TWOSHOOT – THE DEVIL [1/2] — IRISH’s story

The Devil_cover

Author : IRISH

Tittle : The Devil

Main Cast : EXO’s Kim Jongdae & OC’s Lee Hara

Rate : PG-17, M (Untuk beberapa adegan yang ada di fanfict ini)

Length : Twoshoot

Genre : Fantasy, Thriller, School-life

Disclaimer : This story is entirely fantasy and created by Irish. Any resemblance to real persons or organization appearing in this story is purely coincidental. EXO’s Kim Jongdae belong to his real-life. OC’s belong to their fake appearance

“…Aku hanya sedikit berbeda dari mereka…”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Hara memandang gerumbulan teman-temannya dikelas yang tampak tengah begitu berisik membicarakan sesuatu. Dengan penuh keingin tahuan yeoja itu melangkah masuk ke kelas, dan menghampiri teman-temannya.

“Kalian sedang apa?”, tanya Hara, kepala yeoja itu melongok berusaha melihat apa yang sedang anak-anak itu tonton beramai-ramai.

“Sshh, diamlah, kami sedang melihat video pembunuhan anak setan.”

“Mwo? Anak setan?”, kening Hara berkerut sempurna, tidak mengerti dengan apa yang tengah teman-temannya bicarakan.

Yeoja itu menggeleng pelan saat Ia tidak berhasil melihat apa yang sebenarnya teman-temannya tonton. Akhirnya yeoja itu melangkah mundur, dan meletakkan tas nya di kursi yang kosong—karena mejanya sekarang menjadi tempat hampir anak-anak sekelas menonton bersama.

Kebiasaan yeoja itu yang sering terlambat tentu saja membuatnya datang paling akhir dikelas, beruntung saja seongsaengnim belum datang ke kelasnya.

“Akh!!”

Hara menyernyit saat mendengar suara teriakan samar dari video yang tengah ditonton anak-anak.

“Aigoo! Menyeramkan! Dia benar-benar kuat!”

“Lihat? Itu sudah pasti dia anak setan.”

“Aish, diamlah!”

Hara untuk kedua kalinya melongokkan kepalanya berusaha melihat apa yang sedang ditonton oleh teman-temannya, tapi usahanya lagi-lagi gagal. Yang bisa Ia tau sekarang hanya mendengar suara teriakan-teriakan samar, dan keramaian yang membuatnya diam-diam bergidik ngeri.

“Kalian akan menyesalinya! Kalian akan menyesali perbuatan kalian!”

Tatapan Hara kemudian tertuju ke luar kelas, dan yeoja itu segera terkesiap saat melihat seongsaengnim tengah berjalan ke arah kelas mereka.

“Ya! Ya! Seongsaengnim sedang menuju kemari!”

Dan saat mendengar ucapan Hara, penonton video itu perlahan bubar.

“Aku akan membunuh siapapun yang menyaksikan kematianku!!”

BRAK

Hara tersentak saat Jiyoung, pemilik ponsel yang digunakan menonton bersama-sama itu membanting ponselnya dimeja.

“Wae geuraeyo?”, tanya Hara penasaran

“Aku terkejut! Sialan.”, ucap yeoja itu, mengelus dadanya dan mengatur nafas.

Hara hanya menggeleng pelan.

“Kalian tidak takut melihat video seperti itu? Aku yang mendengarnya saja sudah merinding.”, ucap Hara sambil kemudian mengambil tasnya dan duduk di sebelah Jiyoung.

“Aish, kau kan belum melihat videonya, anak setan itu benar-benar menyeramkan. Kau mau lihat? Aku membawa headset.”, bisik Jiyoung sambil menyodorkan ponselnya, tapi dengan segera Hara mendorong pelan lengan yeoja itu.

“Tidak tidak. Aku takut.”, ucap Hara

“Aish, ini kan hanya video.”, ucap Jiyoung

“Kenapa kalian begitu suka melihat hal-hal menyeramkan?”

“Eh? Apa nya yang menyeramkan?”, Jiyoung menyernyit

“Tentu saja video itu. Kalian melihat video pembunuhan seperti itu, kalian tidak merasa bersalah?”, ucap Hara dengan nada menuntut

“Aish, yang dibunuh kan setan, kenapa harus merasa bersalah?”

Hara menyernyit ngeri, tapi kemudian yeoja itu menggeleng pelan.

