Demigods: Is She?

demigod-turwitastline-jalilfunnyDemigods: Is She? by truwita (@senjaa27)

[EXO] Sehun and [OC] Alessa
Genres
Fantasy-Adventure, Romance | Length Series  | Rating PG-13 | Basicto Japan’s Mythology and Percy Jackson’s Series | Cp  jalilfunny@HSG | Before Story 00 – Demigods

Bagi setiap anak yang terlahir di dunia ini, tak satupun dari mereka yang dapat memilih oleh siapa mereka akan dilahirkan. Begitupun dengan kehidupan yang kelak akan mereka lakoni. Sebuah kehidupan memang tak pernah lepas dari apa yang sering kita sebut dengan takdir. Meski begitu, setiap manusia memiliki hak penuh dalam menyikapi takdir yang akan mereka hadapi. Kebahagiaan dan kepedihan, kesenangan dan kesengsaraan, menangis atau tertawa, marah, maupun kecewa. Merekalah yang memilih semua itu.

Seumur hidupnya, Sehun tak pernah merasakan seperti apa rasanya kasih sayang orang tua. Ia bahkan tak pernah tahu seperti apa rupa ayahnya, atau bahkan nama ayahnya sendiri. Yang ia tahu, ia tinggal bersama seorang wanita gila kerja yang hanya mencintai uang dan haus akan kekuasaan.

Hidupnya terlalu membosankan. Sehun kesepian. Ia butuh teman dan kasih sayang.

Ketika itu Sehun baru berumur delapan tahun. Akan tetapi, ia sudah cukup muak dengan kehidupan yang dimilikinya. Ia pikir untuk apa hidup jika pada kenyataannya ia merasa mati? Bukankah lebih baik mati sekalian?

Terlalu naif?
pada akhirnya Sehun memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Siang itu begitu terik. Sehun berjalan di atas sebuah jembatan. Ia sudah memutuskan bahwa ini adalah tempat terbaik untuk mengakhiri hidupnya setelah melihat salah satu drama di televisi melakukan hal yang ingin dilakukannya di tempat seperti ini. Pandangannya menelisik sekitar. Begitu sepi, hanya ada satu-dua kendaraan yang terihat di ujung jalan. Mungkin, orang-orang lebih memilih beristirahat di rumah sambil manikmati semakuk es krim atau pergi ke daerah-daerah sejuk dari pada berjalan-jalan di tengah siang bolong seperti ini.

Sehun menanggalkan sepatunya satu persatu. Kemudian menaiki pembatas besi secara perlahan. Matanya menerawang pada hamparan air sungai yang tampak hijau dan tenang. Sebersit pertanyaan muncul di kepala mungilnya, seberapa dalam sungai ini? ah, bodohnya Sehun. Kenapa tidak dia cari tahu lebih dulu. Tapi ya… sudahlah, sudah terlanjur.

Sehun merentangkan kedua tangannya ke depan sambil memejamkan kedua matanya. Badannya ia bukukkan 45o ke depan. Dalam hati, ia mengucapkan selamat tinggal pada dunia diiringi sebuah senyum tipis yang terulas di bibirnya. Akhirnya…

“Idiot!”

“HUAAA!”

BUGH.

Seseorang memeluk kedua kakinya dan menariknya kebelakang. Kedua terjatuh dengan posisi yang berbeda. tidak terlalu keras, tapi cukup menyakitkan dan membuat beberapa bagian kulit memar.

Sehun meringgis.

“Apa kau seputus asa itu hingga memutuskan untuk berenang di sungai?” seseorang itu bertanya, Sehun mendengus dan menoleh, siap dengan segala makian di ujung lidahnya. Ia baru saja hendak membuka mulut saat sepasang sepatu melayang dan hampir menampar wajahnya jika saja ia tak berhasil mengelak. “Pakai sepatumu!”

“Kau!” Sehun menggeram. Matanya berkilat tajam. Lihatlah siapa yang berani memerintahnya setelah berhasil mengacaukan rencananya?

“Soojung. Jung Soojung, namaku.”

“Ikutlah denganku. Di rumah, aku punya kolam renang yang besar dan bersih. Tidak seperti air sungai itu!” Seseorang bernama Soojung itu menunjuk ke arah sungai dengan tatapan jijik. “Kau bisa berenang sepuasnya di sana kapanpun kau inginkan.”

Eh?
Siapa bilang aku ingin berenang?

