TWOSHOOT – THE DEVIL [2/2] — IRISH’s story

The Devil_cover

Author : IRISH

Tittle : The Devil

Main Cast : EXO’s Kim Jongdae & OC’s Lee Hara

Rate : PG-17, M (Untuk beberapa adegan yang ada di fanfict ini)

Length : Twoshoot

Genre : Fantasy, Thriller, School-life

Disclaimer : This story is entirely fantasy and created by Irish. Any resemblance to real persons or organization appearing in this story is purely coincidental. EXO’s Kim Jongdae belong to his real-life. OC’s belong to their fake appearance

“…Aku hanya sedikit berbeda dari mereka…”

Previous Chapter

Part 1

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Hara membuka matanya dan menyernyit saat Ia ada di tengah sebuah ladang. Ia tidak pernah merasa mengenal tempat ini, dan yeoja itu bahkan tidak mengingat bagaimana Ia bisa ada disini.

Hara melangkah pelan, berharap menemukan tempat untuk bertanya. Tapi langkah yeoja itu terhenti saat mendengar suara berisik dari keramaian yang terdengar sangat familiar di telinganya.

“Ini..”, Hara membulatkan matanya saat melihat segerombolan orang tampak berjalan menuju satu arah. Yeoja itu melangkahkan kakinya berusaha mendekati gerombolan orang itu. Dan yeoja itu tersentak saat mendengar teriakan seseorang.

“Akh!! Hentikan!!”

Yeoja itu terbelalak saat melihat seseorang tengah di pasung membelakangi tempatnya sekarang. Dan sosok itu tampak berteriak kesakitan saat orang-orang disana melemparkan kerikil tajam ke tubuh namja itu.

“Tidak.. Tidak mungkin..”

Hara melangkah mundekati tempat itu, dan terkesiap saat semua teriakan-teriakan dan hujatan yang di dengarnya sekarang benar-benar persis seperti yang ada di dalam video yang di dengarnya dari anak-anak.

Ia masih berdiri mematung saat akhirnya seseorang menyiramkan minyak tanah ke tubuh sosok itu.

“Tidak.. Tidak! Hentikan! Hentikan!!”

Hara berteriak ketakutan. Terutama saat melihat obor yang menyala disekitar tempat itu. Yeoja itu gemetar ketakutan, tapi kaki yeoja itu bergerak mendekati tempat itu.

“Hentikan..”, yeoja itu terisak karena tak satupun orang disana tampak menyadari keberadaannya. Setiap Hara mencoba menyentuh orang-orang disana, Ia seolah tembus pandang.

Menyerah, yeoja itu akhirnya menatap sosok yang kini tengah disiksa itu. Tapi tatapan yeoja itu segera terpaku pada sosok yang dilihatnya.

“J-Jongdae..”

Hara menutup mulutnya tak percaya. Yeoja itu terkesiap saat seseorang menyulutkan obornya ke tubuh Jongdae, membuat namja itu berteriak kesakitan. Hara menutup rapat-rapat telinganya, dan dengan segera memejamkan matanya, berharap tidak mendengar satupun teriakan kesakitan namja itu. Berharap semua yang dialaminya sekarang adalah mimpi dan Ia akan segera terbangun dari mimpinya.

“Sakit!! Akh!!”

“Tidak.. Tidak..”, Hara terus terisak saat Ia nyatanya masih bisa mendengar teriakan kesakitan namja itu.

Hara tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, bagaimana bisa Jongdae ada di tempat itu, atau kenapa Ia bisa ada disana. Tapi Ia benar-benar takut.

“Aku akan membunuh siapapun yang menyaksikan kematianku!!”

Hara membuka matanya, dan bernafas cepat saat Ia nyatanya sudah ada di ruang UKS. Yeoja itu menatap sekitarnya, dan dengan segera memegangi seluruh bagian tubuhnya.

“Tadi hanya mimpi.. Tadi hanya—”, ucapan Hara terhenti saat Ia teringat pada apa yang tadi Ia lihat.

