For the First Time [2/2]

FFT by l18hee

-For the First Time-

OC’s Min Gi / Park Chanyeol / Oh Sehun / Kang Seulgi&Other

Twoshot / AU / Fluff / Hurt / Sad / School Life / Romance / T

a present by l18hee

-RnR Please-

Previous Part

Hanya sebuah ingatan mungkin terlalu panjang untuk Min Gi kenang

Ingatan tentang bagaimana ia mencicipi rasa cinta dan sakit hati pertamanya

Jika kisahnya seperti gambaran pada komik yang sering dibaca Junmyeon maka Min Gi yakin akan ada banyak garis-garis suram di atas kepalanya. Instingnya memang tak selalu benar, tapi memiliki keakuratan 92%. Dia hanya berharap jika perihal Sehun yang sudah mengetahui perasaannya termasuk dalam 8% kegagalan instingnya.

Yang ingin dia marahi justru si Park Chanyeol menyebalkan itu! Min Gi sangat yakin sewaktu meminta nomor ponsel Sehun pada Chanyeol ia sudah mengatakan jika itu rahasia. Apa tak ada rahasia antar karib lelaki? Oh, ayolah.

“Kau tak banyak bicara,” ini Chanyeol. Min Gi dan kelompoknya sedang berada di rumah lelaki telinga peri ini, omong-omong. Seulgi yang tahu kebenarannya hanya diam walau Min Gi sudah melayangkan lirikan. Sedikit memohon bantuan agar perhatian Chanyeol teralihkan. Sebuah endikan bahu Seulgi tunjukan. Tanda jika ia tak mau ikut campur.

“Kau mau es krim? Aku bisa keluar sebentar membelinya,” penawaran Chanyeol langsung dibalas gelengan oleh Min Gi yang sedang menahan diri untuk tidak bertanya apapun yang berhubungan dengan meminta-nomor-Sehun, “Tidak perlu. Kerjakan saja tugasmu, Park Chanyeol.” Dia tak bisa mencampuradukan urusan pribadi dengan hal lain.

“Oke, aku akan beli.” Loh? Kenapa Chanyeol justru segera beranjak menarik Baekhyun untuk bergegas pergi? Sepertinya Min Gi benar-benar harus belajar jika Chanyeol suka melakukan hal seenak perut sendiri.

“Tersenyumlah sedikit nanti. Dia kelihatan sangat khawatir padamu akhir-akhir ini,” Seulgi berucap tanpa mengalihkan konsentrasi pada apa yang ia tulis. Mencipta kerut heran pada kening Min Gi. Chanyeol… khawatir padanya?

Hingga Chanyeol dan Baekhyun kembali membawa beberapa mangkuk es krim, Min Gi masih berusaha mencari arti yang lebih pasti dari ucapan Seulgi. Oh, mungkin saja Chanyeol khawatir padanya karena mereka dekat akhir-akhir ini. Wajar ‘kan jika seorang teman mengakhawatirkan temannya yang lain? Tidak mungkin jika Chanyeol menyukainya. Min Gi harus berpikir untuk tidak menciptakan spekulai-spekulsi bodoh dalam pikiran sekarang. Khawatir bukan berarti suka. Hah, rasanya dia ingin tertawa.

“Nah, kau tersenyum!” Yang sedang bertepuk tangan semangat itu Chanyeol. Min Gi benar-benar ingin tertawa sekarang, “Park Chanyeol! Jangan menggodaku!” Dia justru terlihat aneh dengan senyum tertahan. Membuat Seulgi dan Baekhyun hanya saling bertukar pandang dan mengedik bahu.

Tentang Chanyeol yang menyukai gadis yang sedang patah hati itu, mereka sungguh tahu.

Karena sudah terlalu larut, tentu saja Min Gi tak bisa menolak paksaan Chanyeol yang bersikeras ingin mengantar. Seulgi dan Baekhyun yang punya jalan pulang searah sudah lebih dulu pergi di persimpangan sebelum ini. Hanya tinggal Chanyeol yang sedang berceloteh riang dan Min Gi yang memilih menjadi pendegar.

