I STILL LOVE YOU (CHAPTER 2)

I STILL LOVE YOU (CHAPTER 2)

SEORANG PRIA YANG MEMBAWA CINTA BARU DI HIDUP KU

PicsArt_1440382161103[1]

 

Author     :PutriNami

Length     : Chapter

Genre       : Romance, Sad, Hurt, Au

Rating      : PG-15

MainCast : Kai (exo)

Soojung (Fx)

Sehun (Exo)

Sulli (Fx)

 

ff ini 100% hasil imajinasi dan pemikiran author. tidak ada unsur plagiat. dilarang keras copy paste.

 

jangan lupa baca. chapter1

 

Happy reading ^^

 

Jeju

 

1 tahun setelah perpisahaan ku dengan Kai

 

Tempat ini masih terasa hampa, seakan hanya aku penghuninya. Hampir Setiap hari aku  duduk menikmati indahnya matahari terbenam di pantai yang ada di pulau ini, karena terkadang hanya dengan melihatnya, membuatku ingat dan merasa dekat dengan Kai. Kadang aku tersenyum sendiri mengingat kenangan-kenangan indah dengannya tapi sedetik kemudian aku tersadar kalau semua itu hanyalah sebuah kenangan. Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa menangis mengenangnya.

 

Saat di perjalanan pulang kerumah, tak sengaja aku bertemu dengan dengan yoobin, anak dari Nayeong imo, adik eommaku.

 

“Noona apa kau mau pulang bersamaku?” ucapnya

 

“tentu saja ^^” jawabku tersenyum dan segera duduk di boncengan sepedanya. Kami pun pulang bersama dengan sepeda merah milik yoobin.

 

***

 

Sinar matahari membangunkanku melalui cela fentilasi kamarku, segera aku beranjak dari kasur melangkahkan kakiku ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri aku keluar dari kamar. Dari atas aku sudah melihat Nayeong imo sedang mempersiapkan sarapan dan Yoobin yang sedang tersenyum ke arahku.

 

“selamat pagi noona.” Sapa Yoobin padaku dengan senyum.

 

“selamat Pagi Yoobin-ah, selamat pagi Imo” ucapku sambil-melewati tangga rumah ini.

 

“Emm selamat pagi Soojung-ah. Ayo sarapan. Dari semalam kau belum makan. Bagaimana jika kau sakit?”

 

“Nanti saja imo, aku belum lapar” ucapku tersenyum ke arah imo. aku lalu melangkah keluar-menuju taman rumah ini. Salah satu tempat favorite ku di rumah ini.

 

“eomma serahkan padaku. Biar aku saja yang mengurusnya” ucap Yoobin mengikutiku. “Noona tunggu aku” teriak Yoobin berlari kecil.

 

“Waeyo?” ucapku-melihat sekilas ke arah Yoobin yang duduk di sampingku.

 

“Noona, bagaimana kalau hari ini kau ikut aku pergi ke pasar?”

 

“Mwo?” ucapku- menaikkan kedua alisku bingung.

 

“10 menit. Noona aku menunggu mu di mobil oh” ucap Yoobin meninggalkanku. Dan bodohnya aku mengikuti perintahnya. Aku buru-buru mengganti pakaianku dan berlari keluar.

 

“wahh noona kau tepat waktu sekali hehehe”. Aku hanya memutar bola mataku malas.

 

Sepanjang perjalanan Yoobin terus saja menyodorkan lelucon ke padaku, membuat perutku seakan digelitiki. Anak ini selalu saja berhasil membuatku tersenyum dan tertawa.

 

Sesampainya di pasar, Yoobin terus memegang tanganku dengan erat. “Kenapa?” ucapku membuka pembicaraan-sambil berjalan.

 

“Kenapa apa?” ucapnya tanpa memandangiku.

 

“kenapa kau memegang tanganku terus?”

 

“anio. Aku hanya takut noona hilang di pasar. Kan gak lucu” ucap Yoobin terkekeh kecil.

 

“aku hilang? yang benar saja -___- yang ada kau yang hilang”. Tiba-tiba perutku sakit, sepertinya aku butuh toilet. “Yoobin-ah, aku harus ke toilet. Aku pergi dulu oh” ucapku-segera berlari meninggalkannya.

 

Saat berada tepat di pintu masuk toilet. Aku mencari tanda peringatan. Kan gak lucu kalau aku sampai salah masuk toilet. Namun sanyangnya aku tak menemukan itu. perutku semakin melilit dan itu sangat menyiksaku. “ahh sudah lah, aku masuk saja”.

