Sequel of Pearl

for-ff-project

Tittle: [Sequel of Pearl]

Author: LyWoo

Lenght: Oneshoot

Genre: Fantasy, mystery, school life, etc.

Rating: General

Main Cast: Park Eunmi [OC], Xi LuHan [EXO-M]

Other Cast: Kim Jongdae [EXO-M], Shin Hyerin [OC]

Disclaimer: Ini 100% murni hasil imajinasiku. Mohon maaf apabila ada kesamaan ide cerita dan sebagainya dengan ff lain. Tapi semoga gak ada ya… FF ini baru pernah dipost di sini dan di blogku LywooFanfictionWorld. Kalo menemukan ff ini di tempat lain dengan nama Author yang berbeda, berarti itu PLAGIAT. Tolong informasikan ke Author.

Author’s Note: PLAGIATOR? Go away! And please, jadi reader’s yang baik dengan meninggalkan jejak setelah membaca ^^

BACA DULU -> PEARL

****Happy Reading****

Ini sudah lewat seminggu sejak kejadian aneh itu. Dan aku selalu memakai kalung mutiara itu kemana pun aku pergi.

Saat ke sekolah, aku menutupinya di balik seragamku. Dan saat pergi ke mini market dekat rumahku, aku akan mengenakan hoodie tidak peduli seberapa panas cuaca saat itu. Yah, tidak mungkin ‘kan aku memperlihatkan kalung ini ke orang banyak? Aku bisa saja dikira pamer, atau menjadi target pencurian.

Lalu kenapa tidak kutinggalkan di rumah saja? Tidak terima kasih, aku tidak ingin hantu itu datang dan marah karena aku tidak mengikuti permintaannya.

Hari ini, aku tiba sekolah tidak pada waktunya. Hanya terlambat 5 menit. Tapi terlambat tetap terlambat bukan? Kang seonsaengnim1 dengan senyuman           seringaian     memberikan setumpuk soal matematika untuk kukerjakan. Dan soal itu harus selesai dan diletakkan di mejanya hari ini. HARI INI JUGA. Ukh, sial sekali.

“Ck, poor uri Eunmi. Sepertinya kau akan berada di sini sampai tengah malam,” ucap Jongdae dengan nada menakut-nakuti yang terdengar amat-sangat menyebalkan di telingaku.

“Ukh, diamlah! Aku harus fokus dan menyelesaikan ini secepatnya. Dan aku tidak mau bermalam di sekolah berhantu ini hanya karena tugas bodoh ini!” aku berteriak frustasi padanya.

“Woo… santai, Eunmi-ya. Mungkin kau bisa bertemu Luhan jika kau bermalam di sini. Bukankah dia tampan?”

“Berisik. Memang kau tahu dari mana dia tampan? Kau pernah lihat, huh?” balasku sambil mencoba tetap fokus mengerjakan tugasku.

“Kau yang bilang, bukan?” Jawabnya sambil mengendikkan bahu.

Untuk beberapa menit, keadaan di kelas ini sangat tenang. Yang terdengar hanya suara detak jam, kertas yang dibalik, dan goresan pensil di atas kertas.

“Uh-oh!” Tiba-tiba Jongdae meloncat dan berdiri dari kursinya sambil memegang ponsel di tangannya. Aku meliriknya kesal karena dia sangat menganggu. “Bagaimana kalau kita cari foto dan data Xi Luhan?” ajaknya.

Aku melebarkan mata. “Mwoya?”

“Ya. Aku bisa membobol data siswa-siswi di sekolah ini karena baru saja Hyerin memberitahu caranya!” ucapnya dengan semangat.

“Kau yang memaksanya untuk memberitahu, ‘kan?”

Dia mengangguk semangat. Lalu kembali duduk dan mengetikkan sesuatu di ponselnya.

“Nah! Ini dia foto dan data Xi Luhan! Lihat, lihat!”

Ia menunjukkan ponselnya padaku. Aku mengernyit. Dia Xi Luhan?

Dengan jantung berdebar, aku membaca datanya. Namanya memang Xi Luhan. Tapi kenapa… wajah mereka berbeda?

“Kenapa kau diam? Apa dia lebih tampan daripada saat menjadi hantu?” tanya Jongdae bingung melihat wajahku yang mungkin terlihat aneh. “Atau warna kulitnya berbeda? Kau tahu kalau hantu itu kulitnya lebih atau sangat pucat.”

Aku menelan ludahku gugup. Lalu menatap Jongdae. “Di… dia bukan Xi Luhan yang aku temui.”

