[FICLET-MIX] TIMEBREAK — IRISH’s story

TIMEBREAK_COVER

Author : IRISH

Tittle : Timebreak

Main Cast : EXO’s Oh Sehun & Apink’s Oh Hayoung

Rate : PG-17, M (Untuk beberapa adegan yang ada di fanfict ini)

Length : Ficlet

Genre : Sci-fi, Crime, Thriller, Tragedy, A Bit Romance

Disclaimer : This story is entirely fantasy and created by Irish. Any resemblance to real persons or organization appearing in this story is purely coincidental. EXO’s Oh Sehun and Apink’s Oh Hayoung belong to their real-life.

A/N : Sebenernya FF ini pernah aku kirim sebagai peserta lomba (?) Apa daya tak menang dan akhirnya ku post disini. Yah anyway, walaupun ficlet-mix, lenght-nya sebenernya hampir jadi vignette HOHOHO.

“Satu-satunya kesalahan disini adalah… kedatanganku di semua waktu yang tak pernah tepat.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

1—

BRUGK!

Aku tersadar dari lamunanku saat seseorang menabrakku secara tak sengaja. Aku menatapnya, seorang gadis, dan kudengar Ia terisak.

“Apa sesuatu terjadi? Kenapa kau menangis?”, tanyaku khawatir

“Maafkan aku…”

“Tidak… Aku lah yang seharusnya minta maaf padamu.”

Aku merasa canggung juga karena ini pertama kalinya seseorang meminta maaf padaku karena hal sekecil ini.

Tanpa bicara apapun Ia melangkah pergi. Sementara tatapanku masih tertuju pada gadis berambut cokelat sebatas punggung yang kini berjalan dengan menundukkan kepalanya karena menangis itu.

BRUGK!

Sekali lagi aku ditabrak oleh seseorang. Dan kali ini, seorang laki-laki.

Ia berjalan tergesa-gesa, dengan topi dan masker yang menutupi wajahnya, tampaknya Ia mengikuti gadis yang menabrakku tadi.

Benar dugaanku, Ia mengikuti gadis itu.

Aku ingin mengalihkan kakiku, namun mataku menangkap hal janggal. Sebuah pisau ada ditangan laki-laki itu.

Tatapanku terbelalak saat laki-laki itu benar-benar mengeluarkan sebuah pisau dapur dari jaket gelap yang Ia kenakan, dan tiba-tiba saja Ia menghujamkannya berulang kali ke perut gadis itu.

Gadis itu memekik, berteriak kesakitan, darah mengalir keluar dari lukanya, namun laki-laki itu masih melanjutkan tindakannya. Gadis itu berusaha melepaskan diri, dan perlawanannya membuat laki-laki itu menyingkirkan tangannya dengan pisau!

Tangan kanan gadis itu putus, terlempar beberapa meter darinya. Darah kini mengalir bak air! Laki-laki itu menghujamkan pisaunya lagi ke tubuh gadis itu, kali ini ke bagian lain perut gadis itu.

SRAT!

Isi perut gadis itu terburai. Berceceran ditanah bercampur dengan darah segarnya.

Dan ekspresi semua orang? Kami hanya menonton kejadian itu. Termasuk aku.

Mengingat kehidupan manusia terus berlanjut dengan cara yang aneh, kematian adalah wujud dari kelalaian seseorang yang tak bisa mempertahankan hidupnya. Kematian adalah kesalahan seorang itu sendiri.

Jika tidak ingin mati, bunuhlah orang lain sebelum kau dibunuh.

Tidak lagi ada hukum, semua kejahatan ditolelir. Hanya ada satu fasilitas kesehatan di kota, dan pelayanannya? Masuk ke dalam tempat itu hanya akan membuatmu mati perlahan.

“Semua ini karena kau!”, laki-laki itu berucap sebelum pisaunya Ia hujamkan ke leher gadis itu.