Yeoja itu segera turun dari tempat tidur dan berlari keluar UKS.

“Jongdae.. Jongdae..”

Ia tentu saja takut pada keberadaan namja itu sekarang. Terutama karena mengingat ucapan terakhir namja—yang wajah dan suaranya sama persis seperti Jongdae yang ada dikelas Hara—yang terbunuh dan hampir saja dilihatnya tadi.

Langkah Hara terhenti saat Ia melihat genangan berwarna merah gelap di luar kelasnya. Yeoja itu menyernyit saat mencium bau amis menyeruak dari genangan itu. Tapi Ia tetap memberanikan dirinya untuk mendekati pintu kelas.

Saat langkahnya sampai di dekat pintu, yeoja itu menjerit keras melihat tubuh sosok yang dikenalnya sekarang sudah penuh darah dengan keadaan mengerikan. Hara melemparkan pandangannya ke dalam kelas, dan kembali menjerit saat seisi kelas sudah penuh dengan tubuh-tubuh berlumuran darah.

Yeoja itu terhuyung mundur, gemetar. Ia berlari ke kelas lainnya, dan kembali menjerit saat melihat tubuh-tubuh berdarah disana. Bahkan ada yang terbunuh dengan mata masih membuka dan membuat Hara semakin ketakutan.

Kaki Hara bergerak cepat seolah tidak ingin ada di tempat itu. Ia berlari ke arah gerbang sekolah, berusaha mencari seseorang yang bisa menolongnya. Tapi Ia kembali harus ketakutan saat tidak menemukan siapapun.

Saat sampai di gerbang, yeoja itu terhuyung mundur dan tergeragap melihat sosok yang tergantung di plang sekolah mereka. Dileher sosok itu tertancap plang besi pagar sekolah mereka, dan bahkan darah dari tubuh sosok itu masih menetes ke tanah.

“J-Jiyoung..”

“Ku kira kau masih tertidur di UKS, Hara-ssi.”

Hara berbalik, dan tercekat saat sosok yang paling tidak ingin dilihatnya sekarang malah berdiri dengan santai di hadapannya.

“Jongdae..”, yeoja itu berucap lemah

Namja itu tersenyum pada Hara, seolah yeoja dihadapannya tidak sedang gemetar ketakutan.

“Bahkan saat aku sudah membawamu ke tempat itu, kau masih juga tidak melihatnya?”, ucapan Jongdae membuat yeoja itu mematung.

“Jadi.. Kau..”

“Ya. Sosok yang ada di video itu adalah aku. Dan yang tadi juga ada di mimpimu, adalah aku. Kim Jongdae. Aku terbunuh saat usiaku bahkan belum menginjak 22 tahun di saat itu.

“Mereka mengatakan bahwa aku anak dari setan. Padahal aku hanya sedikit berbeda dari mereka.”, Hara melangkah mundur saat Jongdae mendekatinya perlahan.

“Lalu anak-anak.. Dan.. Jiyoung.. Kau membunuh mereka..”

“Aku memang melakukannya. Pada semua orang yang melihat kematianku. Yang menertawakannya. Dan menganggapku salah. Aku melakukannya. Aku membunuh mereka. Mengirim mereka ke neraka yang sama dengan orang-orang yang dulu membunuhku.

“Bukankah itu adil? Mereka membunuhku tanpa aku tau apa kesalahanku, dan aku membunuh orang-orang yang melihat kematianku, tidak peduli apa mereka punya salah padaku.”

Hara tidak sanggup membuka mulutnya. Namja itu sekarang berdiri tepat dihadapannya, dalam jarak yang sangat dekat yang membuat Hara hanya sanggup memandang namja itu dalam diam.

“Tapi kau berbeda Hara-ssi..”, Hara bergidik saat tangan Jongdae terangkat, dan menyentuh pipi yeoja itu.

