Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 08]

tfam

Ketika sang atlet lari dan drummer sebuah band yang belum debut dipertemukan dengan cara tidak terduga dan masing-masing mulai memiliki rasa. | Waktu boleh saja berlalu, tapi cinta akan tetap tinggal | “Sunbae, gumawo…” | “Aku… aku janji akan lebih mengenalmu.” | “The best love story is when you fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time”― Anonymous

Nuevelavhasta present… Tempus Fugit, Amor Manet

Rate: T, PG-15

Romance, Hurt/Comfort, Supranatural, a bit humor

Chanyeol EXO, Cha Iseul (OC), Minho SHINee, Kai-Sehun-Chen-Lay EXO dan beberapa idol/actor dan OC sebagai support cast

Warning: AU, Semi-canon, OOC (maybe), typo, humor garing, rush

Poster by Aqueera at https://posterdesigner.wordpress.com

A/N                        : Disini Chanyeol dan Iseul beda sekolah. Hope you don’t get confuse.

.

.

Chapter 8

.

                “Ugh…” Chanyeol merasa terusik oleh hembusan angin yang membelai wajahnya dan menyisipkan rasa dingin ke tubuhnya.

Perlahan, ia membuka kelopak matanya dan mendapati langit biru yang luas membentang di atasnya. Dan di saat bersamaan, ia merasa ganjil. Kenapa ia bisa berada di sini jadi pertanyaan yang merajai jalan pikirannya.

Chanyeol kemudian membuat dirinya berada dalam posisi duduk. Hal ini memberinya visibilitas yang lebih luas daripada saat ia berbaring tadi. Aneh, batinnya. Sekarang ini ia tengah berada di atas sebuah gedung. Tapi… bagaimana caranya ia bisa ada di sini? Pertanyaan yang sama kembali menggelitik akalnya.

Dahinya yang cukup lebar kemudian berkedut-kedut, berusaha mengingat sesuatu. Apa yang kira-kira menyebabkan ia terdampar di sini? Apa yang sudah terjadi padanya? Tapi sialnya, Chanyeol tidak dapat―atau belum dapat―mengingat serentetan kejadian yang menimpanya sebelum ia berada di atas bangunan ini.

“Kau sudah bangun?” sebuah suara milik seorang gadis menyentak Chanyeol dari pemikirannya sendiri.

Chanyeol terkejut dengan kehadiran gadis itu yang bisa dibilang begitu mendadak dan tepat di hadapannya. “Y-ya,” lidah Chanyeol terasa kelu. Kepalanya juga terasa pusing, linglung. “Dimana aku? Kenapa aku bisa ada di sini?”

“Kau ada di atap rumah sakit. Dan bagaimana kau tiba di sini… kita sebut saja itu hal yang… lumrah. Sejujurnya, aku juga tidak tahu bagaimana.”

“Hah? Ap-apa?” kepala Chanyeol terasa makin pusing atas jawaban tidak jelas dari gadis di hadapannya itu. Tapi yang lebih penting… “Siapa kau?”

Gadis itu mengulurkan tangannya. “Kenalkan, aku Cha Iseul. Dan apa kau bisa mengingat siapa namamu?”

Chanyeol yang menerima uluran tangan Iseul berjengit. Ada rasa dingin yang begitu mencubitnya. “Ya, aku Park Chanyeol…”

Iseul mengamati Chanyeol sejenak. “Kau kelihatan linglung, Chanyeol.”

“Te-tentu saja. Aku tidak bisa mengingat kenapa aku bisa ada di sini.”

“Tenanglah, itu hal lumrah yang lain―” lumrah yang lain? Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini? Ada apa denganku? Dan kenapa gadis ini seperti tahu segalanya? “―sekarang tenangkan dirimu dan coba kau ingat-ingat kejadian apa yang menimpamu sebelum ini. Tidak perlu mengingat terlalu jauh ke belakang.”

“Ugh, oke, baiklah.” Alhasil meski dirinya sendiri masih bingung, tapi Chanyeol menuruti perkataan Iseul. Otaknya bekerja memutar kepingan-kepingan ingatannya ke belakang.

Yang bisa Chanyeol ingat hanyalah saat itu ia sedang terburu-buru. Tidak tahu terburu-buru karena apa, yang jelas sesuatu yang gawat. Kemudian saat ia akan menyebrang jalan, sebuah mobil menabraknya setelah itu ia tidak sadarkan diri dan berakhir di sini.

Tu-tunggu! Ap-apa tadi?! Tertabrak, tidak sadarkan diri?! Batin Chanyeol mulai panik. Jika ia memang tertabrak―mengalami kecelakaan, bukankah seharusnya ia ada di rumah sakit?! Oke, menurut penuturan gadis bernama Iseul tadi ia berada di rumah sakit, tapi di atapnya! Harusnya dia ‘kan berada di ruang perawatan! Lalu kenapa?

“Aku ingat! Aku kecelakaan, tertabrak mobil. Tapi… kenapa aku…” Chanyeol mengamati sekujur tubuhnya. Tangannya bergerak-gerak meraba ‘tubuh’nya. Tidak ada darah atau luka. “…kenapa aku… baik-baik saja?”

Iseul mengangguk-angguk paham. “Begitu ya. Hm, itu karena sekarang ini kau berwujud sama denganku―”

“―HAH?!”

“―kita ini adalah makhluk halus sekarang,” lanjut Iseul kalem.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

“HHHHEEEEEE? APAAAAAAA?”


 

 

Tempus Fugit, Amor Manet

Standard disclaimer applied. Storyline © Nuevelvahasta

Chapter 8 ― Incipient?


 

 

“HHHHEEEEEE? APAAAAAAA?” Chanyeol berteriak sejadinya. Jadi dia hantu, sekarang?! Jadi dia… “APA AKU SUDAH MATI?!” tanya Chanyeol, masih berteriak, dalam nada ketakutan.

“Tidak tahu.” Iseul mengangkat bahu. Caranya menjawab yang terkesan cuek dan tidak peduli semakin membuat Chanyeol sweatdrop.

“Tidak tahu?! Bagaimana bisa kau tidak tahu?! Ini menyangkut nyawa orang! Nyawaku sendiri! Aigo, eotteohkae? Eotteohkae, eotteohkae, eotteohkae?” Kepanikan dalam diri Chanyeol mengalir deras bak air bah. Ini bukan masalah kecil!

Iseul sebenarnya ingin tertawa. Tapi jika ia melakukannya, akan terlihat tidak sopan. “Aku tidak tahu. Aku ini cuma arwah, bukan malaikat maut. Lagipula, saat aku menemukanmu, kau sudah tergeletak di sini.”

“Ma… malaikat maut? Mereka ada?” fokus Chanyeol teralihkan.

“Begitulah.”

Kedua insan itu diam sejenak. Iseul sendiri terlihat santai, berbeda dengan Chanyeol yang gelisah. Gelisah karena status hidup-matinya belum jelas dan gelisah karena gadis di depannya ini adalah hantu dan Chanyeol merasa takut akan hal itu. Sungguh menggelikan mengingat dirinya sekarang juga merupakan hantu.

“Hei,” Iseul menepuk pundak Chanyeol, “tenanglah. Nanti ingatanmu akan kembali perlahan-lahan. Tidak lama kok. Sekarang, apa kau ingin mencari dirimu? Maksudku, tubuhmu. Mungkin tubuhmu ada di rumah sakit ini.”

Chanyeol berpikir sejenak. “Bo-boleh.”

“Kalau begitu, ayo!”

Iseul segera berdiri dan berlari kecil menuju pintu yang menghubungkan lantai atas dan atap rumah sakit. Di belakangnya, Chanyeol mengekor. Chanyeol sudah akan memutar kenop pintu itu ketika Iseul bertanya, “Kenapa kau membuka pintu?”