Mata Jongdae melebar. Lalu ia berteriak tepat di telingaku dengan suaranya yang benar-benar berisik. “HAH?! BAGAIMANA BISA?! SATU-SATUNYA XI LUHAN DI DUNIA INI YA HANYA DIA!”

Aku menutup telingaku dengan kedua tanganku. Lalu menatapnya tajam. “Mana kutahu? Dia tidak seperti yang kulihat.”

“Lalu bagaimana Xi Luhan yang kau lihat, eoh?” tanyanya.

“Matanya teduh dan sipit, lalu rahangnya tegas,” jawabku sambil memejamkan mata, mengingat wajahnya.

Jongdae meletakkan telunjuknya di keningnya, pose berpikir. “Ah! Ini sulit! Bagaimana kalau kita lihat satu-persatu foto siswa yang bersekolah di sini?” usulnya.

“Kau gila?! Tidak. Aku tidak punya waktu untuk itu. Aku harus menyelesaikan ini,” tolakku lalu kembali mengerjakan tugasku.

“Baiklah. Biar aku yang cari dan akan kuperlihatkan yang menurutku mirip seperti yang kau katakan.”

Heol. Dasar kurang kerjaan. Sebenarnya apa urusannya dengan itu sih? Dasar Jongdae. Dia sangat suka ikut campur urusan orang. Kenapa dia tidak pulang saja, sih? Padahal ini sudah malam.

Beberapa waktu berlalu dengan hening. Kami sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku melihat jam tanganku. Ugh, sial. Ini sudah pukul 8 malam dan aku masih punya 102 soal untuk dikerjakan.

Yaa,” Jongdae menepuk bahuku.

Aku menatapnya kesal karena ia menganggu pekerjaanku untuk yang kesekian kalinya. “Mwo!”

Ia memperlihatkan ponselnya. Dan di sana terdapat banyak foto namja dengan seragam sekolah kami.

“Carilah Xi Luhan yang kau lihat. Aku penasaran kenapa anak itu menyamar sebagai Xi Luhan yang jelas-jelas sudah tidak ada.”

“Tapi tugasku             

“Aku akan mengerjakannya!” ia menarik buku tugasku.

Aku tersenyum kecil. Ternyata Jongdae baik juga. “Gomawo, Jongdae-ya,” ucapku lalu mulai memperhatikan foto-foto itu.

Wow. Aku tidak tahu kalau di sekolah kami ada banyak namja yang tampan. Yah, apa ini karena aku yang selalu tinggal di kelas dan satu-satunya temanku hanya Jongdae?

Sudah hampir ratusan foto kuperhatikan, namun tidak satu pun aku temukan foto Xi Luhan yang kutemui.

Mataku sudah cukup lelah, aku tidak pernah melihat ponsel dalam waktu selama ini. Apalagi meneliti wajah siswa satu-persatu. Mataku bekerja berkali lipat dari biasanya. Bagaimana bisa tadi Jongdae memilihnya dengan cepat, ya?

“Bagaimana? Sudah ketemu?” tanya Jongdae. Ia masih mengerjakan tugasku yang kulihat masih tersisa 70-an lagi.

Aku menggeleng putus asa. Namun ketika kembali mencari, mataku melebar ketika menemukan foto Xi Luhan.

“Aku dapat!” seruku keras. Lalu memperlihatkannya pada Jongdae.

“Dia yang kau temui?” tanya Jongdae memastikan. Aku mengangguk semangat. “Oh Sehun, kelas 1-B. Wah, bagaimana bisa seorang bocah menyamar menjadi Xi Luhan?”

“Oh Sehun?” ulangku. “Apa aku baru saja ditipu hoobae-ku sendiri?”

“Hahahah. Sabar, ne. Aku yakin dia punya alasan.”

“Ish, menyebalkan.”

Drrttt…

Jongdae memeriksa ponselnya lalu melirikku dan menghela napasnya berat.

“Eunmi-ya. Kurasa aku harus pulang. Ibu mengatakan kalau kami akan berangkat ke Incheon malam ini.”

“Jadi kau tidak sekolah besok?”

“Ya. Nanti aku akan menitipkan surat izinku pada ibumu untuk kau berikan pada seonsaengnimbesok pagi. Oke, aku pulang dulu. Hati-hati dengan hantu palsu dari Xi Luhan. Hahah!”

YAA! KIM JONGDAE!” teriakku kesal. Dia lalu berlari dan menghilang di balik pintu kelas. “Huft, aku harus cepat menyelesaikannya.”