Tentu saja Hara gemetar melihat kuku-kuku tajam milik namja itu.

“Kau tidak melihat kematianku.. Kau juga tidak menghinaku seperti yang mereka lakukan..”

Hara terisak pelan, sangat ketakutan. Membuat Jongdae mengusap kepala yeoja itu perlahan.

“Kenapa kau menangis? Kau tidak melakukan kesalahan apapun Hara-ssi..”

Perlahan, Hara berusaha bicara dengan sisa kekuatan yang Ia miliki.

“Apa kau akan membunuhku juga.. Jongdae-ah?”

Jongdae tertawa pelan, lalu menarik dagu yeoja itu untuk mendongak, dan tatapan merekapun bertemu.

“Apa aku terlihat seolah akan membunuhmu?”

“Aku takut padamu..”, Hara terisak, yeoja itu sangat takut hidupnya akan berakhir seperti teman-temannya dan entah berapa orang disekolahnya yang melihat kematian Jongdae, namja yang sekarang berdiri dihadapannya itu.

“Tidak perlu takut padaku, Hara-ssi. Aku hanya akan jadi menakutkan dihadapan orang-orang yang melihat kematianku.”

Sekali lagi Hara memberanikan dirinya menatap namja itu.

“Jongdae-ssi.. Siapa kau sebenarnya..”

Jongdae memandang yeoja yang sekarang meringkuk ketakutan di depannya, namja itu kemudian tersenyum, perlahan, berubah menjadi sosok yang Hara kenal, bukan menjadi sosok namja itu saat membunuh orang-orang disekolah Hara.

“Aku hanya orang biasa.. Yang sedikit berbeda..”

Hara memandang namja itu, dan tersadar jika keadaan disekitar mereka sudah berubah. Yeoja itu menatap sekitarnya, dan termenung melihat awan jingga senja yang amat menenangkan dan tidak pernah dilihatnya dimanapun.

Ia melangkahkan kakinya perlahan, melihat seorang namja tampak tengah duduk tak jauh darinya, dengan beberapa orang anak kecil.

“Nah, lihat?”

Hara tertegun saat melihat burung kertas yang ada di tangan namja itu tiba-tiba saja terbang. Seperti burung sungguhan.

“Whoah! Oppa! Daebak!”

Yeoja itu tanpa sadar tersenyum. Dan sekarang namja di depannya tampak menyentuh batu kerikil kecil di dekatnya, dan melemparkannya ke sungai yang mengalir tak jauh dari tempat mereka.

Setelah kerikil itu menciptakan cipratan pelan, perlahan, tetes-tetes hujan membasahi tempat itu, membuat Hara kembali terpesona. Yeoja itu perlahan mengerti, jika namja yang terbunuh entah berapa tahun yang lalu itu, hanyalah manusia biasa, dengan kemampuan yang sangat luar biasa.

“Aku tidak pernah tau darimana kekuatan itu datang, aku tidak pernah menginginkannya. Tapi kekuatanku bisa membuatku membantu Eomma dan Appa. Dan menghibur adik-adikku. Apa aku salah?”

Hara menoleh, dan tanpa sadar tersenyum pada namja yang berdiri di sebelahnya.

“Tidak.. Jongdae-ah.. Kau tidak salah..”

Walaupun sosok yang berdiri disebelahnya sekarang terlihat benar-benar menakutkan—dengan manik mata berwarna hitam, dan tubuh penuh luka cakaran, juga cakar yang ada ditangannya—tapi Hara percaya pada sosok itu.

Jongdae menatap Hara yang sekarang tersenyum padanya.

“Aku bahkan tidak tau jika ucapanku menjadi kutukan.”

“Apa tidak ada cara untuk menghentikannya?”

“Aku sangat ingin menghentikannya. Tapi aku tidak bisa. Kutukan itu akan terus terjadi. Dan aku akan terus membunuh orang-orang yang melihat kematianku.”

“Keundae.. Jongdae-ah..”

