Blind Date [2/2]

1438610664781

Author : deagoldea

Tittle : Blind Date [2/2]

Length : Two shots

Genre : Romance, sad, comedy, friendship, school life

Cast :

Park Chanyeol (EXO K)

Lee Hyo Jin (OC)

Byun Baekhyun (EXO K)

Park Min Rin (OC)

Song Hae Rin (OC)

Oh Sehun (EXO K)

Thanks for the poster @nikenmalia !

Other Cast bisa ditemukan sendiri di dalam cerita. Happy Reading! Ini hasil pemikiran aku sendiri. Kalau ada kesamaan dengan FF yang lain, mungkin itu hanya kebetulan yang tidak disengaja. No bash, no judge. Enjoy!

Chapter 2

“Kau tahu? Aku bisa saja merebutnya.” perkataannya membuat seseorang yang akan beranjak pergi itu mematung. Ia kembali membalikkan badannya, menatap orang yang saat ini duduk di bangku taman dan menatap lurus ke depan. Ia mengepalkan tangannya kuat, seakan tidak terima dengan apa yang diucapkan orang itu. Namun ia masih berusaha untuk mengontrol emosinya agar tidak memperpanjang masalah.

“Kau tidak akan bisa.”

Well, kita lihat saja.”

Chanyeol menatap orang yang saat ini berjalan menghampirinya dengan tatapan bencinya. Bertambah lagi orang yang dibencinya selain Song Hae Rin. Saat ini orang yang memakai name tag Oh Sehun di dadanya itu sudah berdiri di hadapannya dan memandang Chanyeol dengan tatapan meremehkan. Chanyeol makin menguatkan kepalan pada tangannya, berusaha untuk meredam emosinya. Sehun memamerkan senyum sinisnya melihat tangan Chanyeol yang saat ini terkepal kuat.

“Aku lebih bisa membahagiakannya ketimbang kau yang selalu menyakitinya.” sebuah kalimat yang keluar dari mulut Sehun berhasil menampar Chanyeol. Memang berat untuk mengakuinya, namun apa yang dikatakan Sehun ada benarnya. Selama ini ia hanya memberikan luka baru di tempat yang sama tanpa mengobati luka yang sebelumnya ia buat.

“Akan lebih baik jika kau tidak memintanya kembali.” lanjut Sehun dengan nada dingin dan wajah datarnya. Wajahnya sangat kentara menunjukkan bahwa ia tidak menyukai Chanyeol. Chanyeol masih menatap Sehun dengan tatapan bencinya. Ia tidak menyangka bahwa Sehun menunjukkan perasaannnya dengan Hyo Jin secara gamblang seperti ini.

“Aku yakin bahwa aku masih mengisi hatinya.” tegas Chanyeol. Ya, ia yakin jika Hyo Jin masih mencintainya. Jika tidak, Hyo Jin tidak mungkin menangis saat mengakhiri hubungan mereka. Sehun tersenyum remeh pada Chanyeol.

“Kalau begitu aku akan menggantikannya.” jawab Sehun enteng.

“Kusarankan kau mundur.” kata Chanyeol. Sehun menyeringai sambil menggeleng menandakan ia tidak akan mengikuti saran Chanyeol.

“Justru aku yang harusnya mengatakan itu padamu.” kalimat terakhir dari Sehun membuat Chanyeol sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Dengan segera ia melayangkan satu tinjunya dan sukses membuat sudut bibir Sehun mengeluarkan darah. Sebenarnya Sehun cukup pandai dalam berkelahi, namun serangan Chanyeol yang tiba-tiba membuatnya tidak bisa mengelak dan tersungkur di tanah. Dan Sehun akui jika pukulan Chanyeol cukup kuat sampai bisa membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah.

“Aku bisa melakukan yang lebih dari ini. Jadi jaga ucapanmu Oh Sehun.”

Setelah mengatakan itu, Chanyeol melenggang pergi, menyisakan Sehun yang saat ini menyeka darah yang menetes dari sudut bibirnya. Setelah itu Sehun bangkit dan segera berjalan menuju kelasnya karena bel masuk sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Saat sampai di depan kelasnya, Sehun berpapasan dengan Hyo Jin. Mata Hyo Jin membulat sempurna melihat sudut bibir Sehun yang mulai membiru dan terdapat bekas darah.

“Sehun-ah apa yang terjadi?” tanya Hyo Jin dengan tatapan khawatirnya. Sehun tidak cukup bodoh untuk tidak melihat ekspresi khawatir yang tergambar jelas di wajah Hyo Jin. Namun ia mengurungkan niatnya untuk percaya bahwa Hyo Jin mulai menyukainya. Sehun tahu Hyo Jin hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat, tidak lebih. Sehun yakin jika perkataan Chanyeol tadi ada benarnya, bahwa Chanyeol masih mengisi hati Hyo Jin dan tidak ada satupun tempat untuknya di hati Hyo Jin.

Gwaenchana.” ujar Sehun sambil tersenyum tipis.

“Kau harus mengobatinya.”

“Ini hanya luka biasa.”

“Akan kuobati di ruang kesehatan. Kajja.” Hyo Jin menarik tangan Sehun dengan paksa. Sehun hanya pasrah berjalan mengikuti Hyo Jin yang masih menarik tangannya. Sesampainya di ruang kesehatan, Hyo Jin menyuruh Sehun untuk duduk di salah satu pembaringan dan mencari kotak obat. Setelah mendapatkannya, Hyo Jin menghampiri Sehun dan duduk di sebelahnya. Tidak bisa Sehun pungkiri bahwa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya karena wajah Hyo Jin yang sedikit mendekat ke wajahnya untuk mengobati luka di sudut bibirnya. Sehun sedikit meringis saat kapas yang Hyo Jin pegang menempel di sudut bibirnya.

“Tahan sebentar.” ucap Hyo Jin kemudian melanjutkan kembali aktivitasnya yang tertunda karena Sehun meringis kesakitan. Sehun memperhatikan wajah Hyo Jin yang serius mengobati luka di bibirnya. Nyaman, perasaan itu yang menyelimuti hati Sehun saat ini. Ingin rasanya ia memberhentikan waktu dan mengagumi makhluk ciptaan Tuhan yang saat ini ada di hadapannya.

“Nah, sudah selesai.” Hyo Jin menjauhkan wajahnya dari wajah Sehun dan membereskan kotak obat. Setelah menaruh kembali kotak obat di tempat asalnya, Hyo Jin kembali duduk di samping Sehun yang masih terdiam.

“Jadi.. apa kau bisa menceritakan bagaimana bisa kau mendapatkan luka itu?” tanya Hyo Jin setelah mereka berdua cukup lama terdiam.

“Tidak ada apa-apa, hanya masalah kecil.” jawab Sehun dengan santai. Hyo Jin menatap Sehun penuh selidik, merasa tidak yakin dan tidak puas dengan jawaban singkat dari Sehun. Sehun mulai mengeluarkan puppy eyes miliknya dan sukses membuat Hyo Jin mencubit pipi Sehun karena gemas.

“Ya! Berhenti mencubitku seperti itu.” gerutu Sehun sambil mengelus pipi kanannya yang mulai memerah. Hyo Jin hanya tertawa melihat wajah Sehun yang cemberut. Sehun sempat terpaku melihat Hyo Jin yang tertawa. Ini adalah tawa pertama yang Sehun lihat setelah Hyo Jin putus dengan Chanyeol. Jujur saja Hyo Jin tampak berkali-kali lipat lebih cantik dengan rambut pendeknya dan tawa yang menghiasi wajahnya.

Tanpa sadar Sehun mendekatkan wajahnya pada Hyo Jin, membuat tawa Hyo Jin berhenti. Hyo Jin memandang Sehun dengan tatapan bingung sementara Sehun semakin mendekatkan wajahnya pada Hyo Jin. Seakan terhipnotis oleh tatapan Sehun, Hyo Jin hanya bisa diam melihat wajah Sehun yang semakin mendekat dengan wajahnya. Bola mata Hyo Jin membesar saat mendapati bibir Sehun yang sudah menempel di bibirnya dan disusul oleh lumatan lembut dari bibir Sehun. Hyo Jin merasa seluruh anggota tubuhnya berhenti bekerja sehingga hanya bisa terdiam saat Sehun melumat bibir tipisnya. Mata Sehun terpejam seolah menikmati ciuman ini. Entah dari mana keberanian itu berasal sehingga Sehun berani mencium Hyo Jin yang notabene nya adalah sahabatnya sendiri. Sehun tidak mengelak jika kalian mengatakan bahwa Sehun menyukai Hyo Jin. Ah tidak, Sehun mencintai Lee Hyo Jin. Sehun tidak tahu pasti kapan ia jatuh cinta pada Hyo Jin yang sudah bersahabat dengannya sejak memasuki JHS. Yang jelas saat mengetahui Hyo Jin dan Chanyeol berpacaran, hatinya sangat sakit.

