Forced Married (Chapter 7) by NisaAmini

fm

Title : Forced Married | Author : Nisa Amini (@fangirlxsj) | Main Cast : Kim Hyejin – Oh Sehun | Genre : Romance, Comedy (little) , Family | Rated : PG17

Summary :
Menikah karena sebuah hal yang tidak disengaja yang membuat kedua orang tua Sehun salah paham, bukankah lucu? Akankah kedua pasangan ini bisa menjalani kehidupan pernikahan yang dipaksakan?

*
*
*
*
*

“Jangan ikut campur urusanku.”

Hening…

Hyejin baru saja melontarkan kata-kata itu tanpa ia sadari, sorot matanya yang sedikit memerah kini sudah berani menatap Sehun yang masih terdiam. Tangan kanan Hyejin yang ia sampirkan di samping tubuhnya tak terasa sudah mengepal keras menahan air mata yang mencoba meruak kembali.

Tidak…

Ia harus menahannya…

Sehun yang seakan kelu tidak bisa berbicara apa-apa, sesudah ia berteriak meminta penjelasan dari Hyejin dengan cara seperti itu membuatnya merasa sedikit bersalah. Karena tidak seharusnya ia membentak gadis itu. Sehun bisa saja bersikap sedikit sabar dan mengontrol emosinya.

“Maaf jika surat itu menganggumu dan melibatkan namamu, aku benar-benar tidak tahu siapa yang mengirim itu padaku.” Hyejin tersenyum tipis. “Tenang saja aku akan mencoba mencari tahu siapa yang melakukan itu, kau hanya perlu diam.”

Sehun tidak suka cara Hyejin seperti itu, yang ia inginkan sebenarnya adalah mencari tahu bersama-sama siapa peneror itu. Jujur saja Sehun sedikit merasa kesal.

“Kau bercanda?” ucap Sehun dengan suara yang pelan tanpa mengalihkan tatapannya dari mata Hyejin. “Bagaimana bisa kau mencari peneror itu dan mengungkap semuanya jika kau saja sudah menangis hanya karena ku bentak?!”

Hyejin tercengang sesaat.

“Kau…”

“Dengarkan aku Hyejin.” Sehun maju selangkah lalu kedua tangannya ia taruh di kedua bahu Hyejin. “Gerak-gerik kita berdua sedang dipantau oleh orang yang tidak kita ketahui diluar sana, ia berniat mencelakai kita – ah tidak, ia ingin mencelakaimu. Apa aku hanya bisa berdiam diri saja disaat kau sedang dalam bahaya? Asal kau tahu aku tidak segila itu Kim Hyejin.”

Hyejin ingin sekali keluar dari sorot mata elang Sehun tapi entah kenapa pria yang berada didepannya ini seakan memaksanya untuk terus menatap kedua bola mata itu. Rasa tenang seketika sangat terasa di dalam diri Hyejin. Mengingat Sehun mengatakan itu membuat dirinya merasa dilindungi.

Tapi tunggu…

“Mengapa kau menjadi perduli padaku? bukankah kau yang menulis sendiri peraturan itu kalau kita tidak boleh mencampuri urusan mas – “

“Tidak, ini bukan urusan masing-masing tetapi ini urusan kita Hyejin-ah dan kita harus segera menyelesaikannya.”

Hyejin tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Semua jawaban dari Sehun membuatnya terdiam, ia bingung harus mengatakan apalagi. Hyejin menunduk diam, membiarkan rasa hangat pada bahunya semakin terasa kala kedua tangan itu semakin melumpuhkannya.

Tidak lama ketika Hyejin menunduk sebuah tangan tiba-tiba saja memegang dagu Hyejin, menuntun gadis itu untuk mendongkak keatas.

Pria itu tersenyum tipis, ya sangat tipis. Bahkan jika saja Hyejin mengedipkan matanya mungkin ia tidak bisa melihat senyuman itu.

“Hapus air matamu.” Sehun berujar lembut. “Kau terlihat jelek.”

Hyejin refleks menghapus air matanya dengan cepat. “Singkirkan tanganmu.” Lalu Hyejin berbalik untuk membasuh wajahnya sebentar. Sehun tanpa sadar tertawa pelan melihat tingkah Hyejin yang terlihat malu.

“Hei apa kau masih berniat pergi ke super market?”

“Huh?” ah ya Hyejin hampir melupakan niat awalnya yang tadi ingin pergi ke super market.

“Ayo lebih baik kita mencari restoran saja. Kau tidak perlu memasak hari ini.”

“Tapi aku sudah mencuci sayuran.”

Sehun berjalan menghampiri Hyejin, mematikan keran yang sedang Hyejin nyalakan. “Taruh saja didalam pendingin.”

“Eum baiklah.”

*
*
*
*
*

“Kau yakin tidak mau pulang?”

Entah sudah berapa kali Sura bertanya kepada suaminya, dan Hyunseok selalu memberi jawaban yang sama bahwa ia akan tetap disini, di Seoul.

“Ya aku yakin, kau tidak perlu khawatir.” Nampak Hyunseok kembali meyakinkan istrinya. Sura menghela nafas pelan, yam au bagaimana lagi sikap suaminya selalu teguh pendirian, Hyunseok bukanlah orang yang mudah berubah pikiran.

Hyun Seok kembali membantu Sura membereskan barang-barang yang akan Sura bawa ke Daegu. “Aku mungkin sedikit lama disini… ada sesuatu hal yang harus ku selesaikan.” Lirih Hyunseok tanpa menatap Sura sedikit pun.

Sura tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, bukankah dengan
adanya kau disini kau bisa lebih sering mengunjungi Hyejin? Kabari aku jika anak itu membutuhkan sesuatu.”

Hyunseok menghentikan kegiatannya sebentar. “Tapi…” Hyunseok menggantungkan kata-katanya.

“Ada apa?”

“Apa kau benar-benar bahagia dengan pernikahan anak kita?”

“…”

“Sura-ya…”

“Tentu saja aku bahagia. Meskipun kau tahu bahwa Hyejin bukanlah anak kita yang sesungguhnya tapi entah mengapa aku benar-benar sangat bahagia. Melihatnya yang selalu tersenyum membuatku seakan menjadi seorang Ibu yang paling bahagia.”

