Double Suicide

double-suicide

 

Sang panglima perang muda dan berbakat kerajaan Joseon jatuh hati pada sang gadis penghibur. Hubungan dua kasta yang begitu berbeda dan tidak akan mudah mendapat restu. / “Would you like to commit a double suicide with me?

Double Suicide by Len K

Kim Jongin―Kai EXO, Park Hayoung (OC), Kim Minseok―Xiumin EXO, OCs | Rate: T, PG-15 | Genre: Romance, Angst, Tragedy, Historical

 

Warning!

AU (latar waktu pada Dinasti Joseon sekitar tahun 1590-an), OOC, typo, rush (maybe), modified history untuk kepentingan cerita

poster by Ken’s @ Art Fantasy

.

.

== Double Suicide ==

.

                Gadis itu terus berlari menyusuri gelapnya hutan. Di belakangnya, pasukan berkuda lengkap dengan senjata berusaha mendapatkannya. Ranting pohon yang nakal merusak hanbok birunya dan sesekali menggores luka di kulitnya yang terekspos tidak ia pedulikan.

Tatanan rambut gadis itu sudah kacau. Riasannya perlahan mulai luntur. Nafasnya pendek-pendek efek berlari sekuat tenaga. Di dalam sana, paru-parunya terasa meranggas. Kaki telanjangnya terasa perih karena luka lecet, dan hampir mati rasa.

Tapi gadis itu masih terus berlari.

Karena jika ia berhenti maka nyawanya akan hilang dalam sekali tebas oleh pedang pasukan berkuda yang masih mengejarnya.

“Park Hayoung! Kuperintahkan kau untuk berhenti!”

Komando itu diabaikan oleh sang gadis―Park Hayoung. Bermodalkan sisa kekuatan dan sinar bulan―hampir purnama―yang menerangi malam, Hayoung masih terus berlari. Derap pasukan berkuda makin jelas ia dengar. Seiring dengan itu, Hayoung mempercepat larinya.

Cukup susah. Hayoung tidak boleh tersandung atau jatuh agar dirinya tidak tertangkap. Sinar sang dewi malam tidak cukup membantunya. Hutan ini, semakin ke dalam semakin lebat. Pohon-pohon tinggi nan rimbun itu menghalangi penerangan alami satu-satunya pada malam itu.

“Kejar dia sampai dapat! Bawa dia hidup-hidup!”

Masih berlari, Hayoung memaki perintah sialan tadi. Tidak sepenuhnya salah. Dia memang akan dibawa hidup-hidup oleh pasukan kerajaan. Tapi nanti pada akhirnya, dia akan tetap kehilangan nyawanya.

“Akhh!” terkejut, Hayoung berhenti mendadak.

Di depannya, sebuah jurang menganga lebar. Jika kau melihat ke bawah, kau akan melihat kegelapan tanpa akhir.

Hayoung tidak tahu harus berbuat apa. Ini adalah jalan buntu untuknya. Di depannya terdapat jurang, dan di belakangnya, satu pasukan kerajaan tengah mengincarnya. Benar-benar seperti buah simalakama.

Ringikan kuda dan derap-derap binatang berkaki empat itu membuat Hayoung menoleh dengan cepat ke belakangnya. Pasukan kerajaan sudah mengelilinginya dengan pedang terhunus ke arahnya.

“Park Hayoung, kau ditahan atas tuduhan pemberontakan, membunuh panglima Kim Jongin, dan membakar fasilitas publik. Serahkan dirimu sekarang juga!” suara yang begitu menggelegar terasa menyobek hati Hayoung jadi dua.

Apa yang harus ia lakukan?!

 


 

Double Suicide

Standard disclaimer applied

Story © Nuevelavhasta

 


 

 

Kim Jongin mendesah pelan. Seharian bekerja membuat tubuhnya lelah. Dan kini, kaki-kakinya membawanya ke tempat itu. Tempat dimana para pria dimanjakan oleh wanita. Minum-minum, bermain musik, atau bahkan bergumul memuaskan nafsu binatang yang bersemayam di dalam mereka hingga fajar menyingsing.

Jalanan malam ini cukup ramai. Beginilah ibu kota Joseon―Hanseong―ketika malam. Ada aktivitas tersendiri yang menggeliat. Suatu sisi lain dari kota di siang hari.

Seringaian pria itu muncul hanya dengan membayangkannya saja. Membayangkan kesenangan yang akan ia dapatkan ketika pergi ke tempat itu, juga… wanita itu. Wanita yang telah mencuri hatinya.

.

.

“Ah, Panglima Kim! Selamat datang!” pemilik tempat itu―pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih―tersenyum hangat menyambut kedatangan Kim Jongin―konsumen setia tempatnya. “Siapa yang kau inginkan untuk menemanimu malam ini?”

Kurva itu segera terpatri di bibir Jongin. “Seperti biasa, Pak.”

Pria tua terkekeh pelan. “Sudah kuduga. Beruntung malam ini aku ‘menyimpannya’. Aku sudah punya firasat kau akan datang malam ini, Panglima Kim.”

“Harusnya kau terus menyimpannya, Pak.”

Bahu pria tua itu naik-turun karena tertawa. Bisa dengan jelas ia dengar nada posesif dalam perkataan Jongin tadi. “Aku tidak bisa melakukan itu, Panglima Kim. Maaf. Dia adalah bintang di sini. Sumber pemasukan terbesarku. Menyimpannya―untukmu―sama saja dengan matinya bisnisku ini.”

Jongin mendengus pelan. Jelas sekali pria tua di hadapannya ini tengah mencemoohnya.

Pria tua itu lalu memberi isyarat bagi Jongin untuk mengikutinya. Dua sosok beda usia dengan rentang yang jauh itu berjalan masuk. Mereka berjalan di lorong-lorong. Sementara di kanan-kiri mereka terdapat ruangan-ruangan kecil untuk menjamu tamu seperti Jongin.

Bisa Jongin dengar suara pria-pria mabuk itu bercampur dengan tawa renyah para wanita penghibur di sini. Sayup-sayup Jongin juga bisa mendengar alunan alat musik yang dimainkan. Atau seruan penuh semangat―setengah mabuk―yang minta tambahan soju.

“Nah, kita sudah sampai.” Pria tua itu berhenti di depan sebuah ruangan. “Silahkan,” katanya sebelum undur diri.