Mengingat aku juga tinggal dikehidupan ini, melihat kepala gadis itu hampir terlepas bukanlah hal yang aneh.

Ya, tentu saja ini terjadi karena kami semua disini sudah gila. Tak punya perasaan.

Tubuh gadis itu kini terbaring tak bernyawa. Matanya membelalak, sarat akan kesakitan. Satu-satunya hal berbeda adalah munculnya robot-robot berukuran setengah kaki yang menyedot darah yang berceceran dijalan, membuangnya ke sebuah jalur air kecil dipinggir jalan.

Mayat gadis itu? Dibiarkan begitu saja.

KRAK!

Laki-laki itu menginjak sebuah topeng yang tadinya ada ditangan gadis itu. Topeng khas milik pantomime, menampakkan ekspresi tersenyum, sangat tidak sesuai dengan keadaan mengenaskan pemiliknya.

Laki-laki itu melangkah pergi, ke arahku, kurasa Ia akan melewatiku. Dan benar, Ia memang melewatiku.

“Ada apa?”, aku tersentak saat kudengar seseorang bicara sementara tatapanku masih tertuju pada mayat gadis itu.

Aku menoleh, dan kusadari tanganku menahan lengan laki-laki itu. Bodoh. Apa yang kau lakukan sekarang, Oh Sehun?

“Kenapa… Kau membunuhnya?”, entah sejak kapan mulut lancang ini berucap.

Kudengar tawa kasar dari mulutnya, sementara aku tak bisa melihat jelas wajahnya karena Ia mengenakan masker.

“Bukankah kau sudah mengetahuinya? Alasanku membunuh gadis itu.”

“Apa?”, aku menyernyit.

“Jangan pernah kau retakkan waktu. Kau hanya perlu duduk manis dan lihat apa yang terjadi.”

Laki-laki itu menyentakkan tanganku, dan melangkah pergi. Retakan waktu? Jam mungil yang bisa membawaku ke waktu manapun? Kenapa Ia bicara soal retakan waktu?

Kusadari diriku tak bisa merasa tenang setelah mayat gadis itu dibawa pergi oleh truk pembuangan. Tatapan membelalak matanya tadi tak bisa kuhapus dari ingatanku.

Dan disinilah aku sekarang. Rumah pembuangan. Tempat mayat-mayat orang-orang yang tak memiliki keluarga dikuburkan.

“Apa aku bisa mendapatkan data terakhir dari gadis yang mati pagi ini?”, tanyaku pada penjaga rumah pembuangan.

Wanita tua itu menyernyit, menambah kerutan wajahnya yang memang sudah tua.

“Apa kau keluarganya, anak muda? Tubuh gadis itu sudah dikubur.”, ujarnya tampak serius menatap layar tembus pandang dihadapannya.

“Aku kerabatnya,”, bohongku

Ia mengintip dari frame kacamata berwarna hitamnya.

“Siapa namamu?”, tanyanya

“Oh Sehun.”, jawabku, dan segera, Ia menaikkan kedua alisnya, mengangguk-angguk, membuatku tak mengerti apa yang Ia pikirkan.

Ia menekan tombol hitam disampingnya, dan kudengar deru halus mesin cetak disebelah wanita tua itu.

“Ini data terakhirnya.”, ucap wanita tua itu, mengulurkan selembar kertas padaku.

“Terima kasih.”

Ia menyahutiku dengan anggukan. Sementara aku beranjak pergi dengan membawa kertas itu ditanganku. Langkahku terhenti saat membaca identitas gadis itu.

Data terakhir ini memberikan informasi tentang kejadian apa yang terjadi pada seseorang selama 12 jam terakhir kehidupannya.

Gadis itu terlibat perdebatan dengan sekelompok pantomime kota ini karena Ia dikatakan tidak berbakat dibidang itu.

