I STILL LOVE YOU (CHAPTER 3 END)

I STILL LOVE YOU (CHAPTER 3 END)

BECAUSE IT’S YOU…

PicsArt_1440382161103[1]

 

author: Putrinami.| Length: Chapter.|Genre:Romance,Sad,Hurt,Family,AU.| Rating:PG-15.|Main Cast: Kai.Soojung.Sehun.Sulli.|

 

1| |2| 

 

Sudah setahun lebih aku meninggalkan Seoul, tapi rasanya sudah seabad, rindu di hatiku saat ini benar-benar menyiksa, terlebih rasa rinduku pada Kai.

 

“Kai lagi apa yah? Kalau ia tau kalau sekarang aku lagi di Seoul, apa ia mau bertemu denganku? Apa ia senang aku ada di sini?”

 

Di perjalanan pulang, aku tiba-tiba memikirkan eomma dan juga Sulli, apa mereka bisa menerimaku kembali?. ‘apa sebaiknya aku menemui Kai dulu?’ batinku agak ragu.

 

“ajusshi, tolong antar saya ke jl.xxxxxxxbla..bla….” ucapku pada supir taxi itu.

 

Disana aku bisa bertemu dengan Kai. Sejak orang tua Kai meninggal, dia tinggal di rumah kakaknya yang telah di karunia dua orang anak.

 

“Chogiyo…Chogiyo agasshi..sudah sampai” ucap supir taxi itu membangunkanku dari tidur. Sepertinya aku sedikit kelelahan sampai aku bisa tertidur seperti ini.

 

“o…ohh sudah sampai yah..gamsahabnida ajusshi” aku berjalan menghampiri rumah yang cukup besar bewarna putih yang berada 2 rumah dari tempat taxi itu menurunkanku dan terlihat eonni yumna sedang bermain bersama kedua anaknya di taman depan rumahnya.

 

“eonni….” teriakku- seyum di wajahku menggambarkan rasa bahagiaku bertemu dengan eonni yumna. Aku betul-betul sangat merindukan eonni yumna, noona Kai. Eonni berbalik ke arahku, ia memicingkan matanya memastikan siapa yang meneriakinya tadi. “Soojung? Apa kau benar Soojung?”. Aku semakin mendekat pada eonni, seketika aku memeluknya-melepaskan rasa rinduku padanya, “Ne eonni. Ini aku Soojung” ucapku masih memeluknya. Eonni mengelus rambutku halus –ia melepaskan pelukan kami, ia memandangiku beberapa detik-ia lalu mengelus pipiku dengan senyum di wajahnya. “ayo masuk kedalam, eonni buatkan jus melon kesukaan mu ^^” ajaknya sambil menarik tanganku.

 

Aku duduk di sofa yang berada di ruang tamu rumah ini. Tak lama kemudian, eonni datang membawa segelas jus melon dan setoples kue di sebuah nampan. “eonni mianhae, aku  jadi merepotkanmu.” Eonni hanya tersenyum mendengarku. Ia kemudian duduk di samping ku “kau dari mana saja? sudah sangat lama kau tak pernah mengunjungiku” ucapnya dengan nada sedikit kesal. “Mianhae eonni, selama ini aku tinggal di jeju karena ada sedikit masalah. Tapi tenang saja, sepertinya kali ini aku tak akan kembali di jeju, aku memutuskan akan tinggal di Seoul” ucapku mencoba menjelaskan Pada eonni. Eonni hanya mengangguk mengerti.

 

Aku memandangi setiap sudut rumah ini, mencari-cari keberadaan seseorang. Alasan aku kesini bukan hanya untuk bertemu yumna eonni, namun juga untuk bertemu Kai. “Kau cari siapa?” tanya eonni padaku. “emm sebenarnya alasan aku kesini karena aku ingin bertemu Kai. Eonni apa Kai tak di rumah?”

 

“Kai? Kai sudah tak tinggal di rumah ini lagi. ia sudah pindah ke apartemen barunya. Maklum ia sudah jadi dokter utama di Rumah Sakit Yongpal. Kau belum tau?”. aku hanya tersenyum ke arahnya, apa eonni belum tau masalah ku? ahh sudahlah, mungkin ia belum tau.

 

“belum, aku belum tau itu eonni. Eonni beritahu aku di mana alamat apartemen Kai sekarang, sekalian juga alamat RS tempat Kai bekerja.”

 

“emmm Arrasheo, chakkhaman”  eonni mengambil selembar kertas yang ada di atas nakas, ia mencatat sebuah alamat, dimana Kai tinggal dan tempat Kai bekerja. “gomawo eonni” ucapku setelah eonni memberikan alamatnya padaku.

 

***

 

Dengan semangat dan perasaan yang sangat senang. Aku memutuskan untuk menemui Kai di RS tempat ia bekerja. Firasatku berkata kalau Kai sekarang berada di RS.

 

Tak lama aku sampai di tempat kerja Kai, hanya butuh 30 menit. Aku lalu bertanya kepada salah satu perawat yang kebetulan berpapasan denganku, karena Kai salah satu dokter utama di rumah sakit ini, jadi lebih mudah untuk menanyakan  keberadaannya.