Dan disinilah Jongin sekarang. Begitu ia menggeser pintu kertas ini, sosok gadis pujaannya sudah menunggunya. Sama seperti malam-malam sebelumnya.

Dengan perasaan membuncah, Jongin menggeser pintu itu. Senyum tipisnya unjuk diri kala melihat sang gadis yang tengah duduk meminum teh, berhenti dan balas menatapnya.

“Selamat datang,” sambut gadis itu dengan senyum menawan. Senyum yang tidak akan pernah bosan Jongin lihat.

Senyum gadis itu menular pada Jongin. Panglima muda itu lalu melangkah masuk, menutup pintu kertas di belakangnya dengan mudah, lalu berjalan mendekat pada gadis itu. Jongin duduk bersila di hadapan gadis itu. Menatap manik gadis itu sejenak tapi sarat arti sebelum merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya erat-erat.

“Aku merindukanmu,” bisik Jongin lirih seraya berusaha memenuhi rongga paru-parunya dengan wangi gadis pujaannya ini. “Sangat merindukanmu, Hayoung…”

Hayoung―gadis itu, tersenyum membalas pelukan Jongin. Menelusupkan jemarinya ke dalam surai kelam milik pria yang telah mencuri hatinya. Sementara tangannya yang lain dengan bebas menjelajahi punggung lebar pria itu.

“Aku juga, merindukanmu,” bisiknya.

Ah, ucapan rindu itu sudah mampu menggetarkan kalbu seorang Kim Jongin. Jongin kemudian melepaskan pelukannya. Kembali menatap Hayoung, tajam… namun lembut. Sejurus kemudian, bibir Jongin sudah melekat di bibir Hayoung.

Rasanya masih sama; manis dan lembut. Dan memabukkan. Candu bagi Kim Jongin.

Ciuman itu kemudian berubah menjadi lumatan, lebih menuntut. Lebih bergairah, dan basah. Lalu berhenti ketika keduanya sama-sama membutuhkan pasokan oksigen untuk sistem respirasi mereka.

“Apa yang kau inginkan malam ini?” tanya Hayoung.

Ah, andai saja Hayoung itu sama dengan perempuan-perempuan lain di sini. Mungkin Jongin sudah menggaulinya sejak dulu. Selalu meminta pergumulan penuh nafsu dan cinta hingga pagi, begitu seterusnya tiap kali ia datang kemari.

Tapi Hayoung berbeda.

Tubuh gadis itu tidak dijual. Sejak Hayoung pertama bekerja di sini hingga sekarang, belum ada pria yang berhasil menjamah tubuhnya bahkan menciumnya saja tidak―pengecualian untuk Kim Jongin. Hayoung hanya melayani tamu-tamunya dengan minum soju atau teh bersama, atau bermain alat musik sembari mengobrol dengan tamunya. Juga sesekali menunjukkan suara merdunya.

Walau begitu, dirinya termasuk perempuan paling mahal di sini. Mungkin karena parasnya yang cantik memukau, tutur katanya yang halus, perangainya yang begitu sopan dan penuh etika, serta keterampilannya dalam bermain alat musik serta menyanyi.

Dan juga, Jongin begitu menghargai kekasih hatinya itu. Berkomitmen pada dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal itu sebelum pernikahan mereka berlangsung. Pernikahan yang rasanya… mustahil terlaksana.

“Aku ingin kau menemaniku minum teh malam ini sembari mendengarkan kisah-kisahku,” pinta Jongin.

“Baik.”

 

***

 

Sama seperti malam-malam luang Kim Jongin lainnya, malam ini Jongin mampir ke tempat itu lagi. Memesan wanita yang sama setiap kali datang, dan baru pulang ketika sang pemilik tempat itu mengusirnya karena sudah akan tutup. Terima kasih pada pangkatnya yang tinggi dan status lajangnya sehingga ia bisa menggunakan sebagian gajinya untuk membayar waktu berdua dengan gadis pujaan hati.

Kini, di salah satu ruangan hanya terdapat Kim Jongin dan Park Hayoung. Pencahayaan dari lilin dan lampu tradisional yang remang menimbulkan atmosfer romantis tersendiri.

Sekarang ini Jongin tengah merebahkan dirinya dengan menggunakan paha Hayoung sebagai bantal.

Oh, tidak ada yang Jongin lebih sukai dari ini. Saat dimana ia menggunakan paha Hayoung sebagai bantalnya. Saat surai kelamnya disisir lembut oleh jari-jari lentik Hayoung. Saat ia menatap ke atas―melihat wajah kekasih hati yang juga tengah menatapnya. Juga saat tangannya bermain di paras elok nan ayu itu. Membelai semua fitur wajah Hayoung dengan lembut tanpa terlewat satu fiturpun.

“Aku mencintaimu, Hayoung.” Entah sudah yang keberapa kali Jongin mengatakan hal cliché ini dengan gamblangnya.

Hayoung tertawa. Begitu merdu merasuk ke telinga Jongin.

Sungguh, pada awalnya Jongin sangat tidak percaya bisa jatuh hati kepada Hayoung. Awalnya Jongin mendekati Hayoung hanya karena kasihan.

Ya, kasihan. Hayoung dulunya adalah putri tunggal dari keluarga yang cukup berpengaruh di pemerintahan kerajaan, seorang politisi dalam kabinet kerajaan. Namun karena permainan politik, ayah Hayoung difitnah telah mengkhianati tanah Korea―membantu Jepang dalam invasinya ke Korea. Kemudian, kerajaan memerintahkan pasukannya untuk membunuh keluarga Hayoung.

Orangtua Hayoung dan segenap penghuni kediaman keluarga Park meninggal. Dan entah bagaimana caranya Hayoung berhasil melarikan diri dan menjadi salah satu wanita penghibur di sini.

Dan ya, orang yang membunuh orangtua Hayoung adalah Jongin.

Untuk alasan itu, untuk alasan ‘menebus rasa bersalah’, Jongin mendekati Hayoung. Mengunjungi Hayoung sebagai pelanggan tiap ada waktu luang. Memberi sedikit uang lebih pada Hayoung. Kemudian yang Jongin tahu setelah pertemuan intens itu, dirinya telah jatuh hati pada Hayoung. Bukan karena kasihan atau menebus rasa bersalah, tapi murni karena cinta.