Karena perdebatan itu Ia berlari ke jalanan, dan seorang laki-laki menyerangnya, membunuhnya. Laki-laki itu. Ia telah dibunuh oleh seseorang yang tak dikenalnya, dan bahkan baru ditemuinya beberapa menit sebelum kehidupannya berakhir. Sungguh janggal.

Namanya adalah Oh Hayoung. Ia hanya dua tahun lebih muda daripadaku.

Alasan kematiannya? Kenapa ucapan laki-laki itu sekarang begitu mengusikku?

Ia katakan aku sudah tahu alasan Ia membunuh gadis itu. Sedangkan aku sama sekali tidak mengenal gadis itu.

Apa alasan kematian gadis itu adalah karena Ia terus bertahan menjadi pantomime? Haruskah aku menggunakan mesin waktu untuk kembali ke masa sebelum Ia menjadi pantomime dan mengetahui alasan laki-laki itu sebenarnya?

Tapi… Jika aku melakukan perjalanan waktu, ku mungkin tak akan mengingat apapun saat aku kembali ke masa ini… Dan juga… Yang laki-laki itu katakan…

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

2—

Aku membuka mataku saat mendengar suara berisik disekitarku. Tatapanku segera berkeliling saat aku berdiri di tengah sebuah lahan luas. Aku menggunakan mesin peretak waktu. Aku tak bisa menahan diriku karena rasa penasaran.

Dihadapanku sekarang, ada banyak pertunjukan. Bukan pertunjukan berbasis teknologi seperti yang ada dikehidupan sehari-hariku. Aku memicingkan mataku berusaha melihat keterangan tahun yang ada disalah satu poster berukuran bersar disana.

Ah. Ini delapan tahun sebelum aku melompati waktunya. Gadis itu pasti masih hidup ditahun ini bu—

“Tertarik untuk datang ke pertunjukan kami?”, aku berjengit kaget saat seorang gadis tengah berdiri dibelakangku, mengulurkan brosur.

“Pertunjukan apa?”

Pantomime, kau bisa mendapat potongan harga jika membawa brosur ini, tertarik?”

Beberapa detik aku memperhatikannya. Ia berpakaian aneh, dan mengenakan topeng yang—tunggu. Topeng. Topeng yang dikenakannya sama persis dengan—

Apa mungkin Ia adalah gadis itu?

“Baiklah kalau kau tidak tertarik.”, Ia kemudian melangkah pergi meninggalkanku, sementara aku masih berada dalam tahap kebingungan.

“Tunggu sebentar.”, aku menahan lengannya.

“Ada apa?”, tanyanya, kusadari suaranya bergetar.

“Kau menangis?”, tanyaku membuatnya tersentak.

Ia melepaskan cekalanku, dan beranjak meninggalkanku. Kaki bodoh ini mengikutinya. Gadis itu menghentikan langkahnya di balik salah satu tenda. Menyandarkan bahunya di tenda, membelakangiku.

Apa yang mungkin sedang Ia pikirkan?

Sibuk dengan pemikiranku, aku bahkan tidak sadar Ia sekarang tidak mengenakan topengnya. Topeng itu ada di tangan kirinya, terjuntai bebas di sisi tubuhnya.

Samar, kudengar suara isakan. Ia benar-benar menangis.

Kudapati diriku berdiri di belakang gadis itu. Bodoh sekali. Tak tahan, aku mengeluarkan saputanganku, membukanya, dan meletakkannya pelan di puncak kepala gadis itu, membuatnya segera menarik saputangan itu menutupi wajahnya.

“Topeng yang kau gunakan tersenyum, padahal pemiliknya sedang menangis. Topeng itu benar-benar menipu.”

Ia berbalik dan seketika aku terpaku. Ia benar-benar gadis itu. Wajah manisnya terpatri dalam ingatanku. Begitu juga sepasang matanya. Ia benar-benar gadis yang telah dibunuh dengan cara keji dihadapanku.

Ia kini berdiri dihadapanku, masih hidup. Dan rasanya sangat melegakan, entah mengapa.

“Kenapa kau mengikutiku?”