 

Aku masuk dengan perasaan was-was. Aku tak berani membuka mataku dengan lebar “semoga saja tak ada orang” gumam ku masih dengan mata yang sedikit terbuka.

 

“tapi sayangnya ada orang disini”  sahut seorang Namja yang membuatku tersentak seketika.

 

“Ka…Kau sedang apa disini?” ucapku spontan .’aiss kenapa aku berkata seperti itu? harusnya kan aku meminta maaf’ batinku.

 

“memangnya kau pikir apa yang bakal orang lakukan jika masuk kesini? Tentu saja aku sedang buang air kecil” ucapnya datar –seraya membalikkan badannya dan menaikkan resleting celananya.

 

Dengan cepat aku menutup wajah dengan kedua tanganku, benar-benar rasa malu yang tak terkendalikan.

 

“untuk apa kau menutup matamu? Sudah terlambat, seharusnya sudah dari tadi saat kau pertama kali tahu ada aku disini. Ucapnya masih nada yang datar

 

“Mi..miane. aku tak tau kalau ini toilet pria” ucapku tertunduk.

 

“gwenchana. Lagian ini bukan toilet pria, ini toilet umum”.

 

Aku terus menundukkan wajahku-menutupi wajahku yang merah karena malu- masih tak berani melihat wajah namja itu.

 

“tapi kenapa kau terus berdiri disitu? Kau tak mau pergi dari sini?” sambungnya yang membuatku mati kutu. Dengan segera aku membalikkan badanku dan melangkah keluar. Namun langkahku terhenti saat namja itu memegang pundakku.

 

“hanya bercanda. Aku sudah mau keluar” . terdengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali. Aku pun menaikkan wajahku dan membuka kedua tanganku.

 

Kosong

 

Dengan cepat aku berlari masuk kedalam salah satu kamar toilet itu, sial karena terburu-buru aku malah terpelesat, ahhhhh rasanya punggungku mau patah ><.

 

Saat keluar dari toilet, ternyata Yoobin sudah menungguku di depan pintu. Setelah menyadari kedatanganku, Yoobin memberiku tatapan mematikannya-sepertinya ia kesal menunggu ku.

 

“30 menit di toilet? Noona yang benar saja. apa di dalam kau sedang mandi?” omel yoobin.

 

“anio. Tadi airnya mampet, jadi agak lama” jawabku-memalingkan pandanganku ke arah lain.

 

“lupakan. Oia noona, nanti malam aku ada acara bersama teman-temanku di café. Aku berencana untuk mengajakmu. Bisa?”

 

“Lama?” tanyaku memastikan.

 

“ani, hanya sebentar”

 

“mmmm arra, noona ikut”

 

***

 

Café

 

“Yoobin-ah…” teriak seorang namja ke arah kami.

 

“mereka ada disana. Noona kukenalkan temanku padamu” ucap Yoobin.

 

“Yoobin-ah, sepertinya aku tidak bisa gabung bersama kalian. Mianhae. Aku mau duduk di meja bar saja oh”

 

“mm arrasheo, kalau begitu nanti aku akan menjemput noona.”

 

“mm arrasheo. Have fun yah ^^”. Yoobin tersenyum padaku dan berlalu meninggalkanku.

 

Aku duduk di sala satu kursi bar sambil memandangi Yoobin yang sedang menikmati pesta bersama teman-temannya. Tanpa sengaja terlintas bayangan akan Kai yang membuat mataku berair lagi. tiba-tiba seorang namja menyodorkan sapu tangan miliknya padaku.

 

“gamsahabnida” ucapku sambil menoleh ke arah namja itu.

 

“KAU-“ teriak ku membulatkan mata sambil menunjuk ke arahnya-membuatnya ikut terkejut.

 

“stttccc, ada apa dengan mu nona?”

 

“Mi..Mianhae…Kau Sehun temannya Kai kan?” tanyaku memastikan. Namja itu memandangku-mengangkat kedua alisnya.

 

“KAU?” teriaknya “Kau pacarnya Kai kan? Mianhae, tapi aku lupa siapa nama mu.” Sambungnya.

 

“aku Soojung, tapi aku bukan pacarnya lagi” jawabku –menghembuskan nafas berat. “oia kau tinggal di sini?” tanyaku mengalihkan perhatiannya.

 

“mmmm aku tinggal disini, kebetulan aku ada villa di sekitar pantai. Kau boleh kesana kalau kau mau.” Ucapnya sambil melihat ke segala arah seperti memikirkan sesuatu.