“Bagaimana kalau kita menikah?” tangan usil Jongin mengusap-usap pipi Hayoung.

Gelak tawa Hayoung kemudian terdengar. Hal ini membuat panglima muda kebanggan kerajaan itu mengernyit heran dan menghentikan aktifitasnya―mengusap pipi Hayoung. Jongin lalu bertanya, “Kenapa? Ada apa? Apa yang lucu?”

Kekasih hatinya itu mendengus kecil sebelum menjawab, “Kau. Kau yang lucu.”

“Bagaimana bisa?” tangan Jongin kini diam di atas perutnya.

“Karena kau mengajakku menikah.”

“Aku tidak melihat itu sebagai suatu hal yang lucu. Aku serius. Aku ingin kita menikah, membangun keluarga kecil bersama, menua bersama hingga maut menjemput. Apanya yang lucu?”

“Kau. Kau yang lucu.”

“Jawaban yang masih sama dan aku masih belum mengerti.”

“Kau ini panglima besar kerajaan, Jongin-ah. Dan aku? Aku hanya wanita penghibur sekarang. Kau tak lihat perbedaan status sosial kita? Apa kata orang-orang nanti? Seorang panglima sehebat dirimu mempersunting seorang wanita penghibur. Mereka pasti akan mencemoohmu, mengataimu gila, dan menganggapku mata duitan.”

Jongin menggeliat gelisah. “Kenapa kau begitu memikirkan ucapan orang lain? Ini hidupku, hidupmu, hidup kita. Kitalah pelaku dalam sandiwara ini. Dan mereka semua, orang-orang itu, mereka hanya figuran, komentator. Berhenti mengkhawatirkan opini orang lain secara berlebih. Itu tidak baik.”

“Bukan itu masalahnya.”

“Lalu?”

Hayoung tersenyum getir. “Kau tahu bagaimana latar belakangku.”

Jongin tercekat. Dirinya kembali ditampar sebuah fakta menyakitkan yang melibatkan dirinya.

Tapi Hayoung masih tersenyum. Dia bukannya tidak tahu siapa orang yang tidur di pahanya saat ini. Hayoung tahu siapa pembunuh kedua orangtuanya. Kim Jongin. Dan orang itu pulalah yang telah mencuri hatinya.

Hayoung ingat awal pertemuannya dengan Jongin. Bukan pertemuan manis yang patut dikenang. Tapi justru tidak mau lepas dari ingatannya entah bagaimana. Saat pertama bertemu, ia dan Jongin sama-sama diam. Ekspresi keduanya begitu samar dan keduanya tidak repot-repot untuk menebak isi hati satu sama lain.

Tidak ada yang mereka lakukan selama awal-awal bertemu. Menghabiskan malam dalam diam, dan itu berlangsung cukup lama. Berapa? Sekitar dua bulan mungkin? Dan kemudian Jongin memintanya untuk bermain gayageum. Lalu obrolan keduanya mengalir begitu saja.

Es beku di antara mereka perlahan-lahan mencair. Hingga menyisakan kobaran cinta yang begitu bergelora dan hangat seperti sekarang.

“Kalau begitu kita bisa lari,” ujar Jongin setelah berpikir dan menguasai keterkejutannya, “kita bisa lari bersama-sama dari sini. Lalu memulai kehidupan baru kita di tempat lain―”

“Lalu kau menanggalkan gelar panglimamu begitu saja?” potong Hayoung.

“…aku tak keberatan untuk menanggalkannya jika itu artinya aku bisa bersamamu,” ucap Jongin pelan. Namun penuh dengan kesungguhan.

Hayoung tak menjawab. Bibirnya justru membentuk kurva ke atas. Tatapannya meneduh. Tangannya mengusap-usap surai hitam kekasih hatinya itu. Kemudian Hayoung mendekatkan wajahnya ke wajah Jongin.

Tidak sabaran, Jongin menarik tengkuk Hayoung dan mengangkat kepalanya yang kini direngkuh oleh Hayoung. Keduanya kembali berpagutan.

 

***

 

Malam yang lain, Jongin masih mengunjungi tempat itu. Dan masih ‘memesan’ Hayoung untuk menemani malamnya. Tapi raut mukanya begitu berbeda.

Tidak ada senyuman. Bibirnya hanya terkatup rapat. Tidak ada kata ‘aku merindukanmu’. Jongin justru langsung memeluk erat Hayoung begitu ia membuka pintu. Membuat si pemilik tempat berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya seraya bergumam, “Dasar anak muda.”

Jongin tidak banyak bicara malam ini. Ia hanya minta ditemani minum soju saja. Hal ini tentu membuat Hayoung bertanya-tanya. Apa terjadi sesuatu pada kekasih hatinya?

“Kau kenapa? Terlihat lesu dan pucat. Kau sakit?”

Jongin menggeleng.

“Lalu ada apa?”

“…bukan apa-apa.”

“…” Hayoung tidak tahu harus bagaimana lagi untuk mendesak Jongin agar bicara.

“Tuangkan soju lagi untukku.” Jongin menyodorkan cawan kecilnya.

Jongin tidak tidak kenapa-napa. Terutama saat ia berada dalam rapat tadi siang dan mendengarkan perintah langsung dari pihak kerajaan.

 


 

 

Siang ini, rapat antara petinggi pasukan kerajaan dan perwakilan pihak kerajaan, disertai beberapa orang berpengaruh, diadakan. Jongin tentu masuk di dalamnya.

                “…pemberontakan yang akan dilakukan oleh Park Hayoung dan faksi yang didukungnya akan segera tereksekusi. Ia menginginkan balas dendam atas kematian keluarganya. Maka dari itu kita tidak boleh membiarkan ini terjadi. Kita harus menangkap Park Hayoung

                Kepalan tangan Jongin yang ada di atas pahanya semakin menguat. Rahangnya sudah mengeras sekarang ini. Telinganya panas mendengar semua yang dilontarkan pada rapat kali ini.

                Park Hayoung? Kekasih hatinya? Melakukan pemberontakan? Tidak mungkin! Jongin menolak mentah-mentah gagasan konyol itubaginyadalam hati.

                “Apa buktinya sudah cukup?” sela Jongin. Berusaha menyembunyikan emosinya yang siap meledak kapan saja.

