[Chapter 1: After a Long Time] Emergency Love

Emergency Love1

Shuu’s present

[Chapter 1: After a Long Time] Emergency Love

Main cast:

Xi Luhan [EXO] | Irene Bae [Red Velvet]

Support cast:

Im Yoona [Girls’ Generation] | Jessica Jung [Girls’ Generation]

Genre:

failed Comedy | Romance | Drama | Family

Rating:

PG-13

Prolog

Desclaimer: Halo! Ini chap 1. Jika komentarnya memuaskan bakal dilanjutin. Terimakasih buat http://www.miracle2cheonsa.wordpress.com yang telah berbagi tutorial covernya sehingga jadi cover seperti di atas hehehe 🙂 Please, DON’T BASH or PLAGIAT. RCL juseyo! Warning! Typo kayaknya ada, tapi di usahain gak ada!

1 detik 2 detik 3 detik…..

“Apa? Xi Luhan!” Irene memekik saat itu juga setelah mendengar nama Xi Luhan. Irene cepat-cepat memutar kepalanya menghadap ke belakang. Benar saja ia mendapati Xi Luhan si cinta pertamanya berdiri tepat dibelakangnya tanpa menunjukan ekspresi apapun.

Tak banyak berubah dari Luhan hanya saja ia bertamabah tinggi dan bertambah dewasa daripada 10 tahun yang lalu. Rahang Irene jatuh saat itu juga setelah melihat Luhan berdiri di belakangnya. Matanya membulat sempurna sambil sesekali berkedip-kedip tanda tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat saat ini.

Sedangkan dokter magang yang lain menatap Irene dan Luhan secara bersamaan. Mengisyaratkan meminta penjelesan tentang hubungan mereka berdua.

“Apa Irene Bae? Tunggu apa lagi? Apa yang salah dengan Dokter Xi?” Kata Doker Jung sang Kepala Ruang UGD.

Irene cepat-cepat membalikan posisi kepalanya melihat ke arah Dokter Jung. “A-ANI.” Jawabnya terbata. Saat ini rasanya tenggorokan Irene sedang kemasukan kue beras.

“Ya sudah. Kalian segera melaksanakan tugas. Dan kau Irene kau harus mendengar penjelasan Xi Luhan dulu.” Kata Dokter Jung sambil berlalu.

“Ne.” Kata Irene lemas . jika ia bisa protes, ia pasti akan protes mengapa Xi Luhan yang harus ditunjuk, bukankah ada 2 dokter namja, dan 1 dokter yeoja lainnya?

___

Xi Luhan dan Irene Bae berjalan berdampingan di koridor rumah sakit. Tidak ada percakapan diantara mereka. Xi Luhan hanya berjalan dan menatap lurus kedepan. Irene masih menenteng sepatunya berjalan di koridor.

Jantung Irene berdegup kencang saat ini. Ia menatap lekat wajah Xi Luhan, baru kali pertama ini Irene Bae berada sedekat ini dengan Xi Luhan.

Tetapi ada yang berbeda dari Xi Luhan setelah 10 tahun berlalu. Apakah ini perasaannya saja ataukah memang benar? Xi Luhan dulu adalah orang yang ceria, tetapi saat melihatnya saat ini Irene merasa sangat hampa. Ahh… Irene tahu seseorang dapat berubah setelah waktu berlalu kan? Lagipula Irene juga baru pertama kali ini berjalan sedekat ini dengannya.

Luhan yang menyadari diperhatikan menatap Irene. Irene gugup langsung mengalihkan pandangannya kepada arloji yang ia kenakan. Ia berpura-pura melihat jam. Jika ia dapat berterimakasih dengan ilmuwan siapapun yang telah menciptakan arloji ia pasti akan melakukannya sekarang juga. Menurutnya jam adalah benda penutup rasa canggung setelah handphone.

“Kau Irene Bae? Kita berlima akan memegang ruang UGD pada hari pertama dan pada sisa hari berikutnya Kau dan Lay akan ditugaskan di lab pengembangan obat baru.” Kata Luhan.

“Ne. Arachi.” Jawab Irene.

“Apa ada pertanyaan lain?” tanya Luhan.

“Uhmmm… apa kau tak ingat aku? Kau Xi Luhan dari Seoul Junior High School kan?” kata Irene memberanikan diri. Ia menunjuk dirinya sendiri.

