Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 09]

tfam

 

Ketika sang atlet lari dan drummer sebuah band yang belum debut dipertemukan dengan cara tidak terduga dan masing-masing mulai memiliki rasa. | Waktu boleh saja berlalu, tapi cinta akan tetap tinggal | “Sunbae, gumawo…” | “Aku… aku janji akan lebih mengenalmu.” | “The best love story is when you fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time”― Anonymous

Len K present… Tempus Fugit, Amor Manet

Rate: T, PG-15

Romance, Hurt/Comfort, Supranatural, a bit humor

Chanyeol EXO, Cha Iseul (OC), Minho SHINee, Kai-Sehun-Chen-Lay EXO dan beberapa idol/actor dan OC sebagai support cast

Warning: AU, Semi-canon, OOC (maybe), typo, humor garing, rush

Poster by Aqueera at https://posterdesigner.wordpress.com

A/N                        : Disini Chanyeol dan Iseul beda sekolah. Hope you don’t get confuse.

.

.

Chapter 09

.

 

Salah satu ruang latihan di gedung Maze Entertainment nampak terisi oleh empat pemuda yang tengah asyik memainkan instrumen mereka―seharusnya ada lima pemuda. Masing-masing dari mereka lebih memilih untuk bermain solo sehingga nada-nada yang mereka hasilkan menjadi tidak sinkron dan saling tabrak. Tapi tidak ada yang keberatan dengan itu semua.

Sehun kemudian memangku bass-nya dan berhenti memainkannya. “Rasanya sepi juga tanpa ada Chanyeol…” gumamnya yang lebih ditujukan untuk diri sendiri seraya menerawang.

“Kau benar,” sahut Jongdae. “Aaaahhh! My partner-in-crime! Bogoshipda!” serunya lalu berguling-guling di lantai karpet.

Melihat dua temannya tiba-tiba menjadi melankolis, dua orang lainnya ikut berhenti bermain dan larut dalam obrolan.

“Sudah hampir dua minggu dan Chanyeol belum bangun juga. Padahal masa kritisnya sudah lewat,” celetuk Yixing.

“Aaaahhhh! Dasar berandal satu itu! Akan kuhabisi dia saat sadar nanti! Apa dia kekurangan jam tidur sehingga tidak mau bangun selama ini? Memangnya dia bermimpi indah di sana sampai tidak rela bangun?! Kalau begitu hiduplah di alam mimpi sana, Sialan!” rutuk Jongdae.

Yah, Jongdae hanya tidak tahu kalau Chanyeol tidak―belum―mengalami mimpi indah. Bertemu dengan banyak hantu berbagai wujud yang bisa membuatmu jantungan tidak bisa dikategorikan sebagai mimpi indah, bukan?

“Oy Jongdae, kau ini…” sahut Jongin.

“Apa? Aku kenapa hah?! Aku tidak boleh kesal pada Tiang Listrik itu?” Jongdae makin sewot.

Yixing kelihatan berpikir sejenak lalu berkata, “Tapi Jongdae, menurutku, kalau kau ingin menghabisi Chanyeol bukankah lebih baik kau melakukan itu sekarang? Lebih mudah untuk menghabisi orang yang koma karena tidak akan ada perlawanan. Betul ‘kan?”

“Yixing! Kau jenius! Jenius! Jenius! Aku tidak menyangkanya!” dua jempol Jongdae teracung ditujukan untuk sang pianis.

“Oy! Yixing! Kenapa kau jadi ikut-ikutan ingin menghabisi Chanyeol, hah?!” seru Jongin kesal. Sementara Sehun tertawa-tawa melihat ulah teman-temannya.

“Hei, hei, tenanglah bung! Ini tidak seperti kami benar-benar menginginkan Chanyeol mati. Jika aku benar-benar menginginkan Tiang Listrik itu mati, aku tidak akan menyuruhnya untuk mati atau berkata seperti ini,” kata Jongdae menjelaskan dengan senyum licik yang sudah jadi ciri khasnya.

“Jongdae benar. Bullying is love.” Sehun tergelak. Baru Jongin menyadari jika teman-temannya ini tidak ada satu bijipun yang waras. “Tapi bagaimana kalau kita menjenguk Chanyeol setelah ini? Mumpung jadwal kita tidak begitu padat. Kebetulan kita sudah lama tidak menyambangi Tiang Listrik itu,” lanjut Sehun dengan usulan.

Jongin menjentikkan jarinya. “Maja! Ayo lekas ke sana. Tapi sebelum itu… mampir membeli bingkisan dulu, oke?”

“Heh, Jongin! Kau waras atau tidak? Kenapa membeli bingkisan? Si Tiang Listrik itu tidak bisa makan bingkisan itu. Kalaupun bisa, mungkin bingkisannya sudah kadaluwarsa!” si Jongdae menyahut dengan sewot. Dari cara bicaranya… Jongdae kelihatan ‘tidak mengharapkan’ Chanyeol bangun, eh? Tapi seperti kata Sehun tadi, bullying is love. Mungkin seperti itulah bentuk rasa cinta kasih seorang Jongdae ke Chanyeol.

“Kalau itu aku juga sudah tahu, Bebek!” balas Jongin kesal.

“Lalu buat apa membeli bingkisan?”

“Yah… mungkin Yoora noona yang merawat Chanyeol bisa memakannya. Atau orang tua Chanyeol. Ahh, mereka pasti lelah,” ujar Jongin dengan gaya playboy-nya disertai smirk plus menyisir poninya ke atas.

“Hei! Tidak bisa! Itu tidak bisa dibiarkan terjadi! Kalau kau memberinya pada orang tua Chanyeol tidak masalah. Tapi kau tidak bisa memberikannya pada Yoora noona. Dimana rasa setia kawanmu, bung?!” sahut Sehun cepat.

“Sehun benar! Kau tidak bisa memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan ini untuk mencuri perhatian Yoora noona! Kau sudah lupa ya, kalau kita sudah sepakat untuk tidak menggoda Yoora noona? Amit-amit jika aku nanti punya adik ipar semacam Chanyeol. Punya teman seperti dia saja sudah mengerikan. Hihh!” Jongdae bergidik ngeri.

“Jadi… kita jadi menjenguk Chanyeol atau tidak, teman-teman?” tanya Yixing sebelum debat kusir ini jadi makin panjang.