                “Kau tidak perlu meragukannya, Panglima Kim Jongin,” kata panglima Kim Minseok dengan nada penuh mengejek. Rival Jongin ini tahu apa yang terjadi antara Jongin dengan Hayoung. Dan melihat keadaan sekarang, tidak ada alasan bagi Minseok untuk tidak tersenyum licik penuh kemenangan.

                “Semua bukti sudah terkumpul dan dapat dipastikan kebenarannya,” lanjut Minseok. “Secara diam-diam, Park Hayoung melakukan pemberontakan. Atau bisakah kita sebut dengan kudeta, jika hal ini tidak segera teratasi? Diam-diam ia mengumpulkan massa untuk melakukan kudeta. Memanfaatkan invasi Jepang yang berhasil menduduki ibukota, dan Pyeongyang… serta perpecahan dalam kabinet kerajaan.

                “Jika hal ini tidak segera diatasi, maka habislah kita. Kita masih belum mendapat informasi yang cukup mengenai kekuatan militer musuh dan jalur diplomasi sepertinya tidak bisa diandalkan sepenuhnya. Joseon dalam masa genting, dan sekarang akan ada kudeta? Yang benar saja. Ah, jangan lupakan kemungkinan gadis itu bisa berkhianat dengan membangun aliansi dengan Jepang untuk menggulingkan pemerintahan sekarang ini.”

                Jongin terus-menerus mengingatkan dirinya agar tidak kelepasan menghajar Kim Minseok yang masih betah tersenyum licik padanya.

                Sementara yang lain sibuk berdebat, Jongin larut dalam pikirannya sendiri hingga…

                “Kalau begitu sudah diputuskan kita akan mengeksekusi mati Park Hayoung!”

                “Apa?” desis Jongin. “Kenapa harus eksekusi mati? Apa penjara tidak cukup untuknya?”

                Perwakilan kerajaan angkat bicara, “Akan sangat berbahaya jika ia masih hidup. Ia dan keluarganya tahu terlalu banyak mengenai internal kerajaan. Jika ia masih hidup, tidak mustahil ia akan memanfaatkan pengetahuannya itu untuk menghasut dan menggulingkan pemerintahan. Pemberontakan yang disokongnya dan kudeta yang semoga saja tidak terjadi ini jadi buktinya.”

                “Tapi

                “Keputusan sudah final, Panglima Kim Jongin. Park Hayoung harus mati. Malam ini juga.”

                Dan dunia Jongin seketika runtuh.

 


 

 

“Tuangkan soju lagi untukku.” Jongin menyodorkan cawan kecilnya.

Hayoung hanya bisa melaksanakan permintaan pemuda itu dengan patuh tanpa banyak bertanya meski hatinya bertanya-tanya kenapa dan ada apa. Iris coklat kehitaman milik Hayoung tidak bisa lepas dari Jongin yang terus meminta lebih banyak soju. Tidak pernah, selama ia mengenal Jongin, ia melihat Jongin begitu adiktif dengan alkohol.

“Sesuatu tengah terjadi, bukan… Jongin-ah?” Hayoung tidak mampu lagi membendung rasa penasarannya.

Cawan di tangan Jongin terbanting di meja kayu dengan cukup keras hingga menimbulkan bunyi ‘tak!’ cukup keras pula. Manik mata Jongin menekuri cawan kosong di tangannya sebelum menatap Hayoung dengan mata sayunya.

Melihat sosok berparas cantik di hadapannya kembali membuat hati Jongin disayat sembilu. Oh Tuhan, apa ia sanggup? Sanggupkah ia melaksanakan tugas yang dipercayakan padanya? Ah tidak, lebih tepatnya tugas yang dipaksakan padanya.

 


 

 

“…dan yang akan membunuh Park Hayoung adalah kau, Panglima Kim Jongin.” Titah Jenderal Seungwon dengan nada tegas.

                “Ap-APA? Kenapa aku?!”

                Kim Minseok tersenyum licik di tempatnya. “Karena akan lebih mudah bagimu untuk melenyapkan gadis itu, Kim Jongin. Kau pelanggan setia gadis itu di tempat Si Tua Yongsik ‘kan? Kau hanya perlu datang ke tempatnya malam ini seperti biasa lalu menghabisinya dan pergi. Kegemparan mungkin akan terjadi, tapi setelahnya semua akan lupa. Karena ia hanyalah gadis penghibur.”

                Gigi-gigi Jongin bergemeletuk saking geramnya. Dalam hati ia mengumpat rivalnya itu sejadi-jadinya. Kim Minseok tahu semuanya. Bahkan hubungan rahasia antara dia dan Hayoung. Dan itu menjadi senjata hebat untuk meruntuhkannya.

                “Kenapa, Kim Jongin? Jangan bilang kau kalah karena seorang wanita.” Minseok masih mengejeknya.

                “Perintahkulebih tepatnya perintah kerajaan tidak bisa dibantah, Panglima Kim Jongin. Dan kau tahu apa konsekuensinya jika kau gagal,” tukas Jenderal Seungwon.

 


 

 

“Hei, ada apa?” sentuhan lembut di pipi dan dada Jongin menyentak kesadaran pria itu akan lamunannya tadi.

Tangan besar Jongin menggenggam tangan Hayoung yang lebih kecil dari miliknya yang bergerilya di pipinya. Sebuah senyum tipis akhirnya muncul di bibir Jongin. “Hm, tidak apa-apa. Hanya banyak pikiran.”

“Semua yang datang kemari bertujuan untuk melepas penat. Kau juga. Maka dari itu aku tidak akan terima jika tamuku, terutama kau, tidak bisa merasa rileks di sini.”

Jongin tertawa kecil. Ucapan Hayoung ada benarnya juga. Kemudian Jongin mengecup bibir Hayoung singkat.

“Hayoung-ah…” panggil Jongin.

“Hm?”

“…”

“…”

“Maukah kau… bunuh diri bersamaku?”

Tawaran Jongin barusan membuat Hayoung tercekat. Kekagetan jelas tercetak di wajah ayunya. Keningnya kini berkerut. Bibir penuhnya yang tersapu gincu warna merah menganga kecil. Sorot matanya juga berubah kaget, tidak percaya.