“Kita akan turun ‘kan?”

Iseul terkikik. “Iya. Tapi akan lebih praktis lagi kalau kita hanya menembus tembok ini.”

“Ap-APA?!” mata Chanyeol serasa ingin melompat keluar dari rongganya ketika melihat sosok Iseul yang menembus tembok dalam sekejap.

“Hey! Chanyeol! Ayo cepat!” seru Iseul dari balik tembok.

Ah, Chanyeol lupa jika dirinya adalah hantu sekarang.

.

.

Bukan hanya ada orang tua Chanyeol dan kakak perempuan Chanyeol saja yang memenuhi kursi di depan kamar Chanyeol dirawat. Melainkan teman-teman Chanyeol yang tergabung dalam band yang sama dengannya. Selain itu, Youngjin dan sekretaris CEO Maze Entertainment, Lee Hyunwook juga hadir di sana.

Semuanya diam. Larut dalam pikiran masing-masing setelah mendengar penuturan dari dokter yang menangani Chanyeol tadi. “Masa kritisnya memang sudah lewat, tapi aku tidak bisa mengatakan kita bisa lega akan hal itu. Sekarang Chanyeol sedang dalam masa koma dan kami tidak tahu pasti kapan ia akan bangun.

“Chanyeol, Chanyeol anakku…” ibu Chanyeol rupanya belum berhenti terisak. Suami dan anak perempuan sulungnya tidak hentinya menenangkannya.

Anak-anak The FOO sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Pikiran mereka benar-benar kosong sekarang ini. Pun halnya dengan pihak dari Maze Entertainment. Dan sungguh, situasi seperti ini sangatlah tidak nyaman.

Hyunwook melihat arlojinya. “Maaf, tapi jam besuk sore ini sudah habis. Kami pamit undur diri dan akan menyempatkan datang jika ada waktu.”

“Ah, tentu saja. Terima kasih.” Ayah Chanyeol membalas karena istrinya masih terisak dan putri sulungnya masih sibuk menenangkan.

Aedeura, kajja.” Youngjin menepuk pundak Jongdae.

Keu-keundae hyeong―!” anak-anak The FOO yang lain menolak. Mereka tidak bisa pergi sekarang sementara sahabat mereka belum sadar!

Youngjin menghela nafasnya. “Aku tahu bagaimana perasaan kalian. Tapi jam besuk sudah habis. Chanyeol sudah bersama keluarganya disini, semua akan baik-baik saja. Lebih baik kita pergi sekarang, semua butuh istirahat.”

Anak-anak The FOO nampak berpikir. Apa yang dikatakan Youngjin ada benarnya.

Geurae.” Sehun berdiri terlebih dahulu. Ia memutar tubuhnya ke arah keluarga Chanyeol. “Paman, bibi, dan noona, kami undur diri dahulu. Jika terjadi apa-apa pada Chanyeol, tolong kabari kami. Kami akan rutin menjenguknya.”

Ayah Chanyeol tersenyum tipis. “Tentu saja, Nak Sehun.”

“Kami juga,” sahut anggota The FOO lainnya bersahutan.

“Ka-kalau begitu, kami permisi dahulu. Sampai jumpa.” Yixing membungkukkan badannya dan diikuti yang lain. Tidak lama kemudian mereka sudah berjalan meninggalkan rumah sakit.

 

 

Di dalam mobil yang disupiri oleh Youngjin, semuanya tidak ada yang berani bersuara. Hanya terdengar deru mesin mobil yang halus. Raut shock masih bisa terbaca dari wajah masing-masing anggota The FOO.

Keheningan itu akhirnya pecah saat ponsel Hyunwook berbunyi. Hyunwook segera mengangkatnya tanpa pikir panjang.

Ne, sajangnim?” kata ‘sajangnim’ yang diucapkan Hyunwook mau tak mau menarik perhatian semua yang ada di dalam mobil itu. Hyunwook tidak berbicara selama beberapa saat. Ia mendengarkan ucapan bosnya dengan seksama. “…ah, baiklah. Ne, ne, akan segera aku sampaikan pada mereka. Ye, algeseumnida.” Sambungan telepon itu kemudian diakhiri oleh Hyunwook.

Youngjin mencuri pandang ke arah Hyunwook di sampingnya. “Kenapa… sajangnim menelepon, hyeong?”

“Ini soal debut kalian,” jawab Hyunwook. Yang bertanya memang Youngjin, tapi Hyunwook melihat ke arah The FOO yang duduk di kursi belakang melalui kaca spion. Empat kepala yang tadinya menunduk kini tegak kembali.

“Ka-kami batal debut?” Sehun menarik suatu spekulasi seenaknya sendiri. Ekspresi wajahnya langsung berubah. Apa ini artinya mereka gagal lagi?

Aniya. Justru Sajangnim memberi kalian pilihan.” Jawaban yang diberikan Hyunwook masih belum bisa meluruhkan ekspresi tidak mengenakkan di hati Sehun.

“Pilihan? Pilihan apa?” Jongin akhirnya angkat suara setelah ia diam terus sejak tiba di rumah sakit.

Sajangnim sudah mengetahui kondisi Chanyeol, aku sudah mengabari beliau. Dan beliau memberi kalian dua pilihan. Pertama, debut sesuai jadwal. Namun karena kita tidak tahu kapan Chanyeol akan sadar, maka kalian akan debut dengan drummer pengganti.

“Dan pilihan kedua, jika kalian ingin debut dengan formasi berlima tanpa ada pengganti untuk Chanyeol, maka kalian harus rela debut kalian diundur. Sajangnim menyerahkan keputusan sepenuhnya pada kalian. Pikirkan baik-baik,” jelas Hyunwook.

Keempat anggota The FOO saling pandang. Mereka memang ingin segera debut. Debut mereka bahkan tinggal sebulan lagi. Tapi… debut tanpa Chanyeol? Merayakan keberhasilan debut mereka tanpa sang drummer? Setelah semua yang telah mereka lewati? Sebagai kawan, mereka tidak bisa melakukan itu.

Walau keempatnya tidak berkata apapun, tapi sorot mata mereka sudah mengatakan semuanya. Keputusan mereka sudah bulat. Mereka…

“Kami memilih untuk menunda debut kami,” kata Jongdae mewakili teman-temannya.

Dapat The FOO lihat Hyunwook yang tersenyum melalui kaca spion. “Keputusan kalian sudah bulat? Aku tidak akan bertanya untuk yang kedua kalinya.”

Ne.”

Geurae, aku tahu situasinya sedang kurang baik, tapi besok akan diadakan konferensi pers mengenai penundaan debut kalian. Kalian siap?”

The FOO kembali saling pandang. Ya ampun, mereka tidak menyangka konferensi pers akan diadakan secepat itu. Besok! Besok!

“Bukan masalah, kami siap,” ujar Yixing.

“Tapi… apa tidak apa-apa?” tanya Sehun.

“Apanya?” balas Hyunwook dengan pertanyaan.

“Menunda debut kami. Kita bahkan… tidak tahu kapan Chanyeol akan bangun. Apa… perusahaan tidak akan merugi?”

Kurva lengkung tipis terbentuk di bibir Hyunwook. “Masalah rugi atau tidak, itu biar kami yang urus. Jangan terlalu dipikirkan. Tugas kalian hanyalah berkarya dan jangan buat skandal. Lagipula, kejadian yang menimpa Chanyeol di luar kuasa kita. Aku yakin masyarakat akan mengerti dan paham. Jangan khawatir, oke?”

“Ah, ye.”

.

.