“Kau tahu Sehun akan melanjutkan di mana setelah lulus nanti?” sederet kata ini sama sekali tak terkontrol oleh bibir Min Gi. Ia melirik Chanyeol yang langsung menghentikan cerita.

“Oh, itu, aku tidak tahu.” Sang lelaki mengedar pandang, “Tak bisakah kau bertanya satu kali saja tentangku?”

Seketika Min Gi tercenung. Merasa sedikit bersalah karena selama ini ia meladeni Chanyeol karena ingin lebih tahu tentang Sehun.

“Kita teman Chanyeol. Mana mungkin aku tidak tahu tentangmu? Aku ‘kan hanya ingin bertanya tenta-”

“Aku tak pernah berpikir jika kita hanya akan menjadi teman.” Baru kali ini Chanyeol menatapnya serius. Tanpa ada senyum jenaka terpeta, “Sehun sudah milik Jina. Tak bisakah kau berhenti?” Tak berhenti sampai situ, suara berat Chanyeol kembali menyapa indera pendengar Min Gi setelahnya. Bersamaan dengan genggaman hangat yang menyentuh permukaan kulit si gadis.

Min Gi tahu persis jika tangan Chanyeol lebih dingin dariya. Jadi, dari mana secuil hangat yang ia rasa sekarang?

“Bukankah aku sudah memegang tanganmu? Kenapa kau tak berhenti mencoba menggapai tangannya?”

Itu adalah deret kalimat pertama dari mulut Chanyeol yang terus terngiang di benak Min Gi. Deret kalimat tentang mereka. Tanpa Sehun.

Semalam suntuk Min Gi menggulung diri dengan selimut tebal. Seandainya saja yang mengatakan adalah Sehun-oh, tidak! Tak bisakah barang sedetik saja Min Gi lupa akan eksistensi Sehun?

Sehun sudah milik Jina.

Matanya mendadak buram. Tertutup oleh genangan air yang perlahan turun menyusuri pipinya. Ucapan jujur yang meluncur dari katup bibir orang lain rupanya lebih menyesakan hati.

 

Sehun sudah milik Jina.

Isakannya terdengar. Lagi-lagi sakit itu datang. Menendang kuat hati rapuhnya. Membanting setiap inci pecahan harga diri yang ada padanya. Perih yang menetes dibiarkan mengaliri setiap nadi yang ia punya. Harapan-harapan bahagia yang ia ciptakan sendiri telah luntur. Tersiram likuid bening yang terus muncul dari balik kelopak mata.

 

Sehun sudah milik Jina.

Apa dia jahat jika memilih membalas genggaman Chanyeol?

Hingga ia jatuh tertidur tak ada sedikit pun jawaban yang terdengar. Hingga ia melangkah malas ke sekolah. Hingga ia melewati koridor sekolah dengan wajah muram. Hingga ia mengambil tempat duduk dan mengedar pandang ke luar jendela. Tak aja jawaban.

Air mukanya sama sekali tak berubah kala sosok Sehun hinggap dalam lingkup pandangnya. Bermain bola? Bukan. pengecualian untuk pagi ini. Sehun justru terlihat berdiri di tepi lapangan, memandang beberapa siswa saling mengoper bola. Min Gi bisa lihat manik si lelaki bergerak-gerak mengikuti arah bola. Segera ia mengembus napas panjang. Mengutuk bagaimana matanya berubah jeli saat melihat Sehun. Ia mengalih pandang, masih dengan manyangga dagu.

Bermenit-menit ia menahan diri agar tak kembali memperhatikan Sehun. Sampai Seulgi mendekatkan diri dan berbisik, “Ini hanya perasaanku saja atau Oh Sehun memang sedang memperhatikanmu dari sana?”

“Perasaanmu saja,” jawab Min Gi tegas. Dia masih keras kepala untuk tidak menoleh. Namun pada akhirnya ia juga menoleh. Menoleh untuk mengetahui bagaimana manik Sehun tertuju lurus padanya. Ia menunggu Sehun mengalihkan pandang, bisa saja sedang memandang objek lain. Tapi di sekon-sekon selanjutnya tatapan si lelaki masih sama. Masih difokus yang sama.