“Jongin-ah, ap-apa yang―”

“Hahahahahaha!” tawa hambar Jongin menggunting pertanyaan yang belum selesai milik Hayoung. “Maaf, kurasa aku… kurasa aku… mulai mabuk. Maaf…”

Raut wajah Hayoung kembali melembut. Disandarkannya kepalanya pada dada bidang Jongin sembari tangan kirinya bermain-main di dada bidang tersebut. “Hm, tidak apa-apa.”

“Yang ingin kukatakan adalah… ayo kita lari bersama. Menjauh dari Hanseong dan setelah itu menikah. Aku tidak butuh semua pangkat ini. Kita bisa hidup tenang bersama.”

“Dan bila aku menolak?”

“Aku memaksamu. Malam ini juga, aku akan membawamu lari dari sini.” Jongin menatap lurus dan tajam ke mata Hayoung. Penegasan bahwa ia tidak menerima penolakan lebih lagi.

“Kenapa?”

“…”

“Kenapa kau bersikukuh seperti itu?”

“Karena aku sangat mencintaimu! Kau pikir apa ada alasan lain dari ini semua?”

“Tapi aku tidak bisa. Ada… sesuatu yang harus kulakukan…”

Sebagai panglima tinggi kerajaan, Jongin sudah mencium keraguannya yang mungkin akan jadi nyata sebentar kali tatkala mendengar penuturan kekasih hatinya itu. Disertai emosi yang meluap, Jongin mencengkram kuat kedua lengan Hayoung.

“Kenapa? Kenapa kau begitu keras kepala? Kerajaan tengah memburumu! Mereka menuduhmu melakukan pemberontakan dan kau akan dihabisi malam ini juga! Dan… dan… yang bertugas untuk menghabisimu adalah aku―”

Iris coklat kehitaman itu kembali terbelalak.

Kemudian Jongin memeluk erat Hayoung.

“…a-aku tidak ingin itu terjadi. Aku tidak kau mati dan aku tidak ingin menghabisimu. Maka dari itu, ayo lari dari sini. Kau dan aku, kita bisa mulai hidup baru. Ayo lari, sebelum pasukan kerajaan datang kemari dan menghabisi kita berdua. Aku tidak peduli jika nantinya dicap sebagai pemberontak.”

“Jongin-ah…”

“Semua yang dikatakan mereka tidak benar bukan? Tidak ada pemberontakan ‘kan? Ayo, lari bersamaku. Atau nantinya skenario ini bisa berubah menjadi bunuh diri bersama.”

“Jongin-ah, aku… aku juga mencintaimu. Sangat.” Hayoung berbisik dengan begitu lirih.

“Aku tahu itu, aku tahu.”

“…maaf.”

 

 

Hayoung terbelalak mendengar semua penuturan Jongin. Pemberontakan yang baru dirintisnya telah terendus oleh anjing-anjing pemerintahan. Dan kini, kekasih hatinya yang kini tengah mendekapnya erat diharuskan untuk membunuhnya.

“…a-aku tidak ingin itu terjadi. Aku tidak kau mati dan aku tidak ingin menghabisimu. Maka dari itu, ayo lari dari sini. Kau dan aku, kita bisa mulai hidup baru. Ayo lari, sebelum pasukan kerajaan datang kemari dan menghabisi kita berdua. Aku tidak peduli jika nantinya dicap sebagai pemberontak.”

“Jongin-ah…”

“Semua yang dikatakan mereka tidak benar bukan? Tidak ada pemberontakan ‘kan? Ayo, lari bersamaku. Atau nantinya skenario ini bisa berubah menjadi bunuh diri bersama.”

Tidak. Apa yang dikatakan oleh mereka itu benar. Aku, terlibat dalam gerakan pemberontakan itu. Membelot pada pemerintahan yang busuk yang telah membunuh keluargaku! Ingin sekali rasanya Hayoung menyuarakan isi hatinya itu dengan lantang. Tapi tidak bisa. Justru, ia mengatakan hal lain yang membuat hatinya makin teriris perih.

“Jongin-ah, aku… aku juga mencintaimu. Sangat.” Hayoung berbisik dengan begitu lirih.

“Aku tahu itu, aku tahu.”

“…maaf.” Airmata Hayoung tumpah. Dan kini isakannya mulai terdengar.

Pelukan itu terlepas. Jongin menatap Hayoung dengan panik. “He-hei, ada apa ini? Kenapa kau meminta maaf? Kau tidak salah apapun. Dan kenapa kau menangis? Hayoung-ah, apa aku telah menyakitimu?” jempol Jongin mengusap bulir-bulir bening yang kini beranak sungai di pipi gadisnya.

Cinta ini telah menyakitiku. Dan mungkin telah menyakiti kita berdua tanpa sadar.

                “Hayoung, ayo. Lekas kita lari dari sini. Waktu kita makin menipis.” Jongin menggamit tangan Hayoung untuk dibawanya pergi. Ia ingat, sebelum tengah malam ia harus sudah menghabisi gadisnya ini. Atau pasukan kerajaanlah yang akan melakukannya.

Dan tenggat waktu itu semakin mendekat.

Dan Jongin tahu, ia tidak sanggup melakukannya. Tidak sanggup membunuh gadisnya. Tidak mau menyerahkan gadisnya pada kerajaan. Dan tidak ingin mereka berdua mati sebelum ia memulai hidup baru dengan Hayoung.

“Ayo.” Jongin menarik Hayoung untuk bangun dan berjalan.

Namun belum ada langkah yang tercipta, tiba-tiba saja Hayoung sudah melesat berdiri di hadapannya. Menghalangi jalannya dan kemudian merengkuh tubuh tegapnya ke dalam pelukan. Sejurus kemudian tangan Hayoung menarik tengkuk Jongin mendekat dan memagut bibir Jongin penuh gairah.

Jongin sama sekali tidak mengerti kenapa gadisnya melakukan hal ini. Namun tentu ia tidak menyia-nyiakan pagutan manis penuh candu ini.

“Maaf,” lirih Hayoung yang sejenak melepas ciuman mereka dan kembali mempertemukan bibirnya dengan milik Jongin yang semakin heran akan gencarnya kata ‘maaf’ keluar dari bibir Hayoung.

Hayoung mendorong tubuh Jongin hingga keduanya jatuh dengan posisi Jongin di bawah dan Hayoung di atasnya. Pagutan mereka masih belum terlepas juga. Dan sejenak, Jongin lupa akan tenggat waktu itu. Hingga―

“Ukh!” Jongin tersentak. Tapi tertahan oleh ciuman mereka.

