94 (Chapter 2)

image

Kim’s Story

EXO’s Kai and Sehun | Red velvet’s Seulgi and Wendy | F(x)’s Sulli and Krystal | OC’s Sharon and Michelle (Latte)

School life | Romance | Hurt

Have post this on my personal blog : http://kimsch96.wordpress.com

“Berhentilah Kalian!!” -Kai

“Pilihlah satu! Kau hanya akan menyakiti mereka!” -Sehun

“Itu keputusanmu Jong!” -Seulgi

“Memang apa peduliku soal mereka?” -Wendy

“Sudah kubilang jangan memaksakan kehendak!” -Sulli

“Aku tidak akan mengusik lagi…” -Krystal

“Masalah sudah rumit! Dan kau mau bergabung di dalamnya?” -Sharon

“Setidaknya aku sudah tau perasaanmu!” -Michelle

Chapter 2

“Bagaimana….?” Michelle masih menggumam tidak jelas sejak 2 menit yang lalu. Sedangkan yang lain hanya diam saja.

“Maafkan aku…. Kalian tau kan…” Jongin menunduk. Ia merasa bersalah membohongi teman temannya.

“Bukankah orang tuaku bilang akan membantumu? Tanpa ada yang harus kau lakukan. Kita berteman sejak kecil, kau..!” Sehun menghela nafas.

“Tapi aku tidak mau membebani orang tuamu! Mereka sudah baik mau menampungku dan membesarkanku. Aku tidak mau merepotkan mereka.” Kilah Jongin.

“Tapi bukan seperti ini jalannya!” Sulut Sharon. Ia sedari tadi diam akhirnya bersuara.

“Lalu aku harus apa?!?! Uang bekerja paruh waktu tidak akan cukup untuk membiayaiku!!! Kau pikir mudah mencari uang hah!?” Jongin tersulut.

“Bukan begitu maksud- Terserah kau! Aku tidak peduli!” Sharon bangkit dan keluar kelas. Jongin hanya tidak tau selama ini ia yang membantu Jongin mendapatkan uang.

“Hei! Sharon!!” Michelle ikut bangkit dan keluar kelas mengikuti Sharon.

“Seharusnya kau tidak membentaknya.. Aku yakin dia menangis sehabis ini…” Wendy menggumam. Tapi posisinya yang berada dekat dengan Jongin membuat ucapannya sampai pada telinga lelaki itu.

“Apa peduliku kalau dia menangis! Kalian tau! Kalian tidak berhak mengatur hidupku! Urusi saja hidup mewah kalian!” Kai juga bangkit. Ia berjalan keluar kelas. Menuju arah yang berlawanan dengan Sharon.

“Dasar anak itu! Apa yang ada di otaknya?!” Sehun berdecak. Wendy mengangkat bahunya.

“Temanilah dia! Aku yakin dia butuh teman sekarang.” Seulgi berbicara. Ia tampak khawatir.

.

.

Jongin berjalan sambil menghembuskan nafasnya lelah. Ia menuju rooftop sekolah. Ia tidak mengerti. Semua teman temannya terlalu mengurusi urusannya. Ia benci dikasihani. Tak bisakah semuanya tau akan hal itu?

“Hah…” Ia menghela nafas kembali.

“Nini…” Sehun memanggil Jongin. Jongin tersenyum tipis mendengar nama kecilnya.

“Pergilah kalau kau hanya memaksaku keluar dari rumah itu!” Jongin berucap dingin. Ia menghela nafas lagi.

“Kau tau? Semua mengkhawatirkanmu.” Sehun menepuk bahu Jongin.

“Apapun alasannya, aku tidak peduli. Aku akan tetap bekerja di sana.” Kukuh Jongin.

“Jongin! Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Seulgi?” Sehun merangkul Jongin sekarang.

“Dia bilang setuju kok!” Jongin sedikit bergetar.

“Kau yakin dia setuju? Dia berkata setuju demi kau, dalam hatinya mungkin ia berteriak tidak.” Sehun berucap kembali. Sedikit merapatkan mantelnya akibat udara yang dingin.

“Tapi.. Tapi…”  Jongin terbata. Ia kemudian menunduk dan diam.

“Semua ingin kau tidak merasa terbebani karena uang Jong. Karena dari itu semua berusaha membantumu.” Sehun menepuk nepuk pundak Jongin.

“Mungkin…” Jongin kembali tersenyum.
“Kembali ke kelas?” Sehun juga tersenyum.