 

Sehun lalu membayar minumannya dan beranjak dari tempatnya menuju pintu..

 

“Sehun-si” teriak ku. Sehun lalu berbalik ke arahku dengan wajah datarnya.

 

“apa aku boleh ikut bersama mu?” sambungku.

 

“tentu saja. kenapa tidak.”. Tanpa pikir panjang lagi aku keluar bersama Sehun. Sialnya aku lupa kalau tadi aku datang bersama Yoobin.

 

Sepanjang perjalanan Sehun tak mengeluarkan sepatah katapun. Dalam hati, aku betanya-tanya orang macam apa dia-tega membiarkan seorang yeoja berdiam diri seperti ini.

 

“kau tinggal dengan siapa disini?” tanyaku membuka pembicaraan.

 

“Sendiri”

 

“orang tuamu dimana?”

 

“luar negeri”

 

“tidak kesepian?” tanyaku lagi.

 

“kamu tinggal dimana?” tanyanya tanpa mempedulikan pertanyaanku yang tadi.

 

“aku tinggal di sekitar pantai juga. Kau bertanya karena kau mau tau atau hanya sekedar bertanya saja?” tanyaku lagi sembil memandanginya yang sedang fokus menyetir. “tidak di jawab juga tidak apa-apa” sambungku. yang benar saja, ia betul-betul tak menjawabnya. Aku mengerucutkan bibir ku sedikit kesal dan memalingkan kembali pandanganku ke arah depan. Dan akhirnya Suasana kembali menjadi hening.

 

“sudah sampai. Ini rumah mu kan?” ucap sehun.

 

“ne, ini rumah ku. Tapi kau tau dari mana kalau ini rumahku?” tanyaku heran.

 

“rumah terdekat dari pantai adalah ini dan yang lainnya adalah toko. Apa aku salah?”

 

“anio, mmm kalau begitu aku pergi dulu. Sehun-si gomawo ^^ sepertinya ini sudah yang kedua kalinya”. Ucapku seraya tersenyum ke arahnya.

 

“sama-sama”

 

***

 

 

Pagi buta sekitar pukul 05.25 di pantai. Aku berbaring di atas pasir yang lembut dan lembab. Sangat hangat, sehangat pelukan Kai-sangat ajaib.  Aku menutup kedua mataku, rindu yang kurasakan sungguh tidak dapat ku kendalikan. Rasanya ingin meronta, teriak, tapi kenyataannya aku hanya bisa menangis dan menangis.

 

Aku tak mengerti apa itu cinta. Jika ku tahu rasanya adalah luka, perih dan hampa seperti ini, aku mungkin akan memilih untuk tak memiliki cinta. Aku berkata padanya kalau aku tak mencintainya lagi, tapi mengapa rasanya  hatiku hancur ketika meninggalkannya? Mengapa rasanya ada yang berkeping-keping di dalam diriku? Mengapa aku merasa hampa saat dia benar-benar tak ada bersamaku?

 

Sayup-sayup terdengar suara gesekan kaki di atas pasir pasir yang membuatku bertanya-tanya dalam hati. tiba-tiba suara itu lenyap entah kemana. Aku membuka mataku-berharap itu hanya ilusi saja.

 

“Sehun?” .suara gesekan kaki itu ternyata milik Sehun. Saat ini Sehun berdiri tepat di sampingku dan membungkuk ke arahku dengan ekspresi wajah kebingungan.

 

“kau sedang apa?” tanyanya.

 

“tidak melakukan apa-apa, aku hanya menikmati udara segar saja” jawabku seraya bangun dari pembaringanku. Sehun lalu duduk di sampingku-menatap laut.

 

“Kau menangis? apa Kau ada masalah? Cerita saja padaku” ucapnya-masih menatap laut. Aku menatapnya.

 

“sejak kapan kau mau tau masalah orang?” ucapku menatapnya.

 

“sejak aku mengenalmu” jawabnya memandangiku.

 

“nde?mmmm aku tak punya masalah, gwenchana hehe” jawabku tertawa kikuk- ku alihkan pandanganku ke arah laut.

 

“disini tinggal dengan siapa?” tanyanya-kembali memandangi laut.

 

“dengan imo, saudara eomma ku dan Yoobin anaknya.”

 

“orang tuamu?”

 

“Seoul”

 

“Kau kuliah disini?

 

“ani. Mereka menyuruhku kemari, masalah keluarga” jawabku menunduk.