Namun tubuhnya tidak bisa dibohongi. Ia bisa merasakan sebilah pedang kecil menembus lambungnya. Ia juga bisa merasakan darah segar miliknya yang mulai merembes ke lantai kayu di bawah mereka.

Jongin tidak mengerti.

Ciuman mereka berhenti tapi jarak antara wajah keduanya masih sangat dekat. Hidung mereka bahkan masih bersentuhan. Kekuatan Jongin hilang. Tubuhnya sekaku batang kayu sekarang.

Wajah Hayoung kini sudah banjir airmata. Dan bulir-bulir bening itu jatuh membasahi wajah Jongin. Sungguh, Jongin tidak mengerti.

“Aku mencintaimu sepenuh hatiku. Maaf, Jongin-ah,” kata Hayoung di sela-sela isakannya.

Bilah pedang kecil itu kembali menembus tubuh Jongin. Kali ini hati Jongin yang jadi sasaran. Jongin terbatuk hingga muntah darah. Dan ketika kesadarannya makin menipis, ia masih tidak mengerti akan ini semua…

 

Dengan tangan bergetar, Hayoung menangkupkan wajah Jongin di kedua tangannya. Masih dengan tangisan, Hayoung mengusap mata Jongin agar terpejam. Dan untuk terakhir kalinya, Hayoung mengecup bibir Jongin yang masih terasa hangat.

Cinta itu rumit. Itu yang selalu ada di pikiran Hayoung. Dengan mudahnya―atau tidak sabenarnya―ia jatuh hati pada orang yang telah menghabisi keluarganya. Kebaikan, kelembutan, dan kesungguhan pemuda itu telah merebut seluruh hatinya.

Tapi bukan berarti dendamnya sirna begitu saja. Namun dendam yang nyala-redup itu semakin redup tiap kali dirinya bertemu dengan Jongin. Semakin melemah ketika mereka berpagutan bibir. Makin melemah ketika keduanya menghabiskan malam bersama ditemani soju atau teh sembari mengobrol penuh antusias.

Semakin menjadi lemahnya ketika Jongin terlelap di pangkuannya ketika kelelahan dan dihiburnya dengan permainan gayageum serta nyanyiannya. Makin melemah ketika Hayoung menatap wajah pulas seorang Kim Jongin yang tertidur. Makin melemah ketika bisikan-bisikan penuh cinta dan janji-janji manis yang kini tak akan pernah terwujud itu keluar dari bibir Kim Jongin.

Melemah. Tapi bukan berarti sirna.

Dan karena kecintaannya yang begitu besar pada Kim Jongin, Hayoung bertekad untuk mengambil nyawa Jongin dengan kedua tangannya.

Jangan tanya kenapa karena Hayoung sendiri juga tidak tahu jawabannya. Rasa cinta ini sungguh menyiksanya.

Masih terisak, Hayoung melepaskan ciumannya ketika merasakan bibir Jongin yang mulai terasa dingin. Hayoung lalu bangkit. Kemudian dengan sengaja, ia tumpahkan cairan minyak di lampu dan membuang lilin di atas cairan minyak itu.

Api dengan cepat berkobar di ruangan itu dan mulai merembet keluar.

Hayoung menatap jasad Jongin yang terbaring kaku di antara kobaran api sebelum melarikan diri dari tempat itu melalui jalan keluar rahasia. Karena ia mulai mendengar derap kuda yang mendekat.

.

.

Hayoung terus berlari menyusuri gelapnya hutan. Di belakangnya, pasukan berkuda lengkap dengan senjata berusaha mendapatkannya. Ranting pohon yang nakal merusak hanbok birunya dan sesekali mmenggores luka di kulitnya yang terekspos tidak ia pedulikan.

Tatanan rambutnya sudah kacau. Riasannya perlahan mulai luntur. Nafasnya pendek-pendek efek berlari sekuat tenaga. Di dalam sana, paru-parunya terasa meranggas. Kaki telanjangnya terasa perih karena luka lecet, dan hampir mati rasa.

Tapi Hayoung masih terus berlari.

Karena jika ia berhenti maka nyawanya akan hilang dalam sekali tebas oleh pedang pasukan berkuda yang masih mengejarnya.

“Park Hayoung! Kuperintahkan kau untuk berhenti!”

Komando itu diabaikan oleh Park Hayoung. Bermodalkan sisa kekuatan dan sinar bulan―hampir purnama―yang menerangi malam, Hayoung masih terus berlari. Derap pasukan berkuda makin jelas ia dengar. Seiring dengan itu, Hayoung mempercepat larinya.

Cukup susah. Hayoung tidak boleh tersandung atau jatuh agar dirinya tidak tertangkap. Sinar sang dewi malam tidak cukup membantunya. Hutan ini, semakin ke dalam semakin lebat. Pohon-pohon tinggi nan rimbun itu menghalangi penerangan alami satu-satunya pada malam itu.

“Kejar dia sampai dapat! Bawa dia hidup-hidup!”

Masih berlari, Hayoung memaki perintah sialan tadi. Tidak sepenuhnya salah. Dia memang akan dibawa hidup-hidup oleh pasukan kerajaan. Tapi nanti pada akhirnya, dia akan tetap kehilangan nyawanya.

“Akhh!” terkejut, Hayoung berhenti mendadak.

Di depannya, sebuah jurang menganga lebar. Jika kau melihat ke bawah, kau akan melihat kegelapan tanpa akhir.

Hayoung tidak tahu harus berbuat apa. Ini adalah jalan buntu untuknya. Di depannya terdapat jurang, dan di belakangnya, satu pasukan kerajaan tengah mengincarnya. Benar-benar seperti buah simalakama.

Ringikan kuda dan derap-derap binatang berkaki empat itu membuat Hayoung menoleh dengan cepat ke belakangnya. Pasukan kerajaan sudah mengelilinginya dengan pedang terhunus ke arahnya.

“Park Hayoung, kau ditahan atas tuduhan pemberontakan, membunuh panglima Kim Jongin, dan membakar fasilitas publik. Serahkan dirimu sekarang juga!” suara yang begitu menggelegar terasa menyobek hati Hayoung jadi dua.