Seakan tersadar, Hyo Jin segera mendorong pelan dada bidang Sehun agar ia bisa melepaskan ciuman mereka. Tidak butuh waktu lama Sehun sudah melepaskan tautan mereka. Hyo Jin menatap Sehun dengan tatapan tidak percaya sementara Sehun menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Itu bukan tatapan yang biasa Sehun berikan saat ia menghabiskan waktunya bersama Hyo Jin. Tatapan itu berbeda, tatapan itu hampir sama seperti tatapan yang Chanyeol berikan. Hanya saja sedikit berbeda karena juga terpancar tatapan penuh luka di saat yang bersamaan.

“A.. apa yang.. kau lakukan?” tanya Hyo Jin dengan terputus-putus karena masih kaget dengan ciuman yang tiba-tiba Sehun hadiahkan padanya. Tangan Sehun terangkat untuk mengelus puncak kepala Hyo Jin dan senyum tipis mengembang di wajah Sehun. Tapi tatapan matanya malah menyiratkan luka disaat senyum itu menghiasi wajahnya.

“Maafkan aku, mungkin sudah saatnya aku mengatakan ini.” kalimat yang Sehun ucapkan membuat dahi Hyo Jin mengernyit bingung. Maksudnya apa? Mengapa Sehun meminta maaf? Apa Sehun melakukan kesalahan padanya?

“Aku mencintaimu Lee Hyo Jin.”

Kedua bola mata Hyo Jin membola mendengar ungkapan Sehun barusan. Hyo Jin yakin pendengarannya tidak bermasalah, Sehun menyatakan perasaannya. Kini Hyo Jin mengerti mengapa tatapan yang Sehun berikan sama dengan tatapan Chanyeol padanya. Karena Sehun juga mencintainya, sama seperti Chanyeol. Tapi Chanyeol sudah mengisi seluruh hati Hyo Jin hingga tidak ada sedikitpun tempat untuk Sehun. Selama ini Hyo Jin hanya menganggap Sehun sebagai seorang sahabat, tidak lebih. Mungkin perkataan tentang laki-laki dan perempuan tidak bisa bersahabat itu benar adanya, Hyo Jin mulai mempercayai itu sekarang.

“Ta-tapi..” belum selesai Hyo Jin berbicara, Sehun sudah memotongnya.

“Aku tahu kau hanya menganggapku seorang sahabat. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku sebelum terlambat. Aku tahu aku seorang pengecut karena tidak berani mengatakannya padamu dari awal.”

“Terlambat? Apa maksudmu?” tanya Hyo Jin bingung. Sehun hanya tersenyum tipis dan mengelus puncak kepala Hyo Jin. Cukup lama mereka terdiam sebelum Sehun menjawab pertanyaan Hyo Jin.

“Aku akan pindah ke Kanada, beberapa hari lagi aku akan berangkat.” ucapan Sehun membuat Hyo Jin terdiam. Cukup lama mereka berdua terdiam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

“Apa kau tidak akan kembali?” tanya Hyo Jin memecah keheningan di antara mereka.

“Entahlah.”

Hyo Jin langsung memeluk Sehun saat mendengar jawaban Sehun. Sehun sendiri kaget dengan pelukan tiba-tiba dari Hyo Jin. Perlahan kedua tangan Sehun juga membalas pelukan Hyo Jin. Jika Hyo Jin yang memintanya, mungkin Sehun akan membatalkan rencananya untuk pindah. Tapi Hyo Jin tidak mau menjadi penghalang bagi Sehun, yah meskipun ia berat untuk melepaskan Sehun.

Sementara itu, seseorang yang sedari tadi setia berdiri di depan pintu ruang kesehatan sedang menahan emosinya karena melihat pemandangan yang sangat tidak ingin ia lihat. Ya, dia adalah Park Chanyeol. Tadi saat Chanyeol melewati ruang kesehatan, tidak sengaja ia melihat Hyo Jin yang sedang mengobati luka Sehun. Tentu saja Chanyeol melihat saat Sehun mencium Hyo Jin dan tidak ada perlawanan berarti dari Hyo Jin. Hati Chanyeol semakin sakit. Chanyeol memang tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan. Namun melihat interaksi yang mereka lakukan sudah membuat Chanyeol muak dan segera pergi dari sana.

Saat ia berjalan menuju kelasnya, seseorang menahan lengannya. Chanyeol menoleh dan mendengus kesal setelah melihat Song Hae Rin yang menahan lengannya. Tidak tahukah dia betapa malasnya Chanyeol untuk bertemu dengannya lagi? Secara tidak langsung dialah yang membuat hubungan Chanyeol dan Hyo Jin hancur. Chanyeol segera menepis tangan Hae Rin dengan kasar dan berjalan meninggalkannya.

“Aku ingin berbicara denganmu.” ucap Hae Rin namun tidak dipedulikan oleh Chanyeol. Chanyeol terus berjalan tanpa melihat sedikitpun ke belakang atau lebih tepatnya ke arah Hae Rin.

“Aku menyukaimu Park Chanyeol.” Hae Rin mengucapkannya dengan sedikit berteriak agar Chanyeol mendengarnya dan sukses membuat Chanyeol menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya dan menatap Hae Rin yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya berdiri.

“Kemarilah.” perintah Chanyeol dan Hae Rin mematuhinya. Ia berjalan mendekati Chanyeol dengan kepala yang ia tundukkan. Entahlah, ia hanya terlalu takut jika mendapat penolakan dari Chanyeol. Setelah Hae Rin cukup dekat, Chanyeol mendekatkan wajahnya pada Hae Rin. Hae Rin memejamkan matanya takut sambil terus menunduk.

“Setelah kau membuatku putus dengan Hyo Jin, masih beraninya kau menyatakan perasaanmu padaku?” bisik Chanyeol tepat di telinga Hae Rin dengan nada dingin dan ketus. Setelah membisikkan hal itu, Chanyeol segera menjauhkan wajahnya dari Hae Rin dan kembali berjalan menjauhi Hae Rin.

“Aku melakukan itu karena aku mencintaimu Chanyeol.” teriak Hae Rin. Chanyeol kembali menghentikan langkahnya dan berbalik sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap Hae Rin dengan pandangan remeh dan benci.

“Sampai kapanpun hanya Lee Hyo Jin yang selalu aku cintai. Dan kau, jangan pernah menemuiku atau berurusan denganku lagi. Lebih baik kau menjauhiku.” setelah mengatakan itu, Chanyeol beranjak pergi meninggalkan Hae Rin yang saat ini terdiam mendengar perkataan Chanyeol yang sangat kasar. Belum pernah Chanyeol memperlakukan Hae Rin sekasar ini. Kedua kakinya terasa lemas dan tidak mampu menopang seluruh tubuhnya lagi. Hae Rin jatuh terduduk dan meneteskan air matanya. Hae Rin memang sudah memperkirakan bahwa ia akan ditolak. Tapi Hae Rin tidak membayangkan Chanyeol menolaknya dengan cara yang kasar seperti ini. Dan juga Hae Rin mengira jika sakitnya tidak sesakit ini, sungguh Hae Rin mengutuk kebodohannya menyatakan perasaan pada orang yang jelas-jelas akan menolaknya mentah-mentah seperti ini.

***

“Ayolah, sudah lama kita tidak bermain.” rengek Baekhyun. Chanyeol mendengus kesal, tidak tahukah Baekhyun jika ia mengganggu tidur Chanyeol? Chanyeol butuh tidur siang karena beberapa hari ini kurang tidur, seharusnya Baekhyun tahu itu dari kantung mata yang terlihat cukup jelas di wajah Chanyeol.

“Kau main saja sendiri. Aku mau tidur.” ujar Chanyeol dengan malas dan kembali merebahkan tubuh jangkungnya di tempat tidur. Baekhyun hanya mengerucutkan bibirnya kesal dan mengambil PSP yang ada di meja belajar Chanyeol. Tidak lama kemudian ia sudah asyik dengan game yang ia mainkan sementara Chanyeol hanya berguling di atas tempat tidurnya. Dalam hati Chanyeol mengutuk kedatangan Baekhyun ke apartemennya karena mengganggu tidurnya. Jika Chanyeol sudah terbangun dari tidurnya, maka ia tidak akan bisa kembali tidur. Alhasil ia hanya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan sesekali berguling tidak jelas.

Ting tong!

“Baekhyun tolong bukakan pintunya.”

“Tidak mau, apa kau tidak lihat aku sedang sibuk.”

“Akan kutarik PSP itu jika dalam hitungan ketiga kau tidak membukakan pintunya.”

Dengan terpaksa Baekhyun menghentikan keasyikannya bermain dan melemparkan PSP itu ke arah Chanyeol yang dengan sigap menangkapnya. Baekhyun berjalan keluar dengan wajah cemberut sambil sesekali menggerutu tidak jelas. Saat membukakan pintu, Baekhyun melihat seorang gadis yang sedang memegang sebuah kotak yang cukup besar. Sesaat gadis itu merasa lega karena ternyata bukan Chanyeol yang membukakan pintunya.