“Kau bahkan menangis saat bicara padaku.”, ucapku membuatnya tertunduk sebentar, dan kembali menatapku.

“Siapa namamu?”

“Oh Sehun.”

Gomawo, Sehun-ssi.”

“Untuk?”

Ia mengangkat saputangan yang sedari tadi ada ditangannya.

“Karena meminjamkan saputangan ini.”

Beberapa lama kami sama-sama terdiam.

“Kau pernah melihat pantomime?”

“Tidak pernah.”, ucapku membuatnya mendesah pelan, kecewa. Tapi aku memang tidak berbohong. Aku tidak tertarik pada pantomime.

Tujuanku berdiri disini sekarang adalah membuat gadis ini sadar bahwa Ia tidak berbakat, mencegah kematiannya.

“Apa kau menangis karena seseorang mengatakan padamu bahwa kau tidak berbakat dalam hal pantomime?”, tanyaku membuatnya menatapku dengan mata membulat.

“Bagaimana kau tahu?”

Aku tahu karena melihatmu mati karena hal itu.

“Hanya menebak.”

Ia tersenyum. Senyum yang entah mengapa membuat darahku berdesir pelan.

“Apa kau keberatan untuk melihatku? Sekali saja.”, ucapnya

Hanya sekali bukan? Tidak akan jadi hal buruk.

“Baiklah.”

Ia tersenyum. Dan memasang topengnya. Seiring dengan Ia mulai bergerak hendak memegangku, tapi tangannya terhenti, seolah di sekitar tubuhku ada penahan.

Dan aku tertegun saat detik selanjutnya Ia melakukan gerakan-gerakan yang membuatku benar-benar tidak bisa berkedip.

“Bagaimana penampilanku?”, ucapnya menyadarkanku bahwa Ia sudah selesai dengan pertunjukannya.

Aku diam. Tidak tahu harus berkomentar apa karena ini pertama kalinya aku melihat pertunjukan pantomime milik gadis yang sebenarnya sudah mati.

Tapi… Apa Ia benar-benar dikatakan tidak berbakat? Aku bahkan tercengang saat melihatnya tampil dihadapanku!

“Sehun-ssi?”, Ia melambaikan tangannya di depan wajahku, menyadarkanku.

“Kau masih punya tiket pertunjukan itu?”

Tanpa menjawab, Ia menarik lenganku, membawaku melangkah ke tendanya. Menyerobot antrian panjang orang-orang yang hendak masuk ke dalam.

“Kau mau membawaku kemana?”

Ia tidak menjawab pertanyaanku, dan malah menghentikan langkahnya di depan panggung.

“Pilihlah kau ingin duduk dimana.”, ucapnya

“Apa?”

“Kau hanya perlu duduk dan lihat apa yang terjadi.”

Jantungku berdegup kencang saat mendengar kalimat itu. Sama persis seperti ucapan laki-laki yang membunuhnya. Sial.

“Memangnya apa yang akan terjadi?”, tanyaku tanpa sadar.

Ia tertawa pelan.

“Yang akan terjadi? Pertunjukannya tentu saja. Aku akan menemuimu setelah pertunjukannya berakhir.”, Ia kemudian berbalik, membuatku segera menahan lengannya.

“Kenapa Sehun-ssi?”

“Kenapa kau ingin jadi pantomime?”

“Apa?”, tanyanya terkejut

“Apa alasanmu menjadi pantomime?”

Ia terdiam sejenak.

“Karena Ayahku adalah seorang pantomime… Aku juga ingin menjadi sepertinya.”, ucap Hayoung, aku mendengar nada sedih dalam suaranya.

“Tapi… kau memang tidak berbakat menjadi pantomime.”, ujarku.

Lebih baik Ia mengetahuinya sekarang daripada terlambat bukan? Lebih baik mencegahnya mati sekarang, mungkin saja Ia belum bertemu dengan pembunuh tak berperasaan itu.

