Fear Street : “Halloween Party”

1534148_e589afe69cac

Cast   :

Baekhyun Rian || Kim Nana Meyer || Kris Beale

Krystal || Lay Schorr || Chanyeol Carter || Angela Martiner || Tiffany || Chen Whittle || Jongin Sommers

Genre    : Horor, Mistery, Friendship, Romance, AU

Disclaimer    :

Ini novel terjemahan nih, ceritanya daebak!! Mimin mau share ini cerita, ada yang udah baca ceritanya? Penulisnya R.L Stine (ini penulis novel-novel horror favorit mimin) , mimin cuma ganti nama ‘depan’ tokoh-tokohnya doang, jadi mohon maaf apabila pemilihan cast tidak sesuai dengan karakter. Pas lyat foto2 smtown pesta Hallowen mimin langsung inget sama cerita ini.. Scan/edit teks by ebukulawas

~Selamat membaca~

~~~

NISAN itu menjulang kelabu di bawah sorot sinar bulan,

tepiannya aus tak rata. Lapisan lumut tebal menutupi kata-kata yang

terukir di permukaannya—yang terlihat hanya baris terakhir.

Meninggal 31 Oktober 1884

Baekhyun Rian mencoba melangkah cepat melewati monumen kuno

itu, tapi pacarnya, Kim Nana Meyer, menarik tangannya, mengajaknya

berhenti. “Lihat, Baekhyun,” kata gadis itu. “Penghuni kuburan ini meninggal persis hari ini, lebih dari seratus tahun lalu.”

Kim Nana melangkah lebih dekat, senternya memancarkan lengkung

sinar kuning suram di atas batu nisan. Baekhyun merapatkan jaketnya.

Angin melolong-lolong, terdengar seperti ratapan makhluk yang sudah

lama mati. Di suatu tempat ada benda yang menggesek, dan berderak,

di atas batu.

Aku tak percaya sedang berdiri di tengah makam Fear Street

malam-malam begini, pikir Baekhyun. Ia kembali memegang tangan Kim Nana

dan menekannya pelan. Gadis itu menoleh menatapnya, matanya yang

gelap indah berkilauan penuh semangat. Dalam gaun merah dan

mantel tudung hitam, ia tampak seperti putri abad pertengahan.

“Siapa ya, mereka?” gumamnya, menunjuk ke arah deretan

nisan tua di sekeliling mereka.

“Generasi awal Shadyside, mungkin,” jawab Baekhyun. “Sudah bertahun-tahun tak ada yang dikubur di sini.”

“Di sini seram,” tukas Kim Nana. “Tapi juga agak indah. Menurutmu apa sumber semua cerita itu, tentang mayat hidup yang keluar dari

kuburan mereka?”

“Cuma cerita,” komentar Baekhyun. “Ayo. Jalan lagi.”

Angin bertiup kencang, dan Baekhyun melihat tubuh Kim Nana menggigil

di balik mantel. Mereka mulai berjalan lagi, dan Baekhyun membuka jalan di tengah rumput liar yang tumbuh subur di antara deretan nisan.

Gemeresik rerumputan mengikuti tiap langkah mereka—seperti derak

tulang patah. Di atas mereka angin memekik-mekik, mengguncang

sebuah dahan pohon. Baekhyun melirik Kim Nana. Mata gadis itu berkilau

penuh semangat.

Angin yang melolong-lolong tak mengganggu Kim Nana, pikir Baekhyun.

Kim Nana sudah hampir tuli total sejak mengalami kecelakaan di kelas dua.

Tapi ia berbicara begitu jelas, dan begitu lancar membaca bibir,

sehingga sebagian besar orang tak menyadari ia cacat.

Kim Nana sendiri tak pernah bersikap seolah ia berbeda dari anak

lain. Ia sama sekali tak pernah menginginkan perlakuan istimewa.

Bahkan justru sebaliknya. Kim Nana selalu siap bertualang.

Tapi apa ia siap untuk malam ini?

Mereka hampir sampai di ujung jalan pintas yang menuju tepi

makam. Di belakang dinding batu makam terlihat sosok istana

Cameron tua. Pepohonan tinggi di sekelilingnya terempas-empas dari

sisi ke sisi. Dari kejauhan tampak seolah rumah itu perlahan

berguncang sendiri.

Gerbang kayu di ujung dinding terpentang. Tak sadar, Baekhyun

mulai berjalan agak lebih cepat. Kim Nana kembali menarik tangannya.

“Aku menjatuhkan topengku di belakang sana,” tukasnya. “Sebentar, akan kuambil.”

Sambil menyorotkan senter ke atas tanah, Kim Nana cepat

menelusuri kembali langkahnya. “Jangan cepat-cepat,” panggil Baekhyun, kemudian ia ingat gadis itu tak bisa mendengarnya. Kim Nana membungkuk

di belakang nisan yang tadi ia periksa. “Ketemu” teriaknya.

Baekhyun tergelincir di atas batu berlumut, lalu cepat-cepat

menegakkan tubuh dan berjalan ke arah nisan itu. Meskipun

seandainya cerita-cerita seram itu tidak benar, ia tetap tak mau

melepaskan Kim Nana dari pandangannya. Ia hampir sampai di nisan itu

ketika tiba-tiba sebuah jeritan melengking membelah udara.