“Oh ada Hyo Jin. Ada perlu apa? Apa kau merindukanku?” tanya Baekhyun yang sukses membuat Hyo Jin mendengus kesal. Tingkah Baekhyun sama sekali tidak berubah dari beberapa tahun yang lalu semenjak Hyo Jin mengenal Baekhyun. Hyo Jin lebih dulu mengenal Baekhyun daripada Chanyeol. Bahkan Hyo Jin bisa mengenal Chanyeol karena Baekhyun yang memperkenalkan Chanyeol pada Hyo Jin.

“Aku tidak akan merindukan bocah tengil sepertimu. Lagipula jika aku merindukanmu, aku tidak akan datang ke sini.” Baekhyun hanya mengangguk mengerti lalu pandangannya beralih pada sebuah kotak yang cukup besar yang masih Hyo Jin pegang. Seakan mengerti dengan tatapan bingung Baekhyun, Hyo Jin menyodorkan kotak itu pada Baekhyun.

“Tolong berikan ini pada Chanyeol. Tapi jangan katakan jika aku yang mengantarnya.”

“Memangnya kenapa?”

“Sudahlah jangan banyak bertanya. Aku pergi dulu.”

Baekhyun membawa kotak itu masuk setelah Hyo Jin pergi. Ia membawanya ke kamar Chanyeol dan meletakkan kotak itu tepat di hadapan Chanyeol yang sedang bermain PSP. Chanyeol segera menghentikan permainannya dan menatap Baekhyun dan kotak itu bergantian dengan tatapan bingung.

“Aku hanya menemukan kotak itu di depan.” setelah mengucapkan itu Baekhyun kembali mengambil PSP itu dari tangan Chanyeol dan melanjutkan permainannya yang sempat tertunda. Chanyeol segera membuka kotak itu dan tercengang melihat barang-barang yang ada di dalamnya. Bukankah ini barang-barang yang Chanyeol berikan pada Hyo Jin? Chanyeol mengambil selembar kertas yang terdapat di bagian paling atas barang-barang yang tersusun rapi di atas kotak.

Terima kasih atas semuanya. Kukembalikan barang-barang ini.

Lee Hyo Jin

Hati Chanyeol kembali merasakan sakit yang teramat. Benarkah ini berarti ia tidak bisa mengembalikan hubungan mereka seperti dulu? Benarkah tidak ada lagi kesempatan kedua untuknya memperbaiki hubungan ini? Chanyeol meletakkan kertas itu dan beralih mengambil sebuah pigura yang di dalamnya terdapat sebuah foto. Foto mereka berdua saat di taman hiburan. Chanyeol tersenyum sangat lebar di foto itu sambil memamerkan v sign dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya merangkul Hyo Jin dengan mesranya. Hyo Jin juga tampak sangat manis dengan senyum yang menghiasi wajahnya, rambutnya yang masih panjang dan dikuncir kuda. Chanyeol ingat foto ini selalu ada di kamar Hyo Jin dan diletakkan di meja belajarnya. Ia hanya tersenyum miris melihat foto itu, tanpa sadar setetes air mata menetes dari pelupuk matanya namun ia segera menghapusnya dengan kasar dan beralih pada barang lain.

Kali ini tangan Chanyeol terulur untuk mengambil sebuah kotak berukuran kecil berwarna merah muda. Chanyeol membuka kotak itu dan melihat sebuah kalung ada di dalamnya. Chanyeol mengingat kalung ini, melody necklace yang ia berikan pada Hyo Jin saat hari pertama mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Chanyeol bahkan masih mengingat betapa gugupnya dia saat berhadapan langsung dengan Hyo Jin dan menyatakan cintanya. Padahal sebelumnya Chanyeol tidak pernah merasakan gugup seperti itu saat menyatakan perasaannya karena memang ia digilai oleh hampir seluruh siswi sekolahnya. Berkat bertemu dengan Hyo Jin lah Chanyeol dapat merasakan arti jatuh cinta yang sesungguhnya. Mengingat itu semua kembali membuat dada Chanyeol merasa sesak, ia ingin kembali ke masa-masa indahnya bersama Hyo Jin, menghabiskan waktunya berdua dengan Hyo Jin, melakukan hal-hal yang ia sukai bersama Hyo Jin, sungguh Chanyeol sangat merindukan kehadiran gadis itu di kehidupannya.

“Park Chanyeol!” teriakan Baekhyun sukses membuat lamunan Chanyeol tentang gadis itu buyar. Ia menatap bingung pada Baekhyun yang kini memasang wajah cemberutnya.

“Apa kau bilang tadi?” pertanyaan Chanyeol makin membuat Baekhyun jengkel setengah mati. Bagaimana bisa Chanyeol tidak mendengarkannya mengoceh dari tadi dan bertanya seperti itu? Ingin rasanya menendang Chanyeol dengan skill hapkido yang ia miliki saat ini.

“Sudahlah lupakan saja. Aku harus pulang, eomma menyuruhku untuk mengantarnya berbelanja.” Baekhyun meletakkan PSP yang sedari tadi ia mainkan dan bergegas pergi diikuti Chanyeol yang mengekor di belakangnya. Saat Baekhyun sudah akan menutup pintu apartemen, Chanyeol memanggilnya, membuat ia mengurungkan niatnya untuk pergi dan mendengar perkataan Chanyeol yang selanjutnya.

“Kapan kau akan membantuku?” tanya Chanyeol. Tentu Baekhyun tahu maksud Chanyeol, maksudnya pasti membantu hubungannya dengan Hyo Jin agar kembali seperti semula.

“Tenanglah. Aku pasti akan membantumu.” setelah mengatakan itu, Baekhyun menutup pintu apartemen Chanyeol dan segera pergi sebelum mendapat omelan panjang lebar dari Chanyeol.

***

Hyo Jin kembali memandangi pantulan dirinya di depan cermin. Sebuah dress putih selutut sudah membaluti tubuh indahnya. Dress itu tampak cantik saat Hyo Jin kenakan, tambahan sebuah pita manis di bagian pinggang menambah kecantikannya. Rambut pendek kecokelatannya ia biarkan terurai indah. Riasan make up tipis di wajahnya menjadi daya tarik tersendiri bagi Hyo Jin. Ia juga memakai sebuah kalung, kalung itu pemberian ibunya dan Hyo Jin sangat menyukainya. Dan untuk sentuhan akhirnya, sebuah pita kecil sudah bertengger manis di rambutnya. Setelah merasa sempurna, Hyo Jin meraih wedges yang akan ia kenakan. Sungguh, ia tampak sangat cantik malam ini.

Sebenarnya Hyo Jin malas untuk pergi malam ini tapi Min Rin memaksanya untuk ikut dalam pertemuan keluarga Min Rin. Yah, sebagai sahabat yang baik, dengan terpaksa Hyo Jin menerima ajakan Min Rin. Sebenarnya lebih tepat disebut pemaksaan. Hyo Jin mengambil ponselnya yang ada di dalam tas kecil yang akan ia bawa. Barusan Min Rin mengirimkan alamat restoran tempat pertemuan keluarganya. Min Rin tidak bisa menjemput Hyo Jin agar bisa menghemat waktu. Rumah Min Rin dan Hyo Jin memang berlawanan arah. Saat Hyo Jin akan turun ke lantai bawah, seseorang memanggil namanya. Otomatis ia menoleh dan menatap orang yang memanggilnya.

“Mau kemana kau?” tanya laki-laki yang baru saja keluar dari kamarnya yang terletak di sebelah kamar Hyo Jin.

“Temanku mengajak untuk menghadiri pertemuan keluarganya.” jawab Hyo Jin dan melanjutkan kakinya menuruni tangga diikuti oleh orang itu.

“Tidak biasanya kau terlihat seperti ini.” perkataan orang itu membuat Hyo Jin mendelik kesal. Ia tahu pasti sepupunya ini sedang meledeknya.

“Berhenti meledekku. Lagipula kau kan baru sampai di Korea setelah tidak bertemu denganku selama empat tahun, tentu saja aku sudah bukan Hyo Jin kecil yang kau kenal.” omel Hyo Jin. Minseok hanya tertawa mendengar omelan Hyo Jin.

“Kau harusnya memanggilku dengan sebutan oppa.”

“Tidak akan.”

“Baiklah, terserah kau saja. Mau kuantar, nona?” tawar Minseok dengan nada meledek. Hyo Jin mendelik kesal pada Minseok dan berjalan menuju taksi yang sudah dipesannya tanpa menjawab tawaran Minseok. Setelah taksi yang ditumpangi Hyo Jin melaju, Minseok segera menutup pintu rumah itu.

Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di restoran itu. Setelah sampai, Hyo Jin segera turun dan masuk ke restoran sambil menelepon Min Rin. Ternyata restoran itu sudah dipesan hanya untuk pertemuan keluarga Min Rin. Hyo Jin mengikuti seorang pelayan yang menunjukkan sebuah ruangan yang ada di dalam restoran itu. Saat Hyo Jin melangkah masuk ke dalam ruangan itu, sudah ada beberapa meja yang tertata rapi namun masih kosong. Tidak lama ponselnya berbunyi, Hyo Jin menerima pesan dari Min Rin bahwa keluarganya sedang dalam perjalanan menuju restoran itu. Baru lima menit menunggu, Hyo Jin merasa bosan dan mengambil buku menu yang ada di atas meja dan membacanya.