“Aku tahu. Aku hanya ingin membuktikan pada Ayahku bahwa aku bisa jadi seorang pantomime sepertinya. Aku ingin Ayah melihatnya. Karena Ia dulu meninggalkanku, saat usiaku masih sepuluh tahun.

“Kau tahu, Sehun-ssi? Ayahku meninggalkanku dihari yang sama saat aku memberitahunya bahwa aku ingin menjadi pantomime sepertinya setelah aku dewasa.”

Hatiku mencelos mendengar ucapannya. Ia berkeras menjadi seorang pantomime karena Ayahnya sudah meninggalkannya setelah mendengar keinginan gadis ini?

“Lalu… apa kau akan tetap bertahan seperti ini?”

“Bahkan sampai hembus nafas terakhirku, aku akan terus menjadi pantomime.”

Aku baru saja akan berucap saat aku sadar apa yang harus kulakukan. Kembali ke masa lalu dan menghentikan Ayah gadis ini. Menghentikan mimpinya sebelum Ia memulainya.

“Maaf, aku harus pergi.”, ujarku

“E-Eh? Kemana kau akan pergi? Bukankah kau akan menonton pertunjukkannya?”, tanyanya sambil menahan lenganku.

“Aku harus menghentikan takdir buruk.”, ujarku.

Tanpa menunggu jawabannya, aku beranjak pergi. Tapi kusadari Ia menahan lenganku. Menatapku dalam diam.

“Ada apa?”, tanyaku

Ia masih menatapku, dan kemudian tersenyum simpul.

“Tidak… Senang bisa mengenalmu, Sehun-ssi.”, ujarnya.

“Ya. Aku juga.”, ucapku sambil melangkah cepat menyelip diantara keramaian.

Aku menemukan tempat kecil di belakang sebuah tenda. Dan kukeluarkan jam kecil yang merupakan mesin waktuku. Aku mengambil kertas lusuh dikantong celanaku. Identitasnya.

Ia lahir di tahun 1996. Dan itu artinya aku harus datang ke waktu sebelum Ia ditinggalkan oleh Ayahnya. Sepuluh tahun… 2006. Aku harus kembali ke waktu itu.

Aku memutar jam itu untuk menemukan angka 2006 disana. Dan kupejamkan mataku, takut karena sensasi menyakitkan lompatan waktuku.

Tapi kenapa aku melakukan ini?

Tidak… Kenapa sekarang mengingat wajah gadis itu membuat jantungku berdegup kencang? Oh Sehun… Kau tidak jatuh cinta padanya bukan?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

3—

Semuanya begitu ketinggalan zaman, dan menyedihkan. Ia katakan Ayahnya adalah seorang pantomime bukan? Yang harus kulakukan hanyalah menemukan Ayahnya dikelompok pantomime dan memberitahukan segalanya.

“Maaf, dimana aku bisa menemukan pertunjukan pantomime?”, tanyaku pada seorang wanita tua yang lewat.

Pantomime?”, tanyanya bingung.

Dimasa ini orang-orang bahkan belum mengetahui pantomime?

“Pertunjukan yang menggunakan topeng.”, ucapku meralat.

“Disana tempatnya.”, wanita tua itu menunjuk ke arah sebuah pondok kecil.

“Terima kasih.”

Wanita tua itu kemudian mengeluarkan sepotong roti gandum yang hampir tak berbentuk, mengulurkannya pada seorang gadis kecil berpakaian lusuh yang duduk di pinggir sebuah tempat sampah.

“Siapa dia?”, tanyaku

“Aku tidak tahu…”, jawab wanita itu, gadis kecil itu menerima roti gandum dari wanita itu, memakannya dengan cepat.

“Tidak ada yang tahu siapa dia. Ia juga jarang bicara. Jadi kami hanya memberinya makanan setiap hari.”, sambungnya sambil mengusap puncak kepala gadis kecil itu dan kemudian melangkah pergi.