“Ok Min Gi.”

Acara saling tatap menatap itu berakhir dengan cepat. Seiring dengan sebuah tangan yang menangkup kedua pipi si gadis untuk menghadap ke depan. Ini perbuatan Park Chanyeol.

“Jangan mencoba jadi gadis perebut pacar orang.”

DEG!

A-apa katanya?

Satu kali hentakan Min Gi menyingkirkan tangan Chanyeol. Dan di sekon selanjutnya seluruh isi tas si gadis sudah membentur tubuh sang lelaki dengan keras. Tanpa sepatah katapun Min Gi melangkah keluar kelas.

“Park Chanyeol! Setidaknya perhatikan setiap ucapanmu!” Seulgi berseru marah. Dia beranjak, bermaksud mengejar sang karib namun tangan Chanyeol mencegahnya, “Aku saja.” Dan lelaki jangkung dengan wajah penuh penyesalan itu segera berlari. Dia benar-benar harus belajar bagaimana mengontrol setiap ucapan yang ia keluarkan.

“Ok Min Gi!” Dia kembali berseru ketika sosok Min Gi terlihat berbelok di persimpangan koridor. Percuma. Min Gi tak akan berhenti. Gadis ini masih mencipta langkah tegas seraya mengepalkan tangan erat.

“Ok Min Gi!” Berkat kaki jenjang yang Chanyeol miliki, ia berhasil menyusul sang gadis. Menarik lengan gadis itu agar berbalik. Kini Chanyeol dapat melihat seberapa merah wajah Min Gi. Seberapa kuat Min Gi menahan marah. Seberapa kuat Min Gi menahan tangis.

Gila. Siapa yang tidak marah dilempari kata ‘gadis perebut pacar orang’?

“Bukan itu maksudku. Aku-”

Belum sempat Chanyeol selesai bersuara, sebuah seruan lain terdengar, “Park Chanyeol! Apa yang kau lakukan padanya?”

Langsung saja Chanyeol mencebih, “Kau datang di saat yang tak tepat, Oh Sehun.” Mata Min Gi terbelalak, ia menggigit bibir dan mengumpat dalam hati. Berharap bisa langsung pergi dari sini. Tanpa peduli akan ucapan bernada tak suka dari Chanyeol, Sehun lebih memilih memandang satu-satunya gadis di sana, “Aku tadi melihatmu melempar tas ke arah Chanyeol. Apa Chanyeol melakukan sesuatu yang menyakitimu?”

BUGH!

Min Gi membekap mulut ketika sekon selanjutnya Sehun tersungkur dengan ringisan pelan.

“Jangan berlakon seolah kau peduli! Kau pikir hebat mempermainkan seorang gadis?” Napas Chanyeol terengah, wajahnya yang biasa ceria kini memerah marah, “Kau pikir aku tak tahu? Membanggakan diri dengan congkaknya ketika gadis peringkat tiga pararel menaruh rasa padamu? Bahkan mencemoohnya seakan dia adalah hal yang pantas kau jadikan lelucon. Lalu dengan santai tempo hari kau bilang kau tertarik padanya?”

Sebuah seringan tercetak di bibir Sehun, “Memangnya kenapa kalau aku tertarik padanya?”

BUGH!

Kali ini Chanyeol yang berhasil tersungkur. Bukan hanya Chanyeol, sekarang Sehun juga tersulut emosi. Chanyeol baru saja bangkit dan berniat memukul jika saja Min Gi tak menerjang tubuhnya. Gadis itu memeluk sang lelaki erat seraya berbisik menohon, “Kita pergi saja, Chanyeol.” Chanyeol ingin menolak dan mendorong pelan gadis itu untuk menjauh, namun bibir si gadis kembali mengucap permohonan, “Chanyeol, kita pergi. Kita pergi saja!”