“Kim Nana” panggilnya. Dengan jantung berdebam kencang, ia

melesat ke balik nisan. Kim Nana ada di sana, sedang membersihkan tanah

yang menempel di topeng sutra hitamnya. “Ada apa?” tanya gadis itu ketika melihat wajah Baekhyun.

“Aku mendengar sebuah…” Kembali terdengar jeritan. “Itu lagi” tukasnya. Ia merangkul Kim Nana dengan sebelah lengan,

mendekapnya erat-erat.

Jeritan itu berasal dari arah gerbang. Ia ingin kembali ke tempat

tadi mereka masuk dan berjalan mengitari makam. Tapi akan banyak

makan waktu. Lagi pula, ia ingin secepat mungkin keluar dari makam

ini.

Dengan satu tangan memegang senter dan lengan yang lain

merangkul Kim Nana, Baekhyun berjalan hati-hati ke arah gerbang. Mereka

hampir mencapainya ketika sesosok bayangan hitam tinggi tiba-tiba

melompat ke depan mereka.

Kim Nana memekik dan merapatkan tubuh ke Baekhyun.

Di tengah jalan menghadang sesosok makhluk dari alam mimpi

buruk. Pakaian hitam makhluk itu menggantung compang-camping.

Wajahnya—atau sisa wajahnya—seolah hancur membusuk. Dan

dagingnya mengelupas.

Ini tak mungkin terjadi, pikir Baekhyun. Makhluk ini tak mungkin

nyata.

Dengan tangan gemetar, ia mendorong Kim Nana ke belakangnya dan

mengangkat senter dengan sikap mengancam. Apa senjata bisa

melukai mayat hidup? pikirnya.

Tapi sebelum ia tahu jawabannya, sosok itu tiba-tiba

mengangkat tangan dan mengoyak lepas kepalanya, memperlihatkan

wajah menyeringai Chanyeol Carter. Sesaat kemudian Baekhyun baru sadar

bahwa kepala mengerikan itu hanya sebuah topeng.

“Kena kau” teriak Chanyeol. “Wah, kalian ketakutan setengah mati Coba lihat wajah kalian.”

“Ya, ya, ya,” celetuk Baekhyun, berharap suaranya tak gemetar.

“Kami sudah tahu itu kau.”

“Ah, yang benar?” ejek Chanyeol. “Jangan bohong.” Ia menyeringai kepada Kim Nana, lalu menggerakkan sebelah tangan

bersarung yang tampak seperti sudah busuk. “Ayo kita pergi,”

ajaknya. “Kita kan tak mau terlambat ke pesta ini.”

Chapter 2

Dua Minggu Sebelumnya

KADANG Baekhyun merasa ia mencoba melakukan terlalu banyak

hal. Kadang ia tahu memang itu yang terjadi. Minggu itu saja, selain harus melakukan tugas sekolah rutin dan bekerja setelah jam sekolah, ia harus ikut sebuah proyek sains dan memimpin rapat OSIS. Ia juga

berjanji akan membantu adik perempuannya belajar naik sepeda baru.

Karena begitu sibuk memikirkan proyeknya, ia harus dua kali

memutar kombinasi nomor locker sebelum bisa membukanya. Dan

setelah berhasil, ia sadar sudah lama berniat membersihkan locker itu.

Rasanya tak masuk akal begitu banyak sampah bisa muat di

dalam tempat sekecil itu. Dengan hati-hati Baekhyun mulai menyibak

tumpukan jaket, raket tenis, setengah lusin bukti, dan peralatan proyek sainsnya. “Pasti ada di sini,” katanya pada diri sendiri. “Aku yakin.”

“Apa yang ada di sini,” tanya sebuah suara di belakangnya.

Baekhyun berbalik, kaget, dan melihat Krystal McCormick berdiri di

belakangnya. Krystal seorang gadis berambut gelap keriting dan agak

kelebihan berat. Ia juga orang paling bersahabat dan antusias yang

dikenal Baekhyun.

“Hai, Trish,” sapanya. “Kau bilang apa?”

“Kau sedang bicara dengan siapa?” tanya Krystal.

“Ehm… diriku sendiri,” jawab Baekhyun. “Aku seorang pendengar yang sangat baik.”

“Maaf,” ujar Krystal, cekikikan. “Aku tak bermaksud nguping.”

“Aku sedang cari makan siangku,” Baekhyun menjelaskan. “Nah

Ini dia” Dengan penuh kemenangan ia menarik sebuah kantong kertas cokelat kusut dari dalam tumpukan barangnya, sekaligus kesal melihat sebagian sisinya basah. Setelah kembali menjejalkan isi locker ke

dalam, ia membanting pintunya. Saat itu selembar kertas melayang-

layang ke atas lantai.

“Apa itu?” tanya Krystal.

“Aku tak tahu,” jawab Baekhyun. Ia memungut dan memeriksanya.

Itu sebuah amplop putih polos bertepi hitam. Di bagian depan, dalam

tuJisan berukir, tercantum namanya: Baekhyun Ryan.

“Tolong pegangkan makan siangku,” katanya pada Krystal.

Dengan penuh rasa ingin tahu, ia membuka amplop itu. Di dalamnya

terdapat selembar kartu putih tebal bergambarkan peti mati. Di bawah gambar peti tertulis, “Khusus untuk-MU.”