Merasa iba, aku mendekati gadis itu, berjongkok dihadapannya.

“Gadis cantik… Siapa namamu?”, tanyaku lembut.

Ia hanya menatapku dengan sepasang bola mata tak berdosanya.

“Mau ikut denganku? Kita akan pergi ke tempat yang indah.”

Aku bisa membawa gadis ini kembali ke masa depan, nanti, jika aku sudah menyelesaikan urusanku disini. Gadis ini akan punya kehidupan lebih baik jika Ia ikut denganku, dan tinggal bersamaku.

“Benarkah?”, tatapanku melebar saat Ia bicara.

“Ya, tentu saja.”, jawabku, mengulurkan tanganku padanya.

Ia meraihnya dengan ragu, dan kini, aku berhasil membawanya berjalan bersamaku. Beberapa orang menatap kami bingung, mungkin karena gadis ini tak pernah mau pergi dengan siapapun.

Aku sampai di pondok yang tadi ditunjukkan wanita itu, didepan pintunya, seorang laki-laki paruh baya berdiri.

“Jadi seseorang sudah berhasil bicara padanya?”

“Ah, ya. Aku tadi mengajaknya bicara. Kurasa aku akan mengajaknya ke tempat tinggalku.”, ucapku menjelaskan.

Laki-laki itu tertawa pelan.

“Kurasa Ia tidak memiliki nama. Apa kau memikirkan sebuah nama untuknya?”

Aku menatap gadis di sampingku. Ia menatapku dan laki-laki itu bergiliran, sementara lengannya dengan erat menggenggam jemariku.

“Hayoung…”, entah sejak kapan kata itu meluncur dari mulutku, “Namanya Oh Hayoung.”, ucapku pasti.

“Nama yang sangat cantik…”, laki-laki paruh baya itu tersenyum, Ia kemudian menatapku dengan alis berkerut.

“Bagaimana kau akan menghidupi gadis ini? Apa kau punya pekerjaan? Kelompok pertunjukan kami bisa memberimu pekerjaan. Kami sangat senang karena Ia akhirnya bisa membuka diri pada orang lain.”

Berada di kelompok pantomime akan semakin mudah untukku menyelesaikan urusanku bukan?

Semua ini membuatku frustasi dan tertekan. Aku rindu kehidupan normalku. Bukan semua kehidupan dimana aku harus bekerja keras untuk hidup! Sudah empat tahun aku mencari sesuatu yang tidak jelas disini.

“Ayah!”, aku menatap gadis kecil yang selama beberapa tahun ini juga tinggal bersamaku, Hayoung, Hayoung yang berbeda tentu saja.

“Ya, Hayoung-ah?”

“Tadi ahjumma di depan rumah memberiku hadiah!”, ucapnya ceria, Ia juga jadi lebih mudah berkomunikasi dengan semua orang sekarang.

“Apa itu?”

Ta-da!”

Tubuhku membeku saat Ia mengeluarkan sebuah topeng dari tangannya yang Ia sembunyikan dipunggung. Sebuah topeng dengan ekspresi tersenyum. Aku mengingat dengan jelas topeng itu. Topeng itu milik—

Hayoung.

“Aku ingin menjadi seperti Ayah saat aku sudah besar!”

Aku menatapnya nanar. Oh Hayoung. Dimasa depan, gadis ini adalah sumber semua yang terjadi padaku sekarang. Dia tak seharusnya hidup. Ia tidak seharusnya muncul dikehidupanku.

Tanpa bicara apapun aku meninggalkannya, berlari keluar rumah. Berlari menjauhi orang-orang yang berusaha menyapaku dengan ramah. Dan saat aku sendirian, aku mengeluarkan jam tangan kecil yang selalu bersamaku selama beberapa tahun ini.

“Semuanya sudah hancur.”, aku berucap dan dengan cepat aku menekan tombol kecil disisi jam itu. Semuanya percuma. Jawaban yang kuinginkan bukan disini.