“HWAAAAA! Aku tidak mau lagi! Aku mau keluar dari sini!” Chanyeol bersembunyi di belakang Iseul, berteriak entah untuk yang keberapa kalinya ketika ia berbelok di ujung lorong dan mendapati sesosok hantu wanita berdiri tidak jauh darinya dan menyeringai padanya. Ditambah, wajah hantu wanita itu rusak sebelah. Bola matanya seperti bisa jatuh ke lantai kapan saja.

Iseul yang berada tidak jauh dari Chanyeol menutup telinganya. “Kau ini berisik sekali. Sebenarnya, kau ingin mencari tubuhmu atau tidak?”

“Aku ingin! Aku ingin menemukan tubuhku! Tapi bagaimana aku bisa tenang jika yang kutemui tiap sudut adalah hantu?! Kenapa ada banyak hantu di sini? Aish, aku bisa jantungan dan mati kalau begini caranya!” gerutu Chanyeol cepat.

“Tsk!” Iseul berdecak dan memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Chanyeol. Perbedaan tinggi di antara mereka membuat Iseul mendongak. “Dengar, Chanyeol. Ini adalah rumah sakit. Jadi wajar jika kau menemui banyak makhluk halus. Dan kenapa kau harus takut? Bukankah sekarang ini kau juga sama seperti mereka? Oh ya, bagaimana kau bisa mati jika kau sekarang ini adalah arwah?”

Gulp! Chanyeol menelan ludahnya mendengar penuturan Iseul yang semuanya benar adanya. Dia ini arwah untuk sekarang. Dan dia takut pada kaum sebangsanya―sekarang ini? Haha, menggelikan!

“Ta-tapi aku sudah tidak kuat,” bisik Chanyeol. “Ada begitu banyak dari mereka. Ditambah, aku ini terbilang anak baru dalam dunia permakhluk-halusan. Aku belum terbiasa.”

Iseul melipat kedua tangannya. “Huft! Baiklah. Jadi kau mau berhenti mencari tubuhmu?”

“Untuk sekarang, IYA!”

“Oke. Lalu kau mau apa?”

“Bawa aku pergi dari sini, SECEPATNYA!” seru Chanyeol dengan muka (yang makin) pucat seraya mengguncang ‘tubuh’ Iseul.

 

 

Setidaknya untuk sekarang, Chanyeol bisa bernafas lega. Iseul sudah membawanya jauh-jauh dari rumah sakit dan tempat-tempat lain yang berpotensi ‘menyimpan’ banyak makhluk halus. Sekarang dirinya dan Iseul berada di sebuah taman kota yang mulai sepi karena hari langit semakin gelap. Iseul sendiri berkata jika taman ini terhitung aman bagi Chanyeol dan Chanyeol memilih untuk mempercayai ucapan Iseul yang dianggapnya sebagai senior di dunia permakhluk-halusan.

Chanyeol memilih untuk duduk di atas bangunan yang berbentuk seperti igloo berwarna biru laut. Sedangkan Iseul duduk di ayunan yang bersebelahan dengan igloo itu.

Manik mata Chanyeol menyapu seluruh taman. “Aku belum pernah ke taman ketika taman mulai sepi. Ini kali pertamaku, dan… rasanya aneh. Melihat taman yang biasanya ramai jadi begitu sepi. Aneh, aneh sekali.”

“Yah, sepi akan manusia karena malam mulai datang. Tapi nanti akan ramai…”

“EH?”

“Iya, ramai akan makhluk halus. Jika malam sudah datang, bukankah itu berarti makhluk-makhluk seperti itu semakin leluasa berkeliaran?” tidak jelas Iseul bertanya pada siapa. Tapi bibir Iseul yang tersenyum itu membuat Chanyeol bergidik takut.

“He-hei! Kau! Ja-jangan bicara sembarangan ya!” niat Chanyeol ingin terlihat tegas. Tapi ketakutan yang menguasainya malah membuatnya tergagap. Buang jauh-jauh kesan tegas itu.

Iseul tergelak.

Perlahan, sang cakrawala kembali ke peraduannya. Langit semakin menggelap. Taman kini sudah benar-benar sepi. Lampu-lampu taman mulai menyala namun tidak memberikan penerangan yang berarti. Menyadari situasi baru ini, Chanyeol mengusap-usap lengannya karena takut.

“Di-disini aman ‘kan? Tidak ada makhluk halus ‘kan? Benar ‘kan? Kau berani menjamin tempat ini aman? Mereka tidak akan tiba-tiba muncul ‘kan? Hei, jawab aku, Iseul!”

“Apa maksudmu tidak ada? Tentu saja ada.”

“HEEE?!” Chanyeol terperanjat dan hampir saja jatuh dari tempatnya. “Dimana? Dimana? Dimana mereka? Katakan padaku, dimana mereka?” Chanyeol celingukan dalam panik.

“Makhluk halus itu kita berdua,” sahut Iseul.

“Ap-apa?!” Iseul kembali tertawa melihat reaksi Chanyeol. “Haish! Dasar kau ini! Berhenti membuatku terkena serangan panik!”

Iseul berusaha menguasai dirinya agar tawanya mereda. “Habisnya kau lucu sekali. Sekarang ini kau satu bangsa dengan mahkluk halus, mau tidak mau biasakan dirimu dengan keberadaan mereka, juga dengan wujud mereka yang sebagian mengerikan. Tidak semuanya jahat kok.”

“Apa kau bilang tadi?! Tidak semuanya? Berarti ada yang jahat, ‘kan? Iya ‘kan? Jawab aku! Itu artinya ada dari mereka yang jahat ‘kan? Bagaimana jika nanti aku jadi korban mereka? Apa kau mau bertanggung jawab, hah?!” Chanyeol kembali panik.

Iseul menarik nafas jengah. Kapan Chanyeol akan berhenti bersikap seperti itu?! hingga akhirnya karena kesal, Iseul meraih satu batu kecil dan melemparkannya pada Chanyeol.

“AAAKKK!” Chanyeol menjerit dramatis ketika batu kecil itu mengenai kepalanya. “Apa yang kau lakukan, hah?! Kau mau membunuhku?!”

Iseul melompat dari ayunan dan berdiri menghadap Chanyeol. “Chanyeol, ingat! Kau ini arwah. Mana bisa aku membunuhmu?” tangan Iseul berkacak pinggang tanda kesal. Chanyeol kemudian langsung meringkuk dibentak seperti itu sambil menyadari kebodohannya. “Lagipula tenang saja, mereka yang jahat tidak akan menganggumu jika kau tidak menganggu mereka.”

“Y-ya.” Chanyeol mengangguk-angguk cepat.

“Dan mulai detik ini, kau harus terbiasa dengan ini semua. Dengan makhluk-makhluk tak kasat mata yang lain, dengan kondisimu, semuanya. Mengerti?”

“Y-ya, a-aku me-mengerti.”

Iseul kemudian ikut duduk di atas igloo itu bersama Chanyeol. Keduanya duduk bersebelahan dan tidak ada yang berbicara lagi. Angin malam sesekali datang menyapa mereka. Chanyeol yang merenungkan perkataan Iseul dan berusaha menguatkan dirinya kemudian menuruti instingnya untuk menoleh ke samping kirinya.

Chanyeol tahu ini begitu cliché, tapi ia tidak bisa memungkiri jika ia terpukau. Wajah Iseul yang nampak tenang menatap langit, tersepuh oleh sinar rembulan yang bersinar dengan gagahnya malam ini. Ditambah senyum tipis yang ditorehkan gadis yang baru ditemuinya beberapa jam lalu.

Masih terlalu dini untuk menyimpulkan ini adalah rasa cinta. Chanyeol hanya sebatas terpukau dan tertarik. Hal wajar yang juga dirasakan beberapa orang ketika bertemu orang baru yang sekiranya bisa menarik perhatian mereka.

