah menjadi abu. Sam pun menangis. Dia baru saja kehilangan orang yang membuatnya merasa nyaman walaupun hanya sekejap, padahal dia sudah berjanji untuk membantu Lay mencari kerabat laki-laki itu yang masih tersisa.

Dari abu tersebut tiba-tiba muncul percikan-percikan api. Sam mundur menghindari percikan itu lalu dari abu itu muncul seekor burung berwarna merah api keemasaan yang berkilau. Sam takjub melihat pemandangan itu. Itu adalah sosok Phoenix yang begitu cantik dan juga yang pertama kali ia lihat dengan mata kepalanya.

“Lay…” panggil Sam pada burung tersebut.

Burung itu menoleh memandang Sam. Gadis itu merasakan bahwa tatapan tersebut sama dengan milik Lay, tapi burung tersebut bukanlah Lay. Sam hanya bisa tersenyum pahit mengetahui hal tersebut.

Burung tersebut kemudian merentangkan kedua sayapnya dan mengepakkannya lalu terbang meninggalkan Sam. Seluruh tubuh burung itu kemudian diselimuti oleh api dan menghilang begitu saja di udara. Sam memandang semua itu lagi-lagi dengan senyuman pahit. Namun pada akhirnya dia mengikhlaskan itu semua.

“Selamat jalan Lay, semoga kau bisa menemukan kerabatmu dan kau bisa bebas dari para ‘Paladin’.” Ucap Sam.

“Aku takkan melupakanmu.” Imbuhnya.

Dia memetik salah satu bunga dandelion tersebut dan meniupnya ke udara lalu pergi dari tempat itu bersama dengan angin yang berhembus lembut dan sinar matahari yang menyinari tempat itu dengan hangat.

 

 

-END-

 



Yeeaaaaahhhh~~~ fanfic ini special buat Yixing gege alias mas Lay ihiw ihiw :3

Aku ngerubah Lay yang tadinya unicorn jadi phoenix bwahahahaha

Kenapa ga Chanyeol aja? Chanyeol kan yang kekuatannya api? Kok malah Lay? Ya karena ini spesial ultahnya my second bias *uhuk* jadi aku buat Lay yang jadi phoenix wakakakaka. Eh, tapi si phoenix ini juga bisa healing kok. Kan dia healing luka dengan airmatanya.

Dan yang terakhir… HAPPY BIRTHDAY LAY! KEEP HUMBLE, STAY HEALTH, AND BE A GOOD PERSON! I LOVE YOU MY UNICORN~~

8 tanggapan untuk “[Lay Birthday Project] Burning Soul”

  1. KAK NARIN AKU MUDENG! (oke fix yang ini aku gak penting banget) maksudku, setidaknya aku tau mitos phoenix jadi gak bingung-bingung amat kenapa lay bisa ini itu wkwk
    tapi aku gak tau paladin si ._. tapi tapi udah liat balesan komennya kakak ke arra hehe

  2. Keren ka nar ~ ^^ Aku suka Aku suka . . meningatkan ku pada FF buatan ku The Last Leonardian hahaha 😀
    Tapi , ka nar punya khas tersendiri . hhh ngebayangin lay nya ganteng banget pasti :’)

    1. Emm… Paladin itu pemburu Phoenix hehe 😄
      Sebenernya nama suatu prajurit sih tapi aku lupa prajurit apa 😂😂
      Aku cuma pake namanya aja 😁

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s