Aku membuka mataku setelah merasakan sensasi mual karena retakan waktu. Aku menatap sekitarku, kehidupan lamaku. Kehidupan lamaku yang sudah bertahun-tahun kubuang karena gadis itu.

Aku melangkah dengan kacau, berusaha mencari sebuah tempat yang tak pernah kudatangi sebelumnya dihidupku. Gedung pantomime.

Belum sampai aku disana, aku sudah menemukan gadis itu. Ia berlari dengan menangis. Ini semua karenanya. Semua kekacauan yang kualami, karenanya.

Aku mengikuti langkah gadis itu dengan semua kemarahan yang bertahun-tahun kubendung. Tanpa ragu aku meraih pisau yang ada di tempat penjualan buah. Menarik topi yang dikenakan seorang penjual disana, dan kututupi wajahku dengan masker yang juga kuambil paksa.

BRUGK!

Aku mengabaikan entah berapa orang yang kutabrak. Saat jarak kami cukup dekat, aku meraih lengannya. Ia berbalik, dan menatapku bingung.

“Siapa kau?”

Tanpa bicara apapun aku menusuk perutnya. Menghujamkannya berkali-kali. Kuluapkan semua kemarahanku padanya. Kebencianku.

“S-Sehun-ssi…”, aku terhuyung saat mendengarnya bicara, Ia… menyebut namaku.

“Sudahkah… dulu kukatakan? Kau…”, nafasnya kini terputus-putus, “kau terlihat seperti Ayahku…”

“Semua ini karena kau!”, tanpa ragu aku menghujamkan pisauku ke lehernya. Aku benci mendengar suaranya. Aku benci melihat caranya menatapku.

Aku benci saat Ia katakan aku mirip dengan Ayahnya karena itu berarti Ia mengingatku!

Tubuh gadis itu sekarang tergolek tak berdaya di tanah. Ia mati.

KRAK!

Aku menginjak topeng yang menjadi satu-satunya saksi kejadian ini. Senyum ditopeng itu seolah meledekku. Sial!

Aku melangkah meninggalkan tubuh gadis itu, tapi seseorang menahanku.

“Ada apa?”

“Kenapa… Kau membunuhnya?”

Aku menatap sosok yang bicara padaku. Tawaku pecah saat kuhadapi sesuatu yang menggelikan. Diriku, berdiri dihadapanku.

“Bukankah kau sudah mengetahuinya? Alasanku membunuh gadis itu.”

“Apa?”

“Jangan pernah kau retakkan waktu. Kau hanya perlu duduk manis dan lihat apa yang terjadi.”, aku menyentakkan tangannya, diriku itu, dan aku berlari ke tempat sepi.

Selesai, semuanya sudah selesai Oh Sehun. Kau sudah melakukannya dengan baik. Aku mereset jam tanganku menjadi waktu kehidupanku, tapi saat menekan tombol start aku tersadar.

Ini… Ini adalah masa kehidupanku! Keadaan tadi… adalah keadaan ketika aku melihat seorang laki-laki membunuhnya saat itu. Membunuh Oh Hayoung.

Tidak. Kematiannya bukanlah jawaban atas masalah ini. Tapi aku. Keberadaanku.

Maafkan aku, Oh Hayoung.

Satu-satunya kesalahan disini adalah… kedatanganku di semua waktu yang tak pernah tepat. Aku seharusnya tidak pernah meretakkan waktu dan—

BRUGK!

Aku tersadar dari lamunanku saat seseorang menabrakku secara tak sengaja. Aku menatapnya, seorang gadis, dan kudengar Ia terisak.

“Apa sesuatu terjadi? Kenapa kau menangis?”, tanyaku khawatir.

“Maafkan aku…”

“Tidak… Aku lah yang seharusnya minta maaf padamu.”

End.