 


 

 

Tempus Fugit, Amor Manet

Standard disclaimer applied. Storyline © Nuevelahasta

Chapter 9 ― Burning With Longing

 


 

 

Terima kasih pada Yixing yang sudah bertanya tadi sehingga perdebatan tidak berguna dan tidak berisi pun berbobot itu berakhir. Setelah menyelesaikan latihan hari itu, keempat pemuda itu bergegas menjenguk drummer mereka. Tapi sebelumnya mereka mampir untuk membeli bingkisan. Hanya bingkisan standar untuk orang sakit; bingkisan berisi buah-buahan. Hanya saja ukurannya terbilang besar. Dan mahal pastinya.

Sehun yang kalah dalam permainan batu-gunting-kertas dengan amat sangat terpaksa membawa bingkisan itu dan tidak henti-hentinya protes di sepanjang perjalanan menuju kamar Chanyeol. Tapi semuanya mengelak dengan dalih, “Sebagai anggota termuda maka kau harus menurut.” Membuat Sehun tidak berkutik lagi.

“Yo, Chan―ah, annyeonghaseyo…” Jongdae yang berniat berseru keras-keras langsung merubah suaranya menjadi begitu lembut ketika melihat seorang suster berada di dalam kamar Chanyeol. Anak-anak The FOO yang lain ikut memberikan salam dan membungkukkan badan.

Suster itu nampak tersenyum. “Kalian pasti The FOO. Ingin menjenguk Chanyeol?”

“Ah, ya, benar sekali,” jawab Yixing dengan begitu sopan disertai senyum berlesung pipi yang maniiiiiissss sekali. Sungguh berbeda dengan empat temannya yang urakan.

“Kalau begitu silahkan. Kebetulan, aku juga sudah selesai memeriksa keadaan Chanyeol.” Senyum manis dari suster itupun membuat Sehun dan Jongin seketika menjadi manis.

“Bagaimana keadaan Chanyeol sekarang ini?” Sungguh, Yixing merupakan sahabat paling baik di antara yang paling baik. Bahkan dengan godaan suster cantik di depan matanya, ia masih memikirkan keadaan Chanyeol. Berbeda dengan Sehun dan Jongin yang fokusnya teralihkan atau Jongdae yang malah sibuk melihat-lihat banyaknya bingkisan dan hadiah untuk Chanyeol di sana.

“Keadaan Chanyeol stabil. Namun untuk kepastian kapan ia akan bangun, kami masih belum mengetahuinya.”

“Lalu kenapa ada banyak bingkisan dan hadiah di kamar Chanyeol? Semua ini untuk Chanyeol ya?” sambar Jongdae.

“Tentu saja! Yang sakit ‘kan Chanyeol. Lagipula, siapa yang mau memberimu bingkisan heh?” sahut Sehun dengan nyinyirnya.

Jongdae cukup berdecak kesal saja karena suster nampaknya akan segera menjawab.

“Iya, ini semua untuk Chanyeol dari teman-teman sekolah dan para fans. Setiap hari selalu ada yang menitipkan bingkisan untuk Chanyeol. Mereka juga mendoakan Chanyeol agar cepat sadar dan debut. Aku yakin, dengan banyaknya dukungan dan doa untuk Chanyeol, dia akan cepat pulih.”

“Ya, ya, itu benar!” Sehun dan Jongin mengangguk-angguk semangat, Yixing masih tetap stay calm, dan Jongdae masih sibuk melihat-lihat bingkisan yang ada.

“Oh ya, sebelumnya…” jeda yang dibuat oleh suster itu menarik perhatian empat pemuda yang ada di sana―yang satu koma jadi tidak mungkin ‘kan? Keempat pemuda tadi memandangi suster tadi dengan tatapan ‘ada apa?’ “…err, boleh aku… minta tanda tangan kalian?” suster itu kemudian menyodorkan sebuah buku tipis yang lumayan lebar plus spidol hitam.

Sehun dengan semangat berapi-api menyambar buku dan spidol itu. “Tentu saja! Siapa namamu, Noona?” tanya Sehun dengan senyum yang dimanis-maniskan.

“Kim Mirae.”

Segera setelah Sehun selesai, Jongin merebut buku itu. Mereka berdua antusias sekali terhadap suster cantik itu, eh? Setelahnya baru Jongdae dan yang terakhir tentu saja Yixing.

“Maaf karena belum mendapatkan tanda tangan Chanyeol. Tapi aku bisa meniru tanda tangannya. Apa Noona mau?” Jongin menawarkan diri. Berharap agar jawaban yang ia dapat adalah ‘iya’. Tapi sayang sekali…

Suster itu justru tertawa. “Terima kasih. Tapi aku akan minta tanda tangan Chanyeol lain kali saja. Saat fanmeet pertama kalian, mungkin?”

“Ya! Datanglah! Saat itu aku pasti tidak akan melupakan Noona. Noona suster yang telah merawat sahabat kami, tidak akan aku lupakan!” Sehun menyambar dengan antusias sambil mengepalkan tangannya.

Suster itu kembali tertawa. “Kalau begitu, aku undur diri dahulu. Jangan terlalu berisik ya? Karena itu bisa mengganggu pasien lainnya.” Pesan si suster sebelum menghilang di balik pintu.

“SIAP!” Jongin dan Sehun sudah dalam posisi siap dan hormat. Dasar Duo Playboy

Sementara Sehun dan Jongin masih larut dalam euforia mereka mengenai suster tadi serta berniat akan lebih sering menjenguk Chanyeol agar bisa menemui suster Mirae, Yixing sebagai sahabat baik yang menjenguk tanpa motif terselubung mengambil tempat duduk di samping tempat tidur Chanyeol. Walau Yixing sendiri tidak tahu ingin berbuat apa, tapi bukankah itu lebih baik daripada Sehun dan Jongin?

Mendengar teman-temannya makin berisik, Yixing lebih memilih untuk menulikan diri dari sekitar. Sekedar mencari ketenangan yang mustahil ia dapatkan jika bersama teman-temannya. Keributan yang menjengkelkan tapi lebih banyak ia rindukan.

Omo! Ini coklat Hershey!” Sehun yang takjub langsung mengangkat coklat terkenal itu. Ukurannya yang cukup besar membuat Sehun tidak kuat untuk menahan hasratnya untuk tidak membukanya. “Uwaah! Manisnya!” puji Sehun dengan mulut penuh coklat.