“Aku tidak tega membayangkannya. Siapapun dia, kurasa dia tidak pantas untuk dibunuh, apalagi dengan divideo dan disebarkan seperti itu.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Hara melangkah pelan menyusuri jalan ke arah rumahnya, sesekali yeoja itu menendang batu kecil yang ada di dekat kakinya. Pikiran yeoja itu kembali terbayang pada ucapan Jiyoung tadi di kelas.

“Kau cari saja tentang Keturunan Setan Ketujuh Korea. Pasti akan muncul video ini, walaupun susah sih mencarinya, kau coba saja lihat videonya, anak-anak saja sangat penasaran sampai melihatnya berulang kali.”

Memang sudah dua minggu berlalu sejak pertama kali Jiyoung membawa video itu ke kelas, dan hampir setiap harinya kelas mereka berisik dipagi hari karena video itu. Dan bahkan, video itu tampaknya sudah menyebar sampai ke kelas lain.

Tapi tetap saja, hanya dengan mendengar teriakan-teriakan di video itu, Hara sudah merinding, dan memutuskan untuk tidak melihat. Yeoja itu tidak tega.

TUK. TUK.

“Aw..”

Hara tersadar, dan tersentak saat batu kecil yang ditendangnya mengenai seseorang.

“Oh, mianhae, aku tidak melihatmu.”, ucap Hara, melangkah kecil menghampiri seorang namja dengan seragam sama dengannya, yang tengah berdiri di pinggir jalan, tampak menunggu bus yang lewat.

Namja itu tersenyum miring, mengusap-usap tangannya yang secara tidak sengaja terkena batu tadi.

“Gwenchana..”, ucap namja itu kemudian, namja itu memperhatikan Hara dari atas sampai bawah, sampai akhirnya namja itu tersenyum.

“Lee Hara kan?”

“Bagaimana kau tau?”, ucap Hara kaget, yeoja itu memperhatikan namja di depannya, sampai akhirnya Ia membuka mulutnya.

“A-Ah. Aku hampir saja lupa.”, Hara menepuk-nepuk keningnya pelan, teringat bahwa seminggu yang lalu seorang murid baru masuk dikelasnya.

“Mianhae Jongdae-ah, kau tau, kelas kita sedikit berisik akhir-akhir ini, dan.. maaf karena aku tidak begitu mengingatmu ada dikelas kami.”, ucap Hara, yeoja itu meringis pelan, menatap namja yang tersenyum di depannya.

“Gwenchana. Kelasmu juga tampaknya tidak terlalu suka pada  murid baru.”, ucap namja bernama Jongdae itu.

“Nde? Kenapa kau bilang begitu?”

Jongdae kemudian melepaskan tas nya, dan menunjukkan isinya pada Hara. Yeoja itu mengerjap beberapa kali saat melihat isi tas namja itu begitu berantakan. Buku-bukunya robek semua. Dan bahkan ada batu bata, maupun lumpur disana.

“Aish, ini pasti ulah pacar Jiyoung itu.”, ucap Hara menggerutu, yeoja itu kemudian menepuk pelan lengan namja di depannya.

“Mereka sudah kebiasaan mengerjai teman seperti ini.”, ucap Hara

“Mungkin mereka tidak menganggapku teman.”, ucap Jongdae pelan

“Aish kau jangan bicara yang tidak-tidak. Mereka memang menyebalkan kadang-kadang. Tenang saja, kalau ada yang mengganggumu dikelas, kau lapor saja padaku, aku kan ketua kelasnya.”, ucap Hara bangga, membuat Jongdae tertawa pelan.

“Kau bercanda? Aku bukan anak kecil yang suka mengadu.”, ucap Jongdae, namja itu menarik nafas panjang, dan menghembuskannya dengan berat.

“Disekolah lama aku juga sering dikerjai. Lihat saja apa yang nanti terjadi pada mereka.”, ucap Jongdae pelan membuat Hara segera memandang namja itu.

“Kau tidak berniat untuk bertengkar dengan anak-anak kan? Aish, Jongdae-ah, kau itu anak baik-baik, jangan berkelahi, biarkan saja anak-anak itu. Mereka memang suka membuat masalah.”

“Jadi aku harus terus menerima perlakuan mereka? Membiarkan mereka menertawakanku?”, ucap Jongdae, untuk beberapa saat, Hara merasa ada yang berrbeda dinamja itu, pada ucapannya.

Tapi dengan cepat Hara menepis perasaan anehnya, dan tersenyum pada namja itu.

“Aku akan bilang pada mereka untuk tidak mengerjaimu lagi, tenang saja.”