 

“Chogiyo, apa kau mengenal Dr.Kai?” tanyaku pada perawat itu.

 

“ne, tapi dokter sedang ada operasi hari ini, mungkin 2 jam lagi ia baru bisa di temui. Anda bisa menunggunya di ruang tunggu” ucap perawat itu terburu-buru lalu meninggalkanku. Akupun memutuskan untuk menunggu Kai di ruang tunggu. ‘bagaimana jika ia buka Kai yang aku cari?’ batinku, tapi perasaan rindu yang menyesakkan ini membuatku untuk tetap menunggunya.

 

Tiba-tiba aku berfikir untuk mendekat keruang operasi agar aku bisa segera melihat Kai setelah operasi itu selesai. Aku berjalan mendekat menuju ruang itu, tak lama kemudian, pintu itu terbuka. Sekitar 4 orang perpakaian bewarna hijau (pakaian operasi)  mendorong hospital bed dan satu orang kemudian menyusul. Aku yakin kalau orang itu adalah Kai.

 

“Kai” ucapku ragu. Namja yang masih mengenakan masker itu berbalik ke arahku. “Kai? Kau Kai kan?”tanyaku berusaha memastikan. Ia hanya menatapku tanpa berkata apapun. Seakan aku adalah orang yang baru pertama kali ia temui. Kukumpulkan keberanianku untuk membuka masker di wajahnya, namun dengan cepat tangannya menangkap tanganku-mencoba untuk menghentikan ku. ia memegang tanganku erat , tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk membuka masker di wajahnya. Aku tersenyum senang, ia benar Kai, Kai yang aku cari.

 

“apa kau mengenalku?” . apa Kai sedang bercanda sekarang? Kenapa ia malah berkata begitu. Aku tertawa mendengar perkataannya. “sudah cukup, Kai itu tak lucu” ucapku padanya. Aneh, kenapa wajahnya seperti orang kebingungan begitu? Tidak seperti orang yang sedang bercanda sama sekali. Seketika perasaan ku bercampur aduk antara perasaan senang karena bertemu Kai dan perasaan takut.

 

“aku sama sekali tak mengenalmu. Apa kau mengenalku?”. Air mataku seketika menetes mendengar ucapannya. Kai apa kau benar-benar tak mengenalku? Aku tau aku salah, tapi tolong jangan hukum aku seperti ini, aku sudah cukup menderita. “apa kita pernah ketemu sebelumnya?coba ingatkankan aku akan sesuatu yang bisa membantuku mengingatmu” ucapnya lagi.

 

Tiba-tiba datang seorang yeoja yang sangat aku kenal. Ia memegang tangan Kai erat. Sepertinya ia belum sadar jika ada aku disini. “oppa aku sudah lama menunggumu. Kenapa kau selalu menyuruhku untuk menunggumu di ruangan itu sih. Kau tau, aku kesepian” ucap wanita itu manja pada Kai. Sedetik kemudian ia berbalik ke arahku. Wajahnya yang manja tadi berubah menjadi wajah terkejut. Tentu saja ia terkejut setelah mengetahui aku sekarang berada di depannya. Tapi aku tak kalah terkejut melihatnya saat ini. Bermanja pada Kai.

 

“eo….eonni?”

 

“apa kau mengenalnya? Dari tadi wanita ini terus menyebut namaku” Tanya Kai pada Sulli. Kulihat mata sulli yang sudah berkaca-kaca, ia menundukkan kepalanya seakan tak berani melihat ku.

 

“chosohabnida, aku tak mengenalmu. Mungkin aku bukan Kai yang kau maksud. Kalau begitu kami permisi dulu”  kai menarik tangan Sulli dan pergi meninggalkanku sendiri.

 

Aku terjatuh lemas di lantai , hatiku terasa begitu sakit, sakit sekali. Alasan ku kembali untuk bertemu Kai, tapi ia malah tak mengenalku dan pergi begitu saja. aku seperti tak punya semangat hidup lagi. aku berdiri dan berlari mengejar Kai dan sulli. Namun aku terlambat, mobil yang mereka tumpangi sudah pergi, namun aku tak menyerah, aku terus berlari mengejar mobil itu. aku tak peduli dengan derasnya hujan, sampai akhirnya kakiku sudah tak bisa mengejar lagi dan terjatuh hingga mobil itu menghilang dari pandanganku.

 

Malam ini hujan sangat deras. Hanya aku sendiri berjalan di kesunyian malam, menanti seseorang yang akan kembali padaku. Aku duduk di pinggir jalan yang sepi, hanya lampu jalan itu yang menerangi dan menamaniku sekarang. Aku tak tau sekarang ada dimana, aku hanya berjalan tanpa tau arah tadi.  Aku merasa sangat kacau. Pakaian ku sudah basah. Aku kedinginan, tubuhku mulai gemetaran karena rasa dingin yang mulai manusuk tulangku. Kenapa aku terus berharap Kai akan datang menjemputku?. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depanku. Tak lama seorang namja memegang sebuah payung keluar dari mobil itu-berjalan kearahku. Samar-sama aku melihat wajah namja itu dan tak lama ia telah berada di hadapanku saat ini.