Kedua mata Hyunseok seakan tak bisa lepas ketika Sura mengatakan itu padanya. otaknya seakan kembali mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, ya suatu kejadian yang tidak akan pernah bisa ia lupakan untuk selamanya.

Hyunseok berlari sekencang mungkin untuk menghindari hujan yang kini semakin deras membasahi tubuhnya. Sekeras apapun Hyunseok berlari dan sekuat apapun Hyunseok menghindar, dirinya akan tetap basah terguyur air hujan.

Beberapa langkah lagi Hyunseok segera sampai kearah rumahnya, tak jauh dari pengelihatannya sebuah rumah bergaya hanok sudah terlihat didepan. Dengan menambah kecepatan lagi Hyunseok semakin keras berlari untuk cepat sampai dirumah.

“Aku pulang…”

“…”

“Sura…”

“Hyunseok-ah! Bantu aku!”

Kedua mata Hyuunseok terbelalak kaget ketika ia melihat istrinya sedang mengobati seorang anak perempuan yang masih kecil dengan keadaan yang mengenaskan. Banyak sekali luka dan darah pada tubuh gadis mungil itu. beberapa detik Hyunseok hanya bisa diam membatu.

“Ya kenapa kau hanya diam saja?!”

Hyunseok pun mulai tersadar, lalu ia segera menghampiri istrinya. “Bagai…bagaimana bisa… kau… kau membawanya…”

“Pertanyaanmu akan kujawab nanti! Yang terpenting sekarang adalah bantu aku untuk mengobati anak ini! bagaimana kalau kita membawanya kerumah sakit?”

“Tidak… itu… itu tidak perlu! Bagaimana bisa kau membawa orang asing kedalam rumah ini, huh?”

“Justru karena ia orang asing aku harus membantunya! Asal kau tahu, aku menemukan anak ini dalam keadaan yang mengenaskan, tak jauh dari jurang yang berada di dekat sungai aku menemukannya! Aku lihat ia masih menghembuskan nafasnya, jadi aku langsung membawanya kesini.”

Hyunseok hanya diam…

“Aku… aku malah berfikir untuk menjadikan anak ini sebagai anak kita…” lanjut Sura pelan. “Kau tahu kan bahwa karena penyakitku ini aku tidak bisa mengandung? Sedangkan aku ingin sekali mempunyai keturunan, maksudku… bagaimana kalau kita mengadopsinya?”

Hyunseok menunduk dalam…

Ia tidak bisa menjawab…

“Sura-ya…”

*
*
*
*

Hyejin menatap Sehun yang terlihat sedang asik menyantap makanannya. Melihat cara makan Sehun saja sudah berhasil membuat perutnya kenyang, padahal Hyejin sendiri belum menyentuh makanannya.

Sekarang ini mereka berdua sedang berada di restoran yang tak jauh dari Apartement mereka berdua, sebenarnya Hyejin memilih untuk memasak saja. Tapi Sehun terus memaksanya untuk makan di restoran. Setidaknya memakan masakkan rumah lebih menghemat biaya.

Sehun yang mersa dirinya sedari tadi terus ditatap oleh Hyejin langsung mendongkakkan kepalanya dengan keadaan mulut yang masih mengunyah.

“Ada apa kau menatapku?” tanya Sehun menatap Hyejin bingung.

Hyejin semakin bertopang dagu. “Hari ini kau aneh.”

Dahi Sehun terlihat mengerut. Aneh? Apa yang aneh dari diri Sehun? Sehun pun menghentikan laju makannya. Lalu membersihkan sudut bibirnya dengan sebuah tisu yang sudah disediakan diatas meja restoran ini.

“Aneh?”

“Hm.”

“Memangnya aku aneh kenapa?”

“Memindahkan aku kedalam kamar, memelukku semalaman, dan bahkan kau terihat kaget ketika kau membahas pertemuanku dengan Joonmyun. Bukankah itu aneh?” Tatapan mata Hyejin semakin menyelidik membuat diri Sehun terasa terpojoki.

Sehun pun sedikit terbatuk dengan cepat ia meminum air jus jerus yang ia pesan.

“Memangnya ada yang aneh dengan itu semua? Bukan… bukannya itu normal?!” kata Sehun sedikit terbata-bata.

“Mungkin kalau orang lain yang melakukan itu padaku akan terlihat normal. Tapi kalau itu kau… benar-benar terasa aneh tuan Oh.” Jawab Hyejin sambil mulai memakan makanannya tanpa menghiraukan Sehun yang masih terlihat bingung harus menjawab apa. “Karena selama ini kau selalu bersikap menyebalkan kepadaku.”

“Itu semua aku lakukan karena aku tida tega melihatmu tertidur disofa, lagi pula siapa yang menyuruhmu tidur disitu, huh?” Sehun terlihat sedikit nada kesal.

“Ehm… ku kira kau menyukaiku.”

“…”

“Sehun-ah…”

“Apa tadi aku tidak salah dengar? Kau kira aku menyukaimu? Oh astaga itu mana mungkin terjadi.” Sehun nampak mengalihkan pandangannya kearah lain.

“Hei lagi pula aku hanya bergurau. Lalu kau kira aku juga menyukaimu?”

“Ya!” Sehun terlihat semakin kesal. “Sudahlah aku lelah terus berdebat denganmu. Lagipula ada yang lebih penting untuk kita bahas Hyejin-ah.”

“…”

“Soal peneror itu, aku akan mencari tahunya lewat cctv didepan Apartementku. Lalu aku akan terus menyelidikinya. Kalau kita hanya diam saja ia akan semakin berulah Hyejin-ah, jadi kita harus bertindak lebih cepat daripada dirinya.”

Terlihat Hyejin mengangguk setuju. “Hm. Kurasa kita harus bertindak cepat.” Hyejin nampak inging mengatakan sesuatu yang hampir terlupakan untuk ia katakan kepada Sehun. “Sehun-ah, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”

“Apa?”

“Eum, kau tahu kan bahwa aku terus saja merancau semalaman?”

“Hm.”

“Aku sebenarnya memimpikan sebuah kejadian aneh, disana aku seperti mendengar suara yang sangat kencang.” Hyejin menghela nafas sejenak. “Aku sampai menutup kedua telingaku, aku benar-benar tidak bisa melihatnya dengan jelas. Eum… aku kira itu sebuah suara benturan yang sangat kencang.”