Suasana terasa mencekam saat ini. Yang terdengar hanya suara detak jam dinding. Huft, seharusnya aku membawa ponsel hari ini. Jadi aku bisa mendengarkan lagu untuk menghilangkan suasana sunyi yang mencekam ini. Aku menyesal karena sudah mengharapkan Jongdae pulang.

“Uh… Kenapa Jongdae pulang, sih? Apa dia tidak kasihan padaku,” gumamku sambil terus mengerjakan soal yang ugh, sial. Ini sulit sekali.

Tak!

Aku membanting pensil di atas meja dan melipat kedua tangangku. Lalu menenggelamkan kepalaku di sana. Memejamkan mataku yang terasa lelah.

Beberapa menit berlalu. Aku masih enggan berganti posisi. Aku benar-benar lelah dan butuh tidur saat ini.

Puk

Aku merasakan kepalaku ditepuk oleh sebuah tangan. Tubuhku membeku. Tanganku berkeringat dingin.

Ya Tuhan… Apa ini tangan Oh Sehun si bocah menyebalkan yang menyamar menjadi Xi Luhan? Atau dia benar-benar Xi Luhan sungguhan dalam wujud hantu?!

Rasanya aku ingin lenyap saja dari dunia ini.

Dengan perlahan, kuangkat kepalaku untuk melihat siapa yang menepuk kepalaku.

“Huah!” teriakku kaget lalu menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.

Bagaimana mungkin? I-itu sungguhan Xi Luhan? Bukan Oh Sehun?

“Jangan takut, aku di sini hanya mau membantumu untuk mengerjakan tugasmu.”

A-apa? Yang benar saja. Mana mungkin hantu baik seperti dia?

Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya aku bertanya padanya tanpa berani melihatnya. “Apa kau hantu?”

Dia terkekeh. “Kalau ya, memang kenapa? Kau takut?”

Gila. Bagaimana bisa aku berbincang dengan seorang hantu?

“Baiklah, aku akan mengerjakan tugasmu walau kau menolak sekali pun,” lalu aku mendengar suara kertas yang dibalik dan goresan pensil.

Aku masih terdiam dengan posisi yang sama. Menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Kubuat celah sedikit di antara jariku, dan aku dapat melihat wajah Xi Luhan yang berada tepat di depanku. Dia sedang fokus mengerjakan tugasku.

Ya Tuhan… Bagaimana bisa ada hantu yang setampan dirinya?!

“Sudah berani melihat, hm?” tiba-tiba saja mata kami saling bertemu pandang.

Aku membeku. Lalu perlahan dengan kikuk, kuturunkan kedua telapak tanganku.

“Um… Gomawo,” ucapku pelan sambil menatap kosong meja di hadapanku. Tidak berani untuk menaikkan tatapanku dan melihat Luhan.

“Bukan masalah. Tugas ini sangat mudah,” balasnya. Ugh, sombong sekali dia.

“Benarkah? Kalau begitu, kau bisa mengerjakannya untukku sampai habis?” tanyaku sekaligus memohon.

Ia terkekeh. “Tentu,” jawabnya. “Anything for youMy Princess.”

Pipiku bersemu merah mendengar ucapan terakhirnya. Ugh, apa dia sedang menggodaku?

“Nah! Sudah selesai.”

Aku mengangkat kepalaku. “Mwo?! Cepat sekali?” seruku tidak percaya.

Ia mengangkat tugasku. “Kau tidak percaya? Lihat. Sudah semua. Ayo, kita ke suatu tempat.”

“Suatu tempat? Kau tidak bermaksud membawaku ke duniamu, bukan?” tanyaku ketakutan.

Dia tersenyum. “Tentu tidak, manis. Kita akan mencari cara agar kau bisa pulang dengan selamat.”

“Memang kau tidak mengantarku?” tanyaku sambil membereskan mejaku. Lalu memakai tasku dan memeluk buku tugas yang harus kuletakkan di meja Kang seonsaengnim.

Dia terkekeh lalu mengacak rambutku pelan. “Apa kau baru saja memintaku untuk mengantarmu?”

Pipiku lagi-lagi bersemu merah. “A-aniyo11. Maksudku         

“Sayangnya aku tidak bisa. Mianhae. Tapi tenang saja, aku bisa menyuruh seseorang untuk mengantarmu dengan selamat.”

Nan arra. Tapi kita perlu ke ruang guru dulu.”

“Bukan masalah. Kajja,” lalu ia menggenggam sebelah tanganku dan membawaku berjalan di koridor sekolah yang sepi dan menakutkan.