“Aku juga mau!” Jongin menimpali.

Dan pada akhirnya, coklat Hershey itu hanya jadi milik Jongin dan Sehun berdua.

Ya! Itu untuk Chanyeol! Bagaimana bisa kalian memakannya?” seru Jongdae.

Sehun dan Jongin menoleh ke sumber suara. “Katakan itu pada dirimu sendiri, Bebek!” seru Jongin kesal.

Eo, lihat siapa yang berbicara. Kau juga makan cake!” timpal Sehun sebagai aliansi dari Jongin. Yang diledek―Jongdae―malah menyengir lebar sambil menjilati sisa-sisa krim cake yang menempel di jari-jarinya.

“Jongdae, aku haus. Ada minuman tidak?” celetuk Yixing.

Jongdae kelihatan mengacak-acak isi salah satu bingkisan. “Ada. Ini.” Tanpa rasa bersalah, Jongdae menyodorkan sebotol minuman yang harusnya untuk Chanyeol pada Yixing.

Fix. Ada satu kesimpulan yang bisa ditarik, yaitu: Tidak ada yang waras di The FOO.

Keempat pemuda itu masih menikmati hasil ‘jarahan’ mereka hingga tidak sadar jika pintu kamar Chanyeol sudah terbuka dan sosok Youngjin masuk ke dalam. Youngjin yang melihat kelakuan anak didiknya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Ya! Ya! Ya! Siapa yang memberi kalian ijin untuk memakan makanan yang harusnya diberikan pada Chanyeol? Kalian tidak takut kuwalat, heh?” baru saja tiba, Youngjin sudah mengomel-omel.

“Nanti kami ganti.” Jawab keempat pemuda itu yang anehnya bisa sama dan bebarengan.

“Che! Aku tidak percaya itu,” sanggah Youngjin.

Hyeong, kau tenang saja. Chanyeol itu teman yang baik. Dia pasti mengerti hal ini.”

“Jongdae benar. Chanyeol tentu tidak akan membiarkan perut-perut karet para sahabatnya ini berdendang dan melar.”

Retweet untuk ucapan Jongdae dan Sehun!” timpal Jongin.

“Lagipula Chanyeol sedang koma. Dia tidak tahu apa yang sedang kami lakukan bahkan bingkisan apa saja yang ada di sini,” kata Yixing dengan pokerface dan nada datar khasnya. Ah, kau hanya belum pernah didatangi Chanyeol dalam bentuk arwah saja, Yixing.

“Yixing benar!” trio Jongin, Sehun, dan Jongdae menyetujui.

Youngjin kembali geleng-geleng kepala. Meski sudah cukup sering melihat kelakuan anak-anak The FOO yang membuatnya berdecak kesal, mendesah pasrah, hingga geleng-geleng kepala, sepertinya Youngjin belum terbiasa.

Dalam hati Youngjin merasa kasihan pada Chanyeol karena mempunyai teman-teman seperti ini. Sebenarnya kalian ini benar-benar teman atau tidak sih? Namun begitu mengingat kelakuan Chanyeol yang tidak jauh beda, Youngjin pasrah sepasrah-pasrahnya.

Keundae… kenapa kau kemari, Hyeong?” Yixing bertanya dengan polos―atau bodohnya?

Kening Youngjin berkedut-kedut. Gelagatnya sudah menunjukkan kalo kadar emosinya meningkat. “Memangnya salah kalau aku menjenguk calon artisku?! Jadi aku tidak boleh perhatian pada calon artisku, begitu?! HAH?!”

Karena tidak mampu menahan emosinya, maka Youngjin ‘meledak’. Anak-anak The FOO kontan menutup telinga mereka. Sekaligus berharap Chanyeol bisa bangun mendengar lengkingan produser mereka.

Terbukti, Jongin melihat Chanyeol intens. “Kukira Chanyeol akan bangun mendengar teriakan Youngjin hyeong…”

YA INMA!” Lagi, Youngjin berteriak lagi.

Sreeekkk! Pintu terbuka―bergeser―perlahan dan menampilkan sesosok perawat yang tengah tersenyum ke arah mereka. Kehadiran perawat itu membuat beku seisi ruangan.

“Maaf, tapi mohon jangan berteriak dan membuat keributan di rumah sakit,” kata perawat itu seraya tersenyum.

Youngjin kikuk dibuatnya. “A-ah, y-ya… maaf, maafkan aku,” ujar Youngjin seraya terus-terusan menundukkan kepala.

Perawat itu kembali tersenyum dan menutup pintu lalu pergi. Dan setelah perawat itu pergi, tawa anak-anak The FOO minus Chanyeol pecah. Youngjin kembali naik pitam mendengar gelak tawa setan dari para setan tersebut.

YA INMA! IPTAMURO!”

Srek! Pintu kembali terbuka dan menampilan perawat tadi. “Tuan, aku harap anda bisa tenang.” Perawat itu kembali berkata sambil tersenyum. Tapi kali ini senyumnya seperti ingin membunuh.

“A-a-ahahahah, ye, ye, arasseoyo. Mianhamnida, mianhamnida.” Lagi, Youngjin harus meminta maaf dengan kikuk. Dan dia harus melapangkan dadanya kala tawa setan dari anak-anak The FOO kembali pecah.

 

***

 

Dengan sisa-sisa peluh yang membasahi tubuhnya―akibat latihan rutin di sekolah, Minho turun dari taksi dan berjalan memasuki rumah sakit tempat Iseul dirawat. Tidak ada buah tangan yang dibawa Minho. Baginya, untuk sekarang ini doalah yang terpenting. Justru, di tangan kanan Minho terdapat blazer sekolah yang sengaja ia lepas karena gerah. Sedangkan tangan kirinya memegangi selempang tasnya.

Minho juga tidak perlu lagi menuju ke meja resepsionis untuk bertanya nomor kamar Iseul. Itu adalah hal yang otomatis akan diingatnya. Karena ini menyangkut Iseul dan karena ia sudah sering berkunjung. Bahkan beberapa dokter dan perawat sudah hafal dirinya.