 

“Sehun?” seketika aku memeluknya, tangisku semakin menjadi-masih memeluknya. “soojung-ah mianhae. Semua ini salahku. Semestinya aku tak membiarkanmu kembali. Soojung-ah mianhae…mianhae”ucapnya lirih sambil memeluk ku erat. “Sehun-ah…dia ..dia jahat..Kai tak mengenaliku..ia meninggalkanku….” ucapku di sela-sela isakanku. Sehun hanya diam. Ia melepaskan pelukannya-ia menatapku, mengelus wajahku halus. “Soojung-ah…kau menggigil.kita masuk ke mobil dulu oh”. Sehun menggendongku dan membawaku masuk ke dalam mobilnya.

 

Sepanjang perjalanan aku hanya diam-menatap lurus ke arah depan. Aku seperti habis kecurian, ani..aku benar-benar kecurian dan pelakunya adalah adikku sendiri.

 

Tak lama kemudian kami berhenti di sebuah hotel yang sangat mewah, benar-benar mewah-aku menatap kagum hotel ini. Tiba-tiba Sehun sudah ada di luar-membukanka pintu mobil. Ia mengelurkan tangannya padaku. Ia tak pernah melepas tanganku, ia memegangku erat-sangat erat.

 

“Sehun kita dimana?”.

 

“Kita di Golden Hotel, kebetulan ini hotel eommaku. Tunggu disini oh. Aku pergi ambil kunci dulu.”.

 

Baru sedetik Sehun meninggalkanku, aku sudah terjatuh ke lantai dan tak sadarkan diri-sempat aku melihat wajah Sehun berlari ke arahku dengan wajah yang sangat panik. Saat aku sadar, aku mendapati diriku sedang terbaring di sebuah tempat tidur yang sangat empuk dan nyaman. Aku melihat di sekitarku, semuanya tertata sedemikian rupa. Aku lalu melihat Sehun yang tertidur dengan posisi duduk di sampingku.

 

“Sehun…bangun Sehun…” ucapku membangunkannya. Seketika Sehun bangun dengan wajah cemasnya menatapku. “Kau mengkhawatikanku?” tanyaku. Ia mengangguk sambil memegang tanganku erat. Aku tau ia sangat mencemaskanku. Aku tersenyum ke arahnya sambil mengelus pipi putihnya itu “aku baik-baik saja. kau tak perlu secemas itu ^^” ucapku mencoba menenangkannya.

 

“Jinja?”

 

“emm.. aku Cuma kelelahan Sehun-ah” ucapku tersenyum.

 

“Soojung-ah mianhae…mianhae..” ucapnya menundukkan wajahnya. Kuangkat dagunya agar aku dapat melihat wajahnya. “Wae? Kenapa kau selalu meminta maaf padaku? Kau tak punya salah padaku. Kenapa kau menyulitkan dirimu sendiri oh?”

 

“karna aku mencintaimu…aku tak bisa melihatmu lemah seperti ini, aku tak bisa melihatmu menangis..soojung-ah aku tak bisa. Aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri”

 

“Mianhae. Sehun-ah mianhae. Aku…aku mencintai Kai” ucapku lirih. Aku merasa sangat jahat padanya. Aku tidak bisa berbuat apapun untuknya. Ia selalu ada untukku di saat aku membutuhkannya, tapi aku? Aku hanya bisa menyakitinya.

 

“Gwenchana. Aku akan menunggumu hingga kau mencintaiku. Aku akan menunggumu sampai kapanpun”

 

“bagaimana jika aku tak bisa?bagaimana jika aku tetap tidak bisa mencintaimu?”

 

“kalau begitu tidak usah, jangan lakukan, jangan pernah memaksanya.jangan pernah bilang kau mencintaiku jika itu hanya kebohongan. Aku takut, aku akan mempercayai itu. aku tak ingin melihatmu menangis lagi dan sakit seperti ini.” Ucapnya dan meninggalkanku sendiri di kamar.

 

Keesokan harinya aku terbangun dan berfikir untuk membuatkan Sehun sarapan sebagai tanda terima kasihku padanya. Setelah membuatkannya sarapan, aku pergi dari hotel itu dengan sebuah surat yang aku tinggalkan di atas meja.

 

***

 

Saat di perjalanan menuju rumah, aku melihat Kai sedang duduk di pinggir jalan. Karena masih terlalu pagi, belum banyak orang yang berlalu lalang di jalan ini. Akupun berjalan mendekatinya. Dari baju yang ia pakai, sepertinya ia baru saja selesai lari pagi.

 

“Kai? Kau sedang apa?”. aku menepuk pundaknya. Seketika ia berdiri dan berjalan pergi meninggalkanku. “Kai…” teriakku berusaha menghentikannya. Ia berbalik padaku dengan wajah datarnya-aku tersenyum kepadanya.

