[EXOFFI FREELANCE] Saranghaeyo Chingudeul (Chapter 1)

 

3a2f1450c245d3a71c18f182c26b430b

 

  • Tittle/judul fanfic: SARANGHAEYO CHINGUDEUL
  • Author: karin mikazuki
  • Length: chapter
  • Genre: school life, romance, comedy, (mungkin)
  • Rating: PG-15
  • Main cast & Additional Cast: Sehun as sehun, Luhan as luhan, Nana after school as Kim Min jung, and
  • Author’s note: mianhe kalo gaje ama ganjen…
  • RCL juseyooo

 

EXO.. EXO.. L.O.V.E

YOU’RE MY EXO EXO L.O.V.E

Lagu exo xoxo, menyambutnya sepulang sekolah. Menyetel kipas dan melepas jaket merah yang membuatnya berkeringat. Rambutnya yang dikucir kuda sudah terlepas kendor dari ikatannya. Hari yang melelahkan. Brukk.. badannya dihempaskan ke atas tempat tidur. Melewati satu jam di kampus barunya saja seperti melewati satu hari. Ya.. meskipun itu sekolah elit yang pertama kali ia masuki. Kalian tahu, kenapa hanya satu jam? Saat ia melihat anak lain di kantin, ia melihat anak itu menyuruh anak lain memakan makanan yang dijatuhkan untuk segera dijilat. Dan itu lulus membuat Min Jung segera pulang mencari taksi. Ini sama sekali bukan seperti di Chicago. Menempatkanku di neraka.

Jinjja!! Andai saja mereka tidak pulang. Andai saja appa dan amma tidak pulang, kerjalah sesuka kalian seperti dulu. Mereka malah menyeretku dari Chicago pulang ke Seoul. Jadinya tidak seperti ini. Apa amma tidak pernah sekolah? Meskipun kampusnya besar, tidak seketat kampusku dulu. Di kampus baruku, mereka para mahasiswa boleh membawa make up, alat salon, buat apa mereka sekolah. Menindas anak tidak mampu. Dasar anak payah. Hanya mengandalkan orang tuanya saja. Bisanya Cuma menindas.

Pikirannya kalut. Appa dan amma-nya lah yang memindahkannya ke kampus itu. Mereka menyeretku dan menyuruhku sesuka mereka. Padahal kan mereka sudah bercerai? Kenapa malah sepakat memindahkanku? Aku sudah nyaman di Chicago, kenapa mereka memindahkanku lagi? Merekalah yang dulu memindahkanku ke Chicago. Mereka seperti anak kecil. Tidak pernah memikirkan perasaanku. Mereka sudah berbeda ketika mereka bercerai. Tapi, kesepakatan apa itu? Mereka membuatku ingin mati saja.

Kim Min Jung mendesah kesal. Kenapa aku jadi korban broken home? Dari dulu, mereka tidak pernah memikirkan perasaanku. Tak terasa air matanya sudah menetes perlahan. Dulu di Chicago, ia merasakan kebebasan yang sangat terasa baginya. Berkumpul dengan teman-teman tanpa terganggu latihan casting yang menyebalkan. Tapi, kebebasan itu membuatku bersedih karena aku iri kepada mereka yang mempunyai keluarga utuh serta di dalamnya ada ibu yang selalu menunggu anaknya pulang. Perasaan itulah yang mengganjal hatinya. Min Jung tidak pernah merasakan kasih sayang eommanya dari kecil karena eommanya selalu hanya memikirkan pekerjaan. Alasannya ‘itu semua untuk kebahagiaanmu semata’, itu yang membuatnya bersedih. Kekayaan ini tidak membuatku bahagia eomma.

Ah.. ia mendesah lagi. Untuk apa memikirkan eomma yang tidak tahu diri itu? Toh aku juga punya Min Seok ahjumma yang mengurusiku dan ia tidak  akan membiarkanku meneteskan air mata untuk seorang eomma yang tidak pernah menjemputku saat TK dulu. Tapi, ia selalu membuatku mengingat wajahnya karena ia membuatku marah. Aku marah karena ia memindahkanku seenak jidatnya. Memindahkannya dari kampus elit tapi tak dijamin keketatannya.

