Goodnight, Goodnight

goodnight

Good Night Good Night

Cast : Xi Luhan | Marry

Genre : Sad Romance

Rate : PG 15+

Length : Oneshoot

Summary : Luhan sungguh menyesal telah membuat Marry pergi darinya.

.

.

Good Night Good Night

.

.

 

Malam yang sunyi. Derit besi ayunan menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan. Bintang menyembunyikan diri dibalik kepulan hitam diatas langit sana. Angin berdesau, menerbangkan debu ke udara.

 

Hujan mungkin akan turun sebentar lagi. Namun pria itu masih bergeming. Masih tetap utuh diposisinya dengan pandangan kosong pada rumput yang diinjak. Kepalanya menyandar pada besi ayunan sementara tangannya menopang tubuhnya yang lunglai dengan berpegangan disana.

 

“Marry.”

 

Bibirnya menggumamkan sebuah nama dengan lirih. Dengan penuh luka yang mengoyak setiap inci kulit.

 

“Marry.”

 

Hatinya terbakar. Jiwanya terguncang dan air mata tak kuasa untuk berdiam dibalik kelopak matanya. Satu persatu buliran itu turun melewati kulit pipi Luhan.

 

“Marry.”

 

Isakan menjadi bukti seberapa pilunya perasaan sakit yang ia mendiami hatinya kini. Tak ada kalimat atau bahkan kata lain yang dapat terucap kecuali nama itu. Nama sang terkasih dalam hidupnya. Nama seorang yang kini telah jauh pergi meninggalkannya dalam sebuah luka.

 

Dalam sebuah penyesalan yang tiada bermuara.

 

***

 

Ini hari Minggu. Tak ada rutinitas yang membuatmu harus bangun tepat ketika matahari mulai mengintip dari balik cengkraman langit malam. Dibawah selimutnya, Marry menggelungkan badan merapat pada postur tegap Luhan yang terasa hangat. Menyamankan diri dengan menyandarkan kepalanya pada dada Luhan yang bidang. Suara degub jantung itu kembali menjadi lullaby yang mengantarnya kedalam mimpi dihari malas ini.

 

“Marry, kau tak bangun, sayang?” Luhan mengangkat kepalanya sedikit mencoba melihat Marry yang masih berdiam didadanya dengan nyaman.

 

“Nanti saja, Luhan,” Marry hanya mengguman, kepalanya kembali bergerak-gerak.

 

“Ini pukul sepuluh.”

 

“Eugh, memangnya kenapa? Ini Minggu, Luhan,” Meski parau tapi Luhan tahu Marry sedang sebal padanya.

 

“Ayo bangun, kita kencan didalam apartemen hari ini.”

 

Marry langsung mengangkat kepalanya dan memandang penuh tanya pada Luhan. “Kencan?” Luhan mengangguk kecil dengan senyum tipis yang terlihat begitu manis namun berwibawa dimata Marry. Membuat Marry merasa jatuh pada tumpukan kelopak mawar.

 

“Ayo bangun!” Luhan menarik tubuh Marry hingga selimut yang seharusnya menutupi tubuh polosnya melorot.

 

“Wow!” Seru Luhan. Segera saja Marry menutup dadanya dengan kedua tangan. Mukanya memerah tiada ampun bahkan telinga juga lehernya.

 

“Luhan, sialan!” Lantas Luhan tertawa dengan keras. Ia tak mengerti kenapa Marry begitu malu padahal mereka telah saling melihat satu-sama lain.

 

***

 

Luhan masih mengingatnya, setiap kenangan indahnya bersama Marry yang tertinggal dalam tiap sudut rumah yang dulu mereka tinggali berdua. Sekarang semua itu hanya seperti ilusi bagi Luhan.

 

Terkadang dimalam-malam setelah aktivitas kantornya, Luhan melihat Marry berjalan padanya dengan senyuman manis yang selalu Luhan puja. Namun ketika Luhan mendekat, Marry menghilang dan hanya menyisakan hembusan angin yang membuat tubuhnya menggigil kedinginan.