“Ya..” Balas Jongin singkat. Kemudian mereka turun dari rooftop. Berjalan ke kelas sambil berbincang ringan. Dan sampailah mereka. Mata Jongin membulat parah. Ia berlari ke dalam kelas ketika melihat Seulgi sedang membersihkan hidunganya yang berdarah.

“Apa yang terjadi padamu?” Jongin memberikan tissue pada Seulgi.

“Tihdak ada apah apah!” Balas Seulgi sedikit terdengar ragu. Matanya melirik gelisah.

“Jong, bolehkan aku bertukar tempat denganmu? Aku ingin duduk dengan Wendy.” Seulgi masih sibuk membersihkan hidungnya. Ketika itu Sharon dan Michelle masuk kelas.

“Iya.” Singkat Jongin. Ia segera menukar tasnya dengan milik Seulgi. Seulgi bangkit dan duduk di sebelah Wendy. Sharon mendaratkan dirinya di kursinya. Ia melipat tangannya. Dan diam.

“Kau baik baik saja?” Sehun bertanya. Tapi Sharon hanya diam. Gadis itu diam tidak menanggapi. Bahkan mengangguk pun tidak. Sehun menghela nafas.

“Sehun, bertukarlah denganku.” Michelle berbisik. Sehun hanya mengangguk dan berpindah ke sebelah Jongin.

“Apa yang terjadi?” Sehun bertanya pada Wendy. Tapi gadis itu hanya menggeleng.

TET TET TET

Bel masuk berbunyi. Semua murid berhamburan masuk kelas. Guru guru mulai memasuki kelas mereka. Berditi di podium depan kelas dan berbicara mengenai program kelas kedepannya.

“Baiklah! Kita akan memilih ketua kelas! Siapa yang mau mencalonkan diri?” Song Seonsaeng mengangkat sebelah tangannya.

“Jeo!!” Soojung mengangkat tangannya tinggi tinggi. Semua penghuni kelas mendesah antara takut dan kecewa.

“Ada lagi?” Semua diam.

“Kalau begitu, sudah ditentukan, ketua kelas kita tahun ini Jung Soo Jung.” Soojung bersorak. Ia kemudian terseyum. Semua penghuni kelas resah. Tapi mereka tidak bisa menolak. Mereka takut menjadi bahan bullyan dan budak Soojung sama seperti Jinri.

“Nah, Soojung, saya harap kamu bisa memimpin kelas dengan baik.” Song Seonsaeng tersenyum ke arah Soojung.

“Mari kita lanjutkan dengan Club! Club Dance, Vocal, dan Basket dipegang kelas kita tahun ini. Jadi, apa program Club itu untuk tahun ini?” Song Seonsaeng bertanya sembari membuka buku absennya.

“Club Vocal dan Dance akan mengadakan event pada musim semi. Untuk pembukaan Club.” Sharon mengangkat tangannya. Song Seongsaeng mengangguk dan mencatat.

“Club Basket?” Ia sekarang beralih pada ketua Club itu. Ketua Club itu menjelaskan. Song Seonsaeng mengangguk dan mencatat kembali.

“Kalau begitu sekian untuk kelas kita satu tahun ini. Kalian boleh beristirahat.” Wanita itu meninggalkan kelas. Semua murid berhamburan keluar kelas.

“Jongin! Ayo kita ke kantin bersama!” Soojung menghampiri Jongin. Seulgi menatap sendu ke arah Jongin yang berada di depannya. Ia menghela nafas.

“Senang ya… Punya budak banyak!” Sharon berdiri dan keluar kelas. Dengan sengaja ia menabrak bahu Soojung. Gadis itu merintih dibuat buat.

“Ouch! Jalan pake mata! Dasar gadis latte!!” Soojung mengumpat. Ia kemudian menggait lengan Jongin kembali dan menariknya.

“Apa yang harus kita lakukan pada mereka?!” Wendy menghela nafas. Ia menelungkupkan kepalanya.

“Aku masih tidak percaya Jongin mau bekerja menjadi budak di rumah Soojung.” Sehun berucap sinis.

“Biarkan saja, itu haknya, kita tidak berhak mengatur.” Seulgi ikut bangkit dan meninggalkan kelas.

Bersambung….

Chap 2 update! Hope you like it! See you in next chap! Salam EXO L~

13 tanggapan untuk “94 (Chapter 2)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s