Sementara itu, Chanyeol yang sudah rapi dengan kemeja putih dan jas hitamnya melangkah masuk ke sebuah restoran. Sebuah dasi berwarna hitam yang ia kenakan makin menambah ketampanannya malam ini. Chanyeol sendiri bingung mengapa Baekhyun mengajaknya bertemu di restoran ini dan harus mengenakan setelan formal seperti ini. Saat Chanyeol menanyakan alasannya, Baekhyun langsung memutuskan sambungan teleponnya.

“Apakah anda Park Chanyeol?” tanya seorang wanita yang Chanyeol yakini sebagai pelayan di restoran ini. Apalagi dengan baju yang dipakai wanita itu, dapat dipastikan ia adalah pelayan di restoran ini.

Ne, aku Park Chanyeol.”

“Mari ikuti saya.” ujar pelayan itu dengan senyum ramah di wajahnya. Chanyeol hanya menurut dan mengikuti pelayan wanita itu yang mengantarnya menuju ke sebuah ruangan.

“Silahkan masuk. Anda sudah ditunggu di dalam.” setelah membungkuk hormat, pelayan itu segera pergi meninggalkan Chanyeol. Chanyeol segera masuk ke ruangan itu. Keningnya berkerut melihat seorang gadis yang sedang duduk membelakanginya sambil membaca buku menu. Bukankah Baekhyun yang mengajaknya bertemu di sini? Kenapa malah ada seorang gadis di sini? Chanyeol merogoh ponselnya yang bergetar dan membaca pesan yang baru saja dikirimkan Baekhyun.

From : Byun Baekhyun

Aku sudah membantumu kan? Jangan lupa upahku karena telah membantumu. Selamat menjalani blind date kalian!

Chanyeol hanya tersenyum tipis dan segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia berjalan mendekati gadis itu dan duduk di hadapannya. Merasakan kehadiran seseorang, Hyo Jin menutup buku menunya dan terkejut melihat saat ini justru Chanyeol yang duduk di hadapannya saat ini. Hyo Jin segera mengambil ponselnya dan melihat sudah ada satu pesan yang sedari tadi Min Rin kirimkan padanya.

From : Park Min Rin

Selamat menjalani blind date! Maafkan aku sudah membohongimu kkk~

Sungguh Hyo Jin sangat ingin menjambak rambut Min Rin saat ini untuk melampiaskan kekesalannya. Hyo Jin sudah berdiri dan bersiap untuk pergi namun Chanyeol tiba-tiba menggenggam tangannya dan menatapnya dengan tatapan ‘jangan pergi’.

“Ada yang ingin kukatakan.” ucap Chanyeol sambil terus menggenggam tangan Hyo Jin. Mereka saling bertatapan, Hyo Jin dapat merasakan tatapan Chanyeol yang menyiratkan luka. Cukup lama mereka bertatapan sampai tiba-tiba Chanyeol memeluk Hyo Jin. Hyo Jin hanya diam saja, jujur ia merindukan pelukan hangat dari Chanyeol seperti ini.

“Bisakah kau memberikanku kesempatan kedua?” tanya Chanyeol dengan suara pelan. Hyo Jin hanya terdiam mendengar pertanyaaan Chanyeol. Hyo Jin ingin memberikan kesempatan itu pada Chanyeol, tapi ia juga takut akan tersakiti lagi.

“Aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi. Jika kali ini aku melanggar janjiku, kau bisa menjauhiku dan membenciku.” ujar Chanyeol dengan nada serak. Hyo Jin yakin saat ini Chanyeol sedang menahan tangisnya. Berbeda dengan Chanyeol, Hyo Jin sudah meneteskan air matanya dari tadi. Ia membalas pelukan Chanyeol dan mengangguk dalam pelukan pria yang selama ini ia cintai. Bohong jika Hyo Jin sudah berhenti untuk peduli pada Chanyeol, nyatanya setiap malam ia masih terus memikirkan Chanyeol sampai ia tertidur.

Chanyeol pun sama, tidak sedetikpun Hyo Jin lepas dari pikirannya. Chanyeol baru sadar, Hyo Jin begitu berpengaruh di kehidupannya. Chanyeol melepaskan pelukannya dan mulai mendekatkan wajahnya pada Hyo Jin. Seakan mengerti, Hyo Jin mulai memejamkan matanya. Tidak butuh waktu lama sampai bibir mereka bertautan. Chanyeol melakukannya dengan perlahan dan lembut, menyalurkan rasa cintanya yang begitu besar pada gadis ini. Sungguh, Chanyeol tidak mau lagi merasakan kehilangan gadis ini. Baginya, gadis ini adalah karunia terindah yang pernah hadir dalam hidupnya dan Chanyeol akan menjaganya. Tidak lama, tautan mereka terlepas. Chanyeol kembali memeluk Hyo Jin, melampiaskan perasaan senangnya. Hyo Jin hanya membalas pelukan Chanyeol dan tersenyum senang karena hubungan mereka sudah kembali seperti semula.

“Hyo Jin-ah.”

“Ya?”

Saranghae, jeongmal saranghae.”

Nado saranghae.”

Chanyeol melepaskan pelukannya pada Hyo Jin, membuat gadis itu terpaksa juga melepaskan pelukannya pada pria jangkung itu. Chanyeol meraih tangan kanan Hyo Jin dan meletakkan kalung dari ibu Hyo Jin yang sedari tadi ia pakai. Hyo Jin mengernyit bingung dan menundukkan kepalanya, bermaksud untuk melihat sebuah kalung yang Chanyeol lingkarkan di lehernya. Sedetik kemudian Hyo Jin tersenyum melihat sebuah kalung yang sudah tidak asing lagi baginya, melody necklace yang Chanyeol berikan saat hari pertama mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Chanyeol juga memasang senyum di wajahnya, membuat ketampanannya semakin bertambah.

Kajja, kita pulang.” ajak Chanyeol sambil menggenggam tangan kekasihnya dan mengajaknya keluar dari restoran itu. Namun langkahnya terhenti dan tiba-tiba ia membalikkan badannya sambil menatap Hyo Jin, sementara Hyo Jin hanya menatapnya dengan tatapan bingung. Chanyeol melepaskan genggaman tangannya pada Hyo Jin, melepaskan jasnya, dan memakaikannya pada Hyo Jin. Hyo Jin hanya tersenyum melihat tingkah Chanyeol yang tiba-tiba romantis seperti ini, sungguh bukan sifat seorang Park Chanyeol. Karena merasa sedikit risih dengan kemeja lengan panjangnya, Chanyeol menggulungnya sampai ke siku. Hyo Jin akui jika Chanyeol sangat tampan malam ini. Chanyeol kembali menggenggam tangan Hyo Jin dan berjalan keluar dari restoran itu. Beberapa pelayan yang berada di restoran itu berbisik-bisik namun Hyo Jin masih dapat mendengar ucapan mereka karena suasana restoran yang memang sepi.

“Wah, lihat. Mereka sangat serasi.”

“Seperti pangeran dan putri.”

“Aku jadi iri. Mereka cantik dan tampan, sangat cocok.”

Dan sebagian komentar lainnya yang tidak dapat Hyo Jin dengar. Hyo Jin hanya menyunggingkan senyumnya dan menunduk malu. Hyo Jin yakin Chanyeol juga dapat mendengar komentar dari para pelayan di restoran itu. Tidak seperti Hyo Jin, Chanyeol lebih memilih acuh dan terus menggenggam tangan gadisnya berjalan menuju parkiran. Rasanya Hyo Jin tidak ingin malam ini berlalu begitu cepat.

“Rasanya aku harus berterima kasih pada Min Rin.” gumam Hyo Jin dengan nada pelan namun Chanyeol masih bisa mendengarnya.

“Memangnya kenapa?” Hyo Jin menoleh dan tersenyum singkat

“Dia yang membujukku untuk datang ke restoran tadi.”

Jinjja? Kurasa ia bekerja sama dengan Baekhyun, Baekhyun juga yang menyuruhku ke restoran itu.” Chanyeol tertawa sebentar sebelum melanjutkan perkataannya.

“Aku jadi mengingat blind date pertama kita.”

Hyo Jin juga ikut tertawa mengingatnya. Tentu saja Hyo Jin masih ingat betapa gugupnya dia saat berhadapan dengan Chanyeol begitu juga sebaliknya. Bahkan mereka berdua sangat canggung saat bertemu. Ya, sangat aneh jika seorang Park Chanyeol yang ramah menjadi canggung jika bertemu dengan seseorang, tapi itulah yang terjadi. Dan kali ini, mereka merasa seperti déjà vu karena kembali dipertemukan dengan blind date yang dirancang Baekhyun dan Min Rin. Sepertinya Chanyeol harus mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada Baekhyun karena Baekhyun lah yang sangat berperan dalam urusan asmaranya dengan Hyo Jin. Baekhyun yang memperkenalkan Chanyeol pada Hyo Jin dan Baekhyun juga yang merancang blind date pertama dan kedua mereka kali ini.