Dan dengusan kasar dari mulut Chanyeol mengakhiri semua. Min Gi berhasil membujuknya untuk pergi. Meninggalkan Sehun yang masih saja memandang tajam ke arah punggung mereka yang mulai menjauh.

Berkali-kali Min Gi mengerjapkan mata. Menghalau beberapa air mata yang mulai muncul di sana. Dia bisa menangis di rumah, tapi tidak di tempat umum. Dia bisa menangis sendirian, tapi tidak di depan orang lain –bahkan Seulgi masuk hitungan. Sekuat mungkin ia mengatur napas walau ucapan Chanyeol tentang Sehun begitu menyakitkan di benaknya. Ia sedikit terhentak kaget kala Chanyeol menghentikan langkah tiba-tiba. Menatap tepat ke iris mata coklat tuanya.

“Maaf, tapi aku sama sekali tak bermaksud-”

Lelaki itu terhenti. Kata-kata yang ingin ia lontarkan menguap seketika seiring dengan sang gadis yang kembali memeluknya erat. Dia bergeming lama. Mengizinkan likuid si gadis merambati kemeja sekolahnya. Sebut Chanyeol sok suci atau bagaimana. Tapi memang walau egonya untuk merengkuh Min Gi begitu kuat, ia tak bisa. Dia tak bisa entah untuk alasan apa.

Hari ini, pagi ini, detik ini juga Min Gi membuat pengecualian pertamanya semenjak peraturan tak kentara ia ciptakan. Dia menangis di tempat umum. Dia menangis di depan Chanyeol. Dia menangis tanpa isak tak perlu. Hanya hening berselimut beberapa kali suara dengusan napas yang terdengar.

Chanyeol menepuk kepala bagian belakang si gadis beberapa kali, “Sudah?” Entah untuk alasan apa, Min Gi begitu saja mendorong lelaki itu menjauh sebelum berbalik seraya menyeka wajah. Chanyeol sendiri bingung dibuatnya. Loh? Memangnya siapa yang memeluk duluan di sini? Kenapa keadaannya jadi seperti Chanyeol yang memeluk Min Gi lebih dulu?

“Kita bisa terlambat masuk ke kelas pertama,” Min Gi ingat jika beberapa menit yang lalu bel sekolah sudah berbunyi nyaring.

“Ok Min Gi.” Oh, Chanyeol kembali ke mode seriusnya sekarang. Rasa-rasanya Min Gi gugup jika saat ini tiba. Lihat saja betapa tajam manik itu menatap ke arahnya. Apalagi suara bass segera terdengar sepersekian sekon kemudian, “Bagaimana dengan tawaran untuk menggenggam tanganku?”

Perlu waktu bagi Min Gi untuk meresapi setiap untaian kata yang Chanyeol utarakan. Sekalipun Chanyeol sudah berdiri di sampingnya, ia masih diam. Dia tahu betul bagaimana dirinya adalah seorang gadis yang terlalu banyak berpikir. Tapi Chanyeol tak menuntut, memilih diam menunggu jawaban. Rasanya jantung Chanyeol akan copot seketika itu juga kala Min Gi menggores senyum. Katup bibir sang gadis terbuka, membuat suara yang selama ini bagaikan lullaby bagi Chanyeol terdengar semakin indah.

“Yang kanan atau yang kiri?”

Senyum pertama Chanyeol pagi ini terlihat, “Kau menggodaku ya?” Gadis bermata bengkak itu menahan senyum, “Tidak, tidak. Aku bercanda. Kau terlalu serius sih.” Segera saja Chanyeol merangkul sang gadis, mengacak surai kecoklatan itu cepat dengan imbuhan gelak tawa ringan.

“Kau masih punya banyak waktu untuk memikirkannya. Jangan terlalu terburu,” sama sekali Chanyeol tak berniat melepaskan rangkulan walau mereka sudah mencipta langkah. Dia kembali berucap di sela kegiatan si gadis melepas rangkulan –yang jelas saja sia-sia,”Kedua tanganku bebas untuk kau genggam. Hatiku juga.” Ups. Min Gi ingin muntah sekarang. Si tukang umbar rayuan mulai muncul rupanya.