Tidak ingin terhinoptis terlalu lama, Chanyeol mengalihkan pandangannya. Ia mengikuti Iseul yang menatap langit. Langit malam ini tidak begitu mengecewakan. Begitu cerah hingga tidak ada awan setipispun yang menghalangi sinar rembulan. Walau begitu, tidak banyak bintang yang bisa terlihat di langit malam kota Seoul ini.

“Iseul,” panggil Chanyeol.

“…ya?” balas Iseul tanpa mengalihkan pandangannya.

“Err… kau…” keraguan dirasakan Chanyeol. Haruskah ia bertanya atau tidak?

“Tanya saja,” sahut Iseul seakan ia bisa membaca pikiran Chanyeol.

Walau Iseul sudah berkata seperti itu, bukan berarti keraguan Chanyeol hilang. Dirinya berusaha keras menyusun kata-kata yang pas. Tapi pada akhirnya Chanyeol menyerah dan memutuskan untuk bertanya langsung. “Err… kau… apa kau sudah meninggal?”

Manik mata Iseul masih menatap langit. Namun sinar rembulan yang menempanya membuat sorot sendu yang tiba-tiba muncul di mata itu makin jelas. Ah, Chanyeol merasa bersalah kemudian. “Aniyo. Aku mengalami koma.”

“Oh, begitu. Kenapa bisa?”

Wajah Iseul berpaling pada Chanyeol. “Yah, maaf ya? Aku sedang tidak ingin membicarakannya.” Senyumnya yang getir dan dipaksakan membuat Chanyeol mengutuki dirinya sendiri.

“A-ah, gwaenchanayo! Ha-harusnya aku yang minta maaf. Maaf, aku tidak sengaja dan tidak bermaksud…”

Gwaenchanayo, aku paham.”

“…”

Rembulan yang bersinar di langit masih memiliki daya tarik yang amat kuat bagi Iseul. Terbukti, gadis itu kembali mengawasi sang dewi malam. “Kau sendiri bagaimana?”

“Hah?”

“Ingatanmu. Sudah kembali?”

Chanyeol menggeleng lemah. “Belum,” jawabnya murung.

“Tenanglah, tidak usah khawatir. Ingatanmu akan kembali. Kau tidak akan jadi arwah getayangan yang lupa akan ingatannya sendiri lalu tidak bisa pergi ke alam lain karena masalahnya belum selesai. Tapi masalah apa itu ia tidak tahu karena ingatannya hilang. Kau tidak akan jadi arwah semacam itu. Tenanglah.”

Chanyeol tertawa hambar. “Heh? Yang ada aku semakin khawatir jika itu benar-benar terjadi padaku.”

Iseul kembali tertawa. Setelahnya keduanya sama-sama diam. Sama-sama menikmati langit malam dan belaian angin. Keduanya nampak berpikir tapi tidak ada yang tahu apa yang masing-masing mereka pikirkan. Mereka juga tidak berniat untuk saling bertukar pun berbagi pikiran.

Keheningan itu bertahan kurang lebih lima menit sebelum…

“ISEUL!” tubuh Chanyeol condong ke arah Iseul.

Otomatis, Iseul menarik tubuhnya menjauh dari Chanyeol. Bagaimanapun juga, didekati dengan cara semacam itu membuat kaget. “Apa?”

Mata Chanyeol membulat. “I-ingatanku…”

“Ya?”

“Ingatanku…” ucapan Chanyeol terputus karena serentetan ingatan tiba-tiba menyerbu dirinya. Rasanya seperti disiram seember besar air es. “…kembali. Ingatanku… kembali…”

Jinjjayo? Kau sudah ingat apa kau mati atau belum?”

“Bukan itu!” Chanyeol menggeleng cepat. “Bukan itu. Itu… aku masih belum tahu. Ingatanku soal itu masih sama seperti yang kukatakan padamu di atap tadi. Yang kembali adalah ingatan lain. Seperti… semua ingatan sebelum kecelakaan itu…” tubuh Chanyeol mulai menjauh dan ia kembali dalam posisi duduknya yang semula.

“A-apa itu?” tanya Iseul penasaran.

Namun, di luar dugaan, Chanyeol berubah histeris. “Huwaaaa! Eomma, appa, noona, naega jinjja jeongmal mianhaeyo! Chingudeul! Mianhae! Kumohon maafkan aku, jangan dendam padaku, teman-teman! Aku juga tidak menginginkan ini semua! Eomma, appa, noona, maafkan aku! Aku belum bisa membuktikan apapun pada kalian, tapi… tapi… aku malah jadi seperti ini. Maafkan aku…” air mata Chanyeol keluar entah bagaimana.

Iseul yang melihat kelakuan Chanyeol mau tidak mau juga heran dibuatnya. “Kau… tidak apa-apa, Chanyeol?”

Chanyeol menoleh menatap Iseul. Wajahnya kelihatan buruk. Bibir ditarik ke bawah, mata sembab, serta bunyi isakan yang disertai bunyi ingus ditarik, sungguh tidak elit. “Aku tidak tidak apa-apa, Iseul. Aku ingin mati saja kalau begini, untuk kedua kalinya.”

Dahi Iseul makin berkerut.

“Aku… mengacaukan semuanya,” ucap Chanyeol.

Iseul memang tidak begitu paham akan apa yang menimpa Chanyeol. Tapi Iseul cukup paham jika Chanyeol butuh untuk meluapkan emosinya saat ini. Maka dari itu Iseul membiarkan Chanyeol meracau, mengoceh, menangis sesukanya. Sementara tangan Iseul tidak henti-hentinya mengusap-usap punggung lebar namja itu.

Jelas saja Chanyeol langsung berubah seperti itu. Dirinya sudah ingat semuanya sekarang. Saat itu ia terburu-buru ke studio untuk persiapan debutnya karena ia bangun kesiangan. Lalu saat ia menyebrang, ia ditabrak oleh sebuah mobil. Setelah itu, ia tidak tahu apakah ia selamat dari tabrakan itu atau tidak.

Padahal debutku tinggal sebulan lagi! Jerit Chanyeol dalam hati.

 

***

 

Salah satu ruang meeting di gedung Maze Entertainment mendadak ramai. Para jurnalis memenuhi ruangan ini ditemani ‘senjata’ mereka. Kursi-kursi penuh, di atas meja semua komputer jinjing terbuka―menyala―menampilkan dokumen kosong ms.word, kilatan blitz sesekali ada. Tulisan ‘Konferensi Pers Debut New Comer Maze Entertainment’ terpampang di depan ruangan. Kursi-kursi di depan ruangan itu juga masih kosong.

Sudah jelas sekarang kenapa ruang rapat itu dipenuhi oleh wartawan. Begitu mereka mendapat kabar bahwa hari ini Maze Entertainment mengadakan konferensi pers mengenai bakal bintang baru mereka, para jurnalis tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Mereka datang!”

Seruan itu datang bebarengan dengan masuknya beberapa orang ke ruangan dan duduk di kursi-kursi kosong di depan. Kilatan lampu blitz semakin menggila. Orang-orang yang datang itu adalah Lee Hyunwook selaku perwakilan dari Maze Entertainment dan personil The FOO serta Youngjin selaku produser utama The FOO. Mereka memberi salam hormat pada awak media.

Hyunwook menunggu situasi mulai tenang dan memulai ucapannya. “Sebelumnya ijinkan saya memperkenalkan diri, saya Lee Hyunwook, selaku perwakilan dari Maze Entertainment. Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada para jurnalis yang sudah bersedia datang ke konferensi pers mengenai debut dari calon bintang baru asuhan kami.”

Para awak media yang ada di sana mulai menulis dan belum berhenti mengambil gambar.