Setiap kali Minho datang, pasti ada orang rumah sakit yang menyapanya dengan ramah. Dan bagi kaum hawa, mayoritas akan mendadak ceria bila menyapa Minho. Mayoritas kaum hawa yang bekerja di rumah sakit juga sudah sepakat memberi predikat ‘Pria Idaman’ pada sosok Minho.

Ayolah, itu tidak berlebihan. Wajah tampa, tubuh tinggi-tegap, punya segudang prestasi―atlet internasional. Siapa yang tidak tergoda? Ditambah frekuensi Minho menjenguk Iseul yang bisa dikatakan banyak dan sering. Kriteria ‘romantis’pun tersemat di diri Minho. Ada banyak perawat atau dokter muda perempuan yang iri pada sosok Iseul. Hingga berharap agar mereka bertukar tempat dengan Iseul. Tapi sudah jelas itu mustahil.

“Kenapa kau disini?” tanya Minho pada sosok pemuda yang mengenakan seragam yang sama dengannya dan duduk di kursi di depan kamar Iseul.

Pemuda itu mendongak, mendapati wajah familiar si penyapa. “Menemani Eunji. Kau sendiri… menjenguknya lagi?” balas Seungho.

Minho tertawa. “Menurutmu apa lagi yang akan kulakukan?” Setelah berkata seperti itu Minho mengisi tempat kosong di samping Seungho.

“Tidak masuk ke dalam?”

Nampak Minho menghela nafas dan menyandarkan kepalanya ke tembok di belakangnya. “Tidak. Nanti saja. Masih ada Eunji di dalam ‘kan?”

“M-hm.”

“Nah, aku tidak mau mengganggu waktu mereka berdua. Selain itu, aku juga ingin istirahat sebentar. Sehabis latihan aku langsung kemari.”

“Pengertian sekali kau, memberi waktu pada dua gadis itu untuk bersama,” ejek Seungho.

Minho terkekeh. “Karena wanita itu ingin dimengerti, Bung.”

Seungho tergelak. “Ya ampun, lihat gaya bicaramu. Benar-benar ya?”

Mwo? Kau sendiri, lihat kelakuanmu.”

“Kelakuanku? Apa ada yang salah dengan kelakuanku, hah?”

Minho menegakkan kepalanya dan menoleh pada Seungho. “Kau. Ya, kau itu. Diam-diam kau juga mengerti wanita, bodoh.”

Seungho memasang tampang bodoh karena tidak paham.

“Tsk! Kau tidak mengerti, eo?” decak Minho dan Seungho masih memasang tampang bodoh yang sama. Akhirnya Minho melanjutkan, “kenapa kau harus ikut Eunji kemari, menjenguk Iseul heh? Kau sendiri tidak terlalu dekat dengan Iseul bukan?”

Yak! Tepat sasaran! Kini Seungho mulai salah tingkah!

“A-aku hanya mengantar dan menemani Eunji saja kok! Y-y-ya, memang aku tidak terlalu dekat dengan Iseul. Tapi aku ‘kan hanya menemani Eunji. Apa salah? Wae? Bureopda? Tenang saja, Bung… aku tidak menyukai Iseul seperti kau menyukainya!” tantang Seungho.

Tawa kecil keluar dari bibir Minho. “Kenapa harus mengantar dan menemani Eunji? Bukankah selama ini Eunji terbiasa menjenguk Iseul seorang diri?”

“Y-y-yaaa… y-yaa… i-itu…―”

Tawa yang keluar dari bibir Minho perlahan mengeras. “―Eo! Aku paham, paham betul kalau kau tidak menyukai Iseul seperti aku menyukainya. Dan aku tidak cemburu. Karena apa? Karena aku tahu, gadis yang kau suka itu Eunji ‘kan?” Minho tersenyum licik.

Mw-mworago?! Ya! Pelankan suaramu itu, Sialan!” Seungho memukul Minho yang belum berhenti tertawa.

Omo… kenapa kau takut ketahuan? Bukankah justru bagus kalau ketahuan? Semuanya akan jadi jelas, Bodoh!”

“Tutup mulutmu, Choi Minho! Kau tidak tahu apa-apa!” Seungho melesakkan dirinya di kursi dengan kesal.

“Ya, kau benar. Aku mungkin―atau memang―tidak tahu apa-apa soal kau dan Eunji. Tapi itu hanya saran dariku. Kalau kau benar-benar menyukainya, nyatakan perasaanmu. Karena kesempatan semacam itu mungkin tidak akan datang dua kali. Katakan, sebelum semuanya terlambat atau kau akan menyesal…”

Seungho nampak memikirkan ucapan Minho. Matanya terpejam dan dagunya ia topang menggunakan tangan kanannya. “Eo, kau memang benar. Tapi―”

“Kau takut ya?” potong Minho disertai senyuman jahil.

Sontak, mata Seungho terbuka dan ia memukul Minho sekali lagi. “Bukan itu, Bodoh! Berhentilah bersikap sok tahu seperti itu. Dasar menyebalkan!”

“Hahahaha. Lalu kenapa?”

Sejenak, Seungho terdiam, terpekur.

“Karena… aku rasa terlalu cepat untuk itu.”

“Terlalu cepat?”

“Iya! Terlalu cepat! Bagiku, kedekatanku dan Eunji yang begini ini rasanya baru sebentar. Akan aneh jadinya kalau tiba-tiba aku menyatakan perasaanku padanya. Ditambah, Eunji itu orangnya kurang peka! Dia… dia tidak peka akan perasaanku! Bagaimana bisa aku menyatakan perasaanku kalau begitu?”

“Eunji yang kurang peka atau sinyal-sinyal cinta yang kau kirim kurang kuat, eh?”

“Aish! Dasar keparat satu ini!”

“Hahahaha. Hei, Bung… menyatakan perasaan itu tidak perlu menunggu ia peka atau tidak. Masalah ditolak atau diterima itu urusan nanti. Kau sendiri sih, terlalu berharap untuk diterima dan takut ditolak. Kalau begini terus kapan ada kemajuan?”

“Hei, Choi Minho, boleh kusobek mulutmu itu hah?” balas Seungho sengau.

Minho tergelak. Rasanya menyenangkan sekali menggoda Seungho seperti ini.