***

“Berhenti!” teriak Chanyeol suara serak dan napas terengah. Seluruh murid dan Choi ssaem langsung menolehkan kepalanya dan menatap orang yang baru saja berteriak di tengah pelajaran dengan tatapan bingung. Baekhyun mengutuk kebodohan sahabatnya ini, mengapa tiba-tiba ia berteriak padahal beberapa menit yang lalu Chanyeol tidur dengan sangat pulas? Ingatan Chanyeol baru kembali setelah beberapa saat mengumpulkan ingatannya, ia baru sadar beberapa menit yang lalu tertidur di kelas dan bermimpi buruk. Choi ssaem menatapnya dan berkacak pinggang.

“Apa yang kau maksud berhenti, Tuan Park?” tanya Choi ssaem. Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan berusaha memutar otaknya untuk mencari alasan. Chanyeol menyikut Baekhyun yang duduk di sebelahnya untuk meminta pertolongan namun Baekhyun mengacuhkannya dan berpura-pura menulis rumus yang tertulis di papan tulis. Dalam hati Chanyeol menyumpahi Baekhyun yang bersikap seolah tidak tahu apa-apa saat ini dan tidak membantunya. Bukannya Baekhyun tidak setia kawan, tapi nilainya yang menjadi taruhan jika dia membantu Chanyeol saat ini.

A..aniya ssaem.” jawab Chanyeol dengan cengiran yang menghiasi wajahnya membuat seisi kelas tertawa melihat tingkah Chanyeol termasuk Baekhyun. Kesal melihat Baekhyun yang menertawakannya, Chanyeol segera menginjak kaki Baekhyun yang langsung membuat tawa Baekhyun berhenti dan reflek berteriak. Sedetik kemudian ia segera menutup mulutnya dan merutuki kebodohannya yang baru saja berteriak dan membuat perhatian seluruh kelas termasuk Choi ssaem beralih kepadanya. Berbeda dengan anak lain yang menatap Baekhyun dengan bingung, Chanyeol diam-diam menarik sudut bibirnya dan berusaha untuk menahan tawanya.

“Mengapa kau berteriak, Tuan Byun?” tanya Choi ssaem. Kini giliran Baekhyun yang bingung dan menyikut Chanyeol untuk meminta bantuan. Sama seperti Baekhyun, Chanyeol pura-pura mencatat rumus di papan tulis dan tidak mempedulikan Baekhyun. Bukannya mengikuti cara Baekhyun mengacuhkannya, tapi hanya hal itu yang terpikirkan oleh Chanyeol untuk balas dendam.

“Park Chanyeol dan Byun Baekhyun, silahkan keluar dari kelasku dan jangan kembali sampai jam pelajaranku selesai.”

Baik Chanyeol maupun Baekhyun langsung melongo mendengar perkataan Choi ssaem. Jam pelajaran Choi ssaem masih ada dua jam lagi, apa yang akan mereka lakukan selama dua jam penuh di luar kelas? Chanyeol dan Baekhyun masih belum beranjak dari tempat duduknya membuat Choi ssaem kembali menegur keduanya.

“Cepat keluar dari kelas ini atau kutambah hukuman kalian.” ancam Choi ssaem. Chanyeol dan Baekhyun akhirnya berdiri dan berjalan keluar dari kelasnya. Setelah berada cukup jauh dari kelas mereka, Baekhyun segera memukul kepala Chanyeol yang langsung membuat Chanyeol berteriak kesal karena Baekhyun yang tiba-tiba memukul kepalanya.

“Gara-gara igauanmu itu aku juga dikeluarkan dari kelas.” gerutu Baekhyun kesal. Bagaimana jika ia mendapat nilai D di mata pelajaran Choi ssaem? Dipastikan ia tidak akan lulus dari sekolah itu.

“Ya! Salahmu karena tidak mau membantuku.” omel Chnayeol sambil menjitak kepala Baekhyun. Ah, Chanyeol baru ingat jika tadi ia bermimpi buruk. Entah mengapa, Chanyeol merasa mimpi itu terasa sangat nyata baginya.

“Baekhyun-ah apa menurutmu mimpi bisa menjadi kenyataan?” tanya Chanyeol. Baekhyun mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan konyol Chanyeol.

“Mungkin bisa. Memangnya kenapa?”

“Tadi aku bermimpi sesuatu yang buruk terjadi pada Hyo Jin. Mimpi itu terasa sangat nyata makanya aku berteriak tadi.” jelas Chanyeol. Baekhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu karena bingung.

“Kau, pergi ke kelas Hyo Jin dan pastikan apakah dia ada di kelasnya atau tidak.”

Setelah mengatakan itu, Chanyeol segera berlari meninggalkan Baekhyun. Perasaannya tidak enak dan mengatakan bahwa Hyo Jin dalam bahaya. Sementara Baekhyun hanya menuruti ucapan Chanyeol dengan berlari menuju kelas Hyo Jin. Sesampainya di kelas Hyo Jin, Baekhyun hanya melihat Min Rin dan teman sekelasnya, mereka hanya berdua dan tidak ada Hyo Jin.

“Dimana Hyo Jin?” tanya Baekhyun. Min Rin bahkan sampai terlonjak kaget karena kehadiran Baekhyun yang tiba-tiba.

“Tadi saat di gedung olahraga dia bilang ingin bertemu dengan Chanyeol di atap sekolah. Kau tidak tahu?” tanya Min Rin bingung. Baekhyun mengacak rambutnya frustasi dan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Chanyeol.

“Chanyeol-ah Hyo Jin tidak ada di kelasnya. Apa kau tadi menyuruhnya untuk menemuimu di atap?” tanya Baekhyun setelah Chanyeol mengangkat teleponnya.

Tidak aku tidak mengajaknya ke sana.” jawab Chanyeol dengan napas terengah-engah sambil terus berlari mencari Hyo Jin.

“Cepatlah ke atap.” Setelah mendengar perintah Baekhyun, Chanyeol langsung memutuskan sambungan teleponnya dan berlari menuju atap. Sesampainya di atap, Chanyeol dapat melihat dua orang gadis sedang berbicara. Chanyeol lebih memilih untuk bersembunyi dan melihat apa yang akan mereka lakukan di atap. Tempat persembunyian Chanyeol cukup jauh dari mereka sehingga Chanyeol tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan.

“CHANYEOL HANYA MILIKKU!” teriak salah satu dari mereka. Chanyeol mengepalkan tangannya kuat mendengar teriakan gadis itu, Song Hae Rin. Setelah meneriakkan hal itu, Hae Rin segera berjalan mendekati Hyo Jin dan menjambak rambut pendeknya. Cukup sudah, Chanyeol tidak bisa hanya diam saja melihat gadisnya disakiti oleh orang lain.

“Song Hae Rin, lepaskan Hyo Jin!” teriak Chanyeol sambil berjalan mendekati keduanya.

“Jangan mendekat! Akan kudorong dia jika kau berani mendekat.” ancam Hae Rin yang membuat langkah Chanyeol terhenti. Chanyeol tahu Hae Rin tidak pernah main-main dengan perkataannya. Hyo Jin sudah mulai menangis karena rambutnya yang masih dijambak dengan kuat oleh Hae Rin. Chanyeol semakin mengkhawatirkan Hyo Jin karena Hae Rin menarik Hyo Jin sampai mereka berdua sampai di ujung atap. Chanyeol tahu jika Hyo Jin takut ketinggian, bahkan Chanyeol dapat melihat badan Hyo Jin yang sudah mulai bergetar ketakutan.

“Hae Rin, kumohon lepaskan Hyo Jin.”

“Tidakkah kau mengerti perasaanku Park Chanyeol? Aku mencintaimu tapi kau malah lebih memilih gadis ini. Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak akan ada yang bisa memilikimu!” teriak Hae Rin. Air mata sudah mulai mengalir di kedua pipinya.

“Kumohon, jangan bertindak seperti ini. Kalian berdua bisa mati.”

“Setidaknya gadis ini juga mati. Jadi tidak akan ada yang bisa memilikimu.”

“Kau gila Song Hae Rin!” teriak Chanyeol. Hae Rin hanya tersenyum sinis, namun air mata masih mengalir di kedua pipinya.

“Ya, aku memang gila!” teriak Hae Rin dengan suara serak. Tangannya yang menjambak rambut Hyo Jin mulai melemah. Chanyeol yang melihat kesempatan itu langsung berjalan mendekat dan menarik Hyo Jin agar menjauhi Hae Rin. Bersamaan dengan itu, Baekhyun dan Min Rin serta Jung seonsangnim keluar dari persembunyian mereka. Rupanya mereka sudah sampai dari tadi, namun melihat Hae Rin yang mengancam akan mendorong Hyo Jin mengurungkan niat mereka untuk keluar dari persembunyian. Jung seonsangnim segera membawa Hae Rin dengan paksa walaupun Hae Rin terus meronta. Chanyeol masih berusaha menenangkan Hyo Jin yang masih menangis sesenggukan dalam pelukannya. Baekhyun dan Min Rin pun menatap Hyo Jin dengan tatapan iba.