“Setidaknya aku tau ada orang yang percaya padaku, dan tidak menganggapku keturunan setan. Bangunlah, Hara-ssi..”

                           ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Seorang yeoja duduk dengan headset terpasang ditelinganya. Sesekali yeoja itu membalik halaman buku yang tengah dibacanya, dan tangan yeoja itu tampak sibuk menulis dibuku yang ada didepannya.

Yeoja itu tersentak saat seseorang dengan tidak sengaja menyenggolnya dari belakang.

“Ish..”, yeoja itu menggerutu pelan saat sekelompok murid SMU tadinya asyik bercanda secara tidak sengaja menyenggolnya.

Dengan kesal akhirnya yeoja itu bergerak memasang headsetnya lagi, tadinya Ia melepasnya karena ingin memarahi orang yang menabraknya. Tapi tindakan yeoja itu terhenti saat mendengar murid-murid itu bicara.

“Oh, cepat, ayo play lagi videonya. Aku sangat penasaran.”

Yeoja itu segera terpaku.

“Kalian akan menyesalinya! Kalian akan menyesali perbuatan kalian!”

Yeoja yang tak lain adalah Lee Hara itu mengedarkan pandangannya, dan terkesiap saat tatapannya bertemu dengan sepasang mata bermanik hitam yang berdiri tak jauh diluar cafe tempat Ia sekarang duduk.

“Oh! Astaga! Dia dibakar!”

“Tidak.. Tidak lagi.. Jongdae-ah..”

“Aku akan membunuh siapapun yang menyaksikan kematianku!!”

Hara membuka matanya dan menyernyit saat Ia ada di tengah sebuah ladang. Ia tidak pernah merasa mengenal tempat ini, dan yeoja itu bahkan tidak mengingat bagaimana Ia bisa ada disini.

Hara melangkah pelan, berharap menemukan tempat untuk bertanya. Tapi langkah yeoja itu terhenti saat mendengar suara berisik dari keramaian yang terdengar sangat familiar di telinganya.

“Ini..”, Hara membulatkan matanya saat melihat segerombolan orang tampak berjalan menuju satu arah. Yeoja itu melangkahkan kakinya berusaha mendekati gerombolan orang itu. Dan yeoja itu tersentak saat mendengar teriakan seseorang.

“Akh!! Hentikan!!”

Yeoja itu terbelalak saat melihat seseorang tengah di pasung membelakangi tempatnya sekarang. Dan sosok itu tampak berteriak kesakitan saat orang-orang disana melemparkan kerikil tajam ke tubuh namja itu.

“Tidak.. Tidak mungkin..”

Hara melangkah mundekati tempat itu, dan terkesiap saat semua teriakan-teriakan dan hujatan yang di dengarnya sekarang benar-benar persis seperti yang ada di dalam video yang di dengarnya dari anak-anak.

Ia masih berdiri mematung saat akhirnya seseorang menyiramkan minyak tanah ke tubuh sosok itu.

“Tidak.. Tidak! Hentikan! Hentikan!!”

Hara berteriak ketakutan. Terutama saat melihat obor yang menyala disekitar tempat itu. Yeoja itu gemetar ketakutan, tapi kaki yeoja itu bergerak mendekati tempat itu.

“Hentikan..”, yeoja itu terisak karena tak satupun orang disana tampak menyadari keberadaannya. Setiap Hara mencoba menyentuh orang-orang disana, Ia seolah tembus pandang.

Menyerah, yeoja itu akhirnya menatap sosok yang kini tengah disiksa itu. Tapi tatapan yeoja itu segera terpaku pada sosok yang dilihatnya.

“J-Jongdae..”

Hara menutup mulutnya tak percaya. Yeoja itu terkesiap saat seseorang menyulutkan obornya ke tubuh Jongdae, membuat namja itu berteriak kesakitan. Hara menutup rapat-rapat telinganya, dan dengan segera memejamkan matanya, berharap tidak mendengar satupun teriakan kesakitan namja itu. Berharap semua yang dialaminya sekarang adalah mimpi dan Ia akan segera terbangun dari mimpinya.