“Sebuah peti mati?” tukas Baekhyun, mulai tertawa. “Apa ini—iklan rumah duka?”

“Coba balik,” kata Krystal.

Baekhyun mengikuti sarannya. Sisi sebaliknya penuh tulisan. “Hei,”

gumamnya.

“Itu undangan ke pesta Halloween di rumah Tiffany Cameron,

ya kan?” tanya Krystal.

“Ya,” jawab Baekhyun. “Kau kok tahu?”

“Aku juga dapat satu,” kata Krystal. “Mungkin semua murid dapat. Tapi coba baca isinya Benar-benar aneh.”

“‘Pesta Kostum Halloween Sepanjang Malam,” Baekhyun membaca.

“Sepanjang malam. Hei, asyik Apanya yang aneh?”

“Teruskan,” ujar Krystal.

“‘Kejutan khusus,” Baekhyun membaca. “‘Dansa, permainan.’ Aku tak lihat apa yang…”

“Sudah baca di mana tempatnya?” tanya Krystal.

“‘Istana Cameron, pukul delapan, Jumat malam, tiga puluh satu

Oktober,” Baekhyun membaca. “Jadi?”

“Jadi tempatnya di istana Cameron tua itu,” kata Krystal. “Yang terletak di belakang makam Fear Street.”

“Yang benar Bagaimana orang bisa mengadakan pesta di sana?

Sudah bertahun-tahun tak ada yang tinggal di sana,” tukas Baekhyun.

“Tiffany dan pamannya sekarang tinggal di sana,” kata Krystal.

“Mereka sedang memperbaikinya. Aku tahu karena perusahaan

ayahku yang memasang listriknya.”

“Kan rumah itu katanya berhantu?” tanya Baekhyun.

“Semua yang ada di Fear Street katanya berhantu,” komentar Krystal. “Ini, ambil makan siangmu yang sudah lumat.”

“Trims,” ujar Baekhyun. Ketika berjalan bersama Krystal ke ruang makan, ia ingat beberapa hal yang pernah didengarnya tentang Fear

Street. Meskipun beberapa rumah tuanya yang indah dihuni orang-

orang yang sangat normal, rumah yang lain dibiarkan kosong dan

menurut kabar katanya dihuni roh jahat. Berbagai peristiwa

mengerikan telah terjadi di Fear Street—pembunuhan, hilangnya

beberapa remaja secara misterius. Tempat itu sepertinya sangat cocok untuk pesta Halloween.

“Menurutmu, mengapa Tiffany mengundang kita ke pestanya?”

tanya Krystal pada Baekhyun di pintu kafetaria.

Baekhyun mengangkat bahu. “Tak tahu,” ujarnya. “Aku bahkan tak kenal dia. Aku hanya tahu bagaimana rupanya.”

Semua murid di sekolah mereka tahu bagaimana rupa gadis itu,

pikir Baekhyun. Ia gadis paling rupawan di Sekolah Menengah

Shadyside—mungkin di seluruh kota. Bahkan murid-murid wanita

pun berkata begitu. Ia bertubuh tinggi ramping, dan lebih menyerupai model daripada murid, dengan rambut pirang mengilat panjang dan

mata sehijau giok. Tiffany seorang murid pindahan, masih baru di

Sekolah Menengah Shadyside, dan sejauh ini, belum ada yang benar-

benar mengenalnya—meskipun sebagian murid pria sudah mencoba.

Baekhyun bermaksud bertanya lebih banyak tentang Tiffany kepada

Krystal ketika ia melihat Kim Nana sedang duduk di sebuah meja dekat

pintu. Ia permisi pada Krystal dan langsung duduk di depan Kim Nana

supaya gadis itu bisa membaca bibirnya. “Hai, Muka Lucu,” ujarnya, menyapa gadis itu dengan panggilan kesayangannya.

“Hai, Baekhyun,” jawab Kim Nana, memberinya sebuah senyum lebar.

Baekhyun tiba-tiba merasa seperti orang paling penting di dunia. Kim Nana

selalu membuatnya merasa begitu. Kini mereka sudah berpacaran

selama enam bulan, dan Baekhyun masih tak bisa mempercayai nasib

baiknya. Kim Nana bukan gadis tercantik di Shadyside, maupun terpandai,

tapi ia sudah pasti yang paling istimewa.

Ketika Kim Nana memasuki ruangan, semua orang otomatis merasa

lebih bahagia. Ketika ia tersenyum, gigi putihnya yang rata berkilau dengan latar belakang kulit mulus berwarna zaitun, seperti matahari

terbit.

“Sibuk, ya?” tanya Kim Nana.

“Tidak kok,” jawab Baekhyun. “Tapi lihat ini.” Baekhyun menyerahkan undangan itu.

“Aku juga dapat satu,” tukas Kim Nana.

“Mungkin semua murid dapat,” komentar Baekhyun.

“Kurasa tidak,” sergah Kim Nana. “Tak ada murid lain di unitku yang diundang. Dan sahabat-sahabatku, Jade serta Deena, tak diundang.”

“Aku ingin tahu mengapa dia mengundang kita,” tukas Baekhyun.

“Aku bahkan tak mengenalnya. Kau?”