“Benturan?”

Hyejin terlihat menerawang kembali apa yang ia mimpikan semalam, karena ia merasakan kepalanya sedikit pusing ketika mencoba mengingat itu. “Aku tidak yakin… tapi itu seperti sebuah kecelakaan mobil.”

Sehun sedikit tercekat beberapa detik. Matanya ia alihkan kearah lain, mencoba mencari objek yang bisa ia lihat untuk sebentar. Mengingat kembali masalah kecelakaan mobil membuatnya teringat kembali dengan kejadian Jihyun. Ah tidak, Sehun tidak boleh memikirkan hal itu kembali.

“Kecelakaan? Benarkah?”

“Ehm, tapi aku tidak sepenuhnya yakin.”

“Lalu apa yang terjadi selanjutnya?”

Hyejin kembali berfikir, sesungguhnya membuat ia kembali memikirkan mimpi itu membuatnya benar-benar merasakan nyeri dikepalanya. Seperti sebuah memori yang seakan hilang, tapi kini kembali sedikit terkuak kala Hyejin mencobanya.

“Akh…”

Sehun seketika terkejut melihat Hyejin yang secara tiba-tiba mengerang kesakitan dikepalanya.

“Kau tidak apa-apa?!”

Hyejin pun hanya bisa mengangguk, tangan kanannya ia gunakan untuk menopang dahinya. Sehun pun segera berjalan mendekat kearah Hyejin, lalu ia berjongkok di bawah Hyejin. Memperhatikan gadis itu, Sehun tidak bisa menyangkal kalau ia sedikit khawatir dengan Hyejin.

“Kau kenapa? Apa ada yang sakit?” Sehun menggenggam tangan kiri Hyejin yang terkulai lemas disisi tubuhnya.

“Tidak… aku tidak apa-apa.” Hyejin kembali berucap. “Apa kau ingat bahwa didalam surat itu terdapat bahwa aku tidak boleh mengingat kebenaran yang sesungguhnya? Apa mungkin aku melupakan sesuatu didalam pikiranku?”

Sehun hanya bisa diam…

Jika benar Hyejin melupakan sesuatu didalam ingatanya…

Apa mungkin ia amnesia?

“Mengingat kembali mimpi itu membuatku merasa ada hubungannya diantara memori ingatanku yang hilang.” sambung Hyejin sambil menatap Sehun yang berada dibawahnya, ia rasakan kehangatan di tangannya kala Sehun semakin erat menggenggamnya. “Tapi entah mengapa aku sedikit takut untuk mengingat semuanya…”

Senyum tipis Sehun diperlihatkannya dengan manis. “Jangan terlalu memikirkannya jika itu membuatmu sakit. Jika kau takut untuk mengingat itu semua eum… tenang saja aku akan terus berada disisimu.”

“Sehun-ah…”

“Hm?”

“Kenapa… kenapa kau baik sekali padaku?”

Jujur saja jika Hyejin bertanya tentang itu Sehun juga tidak tahu harus menjawab apa. Karena Sehun sendiri tidak mengerti dengan dirinya sendiri, ia akui tingkah lakunya terhadap Hyejin akhir-akhir ini terlihat sangat berbeda.

Sehun semakin penasaran dengan seorang Hyejin, Itulah yang membuat Sehun semakin melangkah jauh kedalam kehidupan Hyejin. Tapi Sehun tidak bisa berbohong bahwa sering kali ia merasa detak jantungnya berdenyut dengan cepat kala ia dekat dengan Hyejin, perasaannya pun akan sering khawatir ketika melihat Hyejin yang tersakit atau apapun.

Ada rasa untuk melindungnya…

Dan menjaganya…

Apa mungkin Sehun mulai menyukainya?

“Apa aku harus mempunyai alasan untuk berbuat baik padamu?”

“Lihat! Kau bertingkah aneh lagi.”

“Jika aku berkata jujur aku yakin kau tidak akan mempercayainya.”

“…”

Sehun menghela nafas sejenak, genggamannya pada tangan Hyejin pun ia belum lepaskan. Posisi Sehun sekarang masih dalam keadaan berlutut dihadapan Hyejin.

“Sepertinya aku mulai menyukaimu.”

“…”

Hyejin kembali bungkam. Apa indra pendengarannya tidak salah mendengar? Sehun menyukainya?

“Hyejin? Lihat kau bahkan tidak berkedip.” Suara Sehun berhasil membuatnya tersadar.

“Huh?”

“Itu saja responmu? Menyebalkan sekali.” Sehun merengut sebal, padahal ia sudah berhasil mengumpulkan keberaniannya. Tapi melihat respon Hyejin yang seperti itu saja membuatnya sedikit sebal.

Padahal dalam hati Hyejin ia merasakan kehangatan itu kembali, Hyejin merasakan hatinya juga senang ketika Sehun mengucapkan hal itu padanya. Hyejin mencoba melepaskan genggaman tangan Sehun, lalu ia terlihat merapikan rambutnya yang sebenarnya tidak berantakan.

“Apa kau bercanda?” bodoh ya kalian boleh menyebut Hyejin bodoh karena melontarkan pertanyaan itu. Mana mungkin Sehun berbohong? Padahal Hyejin bisa melihatnya sendiri bahwa sorot mata Sehun kepadanya sekarang sudah mulai berbeda.

Sehun lantas berdiri didepan Hyejin. “Bodoh. Ya kau benar-benar bodoh.” Sehun menjentikkan carinya didahi Hyejin. “Aku sudah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan hal itu padamu, dan sekarang kau mengira aku bercanda? Hei asal kau tahu bahwa aku tidak main-main dengan segala ucapanku nona.”

Hyejin mengusap-usap dahinya sebentar. “Atas dasar apa kau menyukaiku? Apa yang membuatmu menyukaiku?”

“Apa menyukai seseorang harus memiliki alasan tersendiri? Karena aku juga tidak mengerti Hyejin-ah, rasa itu datang sendiri tanpa aku sadari.”

“Ya aku mengerti.” Hyejin tersenyum tipis. “Tapi bisakah kau memberikanku waktu untuk menyukaimu juga?”

Sehun membalas senyuman Hyejin, lalu Sehun memeluk tubuh Hyejin kedalam kehangatan dekapannya. “Ya aku akan menunggumu.” Bisik Sehun pelan tepat ditelinga Hyejin.