“Iya. Aku mengingatmu.” Jawab Luhan.

“Jadi kau mengingatku?” tanya Irene penuh harap.

“Ye. Kau yeoja yang dulu menjadi topik hangat saat gagal lompat jauh dan akhirnya jatuh tersungkur di tanah.” Kata Luhan datar, seperti tidak ada kesan apapun.

Irene hanya bisa mengumpat dalam hati. Dan meringis menahan malu. Seharusnya kesan yang lebih indah seperti kebanyakan drama-drama yang ada di tv. Ya dulu memang ia sangat payah soal urusan mata pelajaran olahraga.

“Ada yang ditanyakan lagi?” tanya Luhan yang saat ini memandang Irene yang ada di sebelahya.

“Uhmm… apa kau punya sandal karet seperti yang kau pakai itu? kakiku terluka memakai ini.” Kata Irene sambil mengacungkan hig heels-nya.

Luhan menaikkan sebelah alisnya sebelum menjawab. “Ada. Tetapi jika kau tidak keberatan, karena ukurannya jauh lebih besar dari kakimu. Kau bisa meminjam Park Uisa, dia mungkin mempunyai satu lagi.” Kata Luhan.

“Uhmm… kalau begitu sebaiknya aku meminjam darinya saja.” Kata Irene sambil menggaruk tengkuknya .

“Kau harus berganti baju, karena 15 menit lagi jam oprasional rumah sakit buka.” Kata Luhan sambil memndang arloji yang melekat manis di pergeangan tangannya.

“Ne.”

Luhan menghentika langkahnya di ujung koridor. “Di belakang punggungmu, itu ruang ganti. Kau bisa berganti baju disana.” Kata Luhan bersiap berbalik.

“Uhmm…baiklah. Kamsahamnida, su-sunbae?” kata Irene terlihat ragu saat mengucapkan kata terakhir.

Luhan lalu mengangguk dan berbalik. “Dasar ceroboh.” Gumamnya.

“Ne. Ada apa? Ada yang kau bicarakan?” tanya Irene.

“A-ani.” Jawab Luhan canggung.

Bukankah bertemu seperti ini adalah pertemuan yang tak disengaja. Ataukah ini permainan takdir untuk mempertemukan mereka berdua kembali. Apakah cinta Irene akan terbalas? Ataukah tetap seperti dulu yang hanya menyia-nyiakan waktu untuk memandangi Luhan saja? Apakah suatu hari Luhan akan memberikan perhatian lebih, seperti yang di harapkan Irene sepuluh tahun yang lalu? Apakah pandangan Irene tentang cinta yang dianggapnya menyebalkan bisa berubah setelah pertemuan ini? Masih banyak ‘apakah’ yang akan kita ungkap setelah ini.

___

Irene duduk memandang keluar jendela sambil sebelah tangannya enggenggam segelas kopi. Dia terlihat memijat kepalanya karena merasa sedikit pusing dengan keadan ruang UGD yang semrawut. Dia hanya tidak biasa melihat banyak orang yang berlarian kesana-kemari. Kecuali di taman bermain, karena yang dipikirannya hanya roller coaster atau semacamnya yang menyenangkan. Tetapi saat di ruang UGD suasananya panik.

“Ini…,” kata suara pria yang mendekat di sampingnya. Irene terperenjat kaget melihat Luhan yang sudah berdiri di sampingnya dengan menyodorkan sebuah benda persegi panjang pipih nan kecil itu.

“Aahhh… gomawoyo sunbae.” Kata Irene menerima benda yang tak lain adalah plester bergeambar binatang. Terlihat pipi Irene memerah, tapi segera ia menunduk dan membiarkan surai hitamnya menutupi sebagian wajahnya.
“Tidak berkumpul dengan yang lain?” tanya Luhan sambil menyesap kopinya.

“Kau sendiri? Tidak ada alasan menanyaiku, sedangkan kau sendiri melakukannya bukan?” tanya Irene dengan wajah polosnya. “Ummm… maaf jika membuatmu sedikit kesal. Hanya saja itu terlontar begitu saja.” Kata Irene lalu meringis. Itu memang sikap Irene kepada siapapun.