“Tapi aku akan tetap pada pendirianku,” kata Seungho, “biarkan semuanya seperti ini dulu. Berjalan apa adanya. Nanti jika waktunya kurasa sudah tepat, aku akan menyatakan perasaanku. Persetan dengan hasilnya. Mungkin Eunji akan menertawaiku dan mengataiku tidak waras. Haaaahhh, kenapa pula gadis yang kusuka harus dia, ya Tuhan?”

“Oh! Minho sunbae!” Eunji yang muncul tiba-tiba membuat jantung kedua pemuda yang ada di sana hampir lepas dari rongganya.

Apa Eunji mendengarkan pembicaraan kami sedari tadi?! Keringat dinginpun mulai menampakkan diri pada Seungho.

“O-oh, annyeong Eunji,” balas Minho kikuk. Seungho mulai menyikut-nyikut Minho dan memberinya tatapan ‘tanyakan-apa-dia-mendengar-pembicaraan-kita’.

Sunbae mau menjenguk Iseul?” tanya Eunji.

“A-ah iya. Tentu saja, tentu. Apa lagi memangnya?”

“Lalu kenapa tidak masuk saja?”

“A-ah, aku hanya ingin… memberi kau waktu berdua dengan Iseul. Pasti ada banyak yang ingin kau ceritakan pada Iseul. Aku tidak ingin mengganggumu.”

Joah! Sunbae pengertian sekali! Tidak heran Iseul begitu menyukai Sunbae!”

Ucapan Iseul hanya dibalas senyum tipis oleh Minho. Apalah arti saling menyukai jika tidak bisa bersama? “Ah ya, Iseul. Apa kau… mendengar percakapanku dengan Seungho dari tadi?”

“Percakapan? Tidak…”

Jinjjayo?”

Eo.”

Geotjimal aniya?”

Eo. Memangnya kenapa? Apa yang kalian bicarakan?”

Minho tertawa hambar. “Hahahaha. Tidak, tidak. Bukan apa-apa. Hanya… obrolan di antara pria. Yaaahhh, kau tahu sendirilah. Semacam… girl’s talk-nya laki-laki? Ya, semacam itu!”

Eunji mengangguk-angguk paham. “Eish, dasar laki-laki. Ah ya, kalau begitu aku pamit dulu, Minho sunbae. Seungho sunbae, kajja!”

Mendengar ajakan dari Eunji, Seungho segera berdiri dari duduknya. “Nah, sekarang nikmati waktumu berdua dengan Iseul. Aku pergi dulu.” Seungho berlalu setelah menepuk pelan pundak teman satu angkatannya itu.

Minho hanya balas tersenyum. Ia tidak langsung masuk. Interaksi antara Seungho dan Eunji masih menarik perhatiannya.

“Kita akan langsung pulang?” tanya Eunji.

“Tidak. Kau pulang saja, aku mau mampir ke toko buku sebentar,” jawab Seungho dengan (sok) cuek.

“Kebetulan! Aku ikut!”

Ya, kenapa kau mengikutiku?”

“Apa? Tidak boleh? Kebetulan aku ingin membeli buku. Lagipula apa aku tidak boleh balas mengikuti Sunbae yang juga sudah mengikutiku kemari?”

Sahutan dari Eunji membuat Seungho salah tingkah. “Heish! Siapa juga yang mengikutimu? Dasar hobae kurang ajar. Kalau tidak tahu lebih baik diam saja!” dan Eunji tertawa melihat Seungho yang salah tingkah.

Di tempatnya, Minho juga tertawa. Kapan kau akan jujur tentang perasaanmu padanya, Seungho?

 

 

Minho memasuki kamar Iseul. Tidak banyak yang berubah dari kamar itu. Iseul masih terbaring di ranjangnya dengan mata terpejam. Kecuali bunga tulip Yarrow yang dibawa Minho saat kunjungannya minggu lalu mulai terlihat agak layu. Akan kubawakan yang baru besok, pikir Minho.

Minho lalu menarik sebuah kursi mendekat ke samping ranjang Iseul dan mendudukinya. Tangan Minho secara otomatis menggenggam tangan Iseul yang tidak terpasang infus. Air mukanya berubah menjadi sendu. Dibawanya tangan rapuh itu mendekat dan ia usap lalu cium.

“Hei, ini aku. Aku datang lagi, untukmu…” ujar Minho lirih. “Kapan kau akan bangun? Apa masih lama?” tanya Minho. Tapi tentu saja, tidak ada jawaban dari Iseul.

Minho menggenggam tangan Iseul. “Kabar mengenai dirimu tidak bisa disembunyikan lagi. Ada banyak cerita simpang-siur mengenai keadaanmu. Tapi aku lega… karena aku sudah mengetahui yang sebenarnya.

“Harusnya kau bangun. Mengatakan pada mereka semua bahwa kau baik-baik saja, tidak perlu khawatir padaku, hal-hal semacam itu. Sisi egoismu yang seperti itu. Karena aku lama-lama kesal, kau tahu? Ada banyak orang yang bertanya padaku tentang keadaanmu dan aku hanya bisa tersenyum pahit. Itu menyebalkan.

“…dan… Iseul… aku… sudah berhasil mengalahkan rekor waktumu di latihan rutin. Apa kau tidak ingin mengalahkan rekor baruku itu?” wajah Minho mulai kelihatan cerah, “aku tidak sabar melihatmu tersenyum penuh kemenangan sambil berteriak ‘berhasil!’ padaku. Oh ya, lalu apa kau kenal teman satu angkatanmu…”

Dan sore itu Minho bercerita banyak hal pada Iseul seperti yang biasa ia lakukan.

 

***

 

“Anak Muda, apa Iseul ada disini?” sesosok arwah kakek-kakek menepuk pundak Chanyeol yang berdiri di depan sebuah bangunan kosong.

Omona!” Chanyeol terperanjat kaget melihat sosok tua di hadapannya karena asyik melamun. Dan juga karena ia belum begitu terbiasa dengan kemunculan para arwah yang tiba-tiba, atau dengan wujud mengerikan. “A-ah, iya. Dia ada di dalam.” Chanyeol menunjuk ke dalam.

Kakek-kakek itu tersenyum. “Terima kasih.”

“Bukan masalah, Kek.”

Kalau dihitung-hitung sudah setengah bulan Chanyeol berada dalam wujud arwahnya. Tapi dia masih belum terbiasa dengan lingkungan barunya. Bahkan masih suka kaget jika menemui arwah lain―atau ketakutan. Hal ini tentu saja jadi olok-olok Iseul.