 

“Ada apa?”

 

“Kai apa kau baru saja selesai lari pagi?”

 

“Wae?apa karena itu kau memanggilku?”

 

“O..ohh…ani…anio…aku hanya ingin menanyakan kabarmu. Apa kau baik-baik saja?”. Kai berjalan mendekat padaku.

 

“Chogiyo. Aku bukan orang yang kau kenal. Aku sama sekali tak mengenalmu nona.jadi berhentilah menggangguku” ucapnya dan berpaling meninggalkanku.

 

“Tunggu” teriakku. “apa kau serius dengan ucapanmu? Baik kalau begitu. Katakana padaku untuk berhenti mencintaimu, suruh aku pergi dari mu, katakana kalau kau mau aku menghilang dari hidup mu, maka…maka aku akan pergi”. Tak kurasa air mata ku jatuh lagi. hati ku terasa sakit. Sangat sakit. Ia berari..berlari menjauhiku, ia bahkan tak peduli dengan teriakanku yang memanggil namanya.

 

“eonni…Soojung eonni..”

 

“sulli?”

 

“eonni dari mana saja? kenapa tak mampir kerumah?”

 

“aku baru saja mau kesana” ucapku berlalu melewatinya, namun tangannya berhasil menghentikan langkah ku.

 

“eonni.bagaimana kalau kau ikut denganku minum kopi?”. Akupun mengikutinya kesebuah café yang tak jauh dari rumah kami.

 

“ada apa? kau ingin mengatakan sesuatu padaku?” tanyaku tanpa basabasi.

 

“Kai..Kai mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang dari bandara setahun yang lalu. Karena benturan keras di kepalanya, dokter menyatakan kalau Kai mengidap Amnesia retrograde, penyakit yang menyebabkan Kai melupakan ingatannya yang terjadi sebelum kecelakaan. Itu sebabnya Kai tak mengenali eonni sama sekali.”

 

“Lalu kenapa? Kenapa saat di rumah sakit, kau seolah tak tau apa-apa?

 

“lalu eonni berharap aku berkata apa saat itu? apa eonni lupa? Aku juga menyukai Kai, lalu seharusnya apa yang harus aku katakana? Aku bukan seorang yeoja yang selalu berbesar hati sepertimu. Aku tak bisa merelakan orang yang aku cintai. Mianhae..eonni mianhae. Dan juga, aku ingin memberitahumu, kalau aku dan Kai sudah menjalin hubungan dari setahun yang lalu. Aku mohon eonni jangan merusak semuanya.”

 

Aku tak tau harus berkata apa lagi. aku juga tak tau harus berbuat apa. aku telah kecurian, benar-benar kecurian. Aku berjalan keluar seperti orang yang kebingungan. Aku menabrak semua orang yang berpapasan denganku, sampai seseorang menarikku dan menyadarkanku. “Mianhae…aku terlambat”. Suara itu, suara yang selalu ada untukku. “Sehun?” aku memukulinya dengan keras, bukan karena aku marah padanya, tapi aku merasa aku perlu mengeluarkan semuanya. Setelah aku mengeluarkan semuanya, ia memelukku dengan hangat. Aku hanya bisa menangis di dadanya. Aku merasa sakit seperti orang bodoh. “Sehun-ah Mianhae”

 

***

 

“aku harus pergi kesuatu tempat, kau masuk saja  oh” akupun menuruti perintahnya. Ia kemudian pergi meninggalkan ku disini. Di depan rumahku. Sudah 5 menit aku berdiri di depan pintu rumah tanpa melakukan apapun. Aku memberanikan diri untuk menekan bel hingga beberapa kali dan tak lama kemudian pintu itu terbuka.

 

“Soojung?” ucap eomma yang langsung memelukku, seketika aku menangis di pelukan eomma.

 

“ayo masuk” . aku dan eomma duduk di sofa ruang keluarga. Eomma terus memegang tanganku dengan mata yang berkaca-kaca.

 

“eomma, apa kau merindukanku? Apa kau pernah memikirkanku? Aku sangat merindukanmu eomma”

 

“Mianhae. Soojung-ah mianhae. Aku sudah menjadi eomma yang buruk untuk mu. Eomma juga sangat merindukanmu chagi. Kenapa kau jadi kurus begini oh”

 

“eomma jangan berkata seperti itu oh. Kau adalah eommaku yang terbaik. Eomma gwenchana, aku baik-baik saja. aku senang bisa bertemu eomma sekarang.” Aku lalu melihat sekeliling, rumah ini tak berubah, masih sama seperti dulu. Foto-foto kecil ku dan sulli masih terpajang di dinding dan buffet-buffet di ruangan ini.

 

“eomma. Appa dimana?” seketika raut wajah eomma berubah murung, apa pertanyaan ku salah? Tapi aku hanya menanyakan keberadaan appa ku. lalu kenapa? “eomma gwenchana?”