“Tenanglah, kau sudah aman bersamaku.” Chanyeol terus membisikkan kalimat itu berulang-ulang pada Hyo Jin agar gadis itu berhenti menangis dan tenang. Cukup lama tangis Hyo Jin terdengar, setelah kata-kata menenangkan yang keluar dari mulut Chanyeol akhirnya tangis itu perlahan-lahan berhenti.

Gwaenchana?” tanya Chanyeol dengan lembut dan hanya dibalas dengan anggukan pelan dari Hyo Jin. Chanyeol mengelus pelan puncak kepala Hyo Jin dan mengecupnya, menyalurkan rasa nyaman pada gadis itu.

“Sebaiknya Hyo Jin pulang.” saran Min Rin yang mendapat anggukan setuju dari Baekhyun dan Chanyeol sementara Hyo Jin hanya diam saja. Jika ia membantah juga rasanya percuma, temannya pasti akan tetap memaksanya untuk pulang. Tiba-tiba Chanyeol beranjak dari posisinya yang berada di samping Hyo Jin menjadi berjongkok di depan Hyo Jin yang sedang melempar tatapan bingungnya.

“Naiklah.” Hyo Jin baru mengerti, maksud Chanyeol pasti ia akan menggendong Hyo Jin. Yah sebenarnya kaki Hyo Jin memang sedikit lemas tapi ia masih bisa berjalan dan lagi ia tidak mau menjadi pusat perhatian bagi para siswa jika melihat Chanyeol menggendongnya.

“Tapi-”

“Sudahlah, naik saja. Wajahmu masih tampak pucat.” potong Min Rin dengan cepat sambil sedikit mendorong tubuh Hyo Jin. Hyo Jin hanya menghela napas pasrah dan segera naik ke punggung Chanyeol, tidak lupa ia melingkarkan tangannya di leher Chanyeol.

“Baekhyun-ah tolong urus surat izin kami.” setelah mengatakan itu, Chanyeol segera menggendong Hyo Jin pergi meninggalkan mereka berdua yang masih berada di atap gedung itu.

Aigo, mereka sangat romantis.” puji Min Rin. Jujur saja, Min Rin iri melihat Chanyeol dan Hyo Jin yang sangat romantis, ia juga mendambakan memiliki kekasih seperti Chanyeol yang tampan, baik, dan romantis. Ayolah, itu adalah tipe ideal seorang kekasih menurut semua wanita.

“Apanya yang romantis? Hanya menggendong saja romantis?” tanya Baekhyun yang berhasil membuat wajah Min Rin berubah menjadi cemberut.

“Pria memang tidak mengerti pikiran wanita.” gerutu Min Rin dan meninggalkan Baekhyun yang menatapnya dengan tatapan bingung. Min Rin berjalan kembali ke kelasnya sambil terus sesekali menggerutu. Tidak mengertikah Baekhyun bahwa Min Rin juga ingin diperlakukan seperti itu? Oh tidak, semua wanita pasti ingin diperlakukan seperti itu. Namun berbeda dengan Min Rin, orang yang ia inginkan untuk melakukan itu adalah Baekhyun. Min Rin selama ini memang bersikap biasa saja pada Baekhyun namun sebenarnya hatinya berdegup sangat kencang saat bertemu dengan Baekhyun. Untung saja ia bisa mengontrol sikapnya dengan baik agar tidak gugup di depan Baekhyun.

“Dasar Byun Baekhyun bodoh! Padahal aku sudah memberikan petunjuk padanya tapi dia malah tidak menyadarinya. Bodoh!” umpat Min Rin.

“Aku sudah memberikan petunjuk sejelas itu padanya tapi dia masih tidak mengerti. Aku ingin dia yang melakukannya, dasar Baekhyun bodoh!” lanjut Min Rin sambil terus memasang wajah cemberutnya.

“Siapa yang kau sebut bodoh, huh?”

Pertanyaan barusan membuat langkah Min Rin berhenti. Suara itu, suara yang sangat ia kenal dan berhasil membuat kerja jantungnya dua kali lebih cepat. Min Rin mengutuk kebodohannya karena telah menggerutu di koridor yang sepi seperti ini. Dengan perlahan Min Rin membalikkan badannya dan melihat seseorang yang sedang berjalan ke arahnya itu. Min Rin malah menunduk dan memejamkan matanya karena terlalu takut untuk menatap orang yang saat ini sudah ada di depannya. Baru kali ini Min Rin dibuat kikuk oleh orang yang ada di hadapannya saat ini.

Saranghae, Park Min Rin.” bisik Baekhyun tepat di telinga Min Rin. Min Rin reflek membuka kedua matanya dan mendongakkan kepalanya, mengerjapkan sepasang mata kecokelatan miliknya yang terlihat lucu bagi Baekhyun.

“Bisa kau ulang perkataanmu tadi?” pertanyaan konyol yang muncul dari mulut Min Rin berhasil membuat Baekhyun menahan tawanya. Segugup itukah Min Rin sampai memintanya untuk mengulang kalimat itu?

“Tidak ada pengulangan, nona Park.” wajah Min Rin berubah menjadi cemberut. Baru saja Min Rin akan melayangkan protesnya, Baekhyun sudah lebih dulu mengecup pipi mulusnya yang membuat mulutnya langsung bungkam dan matanya membesar. Baekhyun tersenyum puas melihat Min Rin yang gugup. Tangannya terangkat untuk mengacak pelan rambut panjang Min Rin dan berjalan meninggalkan Min Rin yang masih terdiam di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun.

“Mau sampai kapan kau berdiri di situ?” suara Baekhyun berhasil membuyarkan lamunan Min Rin dan segera berjalan menyusul Baekhyun yang sudah lebih dulu berjalan di depannya. Mereka berdua berjalan dalam diam, tanpa sepatah katapun keluar dari mulut keduanya. Min Rin sendiri terlalu gugup untuk menanyakan kebenaran perasaan Baekhyun padanya.

“Kita harus mengingat tanggal hari ini, hari dimana kita menjadi sepasang kekasih.” ujar Baekhyun sambil merangkul Min Rin yang ada di sebelahnya. Min Rin menolehkan kepalanya ke samping dan melihat Baekhyun yang tersenyum sekarang.

“Kau.. serius?” tanya Min Rin dengan wajah bingungnya. Bukannya menjawab, Baekhyun malah tertawa dan melepaskan rangkulannya pada Min Rin. Baekhyun meletakkan tangan kanannya di atas kepala Min Rin dan mengecup dahi gadis itu.

“Apa kau sudah percaya sekarang?” tanya Baekhyun dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya. Min Rin mengangguk pelan dan langsung memeluk pria yang selama ini ia cintai dalam diam itu. Baekhyun membalas pelukan Min Rin dan makin mempererat pelukan mereka. Sebenarnya sudah cukup lama Baekhyun menyukai Min Rin, tapi melihat sikap Min Rin yang biasa saja bahkan bisa dibilang terlalu cuek dengannya membuat Baekhyun mengurungkan niatnya untuk menyatakan perasaan pada Min Rin. Ya, setidaknya mereka sudah mengetahui perasaan masing-masing. Suara deheman yang cukup keras menyadarkan mereka dan segera melepaskan pelukan itu. Kang seonsangnim sudah berdiri di hadapan mereka sambil berkacak pinggang, sementara Baekhyun hanya menggaruk tengkuknya dan Min Rin menunduk dalam.

“Tuan Byun dan Nona Park, bersihkan gedung olahraga sekarang!”

***

“Kau harus kembali ke sekolah.”

Shirreo.”

Hyo Jin mendengus kesal karena mendengar penolakan yang entah yang keberapa kalinya dari mulut Chanyeol. Setelah mengantarkan Hyo Jin pulang, Chanyeol malah bermalas-malasan di rumahnya dan tidak mau kembali ke sekolah. Alasannya adalah ia khawatir dengan Hyo Jin dan akan menjaga Hyo Jin. Tapi dari sikapnya yang malah tidur-tiduran di sofa tidak menunjukkan sama sekali kekhawatirannya pada Hyo Jin. Hyo Jin yakin Chanyeol hanya mencari alasan agar ia tidak kembali lagi ke sekolah.

“Yasudah kalau tidak mau. Aku mau ke kamar.” Hyo Jin berdiri dan berjalan meninggalkan Chanyeol yang saat ini masih tiduran di sofa. Dengan segera Chanyeol merubah posisinya menjadi duduk dan menarik tangan Hyo Jin agar tidak pergi. Tidak lupa ia mengeluarkan tatapan memelasnya agar Hyo Jin mau menurutinya. Hyo Jin berdecak kesal dan duduk di samping Chanyeol, membuat sebuah senyum tersungging di wajah tampannya. Chanyeol meletakkan kepalanya di bahu Hyo Jin, membuat Hyo Jin menoleh dan menatap Chanyeol yang saat ini tengah memejamkan matanya. Hyo Jin tersenyum dan mengacak pelan rambut hitam milik kekasihnya itu. Tidak ada reaksi, hanya sebuah senyum yang menghiasi wajah Chanyeol dan mata yang masih terpejam.