Apa yang harus ia lakukan?

Di depannya ada banyak pedang terhunus ke arahnya dan anak panah yang siap membidiknya. Di belakangnya, jurang menganga lebar dengan kegelapan yang siap menelannya. Jadi apa pilihan yang ia punya? Maju dan membiarkan dirinya terhunus pedang dan ditancapi anak panah, atau merelakan dirinya ditelan kegelapan jurang?

Tanpa sadar, Hayoung melangkah mundur. Kerikil-kerikil yang jatuh ke dasar jurang menyentaknya.

“Serahkan dirimu baik-baik, Park Hayoung.”

Hayoung hampir tidak bisa berpikir karena semua ketegangan ini. Namun tiba-tiba ingatannya melayang pada sosok Jongin. Dan entah kenapa hanya dengan mengingat sosok kekasih hatinya yang kini tak bernyawa karena ulahnya itu membuat Hayoung tersenyum.

Hayoung mengangkat wajahnya yang dihiasi senyum. Membuat pasukan kerajaan heran menatapnya. Apa dia sudah gila?

“Menyerahkan diriku? Tidak akan.” Hayoung mengambil ancang-ancang.

“TUNGGU!”

Terlambat. Tubuh gadis itu sudah jatuh ke bawah ditelan oleh kegelapan jurang. Park Hayoung sudah bisa dipastikan mati karena dasar jurang itu berupa batu-batu terjal dan curam.

“Sial!” Panglima Kim Minseok mengumpat kecil. Misi gagal karena target bunuh diri.

 

Dan pada malam itu, seorang pemuda meregang nyawa di tangan pujaan hatinya sendiri dengan begitu banyak tanda tanya yang tak sempat terjawab. Dan sang kekasih hati memilih untuk mengakhiri nyawanya pula dengan pertanyaan yang sama-sama tak terjawab.

Double Suicide ― END ―

 

A/N        :

Kelar deh fanfiksi oneshot ini. Akhirnyaaa…. Terinspirasi dari kata ‘double suicide’ yang muncul di dua anime berbeda yang Len liat. Dan entah kenapa Len suka kata ‘double suicide’ ini.

Di salah satu anime itu, justru si cowok yang bunuh si cewek. Mereka udah sepakat pengen bunuh diri bareng tapi setelah si cowok dorong si cewek ke jurang, si cowok justru kalut. Walau pada akhirnya cowoknya juga terjun ke bawah, tapi dia selamat dan ceweknya nggak. Dan pada akhirnya si cowok juga mencoba bunuh diri. Awalnya mau bikin cerita yang sama kayak itu. Pengen buat Jongin jadi sosok yang licik dan kejam, egois, kayak di itu anime, tapi batal. Kayaknya seru aja kalo justru ceweknya yang bunuh si cowok. Dan si cowok jadi orang yang lemah dan naif karena cinta #tsah. Dan pas banget, pas Len baca-baca sejarah Dinasti Joseon. Alur lain ikut bercampur di sini.

Errr, awalnya agak kesusahan buat menerjemahkan kata “Would you commit a double suicide with me?”. Maksudnya udah ketangkep, dengan jelas banget malah. Tapi pas mau di-translate ke bahasa, bingung kalimatnya kayak gimana. Masak iya jadi “Maukah kau melakukan bunuh diri ganda bersamaku?” Jatohnya aneh banget sumfah -_- Atau masak jadi begini, “Maukah kau melakukan bunuh diri dobel bersamaku?” Shit! Makin aneh! Dan plis, ini mengambil setting waktu era Joseon, dimana kata dobel itu Len ragukan keberadaannya waktu itu.

Hingga pada akhirnya Len pake yang ini aja. “Maukah kau bunuh diri bersamaku?”. Len rasa itu pas. Nggak aneh dan artinya juga sama. Dan yaaa, fanfiksi ini mengandung unsur sejarah yang udah Len modifikasi. Jadi jangan percaya sepenuhnya. Dan jangan diambil pusing kalo nggak sama! Namanya juga modifikasi untuk kepentingan cerita. 😀

Penulisan fanfiksi ini terhitung menyenangkan banget. Mood Len pas lagi seru-serunya buat bikin fanfiksi angst macem begini. Rampung dalam waktu… kurang dari sepuluh jam 😀 Nulisnya ngalir gitu aja. Tapi agak kesusahan juga pas nyampe klimaks. Ettooo, dan maaf kalo dirasa fanfiksi ini kurang angst, kurang maso, kurang membuat hati readers sekalian tercabik-cabik dan lain-lain :’)

Oh ya, tanya-tanya nih ya? Di fanfiksi ini apa line dan adegan favorit kalian? Kalo line favorit Len itu, “Maukah kau… bunuh diri bersamaku?”―Kim Jongin. Demi apa line yang menginspirasi lahirnya fanfiksi ini sesuatu sekali! Dan buat adegan favorit, Len suka banget pas Hayoung kisseu si Jongin tapi sambil nusuk Jongin pake pedang. Entah kenapa itu nyesss banget di hati. Dan rasanya Len belum mampu mendeskripsikan perasaan keduanya dengan baik di adegan itu :’) Sorry

Udah deh. Ini A/N-nya udah panjang banget. Bisa-bisa jadi drabble entar XD Nggak maksa buat meninggalkan jejak, tapi alangkah senangnya kalau kalian berkomentar soal fanfiksi ini di kolom komentar. Your comments are my drug! 🙂

Oh ya, yang punya akun fanfiction.net bisa PM-an ama Len di : Kuroshi Len (https://www.fanfiction.net/u/6415019/) Berkenan baca bacotan Len dan kasih opini? Ada dua artikel baru dimari. Sok atuh mangga mampir di wp baru Len : https://iamintheblackside.wordpress.com

 

See you next fanfiction! ―LEN, yang terlatih patah hati

42 tanggapan untuk “Double Suicide”

  1. Akhirnya, cinta mereka abadi. Biarlah gak kesampaian didunia. Seruu bgt. Dan aku emang suka bgt fanfic yang agak berbau hystorical gitu. Ada lagi nggak yang kayak gini fanfic nya kak author?.

  2. Akhirnya, cinta mereka abadi. Biarlah gak kesampaian didunia. Seruuh bgt. Dan aku emang suka bgt fanfic yang agak berbau hystorical gitu. Ada lagi nggak yang kayak gini fanfic nya kak author?.