 

“appa… appa sudah tak ada lagi chagi”

 

“Mwo? maksud eomma apa? eomma bicaralah dengan jelas oh”

 

“Appa sudah meninggal, karena kangker otak” dan lagi, airmataku menetes tanpa permisi. Apa lagi ini. Aku sudah tak punya apa-apa lagi. appa pergi dan tak kembali lagi. aku tak bisa bertemu dengannya lagi. tapi wae? Wae? Kenapa aku baru mengetahui sekarang? Mungkin aku hanya anak angkat mereka, tapi aku sudah menganggap mereka keluarga ku sendiri, melebihi apapun. aku sungguh menyanyangi mereka. Apa mereka tak menganggapku lagi? kenapa ia menutupi semuanya dari ku?

 

“Mianhae Soojung-ah..eomma bukannya tak ingin memberitahunya padamu. Eomma tau kau melewati masa-masa sulit di jeju. Eomma hanya tak ingin menambah beban pikiranmu chagi” aku hanya bisa menangis di dalam pelukan eomma. Menangis sejadi-jadinya sambil memanggil appaku..

 

***

 

Malam ini aku terbangun dari tidurku dengan mata yang sembab. Tanpa sadar aku tertidur di ruang kerja appa. Aku mulai sesak dengan hidupku sendiri. Aku berjalan keluar rumah, berusaha melupakan semua kenangan pahit ini. Aku berjalan dan terus berjalan sampai akhirnya aku berhenti di tempat ku bertemu dengan Kai pagi tadi. Aku duduk di emperan jalan ini-di bawah sinar lampu jalan. Aku hanya diam memandang kosong kedepan. Tanpa kusadari, sudah 2 jam aku disini. ku arahkan pandanganku ke samping, kulihat Kai sedang berjalan ke arahku. Apa aku sudah gila? Apa aku mimpi? Aku bahkan melihatnya sedang duduk di sebelahku saat ini.

 

“apa yang kau lakukan disini?” suara Kai. Aku tidak mimpi, aku tidak gila. Ia benar-benar berada di sebelahku saat ini.

 

“haruskah aku pergi?” ucapku dengan nada lirih.

 

“tidak perlu. Duduk saja di sini jika kau mau”

 

“Kai aku lelah. Sangat lelah”. Kai berbalik memandangiku. “aku bingung, kenapa aku di lahirkan didunia dengan segala kisah hidup yang membuatku teramat sedih seperti ini. Kai yang aku kenal adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku bertahan di saat seperti ini. Kau tau alasan aku datang kemari? aku mau menemukan kembali kebahagiaanku, dengan bertemu dengan Kai, adikku dan kedua orang tuaku. Aku bertemu dengan Kai, tapi sayangnya ia tak mengenalku, ia bahkan tidak tau namaku. Aku ketemu orang tuaku,tapi sudah tak lengkap lagi, appa sudah meninggal. Aku harus bagaimana lagi?bagaimana aku harus bertahan?”. Kai menyandarkan kepalaku di bahunya. Seraya air mataku mengalir lagi.

 

“Soojung-ah mianhae. Maafkan aku yang tak bisa mengingatmu. Maafkan aku yang seperti ini. Aku tak bisa berbuat banyak untuk mu dengan Kai yang sekarang. Saat ingatanku sudah pulih, aku harap kau sudah menghapusku di hatimu. Jangan hidup seperti ini oh. Berusahalah kuat untuk dirimu sendiri.” Ucapnya padaku dan bergegas untuk meninggalkanku. Dengan cepat aku memegang tanganya “Kai…” seketika ia berhenti. Ia memasang headset di telinganya, seakan tak ingin mendengar ku lagi. lama ia berdiri membelakangiku-tak melakukan apa-apa. ia kemudian berbalik padaku dengan mata berair, seperti habis nangis.

 

“Soojung-ah. Tolong berhentilah mencintaiku. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku. aku mau…aku mau..kamu menghilang dari hidupku. Soojung-ah mianhae. Aku…aku mencintai Sulli. Ia segalanya untukku sekarang. Aku tak mau menyakitinya dengan kau di sampingku.”. akhirnya mendengar kata-kata itu. kata-kata yang paling aku takutkan. Mungkin ini akhir bagi kami, benar-benar akhir. Apa kah ini karma untuk ku? aku teringat saat aku akan pergi meninggalkannya dan menyuruhnya untuk melupakanku.

 

Tiba-tiba seseorang datang memelukku dari belakang dan memutar badanku menghadap dirinya. Ia memelukku sangat erat. “apa aku sudah seperti pahlawan? Mianhae, aku tak tahan untuk tak berlari kearahmu. Jangan pernah menangis seperti ini lagi arra. Kalau tidak, aku akan sering-sering memelukmu seperti ini. Achhhh benar-benar melelahkan mengikutimu setiap saat”

 

“Sehun-ah gomawo….jongmal gomawo….” ucapku di tengah-tengah isakanku.

 

“aneh, kenapa rasanya aku tak ingin mendengar ucapan terima kasihmu itu. rasanya lebih baik aku mendengar kata maaf dari mu”

 

“Mianhae”

 

“sudahlah. Ayo kuantar kau pulang.”. ia memegang tanganku namun aku menahannya. Rasanya aku masih ingin disini.  “aku masih mau disini Sehun-ah”. Semalaman kami duduk berdua disini dengan Sehun yang tetap menyandarkan kepalaku di bahunya sambil mengelus halus rambutku.