“Tak terlalu akrab,” Kim Nana mengakui. “Dia anggota kelas senamku dan aku pernah main basket dengannya. Tapi kami hampir

tak pernah saling bicara.”

Baekhyun membuka kantong makan siangnya, melihat yang basah

adalah sandwich tomat dan meat loaf-nya, yang entah kenapa

tergencet hancur. “Iih,” gumamnya, melihat bekalnya yang kini tampak menjijikkan itu.

“Ini, ambil separo punyaku,” Kim Nana menawarkan. Ia selalu bawa bekal yang sama—sandwich pisang dan selai kacang dilengkapi

potongan wortel dan seledri.

“Tak usah,” kata Baekhyun. “Mungkin aku akan beli hot dog dari mesin makanan.”

“Aku heran kau kok selalu makan junk food,” kecam Kim Nana.

“Setidaknya makanlah beberapa potong wortel.”

Baekhyun mengambil satu dan mulai mengunyah.

“Kostum apa yang akan kaupakai?” tanya Kim Nana.

“Apa?”

“Untuk pesta Tiffany. Itu kan pesta kostun ingat?”

“Oh , aku tak tahu,” jawab Baekhyun. “Mungkin sebaiknya kita tak usah datang. Temanmu tak ada yang diundang. Dan kita juga tak

terlalu mengenal Tiffany…”

“Memangnya kenapa?” sergah Kim Nana. “Aku suka pesta kostum.

Lagi pula, aku belum pernah menghadiri pesta di Fear Street.”

“Pasti akan jadi pesta pertama yang berkesan,” komentar Baekhyun.

“Kalau begitu jadi, ya,” tukas Kim Nana. “Lagi pula, aku ingin lebih mengenal Tiffany.”

“Bagaimana dia di kelas senam?” tanya Baekhyun.

“Dia atlet terbaik di kelas,” jawab Kim Nana. “Kondisinya sangat bagus. Pernah kutanyakan padanya, dan dia bilang dia berlatih angkat beban.”

Baekhyun bersiul pelan. “Wah” gumamnya. “Tak heran dia

sangat…” Ia tak meneruskan komentarnya.

“Dia sangat apa?” tanya Kim Nana. Matanya menyorot tajam.

“Sangat—kau tahu,” jawab Baekhyun, menahan seringainya. Ia

mengamati Kim Nana, ingin tahu apakah gadis itu benar-benar kesal atau

hanya menggodanya.

“Sangat—berisi?” usul Kim Nana.

“Yah, benar,” jawab Baekhyun.

Tawa Kim Nana meledak. “Dasar cowok” sergahnya. “Aku ingin tahu siapa yang diajak Tiffany sebagai pasangannya.”

************************

Sepanjang hari semua murid membicarakan Tiffany dan

pestanya. Semua sudah mendengar tentang hal itu, meskipun tak

banyak yang diundang.

Sesaat sebelum bel jam pelajaran terakhir berbunyi, Jessica Blume

menghentikan Baekhyun di koridor. Jessica adalah asisten editor koran

sekolah, dan ia biasanya tahu apa yang sedang terjadi. Sebenarnya ia tukang gosip, hanya saja ia menyebut dirinya wartawan yang sedang

menjalankan tugas.

“Kudengar kau diundang ke pesta Tiffany,” katanya pada Baekhyun.

“Menurutmu, kenapa dia mengundangmu? ”

“Aku sama sekali tak tahu,” jawab Baekhyun. “Kan kau wartawan—

mungkin kau bisa memberitahuku.”

“Menurutku dia ingin mengenal lebih dekat murid-murid di

sini,” ujar Jessica. “Tapi dia malu karena banyak beredar cerita menyeramkan tentang rumahnya.”

“Apa maksudmu?”

“Masa kau tak tahu?” Jessica balas bertanya. “Penghuni terakhir istana Cameron itu tewas dalam sebuah kecelakaan bertahun-tahun

lalu. Menurut cerita, tak ada lagi yang bisa tinggal di sana karena

arwah mereka menghantui rumah itu.”

“Cerita bagus. Kalau begitu, mengapa Tiffany tinggal di sana?”

tanya Baekhyun skeptis.

Jessica mengangkat bahu. “Menurut bibiku, Tiffany adalah sepupu

jauh pemilik asli rumah itu. Pamannya mewarisi rumah itu dan

memutuskan untuk memperbaikinya.”

“Kudengar dia tinggal di sana dengan pamannya. ”

“Pria itu walinya,” kata Jessica. “Kurasa orangtua Tiffany sudah meninggal atau mungkin cerai. Orang bilang Tiffany dan pamannya

telah hidup di berbagai tempat di Amerika dan bahkan di Eropa.”

Baekhyun tahu keterangan Jessica biasanya benar, tapi ia tak melihat

hubungan Tiffany dengan dirinya dan Kim Nana. Ia masih memikirkan hal

itu di kelas biologi ketika Lay Schorr duduk di sebelahnya.

Lay sangat suka mempermainkan orang, dan beberapa murid

menganggapnya anak paling brengsek di seluruh sekolah. Rambut

hitam tebal Lay seperti biasa tak disisir, dan seperti biasa ia

mengenakan T-shirt dekil yang murid lain takkan mau pakai. Kali ini

kausnya bernoda jus jeruk dan bertuliskan “Cium Aku, Aku Orang

Mars”.