  3. Di jmn 조선, 평양 kyny nama’ny blm/bukan 평양 deh 😕
    Prtm x ni bc ff’ny len yg da kissu2ny gt. Kai jd panglima cucok sih, trus rival-an sm 민석, yg calm & mature itu? Kyny lbh cucok klo 찬열 yg mranin tkh antagonis di ff ni, tp sutralah..
    Di kiss, di tusuk smp mati, br di lpas kissu’ny stlh bi2r’ny dingin 👄 trus di bakar pula crime scene’ny, tragis pisan akhr hdp panglima Kai 😞 wlw mgkn dy bkl rela2 ja mati di tangan kekasih ht’ny

  4. bagus! bahkan walaupun castnya jongin yg biasanya aku ga baca. gimana sebenernya mereka saling mencinta sampe jadi buta, tapi hayoung ga buta sih… dia toh ttp bunuh jongin juga. dan jujur aku rada nyekip2 sebab penasaran, ini hayoungnya di awal kan ga mati, apa sampe akhir dia bener2 ga mati? eh untungnya/? mati.
    dan xiumin as antagonis sukses membuat salfok
    dan ya, summarynya itu sangat romantis.
    “Would you like to commit a double suicide with me?”
    ROMANTIS SEKALI
    keep writing!

    1. Well, ane sendiri juga masih bingung kenapa Hayoung tetep bunuh Jongin /loh?/ XD
      Hanjir, untungnya mati XD
      .
      Beneran kan kalo Xiumin bikin salfok? Soalnya di antara anak-anak ekso tampang dia kalo dijadiin antagonis cocok /ditendang/ selain Yifan. Tapi Yifan kan orang Cina…
      .
      Romantis tapi jangan dilakuin ya? :3

  5. Keren kakk. Aku agak bingung pas hayoungnya bunuh jongin. Tapi akhirnya mereka sama2 mati sih😁 Biasanya aku bosen kalo baca ff yg latarnya dinasti joseon gt, tapi ini gak ngebosenin sama sekali sumpah. Keep writing yaa

    1. Sama, aku sendiri juga bingung kenapa Hayoung bunuh Jongin /dor!/ XD
      Eh, serius? Waaa, glad to know it. Soalnya fanfiksi berlatar Joseon yg pertama ini. Yup, sankyu! 😀

  6. Woaa jalan ceritanya unik banget len.. Keren2!! Ya yg paling nyess ya waktu hayoung sama jongin ciuman eh terus hayoung nusuk jongin.. Rasanya tuh sedih nyesek campur aduk deh len.. Daebak! Ditunggu karyanya yg lain.. Kekeke ^^

  7. Bah!! Rada nyesel krna baru sempet baca ni ff malem ini-.- aselii ga boong, kereeen seruuu abisss.. daebaak!! Jujur baru baca ff angst yg macem ini huaaa suka bgt thoor ^^d scene fav sama kyk author kkk ngena bgt feel nyaa, byk nyesss moment bgt dahh.. aselii seruuu pokonyaa.. keep writing thoor, fighting!!!

    1. Yang penting udah baca ‘kan? Daripada kagak XD
      Yup, makasih juga komennya. Btw, panggil saya Len aja, jangan ‘thor’ 🙂

  8. Keren banget miinnn…. sumpah ini keren banget. Bahasanya bagus, alurnya juga rapi.
    Paling suka waktu kai ngajakin bunuh diri bareng. Terus pas waktu hayoung kiss kai padahal kainya udah ditusuk. Kerasa banget feelnya YaTuhaaannnn
    Ditunggu karya lainnya yaa thooorrr ((=

  9. Len…… sumpah ini keren banget tau!!!! aaaaahhhhh aku terharu pas Hayoung kiss n nusuk Jongin pake pisau apa pedang? pokokknya itu lh. trus pas Hayoung bkr tempet hiburan itu. berasa banget gtu klo adegannya ada d dpn mata gtu. kece kece … next bkn FF yg lbh keren lgi ya Len. lope yuuuuuu :v

    1. Makasih kaaaaakkkk! /peluk-hangat/
      Emmm, di otak ada gambarannya tapi bingung namainnya. Semacam pisau yang bilahnya rada panjang gitu ._.
      Wks, Len bayangin bakar-bakaran yg ada di video klip-nya PADI yg cemburu buta itu XD
      Lope yu tu :v

  10. Duh, lihat foto ceweknya hati langsung nyesss… kirian geisha, eh bukan Jepang ternyata, wkwkwkkw, maklum lagi suka yang Jepang2 ketimbang Korea. JongInnya gitu amat, bikin hati bergetar dan merinding.

    1. Len juga suka jejepangan! >.< Suka apa aja jepangnya?
      Iya, sekilas ceweknya mirip geisha kalo di cover. Tapi di foto aslinya style rambutnya itu Korea banget. Susah cari gambar yg cocok buat epep ini u,u

    2. Wks, kalo pair ama anggota GB, bahayanya cukup banyak dan menantang XD Makanya aku juga jarang pair-in male-idol ama anggota GB. Ada sih yg aku pair, tapi yaaa dipikir dulu dapet feel-nya gimana, ngeramunya gimana /halah/

  11. Len bahasa lu keren wehh :’3 nyeeesss banget waktu si hayoung kiss sama jongin terus di tusuk jonginnya pakek pedang :’v itu bikin hati gue mirisssss bangett :’3 ampun dehhh gue suka ini ff!! Keep writing yeh

    1. Aphah? Keren? Uh, makasih lho ya 😀 Walau nggak percaya juga dibilang keren. LOL. Serius.
      Yeah! Sukses bikin miris!
      Oke 😉

  12. Dr sekian banyak crta ff y aq baca ne termsuk y bru dn bner2 bkun aq gk bosen buat scroll trus crtnya y gk terlalu bertele2, tulisan y rapih kata2 y pas…. Bner2 racikan hebat aq suka… Heiii bru loh aq suka sma kisah jeoseon dn maincast Jong In … My bias gk bayang cakepnya dy d jaman itu beuhhhhhhh mna crtanya miris seru banget aq sukaaaaaaaa sukaaaaaaaaaa…..
    Ayoooo buat crta kya gni lg jarng2 two tp jngan y miris akhirnya heeeee

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s