“Sebelumnya, perkenankan saya untuk memperkenalkan calon bintang baru kami. Mereka sudah menunjukkan kemampuan mereka dengan meng-cover beberapa lagu dengan aransemen mereka sendiri yang sudah dirilis melalui situs resmi kami. Selama ini pemuda-pemuda ini kita kenal dengan nama ‘New Comer’, namun sekarang… perkenalkan mereka, The FOO.” Hyunwook mengarahkan tangannya pada The FOO.

Kamera-kamera yang ada di sana kembali aktif bekerja. Para personil The FOO kembali membungkukkan badan tanda hormat.

Hyunwook melanjutkan, “Seperti yang pihak kami katakan sebelumnya, bahwa kami akan mendebutkan sebuah band dalam waktu dekat ini. Dan merekalah band ini. Selama tiga bulan belakangan ini mereka sibuk menjalani masa trainee dan mempersiapkan debut mereka. Dan menurut jadwal, bulan depan mereka sudah akan debut.

“Hal ini sudah kami rencanakan jauh-jauh hari dan bisa kalian lihat di kalender schedule di situs resmi Maze Entertainment. Namun, dengan sangat kami sayangkan, kami harus menunda debut mereka… untuk waktu yang belum ditentukan.”

Bisik-bisik menjalar cepat di ruangan itu. Kegaduhan kecilpun terjadi. Para wartawan pikir konferensi pers kali ini akan membocorkan sebagian detail debut dari New Comer itu atau yang sekarang mereka kenal sebagai The FOO.

“Kenapa debut mereka ditunda?”

“Apa persiapannya belum cukup matang?”

“Kenapa diundur untuk waktu yang belum ditentukan?”

Semua pertanyaan dari para wartawan keluar hampir bersamaan dan saling berlomba. The FOO kelihatan cukup terkejut dengan reaksi ini. Sementara Hyunwook terlihat tenang. Situasi seperti ini sudah biasa ia hadapi.

“Harap ajukan pertanyaan kalian satu-persatu dengan mengangkat tangan terlebih dahulu,” pinta Hyunwook. Dan di luar dugaan, banyak tangan yang terangkat ke atas. “Ya, silahkan untuk nona di sana,” tunjuk Hyunwook.

“Apa ini berarti persiapan yang The FOO lakukan belum matang?” tanya nona itu.

“Untuk pertanyaan itu, saya limpahkan pada Tuan Yoo Youngjin selaku kepala tim produksi yang menangani debut The FOO,” jawab Hyunwook.

Youngjin meraih mikrofon di hadapannya. “Terima kasih. Saya Yoo Youngjin, selaku kepala tim produksi dan produser utama dalam debut The FOO. Mengenai pertanyaan tadi, jawabannya adalah tidak benar. Saya merasa senang bisa menangani debut The FOO karena mereka bekerja dengan sangat keras dan menyenangkan untuk diajak berkompromi. Bisa dikatakan jika persiapan mereka sudah mencapai hampir sembilan puluh persen.”

Setelah Youngjin menjawab, para jurnalis berlomba mengetik dan mengacungkan tangan mereka untuk mengajukan pertanyaan lain.

“Silahkan untuk tuan di sana,” tunjuk Hyunwook pada salah satu wartawan pria.

“Jika persiapannya sudah mencapai hampir sembilan puluh persen, lalu kenapa debut The FOO ditunda untuk waktu yang belum ditentukan?”

“Dan… untuk menjawab pertanyaan itu, saya mempersilahkan The FOO sendiri yang akan menjawabnya,” ujar Hyunwook.

Para anggota The FOO terperanjat kaget. Untuk sesaat, mereka berdebat kecil mengenai siapa yang akan menjawab pertanyaan ini. Pada akhirnya, Jongdae-lah yang menjawab.

“Terima kasih. Saya Kim Jongdae, vokalis dari The FOO.” Jongdae membuka bicaranya. Jelas terlihat ia berusaha agar tidak gugup dan mengacau. “Ehm, jadi… penundaan debut kami ini sebenarnya di luar kuasa kami semua.” Jeda Jongdae sejenak.

Terlihat Jongdae sedikit menarik nafas sebelum kembali melanjutkan, “Alasan sebenarnya dari penundaan debut kami adalah… karena, drummer kami, Park Chanyeol, baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang ini dalam keadaan koma. Dokter yang memeriksanya mengatakan tidak tahu kapan Chanyeol akan bangun.”

Situasi menjadi riuh sejenak. Berita yang benar-benar baru ini tidak akan disia-siakan oleh para wartawan yang ada di sana. Salah seorang wartawan mengangkat tangannya dan mulai bertanya ketika Hyunwook sudah mempersilahkannya.

“Kami turut sedih mendengar musibah ini. Saya ingin bertanya satu hal, mengenai kesepakatan penundaan debut ini. Apa ada keterpaksaan? Atau yang lain?”

Sehun terlihat mengatakan sesuatu pada teman-temannya dan Hyunwook. Ia ingin menjawab pertanyaan ini, dan setelah mendapat persetujuan, Sehun meraih mikrofon di hadapannya dan mulai angkat bicara.

“Errr, sebelumnya terima kasih. Saya Oh Sehun, basis dari The FOO. Pertanyaan tadi akan saya jawab.” Sehun kelihatan nampak lebih tenang daripada Jongdae. “Tidak ada keterpaksaan dalam penundaan debut ini. Justru, Sajangnim memberi kami pilihan ketika mengetahui salah satu personil kami mengalami kecelakaan.”

“Apa pilihan itu?”

“Ya, baik,” sahut Sehun. “Jadi pilihan itu ada dua. Pertama, kami bisa debut sesuai jadwal. Tetapi tanpa teman kami―Chanyeol, dan harus menggunakan drummer pengganti. Kedua, kami bisa menunda debut kami sampai keadaan Chanyeol memungkinkan untuk debut. Dan kami, The FOO, telah sepakat untuk memilih pilihan kedua.”

“Bukankah itu artinya kalian membuat penggemar―dan calon penggemar―kalian menunggu lebih lama lagi? Saya tahu kejadian ini di luar dugaan dan tidak ada yang menginginkan ini, tapi saya yakin pasti akan ada tanggapan negatif mengenai keputusan kalian. Bagaimana reaksi kalian?” tanya seorang wartawan.

Kali ini, Yixing yang akan menjawab. Dengan gayanya yang khas, pemuda itu mulai menjawab. “Ya, terima kasih. Saya Zhang Yixing, pianis dan komposer The FOO. Sebelumnya, kami minta maaf yang sebesar-besarnya kepada semua yang sudah mengantisipasi debut kami. Kami sangat menghargai antusiasme kalian.

“Kami tahu ini terdengar cukup egois. Namun kami telah melalui banyak hal bersama sebelum-sebelumnya. Perjalanan kami untuk debut tidaklah mudah. Dan ketika debut itu tiba, kami ingin melakukannya berlima sebagai satu kesatuan. Kami, tidak bisa debut tanpa Chanyeol.”

“Lalu bagaimana perusahaan menanggapi hal ini?”

Hyunwook tersenyum. “Perusahaan mendukung apapun keputusan The FOO. Walau The FOO ini berisi pemuda-pemuda yang masih hijau, tapi kami percaya pada mereka semua. Jika tidak, saya rasa tidak mungkin Sajangnim memberi dua pilihan tadi.”

Salah seorang dari pihak Maze Entertainment kelihatan mendekati Hyunwook dan memberitahu Hyunwook sesuatu. Hyunwook mengangguk mengerti dan orang itu pergi.

“Ya, saya rasa semua pertanyaan sudah terjawab. Sebelumnya maaf karena kami di sini bukan untuk memberi bocoran mengenai detail debut The FOO, itu rahasia perusahaan.” Kelakar Hyunwook membuat yang ada di sana tertawa. “Karena waktu untuk konferensi pers sudah habis, saya akan berbaik hati untuk memperkenankan satu pertanyaan terakhir.”