 

“kenapa kau tidak menolak saja? dimana-mana orang tua akan gelisah jika jauh dari anaknya.”

 

“aku menolaknya, mau sekali menolak, seandainya saja aku bisa dengan statusku yang hanya anak angkat.” Seketika Sehun berbalik ke arahku dengan wajah terkejut.

 

“Weoyo?” tanyaku ikut memandanginya.

 

“anio. Mm aku pulang dulu”. Sehun tersenyum padaku dan beranjak pergi meninggalkanku.

 

Keesokan harinya aku dan Sehun bertemu kembali di tempat yang sama. Sehun yang mengenakan celana selutut dan kaos oblong putih-berdiri di hadapanku-menghalangi sinar matahari pagi ke arahku.

 

“Ya’ apa yang kau lakukan?” ucapku memandanginya.

 

“sekarang Kau harus ikut denganku”

 

“kemana?”

 

“nanti juga kau tau sendiri. Palli” ucapnya sambil berjalan pergi. Akupun mengikutinya dengan perasaan bingung, penasaran dan canggung. Setelah tiba di depan villa milik Sehun, ia berjalan ke arahku dan memegang lenganku-membawaku masuk ke dalam mobil yang telah terparkir.

 

Sepanjang perjalanan Sehun terus saja tersenyum. ku palingkan wajahku ke arahnya dan tanpa sadar aku ikut tersenyum sendiri di buatnya, namun sesekali berbalik saat Sehun memalingkan wajahnya ke arahku.

 

Tanpa sadar, aku sudah menatap wajah Sehun. Aku terkejut dengan hayalanku sendiri, saat wajah Sehun berubah menjadi wajah Kai. Tak terasa air mataku keluar dengan sendirinya. Aku menangis dan terus saja menangis. Dadaku seakan sesak seketika seakan nyawaku akan lepas dari ragaku. Sehun kebingungan melihatku, ia menghentikan mobilnya dan memeluk ku dengan sangat erat. Akibat tangisanku itu, perjalanan kami di batalkan dan berakhir di kedai ice krim.

 

“Ya’ sebenarnya kau sudah umur berapa oh? Kenapa kau menangis seperti anak kecil? Kau membuatku takut arra?” ucapnya kesal.

 

“Mianhae” jawabku menundukkan kepala menyesal.

 

“berikan nomor handphone mu” ucapnya lantang.

 

“untuk apa?”

 

“kamu berutang satu perjalanan padaku, jadi kau harus melunasinya di lain waktu. Dengan begitu aku bisa lebih gampang menghubungimu”

 

“ne arrasheo”  ucapku sambil menekan nomorku di handphone Sehun.

 

“ayo kita pulang” ucapnya menarik tanganku.

 

Saat setelah sampai di depan rumah, Sehun memberiku sapu tangannya. “bersihkan dulu wajahmu. Benar-benar seperti anak kecil. Menangis sampai wajahmu kotor seperti itu. aku tak mau kalau ajumma dan Yoobin berfikir yang tidak-tidak  padaku” omelnya.

 

“Mianhae, aku benar-benar menyesal” ucapku dengan penuh penyesalan.

 

“sudah tak usah di fikirkan. Mungkin di lain hari bisa lebih baik” ucapnya sambil mengelus kepalaku. Aku menatap heran kepanya. “Waeyo?” tanyanya.

 

“sampai kapan kau akan memperlakukan ku seperti anak kecil?”

 

“sampai kau benar-benar terlihat seperti orang dewasa” ucapnya tersenyum ke arahku. “ sudah, sana cepat turun” lanjutnya.

 

“ne..ne..arrasheo”. Sehun pun pergi dari hadapanku. ku pandangi mobil Sehun yang sudah semakin menjauh ‘hanya sampai disini?’ batinku. Rasanya aku tak ingin mengakhiri hari ini. “Sehun-ah Gomawo”

 

Aku berjalan masuk ke rumah, saat tepat aku memegang gagang pintu, pintu itu tiba-tiba terbuka-Yoobin telah berdiri di depan pintu sambil melipat kedua lengannya di dada.

 

“Noona kau dari mana saja? dari pagi sampai malam begini. Aku mencarimu kemana-mana” omel Yoobin padaku.

 

“gwenchana. Noona hanya berjalan-jalan saja” jawabku-berjalan masuk melewati yoobin.