***

Sial.

Alessa mengumpat dalam hati.

Wajah gadis itu mengeras. Begitupun dengan kedua tangannya yang kini tekepal di kedua sisi tubuh. Kedua mata kelabunya berkilat tajam. Menatap tiga orang lelaki bertubuh besar yang kini menghadang jalannya.

“Silahkan ikut kami secara baik-baik, Nona.”

“Jika tidak?”

“Kami terpaksa melakukan kekerasan.”

“Baiklah,” Alessa menghela nafas. “Pilihan yang cukup menarik, ayah pasti sudah memperingati kalian tentangku ‘kan?”

Kedua mata Hana membulat saat kata ‘ayah’ keluar dari mulut Alessa.

“Ya, persis seperti yang beliau katakan.”

Dalam satu kedipan mata, Alessa mengeluarkan sebuah belati dari balik kemeja yang dipakainya dan mendorong Hana untuk segera pergi.

“Tapi Al—”

“Pergilah, ini urusanku!”

Hana ragu-ragu untuk melangkah pergi. Di satu sisi Alessa memang benar bahwa ini adalah urusannya sendiri dan ia sama sekali tak berhak ikut campur, tetapi di sisi lain ia tak bisa meninggalkan gadis itu dalam kepungan tiga orang pria bertubuh besar.

Hana terlalu lama berpikir, sampai-sampai salah seorang pria itu berhasil membekuknya. Lantaran terkejut, Hana berteriak. Hal itu membuat perhatian Alessa teralih dan membuat gadis itu lengah selama beberapa detik hingga sebuah tinjuan berhasil mengenai perutnya.

“AHK!”

“Alessa!” Hana berteriak, “Lepaskan aku bodoh!”

Alessa jatuh terduduk dengan rasa mual dan sakit efek dari pukulan yang diterimanya. Dari sudut matanya dapat ia lihat Hana meronta-ronta minta dilepaskan.

“Maaf, Nona. Kami terpaksa melakukannya.”

Alessa meludah, “Lepaskan temanku! Dia sama sekali tak memiliki urusan dengan kalian!”

“Tentu saja, dengan senang hati akan kami lakukan. Asalkan Nona mau ikut pulang bersama kami. Tuan Cho sangat khawatir dengan keadaan anda, Nona.”

Wajah Alessa kembali mengeras ketika ayahnya disinggung-singgung. Gadis itu bangkit secara perlahan, dan mencoba memikirkan cara untuk membebaskan Hana tanpa harus mengikuti kemauan kacung bodoh ayahnya.

Akan tetapi, sebelum ia selesai berpikir tiba-tiba saja kegelapan melingkupi tempatnya berdiri. Dan ketika mengangkat kepala, mata kelabunya menangkap sesuatu yang sangat besar tengah berjalan ke arahnya. Jauh lebih besar dari pada ketiga tubuh pria yang mengejarnya jika digabungkan.

Selama satu detik yang terasa begitu lama, Alessa tercengang karenanya. Pikirannya teralih oleh rasa takjub, bingung dan ngeri sekaligus. Sesuatu itu sangat besar, bergerak, dan hidup. Dari arah yang sama dua orang pemuda berlari dengan wajah ketakutan luar biasa.

Yamata no Orochi. Seseorang baru saja berbisik pada Alessa. Tapi entah siapa.

Yamata no Orochi. Yamata no Orochi. Yamata no Orochi. Alessa terus mengulangi nama itu di kepalanya. Ia merasa familiar dengan nama itu, tapi dimana dia pernah mendengar atau membacanya?

Ketika Alessa mampu mengingat, makhluk itu sudah sangat dekat dan bau anyir menusuk indera penciumannya. Dari tempatnya berdiri, Alessa bisa melihat kedelapan kepala dan ekor makhluk itu bergerak-gerak tak beraturan menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya. Tubuhnya bersisik, berwarna hijau gelap dan berlendir. Sedangkan mata merahnya menelisik kesegala penjuru.

Alessa terlalu terkejut hingga lupa bernafas ketika menyadari makhluk dari motologi Jepang itu kini berada di hadapannya. Sebelum Alessa kembali dari rasa terkejutnya, salah satu dari ekor makhluk itu menyapu habis tempatnya, berikut tempat Hana dan ketiga pria itu berdiri.