“Sakit!! Akh!!”

“Tidak.. Tidak..”, Hara terus terisak saat Ia nyatanya masih bisa mendengar teriakan kesakitan namja itu.

Hara tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, bagaimana bisa Jongdae ada di tempat itu, atau kenapa Ia bisa ada disana. Tapi Ia benar-benar takut.

“Aku akan membunuh siapapun yang menyaksikan kematianku!!”

Hara membuka matanya, dan bernafas cepat saat Ia nyatanya sudah ada di ruang UKS. Yeoja itu menatap sekitarnya, dan dengan segera memegangi seluruh bagian tubuhnya.

“Tadi hanya mimpi.. Tadi hanya—”, ucapan Hara terhenti saat Ia teringat pada apa yang tadi Ia lihat.

Yeoja itu segera turun dari tempat tidur dan berlari keluar UKS.

“Jongdae.. Jongdae..”

Ia tentu saja takut pada keberadaan namja itu sekarang. Terutama karena mengingat ucapan terakhir namja—yang wajah dan suaranya sama persis seperti Jongdae yang ada dikelas Hara—yang terbunuh dan hampir saja dilihatnya tadi.

Langkah Hara terhenti saat Ia melihat genangan berwarna merah gelap di luar kelasnya. Yeoja itu menyernyit saat mencium bau amis menyeruak dari genangan itu. Tapi Ia tetap memberanikan dirinya untuk mendekati pintu kelas.

Saat langkahnya sampai di dekat pintu, yeoja itu menjerit keras melihat tubuh sosok yang dikenalnya sekarang sudah penuh darah dengan keadaan mengerikan. Hara melemparkan pandangannya ke dalam kelas, dan kembali menjerit saat seisi kelas sudah penuh dengan tubuh-tubuh berlumuran darah.

Yeoja itu terhuyung mundur, gemetar. Ia berlari ke kelas lainnya, dan kembali menjerit saat melihat tubuh-tubuh berdarah disana. Bahkan ada yang terbunuh dengan mata masih membuka dan membuat Hara semakin ketakutan.

Kaki Hara bergerak cepat seolah tidak ingin ada di tempat itu. Ia berlari ke arah gerbang sekolah, berusaha mencari seseorang yang bisa menolongnya. Tapi Ia kembali harus ketakutan saat tidak menemukan siapapun.

Saat sampai di gerbang, yeoja itu terhuyung mundur dan tergeragap melihat sosok yang tergantung di plang sekolah mereka. Dileher sosok itu tertancap plang besi pagar sekolah mereka, dan bahkan darah dari tubuh sosok itu masih menetes ke tanah.

“J-Jiyoung..”

“Ku kira kau masih tertidur di UKS, Hara-ssi.”

Hara berbalik, dan tercekat saat sosok yang paling tidak ingin dilihatnya sekarang malah berdiri dengan santai di hadapannya.

“Jongdae..”, yeoja itu berucap lemah

Namja itu tersenyum pada Hara, seolah yeoja dihadapannya tidak sedang gemetar ketakutan.

“Bahkan saat aku sudah membawamu ke tempat itu, kau masih juga tidak melihatnya?”, ucapan Jongdae membuat yeoja itu mematung.

“Jadi.. Kau..”

“Ya. Sosok yang ada di video itu adalah aku. Dan yang tadi juga ada di mimpimu, adalah aku. Kim Jongdae. Aku terbunuh saat usiaku bahkan belum menginjak 22 tahun di saat itu.

“Mereka mengatakan bahwa aku anak dari setan. Padahal aku hanya sedikit berbeda dari mereka.”, Hara melangkah mundur saat Jongdae mendekatinya perlahan.

“Lalu anak-anak.. Dan.. Jiyoung.. Kau membunuh mereka..”