 

Aku berlari menuju kamarku. Aku sudah tak sanggup lagi menahan gatal di badanku karena telah beraktivitas seharian. Sekitar dua jam aku mandi dan berpakaian-aku lalu turun kebawah untuk makan. Ku alihkan pandanganku di setiap sudut rumah, aku tak menemukan Nayeong imo dan Yoobin.

 

Ternyata sudah jam 10 malam, aku baru saja ingat kalau setiap jam 10 malam imo dan Yoobin selalu pergi ke butik untuk melihat-lihat perkembangan disana dan mengecek stok barang. Dengan perasaan hampa aku kembali lagi ke kamarku-membaca novel sambil mendengarkan lagu.

 

1 jam berlalu, Yoobin dan eommanya belum pulang juga. Rasa sepi mulai mengelilingiku, di tambah lagi ada suara aneh di jendela kamarku. Jantungku berdebar dengan cepat, sekujur tubuhku terasa dingin. Ku beranikan diriku mendekati jendela itu dan saat ku melihat keluar jendela, Sehun tengah berdiri disana sambil mengangkat tangan kanannya-bersiap akan melempar batu lagi ke jendela kamarku.

 

“ada apa?” teriakku.

 

Sehun tersenyum ke arahku dan melambaikan tangannya, spontan akupun tersenyum kepadanya seakan tak menyangka dia akan melakukan hal yang seperti ini. Aku lalu berlari ke bawah dan menghampirinya. Sehun memegang tanganku.

 

“ikut aku” . Dia lalu menarikku dengan cepat. Aku merasa ada yang aneh saat ia memegang tanganku. Aneh namun aku sangat bahagia. Aku bingung membedakan mana perasaan yang tidak wajar kurasakan dan mana perasaan yang tak seharusnya kurasakan. Aku harus mempertahankan sebuah hati yang telah lama memelukku.

 

Kami berlari dan terus berlari, Sehun sesekali berbalik melihatku dengan senyum manis di wajahnya-yang membuatku semakin gelisah. Akhirnya kami sampai di tempat yang ia tuju ‘pantai’ . Sehun lalu duduk di atas pasir sambil menikmati indanya ombak.

 

“ayo duduk, jangan berdiri saja” ucapnya sambil menepuk-nepuk pasir yang ada di dekatnya. Aku pun duduk di sampingnya, masih dengan perasaan yang benar-benar canggung.

 

“kamu bawa tas untuk apa?” tanyaku sambil memandangi tas yang ada di depannya.

 

“oh ia, sampai lupa.” Ucapnya sambil membuka tasnya.

 

“petasan?” ucapku membulatkan mata, “ yang benar saja, sebenarnya yang anak kecil disini aku atau kau?” ucapku meledek.

 

“aku hanya ingin buat satu halaman” sahutnya.

 

“nde? Apa maksudmu?”

 

“ani, tak usah kau fikirkan”

 

Sehun membakar sumbu petasan milikku dan kemudian membakar sumbu miliknya. Setiap tembakan dari petasan itu-ledakan dan keindahan variasinya di langit, rasanya sampai di hati. perasaan ini hanya bisa ku rasakan saat bersama dengan Kai dan sudah lama aku tak pernah merasakan lagi sampai saat Sehun hadir di hidupku.

 

Sehun terus saja memandangiku tanpa berkedip, rasanya ingin memalingkan wajah ke arahnya, tapi aku takut jika hatiku akan goyah jika melihat wajahnya, akupun tetap dengan posisi ku yang menghadap laut sambil menikmati suasana.

 

“Kau belum makan kan?” ucapnya.

 

“nde?” sahutku. Lagi lagi Sehun menarik tanganku dengan tiba-tiba.

 

“kau mau membawaku kemana lagi?”

 

“kita ke villa ku saja. sepertinya aku masih punya sesuatu yang bisa di masak” ucap Sehun.

 

Tiba di villa Sehun, rasa ngantuk mulai menggangguku, apa lagi saat aku bersandar pada sofa empuk milik Sehun.

 

“kau duduk di sini saja oh. Aku akan memasakkanmu sesuatu” ucapnya yang terdengar sayup-sayup di telingaku. Aku hanya memandanginya dalam keadaan sadar dan tak sadar sambil mengucek-ngucek mataku. Sehun tersenyum ke arahku dan berjalan ke arah dapur. Penglihatanku  bertambah kabur dan terasa berat. Aku berusaha menahannya, tapi ujung-ujungnya aku tertidur dengan pulas.