 

***

 

Seseorang mengetuk-ngetuk pintuku tanpa henti, seolah membangunkanku. Aku berusaha mendekati pintu kamarku dengan keadaan yang belum stabil dan membuka pintunya.

 

“eomma Waeyo?” ucapku sedikit panik. Melihat wajah ibuku yang sangat panik ini.

 

“Sulli….sulli pingsan di kamar mandi”. Apa lagi ini? Kenapa cobaan datang tanpa henti. Sebenarnya apa yang terjadi? Ada apa dengan Sulli, kenapa ia tiba-tiba seperti itu?

 

Tidak lama kemudian, ambulance pun datang membawa Sulli bersamanya. eomma yang masih trauma dengan suara ambulance memutuskan untuk menyusul kami menggunakan mobil pribadinya. Tak henti-hentinya eomma menangis melihat Sulli yang masih belum sadar. Aneh, kenapa sulli langsung di masukkan di ICU? Bukannya ini Cuma pingsan biasa? Tapi kenapa ia di larikan di ICU?

 

“Eomma..sebenarnya ada apa ini? Apa kau menyembunyikan sesuatu padaku?”

 

“sebenarnya.. Sulli mengidap penyakit yang sama dengan ayahmu. Sudah stadium akhir. Baginya, kau dan Kai adalah hal yang terindah dalam hidupnya. Ia merasa sangat bersalah padamu, karena sudah menyakitimu demi memiliki Kai. Ia ingin di cintai oleh orang yang mencintai kakaknya. Rasa bersalah itu selalu menghantuinya selama ini.” Ucap eomma sambil memandang kosong ke depan. “aku sangat bersyukur, karena bukan aku yang melahirkanmu. Aku sungguh tak sanggup jika harus melihatmu menderita seperti Sulli karena penyakit keturunan ini”. Aku hanya bisa diam. Aku tak tau harus berkata apa lagi. jadi selama ini Sulli juga sangat menderita sama sepertiku. Ani…mungkin ia lebih menderita dariku. Aku hanya bisa menangis..lagi-lagi hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang.

 

Ruang ICU terbuka dan seorang dokter berjalan mendekati kami. “eomma, ayo kita masuk melihat Sulli. Mungkin Sulli ingin bertemu dengan Kita”

 

“kau saja yang masuk. Aku sudah tak sanggup melihat Sulli kesakitan. Ia pasti senang melihatmu”. Akupun berjalan masuk keruangan yang dingin itu dan meninggalkan eomma sendiri. Aku melihat Sulli yang terbaring lemah di atas tempat tidur itu dengan wajah yang sangat pucat. Aku duduk di sampingnya dan tersenyum ke arahnya. Ia menatap ku sambil meneteskan air matanya.

 

“eonni mianhae..jongmal mianhae. Ini semua salahku. Kai tak salah sama sekali” ucapnya sambil menggenggam tanganku.

 

“Ani….Kai adalah milikmu sekarang. Eonni ikut bahagia melihatmu bahagia bersama Kai”

 

“eonni , jika aku bisa hidup kembali dan aku adalah orang pertama yang ia temui. Apakah ia bisa mencintaiku sama seperti ia mencintai mu?”ucap Sulli dengan tangisnya. “Eonni, Kai tak pernah mencintaiku, tak bisa dan takkan pernah bisa. Tapi ke egoisanku terus saja memaksanya untuk mencintaiku”.

 

“Ya’…apa yang kau bicarakan. Kai mencintaimu”

 

“Kai tak kehilangan ingatannya. Ia mengingatmu. Ia memang mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang dari bandara waktu itu. dan apa eonni tau? ia terus menyebut nama eonni di saat ia tengah kritis waktu itu.ia membohongimu, ia berkata, ia akan terus berada di sampingku asal aku mau membantunya bersandiwara di hadapanmu.”

 

“Mwo? apa maksudnya? Aku benar-benar tak mengerti Sulli-ya” ucapku berlinang air mata.

 

“aku bilang padanya kalau eonni pergi bukan karena eonni tak mencintainya, tapi karena aku. Ia merasa sangat bersalah padamu. Ia berjanji akan menanggung semua penderitaanmu, ia tak mau menyulitkanmu karena harus memilih antara dirinya atau keluarga. Ia juga rela berkorban demi aku karena penyakitku ini. Ia terus berada di samping ku, menjagaku selama eonni pergi”. Aku hanya diam mendengarkan cerita Sulli.

 

“kenapa aku hanya bisa melihatnya menangis? Terlebih lagi itu karena mu eonni. Waktu itu saat pertama kali melihat mu, ia menarikku dan meninggalkan mu. Kai benar-benar hancur saat itu, ia meneteskan air matanya untukmu, walau ia berusaha menyembunyikannya dari ku, tapi aku tau, ia menangis saat itu. Kai terus saja melihatmu dari spion mobilnya saat kau terus mengejarnya. Eonni..Apa kau bodoh? Kenapa kau mengejar mobil oh?apa lagi saat itu hujan sangat deras.” Ucapnya lagi tertawa kikuk padaku, aku hanya bisa tersenyum tipis kearahnya.