Kedua tangan Hyejin terlihat mulai membalas pelukkan Sehun.

*
*
*
*
*

Saat ini Hyejin sedang terduduk bosan di sofa ruangan Sehun bekerja. Sejak mereka makan di restoran tadi tiba-tiba saja Sehun mendapat panggilan untuk segera ke kantor karena ada sebuah berkas yang harus ditanda tangani oleh Sehun langsung, jadi mau tak mau Sehun harus segera ke kantor.

Sehun lantas mengajak Hyejin bersamanya, ia tak mau terjadi apa-apa jika Hyejin kembali sendirian. Sudah hampir lima belas menit Hyejin terduduk diam disini menunggu Sehun yang sedang menemui klien di lobby.

Sejujurnya sedari tadi Hyejin masih memikirkan tentang pengakuan Sehun padanya, ya pengakuan kalau Sehun menyukainya. Hyejin hanya tidak menduga kalau semuanya akan berjalan dengan seperti ini, benar-benar diluar perkiraannya. Hyejin kembali merenung, ketika Sehun tadi memeluknya ia merasa hatinya menjadi senang. Tak terasa Hyejin kembali tersenyum mengingat hal itu.

Trek…

“Sehun-ah kau mau ikut atau ti – Oh?”

Hyejin langsung menoleh kearah pintu ruangan ini ketika seseorang masuk begitu saja. Ia lihat orang itu sedikit kaget dengan adanya Hyejin disini. Hyejin mencoba menajamkan pengelihatannya, ia rasa pernah melihat lelaki ini.

“Kau datang? Wah kebetulan sekali.” Sambung laki-laki itu yang mulai berjalan mendekati Hyejin, ya itu Jongin. Ah ya Hyejin ingat, ia pernah melihat laki-laki ini saat dipernikahan Baekhyun yang lalu.

Hyejin hanya bisa membalas dengan senyuman canggung, sebenarnya Hyejin belum terbiasa dengan teman-teman Sehun.

“Jongin kenapa kau lama seka – Hyejin?”

Hyejin kembali menoleh kearah pintu, Hyejin sedikit kaget karena kali ini yang datang adalah Joonmyun. Ia lihat Joonmyun yang tersenyum cerah ketika melihat Hyejin, meskipun pada awalnya Joonmyun sedikit terkejut juga.

Jongin melirik kedua orang ini bergantian. “Kalian sudah saling mengenal?”

“Ya kami sudah saling mengenal.” Jawab Joonmyun tanpa menatap Jongin, karena sekarang pusat perhatiannya ada pada Hyejin.

Jongin hanya mengangguk paham. “Baiklah, lalu Sehun sedang pergi kemana Hyejin-ssi?”

“Ah ia sedang berada di lobby.” Jawab Hyejin singkat.

“Ia pasti sedang menemui klien dan pasti sangat lama selesainya. Lalu bagaimana Joonmyun-ah? Apa kita akan pergi tanpanya?” Jongin bertanya kepada Joonmyun yang langsung mendapat anggukan setuju dari Joonmyun.

“Lebih baik kita ajak Hyejin saja daripada menggangu Sehun.” usul Joonmyun.

Hyejin menatap keduanya bergantian. “Memangnya kalian ingin kemana?”

“Kami ingin pergi ke sebuah kedai yang berada tak jauh dari kantor ini – ah ya aku dengar disana juga menjual Patbinsu. Ayo kau ikut saja dengan kami.” Jongin mulai menarik tangan Hyejin dan mengajaknya keluar.

“Tap – “

“Aku tidak mau mendengar penolakkanmu nona.” Sambar Joonmyun dengan senyum tipis.

*
*
*
*
*

Sehun nampak menghentikan aktivitas mengetiknya sebentar lalu laki-laki itu beralih pada ponselnya yang mulai berdering. Ia lihat nama yang tak lama ia hubungi akhirnya membalas pesannya juga.

Ya itu adalah pesan dari staff keamanan di Apartement Sehun. Sedari tadi ia terus menghubungi staff keamanan disana untuk mengecek kamera cctv yang berada didekat Apartement Sehun. Ya mulai saat ini laki-laki itu mulai menyelidiki peneror itu.

Kami sudah mengecek kamera cctv yang berada didekat Apartement anda, Tuan. Kami mendapatkan video yang memperlihatkan ada sesorang yang nampak mencurigakan, ia adalah seorang pria dengan pakaian serba hitam. Kami belum bisa memastikan identitas orang tersebut, karena ia memakai sebuah topi hitam dan juga sebuah masker yang membuatnya susah untuk diselidiki. Tapi kami akan terus mencoba mencari taunya, Tuan.

Deretan kata-kata yang ia baca pada pesan itu membuatnnya berfikir, jika seperti ini terus Sehun akan semakin kesulitan untuk mencari tahu peneror itu. melihat betapa cerdiknya peneror itu membuatnya harus kembali memutar otak untuk mencari cara lain.

“Yumi-ssi, apa Hyejin masih ada di dalam ruanganku? Apa ia mulai membutuhkan sesuatu?” Sehun langsung bertanya kearah Yumi yang baru saja masuk kembali setelah mengambil berkas yang tertinggal dimejanya.

Yumi mendesah sebentar. “Itu…”

“Kenapa?”

“Hm… Nyonya Hyejin baru saja diajak pergi oleh Jongin dan Tuan Joonmyun.”

Sehun seketika langsung menoleh. “Apa?” Sehun sedikit kaget dengan jawaban Yumi tadi. “Lalu mereka membawa Hyejin kemana?”

“Ku dengar mereka mengajak Hyejin ke sebuah kedai yang berada tak jauh dari kantor.” Jawab Yumi. “Tuan tenang saja mereka berdua pasti akan menjaga Nyonya Hyejin.”

*
*
*
*
*

“Uwah tadi Patbingsunya enak sekali.” Seru Jongin sembari kembali membayangkan rasa Patbingsu yang sangat manis, benar-benar membuat tenggorokan terasa segar.

Hyejin dan Joonmyun terlihat mengangguk setuju. “Ya itu benar. Dan ku kira kita akan bisa memakannya lagi menggunakan uangmu Jongin-ah.” Ucap Joonmyun yang langsung mendapatkan tatapan suram dari wajah Jongin.