 

Beberapa kali Luhan mencoba untuk melupakannya hingga menghabiskan berbotol-botol bir didalam kulkas. Bahkan dibawah sadarnyapun hanya Marry yang ia ingat. Otaknya tak mampu memikirkan hal lain selain Marry, juga lidahnya yang tak mampu mengatakan sepatah kata kecuali nama Marry seorang.

 

Luhan lagi-lagi menangis dalam rasa penyesalannya. Biarkan saja, karena ia memang seorang pecundang yang membiarkan kekasihnya pergi setelah menyakitinya dengan begitu dalam.

 

***

 

Hujan diluar begitu lebat dengan petir yang menggelegar dimana-mana. Suaranya bergemuruh seakan hampir meruntuhkan langit beserta isinya. Sama halnya dengan dua orang dalam rumah itu. Si wanita masih menangis dengan mata dan wajah yang sepenuhnya telah memerah dan sembab. Rambutnya yang hitam legam terjuntai menutupi wajahnya yang masih tertunduk dalam-dalam.

 

“Marry, aku bisa jelaskan ini. Kumohon berhenti menangis, sayangku.”

 

Luhan mencoba mendekat namun Marry dengan sigap menolak sentuhan pria itu. Bibirnya bergetar penuh amarah. Luhan merasa tercabik sekarang.

 

“Jangan mendekatiku! JANGAN BERANI KAU MENDEKATIKU!”

 

Marry berteriak sejadinya. Air mata kembali turun dengan deras dari pelupuk mata coklat itu. Tubuhnya roboh dilantai, tak mampu lagi menopang berat tubuh juga pundaknya yang seperti dijatuhi bongkahan batu besar secara bertubi-tubi.

 

Mata Luhan ikut memerah dengan air mata yang ikut merembes melalui kelopak mata. Marry tak pernah menolak ia sekeras ini sebelumnya.

 

“Marry,” Luhan melirih.

 

“Sayangku,”Memanggil dengan rintihan putus asa.

 

“Marry, kumohon dengarkan aku,” Luhan lagi-lagi memohon dengan lirih. Membuat mereka kembali merasakan pilu. Namun Marry tetap terisak dengan wajah tertunduk yang tertutup oleh surai panjangnya. Keduanya sama-sama merasa gelap dan hancur seperti langit diluar sana yang diobrak-abrik oleh gelegar petir.

 

“Kau menyakitiku, Luhan. Kau menyakitiku begitu dalam. Terlalu dalam hingga aku tak sanggup lagi menahan sakitnya,” Rentetan kepiluan hati Marry yang selama ini dipendam sendirian membuat Luhan semakin terluka oleh rasa bersalah pada wanitanya. Luhan telah membuat sebuah luka yang mengangga lebar dan bernanah didalam hati Marry.

 

“Luhan, aku sudah berkali-kali memberimu kesempatan. Kenapa? Kenapa bahkan meski sekali saja kau tak bisa berusaha untuk tetap menjaga hatimu?” Air mata Luhan tumpah. Ia sungguh menyesal hingga ketitik terakhir.

 

Marry, sedalam itukah? Sesakit itukah? Separah itukah? Pertanyaan-pertanyaan retoris itu terus berdengung dikepala Luhan seperti sebuah kilas balik.

 

“Biarkan aku pergi, Luhan. Biarkan aku pergi dan kumohon jangan menahanku lagi kali ini.”

 

Marry memandangnya dengan wajah yang basah oleh tangisan juga matanya yang merah. Lidah Luhan kelu dan kalimat yang ingin diungkapkannya tersendat ditenggorokan.

 

“Biarkan aku pergi dan datanglah padanya, Luhan. Anne membutuhkanmu sekarang. Dia membutuhkanmu untuk melindunginya dan anak kalian,”Marry berkata lirih dan serak. Tenggorokkannya terluka oleh setiap kata yang terucap dari bibirnya sendiri.

 

Luhan serasa ditimpa pohon besar. Entah kenapa dadanya seperti ditusuk dengan pedang yang begitu tajam. Ia masih menatap Marry dengan nanar tanpa mampu untuk berkata.

 

“Kumohon, Luhan. Ini permintaan terakhirku sebagai kekasihmu,” Marry terisak semakin keras. Ia sesungguhnya membenci hal-hal yang seperti ini. Tapi Marry sudah tidak sanggup bertahan lagi. Ia harus melakukan ini jika ingin lepas dari pesakitan yang membelenggunya beberapa periode ini.