Jadi karena tidak ingin diejek terus-menerus Chanyeol berusaha memberanikan diri. Tidak mudah memang. Maka dari itu Chanyeol mengikuti Iseul terus. Karena di luar dugaan Chanyeol, Iseul cukup populer di dunia lain ini. Tidak sedikit arwah-arwah yang datang pada Iseul hanya untuk bercerita atau meminta bantuan.

“Hei, kau mau masuk tidak?” Iseul, datang dengan tiba-tiba dan mengagetkan Chanyeol.

“Haish! Tidak bisakah kau muncul dengan cara yang lebih normal?” gerutu Chanyeol sambil memegangi dadanya. Padahal tidak ada yang bisa ia rasakan disana.

“Ini sudah normal, Chanyeol. Kapan ketakutan berlebihanmu itu akan hilang, heh? Dasar lucu,” balas Iseul tidak mau kalah.

“Na-nanti juga akan hilang! Semua itu ‘kan butuh waktu, ada proses. Bahkan bersin yang terjadi tiba-tiba dan cepat saja ada prosesnya!” elak Chanyeol.

“Ya, ya, ya, terserah kau. Mau masuk tidak?”

Chanyeol melihat ke dalam. “Me-memangnya sudah selesai? Kakek-kakek tadi sudah pergi?”

“Sudah. Kau sendiri, kenapa tidak mau masuk sejak awal? Kau takut ya? Hm? Hm?” Iseul menggoda Chanyeol.

“Ti-tidak! Tentu saja tidak. Aku hanya tidak ingin menggangu saja…” suara Chanyeol makin lama makin pelan.

“Oh. Ayo masuk.” Iseul memilih untuk menyerah dan berhenti menggoda Chanyeol.

Chanyeol mengikuti Iseul memasuki bangunan tidak terpakai itu. Semuanya terlihat berantakan dan tidak terawat. Yang Chanyeol tahu, Iseul sering berkunjung kemari dan mendengarkan keluhan arwah-arwah lain. Semacam tempat konseling kalau boleh diandaikan seperti itu.

Chanyeol duduk di sebuah sofa tua yang berseberangan dengan sofa yang diduduki Iseul. Ia sendiri tumben tidak tahu harus berkata apa.

“Hei, Chanyeol…” panggil Iseul.

Mwo?”

“Aku baru percaya kau ini Chanyeol yang muncul di televisi waktu itu tadi. Saat ada arwah perempuan muda yang datang kemari dan histeris melihatmu.”

Chanyeol mendengus sombong. “Ya ampun, kau ini susah sekali percaya padaku. Apa kubilang? Aku ini populer.” Chanyeol lalu tertawa kecil saat mengingat betapa histerisnya perempuan muda tadi saat melihatnya.

“Wajar jika aku tidak percaya padamu. Tampangmu itu tampang kriminal.”

Mw-mworago?! Ya, mworago? Katakan itu sekali lagi!” balas Chanyeol tidak terima. “Bagaimana bisa kau menyebut wajah setampan ini sebagai wajah kriminal? Apa kau sudah buta? Kau kena katarak ya?”

Iseul menjulurkan lidah cuek.

“Tapi… apa kau tahu, Chanyeol?” mimik Iseul yang berubah jadi serius menarik perhatian Chanyeol.

“Tahu apa?”

“Di dunia ini ada dua jenis arwah yang berkeliaran. Pertama, yang seperti kita. Tidak mati tapi arwahnya berkeliaran. Kedua, mereka yang sudah mati tapi masih mempunyai urusan di dunia ini,” jelas Iseul dengan dua jari teracung. “Aku selalu mendengarkan cerita-cerita dari dua jenis arwah itu. Aku berharap dengan begitu setidaknya beban mereka berkurang.”

“Beban?” tanya Chanyeol tidak paham.

“Iya, beban. Bukankah… rasanya tidak menyenangkan, saat kau ada tapi orang-orang menganggapmu tidak ada? Saat kau ada tapi tidak terlihat? Arwah seperti kita ini keberadaannya masih bisa ditolerir, bukan masalah besar. Karena dunia ini masih bagian dari diri kita―diri kita yang sedang koma.

“Tapi bagaimana dengan mereka yang sudah meninggal tapi tidak bisa pergi ke alam lain? Itu menyiksa mereka karena mereka tidak seharusnya berada di dunia ini. Mereka bukan bagian dari dunia ini lagi.”

Chanyeol mengangguk-angguk paham. “Begitu ya…”

“Dan tentu kau masih ingat perempuan muda yang histeris saat melihatmu tadi.”

Chanyeol tersenyum lebar. “Tentu saja! Dia itu ‘kan fans-ku, fans band-ku. Mana mungkin aku lupa? Aigo, bahkan aku dan band-ku pun terkenal sampai ke para arwah. Ahh, kami memang terlalu mempesona.” Kenarsisan Chanyeol kumat.

Iseul mencibir tanpa bersuara. “Perempuan itu sudah mati,” lanjutnya.

“Apa?! Dia sudah mati?!”

Iseul mengangguk. “Iya, sekitar tiga hari yang lalu. Dia bilang sendiri tadi.”

“Lalu kenapa dia tidak ke alam lain? Dia masih ada urusan di dunia ini ya?”

Eo, kau benar. Dan urusannya itu adalah kau!” telunjuk Iseul tepat berada di depan hidung Chanyeol.

“Aku? Aku? Aku?! Kenapa bisa?!” sergah Chanyeol tidak terima.

Iseul menurunkan telunjuknya. “Tentu bisa. Perempuan itu fans The FOO sejak kalian tampil di tempat yang bernama Nowhere. Dia sangat senang saat mengetahui jika kalian akan segera debut. Tapi sayang sebelum melihat kalian debut dia sudah meninggal karena sakit. Dan kenapa dia tidak bisa ke alam lain? Itu karena dia belum melihat kalian debut!”

Chanyeol terperangah tidak percaya. “Ja-jadi katamu… dia akan terus berada di sini sampai aku dan band-ku debut?”

“Ya, begitulah. Selamat ya, kau sudah menyiksa satu arwah.”

YA! Kau pikir aku juga menginginkan keadaan ini? Kami sudah akan debut tapi malah tertunda lagi. Kau pikir aku mau hah?”