“Ehm.. oppa.” panggil Hyo Jin dengan nada lembut. Chanyeol sempat heran mendengar Hyo Jin yang memanggilnya dengan lembut dan sebutan oppa. Sangat jarang Hyo Jin memanggilnya seperti itu karena memang perbedaan usia mereka hanya satu bulan saja. Chanyeol terlalu malas untuk menjawab, ia hanya berdehem sebagai tanda ia mendengar panggilan Hyo Jin.

“Tadi kau bilang akan mengabulkan semua permintaanku hari ini kan?” tanya Hyo Jin hati-hati. Chanyeol kembali berdehem dan masih meletakkan kepalanya di bahu Hyo Jin. Memang saat di perjalanan pulang tadi Chanyeol berjanji akan mengabulkan semua permintaannya hari ini. Hyo Jin menggigit bibir bawahnya, ragu akan mengatakan permintaannya atau tidak. Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Hyo Jin memberanikan dirinya untuk mengatakan permintaannya pada Chanyeol.

“Aku ingin.. mengantar Sehun.” Hyo Jin sedikit terbata saat mengucapkannya karena takut Chanyeol akan marah. Chanyeol langsung mengangkat kepalanya dari bahu Hyo Jin dan menatap kekasihnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Jujur saja, Chanyeol sedikit sensitif saat mendengar nama Oh Sehun. Rasanya ia ingin melayangkan tinjunya lagi pada wajah putih pria itu. Hyo Jin menyatukan kedua tangannya di depan dada dan menatap Chanyeol dengan tatapan memelas.

“Kumohon. Dia akan berangkat ke Kanada dan kecil kemungkinan dia akan kembali ke Korea.” pinta Hyo Jin dengan nada memelasnya. Dalam hati Chanyeol merutuki janji bodoh yang ia ucapkan tadi.

“Baiklah, aku akan mengantarmu.” senyum langsung mengembang di wajah Hyo Jin saat mendengar persetujuan dari Chanyeol. Bahkan Hyo Jin langsung memeluk Chanyeol dengan erat untuk mengekspresikan rasa senangnya.

“Hyo Jin-ah kau bisa membunuhku.” buru-buru Hyo Jin melepaskan pelukannya pada Chanyeol dan memasang senyum tanpa dosa di wajahnya.

“Tapi ada satu syarat.” senyum di wajah Hyo Jin langsung hilang digantikan wajah cemberutnya. Berbeda dengan Hyo Jin, Chanyeol justru menampilkan smirk yang membuat Hyo Jin bergidik ngeri melihatnya.

Poppo.” Hyo Jin langsung menggeleng cepat mendengar permintaan konyol Chanyeol.

“Yasudah tidak jadi.” ujar Chanyeol santai sambil memejamkan kedua matanya dan membalikkan badannya agar membelakangi Hyo Jin. Hyo Jin mengacak rambutnya frustasi, jika Chanyeol sudah marah seperti ini akan sulit untuk membujuknya. Ia melirik jam yang menggantung di dinding, satu jam lagi jadwal keberangkatan Sehun.

“Baiklah, baiklah.” Chanyeol segera mengembangkan senyumnya dan berbalik untuk menatap Hyo Jin. Buru-buru ia merubah posisi tidurannya menjadi duduk dan menepuk bagian sofa yang kosong di sebelahnya untuk Hyo Jin tempati. Hyo Jin hanya berjalan pasrah dan duduk di sebelah Chanyeol. Hyo Jin memajukan wajahnya dan mengecup bibir Chanyeol. Saat akan melepaskan ciumannya, Chanyeol malah menahan tengkuknya dan melumat pelan bibir mungil Hyo Jin. Hyo Jin hanya mengikuti permainan bibir Chanyeol saja sementara tangannya yang entah sejak kapan sudah melingkar di leher Chanyeol.

“Ekhem..”

Suara deheman yang cukup keras itu langsung membuat keduanya tersadar dan melepaskan tautan mereka. Seorang pria yang berdiri di hadapan mereka tampak tidak asing bagi Chanyeol. Sepertinya Chanyeol pernah melihat pria ini, entah dimana. Yah ingatannya cukup buruk sehingga cukup lama ia berpikir tentang dimana ia melihat pria ini.

“Minseok hyung?” pria itu langsung melemparkan senyumnya pada Chanyeol. Dalam hati Chanyeol bersyukur karena masih bisa mengingat nama orang di depannya ini dengan tepat. Sementara Hyo Jin mengerutkan keningnya bingung, bagaimana bisa Chanyeol mengenal Minseok?

“Kalian saling mengenal?” tanya Hyo Jin dan keduanya mengangguk. Minseok langsung mengambil tempat di samping Hyo Jin dan menghempaskan tubuhnya di sofa.

“Aku mengenal kakak Chanyeol, dulu aku sering bermain ke rumahnya dulu.” jelas Minseok. Hyo Jin hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Sepertinya kau kekasih sepupuku yang kekanakan dan cengeng ini ya?” tanya Minseok sambil merangkul Hyo Jin. Chanyeol hanya mengangguk pelan sambil tersenyum menjawab pertanyaan Minseok. Hyo Jin segera mencubit tangan Minseok yang saat ini tengah merangkulnya, tentu saja ia kesal saat dibilang kekanakan dan cengeng. Minseok buru-buru melepaskan rangkulannya pada Hyo Jin dan mengelus tangannya yang sedikit memerah karena cubitan Hyo Jin. Minseok segera mencubit pipi Hyo Jin dan berlari menuju ke lantai dua meninggalkan mereka. Hyo Jin mendengus kesal dan mengelus pipi mulusnya yang baru saja dicubit sementara Chanyeol hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua. Tiba-tiba ponsel Hyo Jin bergetar, buru-buru Hyo Jin merogoh saku roknya dan melihat siapa yang mengirimkan sms.

From : Oh Sehun

Kau dimana? Apa kau tidak datang?

Hyo Jin buru-buru melihat jam yang menggantung di dinding, matanya membola melihat waktu keberangkatan Sehun tinggal 30 menit lagi. Tidak ada waktu lagi untuk mengganti seragam sekolah yang masih ia kenakan, ia harus segera sampai di bandara sebelum terlambat.

“Chanyeol-ah ayo kita pergi sekarang, palli.”

“Kemana?”

“Ke bandara. Cepatlah, jika tidak kita akan terlambat.”

***

Pria berkulit putih itu masih terduduk sambil memandang sebuah foto dalam genggamannya. Tidak jarang ada beberapa wanita yang melewati pria itu sambil memandang kagum karena ketampanannya, bahkan ada yang memanggil dan menggodanya. Bukan Oh Sehun jika menanggapi para wanita yang menggodanya, ia hanya diam dan terus menatap foto dalam genggamannya tanpa sedikitpun mengangkat kepalanya dan menanggapi para wanita yang menggodanya. Dalam foto itu terdapat seorang laki-laki yang memamerkan senyum tipisnya dan seorang perempuan yang menyunggingkan senyum manisnya, senyum yang mampu membuat laki-laki di sampingnya jatuh cinta. Sehun tersenyum miris memandang foto itu, ia tidak akan bisa melihat senyum manis Hyo Jin lagi dalam beberapa tahun ke depan atau mungkin memang tidak akan bisa kembali melihat senyum yang sudah menggetarkan hatinya itu.

Bukan keputusan Sehun untuk pergi melainkan perintah ayahnya yang mengharuskan Sehun untuk pergi meninggalkan orang yang ia cintai. Sehun sudah diberi kepercayaan dari ayahnya untuk mengurusi perusahaan ayahnya yang ada di Kanada dan sebelum waktu itu tiba, Sehun akan melanjutkan kuliahnya di Kanada dan mempelajari berbagai pelajaran tentang bisnis. Tentu Sehun tidak bisa menolak, selama ini ayahnya sudah menuruti keinginannya dan ini kali pertama ayahnya meminta sesuatu pada Sehun. Dengan sangat terpaksa Sehun mengiyakan permintaan ayahnya meskipun mengorbankan perasaannya. Toh, dengan berlama-lama di sini juga tidak ada gunanya, Sehun akan tetap menjadi sahabat Hyo Jin dan itu justru membuat Sehun lebih sulit untuk menghapus rasa cintanya pada gadis itu. Mungkin saja dengan kepergian Sehun ke Kanada bisa menghapus rasa cinta itu perlahan-lahan. Sehun melirik jam tangan yang melingkar di tangannya, sudah sepuluh menit yang lalu Sehun mengirimkan pesannya pada Hyo Jin namun tidak mendapatkan balasan dari gadis itu. Apa gadis itu lupa? Dua puluh menit lagi Sehun akan meninggalkan Korea dan kemungkinan besar ia tidak akan kembali lagi ke Korea. Sehun sangat berharap jika Hyo Jin menepati janjinya untuk datang dan bertemu untuk terakhir kalinya. Kepalanya terangkat untuk melihat sekeliling, berharap jika perempuan yang ia cari ada di sekitarnya.