Hyejin sedikit terkikik geli melihat tingkah keduanya.

“Hei tunggu!”

Sontak Hyejin dan Joonmyun langsung menoleh kearah Jongin yang tiba-tiba saja berhenti di tempatnya. Ia lihat Jongin mulai mencari sesuatu yang hilang, karena ia terlihat mulai kebingungan.

“Ada apa Jongin-ah?” tanya Joonmyun bingung.

“Tidak, hanya saja sepertinya aku meninggalkan sesuatu.” Ucap Jongin tak yakin dan kembali mengecek kantong kemejanya.

“Sesuatu?”

“Ah sepertinya dompetku tertinggal di toilet kedai tadi.” Seru Jongin yang mulai ingat dimana dompetnya tertinggal. “Aku akan kembali kesana dulu. Kalian kalau ingin pergi ke kantor lebih dulu juga tidak apa-apa!” Jongin terlihat langsung berlari meninggalkan Joonmyun dan Hyejin yang berdiri sembari melihat Jongin yang semakin menjauh.

“Baiklah kita jalan ke kantor saja.” Ucap Joonmyun sambil mulai berjalan beriringan disebelah Hyejin. Sesekali Joonmyun sempat mencuri-curi pandang untuk sekedar melihat wajah Hyejin, ah jika saja Sehun melihatnya sudah pasti Joonmyun akan habis ditangan laki-laki itu.

“Uhuk uhuk…”

“Kau kenapa?”

“Aku – uhuk uhuk.” Kembali Hyejin terbatuk, Joonmyun awalnya sedikit bingung harus melakukan apa. tapi dengan cepat ia harus membelikan air minum untuk Hyejin.

“Tunggu disini. Aku akan membeli air minum untukmu!”

Hyejin hanya bisa mengangguk mengerti, sesekali dirinya memukul-mukul pelan dadanya untuk mencoba menghentikkan batuk ini. Sepertinya ada debu yang membuat Hyejin terbatuk, karena Hyejin sangat sensitif terhadap debu.

Joonmyun belum juga kembali padahal batuk Hyejin sudah mulai berhenti. Gadis itu masih berdiri menunggu Joonmyun, sekarang ini Hyejin sedang berda di pinggir jalan setapak yang di khususkan untuk para pejalan kali. Jadi tidak heran kalau sedari tadi banyak sekali orang yang berlalu lalang.

Tanpa Hyejin sadari dari kejauhan terlihat seseorang yang mulai mengenakkan helm berwarna hitam dengan setelan jaket yang juga berwarna hitam. Dan yang membuat tercengang adalah ia juga membawa sebuah pisau tajam ditangan kanannya.

Laki-laki itu mulai menancap gas…

Sampai beberapa detik …

Gadis itu masih tidak mengetahui bahwa hal berbahaya mengintainya…

Dan…

“Kim Hyejin!! Awas!!”

Sreettt….

“Akh…”

“Joonmyun-ssi!! Joonmyun-ssi!! Sadarlah!!”

*
*
*
*
*

Sehun terus berlari diantara lorong rumah sakit yang sakit. ia tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang bingung melihatnya seperti itu, saat ia mendapat kabar bahwa Joonmyun kecelakaan dan terlebih disana juga ada Hyejin itulah yang membuatnya benar-benar khawatir.

Sampai akhirnya Sehun sampai dan ia bisa melihat dengan jelas bahwa Jongin sedang terduduk dengan kepala menunduk menghadap sebuah pintu ruang Emergency.

“Jongin-ah…”

Jongin lantas langsung menoleh kearah sumber suara. Terlihat sekali ada raut wajah penyesalan dalam diri Jongin. “Sehun-ah maafkan aku…”

“Kau…”

“Maafkan aku… seharusnya aku tidak mengajak Joonmyun dan Hyejin kesana.” Tutur Jongin dengan raut wajah penyesalan. “Saat itu aku dan mere – “

“Dimana Hyejin?”

“…”

“Jawab aku Kim Jongin!”

“Dia tadi hanya pergi keluar dan aku tida tahu pastinya ia pergi kemana.”

Setelah Jongin menyudahi perkataannya itu Sehun segera berbalik pergi sambil berlari untuk mencari keberadaan Hyejin. Sehun benar-benar tidak perduli dengan kejadian yang mereka alami, yang terpenting bagi Sehun adalah keadaan Hyejin sekarang.

Sehun masih terus berlari, sesekali laki-laki itu menoleh kearah lorong rumah sakit yang terlihat sedikit ramai oleh banyak pasien dan perawat yang berlalu lalang. Tapi sayang hasilnya nihil, Sehun masih belum bisa meemukan Hyejin.

Terpaksa kali ini Sehun harus keluar rumah sakit untuk mencari Hyejin. Kali ini Sehun sudah sampai di sebuah tempat dengan beberapa pohon serta hamparan rumput yan diyakni sebagai taman dari Rumah Sakit ini.

Terlihat Sehun mengatur nafasnya sejenak, jantungnya hampir saja terasa ingin terlepas dari tempatnya kalau ia tak juga menemukan Hyejin. Kedua mata Sehun berhasil menangkap sebuah punggung yang membelakanginya. Sehun tahu siapa itu, tanpa melihat wajahnya sekali pun Sehun bisa mengetahui siapa itu sebenenarnya.

Disisi lain orang itu seakan merasakan seperti tersengat oleh listrik ketika ia merasakan sebuah setuhan pada tubuhnya. Sedikit rasa kaget sempat menghantui dirinya, tapi itu semua terhapuskan ketika ia mendengar suara yang sangat ia kenal.

“Lagi-lagi kau membuatku khawatir. Kau benar-benar kerterlaluan Kim Hyejin…”

Ia rasakan dekapan itu semakin menghangatkannya. Hyejin tak bisa menahannya lagi, buliran bening di pelupuk matanya kini sudah berhasil meruak dan membasahi pipi saljunya.

“Maafkan aku…” sahut Hyejin sedikit tersendat karena tangis itu semakin menguasainya.

Sekarang Sehun semakin tak perduli dengan tatapan banyak orang yang melihat mereka berdua bingung. Karena kini posisi Sehun sedang memeluk Hyejin dengan erat dari arah belakang, sebuah dekapan hangat yang sangat Hyejin sukai mulai saat ini.