Apa eomma masih waras? Dia menilai kampus di seoul lebih bagus ketimbang di Chicago. Huh? Tapi, malah ia yang dulu memindahkanku ke Amerika. Huhh…. Malah kampus di Chicago lebih bagus ketimbang di seoul. Kampus di seoul lebih banyak anak yang menindas, mereka juga mengandalkan orang tuanya yang kaya sebagai alasan.

. Awas saja, jika aku sudah lama dan sering melihatnya menindas takkan kuampuni. Mereka seperti anak kecil saja. Tak peduli laki atau perempuan. Semua yang menindas harus diberantas. Memangnya gelar atlet judo hanya sebagai pajangan saja. Batinnya. Ia agak tertawa kecil. Tiba-tiba…

Werekurekkurek,….

Suara gas di perutnya berbunyi keras. Yang harus ia lakukan  adalah mencari sesuatu agar gas itu tidak berbunyi lagi. Ah sialan. Yang benar saja. Ini waktunya appa dan amma makan. Pasti aku akan ditanya habis-habisan tentang sekolahku tadi. Bisa-bisa aku tidur di sana. Batinnya.

Yah.. ini akan menjadi makan bersama kedua kali dengan appa barunya. Semenjak  Min Jung dikirim ke Amerika, eommanya menikah lagi. Dan, itu juga menambah tingkat ketinggian benci Min Jung. Apalagi saat duduk dengan appa baru itu, rasanya ia masih canggung. Ia tidak pernah makan bersama dengan keluarga. Ia sudah terbiasa makan dengan Ahjumma pemilik rumah makan mie ramen di sebelah rumahnya. Lebih tepatnya dari beberapa blok setelah rumahnya.

Makan malam pertamanya Min Jung juga lulus membuatnya tak nafsu makan. Melihat eomma seperti itu dan appa baru yang sama sekali tidak pernah menyapanya. Min jung menjadi teringat kejadian yang membuatnya amnesia, yaitu saat jatuhnya pesawat saat menuju Amerika. Appa itulah yang menolong Min Jung dan membuat eomma menikahinya, sesaat setelah perceraiannya dengan appa Min Jung. Untung saja, setelah amnesia Min Jung masih bisa mengingat semua kejadian sebelum ia amnesia. Ia teringat akan kebenciannya dengan  eomma yang menelentarkannya, dan Min Seok ahjumma yang merawatnya. Untung saja aku masih mengingatnya, jika tidak aku akan ikut casting yang menyebalkan dan jepretan kamera yang menyilaukan. Apalagi, jika aku tidak mengingat kebencianku terhadapnya, mungkin aku sudah melupakan Min Seok ahjumma. Tapi, untuk saat ini meskipun aku sudah mengingat semuanya, kenapa seperti ada yang terlupa, kenapa seperti ada bagian yang terlupa? Tapi itu apa?

Min Jung berguling. Ia mendesah lagi. Buat apa memikirkan hal itu yang susah sekali jawabannya. Mendingan jawaban ujian saja. Haiissh.. dan sekarang yang MinJung pikirkan adalah cara agar Min Jung tidak makan siang dengan mereka yaitu dengan pergi ke restoran Min Seok ahjumma. Ia segera menyambar jaket tadi dan keluar menuruni tangga.

“Ah~ Min Jung-ah.. mau kemana. Sini makan sebentar dong.” Aku baru saja menuruni anak tangga kesatu. Sudah ditanya dengan pertanyaan yang membuatku ingin muntah. Tapi, Min Jung masih teringat pesan ahjumma agar tidak kasar dengan orang yang sudah melahirkannya. Tapi, aku akan bersyukur sekali jika aku buka dilahirkan dari anak seorang model itu. Min Jung mencoba sopan.

“Ah.. i-ya.. eh tapi..-Min Jung berpikir agar ia tidak terjebak dalam makan siang yang menyebalkan

“Min Jung ada janji sama chingu Min Jung. Em.. jadi kalian boleh makan tanpa Min Jung kok.” Min Jung sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Aishs alasan yang mungkin tidak masuk akal.

Tapi, Soal chingu. Mana mungkin ada chingu, Min Jung saja belum mengenal mereka. Apalagi masuk kelas. Karena tadi Min Jung hanya masuk ke kantor guru saja.

“Satu hari kau di sana sudah mendapat  teman baru?. Amma tidak salah memilihkanmu sekolah.” Amma tersenyum ketika ia menyendokkan sup untuk appa.

“Ah~ geurae.- Min Jung benar-benar ingin muntah- ah.. sebaiknya aku pergi dulu.”