 

Saat aku terbangun, dengan perasaan heran dan terkejut aku terbangun dari tidurku-diatas tempat tidur dan selimut yang menyelimutiku. Sepertinya ini kamar Sehun, karena ada 3 bingkai foto dengan gambar dirinya di atas sebuah nakas yang terletak tepat di samping tempat tidur ini. Aku segera bergegas dari tempat tidur dan berlari keluar meninggalkan kamar ini.

 

Kuarahkan pandanganku ke setiap sudut rumah ini-mencari sosok Sehun. Dari arah depan terdengar suara percikan air.  Ternyata Sehun sedang sibuk menyiram bunga-bunga yang ada di halaman villanya.

 

“Selamat pagi ^^” ucap Sehun yang sedang asik menyiram tanaman ditemani seorang pria paru baya yang sedang mencabut rumput.

 

“a….ah..o,..ohh, selamat pagi. Sehun aku-“ ucapku terpata-pata.

 

“sudah sarapan?” potongnya.

 

“aku baru saja bangun”

 

“mmm..kalau begitu kita sarapan bersama saja” ucapnya menawarkan

 

“anio, aku sarapan dirumah saja” jawabku cepat.

 

“kalau begitu tunggu disini.” Sehun berlari ke arah gudang meninggalkan selang yang ia pegang tadi. Tak lama kemudian Sehun datang dengan mengendarai sepeda  miliknya yang ia beli saat masih SMA.

 

“ayo naik” teriaknya.

 

“Tapi…-“

 

“kau mau cepat sampaikan?”

 

“ne arrasheo.. arrasheo”. Dengan sangat terpaksa aku naik di sadel belakang, Sehun lalu menarik tanganku dan melingkarkannya di tubuhnya.

 

“pegang yang erat jika kau tak ingin jatuh” ucapnya. aku mengangguk mengerti dengan ekspresi kaget di wajahku. Sehun memegang tanganku, seolah takut aku melepaskan pelukanku.

 

Kami berjalan menyusuri pantai hingga akhirnya kita sampai di depan rumahku-di sambut sosok Yoobin yang baru saja pulang dari lari pagi.

 

“gomawo” ucapku pada Sehun.

 

“sama-sama soojung-ah ^^” . sehun pun pergi mengayuh sepedanya dengan cepat.

 

Aku berjalan ke arah Yoobin yang telah menungguku di depan pintu rumah.

 

“sepertinya cerita noona dan Kai telah berakhir” ucapnya tersenyum ke arahku.

 

“apa maksud mu?” tanyaku bingung.

 

“semuanya terlihat sangat jelas. Wahh aku senang sekali melihat noona dengannya. Dengan begitu Kai hyung tidak akan menjadi bayang-bayangan noona lagi”. ucapnya dan berlalu meninggalkanku.

 

Ucapan Yoobin tadi menyadarkanku akan sesuatu yang sangat berarti bagiku, tapi terlupakan. Aku berlari menuju kamar dan membuka koperku. Foto itu masih di sana, foto aku dan Kai. Air mataku seraya mengalir keluar. Semakin aku memandangi dan membayangkan semua kenanganku bersama Kai, semakin deras pula air mata ini mengalir.

 

sekeras apapun ku mencoba, selemah apapun dayaku tuk mengingatmu, hati ini memiliki pilihannya sendiri yang tak bisa di atur oleh akal. Aku benar-benar sangat mencintaimu Kai, mencintaimu sampai aku hampir gila. Entah harus bagaimana lagi aku berusaha untuk menghindari bayanganmu di setiap sudut hidupku. Aku pikir aku telah berhenti berharap, aku pikir aku takkan melihatmu seindah dulu, aku pikir aku takkan memiliki hasrat untuk bertemu dengan mu lagi. tapi kenapa? Kenapa setelah mendengar Yoobin tadi membuatku takut, takut jika apa yang ku inginkan menjadi nyata. Kai apa yang harus aku lakukan?

 

 

***

 

Pagi ini Sehun lagi-lagi membuat keributan dengan melempar batu kejendela kamarku. Entah kali ini ia ingin membawaku kemana.

 

Tiba di tempat ini, rasanya perasaan ku senang dan tentram muncul di benakku.bunga kolola bewarna kuning yang menghampar  di depan mataku tanpak sangat indah.

 

“Kamu suka?”

 

“emm. Aku sangat menyukainya. tapi kenapa kau membawaku kemari?”. Ucapku sambil mengikuti Sehun yang berjalan di hadapanku.

 

“aku hanya tidak ingin membuat kenangan indah di atas kenangan pahitmu bersama Kai”

 

“apa maksudmu?”. Seketika Sehun berbalik kearahku.