 

“Tapi bagaimana dengan anak kita? Apa kau tak membutuhkanku untuk melindungimu juga? Apa dia tak apa jika aku tak disampingnya? Kumohon sayangku, jangan seperti ini. Jangan,” Luhan menggeleng perih, mencoba menahan Marry dengan segala alasan yang dimiliki.

 

“Lalu apa yang akan kau lakukan, hah?” Marry menusuk Luhan dengan padangannya yang tajam seperti ujung pedang.

 

“Apa yang akan kau lakukan, Xi Luhan? NEGARA TAK AKAN MEMBERIKAN STEMPEL LEGAL PADA ISTRI KEDUA, LUHAN! Atau kau ingin aku mengakui anak itu sebagai anakku? Cih, jangan bermimpi, Lu!”

 

Sungguh ini terasa lebih menyakitkan dari apapun. Bahkan mereka tak sampai separah ini dipertengkaran sebelumnya. Kemana sisi Marry yang selalu memaafkan segala kesalahannya itu?

 

Oh, Lu! Kau lupa? Mana mungkin Marry akan memaafkanmu setelah pengkhianatan besar yang kau lakukan ini? Marry bukan seorang dewa, atau bahkan dewa pun mungkin tak akan memaafkan kesalahanmu.

 

“Kami akan selalu baik-baik saja meski tanpamu, Luhan.”

 

Dan hal terakhir yang Luhan lihat malam itu adalah langkah kaki Marry beserta putaran roda koper yang berjalan menjauh darinya. Membuat seisi rumah seperti terselimuti oleh bongkahan es abadi. Begitu dingin, begitu pedih dan begitu kelam.

 

***

 

Air mata kembali menetes dan membuat rasa sup yang dimakannya terasa asin. Marry bahkan tak membiarkan Luhan memberikan sedikit pembelaan untuk setidaknya memberi setitik celah agar Luhan bisa menahan Marry tetap disisinya.

 

“Marry.”

 

Luhan mengepalkan tangannya erat-erat. Rasa sakitnya sungguh tak tertahankan. Setiap kali mengingat Marry yang Luhan dapat hanyalah bertubi-tubi rasa tertusuk pada bagian dada. Ini bahkan sudah lima tahun berlalu dan Luhan masih terpuruk dengan kisah masalalunya.

 

***

 

Malam ini masih sama. Masih sesepi malam-malam sebelumnya selama tiga tahun terakhir ini. Luhan mendudukan diri disofa, meluruskan tulang punggungnya yang terasa kaku dan tegang.

 

Dulu saat sedang seperti ini, biasanya Marry akan datang padanya dengan secangkir teh krisan yang membantu membuat ia merasa rileks . Memberi beberapa pijatan untuk meringankan rasa kaku pada pundaknya dan akan menyuguhi Luhan dengan senyumnya yang begitu indah yang terasa membuai Luhan hingga ke awan.

 

Namun, itu dulu sebelum perpisahan mereka. Bahkan setelah itu pun, Luhan harus kembali sendiri. Anne yang seharusnya masih disini pun nyatanya lebih memilih pria lain. Luhan mendecih, mengejek diri sendiri bahwa ia memang tak pantas untuk dicintai.

 

Anne bilang dia merasa Luhan tak mencintainya. Memang tak sepenuhnya salah, tapi tak sepenuhnya benar juga kerena memang yang mengisi hati Luhan sedari dulu hanyalah Marry seorang. Anne dulu hanyalah mainan yang terlalu ceroboh saat ia gunakan hingga membuat ia harus mamakan buah simalakama yang menyebabkan ia kehilangan kekasihnya dan membuat hidupnya berada dalam naungan kegelapan.

 

Luhan menghela napas. Lagi-lagi seperti ini, pikirnya. Seperti tak ada barang sedetik pun pikirannya tidak melayang pada Marry.

 

Marry.

 

Marry.

 

Luhan melihat kalender disampingnya, lima hari lagi. Lima hari lagi menuju pernikahan Marry. Lima hari lagi menuju akhir dari segala perasaan Luhan untuk wanita itu.