Seorang wartawan wanita mengangkat tangan. “Silahkan,” kata Hyunwook.

“Pertanyaan ini untuk The FOO. Apa kalian memiliki sesuatu untuk dikatakan pada penggemar dan orang-orang yang mengantisipasi debut kalian?”

Jongin meraih mikrofon. “Kamsahamnida. Saya Kim Jongin, gitaris The FOO. Hal yang ingin kami katakan? Kami ingin mengatakan terima kasih banyak atas dukungan dan antusiasme kalian semua yang bisa mengantarkan kami sampai pada titik ini. Untuk sekarang ini, kami lebih membutuhkan doa kalian untuk teman kami, Chanyeol. Serta, kami mohon untuk terus mendukung kami untuk kedepannya.”

“Baik. Semua pertanyaan sudah terjawab. Terima kasih atas partisipasi kalian,” kata Hyunwook menutup acara konferensi pers tersebut.

 


 

 

Sebagai arwah, Chanyeol harus beradaptasi dengan kondisinya. Karena sekarang ini ia tidak merasakan rasa lapar, haus, maupun mengantuk. Bahkan semalam ia justru berkeliling kota bersama Iseul. Selama itu Chanyeol terus berteriak atau menjerit ketakutan ketika arwah lain muncul.

Berkali-kali Chanyeol mengomeli Iseul tapi tidak diacuhkan Iseul. Iseul beralasan agar Chanyeol makin terbiasa. Dan Chanyeol sendiri cukup terkejut melihat bagaimana Iseul mudah bergaul dengan sesama arwah dan mempunyai kenalan makhluk halus yang cukup banyak.

Siang ini, karena tidak tahu ingin melakukan apa, Chanyeol mengekor Iseul untuk berjalan-jalan di kawasan Myeongdeong. Namun ketika melewati toko elektronik, langkah Chanyeol terhenti ketika melihat tayangan di salah satu televisi yang dipajang di sana.

“ISEUL!” tanpa ragu Chanyeol berteriak. Toh, ia sekarang ini arwah. Makhluk kasat mata. Tidak akan ada manusia yang memperhatikannya kecuali mereka yang punya kemampuan khusus.

Iseul yang berada di depan beberapa meter terpaksa berhenti dan menoleh. Dirinya heran mendapati Chanyeol yang melihat tayangan televisi dengan begitu antusias.

“Cepat kemari!” Chanyeol memberi isyarat pada dirinya untuk mendekat.

Dengan terpaksa lagi, Iseul mendekati Chanyeol. “Ada apa sebenarnya?”

“Ini! Ini! Lihat ini!” Chanyeol menunjuk-nunjuk layar televisi di hadapannya.

Iseul menuruti perkataan Chanyeol. Yang sedang dilihatnya saat ini adalah sebuah konferensi pers. Tidak tahu konferensi siapa, tapi Iseul cukup tahu Maze Entertainment. Salah satu perusahaan manajemen artis terbesar di Korea.

“…alasan sebenarnya dari penundaan debut kami adalah… karena, drummer kami, Park Chanyeol, baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang ini dalam keadaan koma. Dokter yang memeriksanya mengatakan tidak tahu kapan Chanyeol akan bangun…

“Lihat, Iseul? Kau lihat itu? Kau dengar itu? Aku masih hidup! Aku belum mati! Aku hanya koma, sama sepertimu!” Chanyeol kembali dalam mode hyper-nya.

Selanjutnya, acara itu tidak lagi diperhatikan oleh mereka berdua.

“Tu-tunggu, Chanyeol yang mereka maksud itu dirimu? Kau ini calon artis?”

“Kau pikir Chanyeol siapa lagi? Tentu saja itu aku! Dan ya! Aku ini calon artis. Fufufu, harusnya kau beruntung sudah bertemu calon artis sepertiku dan bisa berinteraksi sedekat ini. Kau mungkin tidak akan punya kesempatan seperti ini ketika jadi manusia. Bahagialah! Dan, mereka yang ada di televisi itu teman-temanku!”

Iseul tidak punya pilihan lain selain mempercayai ucapan Chanyeol untuk sekarang ini. “Che, kau ini narsis ya? Sayang sekali, aku tidak tertarik dengan band-mu,” cibir Iseul.

“Apa? Kau meremehkanku dan band-ku? Kau hanya belum lihat bagaimana penampilan kami saja! Coba kau lihat penampilan kami, kau pasti terpesona!”

“Oh yaaaaa?”

“Ya! Akan kubuat kau jadi fans band-ku! Dan yang lebih penting, kau akan jadi fans terbesarku!” tangan Chanyeol mengepal. Manifestasi dari tekad bulatnya.

“Che…” lagi-lagi Iseul mencibir Chanyeol dan melenggang pergi.

Ya! Iseul! Kembali! Acaranya belum selesai!” panggil Chanyeol. Tapi percuma. “Ya! Iseul! Kembali kau! Aish!” kali ini giliran Chanyeol yang terpaksa. Terpaksa mengejar Iseul dan tidak melihat konferensi pers band-nya.

 


 

 

Siang itu Seungho berniat menghabiskan makanan yang baru saja ia beli di kantin, sendirian, dengan tenang, di taman. Di tangan kanannya sudah tertenteng satu kantong plastik berwarna putih yang menggembung karena terisi oleh banyak jajanan dan minuman. Tapi Seungho harus menyingkirkan gagasan menikmati makan siang dengan tenang itu karena di salah satu sudut taman yang sepi ia menemukan Eunji tengah menangis di sebuah bangku.

Hatinya tergerak. Bagaimanapun juga, ini Eunji! Jika ini Eunji, Seungho dengan lapang dada menyerahkan gagasan makan siang dengan tenang demi menenangkan Eunji!

“Eunji? Neo wae irrae?” tanya Seungho.

Eunji mengalihkan fokusnya dari ponselnya ke Seungho. “Seu-Seungho sunbae!” seru Eunji sambil mewek. Seungho sendiri cukup kaget melihat Eunji seperti ini.

Y-ya, neo wae? Wae ureo?” Seungho menempati tempat kosong di samping Eunji. “Wae ureo? Apa ada yang menyakitimu, uh?”

Eunji menggeleng.

“Lalu kenapa?”

“Hwaaaaa! Sunbae! Ini soal The FOO!” Eunji sukses menangis lebih keras.

Untuk sedetik, Seungho merasa sweatdrop. Hanya karena The FOO kau bisa sampai menangis bombay seperti ini?! Ingin rasanya Seungho menyuarakan isi hatinya itu. Tapi Seungho sadar itu haram dilakukan. Sebagai pria, yang harus dilakukannya saat ini adalah menjadi pendengar yang baik.

“Ada apa lagi dengan mereka?” tanya Seungho.

Eunji meredakan isakannya dahulu. “Hiks, hiks… mereka… mereka menunda debut mereka.”

Seungho sweatdrop untuk yang kedua kalinya. Tapi, dia harus tetap stay cool and calm di saat seperti ini. “Ke-kenapa ditunda?”

“Hiks… hiks… itu, itu… hiks… itu karena drummer mereka kecelakaan dan mengalami koma. Hwaaa! Na eotteohkae, Sunbae? Na eojjeorago? Bagaimana kalau drummer mereka tidak bangun-bangun? Bagaimana kalau mereka batal debut? Aku tidak rela, Sunbae! Apa belum cukup Iseul yang koma, sekarang drummer The FOO juga koma? Huh!”

Kali ini Seungho tidak sweatdrop. Justru ia merasa simpati. Walau agak ragu, Seungho kemudian merangkul bahu Eunji dan mengusapnya pelan. Pasti berat bagimu, Eunji. “Sudah, tidak usah menangis lagi. Kita doakan saja agar drummer The FOO dan Iseul cepat membaik dan cepat bangun. Jangan pesimis begitu.”