Entah bagaimana caranya Alessa bisa menghindar dari sapuan maut tersebut. Tanpa perintah dari otaknya, kedua kakinya bergerak sendiri. Melompat dan menjauh dari tempat yang terkena sapuan ekor makhluk itu.

Salah satu kepala Yamata mendesis keras, dan satu lainnya membuka mulutnya lebar-lebar seperti halnya sedang menguap karena kantuk.

Alessa berjengit jijik. Mulut makhluk itu tak ubahnya seperti gorong-gorong pembuangan air yang tercemar oleh ratusan ribu sampah. Menjijikan, dan jangan tanyakan seperti apa baunya. Fokusnya masih tertuju pada makhluk aneh yang tiba-tiba muncul dan mengamuk itu, hingga sebuah teriakan pilu terdengar oleh inderanya.

“LUHAN!”

Di dekat reruntuhan bangunan, Alessa melihat seorang pemuda tengah mengguncang tubuh pemuda lainnya yang tertindih tiang besi. Pemuda itu meraung, dan meminta temannya untuk segera bangun.

Melihat kejadian tersebut, Alessa teringat dengan Hana lalu rasa cemaspun melandanya.

Alessa berlari ke tempat dimana terakhir kali ia melihat sahabatnya. Tempat itu kini sudah amblas dan tertutup oleh reruntuhan bangunan. Di dekat sepatunya, ia menemukan sebuah tusuk rambut yang tadi digunakan Hana kini ternoda oleh cipratan darah segar.

“Hana,” Alessa memungut tusuk rambut tersebut. Tangannya bergetar disertai liquid asin yang mulai merebak di pelupuk matanya.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat tubuh pria yang menyandera Hana terbujur kaku, darah segar merembes dari kepala bagian belakang pria itu. Segera Alessa mendekat dan mengenyahkan puing-puing reruntuhan yang menutupi daerah sekitarnya. Tak ia pedulikan benda-benda tajam yang menggores telapak tangannya setiap kali ia mengenyahkan puing-puing tersebut. Yang ada di kepalanya hanya temukan Hana, lalu selamatkan dia sesegera mungkin.

Di sana. Diantara reruntuhan tembok beton, tubuh mungil Hana terkulai tanpa daya. Sekujur tubuhnya nyaris hancur dan bersimbahkan darah. Alessa ambruk, untuk beberapa saat ia hanya mampu diam membatu di tempatnya dan menyebut nama gadis itu dengan suara lirih. “Hana-ya…”

***

BAMMM.

Suara ledakan terdengar di beberapa titik dari tempat Alessa berada. Entah apa yang terjadi, tenyata suara itu berasal dari beberapa gedung yang memuntahkan literan air bersih. Air-air itu menggulung dan berkumpul di satu titik.

“MAKHLUK KEPARAT! AKAN KUHABISI KAU!”

Seiring dengan teriakan tersebut, gulungan air itu bergerak dengan kecepatan suara ke arah Yamata berada dan menelannya dalam pusaran yang sangat dahsyat. Tubuh besar Yamata bergerak-gerak mencoba melepaskan diri, akan tetapi pusaran air itu seperti menarik Yamata untuk tetap berada di dalamnya. Kedelapan kepala Yamata mendesis serempak, seolah menyuarakan kesakitannya. Setiap detik, air terus bertambah dan menenggelamkan Yamata. Bahkan kini, pusaran air itu menggulung seperti halnya air pasang di lautan, dan… BUMMM!

Gulungan air raksasa itu menampar tubuh Yamata hingga hancur berkeping-keping.

Tubuh Alessa basah kuyup dan terdorong beberapa meter hingga punggungnya membentur pembatas jalan. Di sekitarnya genangan air terlihat membasahi jalanan dan puing-puing reruntuhan.

Kepalanya terasa pening, ketika Alessa menurunkan kedua telapak tangan yang digunakannya untuk melindungi telinga dari ledakan supersonik, bercak darah terlihat di sana. Selama lima detik, darah segar mengucur dari kedua telinganya. “Sial, apa yang sebenarnya terjadi?”

Tak jauh dari tempatnya, seorang pemuda tengah berlutut dengan nafas yang terengah. Tubuhnya penuh dengan memar dan luka lebam. Anehnya, tubuh pria itu sama sekali tidak basah. Berbeda dengan tubuh Alessa dan tempat di sekitarnya yang basah kuyup seperti korban kebanjiran.

Dengan langkah tertatih, Alessa menghampiri pemuda tersebut.