“Hara-ssi..”, Jongdae tersenyum pada yeoja itu, “kenapa kau membelaku? Kenapa kau tidak ikut bersama mereka?”, tanya namja itu membuat Hara berpikir.

“Umm.. Kurasa karena kau baik dan tidak melakukan kesalahan apapun. Jadi kau tidak pantas diperlakukan seperti itu.”

“Tapi bagaimana jika aku salah?”

Hara kembali berpikir.

“Kurasa.. tergantung seperti apa kesalahanmu?”, ucap Hara, bingung, kenapa namja di depannya bisa menanyakan pertanyaan-pertanyaan dengan tingkatan serius seperti itu.

“Jadi.. Ada kemungkinannya kau tetap membelaku?”, tanya namja itu membuat Hara kembali berpikir keras.

“Hmm.. Ya. Aku tentu saja membelamu jika kau butuh bantuan. Bukankah kita harus saling menolong sebagai teman yang baik?”, Hara balik bertanya pada namja itu

Kali ini Jongdae terdiam, memandang yeoja di depannya.

“Tidak Hara-ssi. Jangan menganggapku teman. Anggap saja aku musuh.”

Jongdae berucap sebelum akhirnya Ia melangkah pergi. Ke arah yang berlawanan dengan arah datangnya Hara tadi. Dan sepeninggal namja itu, Hara hanya berdiri diam disana. Masih berusaha mencerna apa maksud ucapan namja itu.

Ini pertama kalinya Hara bicara pada namja pindahan itu, dan entah mengapa, Hara punya firasat buruk tentang nya.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Hara masuk ke dalam kelas beberapa saat setelah bel tanda jam makan siang berakhir dan menyernyit saat anak-anak tampak tengah sibuk berbagi kue. Seingat yeoja itu, tidak ada yang sedang berulang tahun dikelasnya. Tatapan yeoja itu kemudian berputar, mencari keberadaan Jongdae, murid baru itu, tapi Ia tidak menemukannya di kelas.

“Murid baru itu kemana?”, tanya Hara pada salah seorang temannya

“Kurasa Ia ke UKS, seseorang menaruh obat di makanannya tadi.”, sahut murid itu sambil tertawa ringan.

“Hey, Hara-ya! Kau tidak mau mencoba kue ini? Seseorang meninggalkannya di mejaku tadi.”

Hara menggeleng pelan.

“Kalian habiskan saja,”, ucap yeoja itu singkat sebelum Ia melangkah keluar kelas. Langkah pendek yeoja itu tentu saja terdengar sangat cepat dikoridor yang mulai kosong. Dan letak UKS yang ada di bagian belakang sekolah membuat yeoja itu harus sedikit berlari.

Sesampainya di UKS, yeoja itu kembali menyernyit saat mendengar suara seseorang tengah muntah di dalam UKS.

“Jongdae-ah?”, ucap Hara saat Ia masuk ke UKS

Hara mendapati namja itu tengah tertunduk di wastafel, dan dengan segera Hara menghampiri namja itu.

“Neo gwenchana?”, tanya yeoja itu saat Jongdae selesai membersihkan mulutnya

Hara menyernyit, menatap namja itu khawatir. Dan tak lama, Jongdae kembali berbalik, dan muntah untuk ke sekian kalinya. Kali ini Hara dengan sigap mengusap-usap tengkuk namja itu.

“Apa yang kau makan tadi Jongdae-ah?”, tanya Hara sembari tetap mengusap-usap tengkuk namja itu.

“Aish, anak-anak memang keterlaluan..”, gerutu yeoja itu, dengan cepat Ia mengambil tissue yang ada di dekatnya, dan mengulurkannya pada Jongdae.

Namja itu masih tidak bicara apapun, dan mengambil tissue yang di ulurkan Hara. Namja itu kemudian menatap Hara dalam diam, membuat Hara kembali menyernyit.

“Waeyo?”, tanya yeoja itu dan hanya disahuti dengan gelengan pelan oleh Jongdae, namja itu baru saja akan membuka mulutnya dan bicara saat kemudian Ia berbalik, dan kembali muntah untuk kesekian kalinya.

Hara akhirnya memilih diam, dan mengusap-usap tengkuk namja itu, seperti yang Ia lakukan tadi. Beberapa kali namja itu muntah saat Hara ada disana, sampai akhirnya Ia bisa duduk di tempat tidur.