***

“Yeoboseyo Luhan-ssi?” suara di seberang sana mengagetkan Luhan yang sedang tidur. Ah ini kan? Aku seperti mengenal suara ini?

“Yeob—boseyo?” dari jawabannya ia sudah ingin bertanya lagi, siapakah ini?

“Ah—baiklah. Kau masih mengingatku sepertinya. Aku Lee Soo Man.” Kata diseberang sana sambil memainkan alis, pede. Luhan menelan ludah. Apa lagi? Apa aku akan dituntut karena aku out dari EXO?

“a—Ah.. Ahjussi. Ada apa? Tumben?” Luhan menelan ludah lagi. Ada apa gerangan Lee Soo Man meneleponku di saat santai ini. Yang benar saja.

“Akan ada reality show. Hanya 4 episode untukmu saja. Wu Yi fan juga sudah aku hubungi, katanya bisa. Kau juga harus bisa. Jika kau mau, kau harus ke Seoul besok. Untuk menandatangani kontrak. Cokodot!!” tut—tut—tut… telepon dari Lee Soo Man manajer SM TOWN terputus dari sanahnya.

Luhan menelan ludah sekali lagi. Kini ludahnya sudah tidak ada. Serasa kering sekali di tenggorokan. Sialan Lee Soo Man. Dia menyuruhku datang ke seoul seenak jidatnya. Hah~ sabar Luhan. Tapi, kenapa dia menyuruhku ke seoul? Dan, ada kris hyung juga? Tuh kan, pasti akan membahas tentang aku dan kris hyung. Aah.. soo man menyebalkan!! Luhan tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Dan sekarang yang hanya bisa ia lakukan hanya pasrah dan mengurusi segala keperluan untuk datang ke jidat soo man itu.

***

“Haiisshh… lihatlah bajumu itu. Jadi kotor. Sudah kubilang, kau jaga kasir saja Min Jung.” Ahjumma tergopoh-gopoh mendengar suara dari dapurnya. Yang dilihatnya kini Min Jung tersenyum meringis dan segera menyeretnya dari dapur.

“Untuk apa mengotorinya? Ahjumma kan sudah tidak mencuci bajumu lagi. Bisa-bisa nanti aku dimarahi Amma-mu.” Ahjumma menggeleng kepala.

“Ah- ahjumma jangan pura-pura marah begitu. Sebenarnya ahjumma kangen denganku kan? Yakan?? Dan, ahjumma masih bisa kok ke rumahku” agyeo (cute) Min Jung keluar. Ahjumma tersenyum, anak ini.

“Ya sudah. Cepat duduk di kasir sanah.”

Yah.. dialah yang telah mengurusiku, mempertahankanku hidup, menjagaku, melindungiku, hingga aku besar saat ini. Dia yang menghiburku di saat aku menangis menunggu ibuku sendiri. Dan bahkan dia memanglah aku anggap sebagai ibuku sendiri. Dia Min Seok… yang sama sekali bukan seperti ibu kandungku.

***

“Hah… capeknya!!” sehun sambil mengelap keringatnya. Itu battle perform melelahkan. Member exo lainnya juga kelelahan.

“Yap… gamsamhamnida kalian telah bekerja keras. BTS juga terima kasih sudah datang sebagai guest star kami. itu tadi telah menjadi ranking pertama battle perform di music bank ini.” Sang Hyuk, crew bertepuk tangan setelah berseru girang diikuti member lain.

“Ah—karena kalian telah bekerja keras, kami akan mendatangkan hidangan special. Terserah kalian.”

Mereka saling berhadapan, bingung. tapi pandangannya tertuju kepada BTS yang masuk ke stage kembali perform untuk penutup acara.

“Hah—bagaimana kalau mie ramen bulgogi di Min Seok ahjumma.” Chanyeol berseru. Tapi member lain berhadapan lagi. Siapa Min Seok ahjumma? Tapi, mie ramen bulgogi> kedengarannya enak.

“Ah… itu, itu tempat makanku sejak kecil. Sekarang sudah terkenal lho. Terkenal enaknya. Artis-artis juga sudah pada tahu. Ah kalian kudet.” Chanyeol dengan wajah mengejek. Tiba-tiba ada yang melempar kaus kaki ke pundaknya. Sontak saja chanyeol kaget, seperti banci di buka roknya.