“Hai, Schorr,” sapa Baekhyun.

“Yo, Baekhyun,” balas Lay. Ia meletakkan kantong kertas lusuh di atas meja lab yang memisahkan mereka. “Kudengar kau dan Kim Nana diundang ke pesta Tiffany.”

“Benar,” jawab Baekhyun.

“Aku juga,” kata Lay.

“Masa? Yang benar?” Baekhyun heran. Ia tak tahu mengapa Tiffany memilihnya dan Kim Nana, tapi lebih aneh lagi gadis itu juga mengundang

Lay dan Krystal. Mereka bukan teman satu kelompok.

“Aku ingin tahu siapa lagi yang diundang,” gumam Lay. “Kau tahu?”

“Tidak,” jawab Baekhyun pendek. “Bagaimana kemajuan proyek biologimu?” ia bertanya, sengaja mengganti topik.

“Sudah hampir selesai,” jawab Lay. “Ini aku bawa.” Ia menunjuk kantong kertas di antara mereka.

Baekhyun memandang kantong itu dengan tatapan tak percaya.

Kantong itu bergerak-gerak dan mulai bergeser di atas meja lab.

“Sayang sekali,” ujarnya, “kurasa proyek sainsmu mencoba melarikan diri.”

Lay membuka kantong itu. Seekor katak hijau kecil langsung

meloncat keluar dan mulai melompat-lompat di sepanjang meja. Baekhyun

menangkap dan memegangnya dengan jijik. “Ini proyek biologimu,

Schorr?” tanyanya.”Seekor katak?”

“Bukan hanya itu,” bantah Lay, membela diri. Ia

memasukkan tangan ke dalam kantong dan mengeluarkan sestoples air

keruh. “Proyekku mengenai metamorfosis,” katanya. “Di dalamnya ada berudu.”

Baekhyun memperhatikan stoples itu dengan pandangan tak yakin.

“Maksudmu, berudu mati?” tanyanya. “Kelihatannya tak bergerak.”

“Coba aku lihat,” ujar Lay. Ia mengambil stopChen itu dan mengamatinya dengan teliti, memutarnya ke kiri-kanan. Lalu ia

mengguncangnya. “Rupanya aku mestinya melubangi penutupnya,”

akhirnya ia berkata. “Yah sudah, inilah hidup, ya kan? Hari ini hidup, besok sudah berlendir dan menjijikkan. Aku masih bisa ambil lagi di

kolam.” Baekhyun mengulurkan katak di tangannya pada Lay, dan

temannya memasukkan kembali binatang itu beserta stoples berudu ke

dalam kantong kertas.

“Proyek hebat, Schorr,” komentar Baekhyun sinis.

“Sebut aku Mr. Sihir,” ujar Lay. “Jadi siapa lagi yang diundang ke pesta itu?” tanyanya setelah beberapa saat.

“Aku tak tahu,” jawab Baekhyun. “Krystal McCormick. Aku tak tahu siapa lagi.”

“Chanyeol Carter,” jawab Lay.

Chanyeol Carter adalah nama pertama dalam daftar undangan

yang masuk akal bagi Baekhyun. Chanyeol adalah linebacker tim rugbi

sekolah, dikenal sebagai setan pesta. Tapi ia tak punya hubungan

dengan para undangan lain.

Baekhyun bermaksud bertanya lagi pada Lay ketika Mr. Rothrock

masuk, siap membahas genetika, dan selama empat puluh menit

berikut Baekhyun sama sekali melupakan pesta itu. Tapi seusai jam

sekolah, saat berjalan di luar untuk menemui Kim Nana, ia melewati

segerombol murid yang berkumpul di tangga depan. Jessica Blume

sedang berbicara dengan sekelompok kecil murid. Kim Nana

menghampirinya di trotoar dan memegang sikunya.

“Hai, Baekhyun,” sapa Kim Nana. “Bagaimana hari ini?”

“Aneh,” jawab Baekhyun jujur. “Kau sendiri?”

“Juga aneh. Aku merasa seperti selebriti karena mendapat

undangan ke pesta Tiffany.”

“Kau mau pulang lewat mana?” tanya Baekhyun.

“Kurasa lewat—Tunggu sebentar,” kata Kim Nana. “Jessica sedang membaca sebuah daftar.” Ia menyipitkan mata ke arah Jessica yang

sedang bicara. Mungkin sebagai kompensasi pendengarannya,

penglihatan Kim Nana sangat tajam, dan ia dapat membaca bibir dari jauh.

“Dia sudah tahu siapa saja yang diundang ke pesta,” ujarnya. “Ada sembilan orang…”

“Hanya sembilan?” tanya Baekhyun.

“Itu menurutnya. Kau dan aku, Krystal, Lay Schorr, Chanyeol

Carter, Angela Martiner, Chen Whittle, Jongin Sommers, dan—dan

Kris Beale.”

“Kris? Oh, bagus,” gumam Baekhyun sinis. Selama bertahun-tahun ia dan Kris berteman baik. Mereka besar bersama, main tenis

bersama, bahkan berkencan bersama—sampai tahun lalu ketika Kim Nana

berhenti berkencan dengan Kris dan mulai mengencani Baekhyun. Kris

tak bisa melupakan perasaannya pada Kim Nana dan kadang Baekhyun

bertanya-tanya apakah Kim Nana sudah melupakan perasaannya terhadap

Kris.