 

“tadi malam Kai menelfonku. Ia bilang kalau ia ingin sekali bertemu dengan mu untuk yang terakhir kalinya. Tapi saat itu, aku tak tau kau ada dimana. Oia..apa kalian kemarin pagi bertemu di jalan?”

 

“emm kami tak sengaja bertemu di jalan” jawabku seadanya.

 

“Kai cerita padaku tentang pertemuan kalian pagi itu”

 

“benarkah?”

 

“Ne eonni. Setelah ia menceritakan tentang pertemuan kalian pagi itu, kami memutuskan pembicaraan kami. Tak lama setelah itu, Kai kembali menelfonku. Ia bilang-

 

Pembicaraan Kai dan Sulli di telpon (flash back)*

 

“aku meninggalkannya lagi Sulli-ya, aku menyakitinya lagi. ia benar-benar menderita karena ku. haruskah aku kembali padanya? Aku sangat ingin memeluknya saat ini. Aku sungguh tak sanggup lagi melihat Soojung menangis seperti itu. Sulli-ya..haruskah aku kembali padanya?”

 

“andwe..oppa andwe. Jebal… kau sudah janji padaku. Kau sudah janji akan terus berada di sampingku,oppa kau sudah janji padaku. Jebal…andwe..jangan kembali oh..kita sudah melangkah terlalu jauh”

 

Flashback end*

 

“Kai benar-benar pria yang penurut eonni dan bodoh. Ia melakukan apapun yang aku katakan. Dulu aku pernah berjanji padanya, kalau aku akan bertahan hidup dan terus berada di sisi mu, tapi sepertinya aku tak bisa melakukan itu eonni. Tolong sampaikan permintaan maaf ku padanya. Eonni aku lelah.. aku ingin beristirahat yang panjang. Aku ingin bertemu appa dan menyampaikan padanya kalau eonni anak kesayangannya itu sudah kembali pulang.” Ucapnya lagi padaku. Kali ini aku melihat wajahnya yang menahan rasa sakit. Ia terus menangis dan memegang erat tanganku. Aku tau ia pasti merasakan rasa sakit, namun sepertinya Sulli berusaha keras untuk tak memperlihatkan rasa sakitnya di depanku. Dan lagi aku hanya bisa menangis. Kenapa hanya itu yang bisa aku lakukan? Aku sunggu merasa sangat bersalah padanya, karena tak bisa melakukan apa-apa di saat seperti ini.

 

“eonni..tolong jaga eomma oh. Eomma sangat kesepian, ia sangat lemah. Tolong jangan tinggalkan eomma. Sampaikan maaf ku padanya, aku tak bisa menjadi anak yang baik untuknya.”

 

Tiba-tiba ponsel Sulli bordering. Tertera nama Kai pada layar ponselnya itu. “eonni tolong angkat itu untuk ku”. akupun mengangkat telfon itu sambil mengaktifkan loudspeakernya dan terdengarlah suara Kai.

 

“Sulli-ya, sekarang aku di bandara. Aku akan berangkat ke Jepang. Aku juga tak tau sampai kapan berada disana, yang jelas aku akan menenangkan diri di sana. Aku sudah tak sanggup lagi, rasanya aku ingin mati karena tak bisa melihat dan menyentuhnya. Aku rasa, ia sudah cukup membenciku. Sebelum ia pergi meninggalkan ku lagi, aku akan pergi terlebih dahulu, aku sudah tak sanggup mendengar kata perpisahan dari dirinya lagi. mianhae Sulli-ya…aku tak bisa mencintaimu. Kau gadis yang baik. Aku harap kau bahagia tanpa aku disisi mu. Selamat tinggal.”. Kai benarkah itu? benarkah yang aku dengar ini? Aku hanya bisa diam mendengar Kai bicara. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

 

“eonni..kejar dia. Pergi sekarang, atau tidak selamanya” ucap Sulli sambil menangis tersedu-sedu.

 

“anio…eonni tak akan meninggalkanmu”. Sulli tersenyum ke arahku.

 

“eonni…cintailah Kai untuk ku, jaga ia untuk ku. jangan pernah buah ia tersakiti lagi. maaf kan aku untuk semuanya eonni. Gomawo…gomawo eonni, karena sudah menjadi eonni terbaik untuk ku selama ini…jongmal gomawo. Hidupku sangat beruntung karena memiliki mu.” Ucap Sulli sambil melepas genggaman tangannya perlahan. Lalu eomma masuk keruangan ini..

 

“pergilah..aku akan menjaga Sulli untuk mu chagi..”