Luhan terkekeh sebelum menjawab, “Tadinya aku ingin bergabung. Tapi melihatmu jadi aku menghampirimu saja.” Kata Luhan sambil mengendikkan bahunya pelan.

Mereka hening beberapa waktu. Dan kembali kepada pikiran mereka masing-masing. Irene masih terheran-heran dengan pertemuannya dengan Xi Luhan setelah satu dekade telah berlalu begitu saja tanpa ada kabar apapun.

“Bagaimana dengan pasienmu sunbae?” tanya Irene memecahkan kecanggungan diantara mereka.

“Ya begitulah. Ada seorang nenek yang merayuku untuk menikah dengan cucunya. Menurutku itu sangat lucu.” Kata Luhan terkikik.

Irene mengulum senyumnya. Entah mengapa ia menjadi pendiam saat berada di dekat orang yang dia suka. Apakah ini yang dirasakan semua orang? Siapa saja tolong katakan padanya bahwa dia sangat bodoh dalam urusan cinta. Siaa saja tolong katakan padanya apa ia boleh masih terus berharap kepada Luhan?

“Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi setelah waktu berlalu sangat lama.” Kata Luhan memandang Irene sekilas lalu menatap menerawang kedepan.

“Aku juga seperti itu. aku merasa penasaran kepada takdir yang mempertemukan kita. Apakah kita akan menjadi teman, ataukah membutuhkan satu sama lain dalam hal pekerjaan.” Sebenarnya Irene berharap lebih dari itu. Jika saja Luhan dapat membaca pikirannya atau semacamnya.

“Memang kita tidak akan tahu apa yang terjadi di masa yang akan datang. Tapi aku dengan senang hati jika kita menjadi teman dan mengenang masa-masa sekolah menengah pertama walaupun kita tak dekat.” Kata Luhan memandang Irene lekat. Irene memandang manik coklat gelap itu penuh harap.

Jika ia boleh bertanya saat ini juga. Apakah ia masih boleh berharap? Kalau tidak boleh, izinkan dia berharap satu kali ini. Kali ini saja. Jika ia boleh berharap, apakah ia tidak akan jatuh terluka lagi seperti dulu? Jika akan jatuh seperti dulu lebih baik ia akan mundur dan menjauh. Memulai kehidupan yang baru bersama orang yang baru. Bagaimanapun juga ia hanyalah seorang gadis yang payah dengan urusan seperti itu.

Seseorang memarkirkan mobil sedan hitamnya di sebuah garasi rumah. Tak boleh dibilang sederhana maupun mewah, tak boleh dibilang besar maupun kecil juga. Dari mobil sedan tersebut keluarlah seorang yeoja yang tak lain tak bukan adalah Irene sambil menenteng tas tangannya. Ia terlihat memasuki rumahnya dengan langkah mengayun santai.

“Aku pulang!!!” kata Irene di ambang pintu. Ia mengganti sepatunya dengan sandal rumahan dan memasuki rumah.

“Bagaimana dengan harimu?” tanya ibunya yang sedang menonton tv.

“Tidak ada yang spesial. Seperti hari yang sebelumnya. Tapi aku memulainya dengan keterlambatan.”

“Kalau begitu, kapan kau berkencan dengan seseorang.” Eomma irene selalu pintar membelokkan pembicaraan, ke hal yang sensitif seperti itu.

“Kenapa eomma membelokkan pembicaraan ke hal seperi itu?” tanya Irene lalu menghampiri eommanya.
Eomma Irene lalu mematikan televisi yang ia tonton sedari tadi. “Bagaimanapun kau harus menikah.”
Irene lalu mendaratkan pantatnya dengan mulus di sofa . tepatnya di sebelah ibunya. “Hidup tak perlu romantis, bu. Yang dibutuhkan adalah realistis. Hidup bukanlah membutuhkan cinta melainkan membutuhkan uang. Jika aku menikah, dan suamiku tak menghasilkan apa-apa aku harus makan apa, eoh? Cinta? Eomma saja yang makan cinta. Aku masih memilih makan nasi.”