“Daftar ini aneh,” ujar Kim Nana. “Tak ada yang merupakan teman satu kelompok, kecuali mungkin Chanyeol dan Jongin.” Jongin seperti Chanyeol, anggota tim rugbi dan juga pebasket. Angela seorang gadis

berambut merah yang cantik dan ramping dengan reputasi binal, dan

Chen seorang jenius sains yang penyendiri. Baekhyun tak mengerti kenapa

mereka semua diundang.

Tapi jika Kris Beale termasuk dalam daftar, Baekhyun tiba-tiba

bersyukur telah diundang juga.

“Oh, lihat,” ujar Kim Nana. “Itu Tiffany. Mungkin dia akan menjelaskan mengapa mengundang kita.”

Tiffany berjalan cepat keluar dari pintu depan bangunan

sekolah. Gerombolan murid itu menghampirinya. Dengan enggan

Baekhyun mengikuti Kim Nana menaiki tangga.

“Dari mana saja kau seharian?” seorang murid bertanya pada Tiffany.

“Aku konsultasi dengan dokter di Waynes-bridge,” jawab

Tiffany. “Aku hanya ikut pelajaran terakhir.”

“Ayo,” kata Jessica. “Jelaskan daftar tamumu.”

“Apa yang harus dijelaskan?” ujar Tiffany manis. “Aku hanya mengadakan pesta.”

“Aku tahu” tukas Chanyeol Carter. “Kalau kita melihat daftar itu, semua yang diundang pasti jagoan atau pengecut, atau ceweknya

seseorang. Betul kan, Tiffany?”

“Maaf. Aku tak mengerti maksudmu,” ujar Tiffany mengangkat bahu. “Aku hanya mengundang beberapa orang yang ingin kukenal

lebih dekat.” Ia mengenakan gaun wol putih dan dengan rambut

pirangnya yang keputihan serta mata hijaunya ia semakin mirip

model.

“Aku suka gagasan Chanyeol,” tukas Jongin. “Jagoan dan

pengecut.”

“Jadi, apa pendapatmu, pengecut?” tanya Chanyeol ketika

melihat Baekhyun. “Kau punya nyali pergi ke pesta—dan menghadirinya sepanjang malam?”

“Kuharap kalian semua datang ke pesta,” kata Tiffany. Ia

mengarahkan senyumnya yang menyilaukan pada Chanyeol. “Apa kau

bisa kuandalkan, Chanyeol?” tanyanya.

“Eh—tentu,” jawab Chanyeol, tiba-tiba tampak dungu.

“Kau juga bisa mengandalkanku,” tukas Jongin.

“Syukurlah,” komentar Tiffany. “Nah, kalian berdua harus janji akan berdansa denganku. Aku punya sound system yang benar-benar

keren, aku beli banyak CD disko yang benar-benar enak.”

Tiffany sengaja mengiming-iming mereka, dan Baekhyun melihat

Chanyeol serta Jongin termakan

“Hei, aku ingin dansa denganmu,” tukas Taeyang McCorey, yang tiba-tiba muncul dengan sobatnya, Top Danforth. Taeyang anggota

tim rugbi universitas, tapi sifatnya buruk dan kebanyakan murid lain tak mau bergaul dengannya. Ia dan Top merupakan pengganggu

bertubuh paling besar di sekolah mereka.

“Yah, aku juga ingin berdansa denganmu, Taeyang,” jawab

Tiffany, suaranya tiba-tiba terdengar sinis. “Mengapa kau tak ikut aerobik di kelasku?”

Murid-murid lain tertawa, dan Taeyang membeliak ke arah

mereka sebelum kembali menatap Tiffany. “Mengapa aku tak datang saja ke pestamu?” ujarnya. “Kau mungkin hanya lupa memberiku undangan, ya kan?”

“Tidak,” jawab Tiffany, kembali tersenyum “Aku tak lupa.”

“Yah, kau sebaiknya mengubah keputusanmu,” sergah Taeyang

mengernyit marah. “Aku dan Top tidak suka kalau tak dilibatkan.”

“Aku menyesal kalian merasa begitu,” kata Tiffany. “Tapi ini pesta kecil-kecilan, dan kalian tak diundang.

“Kita lihat nanti” tukas Taeyang mengancam. “Ayo, Top,”

tambahnya. “Ayo tinggalkan orang-orang tolol ini, mari kita

bersenang-senang,” Ia dan Top berjalan pergi, lalu melompat ke atas sepeda motor mereka serta menderum pergi. Baekhyun merasa mereka

belum menyerah, tapi Tiffany tampak sama sekali tak peduli.

“Hei, Tiffany—bagaimana dengan pacar?” tanya Chanyeol. “Aku boleh bawa pacarku, kan?”

“Ini bukan pesta untuk pasangan,” jawab Tiffany. “Ini sama sekali bukan pesta semacam itu.”

“Tapi Monica dan aku sudah dua tahun pacaran,” bantah

Chanyeol.

“Kalau begitu, aku yakin dia takkan keberatan membiarkanmu

sendirian semalam saja,” komentar Tiffany.