Iseul tertawa. “Ya ampun, santai saja Chanyeol. Take it easy. Tegang sekali kau.”

Bibir Chanyeol mengerucut ke depan. “Dasar, kau ini menyebalkan sekali.”

Iseul mengangkat bahu tidak peduli. “Kulihat kau sudah mulai terbiasa dengan lingkungan barumu. Bagaimana kalau kuajari sesuatu?”

Mendengar itu segera Chanyeol mendadak jadi antusias. “Apa? Apa? Kau mau mengajariku apa? Caranya menakut-nakuti orang lain?”

“Bukan. Kau pikir kita berada di ‘Scare School’-nya Casper?” sewot Iseul.

Geureom mwo?”

Iseul tersenyum penuh misteri. “Bermain dengan tubuh manusia!”

“Apa?”

 

― Lanjut? ―

 

Glossary              :

  • Bogoshipda : ingin bertemu
  • Maja : bener banget!
  • Keundae : tapi
  • Ya inma : woy, bocah! (ini kasar, jadi ati-ati ye?)
  • Iptamuro : tutup mulutmu (ini juga kasar)
  • Bureopda : cemburu
  • Mworago : apa katamu?
  • Joah : bagus!
  • Geotjimal aniya : tidak bohong
  • Kajja : ayo (ajakan)
  • Geureom mwo : lalu apa?

 

A/N        :

Yosh, balik lagi bareng Len di fanfiksi satu ini! 😀

Setelah kemarin ketahuan gimana Chanyeol ama Iseul ketemu, di sini justru scene mereka berkurang ya? Malah The FOO dapet jatah banyak banget dan isinya apadah itu XD Ahahaha, itu sengaja. LOL

Di sini Len emang mau nekanin ke sisi The FOO sama temen-temen Iseul. Bisa dibilang nyesuai-in sama judul. Burning with longing. Dimana kerinduan mereka-mereka yang ditinggal koma Iseul sama Chanyeol itu begitu membara. Saking membaranya udah nggak sedih lagi /tengok The FOO/ Dan Minho udah bisa bangkit dengan luka yang masih tertinggal dan memilih bertahan pada perasaannya /tsah!/

Ah ya, semoga humor di bagian The FOO sukses, soalnya pas nulis feel-nya berasa banget. Hohohoho. Terus Len juga jadi demen sama kapel(?) Seungho – Eunji. Jadi deh kepikiran kasih mereka jatah di sela-sela Minho – Iseul yang seupil itu.

Karena di akhir cerita udah ada bocoran, maka udah jelas kalo chapter depan bakal mengulas soal Chanyeol – Iseul. Karena jujur, agak susah juga menjabarkan interaksi mereka berdua ini meski udah ada kerangka cerita yang jadi panduan :3 Soalnya di kerangka itu, chapter 9 harusnya jadi chapter terakhir. Tapi siapa sangka ceritanya jadi melar ampe kayak gini dan harus merombak kerangka lagi? XD But it’s okay, it’s fun though 😉

Oke, kalo gitu giliran kalian meninggalkan jejak. Kritik-saran-tanya apa aja, atau mau komen apa aja boleh deh. Let me know your thought because your review is my drug!

Contact me at : Facebook | Fanfiction.net | My Blog

Baiklah, dengan begini saya, LEN―Yang Tak Bisa Meluluhkan Hatinya, pamit dulu. See ya next chapter! Adios! 😀

29 tanggapan untuk “Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 09]”

  1. Btw, itu yg nabrak 찬열 org’ny tanggung jwb kan? Ga diamuk massa Exo-L tu? Itu plesetan dr author d’foo jd d’foo(ls) kok saya ga kpikiran sblm’ny ya 😅 bs jd nama fanfom bwt pens2ny jg x ya 😂 / ga elit bgt /
    Bullying is love, ngejarah bingkisan pny shbt yg lg comma jg kyny ya 😋 suster cntk mngalihkan dunia duo playboy line ’94! Srgm tu suster ga sekseh ky suster di film2 indo kan?? 😐
    I think, 은지 sempet denger deh boys’ talk td cm ga mo ju2r ke 2 남자 tu, mgkn mo dijailin dulu x tu 승호 yg galak.
    Iih.. pnasaran bgt mo pd mae apan tu para spirit, bukan’ny cpt2 blk ke bdn msng2, malah klayaban aje pd

  2. wuaaaa . Leenn. … akhirnya chapter 9 nya keluar jg..
    udah deh keren pokoknya..
    kagak bisa ngomong gimana gimana lagi..
    Si chanyeol ama iseul mau main ama tubuh manusia?? hayoo mau ngapain.. hehehe
    ngomong apa lagi ya.. pokoknya semangat terus buat len.. aku akan selalu nunggu buat chaptet selanjutnya 🙂
    semangat ya Len 😀

  3. Hai kak len! Iyakan aku manggilnya kak? *berasa muda wkwkwk *digampar
    aku sebenernya udah baca ff kak len tapi cuma di part awal aja, udah jarang baca baca karena tambahan pelajaran mulu maklum kelas akhir masa SMA wekeke lah kok jadi curhat xD
    suka deh kak sama ff kakak meski langsung baca chap 9 dulu wkwk jadi komen ini dulu nggak papa lah ya?
    the foo emang somplak /? kelakuannya nggak nguatin wkwk dan itu kenapa sehun jadi genit genit gitu kak! nggak rela! dan itu Chanyeol sama iseul asik banget ngedate berdua gitu padahal di dunianya orang pada khawatir xD but no problem lah yaa~ kan enak berduaan sama cogan BHAK!
    btw kita sama sama author kak disini cuma aku masih baru hehehe~

    1. Nggak tau juga kamu manggil aku pake kak apa nggak XD Terserah kamu aja deh, sebahagiamu :p
      Hm, nggak apa-apa deh meski kamu bacanya langsung chap 9. Tapi besok-besok sempetin baca dari awal, oke? Jangan terlalu serius belajar XD
      Iya, aku sempet tau namamu kok