“Jangan pernah keluar tanpa diriku, mengerti?”

“Ehm.”

“Apa kau terluka?” Sehun akhirnya melepaskan dekapannya dan langsung beralih untuk duduk di sebelah Hyejin, menatap gadisnya dengan baik-baik.

Hyejin hanya bisa menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya. “Aku tidak apa-apa…” entah mengapa Hyejin seakan ingin berteriak dan menangis kembali ketika ingin mengucapkan hal ini didepan Sehun. “Tapi… Joonmyun yang terluka. Ia menyelamatkanku dari insiden itu, bahunya terluka karena goresan pisau. Sehun-ah… apa Joonmyun akan baik-bak saja?? Bagaimana jika ia … jika ia…”

Sehun tidak bisa terus-menerus melihat Hyejin yang seperti ini, Sehun benar-benar tidak tega. Dengan tulus Sehun pun sedikit tersenyum tipis. “Aku yakin Joonmyun hyung akan baik-baik saja, karena aku tahu bahwa Joonmyun hyung itu adalah orang yang kuat.”

Hyejin menundukkan kepalanya. “Jika saja Joonmyun tidak menyelamatkanku. Mungkin ia tidak akan seperti ini…”

“Lalu apa jadinya jika kau yang berada di posisi Joonmyun? Aku kau mau membuatku semakin gila, huh?” Sehun benar-benar berkata jujur, jika saja hal yang dikatakan Hyejin terjadi mungkin Sehun akan semakin gila dan tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.

“ Tapi – “

“Apa peneror itu lagi?” Sehun langsung bertanya dengan tidak sabar.

“Aku tidak yakin, tapi sekilas aku melihat orang itu hampir menabrakku dengan sepeda motor lalu ia juga membawa sebuah pisau.” Hyejin kembal menerawang kejadian yang beberapa waktu lalu menimpanya. “ Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena ia mengenakkan sebuah masker hitam dan juga sebuah helm.”

“Hitam?”

“Ya ia mengenakkan semuanya dengan berwarna hitam.”

“Berarti mereka adalah orang yang sama…” desis Sehun terdengar pelan.

“Maksudmu?”

“Ah ya aku lupa memberi tahumu mengenai peneror itu.” Sehun kembali melanjutkan. “Sejak tadi aku sudah mulai menyelidiki peneror itu lewat kamera cctv yang ada di Apartement, dan ternyata ada seseorang yang mencurigakan sudah tertangkap kamera itu. Emh, orang itu juga mengenakkan semua dengan warna hitam.”

“Lalu apa kau mengenal orang itu?” Hyejin nampak semakin penasaran. Sorot matanya mengungkapkan bahwa ia benar-benar ingin tahu.

Sehun membuang wajahnya sebentar dan setelah itu kembali
menatap Hyejin. “Tidak… aku tidak bisa melihat wajahnya. Peneror itu tidak akan bertindak ceroboh Hyejin-ah.”

“Kau be – “

Ucapan Hyejin harus terpotong karena suara ponsel Sehun yang tiba-tiba terdengar berbunyi. Refleks Sehun langsung mengecek ponselnya, ia lihat sebuah pesan masuk kedalam ponselnya. Sehun tanpa menunggu lama langsung membuka pesan itu…

Dan terlihat lah sebuah foto yang memperlihatkan seseorang yang sangat diyakini itu adalah si peneror, meskipun foto itu hanya menunjukkan sebuah gambar peneror yang sedang melintas di lorong Apartement Sehun tapi tetap saja ia menjadi petunjuk baru bagi mereka berdua. Dan pesan itu pula Sehun dapatkan dari staff keamanan di Aparementnya.

Sehun dengan cepat ia memberikan ponselnya kepada Hyejin untuk gadis itu lihat. “Lihat ini.”

Hyejin turut mengamati gambar itu dengan teliti.

Tidak mungkin…

Mengapa aku merasa pernah melihat topi peneror itu…

Apa mungkin…

Aku tidak tahu pasti siapa yang memilikinya…

“Apa kau pernah melihat orang itu, mungkin?”

“…”

“Hyejin?”

“Huh?”

“Kau melamun?” Sehun sedikit merengut ketika ia melihat Hyejin sedikit melamun, gadis itu terlalu ikut kedalam arus pikirannya bahkan suara Sehun yang sejak tadi memanggilnya baru ia dengar.

Hyejin mengusap tengkuknya dan setelah itu terdengar suara tawa yang hambar. “Ini tidak mungkin…” Hyejin kembali memperlihatkan senyumannya tipisnya yang membuat Sehun semakin tidak bisa lepas dari wajah Hyejin. “Kenapa ketika melihat topi peneror itu aku jadi langsung berfikiran bahwa…”

“Bahwa?”

“Topi itu mirip seperti milik Ayahku…”

“Apa?!”

*
*
*
*
*

Saat ini Sura sudah sampai di daerah perkampuan rumahnya. Degan menempuh perjalan hampir dua jam lamanya dengan menggunakan kereta akhirnya ia sampai juga, tangan kanannya yang sedari ia gunakan untuk menarik sebuah koper berukuran sedang.

Saat ia sampai di perkarangan rumahnya ia sudah disambut oleh suara seseorang yang memanggilnya.

“Sura-ah!”

Lantas Sera menoleh, ia lihat bibi Jung yang memanggilnya. Ia adalah tetangga baik Sera, rumah mereka pun bersebelahan. “Ada apa, bi?”

Bibi Jung menyerahkan sebuah surat. “Tadi pagi Dokter Lee mengirimkan surat ini untukmu, tapi melihat rumahnya yang sepi jadi ia memilih menitipkannya padaku.”

Sura menerima surat itu dan langsung membukanya. Rentetan kalimat yang membuatnya tidak sanggup membacanya, lagi-lagi Sera harus menelan pil pahit dalam kehidupannya. Bagaimana bisa ia harus menghadapi hal seperti ini.