“Aku memang melakukannya. Pada semua orang yang melihat kematianku. Yang menertawakannya. Dan menganggapku salah. Aku melakukannya. Aku membunuh mereka. Mengirim mereka ke neraka yang sama dengan orang-orang yang dulu membunuhku.

“Bukankah itu adil? Mereka membunuhku tanpa aku tau apa kesalahanku, dan aku membunuh orang-orang yang melihat kematianku, tidak peduli apa mereka punya salah padaku.”

Hara tidak sanggup membuka mulutnya. Namja itu sekarang berdiri tepat dihadapannya, dalam jarak yang sangat dekat yang membuat Hara hanya sanggup memandang namja itu dalam diam.

“Tapi kau berbeda Hara-ssi..”, Hara bergidik saat tangan Jongdae terangkat, dan menyentuh pipi yeoja itu.

Tentu saja Hara gemetar melihat kuku-kuku tajam milik namja itu.

“Kau tidak melihat kematianku.. Kau juga tidak menghinaku seperti yang mereka lakukan..”

Hara terisak pelan, sangat ketakutan. Membuat Jongdae mengusap kepala yeoja itu perlahan.

“Kenapa kau menangis? Kau tidak melakukan kesalahan apapun Hara-ssi..”

Perlahan, Hara berusaha bicara dengan sisa kekuatan yang Ia miliki.

“Apa kau akan membunuhku juga.. Jongdae-ah?”

Jongdae tertawa pelan, lalu menarik dagu yeoja itu untuk mendongak, dan tatapan merekapun bertemu.

“Apa aku terlihat seolah akan membunuhmu?”

“Aku takut padamu..”, Hara terisak, yeoja itu sangat takut hidupnya akan berakhir seperti teman-temannya dan entah berapa orang disekolahnya yang melihat kematian Jongdae, namja yang sekarang berdiri dihadapannya itu.

“Tidak perlu takut padaku, Hara-ssi. Aku hanya akan jadi menakutkan dihadapan orang-orang yang melihat kematianku.”

Sekali lagi Hara memberanikan dirinya menatap namja itu.

“Jongdae-ssi.. Siapa kau sebenarnya..”

Jongdae memandang yeoja yang sekarang meringkuk ketakutan di depannya, namja itu kemudian tersenyum, perlahan, berubah menjadi sosok yang Hara kenal, bukan menjadi sosok namja itu saat membunuh orang-orang disekolah Hara.

“Aku hanya orang biasa.. Yang sedikit berbeda..”

Hara memandang namja itu, dan tersadar jika keadaan disekitar mereka sudah berubah. Yeoja itu menatap sekitarnya, dan termenung melihat awan jingga senja yang amat menenangkan dan tidak pernah dilihatnya dimanapun.

Ia melangkahkan kakinya perlahan, melihat seorang namja tampak tengah duduk tak jauh darinya, dengan beberapa orang anak kecil.

“Nah, lihat?”

Hara tertegun saat melihat burung kertas yang ada di tangan namja itu tiba-tiba saja terbang. Seperti burung sungguhan.

“Whoah! Oppa! Daebak!”

Yeoja itu tanpa sadar tersenyum. Dan sekarang namja di depannya tampak menyentuh batu kerikil kecil di dekatnya, dan melemparkannya ke sungai yang mengalir tak jauh dari tempat mereka.

Setelah kerikil itu menciptakan cipratan pelan, perlahan, tetes-tetes hujan membasahi tempat itu, membuat Hara kembali terpesona. Yeoja itu perlahan mengerti, jika namja yang terbunuh entah berapa tahun yang lalu itu, hanyalah manusia biasa, dengan kemampuan yang sangat luar biasa.

“Aku tidak pernah tau darimana kekuatan itu datang, aku tidak pernah menginginkannya. Tapi kekuatanku bisa membuatku membantu Eomma dan Appa. Dan menghibur adik-adikku. Apa aku salah?”