 

Aku berlari keluar ruangan ini, samar-samar aku mendengar teriakan eomma menyebut nama Sulli. Air mataku mengalir sangat deras, namun aku terus berlari. Kulihat Sehun yang berlarih menuju ruang ICU, aku hanya menoleh sekilas padanya. Aku terus berlari sampai ketempat parkir. Kutancap gas mobilku dengan kecepatan tinggi. Aku tak mau kalau aku sampai terlambat. Aku tak mau kehilangan Kai lagi.

 

Tiba di Bandara aku berlari sambil melihat sekeliling, aku mulai sesak dan terus meneteskan air mataku, sampai akhirnya, aku menemukan Kai tengah duduk di ruang tunggu.

 

“KAI….” teriakku. Kai pun berbalik padaku dengan wajah terkejut dan berlari ke arahku.

 

“Ke….Kenapa kau bisa ada disini?”

 

“aku ingin bertemu dengan namja terbodoh sedunia” ucapku sedikit kesal padanya.

 

“apa ucapanku malam itu kurang jelas?” ucapnya membalikkan badannya.

 

“Kai…sampai kapan kau mau bersandiwara di depanku? Aku sudah kehilangan appa dan juga Sulli. Apa kau juga ingin meninggalkanku?” tiba-tiba ia berbalik dan memelukku.

 

“tidak…aku tidak akan meninggalkanmu lagi. tidak akan lagi Soojung-ah. Mianhae…soojung’ah mianhae. Aku…aku akan menyerahkan seluruh hidupku untuk mu. Kumohon..jangan menangis lagi karena ku.” ucapnya . ia memandang wajahku intens, wajah kami semakin mendekat, aku merasakan deru nafasnya, hingga bibir Kai menyentuh bibirku dengan lembut. “saranghae” ucapnya dan kembali menyatukan bibir kami.

 

***

 

5 bulan kemudian

 

Kai menikahiku. Kami menikah di pulau Jeju. Semua orang yang aku sayangi datang di acara kami, termaksud Yoobin dan eommanya, yumna eonni dan suaminya, beserta anak-anaknya. Benar-benar akhir yang bahagia. Hidupku jadi bewarna karena Kai.

 

Kuperhatikan tamu yang datang, aku mencari sosok Sehun, namun tak juga kutemui. Sehun sepertinya tak hadir di resepsi pernikahanku. Tak lama kemudian, seorang ajumma datang menghampiriku.

 

“agasshi..selamat atas pernikahanmu. Sehun kemarin berangkat ke USA, ia kembali ke ayahnya. Katanya ia akan menjalankan perusahaan ayahnya di sana. Oia..ini surat  yang ia tinggalkan untuk agasshi. Dan ini diari Sehun. Ia meninggalkannya, jadi aku putuskan untuk memberikannya padamu.” Ucap ajumma. Ia adalah ajumma yang kerja di Villa Sehun.

 

 

***

 

Aku membaca diari Sehun yang ajumma berikan padaku.

 

Halaman 1

 

“Hari ini adalah hari yang paling berkesan dalam hidupku, bermain petasan bersama Soojung. Melihatnya tersenyum benar-benar melegakan. Dan melihat Soojung tidur dengan nyenyak juga sangat tentram sekaligus membuatku sangat gelisah. Hari ini aku mencuri satu ciuman darinya. Aku benar-benar malu. Kalau sampai ia tau, ia pasti akan menghajarku. Hehehehee.”

 

 

Halaman 2

 

“ Pantai di hari ulang tahun ku. jika hari ini kuiklaskan kau pergi, kulepaskan kau dari hatiku. Bukan karena ku sanggup, bukan karena aku tangguh, bukan karena aku setegar karang. Tapi cinta yang menguatkan ku tuk melepaskanmu.cinta yang menaklukkan egoku.”

 

“ya benar aku sangat mencintaimu. Tapi aku tak bisa menahanmu tuk tetap tinggal. Aku tak bisa menekanmu. Aku tak dapat membelenggumu dengan cinta ku, jika sejatinya kita tak lagi mampu bersama.”

 

Air mataku menetes perlahan mengalir di pipiku. “ aku belum sempat mengatakan kalau aku mencintaimu, aku belum sempat mengucapkan kata perpisahan, kenapa kau tega pergi begitu saja? Sehun. Aku akan selalu mencintaimu meski hanya aku yang mengetahuinya.” Ucapku menatap langit yang sangat cerah itu.

 

END.

 

 

Woowww…akhirnya end juga.gimana nihh cingu..sedih gak sih…??kasian amat Sehun…!oia tanganku sampai geriting ketik ff ini..tapi demi kalian apapun ku lakukan..hehehe. oia jangan lupa ninggalin jejak kalian cingu cingu sekaliannnn.. ^^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ia juga cerita saat ia bertemu denganmu kemarin pagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

12 tanggapan untuk “I STILL LOVE YOU (CHAPTER 3 END)”

  1. Anjjjiingg Lu Thor… gw nangis amps bengep nih muka… emak gue ngira gw sakit ago apa njjiirrr…aaaaa daebak Thor ceritanya…
    Jonginnneee Saranghae… Sehun-aahh Mianhaeeee…
    AAAAAAAAAAaaaaaa…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s