Plakkk…

“Awwww…” eomma Irene memukul kepala Irene kerena geram dengan sikap anaknya yang belum berubah.
“Kau bisa berbicara seperti itu karena kau belum merasakan cinta itu sesungguhnya.” Kata Eomma Irene.
“Sebaiknya eomma berhenti untuk menonton drama-drama di televisi yang memuakkan itu. lelaki sempurna itu hanya ada di buku dan drama-drama yang eomma tonton saja. Di dunia nyata tidak ada yang seperti itu.” kata Irene sambil menyenderkan punggungnya ke sofa.

“Pusing kepalaku mendengar celotehanmu. Yeobo, suamiku lihatlah anakmu ini. Sangat-sangat menyebalkan. Aku tak tanggung jika dia akan menjadi perawan tua.” Katanya sambil memandangi foto appa Irene di meja samping sofa.
“Apa-apaan eomma, eoh? Biarlah appa beristirahat tenang disana.” Kata Irene sambil memejamkan mata. Ia terllau lelah dengan pekerjaannya di rumah sakit.

“Kau mau menjadi perawan tua kalau tidak segera menikah, eoh? Nanti kalau kau mati siapa yang menguburkan? Mati membusuk di rumah sendirian baru tahu rasa kau!” eomma Irene yang sudah naik pitam mengucapkan sumpah serapahnya.

“Ya! Ya! Ya! Ya tidak begitu juga. Ya aku pasti menikah. Tapi aku tidak membutuhkan cintanya, toh jika aku hidup tanpa cinta aku juga masih bertahan hidup. Yang aku butuhkan adalah materinya. Tak perlu tampan, cukup kaya. Jika tampan dan kaya berarti tampannya adalah bonus.” Kata Irene sambil nyengir kuda kepada eommanya.
“Dasar gila!” umpat eomma Irene lalu beranjak dari duduknya menuju dapur.

Irene tidak mengindahkan kata-kata eomma. Dia masih mempertahankan posisi awalnya yaitu duduk di sofa ruang tv dengan mata terpejam. Sedangkan dengan indranya, Irene mendengar langkah eommanya yang menjauh dan terdengar bunyi sesuatu di dapur. Pasti eommanya sedang mengambil minuman.

“Ada apa ribut-ribut?” terdengar suara dari tangga, tak lama kemudian munculah seorang gadis dengan menggunakan masker wajah dan handuk yang dibebat di kepalanya. Ia memakai celana biru bergaris dan kaos oblong berwarna putih.

“Yoona-ya, lihatlah adik sepupumu itu. masih saja tak mau mencari kekasih.” Teriak eomma dari arah dapur kepada seorang gadis yang menuruni tangga berjalan menuju ruang tv.

“Apakah Ahjumma tidak tahu? Dia tidak mempunyai kekasih sampai sekarang karena dia belum bisa melupakah cinta pertamanya. Si Cinta pertama yang tak seharusnya diharapkan, membuatnya menunggu.” Kata gadis yang dipanggil Yoona itu masih sambil berjalan mendekati Irene yang berada di ruang tengah.

“Dasar! Mulutmu itu!” umpat Irene sambil menaikkan kakinya ke sofa lalu duduk bersila. “Lagian aku pernah punya kekasih. Walaupun cuma sekali dalam hidupku.” Kata Irene lagi sambil membenarkan letak rambutnya.

“Ye… ye… ye arraseo. Tapi kan kau menerima cintanya karena kau merasa kasihan. Bukan berdasarkan cinta.” Kata Yoona lalu duduk di sebelah Irene.

“Tapi itu perlu dibanggakan.” Dengus Irene, ia kemudian melipat kedua tangannya di dada sambil mengerucutkan bibir.

Tiba-tiba eommanya menyahut dari dapur, “Aku tak pernah dengar soal cinta pertamanya.”

“Ne. Sampai sekarang dia belum melupakannya ahjumma.” Kata Yoona kepada Eomma Irene. ia lalu menyalakan tv yang tadinya mati. “Lupakanlah saja Irene. kau tak bisa terus-terusan begitu, lagipula aku juga tak sabar menggendong keponakan darimu.” Kata Yoona sembarangan.

“Bagaimana aku bisa melupakannya jika ia tiba-tiba muncul hari ini. Asal kau tahu dia bekerja menjadi dokter di rumah sakit yang sama denganku.” kata Irene dengan suara serak. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mersa frustasi dengan keadaan yang ada.