 

“Yoobin sudah menceritakan semuanya.”. seketika aku terdiam.

 

“soojung-ah” sahut Sehun. Aku hanya meliriknya sekilas dan mengalihkan kembali pandanganku dengan cepat ke arah lain.

 

“Soojung-ah” panggilnya lagi dengan nada lirih.

 

“Wae?” jawabku tanpa memandang wajahnya.

 

“anio” jawabnya singkat. Aku berbalik ke arahnya- melihat wajahnya yang berubah tak seperti saat kita pertama sampai di tempat ini. “kita sebaiknya pulang saja” ucap Sehun. Sehun lalu meninggalkan ku seorang diri. Ia berjalan dengan cepat hingga akhirnya menghilang dari pandanganku.

 

Aku berjalan pulang seorang diri-tak sengaja aku melihat penjual ice krim di seberang jalan- aku berlari mendekatinya. Sudah hampir 2 jam aku duduk disini menghabiskan ice krim ku yang sudah menjadi ice krim ke 5 yang kusantap hari ini.

 

“Sehun kau dimana?” ucapku kecewa.

 

Dengan perasaan kesal aku menelfon Yoobin untuk menjemputku, yang tidak lama kemudian, yoobin datang dengan sepeda kesayangannya.

 

“noona apa yang kau lakukan disini? Merepotkan saja” omelnya.

 

“Mianhae. Tadi aku ada keperluan disini”

 

“emm arrasheo. Ayo naik, aku antar pulang” ucapnya sambil menghela nafas.

 

Di sepanjang jalan aku kepikiran Sehun yang tiba-tiba saja pergi meninggalkanku. “ada apa dengannya hari ini?aneh” gumamku pelang.

 

“noona kau bilang apa? aku tak mendengarnya dengan jelas” ucap Yoobin kebingungan.

 

“anio. Aku tak ngomong apa-apa. kau salah dengar”. Ucapku bohong. “Yoobin-ah. Kau antar aku ke villa Sehun. Bisakan?” sambungku meminta tolong padanya.

 

“emm arrasheo” jawabnya singkat.

 

Tiba di depan rumah Sehun, tiba-tiba saja rasa gugup menyerangku. Kukumpulkan keberanian untuk mengetuk pintunya.

 

“Nugusheyo?” Tanya seorang wanita paru baya.

 

“aku temannya Sehun. apa Sehunnya ada?”

 

“nona silahkan masuk dulu”. Akupun masuk ke dalam villa Sehun. Ajumma lalu mempersilahkanku duduk di sofa dan tak lama kemudian ajumma membawakanku secangkir minuman. “silahkan di minum” ucapnya menawarkan. “nama anda siapa?” tanyanya lagi padaku.

 

“Soojung” ucapku tersenyum ke arahnya.

 

“saya pembantu di sini. Sehun pindah kemari sejak ibunya meninggal, ia beranggapan kalau ibunya meninggal karena ayahnya yang terlalu sibuk dengan perusahaan dan tidak memperdulikan ibunya dirumah sakit, hingga akhirnya ia meninggal dunia. Hari ini adalah hari ulan tahun Sehun. Orang pertama yang selalu memberinya ucapan di hari ulan tahunnya adalah ibunya. Bibi masih ingat saat ulan tahun terakhir Sehun yang di rayakan bersama ibunya, Sehun meminta di belikan sepeda baru tapi ibunya malah membawanya ke sini di pulau jeju. Ibunya lalu membawanya ke pantai . ibunya berkata, kenangan itu akan selalu ada di hati dan ingatan kita, tapi hadiah bisa rusak kapan saja. maka dari itu, setiap dia berulantahun dia akan kesana. Mungkin sekarang ia ada disana. Hmmm maaf nona, kenapa jadinya aku malah curhat hehe”

 

Aku terkejut seketika  sambil beranjak dari tempat dudukku dan berlari keluar. Aku berlari dan terus berlari . yang aku fikirkan saat ini adalah bagaimana aku agar bisa cepat bertemu dengan Sehun. Hari ini biarlah aku melupakan Kai untuk sementara, hanya untuk sementara saja. setelah itu aku akan kembali pada Kai.

 

Sampai di pantai-Sehun benar-benar ada di sana. Duduk sendirian sambil memandang ke arah laut. Aku berjalan ke arahnya-tiba-tiba ia berbalik ke arahku dengan wajah terkejut. Aku melihat wajahnya yang basah karena air mata. Ini pertama kalinya aku melihatnya sesedih ini. Aku duduk di sampingnya sambil memegang tangannya erat. Kami duduk berdua sampai akhirnya matahari terbenam.