“Heh… memangnya kau saja? Aku bahkan jauh lebih tahu dulu dari kau. Cepat sanah pesan, aku tidak ada pulsa nih.” Sehun lah yang melempar kaus kaki itu. Hih.. ilfeel deh Chanyeol. Ye.. katanya tahu lebih dulu dari ku. Tapi malah menyuruhku call delivery? Chanyeol menggerakkan hidungnya. Aishh sehun.

“Haha.. sabar channie.. nanti dia akan kuhajar.” Baekhyun sambil mengepal tangannya. Member lain tertawa terbahak-bahak.

***

“KAI! Hati-hati kai! Wuiihh!! Kai hebat!!” itu suara televise (acara running man special exo) yang Min Jung setel sambil menunggu pelanggan datang. Ah… kenapa acara ini lagi. Apa stasiunnya tidak bosan. Hish.. min jung komat-kamit sendiri seperti membaca mantra. Tangannya bergerak-gerak mengganti chanel dengan remote.

Yang ia temukan acara music bank yang sudah selesai. Ia manyun. Aahh.. kenapa tidak dari tadi nontonnya? Ia hampir saja melempar remote, tapi ia urungkan karena anak karyawan Min Seok datang menghampirinya.

“Kau disuruh ahjumma untuk mengantar ramennya.” Dia Yi Soo. Masih seumuran dengan Min Jung. Dan, baru kenal dengan Min Jung beberapa jam yang lalu.

“Kemana? Asyiikk.. aku jadi nggak bosan.” Min Jung berdiri sambil melompat kegirangan. Yi Soo malah menatapnya datar.

“Tapi, kau harus ganti baju pake seragam ini. ” Brukk… dia melempar seragam ke muka Min Jung dan berlalu pergi.

Min Jung hanya manyun menerima seragam warna hitam dengan celemek coklatnya. Eh, tapi dia lupa menanyakan alamatnya. Ketika Min Jung akan berteriak memanggil nama Yi Soo, dia sudah ada di depannya.

“Ini alamatnya. Gedung SM Town yang terkenal itu, di lantai 9. Pasti sopirnya tahu.” Dia menerangkan alamat kepadaku tapi sopir sudah tahu? Apa cuman buat basa-basi? Pengin jitak deh.

“OOOKEEEE…..” Min Jung menekankan oke-nya. Dia manyun dan berlalu pergi karena ia tidak akan ganti baju di depan Yi Soo. Ah..

Dan beberapa menit kemudian, Min Jung sudah cantik dengan celemek coklatnya. Dan, dengan topi hitam di atasnya. Lalu dihidangkan di piring. Eh, emangnya makanan?

“hiya.. Min Jung-ah kau akan mengantar mie ramen-nya kan? Ini, kau kasih kepada orang yang pesan Mie ramen tanpa bulgogi.” Ahjumma sambil menaruh ramen di tangan Min Jung.

“Hah? Tanpa bulgogi? Apa itu enak? Aneh…” Min Jung melotot. Hah? Masa iya makan mie ramennya ahjumma tanpa bulgogi? Yang jadi enak kan bulgoginya.

“Bulgoginya ahjumma ganti. Pake ayam katanya. Ahjumma jadi teringat siapa dulu yang sering membeli ramen tanpa bulgogi. Kau pasti berfikiran, enaknya itu di bulgogi kan? Ahjumma juga masih bingung sama pelanggan satu ini. Ya sudah deh, pergi gih.” Ahjumma tersenyum. Mendorong Min Jung pergi menuju van untuk mengantar pesanan.

***

“Apa kau dapat pekerjaan lagi?” eomma di ambang pintu kamar Luhan. Melihat Luhan yang sedang mempersiapkan baju untuk terbang ke jidat soo man. Ah, ke seoul maksudnya.

“O—Luhan menoleh—mianhae eomma..” Luhan memeluknya.

“Meskipun kau sudah out dari grupmu, kau ini masih sibuk. Apa kau tidak merasa lelah?” eomma menggiring Luhan untuk duduk. Terlihat sunggingan senyum di bibir Luhan

“Mmm… eomma.. ini semua gara-gara eomma..” Luhan pura-pura manyun. Eomma tersentak.

“Kenapa gara-gara eomma?—eomma mendelik—eomma tidak tahu apa-apa kenapa yang salah eomma..” alis eomma terangkat naik.