Itu adalah surat diagnose Dokter Lee…

Yang mengatakan bahwa keadaan Jantung Sura yang semakin parah akibat ia hanya memiliki satu Ginjal didalam tubuhnya. Dan Dokter Lee mulai mendiagnosa bahwa …

Hidup Sura hanya bertahan sekitar satu bulan lagi…

*
*
*
*
*

Cklek…

Hyejin membuka pintu ruang perawatan, sekitar lima belas menit yang lalu operasi yang dijalani oleh Joonmyun akhirnya berjalan dengan lancar. Dan kali ini Hyejin diizinkan masuk lebih dulu oleh tim medis, mengingat sejak tadi Joonmyun terus saja menyebut nama Hyejin. Sedangkan Sehun ia sedikit tidak terima ketika hanya Hyejin yang masuk terlebih dahulu, jadi dengan terpaksa Sehun harus berada diluar ruangan ini dan Sehun juga sempat dipanggil oleh Dokter yang menangani Joonmyun, mungkin ada yang ingin dibicarakan oleh Dokter itu.

Ketika Hyejin baru membuka pintu ia sudah bisa melihat Joonmyun yang sedang terduduk sambil punggungnya yang bersandar pada kepala ranjang rumah sakit. Hyejin pun berjalan semakin mendekat ke tempat Joonmyun, Hyejin benar-benar merasa semakin bersalah karena ulah peneror itu Joonmyun menjadi terluka seperti ini.

“Kau tidak apa-apa?” itulah pertanyaan yang terlontar dari bibir Joonmyun.

Entah mengapa kristal bening itu kembali ingin menyeruak keluar dengan sendirinya. “Sudah terluka seperti ini kau masih bisa menanyai keadaanku?” Hyejin benar-benar tidak tahan lagi. “Lihat! Bahumu bahkan terluka parah karena diriku! Jika saja kau tidak… tidak menolongku pasti kau tidak akan terluka seperti ini!”

“Hei jangan menangis seperti itu.” Joonmyun secara refleks menarik tangan Hyejin dengan tangan kirinya yang tidak terasa sakit. “Asal kau tahu, luka dibahu kananku ini bahkan tidak terasa sakit. kau kira aku lemah? Luka seperti ini saja bukan apa-apa bagiku.”

Hyejin terlihat menghapus air mata yang masih mengalir dipipinya. Oh astaga… padahal sudah sekuat tenaga Hyejin menahan tangis ini.

Tanpa sadar Joonmyun terlihat tersenyum melihat tingkah Hyejin yang dengan lucu menghapus air matanya dengan cepat. Entah mengapa hatinya sedikit berdesir dengan cepat, Joonmyun merasa sudah mengenal Hyejin sejak lama. Tingkah laku Hyejin bahkan terlihat mirip dengan gadis yang sangat Joonmyun sayangi dimuka bumi ini selain Ibunya.

Ya dia Jihyun…

Adik yang sangat disayangi Joonmyun…

Bahkan hati Joonmyun merasa semakin yakin bahwa mata itu sangat mirip dengan adiknya…

“Kau tahu saat menolongmu saat itu aku bahkan merasa tidak perduli jika aku yang akan merasakan sakit.” Joonmyun tersenyum tipis. “Karena kau mirip sekali dengan Adikku. Matamu dan bahkan tingkahmu saat menghapus air mata pun sangat mirip.”

Kedua mata Hyejin mengerjap beberapa kali ketika ia mendengar penuturan Joonmyun.

Adik?

Joonmyun mempunyai seorang Adik?

“Kenapa kalian harus terlihat mirip? Apa mungkin yang berada dihadapanku ini adalah Jihyun?” Joonmyun kembali mengeratkan genggaman tangannya pada Hyejin.

“A-apa yang kau bicarakan?” Hyejin mencoba melepaskan genggaman tangannya pada Joonmyun tapi tetap tidak bisa karena pria ini terus saja memaksanya.

Joonmyun membuang pandangannya sebentar kearah lain. Lalu tak terasa dirinya tersenyum miris. “Adikku meninggal karena sebuah kecelakaan dan juga kedua orang tuaku yang juga ikut meninggalkan aku sendiri. Mungkin dimatamu sekarang aku ini terlihat menyedihkan.” Terdengar suara Joonmyun yang mulai menahan isakkanya. “Dan sampai saat ini jasat Adikku tidak pernah ditemukan. Bolehkah aku percaya bahwa Jihyun masih hidup? Apa ia masih ada didunia ini?”

Hyejin terlihat ikut menangis melihat Joonmyun yang semakin menahan isakkannya. Sekarang Hyejin sempat menyesal karena saat ia bertemu dengan Joonmyun dulu ia pernah mengira-ngira hal yang negatif. Tapi saat ia melihat sisi lain dari Joonmyun, teryata pria ini mempunyai segundang cerita menyedihkan yang sempat membuat Hyejin tidak mempercayainya. Jika saja Hyejin yang berada diposisi Joonmyun ia tidak yakin masih bisa bertahan sampai sekarang seorang diri.

“Joonmyun-ssi…”

“Mungkin kau tidak percaya dengan ceritaku.” Setelah itu Joonmyun merunduk selama beberapa detik. “Jihyun… dia adalah salah satu gadis yang sangat dicintai oleh Sehun… saat mereka berdua masih kecil mereka sangat sering bermain bersama. Sehun benar-benar tidak bisa lepas dari Adikku.”

Seketika Hyejin merasakan tubuhnya membeku, mendengar perkataan Joonmyun dengan jelas membuat hatinya menjadi bergetar. Jika benar Sehun pernah mencintai Jihyun apa mungkin rasa itu masih ada?

Apa pernyataan cinta Sehun padanya hanya sebuah…

Pelampiasan belaka?

Hyejin langsung menghilangkan pikiran jelek itu dari dalam otaknya. Bagaimanapun ia tidak boleh berprasangka buruk terhadap Sehun. Ya ia harus percaya pada Sehun…

“Hyejin-ssi…”

“Ya?”

“Bolehkan aku memelukmu?”

“…”

“Diam berarti aku anggap ‘ya’ “ tanpa persetujuan Hyejin, Joonmyun langsung menarik pinggang ramping gadis itu dengan gerakan pelan. Joonmyun bisa merasakan aroma manis dari tubuh gadis ini, entah mengapa membuat Joonmyun merasakan ketenangan.

Sedangkan Hyejin hanya bisa mematung diam menerima perlakuan Joonmyun. Jika ia menolaknya Hyejin akan takut melukai perasaan Joonmyun, melihat keadaan Joonmyun seperti ini Hyejin merasa tidak masalah jika pria ini meminta pelukkan darinya. Karena Hyejin bisa merasakan kerinduan Joonmyun akan Adiknya.