 

“Sengil chukae Sehun”. Seketika airmatanya jatuh sambil memandangku- sangat terlihat raut wajahnya yang sangat tersentuh karena ucapanku. Dia memelukku dengan erat.

 

“Gomawo, gomawo Soojung-ah. Kau orang pertama yang mengucapkannya padaku.” . kenapa hatiku amat sakit melihatnya sedih seperti ini?.

 

Sepanjang malam Sehun bersandar di pundakku. Rasanya aneh melihatnya tidur di sampingku. Tak lama kemudian Sehun membuka matanya-menatapku.

 

“Waeyo?” ucapku terkejut melihatnya.

 

“Saranghae”. Ucapnya lantang-membuat mataku membulat sempurna. “aku sangat menyukaimu, bahkan saat kita pertama kali bertemu di Seoul waktu itu. tapi karena saat itu statusmu sebagai pacar Kai, aku memilih untuk memendam perasaanku padamu.

 

“Ta..Tapi”

 

“aku tak perlu apa-apa lagi, asal kau tetap berada di sisiku. Apapun akan ku berikan untuk mu. Kumohon tinggallah di sisiku.”. air mataku seketika menetes mendengar ucapannya. Aku berdiri dan berjalan mundur menjauhinya.

 

“Mianhae. Kau sudah terlambat. Kai sudah mengisi semua ruang yang ada di hatiku. Aku memang bodoh, sangat bodoh karena terus mengharapkan orang itu, tapi hatiku memilihnya. Mianhae” aku berlari meninggalkan Sehun sambil menangis. Aku tak menoleh kepadanya. Aku tak sanggup melihat wajahnya. Aku berlari dan terus berlari meninggalkan Sehun.

 

Aku langsung masuk ke rumah. Terlihat wajah heran di wajah imo dan Yoobin. “Soojung-ah kau kenapa?” Tanya imo padaku. “besok, besok aku kembali ke Seoul”.

 

***

 

Airport

 

Saat setelah imo dan Yoobin mengantarku ke bandara, sosok Sehun tiba-tiba muncul di hadapanku. “kenapa? Kenapa kau kembali? Apa karena ucapanku semalam? Kalau begitu lupakan saja.lupakan semua yang aku katakan kemarin. Kau boleh marah padaku dan memukulku sesuka hati mu, tapi kumohon jangan tinggalkan aku sendiri” ucap Sehun sambil berlutut padaku dengan berlinang air mata.  Aku menyuruhnya berdiri.

 

“ Sehun’ah Mianhae . aku tak bias hidup tanpa Kai. Maafkan aku yang membuat perasaan mu terluka.” Ucapku seraya meninggalkan Sehun yang diam mematung. ‘Sehun Mianhae. Aku juga mencintaimu, tapi cintaku pada Kai jauh lebih besar. Aku bingung. Kehadiran mu menggoyah hatiku. Jika aku terus bersamamu, aku takut jika harus kehilangan Kai.’ Batinku.

 

 

 

 

 

TBC.

 

Wahhh tanganku sampai geriting. Ini ff terpanjang yang aku buat. Kalau ada yang bilang ini kurang panjang, aku sudah tak tau harus bagai mana lagiiiiii. Oia bagaimana tanggapan kalian tentang chapter ini? Aku udah berusaha perbaiki kesalahan yang kemarin-kemarin hehehe. Oia aku minta maaf kalau ada banyak typo, soalnya aku ngebut banget pas ngetik ff ini. Maafkan akuuuuuuu. Oia jangan lupa ninggalin jejak kalian yo. Makasih buat kalian yang sudah mau nyempatin baca ff aku. Jangan jadi silent readers ok ok.

 

 

 

 

 

 

 

8 tanggapan untuk “I STILL LOVE YOU (CHAPTER 2)”

  1. Aish ngapain soojung kembali ke seoul.. Jadi kasihan deh sehun kesepian lagi.. Ceritanya bagus banget thor.. Seru feelnya dapet.. Ditunggu banget next chapnya thor.. Kekeke ^^

  2. Kkk akhirnya author ngikutin perkataan ku😀
    Tapi sehun ditolak, kesian bnget dehh😔
    Semoga aja pas di seoul kai masih setia, biar soojung ga nyesel nyia”in sehun

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s