“Ah.. eomma.. jangan kaget begitu—Luhan tertawa—gara-gara eomma karena melahirkan anak yang sangat tampan ini.” Mereka sama-sama tertawa.

“Oh ya.. eomma. Sebenarnya Luhan setuju dapat pekerjaan ini karena.. Luhan cheongmal, cheongmal, cheongmal bogoshipo—Luhan menghitung tiga kali dengan jarinya—member exo eomma, terutama Sehun.”

“Oh.. Sehun.. yah? Sepertinya eomma kenal.—“

“Dia itu Hyung-ku eomma. Eh.. aku menganggapnya sebagai Hyung-ku. Dan, ada beberapa masalah ketika aku meninggalkan EXO. Dan, entah kenapa aku merasa harus ke Seoul eomma..” Luhan panjang lebar. anak ini pasti jika ada yang berbicara langsung dipotong,kebiasaan buruk.

“Teruslah berbicara. Kau ini.. masih saja. Jika ada orang yang berbicara, tunggu dia selesai. Jika kau selalu begitu, kau tidak pernah mempunyai yeojachingu..” eomma melipat tangan. Luhan hanya senyum saja.

“O- eomma sepertinya aku harus bergegas mengurus paspor dan tiket pesawat..Kalkeyo  eomma..”

***

“Apa kah jauh ahjussi? Aku belum pernah kesana..” Min Jung sedang dalam perjalanan mengantarkan pesanan ramen.

“agak dekat. Haiish.. itu gedung terkenal, yang benar saja kau belum pernah ke sana. Padahal kau anak muda. Yang kulihat, gedung itu selalu dipenuhi anak muda.”

“enn… aku tidak lama ini baru pulang dari Amerika.. hehe.. mian ahjussi..” Min Jung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Oh.. tapi, yang benar saja. Kau kan anaknya model terkenal namanya—”

“Kim Seo Hyun” Min Jung menyebut eommanya dengan wajah ketus. Sebal sekali menyebut namanya. Memang, saat ini karir eommanya sedang melejit setelah pengeluaran single baru miliknya. Dan, karena itu ia diseret kembali ke Korea. Pantas saja semua orang mengetahuinya.

“Oh ya itu, dia kan sering mendatangi gedung itu, ya itu menurutku. Karena semua artis datangnya sering ke situ.”

“Hhah??!!—Min Jung setengah kaget, baru saja ia akan meneruskan kalimatnya sudah ditabrak oleh Jang Ahjussi ini—“nah lihat, kita sudah sampai cepatlah turun dan ambil pesanannya di bagasi.” Suruh ahjussi sambil menghentikan mobil. Min Jung agak ternganga karena dia sebagai K-popers tidak pernah kesini gedung KBS yang terkenal itu, selama dia besar di Korea, ya mentang-mentang dia besar di Amerika sanah.

“Apa kau sekaget itu? Kau belum pernah melihat? Cepatlah turun. Kaa–!!”

“Ah…. Arawsseoo… arrawsseo.” Min Jung mengatupkan bibirnya. Dan menyambar kacamata hias yang selalu ia pakai jika turun dari mobil. Segera ia turun untuk mengambil mie ramen di belakang van. Tapi, ia berteriak.

“Ahjussii.. aku ini perempuan, bagaimana aku mengambilnya turun dari mobil..” Min Jung merengut, masa ahjussi hanya menyupir saja, tidak membantuku. Min Jung menatap Jang Ahjussi yang sedang menghampirinya dengan mulut komat-kamit, menyumpahi ahjussi yang berkepala lima itu.

“Kau ini, aku hanya ditugaskan menyupir saja. Tidak lebih dari itu. Kau malah menyuruhku. Tapi, hanya kau saja yang masuk kesana. Ini tidak berat kok, kau hanya perlu mendorongnya. Ppali kaayeo.” Ahjussi sambil menurunkan satu paket mie ramen bulgogi dan satu buah mie ramen ayam. Ia agak maklum Min Jung menyuruhnya menurunkan ke alat bantu dorong itu.

“Dan, aku akan naik ke sana sendirian? Bagaimana kalau aku salah? Aku akan bertanggung jawab sendiri? Aku ini karyawan baru ahjuss—“ Min Jung memberondong pertanyaan. Tapi, segera ditutup mulut si Min Jung oleh ahjussi. Tampaknya ada beberapa pasang mata yang sedang memperhatikan mereka.