Baekhyun dan Kim Nana bermaksud pergi ketika pintu depan bangunan

sekolah mengayun terbuka dengan suara dentam keras. Kris Beale

berjalan angkuh menuruni tangga. Sosoknya yang besar berotot seolah

memakan tempat dalam radius enam puluh senti di sekitarnya. Baekhyun

harus mengakui Kris tampan, dengan rambut pirang pendek, senyum

percaya diri, mata gelap ceria. Begitu sampai di dekat Tiffany, pemuda itu mengedipkan sebelah mata.

“Sudah terima undanganmu,” ujarnya.

“Bagus,” jawab Tiffany. “Kuharap aku bisa mengandalkanmu.”

“Oh, kau bisa mengandalkanku,” ujar Kris. “Satu, dua, tiga, empat, lima…”

Sesudah lima apa, Kris? pikir Baekhyun. Kalau melihat Kris, Baekhyun

kini selalu merasa tak enak dan sinis.

“Aku tahu bisa mengandalkanmu, Kris,” kata Tiffany, kembali tersenyum.Ia menoleh dan melambai pada anak-anak yang masih

berada di sana. “Sampai jumpa,” katanya, dan berjalan menuju halaman parkir.

Baekhyun Memegang tangan Kim Nana dan menariknya pelan. Tapi

sebelum mereka bisa menuruni tangga, suara Chanyeol Carter

membelah kebisingan. “Hei, Baekhyun,” panggilnya. “Pengecut. Mau ke mana buru-buru?”

“Kami mau pulang,” jawab Baekhyun. “Kaukira mau apa?”

“Oke,” komentar Chanyeol. “Tapi kau belum menjawab

pertanyaanku.” Dengan cepat ia menjelaskan pada Kris tentang

kemungkinan yang diundang adalah pengecut atau jagoan. “Jadi, aku bertanya pada Baekhyun apakah dia punya nyali untuk datang dan ikut

pesta semalaman.”

“Pertanyaan bagus,” komentar Kris, tertawa. “Kau mau?”

“Oh, wah. Rumah hantu,” jawab Baekhyun. “Aku gemetar.”

Kris berusaha semirip mungkin menirukan suara Count

Dracula dan bertanya, “Meski di Fear Street?”

“Cuma jalannya saja yang berbeda, menurutku,” ujar Chanyeol.

“Semua omong kosong tentang ulah setan yang terjadi di sana hanya takhayul.”

“Aku tak terlalu yakin,” komentar Kris serius.

“Sekarang siapa yang pengecut?” tukas Chanyeol, agak bingung.

“Hei, Kris, kau memihak siapa?”

“Diamlah, Chanyeol,” ujar Kris, memutar bola matanya.

“Halloween di Fear Street? Aku siap.” Ia kembali menghadap Baekhyun, di wajahnya terbersit sebuah senyum aneh. “Bagaimana, Baekhyun?

Menurutmu kalian para pengecut berani tinggal semalaman di sebuah

rumah hantu?”

“Aku tak punya masalah dengan hal itu,” jawab Baekhyun. “Tapi apa kau yakin ibumu akan mengizinkanmu keluar semalaman?”

Kris mengabaikan ejekan Baekhyun dan memanggil Lay Schorr,

yang sedang berjalan ke halaman parkir, membawa kantong kertas

berisi proyek biologinya yang sudah mati. “Hei, Schorr” teriaknya.

“Bagaimana dengan kau? Kau akan bergabung dengan tim Baekhyun dan

datang ke pesta?”

“Aku pasti muncul,” jawab Lay. “Dan aku bukan pengecut.”

Kris, Jongin, dan Chanyeol tertawa. “Hebat” komentar Chanyeol.

“Dia bukan pengecut”

“Dia tak punya nyali menjadi pengecut” teriak Jongin.

Ketiga remaja itu mulai tertawa lagi, saling bertepuk high-five.

“Jadi, siapa lagi yang masuk timmu, Baekhyun?” tanya Kris. “Chen Whittle, mungkin—dan Krystal? Kaupikir mereka berani datang?”

” Tanya sendiri,” jawab Baekhyun. Ia menarik nafas dalam-dalam.

Sorot mata Kim Nana tampak khawatir, lalu ia menoleh kepada para

jagoan itu. “Ayolah, guys,” katanya. “Ini bukan kontes—ini pesta.

Mengapa kita semua tak…”

“Maaf, Kim Nana,” potong Chanyeol. “Mungkin awalnya pesta, tapi sekarang kontes. Kami melawan mereka. Para jagoan—melawan para

pengecut.”

Baekhyun sesaat berdiri di sana, kehilangan akal. Kris selalu

mencoba menonjolkan diri. Mengapa ia tak bisa menerima kenyataan

bahwa Kim Nana sekarang pacarnya?

“Cari orang lain yang mau melakukan permainanmu,” akhirnya ia berkata. “Ayo, Kim Nana.”

“Dengan kata lain,” tukas Kris, “kau terlalu pengecut untuk datang ke pesta. Kalau begitu, Kim Nana, mungkin kau sebaiknya

bergabung dengan tim kami. Sepertinya Baekhyun tak yakin bisa

melindungimu.”

“Aku bisa mengurusi Kim Nana—jelas lebih baik daripadamu”

teriak Baekhyun, naik darah dan langsung merasa malu.