Eunji hanya diam. Tapi Seungho tahu, Eunji juga memikirkan ucapannya.

“Nah, daripada kau menangis terus dan terus pesimis, bagaimana kalau kau ikut makan siang denganku? Kebetulan aku membeli banyak makanan. Ini, makanlah.” Seungho menyodorkan satu roti isi coklat dan yoghurt rasa strawberry pada Eunji. Tapi Eunji tetap bergeming. “Kau tidak mau? Kalau kau tidak mau aku akan memaksamu untuk makan,” ancam Seungho.

Dasar, di saat seperti ini masih saja mengancam.

Eunji menggeleng.

“Lalu?”

“Aku maunya roti isi selai kacang,” jawab Eunji polos.

Seungho kembali sweatdrop tapi hanya diam dan mencari roti isi selai kacang.

“Juga, yoghurt-nya yang rasa blueberry,” lanjut Eunji.

Kembali Seungho mencari.

“Ini.” Seungho menyodorkan apa yang diminta Eunji pada Eunji.

Eunji menerima keduanya. “Gumawo, Sunbae.”

“Hm.” Seungho hanya menyahut karena sudah mulai makan. Dalam hati ia bersorak senang. Yeah! Aku menang banyak hari ini!

 

 

― Lanjut? ―

 

Glossary              :

  • Eotteohkae : bagaimana
  • Aedeura : anak-anak
  • Kajja : ayo (ajakan)
  • Keundae : tetapi
  • Hyeong : panggilan untuk kakak laki-laki dari laki-laki
  • Geurae : baiklah
  • Ye, algeseumnida : ya, saya mengerti (formal)
  • Chingudeul : teman-teman
  • Kamsahamnida : terima kasih (formal)
  • Wae ureo : kenapa menangis? (Ureo: menangis)
  • Na eotteohkae : aku harus bagaimana?
  • Na eojjeorago : apa yang bisa aku lakukan?

 

A/N        :

Hai! Gimana update-an chapter ini? Cepet? Cukup lama? Atau lama? Kekekeke, maaf. Len lagi buntu ide. Walau udah jelas chapter ini mau nulis apa tapi begitu buka ms.word malah bingung mau nulis apa XD Sepertinya cerita ini akan jadi lebih panjang dari seharusnya, hohoho. Dan Len harus edit kerangkanya di sana-sini. Phew!

Nah, akhirnya Iseul ama Chanyeol ketemu ‘kan? Yah walau ketemunya dalam wujud makhluk tak kasat mata XD Gimana Iseul – Chanyeol shipper? Chanyeol – Iseul yang ketemu tapi dalam wujud begitu emang udah Len rencanain. Bahkan gagasan itulah yang melahirkan fanfiksi ini #tsah

Ini juga jadi jawaban kenapa genre ‘supranatural’ selalu nongol sejak awal fanfiksi ini 🙂 Tapi kayaknya banyak yang nggak notis ini ya? Ekekekekek.

Errr, di chapter ini Len nggak tahu humornya udah ngena apa belum. Terutama di scene-nya ChanSeul ama EunSeung. Ahaha, maafkan Len.

Yah, udah, segitu aja dulu bacotan Len di A/N ini. Sekarang saatnya Len nungguin komentar-komentar kalian 😉

Yang punya akun ffn, bisa sapa Len dimari : Kuroshi Len. Atau mau add FB Len? Bisa. Mari berteman di Kuroshi Len (Facebook). Mau mampir di blog Len juga boleh, isinya cuma bacotan Len sih, mari kita tukar pikiran di : I AM IN THE BLACK SIDE.

 

Oke, kalau gitu. Saya, Len―Yang Doyan Makan Tapi Syusyah Banget Gemuk, pamit dulu… see you next chapter! 😀

33 tanggapan untuk “Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 08]”

  1. Awal bc klmt prtm di chap ini br ngeh mksd tlsn supranatural di genre ff ni. Tiap mo bc ff br, di bc sih detil dr atas tp ga terlalu pay attention cz dah langsung into bgt ke crita di tiap chap’ny 😅 warning dr Len (ky ni crita sdih/humor yg bkl munculin side effect mcm2) jg ga dicerna/dipatuhi dg baik 😋
    Akhr’ny.. 찬슬 ktmuan jg & knalan wlw dlm wjd spirit, rapopo. Jd dah pny special connection gt kan, anti mainstream.
    Terhura saya sm strong bond friendship’ny d’foo & emang udah swajar’ny mrk solider gt, mngingat smw strugle yg dah mrk lalui brsm. Semua ujian ini akan memperkokoh prshbtn & eksistensi d’foo ke dpn’ny u/ survive di showbiz jg di khdpn mrk.
    Slmt deh 승호 dah mnang bnyk hr ni ☺ locak ajah si 은지, bukan’ny dy tipe yg ga picky soal mkn-an ya?
    Eh, Len qt sm-an 😃 susah gmuk/nambah brat bdn, tp klo saya krn sk moody/males mkn, tmn2 sk komen, mkn-ny bnyk tp ga gmuk / bnyk cacing yg nyolongin gizi & nutrisi kyny /

    1. Ane gondok sendiri dipanggil ‘thor’ -_- Panggilnya Len aja, oke? Soalnya Len bukan abangnya Loki dan bukan anggota The Avengers XD

    1. Eon? EON? KAMU SALAH PANGGIL! Terus ‘thor’ itu apa lagi heh? /asah clurit/ Panggilnya udah Len aja -_- Kumohon padamu, Nak… panggil daku Len saja…
      Lama ya? /berasa ditimpuk batu/ mohon maklum aja :3

  2. Leennnn… jadi ini kenapa di genre nya ada supranatural itu?
    aku shock lhoo, gk kepikiran bakal jd kayak gini..
    tp kereeenn kok.. ffnya gk bisa diprediksi.. kerennn
    tp kasian the foo gk jd debut.. sedih deh.
    ternyata di iseul juga coma..
    yg pasti ni ff makin keren..
    aku selalu setia nunggu next chapnya len..
    semangat ya buat len 🙂

    1. Yup, ini alasannya 🙂 Awalnya aku juga nggak kepikiran. BHAK! XD
      Yeh, kasian The FOO, mau debut ada aja halangannya, hahahahaha.
      Cieee yang setia, aku terhura :”) /LEN PLIS/

  3. LLLEEEEEENNNNNNNNN …..
    .
    .

    HAIII LEEENNNN jumpa lagi kita kkkk ^^
    .
    .
    Jadi ceritanya ChanSeul koma bareng nih? So swit ajah hahah
    THE FOO hebat yaa salut lah saluuuttt mereka tetep mempertahankan debut berlima. Aku takut aja mereka misscom kayak dulu hikshiks jangan sampe yaaa :’)
    Ett si jidat yak biar kata sekarang lg jadi arwah tingkat kenarsisannya tetep masih di level paling atas lho! Hahaha untung emang kamu ganteng nya maksimal mas 😀
    Sumveh agak konyol kalo baca scene2 nya mas Chan ketakutan sama arwah, HELLLOOO!! Coba deh coba bayangin muka innocent pongo nya Chan ffhhuahuhahahahaha mata nya yg gede melotot, terus jidat nya yg dahsyat itu berkerut-kerut, bibirnya yg sekseh itu nganga, terus sama badannya yg jangkung ngumpet dibalik badannya Iseul yg mungil ??? HEEEEYYY ITU NGAKAK ABEEEZZZ HAHAHAHA 😀
    Aku agak kasian sama Eunji deh, dia jadi agak kesepian gituuu. Untung ada Seungho yg sigap nemenin duhileehhh mau dong moment2 nya Eunji Seungho jadi tambah swiiiitttt ^^
    Eunji gatau aja kalo dua org yg dia damba2in lg ‘ngedate’ di alam arwah hahaha
    Minho apa kareba?? Perasannya masih bertahan apa gimana Len?
    Mauuu moment ChanSeul yang buaannyyyaaakkkkk yaaa hehehehe :p
    Len kok kamu bisa bikin ceritanya badabez kayak gini sih? Kamu makannya apa sih? Hahaha 😀
    Udah ah kayanya mayan deh yaa buat komennya hihiihi
    .
    .
    Ditunggu yaaa next chap nyaaaa 🙂
    Anyeong Leeennnn!! /dadadada/nyengirlebar/ketjupvasah haha 😀