Hara menoleh, dan tanpa sadar tersenyum pada namja yang berdiri di sebelahnya.

“Tidak.. Jongdae-ah.. Kau tidak salah..”

Walaupun sosok yang berdiri disebelahnya sekarang terlihat benar-benar menakutkan—dengan manik mata berwarna hitam, dan tubuh penuh luka cakaran, juga cakar yang ada ditangannya—tapi Hara percaya pada sosok itu.

Jongdae menatap Hara yang sekarang tersenyum padanya.

“Aku bahkan tidak tau jika ucapanku menjadi kutukan.”

“Apa tidak ada cara untuk menghentikannya?”

“Aku sangat ingin menghentikannya. Tapi aku tidak bisa. Kutukan itu akan terus terjadi. Dan aku akan terus membunuh orang-orang yang melihat kematianku.”

“Keundae.. Jongdae-ah..”

“Setidaknya aku tau ada orang yang percaya padaku, dan tidak menganggapku keturunan setan. Bangunlah, Hara-ssi..”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Seorang yeoja duduk dengan headset terpasang ditelinganya. Sesekali yeoja itu membalik halaman buku yang tengah dibacanya, dan tangan yeoja itu tampak sibuk menulis dibuku yang ada didepannya.

Yeoja itu tersentak saat seseorang dengan tidak sengaja menyenggolnya dari belakang.

“Ish..”, yeoja itu menggerutu pelan saat sekelompok murid SMU tadinya asyik bercanda secara tidak sengaja menyenggolnya.

Dengan kesal akhirnya yeoja itu bergerak memasang headsetnya lagi, tadinya Ia melepasnya karena ingin memarahi orang yang menabraknya. Tapi tindakan yeoja itu terhenti saat mendengar murid-murid itu bicara.

“Oh, cepat, ayo play lagi videonya. Aku sangat penasaran.”

Yeoja itu segera terpaku.

“Kalian akan menyesalinya! Kalian akan menyesali perbuatan kalian!”

Yeoja yang tak lain adalah Lee Hara itu mengedarkan pandangannya, dan terkesiap saat tatapannya bertemu dengan sepasang mata bermanik hitam yang berdiri tak jauh diluar cafe tempat Ia sekarang duduk.

“Oh! Astaga! Dia dibakar!”

“Tidak.. Tidak lagi.. Jongdae-ah..”

“Aku akan membunuh siapapun yang menyaksikan kematianku!!”

End.

23 tanggapan untuk “TWOSHOOT – THE DEVIL [2/2] — IRISH’s story”

  1. Tuhkan ternyata bner, ihh jongdae srem ahh merinding aku bcanya..hhiiii
    Itu ceritanya bkal keulang lg??

    Aduhh kakk aku ini lupa apa gmna ya masa comnet ku blum dkirim juga dri waktu itu,
    Pdahal tinggal sentuh aja..ckckck maafkan aku yg pelupa ini^^v

  2. TercengongO_O(?) muka aku gak kontrol pas baca>_< kejam kau Dae muka lawak tapi menghanyutkan duh-_-" ngebayangin ada darah dimana-manaO_O gak sanggup aku=_= sukses kak Irish bikin perasaan takut,merinding,terpukau,terkejut bercampur aduk aduuhhh

  3. kirain kk salah nulis, eh ternyata ceritanya yang sudah begini~ makin tambah seru, Jongdae seram yaaa~ untung videonya nggak ada diisini kalau beneran ada mampus lahhh aku. aku nggak mau nonton laaa~ oh yang Incubus sucubus itu kalau beneran ada apalagi di indonesia, hmmm aku jadi orang jahat ajah~ semoga kelanjutannya cepat-cepat yaaa~

    1. Salah nulis yang mana ini? XD huahahaha ya ampun kenapa incubus menyempil di sini xD wkwkwkwk sampe mau jd orang jahat lagi xD wkwkwkwkwk iyeepp moga aja lanjutannya cepet /ikut berdoa/ xD thanks komennya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s