Sehun menghembuskan napas kecewa karena tidak melihat Hyo Jin di sekelilingnya atau dimanapun. Sehun meyakinkan hatinya bahwa Hyo Jin pasti datang dan tidak melanggar janjinya walaupun hatinya sudah lelah berharap. Sambil menunggu, Sehun mengambil ponsel yang ada di saku jaketnya dan membuka galeri fotonya. Di dalam ponselnya, terdapat banyak foto-foto Hyo Jin dan Sehun. Senyumnya mengembang saat melihat sebuah foto dimana Sehun sedang mencubit pipi Hyo Jin dan juga Hyo Jin yang mencubit pipi Sehun, keduanya memang tampak seperti seorang kekasih. Sayangnya, Sehun tidak seberuntung itu, Chanyeol lah yang sangat beruntung mendapatkan gadis seperti Hyo Jin. Kegiatan Sehun terus berlanjut sampai sebuah suara yang mengumumkan bahwa pesawat keberangkatan Korea-Kanada akan lepas landas lima menit lagi.

“Kenapa kau tidak datang? Kenapa kau melanggar janjimu?” gumam Sehun dengan lirih. Sehun kembali menghembuskan napas kecewa, setelah itu ia segera berdiri dan menarik sebuah koper besar yang sedari tadi sudah ada di depannya.

“Oh Sehun!”

Teriakan itu membuat langkahnya berhenti dan segera membalikkan badannya. Sebelum sempat melihat siapa yang memanggilnya, sebuah pelukan dari seseorang sudah menyambutnya. Sehun merasa lega melihat siapa yang saat ini memeluknya dan membalas pelukan orang itu. Tentu saja Sehun dapat mengenali orang ini dengan mudah, selain karena rambut pendeknya juga karena seragam sekolah yang masih gadis itu kenakan. Dapat Sehun rasakan Hyo Jin memeluknya dengan sangat erat seakan tidak ingin melepaskannya barang sedetikpun. Sehun mengelus rambut pendek Hyo Jin dan mulai melepaskan pelukan mereka. Sebenarnya Sehun tidak ingin melepaskan pelukan Hyo Jin namun karena waktu yang mendesak lah yang memaksanya untuk melepaskan pelukan itu. Selain itu juga karena Chanyeol yang sudah datang dan berdiri di samping Hyo Jin.

“Aku senang kau datang.” ungkap Sehun dengan senyum tulusnya. Berbeda dengan Sehun, Hyo Jin justru menangis.

“Apa kau benar-benar akan pergi?” tanya Hyo Jin di sela-sela tangisnya. Sehun tersenyum menenangkan dan menghapus air mata yang terus mengalir di pipi Hyo Jin.

“Teruslah menjadi Hyo Jin yang aku kenal, okay?” Sehun mengelus puncak kepala Hyo Jin dan mengecup puncak kepalanya. Hyo Jin hanya mengangguk sambil berusaha mengontrol air matanya agar tidak mengalir lagi. Sehun beralih pada Chanyeol yang saat ini tengah memandangnya dengan tatapan datar.

“Kau menang. Jagalah dia. Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan merebutnya darimu.” ucap Sehun sambil menyunggingkan senyum tipisnya pada Chanyeol. Chanyeol mengangkat tangannya dan merangkul Hyo Jin agar lebih mendekat ke arahnya.

“Tanpa kau ingatkan, aku akan menjaganya.” ujar Chanyeol dengan wajah datarnya. Sehun kembali mengalihkan pandangannya pada Hyo Jin, gadis itu sudah tidak menangis lagi sekarang.

“Nah, aku pergi dulu.” pamit Sehun dan mengecup pipi Hyo Jin dengan cepat. Setelah itu, ia langsung menarik kopernya dan sedikit berlari. Hyo Jin hanya bisa membesarkan matanya saat tahu Sehun mencium pipinya. Sepertinya Sehun menguji kesabaran Chanyeol hari ini, tadi sudah mengecup kening kekasihnya dan sekarang mencium pipi Hyo Jin? Jika Chanyeol sudah tidak bisa mengontrol emosinya sudah pasti sebuah tinju sudah bersarang di wajah tampan Sehun.

Hyo Jin mengangkat kepalanya agar dapat menatap Chanyeol yang memang lebih tinggi darinya, wajah Chanyeol hanya menunjukkan ekspresi datar. Hyo Jin tahu jika Chanyeol memasang ekspresi seperti itu berarti ia sedang marah. Hyo Jin menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu dan menggigit bibir bawahnya, hal biasa yang ia lakukan jika sedang bingung. Hyo Jin terkejut dengan pergerakan Chanyeol yang tiba-tiba berbalik dan berjalan meninggalkannya. Buru-buru Hyo Jin mengikuti langkah panjang Chanyeol dengan sedikit berlari agar bisa menyamai langkah panjang pria jangkung itu.

“Cih, seenaknya saja mencium calon istriku.” cibir Chanyeol. Hyo Jin mengerutkan keningnya bingung dan tanpa sadar menghentikan langkahnya, hanya menatap Chanyeol yang masih terus berjalan. Merasa Hyo Jin tidak lagi di sampingnya, Chanyeol berbalik dan menatap Hyo Jin yang saat ini berdiri cukup jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Chanyeol berjalan mendekati Hyo Jin, menggandeng lengannya dan kembali berjalan menuju parkiran.

“Apa maksudmu calon istri?” tanya Hyo Jin setelah cukup lama mereka terdiam. Hyo Jin memang sedikit bingung dengan perkataan Chanyeol yang menyebutnya dengan sebutan calon istri.

“Memangnya kenapa, calon istriku?” tanya Chanyeol dengan santai sambil merangkul Hyo Jin yang ada di sampingnya.

“Seenaknya saja memanggilku-”

“Menikahlah denganku.” potong Chanyeol dengan cepat. Hyo Jin langsung menghentikan langkahnya dan diikuti Chanyeol yang juga berhenti. Chanyeol menggenggam kedua tangan Hyo Jin dengan erat dan menatap Hyo Jin dengan tatapan seriusnya.

“Aku serius. Lee Hyo Jin, menikahlah denganku. Aku berjanji akan membahagiakanmu selamanya.” ucap Chanyeol dengan nada seriusnya. Hyo Jin yakin seratus persen jika Chanyeol tidak bermain-main dengan kata-katanya saat ini. Setetes air mata mengalir setelah Hyo Jin menganggukkan kepalanya, membuat Chanyeol senang bukan main. Mungkin Chanyeol orang yang paling beruntung sedunia karena bisa mendapatkan Hyo Jin. Chanyeol segera menghapus air mata yang mengalir di pipi Hyo Jin dan meraih gadis itu dalam pelukannya, memeluk Hyo Jin dengan sangat erat adalah cara Chanyeol melampiaskan kebahagiaannya.

“Chanyeol, kau akan membunuhku.” buru-buru Chanyeol melepaskan pelukannya dan memasang cengiran bodoh di wajahnya sementara Hyo Jin mendengus kesal melihat wajah Chanyeol yang memasang ekspresi bodoh dan tidak berdosa seperti itu.

“Kau tidak romantis, melamarku saat di bandara.” gerutu Hyo Jin sambil mengerucutkan bibirnya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Chanyeol langsung menempelkan bibirnya dengan bibir Hyo Jin. Hanya satu detik, setelah itu ia langsung menjauhkan wajahnya dan melihat Hyo Jin yang masih mengerjapkan matanya dan semburat merah mulai muncul di kedua pipinya.

“Yang penting kau mencintaiku.”

Chanyeol tersenyum puas setelah mengatakan itu dan membuat pipi Hyo Jin menjadi bertambah merah. Chanyeol berjanji, ia tidak akan menyakiti malaikatnya yang satu ini karena Hyo Jin begitu berharga dan terlalu sulit untuk dilepaskan.

END

Gimana?? Komentar, kritik dan saran kalian aku tunggu. Lanjutnya kelamaan? Maaf ya soalnya aku belakangan lagi sibuk kencan sama tugas dan pr yang luar biasa numpuk-_-

Mungkin ada beberapa yang bingung maksud melody necklace apa, melody necklace yang aku maksud itu kalung yang dipake chanyeol di exo next door. Entah kenapa aku suka banget sama kalung itu jadi aku masukin ke FF ini :3

Ada yang kepo sama dress yang dipake sama Hyo Jin waktu blind date? Aku terinspirasi waktu ngeliat dress ini nih :3

Oiya kalo misalnya di bagian deket endingnya itu feelnya nggak dapet mohon maaf yah soalnya waktu ngetik entah kenapa tiba-tiba hilang feel nya jadi buyar idenya._. tapi dari FF aku yang sebelumnya, FF ini yang paling cepet aku ketik karena ide yang muncul tiba-tiba dan mengalir gitu aja (halah-_-) Terus juga kalau mau manggil aku jangan manggil thor ya, nggak enak didenger menurut aku. Berhubung aku 00 line, kalian bisa panggil dea aja kok. Sekian dulu deh ceritanya, big thanks untuk yang sudah baca karya aku^^ *bow*

6 respons untuk ‘Blind Date [2/2]

  1. feel nya dapet banget, bagus gus banget ceritanya, keep writing ya, aku tunggu cerita selanjutnya tentang park chanyeol.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s