40 tanggapan untuk “[FICLET-MIX] TIMEBREAK — IRISH’s story”

  1. Dari awal baca ini aku langsung kepikiran film ‘Predistination’. Apakah authornya terinspirasi film ini? Tapi kemasan ceritanya bagus, kok. Keep writing!

    1. XD aku kayaknya pernah denger pilem itu, kayaknya punya di hardisk tapi belum nonton … aku butuh nonton dulu baru bisa bandingin idenya XD

  2. Ini kehidupan sehun itu berulang-ulang ya…
    Membingungkan..
    Sehun ayah hayoung lalu
    Sehun bunuh hayoung..
    Sehun nanya ke sehun…
    Lalu lanjut lagi ngulanga ke masa lalu..
    Baru tahu ada cerita yang kayak gini..
    But i’m happy..
    Great….aku suka…

  3. Wow daebak,amazing, kata2 apapin yang mendeskripsikan menakjubkan bakalan kubilang, ini ff wow keren banget sumpah ditambah lagi #SeYoung ,,

  4. Maygat, ffnya keren banget thor. Merinding eyke merinding. Bapak Sehun jatuh hati sama nak Hayoung/? Abaiken. Ima new readers, salken thor. Ditunggu ff seyoung yang lain :*

  5. Ya elah sehun sok2 mau nolongin hayoung kagak taunya dia sendiri yg ngebunuh hayoung… :3
    Cerita keren thor, banyak hal yg gak di sangka2… Biar muter2 tapi seru.. Tapi demi apa aku malah mau ngakak Sendiri saat Tau Sehun jadi ayahnya hayoung
    njir Sicadel jadi bapak2 bwahahaha :v :v
    ditunggu ff seyoung yg lainnya hwaiting…

  6. ini keren thor, sumveh. tapi aku agak bingung, itu si sehunnya ada banyak? seiring perputaran siklusnya? @,,@ ah abaikan saja aku~ keep writing thorr, hwaiting for other ff ^^)9

  7. Muter muter? Tidak. Aku paham, ini seperti perputaran waktu yang sebenarnya berputar untuk Sehun tanpa disadarinya… Orang membunuh dan yang dibunuh saling terkait, dan yang melihat pun sama. Satu yang aku tahu, penyebab ini semua bukan karena Hayoung, ‘kan? Tapi karena Sehun sendiri, ‘kan? Author Irish ngaku! *Duh macem apa aja.

    Dan aku baru paham ficlet mix itu ternyata seperti ini. Kenapa gagal lomba????

    1. Huahahaha you’re right Arraaaaa~ this story memang supposed to be like that. Iyeeeepp Sehun emang jadi sumber masalah disini wkwkwkwk aku mengakuinya xD yeah sebenernya ini ficlet mix yang continued sih, kebanyakan gak begini juga huhuuu~ failed karena belum kesempatanku untuk menang mungkin ya :’)

  8. Buzed Ris, ini buagus buanget!
    Tapi menurutku alurnya ga muter2 kok, aku paham ceritanya biarpun endingnya membuatku tekezut wakakakakaka
    Perbanyak diksi aja ye~
    Keep writing Irisan~~

    1. Wkwkwk xD aku perlu beli buku diksi ini kayaknya kak xD entah kenapa juga bisa kepikiran ending begini… thankyou kak narin eh whitewind deng :*

  9. giilaaaakk.. ending nyaa kuueerreenn.. ternyata.. aah speachless.. sumpah ini ff bagus pisaaann.. baru dah nrmu ff begini. muter muter teruss. aku udh baca yang sehun di tabrak 3 kaalii.. adduhhh baguusss.. udh ah gada lagi. speachless pisuuund. daebbak!! daebbak!! daebbak!!

  10. Kereeennn alurnya kereeennnnn idenya juga keren omegat. Jadi ntar sehun bakalan liat hayoung mati trs sehun putar balik waktu dst?

    Sumpah awesome banget thor ffnya. Fighting yaa thor. Ditunggu karya selanjutnyaa ((=

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s