“Hentikan itu! Dasar tukang gombal!”

“Aku tidak sedang merayu oke? Bukannya kau sudah dengar degub jantungku tadi? Selalu berdetak secepat itu ketika bersamamu.”

“Park Chanyeol, tutup mulutmu atau kau akan kutendang sekarang!” Sejujurnya Min Gi sangat ingin muntah sekarang.

Yah, walau irama detak Chanyeol masih terngiang di telinganya sih.

Sampai dititik ini ingatannya terhenti. Min Gi kembali tertarik kembali ke alam sadarnya. Dia tersenyum simpul. Mengingat tentang kisah menyedihkan yang pernah ia jalani rupanya sedikit menyita waktu. Lihat saja coklat panas yang kini hanya sedikit mengeluarkan kepulan hangat. Dan jagan lupakan beban berat yang sedari tadi menyandar di bahunya. Sebuah kepala milik seorang lelaki yang mungkin masih menikmati alam mimpi di sana. Min Gi masih baik-baik saja. Tak masalah jika sang lelaki membuat bahunya pegal sedikit lebih lama. Tapi itu lain ceritanya jika-

“Chanyeol! Kenapa kau berliur??”

-pakaiannya terkena tetesan saliva milik sang kekasih seperti ini.

.

.

Mungkin terdengar sulit, tapi cobalah.

Luangkan sedikit waktu yang kau punya untuk orang yang bersedia menjadi payungmu.

.

.

fin!

holaaa~

ingatkah dengan fic ini? wkwk dua shot yang gak begitu panjang tentang cinta pertama *eaak bukan pengalaman pribadi loh ya (sebenernya sedikit, inget sedikit!) dan… kenapa aku gak pakek runa? karna… karna… karna runa ada di masa depannya sehun/dor!/gakding/ karna yang jadi akhirnya si oc chanyeol (gak menjawab pertanyaan banget -__-), gini nih, awalnya mau bikin SeNa tapi takut pada bosen, jadi, aku gak pakek runa dulu, dan alasan utama adalah di ff SHWSHL juga ada runanya, takut pada bingung aja hehe

makasih udah baca dan ninggalin jejak ❤

.nida

13 tanggapan untuk “For the First Time [2/2]”

  1. UWAAA… Yg kedua udah muncul.. Keren bgt…
    Endingnya lucu, Chunyul ngiler.. Dan cerita di atasnya itu sedihnya. Si Thehun rada nyebelin nih. Aku pikir akhirnya Min Gi ya sma Sehun, dan ternyata sama CY.. Ya kan Sehun udah ada Runa (?).
    Good job lah eonni, seperti ceritamu yg lain. O ya Say Hi chap 5 aku nggk sabar nih. Ngecek update FF pingin nemu Say Hi chap 5, tpi pas aku liat, FF ini yg chap 2 udah keluar. Langsung dibaca, pulang sekolah buat represing (?)..

    Sekian eon.. Trimss..

    MUUAACCHH (:* ini titipan dri $uho (?))

    1. iya chan ternyata suka ngiler haha
      sehun emang jadi cowok nyebelin banget di sini.. iyalah fir, sehun udah punya runa wkwk.. padahal tadinya min gi mau sama sehun tapi gak jadi wkwk
      weeeeeeits ada yang nunggu yah haha sabar yaw fir :3 wkwk
      hah? kenapa suho bisa nyasar sini? haha

  2. Hmmm akhirnyaaaa ini ff keluar juga wkwkwkwk.. Ff yang gue nanti.. Yesss akhirnya si min gi bahagaiaa sama chanyeolll yeppeeeyyy gue kira bakalan sad ending ternyata happy banget niihh :v kerenn daahhh

    1. hehe makasih udah nunggu :3
      aku lagi pingin bikin yang hepi, soalnya kebanyakan baper terus sama sad ending wkwk
      yayay makasih yaaa ❤ :3 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s