 

Bisakah?

 

Bisakah ia merelakan Marry untuk bersama pria lain?

 

***

 

Luhan bangun pukul tujuh pagi. Sebelah ranjangnya masih saja kosong dan dingin. Setelah berdiam dengan pikirannya, Luhan mencoba untuk bangun namun kepalanya berat dan terasa berputar-putar. Ia hangover setelah menenggak tujuh botol bir tanpa henti. Mau bagaimana lagi? Akhir-akhir ini tidurnya selalu dihampiri bunga tidur yang benar-benar buruk.

 

Setiap malam mendekati pernihakan Marry, Luhan selalu bermimpi bahwa Marry terlihat bahagia dengan pria pilihannya kini dan melupakan mereka yang dulu pernah bersama.

 

Gila.

 

Jahat.

 

Egois.

 

Bajingan.

 

Iya, itulah Luhan. Harusnya ia merelakan Marry dan ikut berbahagia atas itu. Luhan pernah mendengar teori yang berbunyi ‘asalkan orang yang kita cintai bahagia, itu cukup untuk membuat kita juga merasa bahagia meski tak memilikinya.’

 

Omong kosong! Luhan tak senaif itu untuk mengatakan kalimat tersebut dengan senyum yang mekar dibibirnya yang cerah. Jika bisa, Luhan lebih memilih menjadi seorang antagonis yang datang untuk merebut Marry dari lelaki sialan itu.

 

Namun Luhan tak bisa. Bukan tak bisa karena ia tak mau, Luhan sudah berusaha melakukan cara terbaik yang ia miliki untuk membuat Marry kembali. Tapi semuanya terasa sia-sia, luka itu nyatanya telah membunuh perasaan Marry untuknya. Tak akan ada lagi kata kembali untuk mereka.

 

Luhan menghela napas. Mungkin ini saat bagi Luhan untuk sungguh-sungguh melupakan wanita itu. Harus ada yang berubah agar ia bisa terlepas dari siksaan ini. Mungkin Luhan harus mulai dengan membuat daftar apa-apa yang harus dirubahnya. Mungkin, jika memungkinkan pula.

 

***

 

Luhan mematut dirinya didepan cermin yang dulu selalu menjadi tempat bagi Marry untuk mempercantik diri. Kantung mata tebal bergantung dibawah kelopak matanya. Cahaya wajahnya sedikit pias dengan bibir setengah biru yang makin membuatnya tampak mengerikan.

 

Luhan merasa ngeri melihat dirinya sendiri. Ia terlihat seperti monster. Barbie pasti akan berteriak jika melihat keadaan Ayahnya seperti Ogre dihari bahagia sang Ibu.

 

Jemari Luhan bergerak lentik menyimpul dasi hitam yang melingkar dileher. Ia memakai tuxedo putih kebanggaannya. Tuxedo terbaik yang pernah ia pakai. Tuxedo yang menjadi saksi saat ia resmi mengklaim Marry sebagai miliknya secara bulat dan utuh.

 

Marry lagi.

 

Luhan lelah dan sakit karena pikiran dan hatinya tak pernah berhenti memikirkan wanita itu. Sebenarnya tubuh Luhan sudah menolak semua itu dengan beberapa gejala negatif yang timbul dari pertahanan sistim imunnya akhir-akhir ini. Namun hati dan pikirannya selalu saja berontak.

 

Luhan mengumpulkan oksigen banyak-banyak hingga penuh didalam paru-paru dan menghembuskannya dengan perlahan. Setidaknya Luhan sudah berusaha untuk mempertahankan cintanya dan menyesali segala perbuatannya dimasa lalu meski nyatanya kini semua terasa tiada guna.

 

Luhan berjalan menuruni tangga sambil berhitung barangkali saja hal itu bisa membuatnya melupakan Marry meski hanya sejenak. Ia menutup pintu rumah, berjalan menuju garasi, menjemput Jaguar hitam yang begitu ia banggakan untuk mengantarnya menuju kebahagiaan yang akan membunuh batinnya dengan kejam.