“Aku tidak begitu tau masalah obat-obatan, kau mau menunggu disini? Aku akan panggilkan seongsaengnim.”, ucap Hara pada namja itu

“Tidak perlu. Aku hanya butuh air hangat untuk minum.”

“Arraseo. Tunggulah, aku akan ambilkan.”, ucap Hara

Yeoja itu segera mengambil gelas dan mengisinya dengan air hangat dari dispenser yang ada di ruangan itu. Kemudian Ia memberikannya pada Jongdae.

“Merasa lebih baik?”, tanya Hara pada namja itu

“Ya. Lumayan. Gomawo, Hara-ssi.”, ucap Jongdae sambil kemudian tersenyum pada yeoja itu.

“Hmm, sama-sama.”, jawab Hara, yeoja itu memperhatikan Jongdae dari atas sampai bawah, dan sadar bahwa anak-anak seharian ini sudah banyak mengerjai Jongdae.

“Apa mereka menguncimu digudang?”, tanya Hara

“Hmm, seperti itulah.”, Jongdae menjawab sambil memandang seragamnya yang sudah kotor akibat ulah anak-anak.

“Apa murid baru lainnya menerima hal seperti ini juga?”, tanya Jongdae, menatap yeoja di depannya dengan senyuman.

Hara sejenak memandang namja itu, tapi kemudian Ia tertunduk dan menggeleng.

“Tidak pernah separah ini. Aku tidak tau apa yang salah dengan anak-anak. Kau tau, aku juga dulu murid pindahan, tapi mereka tidak memperlakukanku sampai seperti ini. Aish, mereka jadi menyebalkan sekali sekarang.”, gerutu Hara, yeoja itu menggembungkan pipinya dan duduk di kursi yang ada di dekat tempat tidur.

“Oh, Jongdae-ah, apa kau tidak penasaran soal video yang sering anak-anak tonton?”, Hara membuka mulut setelah mengingat-ingat bahwa selain dirinya, Jongdae juga sama sekali tidak tampak tertarik pada video yang membuat murid sekolahnya heboh itu.

“Aku punya videonya, kau tertarik untuk melihat?”

“Mwo? Kau punya videonya!?”

“Aish, kenapa harus berteriak huh? Kau mau?”, tanya Jongdae, namja itu bergerak mengambil ponselnya, tapi dengan cepat Hara menahan lengan namja itu.

“Tidak. Tidak perlu.”, ucap yeoja itu, menggeleng cepat.

“Eh? Kenapa? Bukankah kata anak-anak kau tidak pernah melihat?”

“Ya. Aku memang tidak pernah melihatnya. Video itu pasti menyeramkan iya kan? Kau pernah melihatnya? Aish, mendengar suara-suara dari video itu saja aku sudah merinding. Aku heran kenapa anak-anak begitu suka menontonnya.”

“Mungkin juga kau akan suka menontonnya jika sudah menonton sekali.”, ucap Jongdae ringan membuat yeoja itu kembali bergidik ngeri.

“Aku hanya penasaran tentang sosok yang dibunuh di video itu, bukan penasaran melihat bagaimana Ia dibunuh.”

“Keturunan Setan Ketujuh bukan?”, ucap Jongdae

Tapi Hara menyernyit.

“Apa Ia benar-benar keturunan setan? Bisa saja kan dia hanya orang biasa yang punya kelebihan, tapi menjadi korban seperti itu..”

Jongdae terdiam cukup lama.

“Dia memang hanya orang biasa.”

“Benarkah?”

Jongdae menatap yeoja itu.

“Kurasa seperti yang kau bilang. Dia hanya orang biasa.”

Hara menyernyit, tampak berpikir.

“Kau tau, mungkin kau akan menganggapku aneh jika aku bicara seperti ini. Tapi.. aku benar-benar ingin menangis saat mendengar teriakan sosok yang dibunuh itu. Apalagi saat Ia mengucapkan kata-kata terakhirnya.

“Ucapannya sangat menyeramkan, dan teriakannya..”, Hara terhenti sejenak, “aku tidak tau kenapa anak-anak bisa tega melihat video itu.”

“Bukankah mereka suka melihatnya karena bisa meledek sosok yang dibunuh itu?”

Hara menghela nafas panjang.

“Ya.. Mereka sering menertawakannya, dan meledeknya, dan menurutku mereka benar-benar tidak berperasaan. Apa yang benar-benar lucu tentang seorang remaja yang dibunuh dengan cara dibakar hidup-hidup setelah dilempari dengan kerikil tajam?”

Jongdae terkesiap. Dan memandang yeoja itu.