    1. Iya, so swit yah? Beda kayak kisah cintaku :”) /digeplak/
      Deskripsimu soal Chanyeol anjay banget. LOL
      Nggak janji soal momennya Seungho-Eunji, doakan aja biar makin banyak /hell yeah!/ Kasian juga Eunji, yang nge-date ama idolnya bukan dia XD
      Minho nanti, lupain dia sementara. Biarkan ChanSeul momen bertebaran. Kamu nggak kasian sama ChanSeul shipper yang harus nunggu ampe delapan chap biar liat mereka ketemu? XD
      Aku makannya empat sehat lima sempurna 🙂

      Kepolosanku ternoda oleh ketjupanmu mbak XD

    2. Oke oke mari berdoa bersama /angkatkeduatangannya semoga Len di berikan banyak ide ide yg daebak supaya kelanjutan ff ini cepet terlaksana AMIIIINNNN
      Untung Eunji gatau kalo semala ini aku juga ngedate sama mas Chan hihihihi :p /ampuni hamba
      Iyaaa aku juga kan termasuk ChanSeul shipper Len hiksss
      Len mau aku ketjup lg ya, eoh? Ketagihan ya? hihihihi ^^

    3. Amin, amin. Kamu perhatian deh, tau aja kalo Len sering stuck sama ide buat epep ini XD
      -_- Kamu siapa nak?
      Nggak, makasih XD

  4. Bolehkah aku jdi fans mu len? Kkkkkk oke ini lebay. Sumpah, bacotnya Chanyeol kok ngelebihin Chen? Bhak’s mungkin faktor mas Chen Ultah? Ahahahaha keren len ko’ gue gk sedih ya pas Chanyeol koma? Gue ngakak sumpah #bwahahahahaha ketemunya keren pas jdi arwah -_- yg penting ketemu udh -_- Seungho menang bnyk yeeeeee ahahahaha keren len lanjut cepet cepet! Awas klo gk. Gw lempar pke semvak Syuman. Oke segitu aja bacot gue byeeeee #timpukBatu

    1. Dengan senang hati aku terima kau jadi fans-ku! XD Btw ini kenapa namanya pake someone?
      Hahahaha, Chanyeol panik. Dan… Chen lagi ultah ya? /ditendang/
      Dasar, senang di atas derita orang XD

    1. WWWWWWWWWWWWWWOOOOOOOOOOOOOOOOOOYYYYYYYYYYYY LEEEEEEEEEEEENNNNNNNNNNN UDAH KUDUGA MEREKA KETEMU DI ALAM LAIN AKU UDAH DUGA!!!!!!!! DUGAANKU BENARRRRRRRRRRRRRRRRRRR YAAAAAAAAAAAAAAAAASSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSHHHHHHHHHHH
      ITU ITU CHANYEOL KOK UNYU BANET DIH BIKIN PINGIN GIGIT KAN JADINYA AKU SUKA AKUSUKA AAAAAAAAAAAAAKKKKKK SADAR DIRI KEK BANG UDAH JADI ARWAH MASIH TAKUT AJA SAMA SESAMA ARWAH
      SUKA BANGET SAMA INTERAKSINYA CHAN-ISEUL!!!!!! KAN JIWA JIWA CHAN-SEUL MUNCUL NIH AKU DUKUNG CHAN-SEUL LEN!!!!!!!!!! PASTI AKHIRNYA MEREKA JADI!!!!!!!! NGEYEL BIARIN LAH AKU GEMES BANGET SIH AAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKK
      ITU THE FOO BIKIN TERHARU AMAT SIH MAU NUNGGUIN CHANYEOL SAMPE SADAR.. BANG SEHUN LOVE U POKOKNYA SINI TAK CIUM/plak!
      aku-aku-aku gregetan pingin treak di depan wajahmu len…
      dan seungho-eunji…. SEUNGHO CARI KESEMPATAN NIH YEEEEE EUNJI LAGI GALAO GETOOH MANA MINTANYA NGENYANG (?) LAGI UDAH UNTUNG DIKASIH EEE MINTA YANG RASA-RASA (?)
      INTIYA AKU SENENG BANGE TEBAKANKU BENER WALAU ITU BARU KETEBAK WAKTU CHAP KEMAREN!!! LEN MISS U HAHA PINGIN NGERUSUH BARENG AAAAAKKKKK AYO MERUSUH DUNIA LEN!!!!!!!
      INI TOMBOL KEPSLOKNYA MANA???? MANA?? OH *udah ketemu* *matiin kepslok* *jadi cewek kalem*
      oke len, selalu kutunggu yaaap fic ini muah haha maapin malah nyepam habisnya aku gemes karna chanyeol jadi unyu banget kan pingin gigit, terus aku juga seneng buanget tebakanku bener
      udah ah, capek guling-guling, udah ya, udah, INI TOMBOL KIRIM MANA? MAN HA? OH *udah ketemu (2)* *lambai tangan* *nyemplung laut bareng percy jackson*

    2. Kepslok lu kagak nyante yes? :3
      Hahahaha, selamat deh udah nebak bener. Tapi sayang kagak ada hadiahnya XD
      Gemesnya ke The FOO, tapi yang mau di kissu cuma Sehun -_-
      Kamu udah teriak pad di hadapan wajahku kok /baca komenmu yang kepslok jebol/
      Seungho itu pintar mencari kesempatan dalam kesempitan, yang dilakuin Eunji itu asas manfaat XD
      Jangan ngerusuh dulu, kebakaran hutan belom reda soalnya /maksudnya?/

    3. ih len pelit, kagak ada hadiah
      iya lah, cuma mau cium sehun soalnya kalok cium yang lain nanti ditendang chanyeol/kok?
      IYA LEN? CIYUSS? WAKAKA SAYA SENAG HAHA wawawiwawawa pokoknya (?)
      seungho-eunji punya timbal balik tersendiri haha
      iya len, di sini juga baru kebakaran di gunung/?

  5. saoloh, chanyeol kagetnya gtu amat. eeh ff len nongol. Lama updatenya gk sih? yaa gk tau. nunggu sih. apadah. ada yang ngerti aku ngomong apa?. huhuhuhuh.. love love me harder. yaah yaaah.. the foo di undur debutnyaa yaaah.. btw, aku udh jdi fansnya nih.. fansnya the foo whehehee.. weeehh chanyeol ama iseul udh ketemu!!!! yeheeeeee!!!! yaah walaupun jadi hantu, gapap lah, yang penting udh ketemu. suka deh bagian scene chanyeol-iseul. huhu. udh aah panjang teuing. weh , eunji mewek. len, asal dari mana? kepo yaaaa.. apadah. jiaah eunji ada maunya.. haha

    1. Nah lho, lama nggak hayo? XD
      Love me harder? Emang aku kurang mencintaimu? Wkakakakak XD
      Kirain jadi fans-ku :”) /LEN, PLIS/
      Ah, komenmu kurang panjang tau 😀
      Len asal mana? Len berasal dari rahim ibu :v

    2. love me harder itu lagu len. huaadoh, tapi klo len mau mencintai aku boleh kok. tapi hati ku ada di the foo. oohohoho 😀 😀 XD maksut aku len dati daerah mana?

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s