“Kau… baik-baik saja?”

Untuk beberapa saat, pemuda itu masih terdiam tak bergeming. Di dekatnya terlihat sebuah pedang perak sepanjang setengah meter, dengan desain kepalanya yang unik dan terlihat kuno.

“Bukankah…” ragu-ragu Alessa bertanya, “—itu pedang Kusanagi?”

Pemuda itu menegadah. Dan sepasang netranya menatap wajah Alessa yang masih sibuk memerhatikan sebuah pedang di dekatnya.

“—iya kan?” Alessa menoleh dan sepasang netra keduanyapun bersirobok.

“Ss-soojung…” pemuda itu berkata lemah dengan suara bergetar.

Tulisan ini aku dedikasikan buat readers yang udah komen di 00-Demigods.
makasih buat kalian yang udah nganggep ide cerita ini numayan oke. 😀
Gimana?
Garingkah? Aneh? Bahasanya belepotan? Alurnya ga jelas?
Emang. Hihi XD
mohon dimaklum karena pribados masih amatiran, hehe
Sekilas info, Yamata no Orochi itu salah satu makhluk mitologi Jepang, bentuk fisiknya punya beberapa kesamaan sama Hydra dari mitologi Yunani, tapi jelas beda kok.
yang tau anime Naruto pasti udah familiar deh.
yang aku tulis disini bukan gambaran aslinya juga, karena aku campur pake imajinasiku sendiri. Hehe
kelanjutannya tergantung respon yang aku dapet yaa!
so, mind to review?

-tata^^

16 tanggapan untuk “Demigods: Is She?”

  1. ini dilanjut dong kak….
    masih ngegantung nih???
    kasihan sehun kan soojung nya mati,tp sehun jg gk tau kan cz dlu dia kan dirasuki ma jiwanya siapa itu ya aq lupa namanya(anaknya dewa laut)
    eh tp alessa itu wajahnya mirip soojung ya jadi sehun ngira dia itu soojung…
    please dilanjut ya ceritanya 🙂

    1. InsyaAllah aku lanjut, ini emang proyek series kok. Mungkin nanti setelah urusan real-life meringan. Hehe makasih udah baca dan komen ^^/

  2. alurnya masih membingungkan gag nyaut sama prolognya . Belum apa2 udah ada yang jd korban padahal peran orang itu dalam ff ini belum segitu kerasa dan kita gag akan tau seberapa besar kehilangan pemeran utama . Yang aq ngeh dari ff ini cuman pacarnya sehun yang namanya soojung itu udah meninggal itu aja .

    Maaf kalo cerewet hehehe

    1. ohoho. iya makasih buat komenannya. ini membantu sekali. gak usah minta maap, malah aku seneng. insyaAllah bakal aku perbaiki buat kedepannya :))
      semoga gak kapok baca yaa 😀

  3. Wah … saya lumayan antusias waktu sadar kalau yamata yang kamu jadiin monster dari bee si ekor 8. kekeke .. kebetulan juga sih ya saya suka sama naruto. apalagi kalau nonton rock lee, itu beneran lucu banget, ketawa sendiri kaya orang sarap.
    waktu baca masa lalu sehun terasa familiar sama masa lalu si luke. tapi moga saja sehun gak jadi tokoh antagonis. kekuatannya si sehun aku yakin sama kayak percy dan pedangnya! hehe .. jadi kebongkar deh.
    dan alessa sepertinya belum tahu kekuatannya, wajahnya juga mirip soojung kah?
    untuk luhan .. please jangan buat dia mati dulu, aku tak rela.
    sudah cukup celotehnya and thanks for update 😉

    1. wow.
      tos dulu ah, aku juga suka Narutoooo. XD
      ahaha. paling ngakak itu yang naruto SD bukan sih, aku lupa. itu yang Lee yang jadi mc nya. haha *salpok

      wah? iyakah? aku malah gak ngeh loh masa lalu Sehun mirip sama Luke. oke tenang aja. yang penting Luke ganteng kan *apaan

      thanks juga for comment, semoga gak kapok baca karyaku lagi yaa ^^

  4. Udh ngerti jlan ceritanya, tapi alurnya bikin bingung, atau apanya ya akju gtw kak, yg penting ngerti ceritanya udh lumayan kak.
    Ceritanya bisa buat ngembangin sejarah nih hehe
    Keren kak, keep writing
    And jgn kelamaan updatenya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s