“Kau lakukanlah pekerjaanmu. Aku supir dan kau kurirnya jadi, kita impas. Cepatlah lakukan.” Ahjussi mendorong Min Jung masuk ke gedung. Tapi, Min Jung agak keki sendiri ketika ia membuka pintu dengan dilihat oleh banyak orang berlalu lalang di gedung itu.

Min Jung menuju resepsionist untuk meminta izin terlebih dulu.

“Ah… permisi. Saya mengantar pesanan untuk lantai—Min Jung mengambil kertas yang terselip di sakunya—ah, lantai 9.” Kata Min Jung dengan senyum manisnya. Tak kalah juga senyum manis dari eunnie di resepsionist ini.

“Silahkan.”

***

“Oh—Hyung!!” teriak yang di seberang sana. Ini di telepon, nggak usah teriak. Sehun manyun mendengar suara di seberang. Kenal sekali. Itu suara Luhan. Setelah menarik napas, ia menjawab sapaan Luhan yang terdengar seperti teriakan itu seperti biasa, dingin.

“Ada apa? Bisakah kau bicara biasa saja. Apa kau sedang berbicara dengan orang tuna rungu?” Sehun nyolot. Untung saja dia di toilet, kalau dia sedang bersama para member EXO lain, pasti sekarang sedang dipelototin.

“Hehe… Mian hyung. Aku sangat bersemangat sekali. Besok atau lusa, aku sudah ada di Seoul hyung. Aku—” hampir saja Luhan akan melanjutkan, ia sudah ditabrak oleh Sehun.

“Jika kau bersemangat sekali, kenapa kau malah out dari EXO?”Jawab Sehun dingin sambil mematikan telepon. Sikap dinginnya itu ditunjukan kepada Luhan karena dia out dari EXO, dan ada alasan lain lagi kenapa Sehun sangatlah dingin kepada Luhan. Padahal, para fans mengira mereka couple yang paling mesra di EXO (HunHan).

Saat Sehun berjalan keluar, ada seorang yeoja menghampirinya sambil mendorong barang bawaannya.

“Ah.. mianhae—katanya sambil membungkukkan badan—apa kau tahu, di ruang berapa orang yang memesan ramen?” katanya masih membungkukan badan.

“Ah—tampang so cool—aku tidak tahu, karena aku baru keluar dari toilet.” Kata Sehun sambil berlalu pergi. Sehun hanya melihat pipinya yang putih itu karena tertutup topi. Pipinya yang putih dan tirus, aku seperti pernah melihatnya. Gumamnya.

“Ah, gadis pengantar ramen. Ramennya sudah tiba yah? Hiya, sehun! Bukannya kau yang memesan paling beda dari semua? Kenapa kau malah menyuekinya?” sang hyuk meneriaki Sehun yang sudah berlalu. Sehun berhenti.

“Suruh dia untuk mengantarkannya ke ruangan saja.” Sehun melanjutkan pergi. Handphonenya bergetar. Paha seperti digelitik ratusan serangga. Sms masuk. Dari Luhan.

            Hyung. Aku tahu hyung marah padaku. Tapi, hyung mianhae hyung, mianhae. Aku disuruh datang ke seoul atas tuntutan lee soo man itu. Hyung, aku datang karena aku ingin menemuimu, aku ingin mengajakmu menemukan alamat Kimmi.

Sehun berhenti membaca dan berjalan ketika melihat nama kimmi diketik oleh Luhan. Rasanya sakit, melihatnya. Bukan sakit karena diketik luhan. Tapi, nama kimmi mengingatnya pada masa putih abu-abu yang menyakitkan (author:kalo di Korea mungkin seragam SMA bukan putih abu-abu, lebih bagus malah. Itu cuman perumpamaan aja ya). Gadis itu, telah menyakitinya dan menjadikannya seperti ini. Rasanya sakit.

Tak ada gunanya memikirkan hal yang telah lalu. Sehun beranjak menuju backstage lagi, melihat ramennya sudah sampai apa belum.

Di backstage, Min Jung sedang membagikan ramen kepada member exo. Padahal Min Jung juga exo-l, ia tidak tahu idolanya sudah di depan mata. Tapi, seperti biasa dia akan loading dulu.