Koridor sekolahku memang hanya diberi beberapa lampu di malam hari. Lampunya hanya mampu menerangi sebagian jalan. Bagian dekat dinding sangat gelap.

“Apa kau takut?” Luhan bertanya.

MwoA-aniyo. Aku hanya               

“Wajar jika kau takut. Kau kan seorang perempuan.”

Dasar bodoh. Untuk apa sih dia menanyakan hal semacam itu? Tidak berguna sama sekali.

Kami tiba di ruang guru. Pintunya tidak terkunci, dan dengan mudah aku masuk dan menyalakan lampu. Lalu mencari meja Kang seonsaengnim dan meletakkan buku tugasku di sana.

Saat aku kembali, aku tidak menemukan Luhan. Padahal tadi ia menunggu di depan pintu.

Aku ketakutan. Bagaimana ini? Kakiku bahkan terasa membatu dan sulit digerakkan.

Berjalan di koridor seperti itu seorang diri? Heol. Lebih baik aku tinggal di ruangan ini dengan lampu yang terang. Dengan tubuh gemetar, aku berjalan ke pojok ruangan. Lalu menekuk kedua lututku dan menenggelamkan kepalaku di sana.

Tak apalah aku tinggal di sini sampai pagi. Setidaknya lampu menyala terang di ruangan ini.

Setelah beberapa lama dalam posisi itu, aku mendapat ide. Lalu aku bangkit dan berlari menuju meja Kang seonsaengnim. Aku bisa menelpon Ibu untuk menjemputku dengan telepon di meja itu.

Klik

Tiba-tiba saja lampu mati. Tubuhku berkeringat dingin. Tanganku yang tengah mengangkat gagang telepon terhenti di udara.

Lalu beberapa saat kemudian, aku merasakan sepasang tangan melingkar di pinggangku. Wangi parfum yang maskulin pun memenuhi indra penciumanku.

“Tenanglah, manis. Ayo kuantar kau pulang,” ucap sosok yang memeluk tubuhku dari belakang.

Napasku tercekat. “Siapa kau?” tanyaku takut. Aku benar-benar benci mataku yang sangat lemah dalam keadaan gelap.

“Luhan hyung  memintaku mengantarmu.”

“K-kutanya siapa kau?!”

“Wow. Tidak perlu marah,” ia mengambil gagang telepon di tanganku lalu mengenggam tanganku dan menuntun jalanku.

Aku yang ketakutan tidak berkutik dan mengukutinya tanpa berpikir hal yang lain.

Hingga sampai di koridor yang diterangi sedikit lampu, aku bisa melihat wajahnya. Rahangku mengeras melihat siapa orang yang menggenggam tanganku saat ini.

“Lepaskan aku!” kuhempaskan tanganku dari tangannya. “Sial, kau Oh Sehun murid kelas 1 kan?!”

Dia menatapku dan terkekeh. “Hahaha. Calm downbaby,” ucapnya lalu mengacak rambutku dengan ekpresi wajah yang amat sangat menyebalkan bagiku.

YAA! Kau     

“Apa kau mau kutinggalkan sendiri di sini?” ancamnya. Aku bisa melihat seringai tipis yang sialnya terlihat tampan menghiasi wajahnya.

Aku membeku. Ugh, sial.

Tiba-tiba ia menunduk dan berbisik di telingaku. “Sebenarnya, Xi Luhan-lah yang menyuruhku melakukan hal ini.”

“M-maksudmu?”

Ia menyeringai. “Kau tahu, ‘kan kalau dia seorang hantu? Dia tidak bisa berlama-lama terkena cahaya dan                

            Ia tidak bisa selamanya menjadi hantu yang bisa bersikap baik.”

#END#

Ini sequel dari ff “Pearl” ^^. Gimana? Aneh ya? Huhu jeongmal mianhaeyong~~

Sebenernya ff ini udah aku post di blogku beberapa bulan lalu, cuma baru sempet dipost di sini sekarang :3 Maaf ya sequelnya jadi lama banget… Yah tapi yang penting utang janjiku lunas, ‘kan? Hihi, padahal belum tentu ada yang inget ff ini xD

Ok, sekian. Thanks for read ❤ Jangan lupa kunjungin blog aku ya untuk baca ff aku yang lainnya~ Klik

6 tanggapan untuk “Sequel of Pearl”

  1. Ini udah end ya, Readers… Hihihi 😁
    Jeongmal gomawo udah bersedia baca+ngereview…
    Doain aja semoga Author dapet ide buat bikin ff baru/ngelanjut :3 tapi gak usah ditungguin ya… Ntar kalo gak ada takut dikira php lagi 😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s