“Jangan mengada-ngada itu sudah 10 tahun lebih berlalu.” Kata Yoona masih sambil memencet tombol-tombol untuk mencari acara tv yang menarik.

“Aku sungguhan! Aku benar-benar gila sekarang.” Kata Irene dengan mata berkaca-kaca.

“MWOO?!?!?” Kata Yoona tidak percaya dengan apa yang di katakan Irene.

Lalu Yoona mengusap punggung Irene. dengan perlahan Yoona meminta Irene menceritakan semua yang telah terjadi di rumah sakit tadi. dengan berat hati Irene lalu menceritakan semua yang terjadi padanya satu persatu kepada Yoona. Sedangkan eommanya masih sibuk dengan masakan di dapur. Irene melarang Yoona kaka sepupunya untuk menceritakan tentang Xi Luhan kepada eommanya.

Tapi, yang menjadi permasalahan eomma Irene yang tak tahu menahu tentang cinta pertama Irene, dengan seenak pantatnya menyuruh Irene segera mencari kekasih. Jika satu bulan Irene tak segera menggandeng seorang pria, eommanya akan menjodohkannya dengan seseorang. Bukan untuk menjadi kekasih semata, namun sampai memikirkan sebuah pernikahan. Ini bukan permintaan, perjanjian atau semacamnya ini adalah…. sebentar, ini sangat penting jadi harus di garis bawah, di tulis dengan tebal, dicetak miring, dan diberi tanda petik supaya lebih jelas. Sekali lagi ini bukanlah permintaan, perjanjian atau semacamnya ini adalah “PEMAKSAAN”. Jangan lupakan itu sekali lagi ini adalah “PEMAKSAAN”.

-To Be Continue-

Sebenernya FF ini terinspirasi dari mama yang tiba-tiba nuntut punya menantu dokter. Demi apa daku masih SMP yang masih poloth udah disuruh nyari dokter aja… Oh iya… mungkin untuk chapter 2 terlambat post…  makasih

Lovely Regard with chu,

Shuu

40 tanggapan untuk “[Chapter 1: After a Long Time] Emergency Love”

    1. gitu banget gimana? nggak kok Luhan anak baik hehehe belain mantan kesayanganku hehehehe… makasih udah mau baca dan komentar!

  1. Ping-balik: All About Fangirl
  2. Hemm kayaknya luhan ma irene jodoh tuh abis uda 10 th bisa ketemu lagi.. wekekee irene juga debat sama eommanya lucu. Eommanya juga doanya ngeri amat. Wekekee ditunggu banget next chapnya.. kekeke ^^

    1. Masa? masa jodoh? jodoh nggak sih? hehehe… Eommanya Irene emang radak somplak kek gitu. makasih udah mau baca dan komentar

  3. Kekeke.. irene sama eomma nya lucu.. eommanya ih doanya sadis banget irene nikah kok.. wekekeke.. ditunggu banget next chapnya kekekeke ^^

  4. wahahaa kasiann sekali kamu thor *sokakrabnih*

    aku selalu suka dengan cerita tentang cinta pertama, karena sampai sekarang jg aku sama kayak Irene :”v

    I’m waiting for the next chap author-nim^^

    1. aduh… Saya KUDU OTTEOHKE? makasih udah suka ditunggu beneran loh ya chapter selanjutnya… makasih udah baca dan komentar 🙂

    2. its OK author-nim^^ kalo bisa sih kasih tau aja ya kalo ada update an terbaru, soalnya suka lupa sih, kebanyakan cerita yg dibaca 😀

    1. siapa ya yang mau dijodohin sama Irene? hayooo siapa? kalo boleh jujur belum kepikiran sih yang dijodohin sama Irene siapa. Punya saran? hahahaha makasih udah baca dan komentar 🙂

    1. haduh… masa bagus banget? masih banyak author lain yang lebih jago kok 😀 makasih ya udah baca dan komentar ‘-‘)b

    1. yang jadi inspirasi di emergency couple cuman judulnya aja kok yang lainnya nggak hehhe… makasih udah baca dan komentar 🙂

  5. akhirnya chap 1 di post jg.. hehe
    keren kok, bikin penasaran ni ffnya, padahal baru baca tp kok ngerasa cepet banget ada tulisan TBC nya hehe
    pokoknya semangat lanjutin ffnya ya..
    aku tunggu next chapnya 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s