“Bagaimana kau tau Ia dibunuh seperti itu?”

“Oh ayolah, anak-anak terus bicara tentang itu. Bagaimana mungkin aku tidak ngeri mendengarnya. Aku sempat terpikir, jika anak-anak kelas kita ada di zaman yang ada divideo itu, mungkin mereka juga termasuk diantara orang-orang jahat itu.”

“Orang jahat? Bukankah mereka membunuh orang jahat?”

“Kau berpikir jika yang dibunuh itu orang jahat?”, Hara balik bertanya, membuat Jongdae yang sedari tadi memandang yeoja itu, mengalihkan pandangannya.

“Kurasa.. ya..”

Hara kembali menghela nafas.

“Padahal ku kira kau sepemikiran denganku.”

“Jadi menurutmu dia bukan orang jahat?”

Hara menggeleng.

“Tidak. Aku tidak berpikir Ia orang jahat. Dan juga, jika nyatanya Ia memang keturunan setan, kalau dia tidak melakukan kejahatan apapun, dia tetap tidak pantas untuk dibunuh seperti itu.”

Jongdae menatap yeoja itu dalam diam, sementara Hara tampak berdebat dengan pemikirannya. Perlahan, senyum muncul diwajah Jongdae.

“Kurasa sekarang aku tau alasanmu tidak menonton video itu.”

Jongdae tertawa pelan melihat ekspresi yeoja di depannya yang sekarang tampak merengut. Tapi kemudian Ia menyernyit saat isi perutnya mendadak ingin keluar lagi.

“Kau mau muntah lagi?”, Hara segera berdiri, bersiap menemani namja itu lagi. Tapi Jongdae menggeleng, berusaha menelan rasa mualnya.

“Tidak. Aku tidak apa-apa.”, ucap Jongdae, namja itu terdiam sebentar, sebelum Ia akhirnya menatap Hara.

“Bisa aku minta air lagi?”, tanyanya dan dijawab dengan senyuman oleh Hara.

“Tentu saja.”, ucap Hara, Ia mengambil gelas yang ada di tangan Jongdae. Lalu Ia melangkah pergi meninggalkan Jongdae sendirian.

Jongdae kemudian menatap ke arah pintu UKS, dan dengan perlahan pintu UKS menutup, dan tanpa suara pintu UKS menutup. Namja itu kemudian beranjak turun dari tempat tidur, melangkah ke tempat Hara berada.

Hara sudah akan melangkah menghampiri Jongdae saat namja itu nyatanya ada dihadapannya.

“Eh? Waeyo Jongdae-ah?”, tanya Hara saat melihat namja itu menatapnya dalam diam

“Sebenarnya, ada hal yang perlu kau tau Hara-ssi.”

Hara menyernyit.

“Apa itu?”

Jongdae menarik lengan yeoja itu, membuat gelas yang ada ditangan Hara terjatuh dan pecah dengan suara cukup keras. Belum sempat Hara berteriak, namja itu malah menarik wajah Hara, dan dengan cepat berbisik ditelinga yeoja itu.

“Tidurlah.. Hara-ssi..”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

20 tanggapan untuk “TWOSHOOT – THE DEVIL [1/2] — IRISH’s story”

  1. Kak Irish memang selalu aja buat banyak kejutan yang tak terduga di tiap karya kakak. awal baca aku merinding “anak setan?” O_O bukan satansoo,kan?#abaikan … sana sini hororO_O Jongdae kau itu muka lawak kedapet peran gini, bikin hati neneng(?) dag-dig-dug(azan maghrib) semoga berhasil bikin neneng terpukau…

    1. XD buakakakkakaka iya ini aku bikinnya pas lagi berpikiran astral banget masa XD wkwkwkwkwk jadi bener-bener ga karuan ceritanya

  2. seremmmm rishhhhhhhhhh,,,,
    Irishhhh nihhhhhh,,,, iashhhhhhhhh udahmendarah dagingg buat yang horor2 hahahahhaahhaa

    Tapi aku suka ,,,, penuh teka tekii giniii,,,,,yaaa hara disuruhhh tidurrr,, jangan2 jongdae mau ”ber aksi” dikelas haraa

  3. uuuu.jng jngan.jongdae adik cewe yg d bunuh itu..mw d apain to hera ko d buat tidur..hemmmm penasaran banget..sesuatu hal yg buat kita bertanya tanya.apa yg terjd selanjutnya…
    d tunggu next chapternya y irish si!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s