 

***

 

Luhan sampai di gereja tempat Marry dan lelaki sialan –menurut Luhan— akan melangsungkan janji sakral mereka. Ini gereja yang sama yang mereka gunakan untuk menikah tujuh tahun yang lalu. Luhan berdecih, sepertinya Marry sungguhan berniat membunuh dirinya dengan semua ini.

 

Luhan kembali menghela napas dengan berat untuk kesekian kalinya dalam beberapa jam ini. Ia langkahkan kakinya memasuki gereja. Saat Luhan melewati pintu, gadis kecilnya berlari dengan begitu riang menuju ke arahnya. Menerjang Luhan dengan sebuah pelukan.

 

My Barbie looks like a princess. So beautiful,” Luhan memuji gadis kecilnya lalu memberi satu kecupan dipipi bulat dengan bintil-bintil merah yang membentuk lingkaran disana. Barbie mengembangkan senyum hingga gigi biji mentimunnya yang berjejer rapi terlihat.

 

“Ayah juga tampan. Kalau begitu kita bisa bermain Cinderella dan pangeran hari ini!” Barbie berseru dengan penuh semangat. Sebenarnya ada satu yang dapat membuat Luhan melupakan Marry, yaitu Barbie. Hasil buah cinta mereka. Namun pengadilan memutuskan menjatuhkan hak asuh Barbie pada Marry karena alasan saat itu gadis kecilnya ini masih berada dalam perut Ibunya. Alasan yang logis.

 

***

 

Luhan nyaris gila saat Marry berjalan menuju altar dengan gaun putih bertahtakan berlian dibagian dada serta ekor yang menjuntai hingga kebawah. Putrinya tersenyum lebar, berjalan didepan sang Ibu sembari membawa karangan bunga. Ayah Marry menggamit tangan wanita itu dengan senyum tipis yang tersemat dibawah kumis.

 

Luhan seakan merasa dilempar jauh kemasa silam. Ia juga pernah mengalami hal ini dulu bersama Marry. Dia berdiri sendirian di altar sembari menunggu Marry datang padanya dengan jantung yang berdebum kencang.

 

Namun masa sekarang seperti menamparnya keras-keras. Sekarang ia hanya bisa duduk dikursi penonton sambil menahan lara mendengar sumpah itu diucapkan Marry untuk lelakinya yang baru. Bukan untuk Luhan.

 

***

 

Luhan hanya sanggup memperhatikan Marry dengan mata yang memanas dari kejauhan. Rasanya seperti dunianya telah runtuh sekaligus. Luhan telah kehilangan cintanya atas kebodohan yang ia perbuat sendiri.

 

Tak ada hal selain penyesalan yang dapat Luhan lakukan kini. Rasa-rasanya kedua kakinya seperti diikat kuat-kuat oleh sulur yang keluar dari inti bumi dan membuatnya tetap terdiam ditempat untuk menangisi seluruh rasa penyesalannya seperti seorang pecundang.

 

Luhan menertawai diri untuk kesekian kali. Ia merasa dunia juga ikut menertawakannya. Lihatlah betapa bahagianya orang-orang disekitar atas hari bahagia Marry ini. Namun Luhan justru duduk menyendiri dipojok ruangan sambil mengais sisa luka dan harga dirinya yang tercecer.

 

“Marry.”

 

Marry menoleh kala namanya dipanggil. Wanita itu tersentak begitu mendapati Luhan berdiri didepannya dengan keadaan yang terlihat kacau.

 

“Kenapa wajahmu seperti itu? Kau tak berharap aku datang?” Luhan menaikkan sudut bibirnya pongah. Luhan memang sialan.

 

“Kenapa aku harus berharap seperti itu, Luhan?” Marry tersenyum dengan cantik seperti yang selalu Luhan ingat.

 

“Barangkali saja, bukan? Atau barangkali juga kau takut akan berpaling lagi padaku jika aku datang.”

 

Luhan itu meski sudah jadi pecundang tapi sifat pongahnya tak pernah hilang. Urat-urat leher Marry nampak menegang, namun sedetik kemudian wanita itu mencoba mengendurkannya. Emosi terkadang tak bisa menyelesaikan semua masalah.