“Berhentilah bersikap kekanak-kanakan” teriak Kim Nana pada

keduanya. “Aku bisa mengurusi diriku sendiri Dan ketahuilah, aku tak termasuk tim tolol mana pun Itu gagasan terbodoh yang pernah

kudengar”

“Oh ya?” tanya Kris, tampak tersinggung. “Mungkin kau harus mentikirkannya lagi.” Ia melangkah maju, wajahnya tiba-tiba merah marah.

“Tenanglah, Kris, ” tukas Baekhyun. “Tak ada yang bermaksud apa-apa. Ini cuma pesta, ya kan?”

“Sekarang bukan sekadar pesta lagi, gerutu Kris. “Dan kau juga tahu.” Ia berbalik dan cepat berjalan ke arah halaman parkir.

Gerombolan murid itu mulai berpencar. “Yo—Kapten Pengecut,

Lay dengan ceria memanggil dari seberang halaman parkir. “Kita akan mengalahkan mereka, heh, dude?”

“Mereka tak mungkin menang” Baekhyun balas berteriak, tiba-tiba terlibat dalam kompetisi itu tanpa menyadarinya. “Akan kita

tunjukkan siapa pengecut sebenarnya. Bukan kita.”

Ia mulai meraih tangan Kim Nana, tapi menghentikan gerakannya

dengan terkejut. Gadis itu masih berdiri dan menengadah menatapnya,

wajahnya penuh penderitaan. “Hei, Muka Lucu,” panggil Baekhyun. “Ada apa?”

“Kontes tolol ini,” jawab Kim Nana, mengernyit. “Mengapa

kaubiarkan mereka memaksamu melakukannya?”

“Tak ada yang memaksaku melakukan apa-apa,” komentar

Baekhyun. “Lagi pula, ini tak perlu dikhawatirkan. Ini cuma permainan tolol.”

“Bagimu, mungkin,” ujar Kim Nana. “Tapi tidak bagi Kris. Apa kau tak melihat wajahnya? Dia serius Sangat serius.”

♦ Continue ?? ♦

Admin Note : Bagaimana dengan novel ini? Okay, ini baru awal, kalian siap-siap akan mengalami cerita yang menegangkan, tidak horor, tapi cukup membuat jantungmu berpacu dengan sedikit lebih cepat dari biasanya, ada yang mau baca kelanjutan cerita ini? Kalau ada mimin bakalan post kelanjutan ceritanya, see you and don’t be a silent readers yaaa gays~

12 tanggapan untuk “Fear Street : “Halloween Party””

  1. Uwaaa akuuu sukaaa! Aku juga reader berat*? nya karya R.L Stine, dia hebaat bgt! Lewat kata2 dan suasananya itu lohh! Walau selalu pake Fear Street dan Shadyside sbg tempatnya, tapi bakal selalu beda: kota, nama, danau, asrama, dll. Masih banyak bgy karya dia yg belom aku baca, yg udh cuma beberapa~ yg wahana, topeng/mask, bad dream, asrama yg ada chap2 gituu aku lupa judul2nyaa, masih banyak bgt yg belom: ttg cermin dan salah satunya ini.. Mungkin karna udh lama bgt yaa jadi buku karya dia jarang bgt yg tau dan susah didapetin utk yg terjemahan:( Ahh sayang sekaliiiii~ tapiiii aku beruntung bgtttt!! Sumpaah demi si cabek dan si ganz Sehun yg gada disiniii:( aku sukaa dan berharap bgt kamu bisa nerusin ini dan buat karya kek gini lagiii:3 aku suka bgt yg berbau misteri dan yaa ga horor tapi mencekam bukan krn setan atau apaa, tapi suasananyaa buat adrenalin berpacu! Hebaaatt!!!
    Tapi, aku masih bingung kalo ada dialog gituu~ suka hilang arah*? hihi:3 dan si cabek juga sok bgt wkwk:3 tiffany mencurigakan yaa? Entah, banyak bgt yg aku curigain disini, udh kek riddle yaps hihi:3 udah, panjang bgt. Maaaff:3 Salam kenal yaa, SEMANGAAAT POKOKNYA buat kamu:3 Aku tunggu kelanjutan dan karya lain nya:3 TRIMS:*;)

    1. wahh kita samaan brrtii, aku jg suka crta yg bkin jntung berpacu tp bkn krna hantu haha.. Fear streat novel favorite aku sbnernya..mkannya akuu share dsni soalnya ini novel bgus bngtt ^o^

  2. Uwaaaa, aku juga salah satu reader R.L Stine, ada yg bad dream, mask, dan banyak laagiiii:3 cerita diaa emg bener2 keren dan di luar angkasa*? hihi:3 AKU HARAP kamu semangat terus yaa buat cerita translate kek gini, soalnya masih banyak yg aku belom baca dri buku/karya R.L Stine, semangaaattttt:*

  3. chapter?? ohhh okee.. berhasil bikin aku penasaran. judulnya fear street. subtitlenya halloween party? gtu kan?? subtitlenya bakal ganti disetiap judul kah?? ko tumben yaa aku nanya kayak gini. hehe. keep moving.

    1. Iyaahh..ini novel lama sbnernya.. Aku cuma ganti nama tokohnya doang ^^ Ini novel Fear street, ada bbrapa jdul yg smuany ga nyambung sama skli.. Tapii seruu dan ga ngbosenin smua ko pkoknya hhe

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s