Trek…

“Hyejin-ah apa kau sudah selesai? Aku ingin melihat Joon – “

Refleks Hyejin dan Joonmyun mengalihkan perhatiannya kearah pintu ruangan ini. Sehun yang berada diambang pintu hanya bisa terdiam membeku melihat pemandangan yang membuat dirinya tak sadar bahwa tangannya sudah mengepal keras.

“Sehun-ah…”

TBC

Haii!!

Chapter ini kepanjangan ya? bosen ya? 😦

Maafkan aku nerusinnya agak lama muhehehe biasa aku kallo ngetik itu tergantung mood, maklumin ya? muhehehe

Ok back to story

Gimana menurut kalian chapter ini? apa kalian udah mulai bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi? dan juga apa kalian udah tahu siapa yang nerror?

Yang jelas bukan aku ya yang nerror ;v

Aku ngerasa chapter ini banyak adegan nangis” bombainya, dan aku ngerasa gagal banget bikin adegan sedih 😦

jadi maaf kallo kurang ngefeel 😦

Oh Iya!!!!

Allhamdulillah aku diterima jadi author tetap disini horeee *masang petasan*/? jadi aku bisa langsung post cerita tanpa nunggu beberapa minggu hehehe

Oke sekian lah ya sampe disini aja cuap-cuap istri Sehun. Yang jelas aku selalu menunggu comment” kalian ya. karena satu comment dari kalian itu sangat berarti bagiku untuk nerusin ff ini 🙂

TERIMA KASIH

105 tanggapan untuk “Forced Married (Chapter 7) by NisaAmini”

  1. Jadi hyejin itu adalah jihyun adiknya joonmyeon yg hilang wktu kecelakaan dan peneror itu ayah nya hyejin dong??? 🤔🤔🤔

  2. Wahhh terxta hyejin it jihyun sdh q duga😂😂😂😂. Seneng dh sehun sm hyejin baikan bgt.
    Tp knp y ayah hyejin neror ankx sendiri😱😱😱

  3. Hehehe nisa jangan bosen baca komenan aku yg ngebut ini yah.. kalau bisa dipercepat postannya yg ke 10 11 12 soalnya bentar lagi aku UN doakan semoga lulus dengan hasil yg bagus baca efef kamu biar ga bosen terus refreshing gitu ceritanya… suka sama sehun yg mulai terbuka dan sepertinya jihyun itu hyejin deh hmm dan ayahnya yg mencoba membunuh dirinya hmmm makin penasaran.. ya kale sehun cemburu ke suho ckckck cemburu tuh ke luhan kek yg bener” deket sama hyejin ckckck

  4. Author aku suka bgt sm ff ini romantisnya dpt bgtt aku readers baru lohh hihihi aku udh coment di chap 1 untuk perkenalan aku izin baca ne
    FIGHTING AUTHOR & AND KEEP WRITING !!!

  5. Wahh ternyata hyejin itu jihyun :-O wahh daebak bener ceritanya beh bagus banget,mianhae thor jadi silent readers dichapter sebelumnya 😀 saking ngebet pengen baca kelanjutannya jadi kaya begini mian ya thor 😉 izin next yaa

  6. Uuukh siapa sihvtega berbuat gitu ke hyejin… Jujur aja klo kamu cinta ama hyejin sehun..ungkapkan secara gamblang dong… Munkin aja hyejin itu adalah jihyun…

  7. klo aku boleh menerka2 ya kak hehe hyejin ini kayaknya emang adiknya jumyeon. trus peneror itu ayah nya hyejin (?) dia mau coba bunuh hyejin demi istrinya karena istrinya cuma punya satu ginjal._.

    aaaa aku penasaran bgt sm kelajutannya><

  8. Kayanya beneran ayah angkat hyejin deh
    Oooh joonmyeon emang udah ngerasain bahwa dia adiknya
    Tapi Sehun-nya cemburu tuh, bakal gimana ya

  9. apakh mngkin pelakunya itu adlh ayah angkat hyejin ??
    Dia berbuat sperti itu biar hyejin ga ingat lagi sma kecelakaan itu??
    next thor!!

  10. aaahhh jd yg neror ayah hyejin tp knp? ada masalah apa? bknnya hyejin jd anak baik? yaahh yaahh sehun jd salah paham,pdhl suho suka sm hyejin itu krn dy ngerasa hyejin adiknya, aahh tp seneng jg tau kenyataan hyejin itu jihyun cinta pertama sehun yeeaayy pengen cepet” next part biar tau gmn nnti sehun hihihihi

  11. Uwaa Dae bak,pasti hye jin adalah ji hyun yang hilang,kan?terus suho kakaknya hye jin kan?.

    Visit wordpress aku ya eon(www.eulseongulya.wordpress.com) aku juga punya beberapa puisi dan ff.

    Aku bingung siapa yang neror,tadi pertamanya malah kukira baekhyun. Maaf lho kalo baru baca sekarang,hehe…

  12. Aku baru baca ff ini sm chapter” sebelumnya . .
    Keren banget ff.nya , apalagi cast.nya sehun. Sebenernya sapa sih penerornya ?
    Apa mungkin hyejin itu dulunya jihyun. Kan sama” mengalami kecelakaan
    Jasad jihyun jg gk pernah ditemukan . .
    Next lah. Keren ffnya thor. .
    Chukkae ne udh diterima jd author tetap 😄🎉

  13. bangapta. aku reader baru disini:)
    aku baru nemu ff ini dan tertarik langsung baca, dan emang benar menarik. daebakk walau belum paham betul ceritanya aku suka^^
    fighting thor buat chapter 8 udh di post blom ya? ditunggu:)

  14. mm iya udh ada gambaran ini mah :/ lanjutin thor ceritanya penasaran ^^ jan lama2 nge post nya yaa!! :’D
    ohiya cukkhae thor kalo udh diterima. terus bikin ff yg seru2 ya, ditunggu lho ^^

  15. aaaaaa makin keren aja kak ff nya .

    di chapter ini mengungkap bnyk bngt ,, klo pikirku sih hyejin itu jihyun adknya joonmyeon cwe yg disukai sehun pas msih kecil ..
    ngliat joonmyeon jdi terharu hehe ..
    next yaa kak. !!
    jngan lama2 hehe

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s