  4. UUUUUUUUWWWWWWWWAAAAAAAAAAAAA AKU LAGI UTS JADI GAK PERNAH APDET FF TERBARU JADI JADI AKU TELAT KESEINI GAK PAPA DEH YANG PENTING FF NYA KAN GAK ILANG/PLAK
    LEN SERIUS AKU SUKA BANGET SEMUA BAGIAN DI SINI
    PERSAHABATAN SALING EJEK PUNYA THE FOO SANGAT KUSUKA AAAKKK ITU SEHUN DASAR PLAYBOY MATANYA DIJAGA BANG, INGAT ISTRIMU INI BANG/DOR!
    DAN SEUNGHO EUNJI AAAKKK SEUNGHO MULAI NGAKU NIH YEEE AAAKKK EUNJI PEKA DIKIT KEK XDXD
    ITUUUU CHANYEOOOLLL NARSISNYA AMPE TUMPEH TUMPEH! DASAR ;V YEEEAAAAHHH AKHIRNYA CHAN-SEUL MOMENT SEMAKIN TERKUAKKK YEAH!
    INI KENAPA KEPSLOK SEMUA? *kepslok off
    aku gak ngerti, kenapa aku suka banget pakek kepslok -___-
    btw, perasaanku aja apa chap ini agak pendek ya len? wkwk

    1. gak tau ya len, seakan sudah menjadi kebiasaan/plak!
      nah kan wkwk hmmm sudah kuduga kkkk
      gak papa len, yang penting gak kek drabble itu aja udah cukup haha

  5. Aku rela dirampok Chanyeol Len! Jiwa raga aku rela di rampok sama dia bhakss XD
    Kalo The Foo debut grup lawak, mungkin lebih laris lagi hahaha karna mereka sableng semua 😀
    Semoga The Foo semakin JAYAAAA /prokprokprok👏
    Aahhh aku tunggu lah Len kegesrekan mereka semua xD

    1. -_- Kalo gitu aku rampok hartamu aja ya? XD
      Hahahahaha, ya silahkan ditunggu. Makasih udah setia sama author yang update-nya suka ngaret dan gak tentu ini XD

  6. LEEENNN aku kembali menorehkan ocehan aku di chapter ini HAHA 😀
    YAWLAAA ITU THE FOO NGAPA ANCUR BEGITUUU KELAKUANNYAAA !??
    Segala pake ada ‘perampokan’ segala di rumah sakit hahaha itu makanan buat abang jidat gueee ngapa lu yg pada makan, hah???? Wah belom pernah nelen stik drum nih pada2 hahaha 😀
    Pagi2 baca scene The Foo ngakaaakkk padahal aku lg di bis mau jalan kerja hahahaha untung pake masker kalo gak disangka gila deh gue haha /curhat mba(?)
    Selain debut jadi band, aku saranin The Foo debut sebagai grup lawak kayanya boleh juga HAHAHA pasti menggemparkan dunia persilatan (?)
    Eieieiei Seungho udh mulai beraksi nih?? Tancap gas teross gaspolll bang! XD
    Kalo tampang kriminalnya macam Chanyeol, org mah rela di rampok melulu Len hahaha
    Aku kok liat Minho kayak keiris2 yaaa dia masih setia bgt sama Iseul, tapi aku maunya Iseul sama Chanyeol hikshiks tapi nanti Minho sama siapa?? Sama aku aja gpp deh Len ya ya ya 😀
    Len, mau moment Seungho – Eunji yg banyak dong hehehe kocak dah liat mereka, Seungho mati2an nahan gugup, tp Eunji nya gatau apa2 (?) /tsah! hihihihi^^
    Chanyeol mau diajarin pake tubuh manusia??? Pake tubuh aku aja plis Len pake tubuh akuuuu!! Aku relaaa aku ikhlassss HAHA XD
    Okelah udah mayan kayanya nyampah nya hahaha
    See you next chap Len 🙂

    1. Komenmu bikin ngakak XD
      Yah namanya juga The FOO(LS) XD /gampared/
      Debut jadi pelawak? Terus nanti maen di sekuel film The Raid ya? /heh?/
      Doakan mereka sukses XD
      Rela? Kamu rela dirampok ama Chanyeol? Kamu masokis ya? Wks. Apalagi kalo dirampok hatinya rela banget ye pasti.
      Hei nak, tak selamanya kisah cinta itu indah. Minho kebagian apesnya doang. LOL. Sama kamu? Enakan kamu malangnya minho XD /disetrika/
      Momen Seungho-Eunji aku catet dulu deh :p
      Yakin lu ikhlas?

  7. Oh mereka telah dekat tapi itu sebagai arwah yang harus mencari jati dirinya yang sebenarnya . Makanya mereka harus melihat bagaimana jika mereka tak ada apakah orang yang mereka sayangi bakalan merasa kehilangan. Aku sih berharap mereka tak hanya dekat di dunia arwah tetapi dalam dunia nyata mereka gak bakalan dihapus memori akan satu sama lainnya.
    Next chapternya ya bagaimana ini memainkan tubuh orang lain. Woah ada-ada saja ya idenya iseul.
    Kk benar seungho dan eunji adalah pasangan yang kocak deh nantinya kalau emang mereka bakalan serius .

  8. astahfirullah, di post jam delapan, masih sekolaah hayati. Haha. Len balik dengan cerita seru+ nguquq nyaa. XD . apa cuman aku yang ngerasa chap ini dikit? tapi gapapa, the foo ada scene nya, seungho-eunji ada scene nya, minho-iseul ada scene nya, dan utama. iseul-chanyeol pun ada. walaupun dikit dikit, ya gapap lah.. whahahah.. bagus deh, scene the foo apa banget XD XD bagian ” tidak ada yang waras di the foo” itu puncak ngakak. lay jugaa sama aajaaa.. hahha udh ah sekian. dan terima sehun. dari Rizka-yang suka nangis kejer di tepi rawa rawa /ngikutinLen XD

    1. Emang aku peduli? XD /digiles/
      Iya, sengaja sih. Soalnya kalo aku lanjut ntar jadi panjang banget dan kesannya rush banget.
      Terima Sehun? Ehehe -_-

  9. Jadi makin gk sabar buat baca kelanjutannya. Makin seru nih kak plus kechee…moga” sampe mereka sadar dari koma mereka, mereka ttp kenal. Dn untuk pinjem tubuh org lain. Mereka ngehabisin wwktu barenggggggggggg…jgn updatenya kelamaan keburu greget nunggunya. Keep writing kak

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s