 

“Luhan, itu hanya masalalu. Kau tahu? Kau harus bisa bergerak dari masalalu itu dan berbahagialah.”

 

“Apa kau pikir aku tidak bahagia?” Luhan bertanya dengan nada dan wajah yang datar hingga membuat Marry merasa canggung untuk menjawab.

 

Well, sebenarnya sedikit. Kau— terlihat kacau,” Marry memandang Luhan sangsi.

 

“Kalau begitu kenapa kau tidak mencoba untuk memperbaiki kekacauan itu?”

 

“Luhan—” Marry nampaknya mulai geram pada Luhan yang seperti mengemis lagi padanya.

 

Marry, I’m so sorry for what happened in the past. I did not mean to hurt you, love. I’m sorry,” potong Luhan

 

Mata Luhan memerah. Ia terlihat lemah dan itu membuat Marry merasa iba. Luhan yang pongah dan sombong jatuh dalam tangisan penyesalan yang memilukan hingga membuat pria itu tampak kacau. Marry tak menyangka ternyata masalalu mereka membawa dampak yang begitu menyakitkan untuk Luhan kendati kini ia justru tampak bahagia.

 

Marry tahu Luhan kini telah berubah. Marry juga tahu bahwa Luhan telah menyesali segala perbuatannya dimasa lalu. Namun mereka tak bisa kembali, Marry sudah terlampau terluka untuk itu. Luhan sudah menancapkan tombak sebegitu dalam pada jantungnya.

 

“Tolong jaga Barbie dengan baik. Mungkin setelah ini aku tak akan pernah lagi muncul dalam kehidupanmu. Maafkan aku atas apa yang terjadi padamu dimasa lalu. Aku mencintai kalian, selalu. Kau dan Barbie kita, untuk selamanya. Selamat tinggal.”

 

Luhan berbalik, melangkah semakin jauh dari pandangan Marry. Sebenarnya Luhan tak pernah ingin mengucapkan selamat tinggal. Kalau bisa yang ingin ia ucapkan adalah selamat malam, kemudian berharap esok pagi semua akan berubah kembali saat keadaan masih baik-baik saja. Kembali saat mereka masih bersama dalam canda dan tawa. Dalam cinta dan kasih yang penuh warna.

 

Sekarang Luhan akan pergi dengan membawa serta semua rasa sakit juga penyesalan yang ia harap akan mampu dihapusnya dimasa depan.

 

FIN

5 tanggapan untuk “Goodnight, Goodnight”

  1. Aaiiissh nyesek banget bacanya >_< huuh ~_~ sedih banget gege luhan kayanya hhahaha memang penyesalan Ada di akhir,okee fin aku suka 🙂

  2. Wait! Jadi mereka udh nikah? Tapi kenapa di atas author nulis “permintaan terakhir ku sebagai kekasih mu” fikir aku mereka pasangan kekasih aja
    Terus “sudah lima tahun berlalu” tapi paragraf selanjutnya “tiga tahun terakhir” kan aku binggung yah. Apalagi pas bagian “menikah tujuh tahun yang lalu” atuh daaa 😭😭
    Sorry yah kalo aku banyak komplain, hhaha tapi kadang hal2 sepele gitu kan penting yah. Tapi aku suka kok ceritanya, tentang pasangan yg selingkuh tuh emang paling greget !
    😁😁😁 makasih authoor

    1. eum, sebenernya ini gaya menulis lain yang kucoba.. sedikit ada sentuhan western disini, makanya kata istri ku ubah jadi kekasih, kan istri juga kekasih hehe

      terus lima tahun berlalu itu adalah akhir dari hubungan mereka, lha setelah itu kan luhan bertanggung jawab atas perbuatannya sama anne, tapi cuma sampe dua tahun karena anne yang gak tahan sama luhan, jadi sisa tiga tahun itu luhan habisin jadi duren kebaperan.. marry dan luhan menikah tujuh tahun yang lalu dihitung dari hari pernikahan marry yang baru. jadi urutannya mereka nikah selama 2 tahun, pisah, luhan nikahin anne selama 2th lalu pisah lagi lha jadi duren 3 tahun.. totalnya 7th.. hehe makasih koreksinya yaaa

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s