“Ah, kau, kau siapa… ah masa bodo, Kukira, ini bulgogi biasa. Tapi rasannya…d-a-e-b-a-k-k..!!” teriak rap mon yang makan juga bulgogi itu, meskipun dia member bts yang pernah training dengan satu tahun makan bulgogi, tapi ia merasa bulgogi itu mantap sekalirasanya.

“Neun Cha Min Jung.” Kata Min Jung sibuk membagikan kepada member lain. Ketika itu, kalung bergambar exo milik Min Jung terlihat oleh Chanyeol yang sedang menjelaskan bahwa ia tidak sia-sia memesannya.

“kau Min Jung, kau exo-l? hiya, kenapa kau tidak histeris melihat kami. kau tidak tahu siapa kami?” kata chanyeol (Biasanya kan, fangirl langsung histeris jika melihat kami, pikir chanyeol). Member lain berpandangan, heran. Dan, si Min Jung malah berdiam diri. Eh, benarkah ini exo? Jika benaar, ini kesempatan. Aku bisa meminta tanda tangan dan foto gratis tiss. Dan, yang mengajak bicara tadi chanyeol oppa????!!!! Min jung masih melamun. Dia tidak mendengar teriakan sang hyuk yang memanggilnya. Dan, segera sang hyuk menyeretnya.

“Hiya.. mwohaneungeoya!??!” Min Jung kaget, karena tiba-tiba ia diseret keluar. Ia belum menyerahkan ramen ayamnya yang satu itu.

“Kau ini, sudah kupanggil dan kuseret masih saja melamun. Cepat antar, mie ramen Sehun ke ruanganku. Dia ingin makan sendirian. Cepat tuang sebelum lembek ya?” sang hyuk mendorong Min Jung ke ruangannya.

Min Jung dengan malu-malu mengantar mie ramen Sehun ke ruangan Sang Hyuk, ia malu jika ia salah ruangan. Dan sampailah ia di depan ruangan Sang Hyuk yang pintunya terdapat tulisan ‘Don’t Enter’.

***

“Sehun-ah, kau tidak makan? Ramennya sudah diantarkan sama gadis tadi. Kusuruh dia menuangkannya segera karena takut lembek.” Sang hyuk seperti akan menerkam sehun. Dibelakang sehun yang membuat jantung sehun berdegup kencang. Kaget. Ingin sekali sehun menjitaknya. Tapi, ia juga lapar, kenapa juga membuang waktu untuk menjitak sang hyuk?

Sehun berjalan menuju ruangan sang hyuk. Ketika membuka pintu didapati ada yeoja dengan rambut panjangnya sedang meminum air putih dan ada semangkuk ramen ayam yang masih mengeluarkan asap.

Min Jung tidak mengetahui jika ada orang masuk. Ia masih melamun ucapan chanyeol tadi, ‘apa kau exo-l? kau tidak tahu kami?’ kata chanyeol masih terngiang di kepalanya. Hingga ia terkaget ketika ada seseorang yang menepuk pundaknya. Dan latahnya keluar.

“Aduh, iya aku memang—Min Jung sambil menoleh dan menatap wajah yang menepuk pundaknya—ah mianhae, aduh handphoneku..” Min Jung sambil beranjak keluar karena masih kaget, ditambah lagi dengan dering handphonenya di saku, menambah kecepatan denyut jantung saja.

“Hiya.. jankanman. Ini topimu..!!” teriak Sehun mengejar yeoja tadi. Tapi, sehun urungkan karena pasti yeoja tadi akan mengingatnya. Saat itu, ia tengah menabrak Sang Hyuk yang sudah di depannya.

“Hei, apa kau menyukainya?—Sang Hyuk nyengir kuda—besok ada acara talkshow membahas tentang pengeluaran album baru exo dengan munculnya Luhan dan Wu Yi Fan.”

“Heh? Apa? Huh?” Sehun masih memandangi punggung yeoja tadi. Sang hyuk tersenyum.

“Heii!! Apa kau mendengarku? Kau menyukai gadis itu kah?”

“Hei, siapa juga yang menyukainya? aku seperti pernah melihat gadis itu? Tapi dimana?

preview next chapter: “Jadi kau benar exo?

“munculnya anak seorang model, turut melejitkan namanya”

“hei namaku… bukan….

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Saranghaeyo Chingudeul (Chapter 1)”

    1. hwee… soalnya dia mikir kalo dia itu lebih muda.. terus di FF ini sehun lah yang selalu jadi kakaknya Luhan.. jadi Luhan manggil dia hyung

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s